
"Bulan... elo bikin gue gila..!!" seru Gara, setelah Bulan memutuskan komunikasi dengannya.
Gara memukul kedua kakinya yang patah dengan sekuat tenaga. "Kaki sialan. Jika elo masih ada. Gue pasti bisa menyusul Bulan saat ini..!!!" teriaknya frustasi, menyalahkan keadaan kakinya.
Gara meraup wajahnya dengan kasar. "Gue nggak guna. Sama sekali nggak bisa diandalkan." gumam Gara dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
Gara terdiam sesaat. "Bajingan itu, gue bersumpah. Akan mencari dia sampai mati. Gue akan membalas semua yang dia lakukan ke gue. Sialan..!!!" teriaknya, melepas beban emosi di dalam hatinya.
Gara menatap beberapa foto di dinding dengan wajah yang berbeda. "Meski gue selamanya berada di sini, gue pastikan. Gue akan tetap mencari kalian, bedebah." geram Gara.
Tersirat dendam yang besar di wajah Gara. Dendam yang tak akan bisa padam, jika belum membuat nyawa orang lain melayang. "Akan gue buat hidup kalian seperti di neraka." tekadnya.
Ingin sekali Gara keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi dirinya tidak bisa melakukannya. Kekurangan yang dia miliki adalah kendalanya.
Pernah Gara keluar dari persembunyiannya. Yang ada dirinya malah membuat Bulan berada dalam masalah.
Kehidupan kelamnya yang dulu, membuatnya tidak disukai banyak orang. Dan juga banyak musuh. Meski dirinya sudah menyadari kesalahannya. Dan ingin berubah menjadi lebih baik. Namun tidak semua orang percaya.
Apalagi orang yang pernah dia sakiti. Dan juga para musuhnya jaman dulu. Gara juga tidak menyalahkan mereka. Sebab, kelakuan di masa silamnya yang kelam, membuat dirinya seperti sekarang ini.
Selalu dibenci dan dicurigai dimanapun dirinya berada. Membuat Gara mau tak mau hanya bisa terkurung di dalam tempat ini.
Gara tersadar akan lamunannya saat indera pendengarannya mendengar suara deru knalpot motor masuk ke dalam gedung.
Segera Gara melihat di layar, sekiranya siapa yang datang. "Bulan." Gara segera mengambil tongkat yang selama ini dia gunakan.
Keluar dari kamar dan menghampiri Bulan. "Elo mau bikin gue jantungan. Hah..!!" teriak Gara menyambut kedatangan Bulan.
"Kenapa elo putuskan komunikasi dengan gue?!"
"Elo nggak tahu, betapa khawatirnya gue. Elo mau bunuh gue...!!!" Gara melampiaskan rasa kesal yang bercampur khawatir.
Bulan mengacuhkan omelan Gara yang seperti emak-emak. "Bulan....!!" teriak Gara, melihat Bulan cuek dan malah duduk di depan layar besar di ruangan tersebut.
Satu layar menyala. Dengan satu alat voice juga menyala. "Ini terhubung dengan gadis itu. Dan ini, tempat gue menemukannya." jelas Bulan.
Sama sekali tidak menjelaskan pada Gara, tentang apa yang terjadi dan apa yang dia temukan di lokasi tersebut.
"Dia masih hidup. Padahal sejak semalam dilaporkan hilang. Hebat." papar Gara, lupa jika dirinya sedang kesal pada Bulan.
__ADS_1
Segera memposisikan diri dengan duduk di kursi samping Bulan. Mengamati apa yang Bulan tampilkan di layar.
"Ini diluar dugaan. Biasanya korban akan langsung di eksekusi. Tapi ini.." Gara menggantung kalimatnya, seakan semua yang terjadi masih sebuah teka-teki.
Bulan melihat jam di layar ponselnya. "Ckkk,,,, mana sebentar lagi gue harus ke sekolah lagi." decak Bulan, mengacuhkan kicauan Gara.
"Bolos saja." saran Gara nyleneh.
"Gue guru bego...!!" seru Bulan kesal.
"Iya,,, ya. Gue lupa." ucap Gara cengengesan. "Lagian, misi kok kadi guru. Ribet sendirikan?" imbuh Gara.
"Namanya misi. Emang bisa milih." tukas Bulan.
"Hasil rambut yang elo kasih kemarin dah keluar." ucap Gara melaporkan hasil analisisnya.
"Gue mau paket komplit. Bukan setengah-setengah." papar Bulan.
"Ckkk,, elo banyak maunya." keluh Gara.
Bulan menatap intens ke arah Gara. "Ada apa?" tanya Gara merasa tatapan Bulan seperti ingin menyimpan sesuatu. "Katakan saja. Gue nggak suka main petak umpet." seloroh Gara.
"Huufffftttt.... bisa jadi, diantara mereka adalah orang yang elo cari." ucap Bulan dengan wajah datar.
Dan Gara yakin, Bulan telah tahu sesuatu. Namun Bulan masih menyembunyikan hal tersebut darinya. "Gue pergi dulu. Selesai mengajar, gue langsung ke sini." pamit Bulan.
"Apa perlu gue rekam pembicaraan mereka?" tanya Gara, berpura-pura baik-baik saja.
Bulan menggeleng. "Sudah otomatis terekam terekam." Bulan mengangkat sebuah benda di tangannya.
"Tugas gue apa?" tanya Gara, supaya tidak terlihat jika dia sedang menahan emosinya.
"Elo hanya perlu mendengar setiap suara di dalam rekaman dengan seksama. Sekecil apapun suara itu, siapa tahu bisa berguna." pinta Bulan.
Gara menunjuk ke layar, dimana hanya ada padang rumput, dan terlihat seperti ada rambut manusia di di satu titik. "Lalu ini?"
"Sorry, gue nggak bisa jelaskan sekarang. Elo juga akan tahu nanti. Elo pantau terus." Bulan mengganti jaket yang dia kenakan dengan jaket yang baru.
"Apa perlu gue masukkan ke dalam rekaman?"
__ADS_1
Bulan menggeleng lagi. "Tidak perlu. Gue pergi dulu."
Bulan mencium pipi Gara singkat. "Elo hati-hati. Jika ada apa-apa, langsung hubungi gue." ucap Bulan mengingatkan.
Gara mengangguk dan tersenyum. "Jangan keluar dari gedung." ucap Bulan memperingatkan Gara.
"Iya."
Senyum di bibirnya menghilang bersama dengan menghilangnya Bulan dari ruangan.
Air mata Gara menetes di pipi tanpa bisa ditahan. "Sampai kapan, gue akan jadi beban buat elo Bulan." gumam Gara dengan nada bergetar.
Selama ini, hanya ada Bulan di sampingnya. Gara sudah lama hidup seorang diri. Sejak memutuskan untuk terjun ke dunia hitam.
Sayangnya, keputusan besar yang dia ambil saat remaja, adalah keputusan salah. Dia terprovokasi oleh suara dari sahabatnya. Sehingga merelakan pergi dari rumah. Bergabung dengan kelompok yang menyesatkan tersebut.
Awalnya, Gara benar-benar menikmati hidupnya. Menikmati kesehariannya menjadi salah satu anggota kelompok tersebut.
Seperti seseorang yang berkuasa penuh. Gara mendapat kepercayaan sendiri dari ketua. Semua tak lepas dari keahlian dan juga bakat yang Gara miliki.
Kecakapan bela diri. Keahliannya memainkan senjata api. Dan yang paling di sayang oleh ketua adalah karena Gara adalah seorang hacker handal.
Tapi siapa yang menyangka. Jika semua kelebihannya, yang memposisikan dirinya sebagai anak emas dari ketua, malah membuat dirinya dalam bahaya besar.
Tanpa Gara sangka. Teman yang mengajaknya untuk bergabung dengan kelompok ini adalah orang dibalik kehancurannya. Dirinya yang menjebak Gara, hingga Gara dilabeli dengan sebutan penghianat.
Semua terjadi karena rasa iri dan cemburu pada
Gara yang di sayang dan selalu dipuji oleh ketua.
Gara menjelaskan apa yang terjadi pada ketua.
Namun semua tidak seperti yang Gara bayangkan. Sang ketua juga mengatakan tidak lagi membutuhkan seseorang yang sudah tidak berguna.
Meski saat itu, Gara telah terbukti tidak bersalah. Namun Gara sudah kehilangan kedua kakinya. Yang artinya Gara sudah tidak berguna.
Dan hanya akan menjadi penghalang dan penghambat bagi mereka. Karena itulah, Gara dibuang seperti sampah.
Tapi yang lebih sadis. Sebelum dibuang, Gara terlebih dahulu di siksa secara kejam dan keji. Diperlakukan seperti hewan. Hampir nyawa Gara melayang, jika saja Bulan tidak datang dan menolongnya.
__ADS_1
"Apa gue jahat, jika gue berharap elo nggak akan pernah menikah. Nggak pernah punya keluarga." gumam Gara.
Kenapa Gara tidak kembali ke keluarganya. Tidak akan dan tidak pernah Gara lakukan. Kembali ke keluarganya, sama saja Gara membunuh mereka secara tidak langsung.