
Sebelum baca boleh, dong, minta vote, like dan komennya. 😊😊😊
Terima kasih. Selamat membaca. 😍😍😍
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Dilara masih marah. Kali ini bukan karena lagu kemarin, tapi karena saat momen romantis itu kuhancurkan. Sebuah ciuman semalam gagal mendarat berganti dengan bisikkan, "Sudah malam, ayo, tidur." Setelah mengatakan itu, aku langsung diberi hadiah sebuah pukulan di perut. Tidak sakit, si, cuma geli.
Pagi ini, setelah gagal mengantar Dilara sekolah, aku bergegas ke kampus. Bab akhir dari skripsiku harus segera disetor.
Tiba di kampus, pandangan langsung disuguhi oleh kemesraan dua anak manusia. Galih dan Sandra tengah memadu kasih di sudut lorong ruang dosen. Ck! Seperti tidak ada tempat lain saja. Aku mendengkus karena cemburu. Andai perjalanan cintaku dan Dilara semulus kisah cinta singkat mereka.
"Woi!" sapaku membuat mereka melonjak kaget. Tangan Sandra yang masih berada di genggaman Galih spontan langsung dilepas. Aku terkikik melihatnya terkejut seperti itu.
"Sialan, lu!"
"Nggak bisa liat orang lain seneng, lu!"
Wuih! Mentang-mentang pasangan, ngumpat pun bareng.
"Masih mending gue yang negur, kalau dosen. Apa nggak dikawinin kalian berdua."
"Sembarangan, belum lulus ini," protes Sandra seraya memukul bahuku saat aku sudah berada di dekat mereka.
"Makanya cepetan dilulusin."
"Ini juga kita lagi nunggu dosen kali. Sama kayak elu." Galih menimpali.
Kami bertiga duduk di kursi panjang besi yang disediakan di sepanjang lorong itu. Beberapa menit menunggu. Dosen-dosen pembimbing kami satu per satu datang. Aku, Sandra dan Galih masuk ke ruangan mereka dan melakukan bimbingan.
❤️❤️❤️
Gadis itu masih menangis. Seminggu yang lalu aku telah diwisuda dan saat ini kami tengah menikmati senja. Tangisnya bukan tanpa alasan. Setelah melakukan genjatan senjata selama satu Minggu, kemudian damai saat aku wisuda, Dilara kembali menabuh genderang perang hingga kini.
Hari ini, gadis itu marah besar. Dia bilang aku tak punya perasaan. Pergi meninggalkan dia pas lagi sayang-sayangnya. Sayang, kok, dua Minggu dimusuhin? Haduh! Anak kecil.
Aku memang pamit padanya akan pergi ke Kalimantan untuk bekerja di perusahaan paman. Sebenarnya sudah berkali-kali kutolak tawaran itu, tapi bukannya berhenti menghubungi, paman malah semakin gencar merayu.
"Udah, dong, nangisnya. Nggak capek apa?"
"Nggak mau!"
"Kita jalan-jalan, yuk."
"Kakak egois!"
"Kok, egois, sih?"
"Kakak mencipta kenangan manis habis itu ninggalin Dila. Kakak nggak tahu rasanya rindu dan mengenang apa yang telah kita lewati bersama. Kakak nggak akan pernah ngerti!" Gadis itu bangkit dan menutup pintu rumahnya dengan keras.
Hal itu berhasil membuat ibunya beristigfar dan keluar. Aku hanya cengengesan seraya menggaruk kepala.
"Lu apain dia, Ham?" tanya calon ibu mertuaku.
"Irham cuma pamit sama dia, Bu."
"Kamu mau ke mana?"
"Kerja."
"Di ...?"
"Luar pulau."
__ADS_1
"Panteees."
"Salah, ya, Bu?"
"Enggak, si. Cuma terlalu mendadak."
Memang mendadak karena aku tak memiliki kesempatan untuk bicara. Bagaimana mau bicara? Dilara ngambek terus.
❤️❤️❤️
Aku menghela napas, bahkan hingga malam ini pun Dilara tak keluar rumah. Padahal sudah satu jam aku memetik gitar di halaman rumahnya. Semua lagu yang disukai Dilara telah kunyanyikan berharap gadis itu melongok meski melalui jendela kamarnya. Namun, harapanku musnah.
Alih-alih Dilara yang datang, malah penganggu yang sangat ingin kuhindari mendekat.
"Lu serius mau ke Kalimantan?" tanyanya berbisik. Refleks, aku segera menjauhkan diri darinya. Bukan apa-apa, hanya tak ingin orang salah paham. Dua orang lelaki dewasa saling mendekatkan wajah, seperti apa persepsi orang. Aku merinding membayangkan.
"Serius!"
"Tega, lu! Noh, cewek lu nangis dari tadi kagak berhenti."
"Suruh keluar, dong. Besok gue berangkat."
"Ogah! Suruh sendiri sana!"
Karena mendapatkan izin, aku segera bangkit. Namun, ditahan saat mulai bergerak dua langkah.
"Mau ngapain?" tanya Galih.
"Mau nyuruh Dilara keluar."
"Lu mau disiram air seember ama Ibu gue?"
"Ya, kagak. Pan udah dapat izin dari lu."
"Ngaco, lu! Gue becanda!"
"Berisik!" teriaknya dari teras.
Aku segera menghampirinya dan terhenyak melihat kondisi kekasihku itu. Rambut panjangnya acak-acakan, wajahnya sembab, dan sisa air mata yang tampak di pipi putihnya. Rasa nyeri perlahan merambati hati. Cepat aku mendekat, lalu memeluknya erat.
"Dil ...," bisikku lembut. Tangan kurusnya dengan lemah mendorong tubuhku. Namun, aku semakin mengeratkan pelukan.
"Woi! Woi! Nyosor aja, lu!" seru Galih seraya menarik tubuhku menjauhi Dilara. Aku mundur beberapa langkah, tetapi tak mengalihkan pandangan dari Dilara.
"Besok kakak pergi, Dil," ucapku putus asa.
"Budu! Sana pergi! Jangan berisik lagi! Ganggu!"
"Iya, tapi kamu jangan nangis."
"Apa peduli, Kakak?"
"Jelas aku peduli, Dil. Aku nggak suka liat kamu nangis."
"Besok juga Kakak nggak akan liat."
"Kakak buat keputusan ini juga berat, Dil. Kakak juga nggak mau pisah begini."
"Lalu, kenapa tetap pergi?"
"Tak ada pilihan lain," kataku penuh ketidakyakinan.
"Yaudah, pergi aja!" seru Dilara sambil merampas gitarku dan segera masuk rumah.
__ADS_1
Aku hanya bisa memandang punggungnya hingga hilang di balik pintu dengan denyut rasa sakit yang kian terasa di dada.
"Pulang, gih. Besok take off jam berapa?"
"Pagi," jawabku lesu.
"Yaudah hati-hati. Gue nggak bisa anter. Sukses aja lu di sana." Setelah mengatakan itu, Galih pergi menyusul Dilara.
Tinggal aku yang hanya berdiri mematung. Menatap pintu berpelitur cokelat itu tertutup rapat. Sedikit kesal karena tak satu pun kata perpisahan keluar dari mulut Dilara. Padahal aku berharap, gadis itu memberi dukungan hingga aku kuat menjalani kehidupan di tanah rantau.
***
Tepat pukul 09.00 aku tiba di Bandara Syamsudin Noor, lepas melewati penjagaan pintu keluar, terlihat paman di sana. Menatapku dengan tatapan yang ... entah. Namun, pandangan itu langsung meluluhlantakkan hatiku. Mencairkan kerasnya dendam yang selama ini bersemayam.
Bergegas, kucium punggung tangan itu, lalu tubuhku segera ditarik dalam pelukan.
"Irham! Irham! Irham!" pekiknya seraya mencium pipiku. Mau tak mau, air mata yang selama ini kutahan luruh juga.
"Paman ...."
Sudah cukup kami melepas rindu, paman mengajakku sarapan di daerah Martapura. Menu makan yang mereka sajikan berupa soto. Cocok untuk menu sarapanku. Setelah ngobrol menanyakan kabar dan soto pun telah kutandaskan, ponsel segera kunyalakan. Ada belasan riwayat panggilan dari Dilara juga Galih. Lantas, aku segera menekan aplikasi WhatsApp.
"Lu udah berangkat?" tanya Galih pada pukul 06.30.
"Dilara nekat nyusul lu, tuh." Kembali pesan Galih terbaca. Dia mengirimkan pada pukul 06.45.
Jelas waktu itu aku sudah ada di pesawat dan bersiap lepas landas.
Aku segera menekan tombol hijau untuk menelepon. Baru dua kali berbunyi nada sambung, suara Galih sudah menyapa.
"Gue nggak ketemu Dilara. Jam segitu pesawat gue mau meluncur."
"Iye. Tahu. Nekat, tuh, anak. Padahal gue udah ngelarang."
"Dia gimana sekarang? Masih nangis?"
"Enggak. Lagi makan es krim, tuh."
"Syukurlah," kataku seraya mengulum senyum. Dalam hati berdoa semoga Dilara tak terlalu berlarut dalam kesedihan.
"Awas, lu, di sana selingkuh!"
"Buset! Baru juga gue sampe, udah diancam. Kampret, lu!"
"Gue nggak percaya ama lu, Ham."
"Kalau gue ada niatan selingkuh, noh, si Sandra udah gue terima cintanya."
"Loh, kok, bawa-bawa pacar gue?"
"Itu cuma perumpamaan, Bro. Yaudah jagain pacar gue, yak."
"Pastilah! Adik gue."
"Bukan Dilara, tapi gitar gue. Mahal 'tu harganya."
"Sialan, lu! Bukan Dilara yang lu khawatirin malah gitar. Gue ancurin juga 'tu barang."
Aku tertawa mendengar umpatan Galih. Ada ruang hampa yang tercipta di hati. Menyadari bahwa saat-saat seperti ini akan menjadi hal yang kurindukan.
"Jagain Dilara. Jangan sampai dilamar ama orang lain. Terlebih si kunyuk adik ipar lu itu. Bocah tengik! Gue serius, Lih."
"Iye, iye. Tapi, batas gue jagain cuma setahun. Setelah itu, gue bebasin Dilara pilih pacar. Jadi, lu punya waktu setahun buat balik."
__ADS_1
Aku menghela napas panjang. Menekan tombol merah, lalu mengalihkan pandangan ke jalan raya yang dipadati kendaraan. Semoga urusan di sini bisa kelar dalam waktu satu tahun.
Next