PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 38


__ADS_3

Rio melempar sebuah foto di atas meja. Seseorang lelaki tua menghentikan apa yang sedang dia kerjakan. Membersihkan telapak tangannya, lalu megambil foto tersebut.


Lelaki tua renta tersebut menghela nafas dengan berat. Seolah ada beban berat yang sedang dia pikul di atas pundaknya. "Timo, Hentikan." ujarnya dengan tatapan memohon pada lelaki yang berdiri di depannya dengan wajah palsu menutupi wajah aslinya yang mengerikan.


Dia melepas topeng kulit di wajahnya. Menampilkan wajahnya yang asli. "Jangan pernah memanggil ku dengan nama itu." tekannya dengan nada tidak suka.


"Timo... Dia sudah lama mati, dimakan cacing di dalam tanah!!" serunya.


Lelaki tua hanya bisa diam. Memandang iba ke arah sang cucu. "Lakukan saja seperti biasa. Jangan banyak bertanya." bentaknya tanpa rasa kasihan.


"Berapa banyak nyawa lagi yang akan kamu ambil?" tanyanya dengan nada suara bergetar, menahan tangis. "Apakah belum cukup, kamu mengorbankan mereka yang tidak bersalah?" lanjutnya dengan rasa sesak di dada.


"Tidak bersalah." ucapnya disertai tawa lepas yang mengerikan. "Siapa yang kamu katakan tidak bersalah. Mereka." ucapnya, dengan jari telunjuk menuding ke sembarang arah.


"Mereka semua bersalah. Para anak SMA itu, mereka hanyalah sekumpulan orang yang tidak berguna. Mereka tidak pantas berada di dunia ini..!!" serunya dengan kedua mata melotot, terlihat jelas amarah berkobar di kedua matanya. Amarah rasa dendam uang mendalam.


"Bukankah dia sudah kamu bunuh. Lantas kenapa mesti ada korban lain lagi?" tanyanya, memberanikan diri.


"Aku adalah utusan dari malaikat pencabut nyawa. Aku bekerja untuk mereka. Jadi, jadi banyak bertanya. Lakukan tugasmu, pak tua..!!" bentaknya lagi, dengan mengatakan sesuatu yang absurd.


Sang kakek hanya bisa menggeleng pelan. "Kenapa kamu menjadi seperti ini." ucapnya dalam hati.


"Lakukan saja tugasmu seperti biasa. Jangan banyak berkata yang tidak penting. Besok aku akan mengambilnya."


Dia kembali memakai topeng kulit di wajahnya. Menjadikannya sebagai Rio. Berjalan keluar rumah dengan tenang.


Sang kakek hanya bisa menangis sedih. "Kenapa semua jadi seperti ini. Kenapa." cicitnya dengan air mata yang telah jatuh di pipi.


Dia memandang ke arah foto di tangannya. "Siapa lagi dia?" tanyanya dalam hati. Dan dapat dipastikan, dia adalah korban Timo selanjutnya.


Hatinya terasa di remas. Sang kakek menyalahkan dirinya sendiri yang tidak becus menjaga sang cucu. "Ingin sekali aku meninggalkan dunia ini." cicitnya, merasa tidak berguna.


Sang cucu melakukan kejahatan di depan matanya. Dan dia mengetahui semuanya. Tapi dia hanya diam. Dan tak berani bertindak atau melaporkannya pada pihak yang berwajib.


"Semua ini salahku." ujarnya lagi untuk yang kesekian kali. Seandainya dirinya tidak memberikan topeng pada sang cucu, dirinya yakin. Jika sang cucu tidak akan mempunyai pikiran sekejam ini.


Tapi nasi sudah menjadi bubur. Awalnya, dirinya membuatkan topeng untuk sang cucu dengan niat agar sang cucu tidak lagi di cemooh dan di ejek karena wajahnya yang cacat dan jelek, dan terlihat mengerikan.


Tapi siapa sangka, keahliannya membuat dirinya malah dimanfaatkan oleh sang cucu untuk membalas dendam pada orang yang selalu menghina wajahnya.


Bahkan setelah orang tersebut telah tiada. Rasa ingin melenyapkan nyawa orang lain tetap ada di dalam diri sang cucu. Entah, apa penyebabnya.


Sementara dirinya tidak punya kekuatan dan kemampuan untuk menolak permintaan sang cucu. Serta menghentikan kegilaannya. Sebab pada awalnya, dia juga tidak tahu, jika sang cucu menggunakannya untuk hal jahat.


Tapi lagi-lagi, meski dirinya tahu. Dia tetap mengabulkan keinginan sang cucu untuk membuatkan topeng wajah.


Dan semua dia lakukan dengan dasar rasa sayangnya yang besar untuk sang cucu. Tapi siapa yang akan mengira. Jika semuanya akan menjadi seperti ini. Sama sekali tidak terkendali.


Rio masuk ke dalam mobil miliknya. "Jika saja gue tidak membutuhkannya. Pasti sekarang dia hanya tinggal nama." ujarnya dengan ekspresi wajah kejamnya.


Dengan enteng mengatakan hal tersebut tanpa berpikir panjang. Padahal lelaki tua tersebut adalah kakeknya. Kakek kandungnya dari almarhum ibu, yang telah merawatnya sejak dirinya masih kecil.


"Jika saja gue nggak terlahir dari kelurga mereka. Pasti gue juga nggak akan menjadi seperti ini." tukasnya menyalahkan takdir pada hidupnya, dan menyalahkan orang lain.


Di dalam kamarnya, Bulan tersenyum dengan senang. Dirinya sekarang mengetahui ke mana mereka membawa putra dari mbok Yem. "Tempat itu memang sangat aman dijadikan tempat persembunyian." tutur Bulan, menutup laptopnya.


Segera Bulan membaringkan badannya dan memejamkan kedua matanya. Tapi baru beberapa saat dia tertidur, Bulan bangun dengan wajah pucat dan keringat sebesar biji jagung di dahinya.


Nafas Bulan tersengal, seperti baru saja melakukan olah raga yang berat. "Ayah, ibu, Bintang."


Bulan turun dari ranjangnya. Mengambil segelas air yang tersedia di atas nakas, lalu meminumnya hingga tandas.


Bulan meringis, merasakan ngilu di bagian lengannya. Tepatnya di bagian tangannya yang terluka.


"Apa yang mereka cari. Rekaman. Misi yang menewaskan ketika teman gue." Bulan mencoba menerka apa yang mereka cari.


Tapi saat mencoba mencari tahu, pikiran Bulan tiba-tiba teringat akan mimpinya barusan. Dimana ada wajah keluarganya di dalam mimpi tersebut. Membuat Bulan sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.


Bulan duduk di atas ranjang dengan posisi bersila. Memejamkan kedua matanya. Mencoba untuk kembali mengatur emosinya yang tidak menentu.


"Lebih baik gue berpikir positif saja." gumam Bulan. Tapi tidak semudah yang Bulan katakan.


"Aisshh.... sebaiknya gue menemui ayah dan ibu dulu." ujar Bulan memutuskan.


Keesokan paginya, Bulan bersikap seperti biasa. Bulan tersenyum samar, melihat mbok Yem beberapa kali melirik ke arahnya. Dan juga melirik ke pintu kamar tidur Bulan.


"Mbok,,, kenapa masakan mbok pagi ini terasa aneh?" tanya Bulan mengerutkan keningnya.


Bukan basa-basi. Karena memang, rasa masakan mbok Yem terasa aneh di lidah Bulan. Dengan sedikit bergidik, Bulan menyisihkan piringnya dan segera minum air putih.

__ADS_1


Segera mbok Yem menghampiri Bulan di meja makan. "Benarkah Non, memang kenapa dengan masakan saya?" tanya mbok Yem.


Bulan sedikit menggeser sayur yang berada di sebuah wadah. "Coba saja." tukas Bulan dengan nada malas.


Bulan bisa menebak, kenapa mbok Yem sama sekali tidak fokus saat memasak. Pastinya kepikiran dengan sang putra. Yang sampai detik ini tak memberi kabar padanya.


Mbok Yem menutup mulutnya sendiri dengan ekspresi aneh setelah mencoba mencicipi sayur buatannya. "Kok rasanya seperti ini." cicit mbok Yem.


"Mana Bulan tahu. Kan yang masak mbok. Memang tidak mbok Yem cicipi dulu." ujar Bulan sembari bertanya. Mana tidak ada sayur atau makanan lain lagi selain sayur tersebut dan nasi.


"Kenapa sih mbok. Kalau mbok sakit, bilang. Jangan dipaksakan." ucap Bulan, dengan aktingnya yang sempurna. Padahal dirinya tahu semua penyebabnya.


"Maaf Non, biar mbok buatkan sayur atau lauk yang baru." tawar mbok Yem.


"Tidak perlu. Jika ada lauknya, pasti saya bisa sarapan." seru Bulan menghentikan langkah mbok Yem. "Saya sarapan di luar saja."


"Sekali lagi, maaf Non."


Bulan berdiri, dan mengambil tasnya. "Jika mbok punya masalah pribadi. Selesaikan dulu. Jangan dibawa ke pekerjaan. Jadi berantakan semua kan." tegur Bulan.


"Maaf Non." ujar mbok Yem. Yang memang sejak semalam tidak bisa konsentrasi. Bahkan, dia tidur saat menjelang subuh. Karena terus kepikiran sang putra.


Saat memasak, mbok Yem juga banyak melamun. Hingga dirinya tak sadar, bumbu apa saja yang dia masukkan ke dalam masakannya. Bahkan, dia juga tidak membuat lauk untuk Bulan. Hanya sayur dan nasi.


Bulan memesan taksi online. Karena mobil satu-satunya masih dibawa oleh Jeno. Bulan tidak mungkin membawa motor. Bukannya tidak boleh atau tidak mau. Melainkan lengannya masih terasa sakit saat dipakai untuk menyetir motor.


Dari pada semakin parah. Atau malah terjadi hal yang tidak diinginkan, Bulan memilih untuk memesan taksi online, yang lebih aman


Segera mbok Yem masuk ke dalam kamar Bulan, setelah memastikan jika Bulan benar-benar pergi dari rumah.


Kosong dan rapi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda jika semalam terjadi perkelahian atau terjadi pertarungan antara sang putra dan Bulan.


Mbok Yem meneliti setiap sudut. Tapi nihil. Dia sama sekali tidak menemukan apapun. "Apa semalam dia tidak jadi melakukan rencananya." gumam mbok Yem.


Mbok Yem masuk ke kamar mandi. Lagi-lagi, keadaan kamar mandi yang seperti biasa. Sama sekali tidak ada yang aneh.


"Tapi kenapa panggilan teleponku tidak diangkat." lanjutnya, merasa cemas dan khawatir.


Mbok Yem membuka semua gorden jendela kamar Bulan. Siapa tahu dia menemukan sesuatu di balik gorden. Tetap saja, hasilnya nihil.


Segera mbok Yem keluar dari kamar Bulan. Sekarang dirinya kebingungan. "Apa yang harus aku lakukan?"


"Kemana kamu nak." cicit mbok Yem, tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya akan keselamatan sang putra.


Mbok Yem menyimpulkan. Sikap Bulan yang seperti biasa, menunjukkan jika Bulan belum mengetahui apapun mengenai dirinya yang menyamar. "Jika Non Bulan tahu, pasti sekarang aku tidak bisa berdiri di sini."


"Semalam juga tidak terdengar suara apapun." lirih mbok Yem.


Segera mbok Yem menyelesaikan pekerjaan rumah. Dan bergegas pergi mencari sang putra. Entah bagaimana caranya mbok Yem mencari keberadaan sang putra.


Sedangkan Bulan tampak tersenyum senang melihat tingkah mbok Yem melalui kamera CCTV yang terhubung dengan ponsel miliknya. "Sebaiknya kamu tidak perlu mencari putra tersayangmu. Pasti sekarang dia sudah tidak bernyawa." batin Bulan menebak apa yang terjadi pada putra mbok Yem.


Bulan menyimpan kembali ponslnya. Dirinya kembali mengingat pertarungannya semalam. "Dia memiliki skill dan pertahanan yang bagus. Dia bukan orang sembarangan." batin Bulan, memuji cara bertarung musuh.


"Aku harus lebih berhati-hati. Dan mengingatkan Gara." ucapnya dalam hati.


Jeno melotot tak percaya, melihat siapa yang keluar dari taksi online di depan sekolah. "Apa lengannya sudah sembuh." gumam Jeno.


Beberapa murid menyapa Bulan saat Bulan berjalan. "Hay bu, apa kabar?" sapa Jevo yang tiba-tiba berada di samping Bulan. Berjalan beriringan dengan Bulan.


"Baik."


"Jutek banget bu, nanti cantiknya ilang loh." goda Jevo.


Dari arah lain. Jeno berdecak kesal melihat tingkah saudara kembarnya. Juga dengan Claudia yang melihat sang kekasih menggoda perempuan lain. Meski itu adalah Bulan.


"Bulan. Guru kegatelan." umpatnya menatap tajam ke arah Bulan dan Jevo yang berjalan beriringan.


Tasya tahu kemana arah pandangan Claudia. "Ayo masuk." ajaknya.


Claudia menatap kesal ke arah Tasya. Menghentakkan kedua kakinya ke atas lantai. Membalikkan badan dan menuju ke kelasnya.


"Kalau gue jadi Jevo, pasti memilih bu Bulan dari pada Claudia. Meski umur bu Bulan di atas Jevo." lirih Tasya.


Tasya juga tahu bagaimana perilaku dan keseharian dari Claudia. Namun dia enggan untuk ikut campur. Apalagi Tasya tahu, bagaimana sifat dari Claudia yang tempramen.


Dirinya lebih memilih untuk bersikap cuek. Dan masa bodo dengan semua kelakuan Claudia. "Astaga." Tasya terkejut saat dirinya membalikkan badan. Dan tepat di belakangnya ada Mikel.


"Elo,,, bikin gue kaget, bocah sialan...!" bentak Claudia.

__ADS_1


Mikel tersenyum samar. "Bocah.. Gue sudah bisa bikin bocah di dalam perut kamu kakak kelas. Mau bukti?" goda Mikel dengan mengedipkan sebelah matanya.


Arya hanya terkekeh pelan melihat Mikel menggoda Tasya. "Gila." sungut Tasya lebih memilih meninggalkan kedua sahabat Jevo tersebut.


Beberapa langkah, Tasya berhenti. Membalikkan badannya untuk kembali menatap Mikel dan Arya. "Apa mereka tadi dengar, gue mengatakan sesuatu?" batinnya.


"Bodo. Emang gue pikirin." Tasya melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kelasnya.


Meski berteman dengan Claudia. Tapi Tasya sama sekali tidak memiliki pergaulan bebas seperti Claudia. Tasya masih sangat menjaga dirinya dan kehormatannya. Meski beberapa kali dia menjalin kasih dengan lawan jenis.


Tasya hanya khawatir jika apa yang dikatakan barusan didengar Mikel dan Arya. Lalu mereka akan mengadu pada Claudia. Pasti Claudia akan membuat masalah dengan dirinya.


Dan itulah yang sangat dihindari Tasya. Dirinya sadar, jika kedua orang tua Claudia bisa mengeluarkan dirinya dari sekolah dengan mudah.


Tentu saja Claudia tidak ingin dikeluarkan dari sekolah. Apalagi dirinya sekarang sudah kelas tiga. Dan sebenar lagi dia akana mengikuti ujian akhir sekolah.


"Elo dengar apa yang dikatakan Tasya?" tanya Mikel.


Arya mengangguk. "Gue kira dia solmate sama Claudia." lanjut Mikel disertai kekehan pelan.


"Gue pikir sih iya." timpal Arya.


Ternyata bukan hanya Claudia dan Jeno yang memperhatikan Jevo. Seorang murid perempuan juga begitu memperhatikan tingkah Jevo.


"Astaga, benar-benar tidak tahu aturan." omel Moza melihat Jevo menggoda Bulan. "Jika gue jadi bu Bulan, gue jadikan prekedel tuh bocah." lanjutnya.


Meski begitu, pandangan Moza tetap mengarah pada Jevo. "Memang tampan sih." gumam Moza.


"Ehh..." Moza terkejut dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Lagi-lagi hati kecilnya memuja dan memuji paras dari Jevo.


"Apa sih." kilah Moza, segera meninggalkan tempatnya berdiri.


"Bu Bulan...!!" panggil seorang guru pengajar di sekolah ini. Membuat langkah kaki Bulan dan Jevo terhenti.


"Pagi bu." sapanya saat sudah berada dekat dengan Bulan.


"Pagi pak Hendri." balas Bulan menyapa dengan ramah.


Jevo melengos, membuang wajahnya mendengar apa yang di ucapkan oleh Bulan. "Sama gue cuek. Giliran sama lelaki lain, ramahnya minta ampun." ucap Jevo kesal, yang tanpa dia sadari, Bulan melanjutkan langkah kakinya bersama dengan pak Hendri.


"Loh,,, gue ditinggal." gerutu Jevo, melihat Bulan berbincang dengan pak Hendri sambil berjalan.


Jevo hanya menggerutu sembari berjalan menuju ke arah Mikel dan Arya. "Elo memang gila Jev,,, bisa-bisanya jalan bareng bu Bulan dengan santai." ujar Mikel.


"Memang kenapa. Gue muridnya, dan dia guru kita. Ada yang salah." sanggah Jevo.


"Dasar, asal jangan di masukkan ke dalam hati." lanjut Mikel, dengan pandangan ke arah lain.


Jevo mengikuti kemana arah pandangan Mikel. Ternyata Mikel menatap punggung Jeno yang menjauh dari mereka.


Jevo tersenyum samar. "Berati Jeno tadi melihat gue menggoda Bulan." ucap Jevo dalam hati.


Jam pertama dan kedua Bulan tidak ada kelas. Sehingga dia bisa bersantai. Bulan menggunakan kesempatan ini untuk kembali berkeliling sekolah.


Langkah kakinya terhenti saat melihat seorang guru sedang berbicara dengan seorang petugas keamanan. "Dia."


Bulan masih mengingat dengan jelas. Dia adalah petugas keamanan yang ditembak kakinya. "Ternyata sudah sehat, dan kembali bekerja." ucap Bulan.


Bulan melangkahkan kakinya dengan santai dan tenang ke arah mereka. "Bu Bulan, mau ke mana?" tanya seorang guru lelaki yang sedang berbincang dengan petugas keamanan.


Bulan tersenyum ramah. Memperlihatkan sisi anggunnya. "Jalan-jalan pak. Kebetulan jam kosong. Suntuk di dalam ruangan terus." ucap Bulan beralasan.


"Sendirian?" tanyanya lagi.


Bulan tertawa pelan, menunjukkan betapa cantik dirinya saat tertawa. Membuat dua lelaki didepannya tersenyum melihat tawa Bulan. "Bapak kalau bertanya yang pasti dong. Memang saya jalan sama siapa?" cicit Bulan.


Guru tersebut tersenyum canggung. "Iya..ya." ujarnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh iya,,, memang ada apa?" tanya Bulan.


"Tidak ada apa-apa bu, kebetulan saya sedang berkeliling. Dan bertemu dengan beliau." ucap petugas keamanan.


"Ya sudah kalau begitu. Saya mau lanjut keliling. Siapa tahu bisa sampai perpustakaan." canda Bulan.


"Bu Bulan bisa saja." timpal sang guru.


Bulan tersenyum samar. "Tidak sengaja bertemu. Benarkah." ucap Bulan dalam hati.


Kedua lelaki yang di sapa Bulan tadi juga pergi ke arah berbeda. "Gara, kelihatannya kita akan mempunyai semakin banyak nara sumber." batin Bulan.

__ADS_1


__ADS_2