PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 132


__ADS_3

Jeno langsung membaringkan badannya di atas ranjang empuk yang berada di dalam kamar apartemennya begitu dia sampai di dalam.


"Masih jam segini." cicit Jeno yang malah bingung hendak ingin melakukan apa, karena hari masih siang.


Niatnya seharian pergi bersama Bulan lenyap, karena Bulan harus menjenguk rekannya yang berada di rumah sakit. Serta Bulan yang merasa tak enak pada Nyonya Rindi dan Tuan David, karena semalam selalu bersama sang putra, Jeno.


"Padahal, mama pasti senang-senang saja jika aku pergi bersama Bulan." gumam Jeno menebak.


Jeno mengubah posisi tidurnya dengan tengkurap. Membayangkan wajah cantik sang pujaan hati. Bibir Jeno tersenyum. "Ingin sekali setiap malam tidur dengan Bulan ku." cicitnya.


"Jika saja waktu bisa berjalan sesuai keinginan gue. Hah...." desah Jeno seraya berandai-andai.


"Gara." tiba-tiba Jeno teringat akan sahabat dari Bulan tersebut, saat mengkhayal.


"Lebih baik gue ke sana. Melatih diri." pungkas Jeno memutuskan untuk pergi ke markas. Melatih diri untuk memantaskan diri berdiri di samping Bulan.


Tapi sebelum pergi ke markas, Jeno menghubungi sang mama. Memberitahu jika dirinya tak lagi bersama Bulan. Jeno tentunya tak ingin sang mama mengira jika mereka berdua masih bersama.


Terlebih Bulan sempat mengatakan jika dirinya merasa tak enak dengan kedua orang tuanya. Jeno bisa menebak apa isi kepala Bulan. Pasti Bulan tak ingin di kira perempuan gampangan oleh kedua orang tua Jeno.


"Sayang,,, sayang. Padahal, mama sama papa dangat menyukai kamu. Mereka sangat tahu, jika kamu perempuan istimewa yang pantas bersanding dengan putranya yang tampan ini." tukas Jeno menyombongkan diri.


Jeno beralasan pada sang mama, jika dirinya hendak bermain ke rumah teman. Meski sudah dewasa, Jeno maupun Jevo selalu mengabari sang mama tentang keberadaan atau keadaan mereka.


Mungkin karena keduanya sudah terbiasa melakukan hal tersebut dari dulu. Sehingga mereka selalu melakukannya sampai sekarang.


Meski pada beberapa kesempatan, mereka pasti akan berbohong dengan keluar secara diam-diam dari rumah tanpa izin atau tanpa memberitahu.


Setelah mendapat izin dari sang mama. Jeno segera meluncur ke markas. Tentu saja dengan mengganti pakaian serta kendaraannya.


Jeno masih ingat dengan perkataan Bulan, jika keberadaan mereka saat membuntuti mobil tadi diendus oleh pihak lain.


Oleh karenanya, Jeno tak mau mengambil resiko. Membahayakan markas, yang dimana Gara tinggal di sana. Yang sama artinya mengundang masalah karena kecerobohannya. Yang akan berimbas pada banyak orang.


"Mana Bulan?" tanya Gara langsung, saat melihat batang hidung dari Jeno.


Sebelum menjawab pertanyaan Gara, Jeno melepas jaketnya, mengambil kursi, lalu duduk di samping Gara yang sibuk dengan layar yang berada di depannya seperti biasa. "Ke rumah sakit." jawabnya singkat.


"Pasti menjenguk Narendra." tebak Gara yang mendapat anggukan dari Jeno, meski Jeno belum tahu nama orang yang hendak Bulan temui.


"Yang lain mana?" tanya Gara menanyakan tiga lelaki SMA lainnya.


Jeno menggeleng. "Entahlah, aku nggak tahu." jawab Jeno.


"Elo kenapa?" tanya Gara, melihat ekspresi Jeno yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Narendra. Saat di jalan, Bulan mengatakan lelaki yang dia lihat itu dia. Tapi,,,,," Jeno tak melanjutkan kalimatnya, dan menatap intens kepada Gara.


"Elo yakin, dia Narendra?" tanya Gara, yang belum tahu hal itu. Karena Bulan tidak mengatakan apapun pada dirinya saat mereka tadi melakukan percakapan menggunakan ponsel.


"Entah, aku helm pernah melihatnya sebelum ini. Tapi, Bulan mengatakan jika dia seharusnya terbaring di ranjang rumah sakit. Dan kita melihat dia di jalan. Dua kali." tutur Jeno.


"Dan Bulan memutuskan untuk menjenguknya, sekaligus memastikan kebenarannya." tebak Gara yang mendapat anggukan ringan dari Jeno.


"Bisa jadi." sahut Jeno.


"Apa Narendra juga terlibat kasus ilegal yang akan kalian selidiki?"


"Bisa jadi terlibat, bisa jadi tidak." jelas Gara, dirinya tak heran jika Jeno tahu hal tersebut. Pastinya Bulan yang memberitahu pada Jeno.


"Maksudnya?" tanya Jeno bingung dengan jawaban yang di ucapkan Gara.


"Pak Bimo mengatakan jika Narendra memegang bukti lainnya. Makanya, Bulan mendekati dia." jelas Gara.


"Aku sedikit khawatir, jika semua ini hanya jebakan atasan Bulan. Dari istri dan anaknya yang dijadikan sandera. Dan juga bukti yang ada di tangan Narendra." tukas Jeno.


"Tapi, pak Bimo memberikan salah satu bukti rekaman pada Bulan." ungkap Gara.


"Itu dia yang aku maksud. Bisa jadi, dia menggunakan hal tersebut untuk menyakinkan Bulan. Jika dia benar-benar sudah berubah. Dan ingin meninggalkan dunia kotornya. Padahal, dia ingin Bulan masuk ke dalam, dan mereka akan dengan mudah mengalahkan Bulan." papar Jeno mengatakan apa yang dia khawatirkan.


Gara menepuk pelan pundak Jeno. "Terimakasih sudah mengkhawatirkan Bulan."


"Sialan, Bulan itu kekasih aku. Ralat...!! Calon makmumku." tegas Jeno.


"Iya... calon, calon istri. Calon." tekan Gara pada kata calon.


"Ckkk,,,, sialan. Calon, sekarang. Dan akan menjadi istri setelah aku lulus SMA." tekan Jeno.


"Iya,,,, iya,,, terserah." lirih Gara.


"Sudahlah, percaya dengan Bulan. Dia tahu apa yang harua dia lakukan. Gue yakin, Bulan punya beribu rencana, jika salah satu atau rencana lainnya gagal." ujar Gara dengan yakin.


Jeno mendekatkan ke arah Gara, membisikkan sesuatu kepada Gara. "Apa...!!! Kenapa Bulan tidak memberitahu gue?! Jika dia akan menaruh istri dan anak pak Bimo di sana!" seru Gara sangat terkejut.


"Aku kira kamu sudah tahu." tutur Jeno.

__ADS_1


Dan dari ekspresi wajah Gara, Jeno melihat jika Gara benar-benar tidak tahu rencana Bulan tersebut. "Ahh,,,,, Bulan, dia memang sangat suka bermain di depan mulut buaya." tukas Gara.


Dimana Bulan juga menyuruh kedua tangan kanan pak Darto untuk menjaga dan mengawasi kakek Timo selama beliau berada di dalam penjara.


"Bulan mengatakan, jika tempat terbaik adalah di mana musuh berada." papar Jeno mengatakan apa yang dia dengar dari mulut Bulan.


"Memang benar. Tapi resikonya juga sangat besar." timpal Gara.


"Jika Bulan datang, tolong kamu beritahu dia untuk mengubah rencananya." pinta Jeno.


"Elo pikir segampang itu." ketus Gara.


"Siapa tahu, Bulan menuruti apa yang elo katakan."


"Apa nanti malam elo mau bantu Bulan?" tanya Gara yang dijawab gelengan kepala oleh Jeno.


"Kenapa?"


"Besok aku ujian. Bulan menyuruhku belajar nanti malam. Lagian, Bulan mengatakan jika kehadiranku malah akan menjadi beban untuknya." ujar Jeno dengan wajah ditekuk.


Gara menahan senyum. Apalagi melihat raut wajah Jeno yang sangat lucu di matanya. "Memang sih, Bulan mengatakan jika bekerja sendiri lebih mudah dan nyaman. Karena, tak ada yang harus dia pikirkan." sahut Gara menjelaskan.


Karena, jika Bulan membawa teman atau rekan, mereka harus bisa sejalan dan sepemikiran. Jika tidak, pasti semua rencana yang sudah ada di dalam otak akan gagal berantakan.


"Pastinya, Bulan juga tak ingin kepikiran yang lain. Jika kamu ikut, pasti Bulan malah akan kepikiran tentang kamu. Terutama keselamatan kamu." lanjut Gara.


"Iya aku tahu. Makanya aku datang ke sini." ujar Jeno.


"Apa hubungannya?" tanya Gara, merasa Jeno keluar dari topik pembicaraan.


Jeno memutar kuris roda yang digunakan oleh Gara. Sehingga dirinya dan Moza saling bersitatap. "Apa sih elo." tukas Gara merasa aneh dengan tingkah Jeno.


"Gue akan belajar menjadi lebih kuat. Lebih hebat dari Bulan." tegas Jeno.


Gara mengedipkan kedua bola matanya dengan lucu. "Dia pikir hanya latihan dalam hitungan satu hari, satu minggu, atau satu bulan bisa membuatnya lebih hebat dari Bulan. Aneh." batin Gara.


"Elo mau latihan apa? Menembak, bermain pisau, bela diri, atau apa?" tanya Gara, dengan kembali memutar kursi rodanya ke arah semula.


" Menurut kamu, latihan apa yang aku lakukan lebih dulu?" tanya Jeno meminta saran Gara.


Gara terdiam sembari berpikir apa yang pertama ditekuni Jeno. "Bagaimana kalau bela diri. Jika menembak, elo harus punya pistol. Dan izin menggunakannya sedikit ribet." saran Gara.


"Oke." sahut Jeno manggut-manggut.


"Ajari aku." pinta Jeno.


"Elo nyindir gue...!!" ketus Gara. Karena keadaan Gara yang mengakibatkan dirinya hanya bisa duduk di kursi roda saja.


"Ckk,,, kamu lagi datang bulan, sensi banget sih. Maksudnya, kamu bisa lihat aku belajar, jika ada yang salah, benarkan." jelas Jeno berdecak kesal.


"Eemmmm,,, oke, boleh juga."


"Yuk,,, mumpung masih jam segini. Sore aku harus pulang. Biasa,,, anak mama, anak rumahan." ujar Jeno cengengesan.


"Anak rumahan. Yang ada anak tetangga." celetuk Gara.


Sedangkan di rumah sakit, Bulan melangkahkan kakinya dengan tenang di lorong. Membawa sebuah kantong kresek di tangannya, yang berisi buah-buahan. Sebab tak mungkin, dirinya menjenguk orang sakit tanpa membawa apapun.


Langkah Bulan terhenti saat di depan pintu kamar, dimana ada dua orang penjaga yang berdiri di sana. Bulan tersenyum dalam hati. "Pengamanan tingkat atas." batin Bulan.


"Boleh saya masuk?" tanya Bulan, seraya mengeluarkan kertas kecil, yakni kartu pengenal. Memperlihatkan pada dua orang yang berada di depannya.


Keduanya mengubah ekspresi wajahnya yang garang, setelah membaca kartu pengenal milik Bulan.


Bulan mengerti apa mereka pikirkan sekarang. Bulan mengangkat tangannya, memberikan kantong kresek pada salah satu dari mereka untuk memeriksa apa yang ada di dalamnya.


Selesai memeriksa benda yang terdapat di dalam kantong kresek tersebut, mereka mengembalikannya pada Bulan. "Silahkan." tuturnya dengan sopan, sembari membukakan pintu untuk jalan Bulan.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Bulan masuk ke dalam. Di dalam, ada dua orang perempuan berseragam putih, yang dimana mereka adalah perawat, yang selalu berada di sisi Nerendra.


Kedua perawat tersebut memandang Bulan seperti sedang menilai serta menebak siapa Bulan. Pasalnya, ini pertama kalinya Bulan datang. Dan pertama kalinya mereka melihat Bulan.


"Pasti mereka berdua juga tahu apa yang terjadi." tebak Bulan pada dua perawat yang menatapnya tersebut.


Bulan meletakkan kantong kresek berisi buah tersebut di atas meja. "Bagaimana keadaan Narendra?" tanya Bulan melihat Narendra yang tertidur di atas ranjang.


"Maaf, anda siapa?" tanya salah satu dari mereka.


"Saya rekan kerja Narendra." jawab Bulan, tanpa melihat ke arah sang perawat.


Bulan menatap Narendra dengan teliti. Bibir Bulan tersenyum samar melihat pemandangan yang janggal di kedua matanya.


Dimana Narendra masih memakai kaos yang sempat dia pakai saat keluar dari rumah sakit, meski kaos tersebut di tutupi dengan pakaian pasien. Namun mata tajam Bulan tak bisa di bohongi.


"Tuan Narendra sedikit membaik. Tapi beliau belum bisa bangun atau meninggalkan ranjang karena keadaannya." jelas sang perawat.

__ADS_1


Bulan hanya mengangguk pelan. Memindai ruang rawat yang ditempati Narendra. Mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk mencari sesuatu.


"Beliau sudah sadar sejak tiga hari yang lalu. Hanya saja, beliau saat ini sedang dalam pengaruh obat bius." jelasnya lagi, tanpa Bulan bertanya.


Bulan berdiri. Mendekat ke arah ranjang Narendra. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Apa mama Narendra pernah datang ke sini?" tanya Bulan. Sebab papa dari Narendra sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.


Dan yang Bulan tahu, Narendra dan sang maka tidak begitu dekat. Bahkan Narendra memilih tinggal sendiri ketimbang tinggal dengan sang mama.


Bulan bisa melihat dari pantulan kaca di depannya, jika kedua perawat tersebut saling pandang untuk memberikan isyarat. Dan tak segera menjawab.


"Siapa yang sering datang ke sini? Sekedar melihat perkembangan Narendra?" tanya Bulan selanjutnya.


Lagi, kedua perawat tersebut tak lantas segera menjawab pertanyaan dari Bulan. Butuh waktu bagi mereka untuk menjawabnya.


Sesungguhnya, Bulan hanya sekedar basa-basi menanyakan ini itu pada mereka. Hanya untuk membuat dirinya lebih lama di ruangan ini. Dan Bulan juga harus berperan jika dirinya menjenguk seseorang yang sedang sakit.


"Maaf Nona, kami memang melihat beberapa orang pernah datang ke sini. Menjenguk Tuan Narendra. Tapi, kami tidak tahu pastinya nama dan siapa mereka." jelasnya.


Bulan berjalan ke pintu yang terhubung dengan balkon, dimana pintu tersebut tidak tertutup. Langkah kaki Bulan berhenti di ambang pintu. Menatap intens apa yang ada di depannya. "Dia tidak lewat sini." batin Bulan, menebak dari mana Narendra masuk setelah dia berkeliaran di luar.


"Toilet mana?" tanya Bulan.


"Itu Nona."


Bulan mengambil ponselnya, menaruhnya di atas meja. "Saya titip." tukas Bulan.


"Baik Nona."


Bulan masuk ke dalam kamar mandi. Meneliti setiap sudut kamar mandi. Bahkan juga dengan temboknya. Dan juga bagian plapon di atasnya. "Jika Narendra lewat pintu depan, berarti mereka semua terlibat." lirih Bulan menyenderkan punggungnya dai tembok.


"Oke,,, jika kedua perawat tersebut bisalah, mereka diajak kerja sama oleh Narendra. Tapi dua lelaki di depan. Mustahil." lirih Bulan mencoba menebak.


Sebab mereka berdua adalah orang yang langsung di tunjuk oleh pusat untuk menjaga serta mengawasi Narendra. Sebab Narendra terluka karena di serang oleh orang tak dikenal. Dan hingga sekarang, mereka masih dalam pengejaran.


Bulan mengerutkan keningnya. "Mereka yang menyerang Narendra belum ditemukan. Dan Narendra bisa berada di dua tempat yang berbeda dengan seenak jidatnya."


Bulan mencoba memecahkan teka-teki di dalamnya. Bukan Narendra yang Bulan inginkan. Tapi barang yang ada di tangan Narendra. "Dan lelaki muda yang selalu di samping Narendra, kemana dia?" tanya Bulan pada dirinya sendiri.


Bulan kembali mencari sesuatu di kamar mandi ruangan Narendra. Tangan Bulan meraba dengan pelan setiap inci tembok. "Tidak ada apapun. Tidak ada pintu rahasia di sini." cicit Bulan.


Lalu Bulan menengadahkan kepalanya, melihat ke atas. Bulan menghela nafas, menggeleng pelan. Dirinya berniat menyalakan air yang berada di toilet jongkok, supaya mereka yang berada di luar tak menaruh curiga pada dirinya.


"Ini." kedua mata Bulan menemukan setitik kotoran dia atas toilet duduk yang masih tertutup. Bulan menengadahkan kepalanya ke atas.


"Sangat rapi. Sayang, dia memberitahu itu padaku." seringai Bulan. Hanya dengan sedikit jejak, Bulan menemukan petunjuk yang sedang dia cari.


Bulan menaiki toilet duduk tersebut, kakinya berjinjit dengan tangan perlahan terulur ke atas. Didorongnya perlahan plapon yang ada di atasnya. "Benar, ini bisa dibuka." cicit Bulan, segera turun kembali.


Bulan masih memandang ke atas. "Sangat rapi. Siapa yang membuatnya." puji Bulan untuk kedua kali.


Tak ingin menimbulkan rasa curiga, Bulan membuka tutup toilet dan menyalakan airnya. Setelahnya dia kembali menutupnya. Mengambil sabuk untuk mencuci telapak tangannya yang bersih, dam mengambil tisu untuk mengeringkannya.


Bulan keluar dari toilet, dan yang pertama dia lihat adalah ponsel miliknya yang dia taruh di atas meja. Bulan tersenyum samar. "Terimakasih." Bulan mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jaket.


Letak atau posisi ponselnya berubah. Meski hanya berubah dua centi saja, Bulan bisa mengetahuinya. Dan jebakannya berhasil.


"Baiklah, saya akan pulang dulu. Sampaikan salam saya pada Narendra, jika dia bangun. Katakan padanya, jika saya, Bulan, datang ke sini." tukas Bulan.


"Baik Nona."


"Oh iya,,, lagi. Katakan juga padanya, jika Bulan ingin mengambil benda yang pernah dititipkan almarhum papanya pada dia." tukas Bulan, yang sebenarnya mengetahui jika Narendra tidak sedang tidur. Dan mendengar apa yang Bulan katakan.


Bulan mengetahuinya dari pak Bimo, atasan Bulan. Bulan masih ingat, dulu beliau mengatakan jika papa dari Narendra pernah mengatakan pada dirinya, jika dia menitipkan barangnya pada sang putra. Dan beliau juga mengatakan untuk pak Bimo mengambilnya sewaktu-waktu, saat benda itu dibutuhkan. Tentunya di tangan Narendra.


"Baik Nona."


Bulan keluar dari kamar rawat Narendra dengan senyum samar di bibir. "Narendra, apa yang elo sembunyikan." batin Bulan.


Segera Narendra membuka kedua matanya begitu Bulan tak lagi di dalam kamarnya. "Mana." pinta Narendra pada sang perawat.


"Ini Tuan." ucapnya memberikan sebuah kertas tertuliskan beberapa angka. Dan itu adalah nomor telepon yang sering Bulan hubungi.


"Nomor siapa ini." cicit Narendra.


"Gue harus mencari tahu." lanjutnya.


Narendra tersenyum miring. Menatap kertas di tangannya. "Mereka bilang jika Bulan sangatlah hebat. Bahkan, ponsel saja tidak memakai sandi. Sangat ceroboh." ejek Narendra tanpa berpikir panjang.


"Kalian berdua, ingat. Jangan katakan pada siapapun, jika Bulan datang ke sini. Paham..!!"


"Baik Tuan." sahut keduanya serempak.


Narendra terdiam, menatap ke atas. Dimana hanya ada langit-langit kamar di atasnya. "Dia memang cantik dan seksi." batin Narendra memuji sosok Bulan.


Tanpa Narendra tahu, jika dirinya sudah berada dalam pantauan Bulan. Dan itu artinya, dirinya akan mendapatkan kejutan-kejutan kecil.

__ADS_1


__ADS_2