PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 205


__ADS_3

Jeno dan yang lain sudah kembali bersekolah seperti biasa. Dan kini, dia berserta Jevo dan Arya serta Mikel duduk di bangku kelas tiga.


Semua anak kelas tiga serta kelas dua terkejut melihat keempat lelaki tersebut berjalan santai melewati lorong kelas.


Ada salah satu yang mencuri perhatian mereka. Yakni Jeno. Dia tidak lagi berpenampilan seperti dulu. Cupu dan kutu buku, serta norak. Dan terlihat aneh.


Jeno tidak mengenakan kacamata besar dan tebalnya. Bahkan Jeno nerpenampilan sama persis dengan Jevo. Bagai pinang dibelah dua. Ya iyala,,, mereka kan kembar identik.


"Lihat, pasti mereka melihat ke arah elo." cicit Arya menebak.


"Dan aku tidak peduli." sahut Jeno saka sekali tidak terpengaruh dengan pandangan mereka.


"Jevo, fans elo sebentar lagi akan berkurang." celetuk Arya.


Mikel terkekeh pelan, merangkul pundak sahabatnya yang memang jika bicara asal ceplas-ceplos. "Dasar."


"Gue malah sangat senang. Dengan begitu hidup gue akan sedikit tenang." timpal Jevo berjalan dengan gayanya yang cool.


"Bukankah selama ini kamu tidak tenang karena ulah kamu sendiri?" sindir Jeno


Sebab saudara kembarnya tersebut senang sekali menggoda perempuan. Yang ujung-ujungnya sang perempuan akan baper dan merasa Jevo menyukai dirinya. Berujung sang perempuan mengejar, ingin mendapatkan Jevo.


Arya dan Mikel tertawa pelan mendengar kalimat sindiran dari Jeno. "Mau bagaimana lagi, mereka yang minta digoda." ujar Jevo membela diri.


"Mana ada yang seperti itu." heran Jeno.


Jika anak kelas dua dan tiga merasa terkejut dengan penampilan Jeno, tidak untuk murid kelas satu. Sebab mereka baru pertama masuk di sekolah ini.


Mereka melihat ke arah Jeno dan ketiganya bagaikan melihat drama-drama yang sering mereka tonton di ponsel maupun televisi.


Kakak kelas dengan ketampanan di atas rata-rata. Berasal dari keluarga kaya raya serta menjadi primadona sekolah.


Bahkan ada beberapa dari mereka yang sudah merencanakan niatnya untuk mendekat ke dalam kelompok Jeno. Baik murid perempuan ataupun lelaki. Nyatanya, mereka sama sekali membuka lowongan apapun untuk anggota baru.


"Hay kak..." sapa siswi kelas satu dengan centil, berharap akan mendapatkan sapaan balik dari mereka.


Dan nyatanya, dia memang mendapatkan apa yang dia inginkan. Yakni dari Arya. "Hayy juga...." sahut Arya sembari mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.


Sontak tingkah Arya membuat siswi beserta teman-temannya tersebut berteriak histeris. "Aaa....!" seru mereka serempak sambil berjingkrak-jingjrak.


"Arya gila..." gumam Mikel, segera menyeret Arya. Berjalan mendahului Jevo dan Jeno yang ada di depan mereka.


"Bocah gemblung." timpal Jevo menggelengkan kepala.


Keempatnya sampai di kelas mereka. Masih menempati posisi kursi yang sama seperti saat mereka berada di kelas dua. Bahkan juga saat mereka kelas satu.


"Apa elo serius? Elo tahu dari mana?" tanya teman sekelas mereka yang sudah heboh pada teman yang duduk di sampingnya. Padahal jam pelajaran pertama saja belum dimulai.


"TU. Gue tadi sempat dengar. Mereka menyebutkan nama Moza." sahut temannya.


"Moza." batin Jevo, membuat dirinya langsung di tatap oleh ketiga orang di sekitarnya.


"Jaga mata kalian. Gue bukan tersangka." tukas Jevo, sanga risih dengan pandangan ketiganya yang ditujukan padanya.


"Hey.... Moza. Memang dia kenapa?" tanya Arya pada siswi yang merupakan teman sekelasnya.


Seperti biasa, rasa penasaran Arya memang sangat besar di antara yang lain. Dan dia tidak seperti yang lain. Menunggu saat yang tepat untuk bertanya, atau mendengarkan dulu percakapan mereka untuk mengetahui apa yang terjadi. Baru mencari tahu.


Tapi berbeda dengan Arya, yang langsung bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya. "Elo ngak tahu? Moza katanya pindah dari sekolah kita." jelasnya pada Arya.


"Benar. Gue juga sempat dengar. Astaga,,,, apa dia memang hobi pindah sekolah. Padahal dia baru setahun sekolah disini." timpal yang lain.


"Sekolah tiga tahun. Tiga angkatan. Tiga sekolahan berbeda. Hebat." cibir yang lain.


"Ada apa?" tanya Jevo lirih, merasakan tatapan ketiga orang di sekitarnya kembali menusuk jantungnya.


"Sumpah. Gue nggak tahu apapun. Jangan tatap gue seperti itu." geram Jevo. Bisa-bisanya mereka bertiga menatap Jevo dengan tajam.


"Tapi kita tahu, jika Moza menyukai elo. Dia ngejar-ngejar elo." tekan Arya dengan nada pelan. Dia tak ingin ada yang mendengar percakapan mereka untuk kali ini.


"Jevo... Apa yang sudah elo lakukan? Gue akan diam, saat elo bermain perempuan di luar sana. Tapi Moza, dia perempuan baik. Elo nggak macam-macamkan." tuduh Mikel menelisik ke arah Jevo. Antara takut dan cemas.

__ADS_1


Belum sempat Jevo menjawab atau menjelaskan semuanya, kini giliran Jeno yang bersuara. Menyudutkan Jevo seperti yang lain. "Gue akan bilang sama papa dan mama, jika elo berbuat jahat dengan perempuan baik-baik." ancam Jeno.


"Astaga... Kalian ini....!! Kenapa kalian nggak percaya sama gue. Jika kalian nggak percaya, cari Moza. Tanya dia." geram Jevo karena disudutkan serta dituduh.


Ketiganya masih menatap lekat ke arah Jevo. "Oke,,,,, akan gue jelaskan. Puas..!!" tekan Jevo mengerti apa yang ketiganya inginkan.


"Beberapa kali Moza hampir celaka karena gue. Dan seharusnya elo berdua tahu itu." ujar Jevo menatap ke arah Arya dan Mikel secara bergantian.


"Dan semua disebabkan rasa cemburu dari seorang yang bernama Claudia. Makanya gue meminta Moza menjauh dari gue." lanjut Jevo.


Jevo menghela nafas panjang. Menghentikan sejenak kalimatnya. "Tapi ternyata dia sangat bebal. Tetap mengejar gue. Bahkan mengatakan jika dia menyukai gue. Dan kalian tahulah, jika gue bukan orang yang mudah mengatakan cinta. Hati gue susah untuk jatuh cinta. Elo pada tahu artinya apakan?"


"Elo sama sekali tidak menyukai Moza. Karena Moza terlalu baik?" tebak Mikel.


"Salah satunya. Tapi, gue memang tidak menyukai Moza. Hati gue bukan untuk dia. Dan gue berkata jujur." jelas Jevo.


"Apa elo mengatakan jika dia bukan tipe elo?" tanya Jeno menebak.


Jevo memainkan kedua matanya. "Ya... Ya.... Gue bilang, jika gue nggak suka perempuan yang menyusahkan. Gue nggak mau punya pasangan yang nggak berguna. Masa di saat dia dalam bahaya, harus ada gue yang datang sebagai penyelamat." cicit Jevo terlihat tanpa beban, langsung kena pukul ketiga lelaki di sekitarnya.


"Sakit bego...!!" seru Jevo, terkejut mendapat serangan dadakan dari ketiganya.


"Kalian pikir deh. Ini di kehidupan nyata, bukan film. Jika itu terjadi, dia menunggu gue sebagai penyelemat saat terjadi masalah, yang ada dia celaka duluan." tutur Jevo dengan santai.


"Tapi bahasa elo nggak gitu juga mo***t...!!" ketus Mikel merasa jengkel.


"Elo pikir semua perempuan seperti bu Bulan." ucap Mikel yang hanya berani diucapkan di dalam hati.


"Itu artinya elo nggak bersyukur mempunyai dia. Kan seharusnya elo menerima dia apa adanya." timpal Arya nggak nyambung.


"Kan gue nggak suka Arya,,, bego..!! Ngapain gue nerima dia apa adanya. Aneh elo." sarkas Jevo ikutan kesal.


"Tapi paling tidak, kamu cukup bilang. Jika dia bukan tipe kamu. Beres." tukas Jeno yang masih sabar menghadapi saudara kembarnya tersebut.


"Tau ah.... Gitu saja ngambek. Pindah sekolah. Berarti dia memang bukan perempuan bermental kuat." sarkas Jevo remeh.


"Tidak begitu juga Jev.... Coba kamu berada di posisi dia. Kamu menyatakan cinta pada seseorang. Lalu cinta kamu ditolak. Pasti ada rasa tersendiri, saat kamu bertemu dengan dia. Dan catat. Setiap hari kalian bertemu." tekan Jeno memberi pengertian.


"Betul. Gue setuju dengan Jeno." sahut Arya.


"Oke..." sahut ketiga lelaki di sekitarnya.


"Memang elo mau cari perempuan yang kayak gimana?" tanya Arya.


Keadaan hening. Bahkan Mikel dan Jeno juga menunggu apa yang akan diucapkan oleh Jevo. "Belum tahu. Hati gue saja sampai detik ini belum merasakan sesuatu yang berbeda saat bertemu dengan perempuan." jelas Jevo mencari jawaban aman.


"Gue tahu. Pasti seperti bu Bulan. Tapi gue berharap, elo akan mendapatkan perempuan yang tepat. Meski tidak seperti bu Bulan." batin Mikel berpikir logis.


"Lalu bagaimana dengan Sapna?" tanya Arya menatap Mikel langsung memotong fokus pembicaraan.


"Kenapa elo tiba-tiba tanya Sapna ke gue. Kita sedang membicarakan Moza." Mikel merasa heran dengan Arya.


"Arya.... Ente kadang-kadang ya...." celetuk Jeno ikut gemas.


"Tapi benar. Sapna sama sekali tidak mengatakan apapun. Apa Revan sudah berhenti mengincar Sapna?" tanya Mikel. Juga merasakan kejanggalan.


"Kenapa elo nggak tanya langsung pada Sapna?" ujar Arya.


"Arya,,,!! Gue nggak sedekat itu dengan Sapna. Kita waktu itu hanya berpura-pura. Nggak lebih." tekan Mikel, tidak ingin ada yang salah paham, mengira jika ada hubungan antara dirinya dan Sapna.


Dan juga, Mikel ingin menjaga perasaan Gara. Jangan sampai hubungannya dengan Gara renggang karena berita yang tidak benar. "La terus kita mesti bertanya pada siapa?" tanya Arya dengan polos.


"Bulan." sahut Jevo.


"Bukan itu sekarang yang menjadi pertanyaan. Bulan juga mengatakan, tidak ada pergerakan apapun dari Revan. Bahkan kalian tahu sendirikan, jika satu-satunya perusahaan milik Revan hangus dilahap si jago merah, tak tersisa. Bahkan sekarang perusahaan itu dibiarkan saja, tidak ada penanggung jawabnya. Dibiarkan dengan keadaan hangus." jelas Jeno.


"Gue juga sempat dengar. Apartemen milik Revan di lelang oleh pegadaian." timpal Mikel.


"Dan Revan lenyap. Sama sekali tidak ada kabarnya." lanjut Jevo.


"Apa mungkin dia menyusul mamanya di luar negeri?" tanya Arya.

__ADS_1


"Sepertinya tidak sesederhana itu. Perusahaan terbakar habis. Apartemen di lelang. Dan dianya tidak ada kabar." cicit Jevo mencoba menyimpulkan.


"Claudia. Bukankah mereka berdua cukup dekat." menebak jika hilangnya Revan ada kaitannya dengan Claudia.


"Entahlah. Gue juga sudah lama tidak berkomunikasi dengan Claudia." sahut Jevo.


"Apa perlu kita selidiki?" tanya Arya kadang-kadang, menyusahkan diri sendiri.


"Ngapain. Malah bagus jika dia lenyap dari muka bumi. Itung-itung pengurangan manusia licik kayak dia." sarkas Jevo.


Tanpa mereka ketahui. Jika sekarang Revan sudah berada di dunia yang berbeda dengan mereka. Dan kemungkinan besar, mereka tidak akan pernah lagi melihat Revan.


Sebab, tubuh Revan yang sudah tidak bernyawa di buang oleh para penjahat itu ke laut lepas. Dan ini sudah hari kesekian. Dan tidak ada berita ditemukannya jasad di laut tanpa identitas.


Yang menandakan, jika tubuh Revan sudah melebur menjadi satu dengan air laut. Atau malah menjadi santapan hewan yang hidup di laut tersebut.


Sedangkan Claudia. Dia sudah berada di tempat dimana seharusnya dia berada. Dapat dipastikan, jika Claudia tidak akan lagi menganggu kehidupan mereka.


Tempat dimana Claudia berada, dikenal dengan tempat yang sulit dilacak dari luar. Selain itu, jika seorang perempuan sudah masuk ke dalam. Dipastikan dia tidak akan pernah bisa keluar lagi.


Di tempat berbeda Bulan duduk bersantai dengan seorang lelaki yang memakai pakaian tahanan. "Makanlah kek. Jangan sampai kakek sakit." pinta Bulan pada kakek Timo.


"Maaf, beberapa hari ini Bulan sangat sibuk. Tidak ada waktu datang." sambung Bulan dengan sopan.


Kakek Timo tertawa pelan, mengambil makanan yang dibawakan oleh Bulan. "Tidak apa. Lagian jangan setiap hari kamu datang. Pasti kamu juga punya pekerjaan." sahut kakek Timo dengan bijak.


Kakek Timo merasa jika Bulan tengah mempunyai masalah. Terlihat sikap Bulan yang tidak seperti biasanya. Bulan lebih banyak diam dan melamun. "Ada apa, katakan saja. Mungkin kakek bisa membantu?" tawar kakek Timo.


Bulan menghembuskan nafas panjang. "Kakek kenal Gara?"


"Iya. Bagaimana mungkin kakek melupakan dia." sahut kakek Timo.


"Sekarang, dia sedang jatuh cinta dengan seorang perempuan."


"Bagus jika seperti itu. Tapi, kenapa kamu malah bersedih?" tanya kakek Timo.


"Semua tidak sesederhana itu kek." ucap Bulan, menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada pihak kesekian yang sedang menguping pembicaraan mereka.


"Sampai sekarang, dia belum berani menampakkan diri di hadapan umum. Ada sekelompok penjahat yang masih mengincar nyawanya. Padahal dia sudah bersembunyi selama bertahun-tahun." jelas Bulan dengan padat.


Kakek Timo mengangguk. Paham dan mengerti kenapa Bulan merasa resah. "Apa perempuan itu juga menyukai dia?"


"Iya. Mereka saling suka. Hanya saja, orang tua sang perempuan belum mengetahuinya. Gara masih berpikir berkali-kali untuk memberitahu orang tua sang perempuan." jelas Bulan.


"Takut mendapatkan penolakan." tebak kakek Timo yang mendapat anggukan dari Bulan.


"Bagaimana dengan keluarga Gara?" tanya kakek Timo dengan lirih.


Bulan menggeleng. "Selama ini, dia sama sekali tidak pernah menceritakan tentang keluarganya pada saya. Dan saya menebak, kemungkinan Gara berasal dari keluarga yang.... Ya,,,, mungkin berantakan. Atau apa gitu. Sehingga Gara ingin melupakan mereka." papar Bulan, hanya menerka saja.


"Mungkin. Bisa jadi. Pasti ada alasan kuat. Jika seseorang sampai ingin melupakan masa lalunya. Terlebih keluarganya." tukas kakek Timo sepemahaman dengan pemikiran Bulan.


Kakek Timo mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat ke arah Bulan. "Kakek bisa membantu dia." bisik kakek Timo menyarankan.


Bulan paham apa yang dimaksud oleh kakek Timo. "Tidak bisa kek. Dia tidak mau." ujar Bulan.


Bulan menyarankan untuk Gara, supaya dia memakai topeng. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Timo. Mengubah identitasnya, sehingga dia bisa bersama dengan Sapna.


Namun Gara menolak saran dari Bulan. Dia ingin tetap menjadi dirinya sendiri, saat bersama dengan Sapna.


"Jika dia tidak mau. Sangat sulit untuk mereka bersatu. Tidak ada orang tua yang mengikhlaskan anaknya di bawa ke dalam bahaya. Apalagi kita berbicara nyawa." ujar kakek Timo.


"Iya kek. Bulan akan kembali membujuk Gara." ujar Bulan.


"Libatkan perempuan itu. Kakek yakin, jika dia memang benar-benar mencintainya, dia akan melakukannya. Kakek yakin itu." saran kakek Timo.


Bulan tersenyum lega. "Terimakasih kek. Sekarang Bulan sedikit lega."


"Datanglah jika ada sesuatu. Mungkin kakek bisa membantu. Dan terimakasih, kamu meletakkan orang-orang hebat di sekitar kakek."


"Iya kek. Bulan akan berusaha memindahkan kakek ke kantor Bulan. Sehingga kita bisa sering bertemu. Jika bisa, Bulan akan mencoba berbicara dengan pengacara. Supaya kakek bisa bebas."

__ADS_1


"Jangan terlalu memaksa diri. Kakek sudah cukup bersyukur hidup di dalam sini. Kehidupan kakek terasa aman dan nyaman." tukas kakek Timo. Terlebih beberapa orang yang bergantian menjaganya memperlakukan dia dengan baik dan ramah.


"Bulan senang mendengarnya."


__ADS_2