PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Pas 101


__ADS_3

Di kediaman Rio, Timo mengamuk. Dibantingnya seluruh benda yang ada di dalam kamarnya dengan membabi buta. Melampiaskan amarahnya yang tidak tahu, akan dia salurkan pada siapa.


Membuat seluruh pembantu di rumahnya yang sudah terlelap dalam tidur, terbangun karena suara gaduh yang dia timbulkan. "Ada apa?" tanya salah satu pembantu di rumah.


Dimana mereka semua sedang berada di dapur. Mereka berenam merasa bingung harus melakukan apa. Pasalnya, mereka juga sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan Rio, setelah kejadian dimana Rio kecelakaan.


"Biarkan saja. Nanti yang ada kita malah kena amuk Den Rio." tukas pembantu yang lain. Menyarankan pada yang lainnya supaya mereka tak perlu melihat apa yang sedang terjadi di lantai atas.


"Benar. Lagian kita bisa apa." sahut yang lain, yang juga takut pada sosok Rio.


"Malam-malam ngamuk. Mana nggak ada yang laki-laki." keluh yang lain. Sebab pembantu laki-laki semuanya di berhentikan oleh Rio dengan alasan yang tak masuk akal.


Dan mereka semua dipecat saat Nyonya rumah sedang tidak berada di rumah. Bahkan, bukan hanya pekerja lelaki yang dia pecat.


Ada beberapa pekerja perempuan yang juga dia pecat dengan alasan umur. Padahal mama Rio sendiri merasa tidak keberatan.


Apalagi rata-rata yang di berhentikan dari pekerjaan adalah mereka yang sudah lama bekerja di kediaman Rio. Dan tentu saja tahu keluarga Rio bagaimana.


Jujur mereka berenam sebenarnya merasa takut. Apalagi setelah kecelakaan, sikap Rio berubah drastis. Seakan mereka para pembantu tidak mengenal sosok Rio lagi.


"Kemana dia?" tanya pembantu yang lain, menanyakan pembantu yang menjadi anak mas dari Rio palsu.


Semuanya menggeleng. "Mungkin karena dia, Den Rio ngamuk." sahut yang lain.


Mereka mengira jika rekan kerja sesama pembantunya yang bisanya selalu dipanggil Rio palsu masih berada di rumah ini. Dan sekarang berada di lantai atas.


Tepatnya di dalam ruangan di mana hanya Rio dan sang pembantu yang boleh masuk.


Padahal, tanpa mereka tahu, jika sekarang orang yang mereka cari sedang dalam perjalanan menyelamatkan diri. Pergi kembali ke kampung halamannya untuk menghindar dari Rio.


Sebab, dia tahu, jika Rio palsu pasti akan marah karena kehilangan tawanannya. Dan dirinya tak ingin menjadi bahan pelampiasan amarah dari Timo alias Rio palsu. Apalagi dirinya merasa tidak bersalah.


"Astaga...." serempak keenam pembantu tersebut berjingkat kaget, mendengar suara keras dari lantai atas.


"Apa yang di banting?" tanya salah satu pembantu merasa penasaran.


"Entahlah." sahut yang lain.


"Lebih baik kita pergi. Ayok." ajak yang lain.


"Kita sekamar saja ya." saran yang lain merasa ketakutan.


Sebab, mereka tidak sekamar. Setiap kamar dihuni oleh dua pembantu. "Ehh,,,, Apa Nyonya belum pulang?" tanya salah satu dari mereka.


Baru menyadari jika malam ini majikan mereka akan tiba dari luar negeri. Dan itulah kenapa Rio tadi sempat meninggalkan rumah. Karena dia ingin menjemput sang mama yang berada di bandara.


Keenamnya saling berpandangan. "Jika Nyonya ada, mana berani dia ngamuk." sahut pembantu yang lain.


"Lalu kemana Nyonya?"


"Apa jangan-jangan terjadi sesuatu sama Nyonya. Makanya Den Rio mengamuk." tebaknya.


"Sudah, lebih baik kita segera masuk ke kamar."


Keenamnya segera meninggalkan dapur dan masuk ke satu kamar. Mereka memilih tidur berdempetan asal merasa nyaman dan tidak takut.

__ADS_1


Sedangkan di lantai atas, Timo masih membanting semua narang yang bisa dia gapai. Termasuk televisi. Serta memecahkan semua kaca di kamarnya. Membuat kamarnya tak layak huni.


"Sial...!! Siapa yang berani membantu membebaskan Rio...!?" serunya dengan nafas tersengal karena amarah. Teringat jika sang pembantu mengatakan jika ada sosok yang masuk ke dalam rumah.


Timo kembali membalikkan badan. Melihat tembok yang jebol. Timo mendekat. Memandang dengan intens ke arah baru bata yang berserakan di lantai.


"Dia menggunakan peledak berkapasitas ringan." lirih Timo menebak.


Tiba-tiba Timo teringat akan pembantu yang selama ini dijadikannya pelampiasan hasratnya. Dirinya sama sekali belum kepikiran tentang mama Rio.


Timo melangkahkan kaki dengan cepat ke belakang. Tujuannya adalah kamar para pembantu. "Kalian semua,,,!! Keluar...!!" teriak Timo tanpa menyentuh daun pintu.


Krek... Enam pembantu yang bekerja di rumah besar dan mewah ini muncul dari satu kamar. Timo mengernyitkan keningnya heran. Namun bukan itu yang saat ini ingin dia tanyakan.


"Ada apa Den?" tanya salah satu pembantu, memberanikan diri untuk bertanya lebih dahulu.


Timo tidak segera menjawab. Membuat para pembantu saling sikut dengan pelan. "Dimana dia?" tanya Timo.


Diam. Tak ada yang segera menyahuti pertanyaannya. "Apa kalian tuli...!! Dimana dia...??!" bentak Timo.


"Ma-maaf den, apa Den Rio mencari rekan kami yang satu lagi?" tanya salah satu pembantu dengan gugup.


"Kami tidak tahu Den, kami dari tadi hanya berenam." timpal pembantu yang lain.


Timo berjalan ke depan. Mendorong para pembantu dengan kasar untuk memperoleh jalan. Beruntung mereka tidak terjatuh. Karena saling berpegangan saat Timo mendorong mereka.


Timo menggeledah kamar pembantu satu persatu. Namun hasilnya nihil. Dirinya tidak menemukan pembantu yang dia cari.


Brak....!! Timo menendang daun pintu dengan keras. "Sialan,,,!! beraninya dia pergi dari rumah ini..!!" geramnya.


Timo membalikkan badan. Menatap seluruh pembantu dengan tajam. "Katakan. Dimana dia?!" tanyanya dengan nada rendah, namun terdengar mengerikan.


"Apa tadi kalian melihat orang yang masuk ke dalam rumah?!" tanya Rio dengan nada kasar.


"Tidak den. Kami tiba-tiba seperti diberi sesuatu, dan kami lalu tak sadarkan diri." jelasnya, tentu saja ada sedikit kebohongan dalam ceritanya. Padahal salah satu diantara mereka ada yang melihat dua orang menuruni anak tangga. Dengan salah satu memakai penutup wajah.


"Aaa...!!" seru salah satu pembantu, saat tangan Rio tiba-tiba mencengkeram erat kedua pipinya.


"Jika kalian sampai berani membohongi gue. Bahkan menyembunyikannya. Gue pastikan, hidup kalian akan seperti di neraka." ancam Rio, seraya melepaskan sang pembantu dengan kasar. Sembari mendorongnya ke belakang.


Semua pembantu segera berjongkok. Termasuk pembantu yang baru saja di cengkeram pipinya oleh Rio. "Ampun Den,,, kami bersumpah. Kami sama sekali tidak tahu keberadaannya, dan kami tidak tahu apapun." cicit salah satu pembantu.


Rio berjalan ke depan dan menendang salah satu pembantu yang berjongkok di depannya. Hingga dia terjatuh ke belakang dengan keras. Rekan-rekannya segera menolong untuk membantunya bangun.


Rio berjongkok, menatap mereka satu persatu. "Jangan sampai berani kalian keluar dari rumah ini, jika masih ingin selamat. Paham...!!" teriak Rio, lagi-lagi mengancam mereka.


"Pah-paham Den..." sahut mereka serempak.


Rio berdiri. Berjalan meninggalkan mereka. "Perempuan tua itu. Dari tadi gue nggak melihatnya." cicitnya, baru teringat akan mama Rio.


Karena seharusnya, mama Rio sudah berada di rumah ini sejak tadi. Tapi, Timo tidak merasakan kehadirannya.


Baru saja para pembantu tersebut hendak menuju kamar mereka kembali. Tapi langkah mereka terhenti karena suara dari putra majikan mereka. "Dimana mama?!" tanya Rio.


"Nyonya,,,, kami tidak tahu Den."

__ADS_1


"Tidak tahu?" tanya Rio menyakinkan pertanyaannya kembali.


"Nyonya sampai sekarang belum pulang. Dan kami tidak melihatnya." jelasnya dengan perasan takut.


Amarah Timo kembali meledak. "Aaa...!!! Sialan,,,,, Siapa yang berani mempermainkan gue...??!" teriaknya, mengambil barang di sampingnya dan di banting dengan keras.


Para pembantu memundurkan langkah mereka secara perlahan. Tentunya mereka takut jika Rio melemparkannya ke arah mereka.


"Mereka berdua hilang bersamaan. Pasti ada yang ingin bermain-main dengan gue...!" serunya dengan tangan melemparkan barang yang busa dia raih dengan tangannya.


"Sebaiknya kita pergi." bisik pembantu yang satunya. Merasa takut dengan apa yang dilakukan putra sang majikan.


Sementara Rio terus menggila. Diraihnya barang yang berada di sampingnya dan terus di banting. Apalagi saat ini dirinya berada di dapur. Membuatnya dengan mudah mendapat barang yang berasal dari kaca.


"Gue butuh pelampiasan... Gue butuh mainan...!!" geramnya seperti orang gila.


Timo menghentikan tindakannya. Memandang para pembantu yang ketakutan dengan senyum menakutkan. "Den..." ucap salah satu dari mereka.


"Aa...!!" jerit salah satu pembantu, saat tangan Timo meraih rambutnya. Menjambaknya serta menyeretnya sembari tertawa puas.


Sedangkan pembantu yang dia seret dengan menggunakan rambut panjangnya berteriak kesakitan. Tapi Timo malah tertawa lepas, seolah dia sedang bahagia.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu pembantu.


"Kita harus menyelamatkan teman kita." sahut yang lain.


"Bagaimana caranya?" tanya yang lain.


Salah satu pembantu melihat sesuatu. "Dengan itu."


Mereka semua mengangguk. Dan segera menyelamatkan rekan mereka. Bugh... Bugh...


Salah satu dari mereka memukul punggung dan kepala Rio menggunakan kayu patahan kursi yang tadi di banting oleh Rio.


Dan pembantu yang lainnya juga memasang sikap waspada dengan memegang kayu. Mereka hanya berjaga-jaga, jika rekan mereka tak bisa membuat Rio pingsan, mereka juga terpaksa maju.


Rio memegang kepalanya yang terasa sakit. Melepaskan cekalannya di rambut sang pembantu. "Pukul lagi sampai pingsan..!!" teriak pembantu lain.


Dan benar saja, pembantu tersebut memukul tubuh bagian belakang Rio bertubi-tubi. Hingga Rio tak sadarkan diri di atas lantai.


"Cepat. Sebaiknya kita segera pergi meninggalkan tempat ini." ajak salah satu pembantu.


"Benar, bawa barang kalian yang berharga saja." sahut yang lain.


"Jangan lama-lama. Nanti Den Rio keburu bangun."


"Tapi dia tidak matikan?" tanya seorang pembantu yang memukul Rio dengan keras dan berkali-kali.


"Tidak. Lihat, perutnya saja masih bergerak." tukas yang lain.


"Ayo cepat. Jangan sampai dia bangun lagi. Nanti kita malah nggak bisa pergi." timpal pembantu lainnya.


Mereka berlari ke dalam kamar masing-masing. Mengambil barang yang menurut mereka penting. Tak membutuhkan waktu lama, mereka segera pergi meninggalkan rumah mewah tersebut sebelum Rio terbangun, tersadar dari pingsannya.


Yang ada dipikiran mereka hanya keselamatan mereka. Apalagi mereka melihat Rio yang hampir menyiksa salah satu dari mereka.

__ADS_1


Tak mustahil, jika suatu hari pasti mereka semua akan mendapatkan perlakuan yang sama dari Rio. Entah kapan waktunya.


Timo pingsan dengan keadaan tengkurap. Dirinya yang baru mengetahui jika Rio serta mama Rio tak ada di rumah, langsung bertindak brutal. Bagaimana seandainya dirinya mengetahui jika sang kakek juga tidak berada di rumahnya.


__ADS_2