
"Lepaskan mereka. Saya akan menuruti semua keinginan kalian." tegas atasan Bulan pada beberapa lelaki yang duduk di depannya.
Awalnya, salah satu dari mereka mengajak atasan Bulan bekerjasama. Kerjasama yang menguntungkan kedua pihak.
Atasan Bulan tergiur, karena jumlah uang yang dia terima dari pekerjaan ini melebihi gaji yang dia terima setiap bulannya. Sehingga dia akan mendapatkan pundi-pundi uang yang banyak.
Tapi, semakin lama beliau merasa ada yang janggal. Sebab, beliau hanya mengetahui jika bisnis yang mereka jalankan hanyalah bisnis jual beli senjata.
Tapi kenyataannya, bukan hanya senjata saja yang mereka perjual belikan. Dan semua itu baru beliau ketahui setahun belakangan ini.
Merasa dirinya tidak bisa mengambil keputusan, beliau menceritakan semua yang terjadi pada sang istri secara jujur. Beruntung, beliau mempunyai istri yang baik, dan mempunyai pemikiran bijak.
Sang istri mengatakan serta menyuruhnya untuk berhenti. Keluar dari jerat lingkaran hitam tersebut. Beliau akan selalu berada di samping sang suami, meski sang suami berpenghasilan kecil. Yang mengharuskan mereka hidup sederhana.
Asalkan, uang tersebut berasal dari pekerjaan yang baik. Dan tidak merugikan orang lain. Dari pada bergelimang harta, namun harus mengorbankan orang lain. Dan hidup penuh penyesalan.
Sang istri juga mengatakan. Lebih baik dirinya kehilangan nyawa, asal tidak merenggut nyawa orang lain yang tak berdosa. Hanya untuk mendapatkan kehidupan yang mewah.
Karena itulah, beliau mengambil keputusan besar. Memberikan video serta beberapa bukti kejahatan yang mereka lakukan pada Bulan.
Beliau percaya. Jika Bulan, bawahannya tersebut dapat diandalkan. Meski dia seorang perempuan. Beliau juga percaya, Bulan akan mampu menyelamatkan kedua anggota keluarganya.
Disebuah ruangan yang tidak terlalu lebar, empat lelaki duduk di kursi empuk, dengan sedikit melingkar. Mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Tenang saja, kami pastikan anak dan istri kamu dalam keadaan baik-baik saja. Asal kamu menuruti apa yang kami inginkan." ucap lelaki dengan perut buncit yang duduk bagai penguasa.
Beliau diperlihatkan video sang istri dan juga sang putri dimana kedua ya berada di dalam kamar mewah. Tentunya dengan fasilitas yang mewah pula.
Makan minum, serta semua kebutuhannya tercukupi. Hanya saja, mereka berdua bagai burung yang berada di dalam sangkar emas.
Betah? Tentu saja tidak. Mereka berdua manusia normal sebelum di kurung dalam kamar mewah ini. Yang sudah terbiasa bersosialisasi dengan masyarakat lain.
Tentunya mereka seperti dipenjara. Meski semua kebutuhan terpenuhi dengan cukup. Bahkan melimpah ruah. Yang ada, mereka berdua akan stress dan merasa tertekan.
Atasan Bulan tentu saja tahu apa yang diinginkan ketiga lelaki didepannya. "Tapi aku membutuhkan waktu. Kalian tahu sendiri. Siapa Bulan. Aku tidak ingin mati konyol." tukasnya beralasan.
Kenyataannya, dirinya sudah memberitahu Bulan apa yang terjadi. Beliau juga mengatakan pada Bulan, untuk berhati-hati, meskipun dengannya.
"Baiklah. Jangan terlalu lama." sahut lelaki berperut buncit, setelah meneguk beberapa teguk air di dalam gelas.
Mereka yakin, jika Bulan tahu sesuatu. Dsn mereka mencurigai, jika Bulan memegang bukti kejahatan mereka. Meski tidak semuanya.
"Bagaimana dengan kepala sekolah itu?" tanya atasan Bulan mengubah topik pembicaraan.
"Tenang saja. Semua mempunyai bagian. Seperti kamu yang harus mengurus Bulan. Dan dia, menjadi bagianku." tukasnya.
"Narendra?" tanya lelaki yang memakai setelan jas lengkap. Menanyakan kepastian tenteng Narendra yang sekarang sedang terbaring kritis di rumah sakit.
"Kita harus memantau keadaannya. Aku yakin, dia memegang video tersebut. Dan kita harus mencarinya."
"Bagaimana dengan teman Narendra. Bukankah dia orang kamu?"
"Dia begitu bodoh. Selalu berada di dekat Narendra, tapi tidak tahu apapun. Tidak berguna." serunya dengan nada kesal.
Yang dia katakan adalah lelaki yang selalu pergi bersama Narendra. Dimana sekarang dia menghilang entah kemana. Dan kemungkinan besar, lelaki muda tersebut telah meninggalkan dunia nyata ini untuk selamanya.
"Selidiki siapa saja yang dekat dengan Narendra. Kita harus mendapatkan rekaman video yang ada di tangannya. Jangan sampai video tersebut bocor ke publik." jelas lelaki yang berperut buncit.
"Pasti. Aku yang akan mengurus Narendra." sahut lelaki yang memakai setelan jas lengkap.
"Jika rekaman sudah berada di tangan. Kirim Narendra bersama papanya ke alam baka." timpal lelaki berperut buncit, seraya tertawa lepas.
"Pasti."
Mereka berempat membagi tugas masing-masing untuk menyingkirkan penghalang jalan mereka. Sedangkan lelaki yang memakai kacamata, dia membagikan bagian uang kepada beberapa orang yang juga terlibat dalam bisnis kotor ini, meski bagian mereka lebih banyak.
Mana mungkin, mereka hanya melakukannya bertiga. Otak licik mereka tentu saja terus bekerja. Yang pastinya mereka tidak akan mau menikmati uang itu hanya bertiga.
Yang artinya, bisnis mereka akan tetap aman. Karena melibatkan banyak orang dan banyak pihak. Sebab, jika sampai perbuatan kotor mereka terungkap. Bisa dipastikan, akan banyak orang yang akan terseret namanya.
Diperjalanan pulang, atasan Bulan meraba dadanya. Dirinya tersenyum samar. "Semoga, dengan ini Bulan bisa menemukan dimana keberadaan anak dan istriku." batinnya.
"Setelah itu, aku akan mengikuti permainan apa yang Bulan lakukan. Meski akhirnya aku akan masuk ke dalam penjara." batinnya.
Setelah kedua orang yang dia sayangi terjamin keamanannya, beliau tak perlu berpura-pura menjadi orang mereka perintah seenaknya lagi. Bahkan jika nyawa menjadi taruhannya, beliau sudah siap.
__ADS_1
Beliau sadar dengan semua yang dia lakukan. Jika inilah konsekuensi atas perbuatan kotornya yang selama ini dia lakukan. Beliau ikhlas.
"Maafkan papa,,, ma, putriku sayang. Papa berjanji, akan menebus kesalahan papa. Dan meninggal dengan terhormat. Tanpa merasa bersalah." batinnya, merasa penyesalan mendalam. Karena begitu mudah terbujuk rayuan rekannya. Hanya karena tergiur jumlah uang yang akan didapatkannya. Tanpa berpikir ke belakangnya.
Di tempat lain, kakek Timo juga sedang galau dan bingung. Perkataan Bulan dan Timo benar-benar tidak sama. "Nanti malam, dia akan ke rumah Rio. Dan membebaskan Rio." gumamnya.
Sejujurnya, sang kakek juga tidak percaya jika Rio yang asli masih hidup. Sebab, sang cucu mengatakan jika Rio dan papanya meninggal dalam kecelakaan.
Dan mama dari Rio mengalami depresi karena kepergian kedua orang yang disayangnya. Oleh karenanya, sebagai sahabat dari Rio, Timo memutuskan berpura-pura menjadi Rio. Demi menyembuhkan mama Rio. Begitu yang diceritakan Timo pada kakeknya.
"Atau jangan-jangan, Rio bukanlah sahabat Timo. Melainkan salah satu orang yang pernah menyakiti Timo." batin sang kakek menebak apa yang terjadi sebenarnya.
"Dan dokter. Timo mengatakan jika dia adalah dokter mesum. Apa semua yang dia ceritakan padaku adalah sebuah kebohongan." gumamnya, mengingat bagaimana penjelasan yang Bulan katakan padanya.
"Menyelidiki. Bagaimana caraku menyelidikinya." cicitnya, teringat permintaan Bulan. Jika sang kakek tidak percaya pada Bulan, maka sang kakek harus menyelidikinya sendiri.
Kenyataannya, sang kakek tidak bisa bergerak leluasa. Dirinya hanya busa berada di sekitar rumah. Bahkan untuk makan saja, Timolah yang menyediakan semua bahannya. Dan sang kakek tinggal mengolah apa yang Timo berikan padanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya sang kakek kembali.
"Dia mengatakan akan tetap melaporkan perbuatan Timo ke pihak berwajib. Itu artinya, cucuku akan dipenjara. Tidak. Jangan. Tidak boleh. Aku sudah berjanji pada kedua orang tuanya untuk merawat dan menjaganya." ujarnya mulai kebingungan dengan keputusan yang akan dia ambil.
"Apa aku harus memberitahu Timo. Jika nanti malam, Rio asli akan di bebaskan. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi."
Sang kakek yang kebingungan duduk di pojokan ruangan. Memandang ke arah meja. Dimana ada foto almarhum kedua orang tua Timo, serta Timo saat dia masih kecil.
"Monster. Monster hidup yang haus akan darah." sang kakek teringat perkataan Bulan, dan juga banyaknya foto yang diberikan serta diperlihatkan Bulan padanya.
Sang kakek menangis tersedu. Antara percaya dan tidak percaya. Jika Timo, cucunya menjadi predator yang sangat mematikan.
"Aku yang harusnya bertanggung jawab. Bukan Timo." sesalnya, tetap merasa jika semua berawal dari dirinya.
Kenyataannya, saat itu Timo sudah cukup dewasa untuk memutuskan sesuatu. Timo sudah cukup umur, membedakan mana yang baik, dan mana yang tidak baik yang bisa dia lakukan.
Dia bukan lagi anak kecil, yang harus dibimbing dan diberitahu akan suatu hal. Di lelaki muda gang sudah berumur sembilan belas tahun.
Di umur tersebutlah, Timo memulai aksinya. Menggunakan wajahnya sendiri. Meski wajah itu adalah sebuah topeng yang menyerupai dirinya. Namun tak ada cacat sedikitpun dalam topengnya.
"Rio. Jika Rio masih hidup, kenapa Timo malah menyekapnya. Berpura-pura menjadi Rio. Kenapa Timo melakukannya?" tanya sang kakek, mencoba menerka apa yang terjadi.
Sang kakek teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana dirinya menolong Bulan menyelamatkan dua gadis remaja. "Apa mereka berdua juga melakukan kesalahan pada Timo." cicitnya.
Sang kakek berdiri. Berjalan menuju ke jendela. Berdiam diri dan memandang ke arah luar. Dimana ada beberapa kendaraan yang lewat jalan di depan rumahnya.
Namun sayangnya, mereka tidak akan pernah mengira, jika di balik rerimbunan ilalang tersebut ada sebuah rumah tua yang bahkan hendak roboh.
Bulan masih berada di sekolah. Sebab jam sekolah belum selesai. Dirinya merasa bosan, karena pekerjaannya mengoreksi tugas anak didiknya telah selesai. Dan dia tidak ada jadwal mengajar lagi.
"Mau kemana bu?" tanya guru lain, yang juga dama seperti Bulan. Berada di dalam ruang guru.
"Jalan-jalan sebentar bu. Bosan." sahut Bulan.
"Memang sudah selesai?" tanyanya, yang memang beliau tahu jika Bulan sama seperti dirinya. Sedang mengoreksi tugas anak didik mereka.
Bulan menggeleng. "Belum. Lanjut nanti lagi bu." tukas Bulan. Karena setelah istirahat Bulan juga tidak memiliki jam mengajar lagi.
Bulan berjalan dengan santai dan tenang. Tujuannya adalah sekitar ruangan kepala sekolah. Sebab, Bulan mencurigai jika kepala sekolah terlibat dalam masalah yang dia selidiki.
Mengingat salah satu tempat berbahaya yang dia ledakkan ada di sekolah ini. Dan pastinya, kepala sekolah tahu akan hal tersebut.
Kedua mata Bulan bagai elang yang sedang mencari mangsa. Dirinya yakin, jika ada kamera tersembunyi yang ada di sekitar ruangan kepala sekolah, selain kamera CCTV yang memang dipasang dengan nyata, sehingga bisa dilihat oleh semua orang.
"Bersih." batin Bulan, saat dirinya melintasi depan ruangan kepala sekolah.
Bulan terus berjalan dengan santai. Samar-samar Bulan mendengar ada teriakan minta tolong. Dan langkah kaki Bulan mengarah kemana suara tersebut berasal. "Toilet cowok." cicit Bulan. Berhenti tepat di depan toilet murid khusus cowok.
Terdengar suara dari dalam, serta suara gedoran pintu. Bulan juga melihat ada sapu yang digunakan untuk mengunci pintu dari luar.
Bulan hanya menghela nafas. Tanpa dia tahu, jika lelaki yang tadi sempat menciumnyalah yang melakukan hal tersebut.
Bulan mengambil sapu tersebut, dan terbukalah pintu toilet. Bulan melihat ada dua murid lelaki yang berada di dalam. Dengan keadaan sedikit kacau.
"Apa yang terjadi?" tanya Bulan, melihat ada lebam di wajah mereka. Juga, seragam yang mereka pakai sangat kotor.
"Tidak ada apa-apa bu. Kamu hanya terkunci." jelas salah satu dari mereka. Dan tentu saja Bulan tahu, jika dia berbohong.
__ADS_1
Pasalnya ada sapu di depan pintu. Yang menandakan jika ada yang sengaja menguncinya dari luar. "Benar bu, benar. Kita terkunci." sahut temannya.
"Ya sudah, kalian boleh pergi." suruh Bulan.
"Terimakasih bu." ucap mereka bersamaan.
Bulan hanya melihat punggung kedua murid tersebut pergi menjauh darinya. Dilihatnya, ada kamera CCTV yang terpasang mengarah ke toilet siswa. Sehingga Bulan bisa memeriksanya dari sana, apa yang terjadi.
"Nanti saja." batin Bulan.
Bulan melihat ke arah pergelangan tangannya. "Masih lama." cicit Bulan. Kembali berjalan ke arah ruangan kepala sekolah. Sebelum bel tanda istirahat berbunyi.
"Bu Bulan." sapa pak Prapto yang bersimpangan dengan Bulan.
"Pak,,,, bapak mau ke mana?" tanya Bulan dengan ramah.
"Hanya berkeliling saja. Biasanya ada siswa yang suka bandel. Tidak masuk kelas, tapi malah nongkrong di tempat lain." jelasnya.
Bulan mengangguk, tapi sayangnya Bulan tak percaya. Ada sesuatu yang aneh yang Bulan lihat. Nampak sepatu pak Prapto terdapat sedikit cipratan lumpur.
Padahal, di area sekolah semuanya di tutup dengan keramik dan paping. Hanya menyisakan sedikit tanah di sekitar pohon yang tumbuh besar di sekeliling sekolah.
"Bu Bulan sendiri hendak kemana?" tanya kepala sekolah.
"Saya merasa jenuh pak, makanya saya berjalan-jalan." ujar Bulan.
"Baiklah. Silahkan lanjutkan." papar kepala sekolah dengan ramah.
Bulan tersenyum sempurna, melanjutkan langkah kakinya. Dan sekarang, Bulan berganti arah tujuan. Bukan lagi sekitar ruangan kepala sekolah.
Melainkan dimana tempat yang baru saja kepala sekolah kunjungi. Bulan mengikuti kotoran yang tertinggal di atas keramik yang ditinggalkan dari sepatu kepala sekolah.
Meski hanya sedikit, jangan remehkan kemampuan serta kejelian kedua mata Bulan. Tapi Bulan bukanlah pekerja amatir, yang terlihat jelas sedang mengikuti petunjuk di depan mata.
Kedua mata Bulan tetap menatap ke berbagai arah. Jika saja ada sesuatu yang tak sengaja dia temukan. Langkah kaki Bulan berhenti, dimana petunjuk tersebut juga menghilang.
Dimana, hanya ada tembok penghalang yang tinggi didepannya. "Jangan bilang, kepala sekolah meloncati pagar tembok ini." tebak Bulan menaikkan sebelah alisnya. Merasa mustahil.
Bulan menjadi penasaran. Dengan apa yang ada di balik tembok tinggi di depannya. Tak ingin ada yang memperhatikan, Bulan membelokkan langkahnya. Berjalan ke sembarang arah.
Bel istirahat sebentar lagi akan berbunyi. Bulan kembali ke ruang guru. Membuka laptop dan menyalakannya.
"Bu, tidak ke kantin?" tanya guru lain.
Bulan tersenyum. "Tidak bu, kebetulan setelah ini saya tidak ada jam mengajar." tukas Bulan, yang artinya dirinya bisa ke kantin meski bel masuk kelas berbunyi kembali.
"Baiklah, saya ke kantin dulu bu."
"Silahkan."
Menunggu keadaan sepi, Bulan menggerakkan jarinya di atas keyboard. Mencari tahu penyebab kedua murid lelaki yang terkunci di dalam toilet.
Sangat mudah untuk Bulan menemukan penyebabnya. Bulan tersenyum. "Jeno. Dasar." batinnya, segera menghapus semua bukti dimana Jeno lah yang melakukannya.
Bulan bisa menebak dari video, jika kedua murid tersebutlah yang terlebih dulu mencari masalah dengan Jeno.
Begitu bel istirahat berbunyi, Jevo langsung berhambur keluar kelas. "Jevo...! Elo mau kemana?!" seru Arya bertanya.
Karena tak mendapat jawaban, Arya dan Mikel segera bergegas menyusul Jevo yang berlari keluar kelas.
"Sial,,,, siapa yang mengeluarkan mereka?!" geram Jevo. Sebab dirinya yakin, jika dia yang pertama kali sampai di toilet.
"Gila, ternyata elo kebelet." ketus Mikel dengan nafas terengah, disusul Arya.
"Loh,,,, elo nggak jadi masuk?" tanya Mikel.
Jevo membalikkan badan, berjalan menjauhi toilet. "Ada yang mencari masalah dengan Jeno." jelas Jevo.
"Siapa?" tanya Arya.
Jevo menaikkan kedua pundaknya ke atas. "Jeno mengatakan sudah memberinya pelajaran. Dan mengurungnya di dalam." ungkap Jevo.
"Jadi sudah ada yang membebaskan." tebak Mikel, yang mendapat anggukan dari Jevo.
Di ruangannya, Bulan melihat apa yang terjadi di depan toilet. Sebab dia belum menutup laptopnya. Bulan tersenyum. "Kalian berdua, berterimakasihlah pada gue." lirih Bulan.
__ADS_1
Bulan yakin, keduanya akan lebih parah keadaannya. Jika ditemukan dulu oleh ketiganya. Dan pihak sekolah, mana berani menyentuh Jevo. Jika ternyata kedua murid tersebut yang membuat ulah pertama kali. Meski akhirnya yang babak belur mereka juga.