PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 39


__ADS_3

Bulan bergerak dengan gesit, saat sebuah tangan hendak menyeretnya ke tempat lain. "Ampun bu,,,, ini saya. Jeno." ucap Jeno, ketika kedua tangannya di kunci dengan ditarik kebelakang tubuhnya oleh Bulan, dengan satu gerakan saja.


"Padahal, tangannya sedang terluka." ucap Jeno dalam hati, memuji tenaga dan sikap waspada Bulan meski dalam keadaan cidera.


"Kamu." sarkas Bulan melepaskan tangan Jeno.


Jeno menggerakkan leher dan tangannya yang terasa sakit. Bulan menatap lekat ke arah Jeno. "Maaf bu, tadi cuma mau mengajak ibu sedikit ke sini." tutur Jeno menjelaskan.


Jeno sampai lupa, jika perempuan yang berada di hadapannya bukan perempuan sembarangan. Dia adalah aparat negara dengan keahlian dan kemampuan khusus.


"Ada apa?" tanya Bulan dengan ketus.


Jeno tersenyum canggung. "Ini bu, terimakasih." Jeno menyerahkan kunci mobil pada Bulan.


Bulan segera mengambilnya, dan menaruhnya di dalam kantong. "Hemmm..."


"Bu, bukankah yang tadi adalah lelaki yang waktu itu. Ternyata dia masih selamat. Dan kembali bekerja." cicit Jeno dengan suara rendah.


Bulan memandang ke arah lain. "Kamu kenal, siapa guru tadi?" tanya Bulan.


"Iya, dia guru pindahan. Sama seperti ibu. Mengajar di sini sekitar satu tahunan. Saat itu saya masih berada di kelas satu." jelas Jeno.


"Apa perlu saya selidiki?" tanya Jeno.


"Ckk,,, cari pemilik mata itu. Yang lain kita singkirkan dulu." ucap Bulan, tentu saja berbohong. Sebab ada Gara yang akan mengeksekusi masalah ini.


Jeno mengangguk. "Bagaimana lengan ibu. Sudah lebih baik?" tanya Jeno.


"Lumayan." cicit Bulan, memandang ke arah lengannya yang tertutup kain.


"Tanyakan pada teman kamu. Bagaimana penyelidikan mengenai dokter itu. Satu lagi, kalian harus memantau rumah dokter itu." pinta Bulan dengan tatapan yang jauh.


Bulan merasa jika dia akan bergerak nanti malam. "Jika benar perkiraan kita, nanti malam dia akan mulai menjalankan rencananya. Dan besok, dia akan masuk ke rumah Serra." tukas Bulan.


Jeno mengangguk. Membenarkan apa yang ada di benak Bulan. "Baik, saya permisi dulu bu. Mau balik ke kelas." pamit Jeno.


"Iya." Sebenarnya Bulan tahu siapa yang menariknya tadi. Wangi parfum yang melekat di tubuh Jeno, sudah tercium beberapa langkah, sebelum Bulan sampai ke tempat Jeno bersembunyi.


Hanya saja, Bulan sedikit memberi peringatan pada Jeno. Untuk selalu berhati-hati saat bertindak. "Guru pindahan. Berarti dia menggantikan guru yang lama."


Bulan melangkahkan kakinya ke ruang arsip. Dimana di sana semua yang ada di sekolah tercatat dengan lengkap. Termasuk identitas para guru. Meski Bulan yakin, beberapa identitas adalah palsu. Seperti dirinya.


Ruangan arsip nampak sepi, sehingga memudahkan Bulan untuk bergerak. Tapi, sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut, Bulan meminta Gara untuk menghapus jejaknya di kamera CCTV saat dirinya memasuki ruangan tersebut.


Bulan bergerak dengan cepat. Pandangan matanya memindai dengan teliti dan cepat. Bulan menemukannya. "Satu tahun yang lalu."


Bulan membuka lembar demi lembar bendetan kertas di tangannya. Hingga dia menemukan foto guru yang sedang dia cari. Serta guru yang digantikan olehnya.


Bulan tidak mengambilnya, tapi memfotonya dengan ponsel miliknya. Selesai. Dikembalikannya berkas tersebut ke tempat semua.


Bulan merasa ada langkah kaki mendekat ke ruangan. Segera Bulan menyembunyikan diri. Terdengar dengan jelas di telinga Bulan, jika seseorang membuka pintu dari luar dan masuk ke dalam.


Dari balik rak arsip, Bulan sedikit menggeser beberapa arsip. Sehingga ada sela yang dapat dia gunakan untuk melihat apa yang dilakukan orang tersebut.


Seorang perempuan. Sama seperti Bulan, seorang pengajar. "Ternyata di sini banyak tikus berkeliaran." ucap Bulan dalam hati.


Dia mengambil berkas yang di ambil Bulan tadi. Mengambil sebuah kertas dari dalamnya. Dan menggantikannya dengan kertas hang baru daja dia ambil dari kantong sakunya.


Segera dia meninggalkan ruang tersebut setelah pekerjaannya selesai. Bulan keluar, melihat lagi kertas apa yang diganti olehnya.


"Beruntung, gue lebih gercep." teryata arsip yang diganti adalah arsip yang diambil gambarnya oleh Bulan.


Bulan tidak segera keluar dari ruangan. Dia menghubungi Gara. Setelah Gara memberitahu semua aman, Bulan segera keluar.


Dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apapun, Bulan kembali ke ruang guru. Mengambil buku pelajaran serta tasnya, dan segera masuk ke kelas dua. Tempat dia mengajar.


Di sela-sela dia mengajar, Bulan mengirimkan hasil bidikan kamera ponselnya pada Gara. Sehingga Gara bisa bergerak dengan cepat. Termasuk markas baru yang dia temukan semalam.


Di tempatnya, Gara tersenyum senang. "Tiga markas. Kita menemukan tiga markas. Dengan beberapa orang anggota. Sepertinya mereka terlena." papar Gara, mulai memainkan jari jemarinya di atas keyboard.


Mereka merasa jika selama ini apa yang mereka lakukan selama di jalur aman. Tak ada kendala atau masalah sedikitpun.


Mungkin karena itulah, mereka tidak terlalu waspada. Padahal, saat ini dua orang sedang mengintai mereka. Dan ingin memporak-porandakan kegiatan yang selama ini mereka jalani selama bertahun-tahun.


Kedua mata Gara terbelalak, melihat apa yang dia temukan. "Bulan harus segera mengetahuinya. Jangan sampai dia salah langkah."


"Mereka terlalu sembrono. Tidak menyembunyikan hal sebesar ini." Gara menyimpan berita tersebut di file miliknya


"Tapi tak apalah. Pekerjaanku jadi lebih mudah." lanjut Gara.


Segera Gara mengirim pesan tertulis pada Bulan. Mengatakan untuk segera datang ke tempatnya. "Pasti Gara menemukan sesuatu yang penting." ucap Bulan dalam hati, membaca pesan tertulis dari Gara.


Selama mengajar, Bulan fokus pada ponselnya. Dan hanya memberikan tugas pada muridnya untuk mereka kerjakan sendiri.

__ADS_1


Tak pelak, empat murid lelaki di dalam kelas tersebut menatap Bulan dengan heran. Pasalnya, wajah Bulan terlihat serius.


Di sela mengajar, Bulan juga mendengarkan obrolan Serra beserta kedua orang tuanya. "Besok malam." batin Bulan.


Mereka mengatakan jadwal Serra akan melakukan kembali terapi bersama sang dokter. "Apa Bulan menemukan sesuatu?" bisik Jevo pada Jeno.


"Kemungkinan besar,, iya." lirih Jeno.


Ponsel keempat murid lelaki tersebut berbunyi. Sebuah pesan tertulis dari Bulan. Yang mengatakan untuk mengawasi rumah dokter yang menangani Serra. Malam ini.


Setelah membaca pesan dari Bulan, keempatnya memandang ke arah Bulan, yang sudah berdiri di dekat papan tulis. Menjelaskan pelajaran yang sedang berlangsung.


Bulan bergegas pergi meninggalkan sekolah setelah dirinya sudah tidak memiliki jam mengajar. Namun Bulan terlebih dahulu pamit, dengan alasan tidak enak badan.


Beruntung, wajah Bulan memang sedikit pucat. Mungkin karena luka tembak di lengan Bulan belum sepenuhnya pulih, serta masih sedikit terasa nyeri.


Tidak seperti yang Bulan bayangkan. Dirinya akan dengan lancar meninggalkan sekolah. "Bisa minggir." pinta Bulan.


Bukannya segera minggir. Claudia malah menatap tajam ke arah Bulan dengan tatapan sinis. Sepertinya Claudia memang sengaja menghadang jalannya Bulan.


Bulan memutar kedua matanya dengan malas. Dirinya tidak mungkin melakukan kekerasan di lingkungan sekolah. "Sabar...." ucap Bulan dalam hati. Meski kenyataannya, ingin rasanya Bulan menendang murid yang berdiri di depannya tersebut.


Claudia maju selangkah ke arah Bulan. "Saya peringatkan. Jangan sok kecakepan dsn kecentilan. Sadar diri. Anda sudah tua. Bukan ABG." sindir Claudia.


Bulan menautkan kedua alisnya. Lalu tertawa pelan. Seakan Bulan bisa menebak apa yang menjadikan Claudia menghadang jalannya.


"Saya memang cantik. Tapi maaf, saya nggak kecentilan. Dan Jevo, pasti dia juga tahu. Mana barang ori, mana barang bekas." sindir Bulan.


Melanjutkan langkahnya, melewati tubuh Claudia yang membeku mendengar perkataan Bulan. Bulan tidak mempunyai waktu untuk menghadapi omong kosong dari Claudia.


Claudia tersenyum kecut. "Barang ori. Bekas. Nggak mungkin guru rese itu tahu." gumam Claudia.


Membalikkan badan. Menatap punggung Bulan yang menjauh darinya. "Lihat saja, gue akan membuat dia membayar mahal, jika tetap mendekati Jevo." ancam Claudia.


Tasya yang melihatnya hanya menghela nafas. "Siapa yang mendekati, siapa yang disalahkan." cicit Tasya. Dirinya juga tahu, jika Jevo yang sering menggoda bu Bulan. Bukan sebaliknya.


"Gue harus memberi tahu bu Bulan. Biar beliau lebih berhati-hati." gumam Tasya, yang memang tahu betul bagaimana iblisnya dia.


Claudia segera bergegas pergi. Tentu saja untuk menemui Jevo. Sudah beberapa hari dirinya dan Jevo tidak saling bertemu. Bahkan jiga tidak bertukar kabar.


"Jevo." panggil Claudia dengan manja. Mikel dan Arya hanya menghela nafas, sembari menampilkan ekspresi malas mereka akan kehadiran Claudia.


Claudia langsung menempel pada Jevo seperti lintah. "Nanti kita pergi berdua yuk." ajaknya dengan tangan bergelayut mesra di lengan Jevo.


Sebab kemarin dirinya dan Claudia sudah berjanji akan keluar bersama. Tapi Claudia malah membatalkannya.


Jevo sama sekali tidak peduli, jika Claudia membatalkannya. Toh, kemarin dirinya memang sedang sibuk. Hanya saja, Jevo memainkan perannya sebagai seorang kekasih yang sedang marah pada pasangannya.


Mikel dan Arya hanya saling sikut. Ingin sekali keduanya berdiri seraya bertepuk tangan. Memuji kehebatan akting dari Jevo. Yang seolah-olah sakit hati karena Claudia tiba-tiba membatalkan janji secara sepihak.


"Maaf sayang. Kemarin mama meminta aku untuk menemani dia." ucap Claudia beralasan.


Padahal kemarin dirinya menghabiskan waktu berdua dengan Revan di atas ranjang. Saling bertukar keringat dan saliva.


Dan Jevo, tentu saja dirinya tahu. Tapi Jevo memilih untuk acuh. Toh, dia dama sekali tidak mencintai Claudia.


Jevo terdiam. Dia sadar beberapa hari ini, dia sama sekali tidak kepikiran untuk melakukan hal mesum sama sekali. "Kenapa ya." batinnya mencari alasannya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Claudia, membuyarkan lamunan Jevo.


"Ckkk,,, minggir. Gue mau ke kelas." usir Jevo, melepas tangan Claudia di lengannya.


"Elo di sini saja. Jangan lupa bayar makanan kita." tukas Mikel tersenyum puas dalam hati, menghentikan Claudia yang hendak mengejar Jevo.


"Sial..!!" sungut Claudia, dikerjai oleh Mikel.


"Ini semua gara-gara Revan." ucap Claudia dalam hati.


Dari sudut kantin, Revan tersenyum senang. Dirinya juga mengira jika telah berhasil membuat seorang Jevo marah dan kesal. Padahal, Jevo sama sekali tidak menganggap Claudia.


Dan Jevo juga tahu, hubungan antara Claudia dengan Revan. "Ternyata Jevo memang menyukai Claudia. Bagus kalau begitu." ucap Revan dalam hati.


Sementara Moza mengerutkan keningnya, melihat adegan Jevo dan Claudia. "Beneran nggak sih." batin Moza.


"Sudahlah. Bukan urusan gue juga. Ngapain gue mikirin urusan orang lain." lanjut Moza dalam hati. Meneruskan makannya dengan lahap, sebelum bel masuk berbunyi.


Di lapangan samping sekolah, seperti biasa, Jeno duduk dengan memegang sebuah buku di tangannya. Tatapannya sama sekali tidak mengarah ke buku yang dia pegang. Tapi kepada seorang petugas kebersihan.


"Ternyata di sini banyak sekali parasit berkeliaran." ucap Jeno dalam hati. Orang tersebut adalah orang yang ditembak kakinya oleh Bulan.


"Mereka berani kembali. Itu artinya, mereka tidak tahu. Jika gue dan bu Bulan orang yang berada di ruangan saat malam itu." tebak Jeno.


Saat ini Jeno terpaksa fokus pada kasus pembunuhan yang sedikit demi sedikit sudah menemukan titik terang.

__ADS_1


Jeno harus mengesampingkan masalah lainnya. Meski begitu, Jeno juga tetap merasa penasaran. "Pasti ada yang terjadi. Dan bu Bulan tahu semuanya. Gue juga akan mencoba mencari tahu, setelah kasus pembunuhan ini terungkap." ucap Jeno dalam hati.


Jeno berdecak sebal, melihat sosok yang berjalan ke arahnya. "Ckkk,,, untuk apa dia ke sini. Mengganggu pemandangan saja." gumam Jeno dengan sebal.


"Kak Jeno, Sella duduk sini ya." tukas Sella meminta izin, sembari mendaratkan pantatnya di kursi yang sama dengan Jeno.


Sella memberikan sesuatu di dalam wadah tepak makan pada Jeno. "Ini untuk kak Jeno. Sella yang memasak sendiri." ujar Sella.


Jeno dengan malas mengambilnya. Menaruhnya di atas paha. Tanpa berniat membukanya. "Di buka dong kak." pinta Sella.


"Nanti. Gue masih kenyang." ketus Jeno.


"Oo,,, ya sudah." tutur Sella dengan lembut.


"Loh,,, kak.. kak Jeno mau ke mana?" tanya Sella, dengan Jeno sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan Sella.


"Ke kelas." sahut Jeno tanpa membalikkan badan.


Sella mendengus sebal. "Astaga. Gue harus mendapatkannya. Nggak lucu, seorang Sella ditolak sama cowok culun seperti Jeno." geram Sella.


Sella menendang angin di depannya dan hendak pergi meninggalkan tempatnya. "Perlu bantuan?" tanya seorang murid lelaki saat Sella berjalan.


"Nggak perlu. Nanti, jika gue butuh bantuan, gue akan menghubungi elo." sahut Sella.


"Oke." ucapnya santai. Dia yakin, jika Sella akan kembali menghubunginya. Dan membutuhkan bantuan dari dirinya. Yang artinya dia akan mendapatkan pundi-pundi uang.


Sedangkan Bulan pulang ke rumah dulu, sebelum menuju ke tempat Gara berada. Dirinya tahu, jika ada seseorang yang selalu mengikuti dirinya sepulang sekolah.


"Apa dia nggak bosan." celetuk Bulan.


Hari masih siang saat Bulan pulang. Sesuai dugaan Bulan, mbok Yem sudah tidak berada di rumah. "Mungkin dia sedang mencari putranya." gumam Bulan, masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian.


Dibukanya sedikit gorden, untuk melihat apakah orang yang membuntutinya masih berada di sana atau sudah pergi.


Bulan tersenyum samar. "Elo tunggu sampai lumutan." celetuk Bulan.


Mengambil jaket dan menyambar kunci motornya. Bulan keluar dengan memakai helm full face saat keluar dari rumah. Dia juga tidak lewat pintu depan. Juga tidak lewat pintu belakang. Tapi lewat jendela samping, yang langsung berhadapan dengan tembok.


Bulan meloncati tembok tersebut. Dimana, di sebelah tembok adalah sebuah lahan kosong, dengan tanaman liar tumbuh subur di sana.


Bulan berjalan dengan cepat ke arah di mana dirinya meletakkan sebuah sepeda motor tanpa plat. Diambilnya sepeda motor yang di samarkan dengan tumpukan rumput dan beberapa daun kering.


Di kediamannya, Gara dengan cemas menunggu kedatangan Bulan. "Lama sekali, Bulan." beberapa kali Gara menoleh ke pintu di mana biasanya Bulan masuk.


Segera Gara berdiri dengan tongkatnya, mendengar suara bunyi mesin sepeda motor dari arah lain. Gara mengintip dari lubang tembok yang memang sengaja dia buat. "Bulan." gumam Gara, setelah Bulan melepas helm di kepalanya.


"Tumben dia lewat sana." cicitnya, segera membuka pintu yang telah lama tidak dia buka.


Belum juga Bulan masuk ke dalam, Gara terlebih dahulu mencecarnya dengan beberapa pertanyaan. "Kenapa elo lewat sana? Tumben. Ada apa?" tanyanya.


"Nggak ada apa-apa. Pengen saja." ucap Bulan.


Gara segera masuk ke dalam. Setelah Bulan memasukkan motornya dan menutup pintu. "Ada yang ingin gue perlihatkan, dan elo harus melihatnya."


Gara duduk di depan layar, dengan jari jemari bergerak cepat di atas keyboard. "Dia."


Bulan tak kalau terkejut dari Gara sebelum ini, melihat apa yang ada di layar di depannya. "Baiklah. Gue harus bergerak dengan cepat."


Gara menatap wajah Bulan yang sedikit berbeda. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Mereka mulai mengendus keluarga gue."


"Astaga. Apa yang akan elo lakukan?"


"Gue sudah punya rencana. Tapi elo harus membantu gue."


"Pasti." sahut Gara yakin. "Bulan, terkait rekaman yang mereka cari. Apa ada pada elo?" tanya Gara.


"Itu dia. Gue sendiri juga nggak tahu. Rekaman apa yang mereka maksud."


Tebakan Gara tidak meleset. Bulan tidak mengetahui kenapa dirinya menjadi target mereka. "Tapi, anak mbok Yem menyebut tentang misi gue beberapa tahun hang lalu. Yang menewaskan dua orang. Fan satu orang yang menyusul."


"Elo harus mengingatnya Bulan. Mungkin, dengan rekaman itu, kita bisa mengetahui semuanya."


"Tapi rekaman apa?! Gue sendiri saja nggak tahu." seru Bulan.


"Elo coba ingat, sambil kita menjalankan rencana kita." saran Gara.


Bulan mengangguk. "Oh iya, Gara... Sepertinya kita membutuhkan tambahan personil untuk masalah kita ini."


Bulan tersenyum aneh pada Gara. "Gue ikut saja. Asal elo yakin. Berapa orang?" tanya Gara.


"Satu."

__ADS_1


"Apa orang itu." tebak Gara. Bulan mengangguk yakin.


__ADS_2