
Mikel mengajak Sapna untuk keluar dari tempat perbelanjaan, setelah Sapna mengatakan sudah cukup. Tak ada yang dia akan beki lagi.
Di dalam mobil, Mikel menghubungi Arya. Mengatakan jika mereka berdua akan pergi ke apartemen.
"Apa mereka masih membuntuti kita?" tanya Sapna di dalam mobil, dengan kedua mata melihat keluar mobil. Mencari empat orang yang mengikuti mereka sedari tadi.
"Sudah tidak." sahut Mikel yakin.
Sapna hanya mengangguk. Memang dirinya tidak melihat empat lelaki tersebut. Tapi dia hanya takut, juka ternyata mereka bersembunyi di tempat yang tidak terlihat oleh Sapna.
"Mau mampir kemana? Atau membeli apa lagi?" tanya Mikel.
Sapna menatap kursi di belakangnya. Beberapa paper bag berisi gaun sederhana dan pakaian untuk dirinya dan sang mama ada di dalamnya. "Sudah, cukup. Itu saja." ujar Sapna.
Selama tinggal di rumah pak Darto, Sapna dan Nyonya Irawan dibelikan beberapa pasang pakaian oleh istri daei pak Darto.
Semua dikarenakan baik Sapna maupun Nyonya Irawan tidak berani keluar dari rumah. Dan sekarang, mumpung dirinya keluar bersama dengan Mikel, Sapna menggunakan waktu tersebut untuk membeli pakaian untuk mereka berdua.
Meski Bulan mengatakan jika mereka akan segera kembali ke rumah mereka, dan meninggalkan kediaman pak Darto, namun Sapna belum tahu kapan itu akan terjadi. Dalam waktu dekat ini, atau masih lama.
"Kita ke mana?" tanya Sapna.
"Ke apartemen gue."
Sapna mengedipkan kelopak matanya dengan lucu sembari memandang Mikel. Sedangkan Mikel hanya tersenyum, mengetahui Sapna menatapnya dengan lucu.
"Di sana ada bu Bulan, dan yang lainnya juga." jelas Mikel, tahu apa yang ada di dalam benak Sapna.
"Ooo.... Kita beli makanan dulu kalau begitu." pinta Sapna.
Mikel masih ingat, jika makanan yang dia beli bersama dengan Arya bahkan masih tersisa dangat banyak. "Tidak perlu. Tadi gue dan Arya sudah membeli makanan. Masih utuh." tolak Mikel seraya memberi alasan.
"Oke." sahut Sapna pendek.
Di apartemen, Gara mendorong kursi rodanya keluar kamar. Mendengar tawa dari Bulan. Meninggalkan laptopnya yang menyala di dalam. "Ada apa?" tanya Gara, begitu melihat sosok Bulan yang duduk di kursi dengan sisa tawanya.
Bulan tak segera menjawab pertanyaan Gara. Dirinya meredam terlebih dahulu tawanya. Belum sempat Bulan mengeluarkan suaranya, Jeno menyusul Bulan keluar dari kamar dengan wajah ditekuk.
Gara melihat ke arah keduanya secara bergantian. "Kalian berdua kenapa sih. Aneh." cicit Gara merasa baik Jeno maupun Bulan bersikap aneh.
Bulan mengambil sebotol minuman dingin, membukanya dan meminumnya beberapa teguk. Hanya beberapa detik, Jeno duduk di kursi sebelah Bulan, tangannya langung beraksi. Menyerobot minuman di tangan Bulan, dan meminumnya.
Bulan hanya bisa melotot ke arah sang kekasih yang seenaknya sendiri. "Kamu tuh..!! Ambil sendiri...!!" tegur Bulan, karena di meja depan mereka masih banyak minuman kaleng.
"Nggak mau. Enak bekas bibir kamu. Manis." Jeno mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.
Bulan hanya bisa menahan rasa kesalnya karena malu. Bagaimana tidak malu, di dekat mereka ada Gara yang sedang memperhatikan tingkah keduanya.
Bukannya menjauh karena tatapan horor dari Bulan, Jeno malah menggeser duduknya hingga mepet pada Bulan. "Jeno...!! Agak sana ih...!!" dengus Bulan mendorong tubuh Jeno untuk menjauh darinya.
Jeno menggeleng. "Kalau ada kamu tuh,,, aku pengennya nempel terus. Kamu tahu nggak,,,, di tubuh kamu itu kayak ada lemnya. Jadi aku pengen nempel terus." goda Jeno tersenyum, membuatnya semakin tampan.
Bulan mencubit gemas lengan Jeno. "Sakit sayang...." rengek Jeno menatap manja pada Bulan, sambil mengusap lengannya yang baru saja dicubit Bulan.
Bulan hanya bisa menahan senyum malunya, dengan menggelembungkan kedua pipinya. "Jeno... Jangan dekat-dekat." usir Bulan, merasa canggung karena ada Gara.
Gara hanya bisa mendesah. "Tahu gini gue nggak bakal keluar dari kamar." sungut Gara kesal.
"Mau kemana?" tanya Bulan, melihat Gara mendorong kursi rodanya.
"Di sini panas. Mau ngadem dulu...!" ujar Gara dengan jutek.
Cup.... Jeno malah mencium singkat pipi Bulan. "Kamu sih.... Lihat, Gara jadi pergikan." ucap Bulan.
"Biarkan saja. Lagi pula kasihan, jika dia tetap berada di sini." celetuk Jeno yang masih bisa di dengan Gara.
Bulan memukul pelan paha Jeno. Yang hanya ditanggapi senyum sempurna dari Jeno. "Gue dengar....!!" seru Gara. Membuat Bulan dan Jeno tertawa pelan.
"Menyebalkan...!!" gerutu Gara.
Namun kursi roda Gara terhenti saat mendengar suara pintu depan terbuka. Gara kembali memutar kursi rodanya ke arah Jeno dan Bulan.
"Siapa?" tanya Gara, yang tidak mendapat jawaban dari keduanya.
Jeno dan Bulan, termasuk Gara menatap ke arah datangnya suara langkah kaki. "Bulan...!!" seru Sapna, berlari dan langsung menggeser tempat duduk Jeno.
"Aku kangen." cicit Sapna memeluk Bulan.
"Cckk,,,, pengganggu." gerutu Jeno yang harus merelakan meninggalkan tempat duduknya, karena di tempati Sapna.
"Ngapain elo ajak dia ke sini?" tanya Jeno pada Mikel dengan nada ketus.
Belum sempat Mikel menjawab, Gara terlebih dahulu menyahuti pertanyaan Jeno. "Dan gue mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, karena elo membawa Sapna ke sini."
Jeno melirik kesal ke arah Gara yang sedang tersenyum senang menatapnya. "Kalian sungguh tidka punya hati nurani." dengus Jeno.
Mikel hanya tersenyum dan menggeleng mendengar perdebatan kecil mereka berdua. Bisa Mikel tebak, jika Gara menjadi nyamuk. Akibat Jeno dan Bulan yang mengumbar kemesraan di depan Gara.
__ADS_1
Sapna mengurai pelukannya. Memegang rambut palsu Bulan. "Maaf.... Nggak panas kan? Kamu nyaman?" tanya Sapna dengan rasa bersalah yang masih ada dalam dirinya.
Bulan mengelus rambut Sapna sebentar. "Santai. Jeno yang membelikan. Tapi sangat nyaman. Bahkan gue nggak merasa sedang memakai rambut palsu." tukas Bulan memegang rambut palsunya.
"Benar?" tanya Sapna, takut Bulan berbohong.
"Serius. Jangan khawatir." ujar Bulan. Yang mendapat anggukan dari Sapna.
"Tapi kamu cantik loh,,, berpenampilan seperti ini. Sederhana. Tapi tetap anggun dan cantik." ujar Sapna.
Lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Bulan. "Dan seksi." bisiknya.
Bulan tersenyum malu. "Semua Jeno yang membelikan. Gue tinggal pakai." ujar Bulan jujur.
Sapna langsung mengarahkan pandangan ke tempat Jeno yang sedang tersenyum bangga. "Gue juga yang memilihkan **********." celetuk Jeno membuat susana hening.
Senyum Bulan juga langsung lenyap entah kemana. Dan Sapna, langsung mengambil minuman kaleng di depannya untuk dia minum.
Bulan mengambil bantal kursi, melemparkannya tepat ke arah Jeno. "Sayang,,, aku kan bicara jujur. Aku cuma mau mengatakan. Betapa aku sangat menyayangi kamu dan memperhatikan kamu." sahut Jeno mencari alasan.
Bulan mengeratkan rahangnya. Dengan meremas telapak tangannya sendiri. Sedangkan Jeno hanya nyengir kuda. "Iya maaf...." cicit Jeno mengedipkan kedua matanya layaknya seekor anak kucing.
Bulan memutar kedua matanya dengan malas. "Mulut Jeno,,,, memang perlu disekolahkan." gerutu Bulan dalam hati. Bisa-bisanya Jeno mengatakannya sedetail itu. Membuat Bulan malu saja.
"Pasti mereka berpikir,,, gue dan Jeno...." batin Bulan memikirkan apa yang ada di benak mereka, tentang sejauh mana hubungannya dengan Jeno.
"Arya mana?" tanya Gara, mengalihkan topik pembicaraan. Apalagi suasana tampak sangat canggung gara-gara omongan Jeno.
"Masih di jalan." sahut Mikel seraya menyodorkan makanan ringan ke arah Sapna.
Sapna segera mengambil camilan tersebut dari tangan Mikel. "Mau?" tawar Sapna pada Bulan.
"Jevo mana?" tanya Mikel yang tidal melihat sosok Jevo.
"Pergi ke rumah Claudia." jawab Jeno.
Mikel tersenyum samar. Menyenderkan punggungnya di kursi. "Gue penasaran. Bagaimana Jevo melakukan tugasnya." cicit Mikel.
Semua tahu bagaimana agresifnya Claudia jika berurusan dengan Jevo. "Jangan sampai, Jevo yang terperangkap dengan kenikmatan yang diberikan Claudia. Hingga dia lupa dengan tujuannya." tukas Mikel tertawa ringan.
"Pasti Jevo busa melakukannya. Gue tahu, dia bisa membedakan mana pekerjaan. Mana urusan pribadi." sahut Jeno.
Mereka berempat berbincang ringan, sambil menunggu kedatangan Arya yang seharusnya sudah datang.
Meski pada beberapa kesempatan, Jeno selalu menggerutu pada Sapna. Untuk bertukar posisi duduk dengannya. Sebab tak mungkin Jeno duduk di sebelah kirinya Bulan. Karena Bulan duduk di kursi paling ujung, dan di sana adalah tembok.
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Tuan Zain. Jevo dan Claudia masih berada di kamar Claudia. "Apa kamu tidak kangen aku manjakan?" tutur Claudia menggoda Jevo.
Claudia duduk di atas pangkuan Jevo, melingkarkan tangannya di leher Jevo. Menatap intens ke arah wajah Jevo yang tampan dan dia gilai.
"Sial,,, apa yang harus gue lakukan? Jangan sampai gue malah terlena dengan rayuan Claudia." batin Jevo yang memang lemah dengan perkara memanjakan belalainya.
"Yang ada gue malah ketiduran di sini karena rasa nikmat." lanjut Jevo dalam hati.
Krukk.... Tersenyum perut Jevo bersuara. Jevo meringis. "Kamu lapar?" tanya Claudia.
Jevo mengangguk. "Bukankah jam makan siang baru saja lewat. Apalagi tadi pagi gue juga nggak sarapan." jelas Jevo.
Claudia menyingkir dari pangkuan Jevo. "Astaga sayang, kamu kok nggak ngomong." tukas Claudia.
"Sorry, gue nggak enak saja."
"Ya sudah, kita keluar saja. Cari makan." ajak Claudia.
"Gue malas. Makan di sini saja." tolak Jevo.
Mana mungkin Jevo mau diajak keluar dari rumah. Apalagi dirinya sudah berhasil satu langkah. Mematikan kamera CCTV di rumah Tuan Zain.
Claudia termangu. "Di sini. Di rumah,,, emmm..... Maksudnya di meja makan, atau di kamar saja?" tanya Claudia menginginkan kejelasan.
"Di kamar saja. Sumpah gue malas banget kali ini. Tapi elo yang masak." jelas Jevo dan juga meminta sesuatu pada Claudia.
"Hah....!! Aku yang masak?!" seru Claudia terkejut, tapi tertawa ringan yang penuh paksa.
Jevo mengangguk dan tersenyum manis. "Iya,,, seperti mama. Dia juga selalu memasak untuk papa." tukas Jevo.
Claudia tersenyum sempurna. "Gue memasak. Masuk dapur saja gue nggak pernah." batin Claudia.
Tapi Claudia merasa inilah saatnya membuktikan pada Jevo, jika dia bukan perempuan yang hanya bisa memuaskan belalai Jevo dengan tangan dan mulutnya.
Tapi juga bisa memuaskan perut Jevo dengan makanan yang enak. Yang pastinya Jevo akan suka. "Kenapa? Elo nggak bisa masak?"
"Bisa....!! Masa aku nggak bisa masak. Tentu saja bisa." tukas Claudia.
"Oke. Gue tunggu di sini ya." Jevo menepuk ranjang empuk yang dia duduki. "Gue mau tidur sebentar saja. Jika sudah matang, dan siap santap, elo bangunin gue." pinta Jevo.
"Memang kami mau dimasakan apa?" tanya Claudia, berpura-pura bisa masak.
__ADS_1
"Apa saja. Asal kamu yang masak. Selama ini, gue kok nggak pernah merasakan masakan kamu." sahut Jevo.
Jevo melepas sepatunya, membaringkan badannya di atas ranjang. Menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Bahkan kepalanya juga tidak terlihat.
Claudia menatap ke arah ranjang dengan menghela nafas panjang. "Hah..... Seharusnya gue juga ada di sana. Di bawah selimut bersama Jevo. Merasakan kehangatan tubuh Jevo. Ckk,,,, tapi mau bagaimana lagi, Jevo minta gue masak." batin Claudia resah.
Claudia menghentakkan kakinya beberapa kali ke lantai dengan pelan. "Sudah Claudia,,,, kali ini, waktunya elo mendapatkan Jevo dengan makanan enak. Siapa tahu, setelah Jevo makan makanan enak yang elo masak, dia akan bercerita pada tante Rindi. Betapa hebatnya tangan gue ini. Dengan begitu, Nyonya Rindi dan Tuan David akan menyukai gue." batin Claudia.
Dengan langkah berat, Claudia meninggalkan Jevo yang tidur di dalam kamarnya. Menuju ke dapur. Segera Jevo menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Jevo membuka sedikit pintu kamar Claudia. Mengintip, apakah Claudia sudah turun ke lantai bawah. Setelah memastikan Claudia benar-benar turun ke lantai bawah, Jevo menatap dua buah guling di atas ranjang. Menutupi guling tersebut, sehingga terlihat seperti dirinya yang berada di dalam selimut tersebut.
Tak membuang waktu. Jevo keluar dari kamar Claudia. Untuk menuju ke ruang kerja Tuan Zain. Beruntung, ruangan kerja Tuan Zain juga berada di lantai yang sama dengan kamar Claudia.
Sehingga Jevo segera sampai ke tempat yang dia tuju. Jevo masuk ke ruang kerja Tuan Zain. Mencari sesuatu di ruangan tersebut dengan jeli dan hati-hati.
Tentunya Jevo tidak ingin ada barang yang berantakan. Jevo mengembalikan barang ke tempatnya dengan rapi.
Beberapa kali, Jevo melihat ke arah jam yang tertempel di dinding. Jevo hanya ingin memastikan, dirinya sudah berada di dalam kamar kembali saat Claudia kembali masuk ke kamar.
"Sial....! Semua hanya file pekerjaan yang tidka penting." gerutu Jevo, melihat keseluruhan lembar-lembar kertas yang ada di ruang kerja Tuan Zain.
Laptop. Segera Jevo membukanya. Jevo tersenyum samar. "Dewa keberuntungan sedang ada di tangan gue." cicit Jevo, sebab laptop Tuan Zain tidak memakai kata sandi.
Meski tidak ahli di perangkat lunak, namun setidaknya Jevo bukanlah lelaki yang dama sekali tidak mempunyai pengetahuan di bidang tersebut.
Satu-persatu file Jevo buka. Jevo menemukan beberapa file yang menggunakan kalimat yang aneh. "Apa ini." cicit Jevo yang tidak tahu artinya.
Jevo mencoba memahami kalimat-kalimat aneh di gile tersebut, tapi Jevo merasa handel pintu bergerak dari luar. Segera Jevo menutup laptop Tuan Zain. Dan bersembunyi di bawah meja kerja Tuan Zain.
Indera pendengaran Jevo menangkap langkah kaki gang semakin dekat dengan dirinya. "Sial...!! Siapa yang masuk." batin Jevo dengan jantung berdebar tak karuan.
"Ini dia. Kenapa Tuan harua melupakan laptopnya." keluh seseorang dengan suara perempuan. Mengambil laptop Tuan Zain.
"Sepertinya,,, suara itu,,, gue kenal dengan suara itu.... Tasya." batin Jevo, sekali gue menebak siapa yang masuk ke ruangan kerja Tuan Zain dan mengganggu dirinya.
Terdengar pintu tertutup. Segera Jevo keluar dari tempatnya bersembunyi. "Gawat. Gue belum sempat mengeluarkannya tadi." cemas Jevo.
Tak bisa berpikir lagi, Jevo kembali ke kamar Claudia. Memilih untuk menghubungi Gara. Dan mengatakan semuanya.
Sementara di lantai bawah, Claudia duduk bersantai di kursi yang ada di dapur. Memainkan ponsel di saat dirinya menunggu makanan yang dia pesan datang.
Memasak. Mana mungkin Claudia mau. Claudia memutuskan memesan makanan. Dan mengatakan pada Jevo jika dirinyalah yang memasak makanan tersebut.
Hampir lima belas menit, makanan yang Claudia pesan datang. "Hheeeeemmm.... Pasti enak." cicit Claudia menghirup wangi makanan di depannya.
"Taruh di piring. Ingat...!! Jika Jevo bertanya, kalian harus mengatakan jika semua ini gue yang masak. Dan kalian hanya membantu. Paham...!!" bentak Claudia.
"Paham Nona." sahut mereka bersamaan.
"Mana ada masak segini banyaknya lima belas menit matang." batin seorang pembantu.
"Tuan muda Jevo juga bukan lelaki bodoh. Dia pasti tahu, jika semua makanan ini di pesan." batin pembantu lainnya.
Selesai menatap semua makanan di atas piring. Claudia membawa sebuah piring, dengan semua pembantu membantunya membawa makanan yang lain, untuk dibawa ke dalam kamar.
"Pasti Jevo akan memuji gue. Aaa....!! Gue nggak sabar." tukas Claudia dengan yakin.
Para pembantu yang ada di belakang hanya bisa membatin. Dan melakukan perintah Claudia, karema tidak ingin terkena masalah.
"Sayang,,,, kamu sudah bangun. Ini,,, makanan selesai aku masak." ujar Claudia, dengan bangga.
Jevo tersenyum melihat banyaknya jenis makanan yang dibawa mereka. "Di restoran mana Claudia pesan." batin Jevo.
Setelah menaruh makanannya di atas meja, para pembantu bermaksud keluar dari kamar Claudia. Tapi terhenti dengan perkataan Jevo. "Tunggu. Kalian tetap di sini." pinta Jevo.
Claudia mengerutkan keningnya. "Ooo... Kamu mau mereka melayani kita?" tanya Claudia.
"Tidak. Gue kira elo hanya masak satu jenis makanan saja. Heehhhh,,,,, dan,,, makanan ini terlalu banyak. Kita tidak mungkin menghabiskannya, hanya berdua. Yang ada nanti malah terbuang."
"Lalu... Maksud ka-kamu..." Claudia seolah bisa menebak apa yang diinginkan Jevo.
"Kita makan bersama mereka." ajak Jevo.
Derrrrr....... Tubuh Claudia membeku. Makan bersama dengan para pembantu. Yang selama ini dia perlakukan dengan semena-mena.
Semua pembantu masih berdiri, menundukkan kepala mereka. Tak berani mengangkat kepala. Hanya sekedar menatap ke arah Claudia ataupun Jevo.
"Jevo... Sayang.... Mereka pembantu loh..."
Jevo berdiri, mulai mengambil makanan untuk dia taruh di atas piring kosong. "Makam bersama mereka. Atau kita tidak makan." ancam Jevo.
Claudia menatap para pembantu dengan tatapan tajam. "Sial.... Pertama kali dalam sejarah. Seorang Claudia makan bersama kaum rendahan seperti kalian." geram Claudia dalam hati.
Claudia berusaha tersenyum. "Kalian... Kenapa diam, ayo ambil makanan. Cepat." tukas Claudia.
Jevo tersenyum penuh kemenangan. Dirinya tahu apa yang Claudia rasakan. "Memang enak." batin Jevo, berhasil mengerjai Claudia.
__ADS_1
"Setelah ini, gue harus mandi kembang tujuh warna dengan air yang berasal dari tujuh sumur." batin Claudia dengan kesal, melihat para pembantu mulai mengambil makanan secara bergantian.