
Menahan rindu, apalagi pada kekasih hati yang tepat berada di hadapan itu seperti orang lapar, tapi tak punya uang buat beli makanan. Sementara, di rumah sama sekali tak ada apa pun untuk dimakan. Perih dan menimbulkan penyakit. Terserah dengan istilah yang kubuat sembarangan. Dikatakan tak nyambung pun, bodo amat!
Intinya, saat ini, hatiku tengah tak keruan menahan jumpa pada gadis yang sedang asyik tertawa seraya bermain ponsel di teras rumahnya. Aku bisa menebak, dia sedang chatting dengan salah satu temannya atau ... si bocah tengik itu.
Sial!
Sok-sokan bilang membebaskan dia bermain dan pergi dengan siapa pun. Padahal sudah pasti jelas, hatiku akan terluka. Aku diam mematung. Menatap wajah ayu itu melengkungkan senyum.
Sadar, selama dia bersamaku sebagai kekasih, tak pernah sekalipun tersenyum seperti itu. Ah, bodoh! Tentu saja tak pernah. Usia kebersamaan kami cuma dua hari.
"Dil, kakak kangen," rengekku. Masih menatap ke depan. Di mana gadis itu duduk dengan anggun di kursi panjang teras rumahnya.
Tiba-tiba, Dilara menoleh. Seolah mendengar ucapanku. Padahal suara yang kukelurakan sangat lirih. Mungkin desau angin membawa tiga kataku padanya, atau dia juga memendam rindu. Kami bertatapan. Ada keterkejutan di matanya. Tak menyangka mungkin, aku menatapnya dari sini. Dari balik jendela kamar yang memang menghadap ke arah bagian depan rumah Dilara.
Gadis itu masih mematung. Kami masih bertatapan. Denyar di dada masih kurasa. Begitu menggebu dan ingin segera dilampiaskan. Memeluk atau sekadar bercerita. Itu sudah cukup. Namun, rasa itu tetap kutahan. Bahkan saat ini, bukan tatapan lembut yang kuperlihatkan padanya, tetapi pandangan tajam.
Aku memang merindunya setengah mati. Namun, aku juga ingin Dilara merasakan hal yang sama. Untuk itu, aku membentang jarak.
Saat gadis itu masih menatap ke arahku, perlahan kututup daun jendela. Kututup juga hasrat ingin meluapkan rindu. Pengecut memang. Namun tak apa, karena rindu bisa memupuk rasa cinta yang tertanam tanpa disadari.
***
Aku masih sibuk menyelesaikan penelitian. Cukup menyita waktu hingga lupa akan rinduku pada Dilara. Apa lagi saat ini aku sering bertemu dengan Sandra. Terkadang, kami menghabiskan waktu di perpustakaan bersama. Membahas materi di taman kampus, atau 'hunting' buku keperluan tugas akhir.
Gadis itu seperti lem, lengket. Ke mana pun aku pergi, ada dia yang menemani. Hal itu, semakin membuat hubunganku dengan Galih kian meruncing. Dia masih salah paham padaku meski sudah berulang kali kujelaskan duduk perkaranya.
"Lih! Sandra ngajak jalan lu, tuh," godaku. Memancing obrolan dengannya.
"Napa ngajak gue? Lu, kan, cowoknya!"
Aku tertawa melihat sikapnya yang seperti anak kecil.
"Yaudah kalau kagak mau. Jadi, gue, nih yang antar dia?"
__ADS_1
"Serah!"
"Oke! Jangan salahin gue kalau dia semakin jatuh cinta ama gue," tegasku, memancing emosinya.
Kulirik sebentar ke arah Galih, ada amarah di matanya. Namun, dia mencoba menahan. Jelas terlihat saat kedua tangannya menggenggam.
"Cewek itu jangan dicuekin. Kasih perhatian lebih. Beri dia rasa nyaman, lama-lama juga mereka klepek-klepek," ujarku santai.
"Teori! Nyatanya lu cuekin aja dia ngekor mulu ama lu." Galih memprotes seraya membuang wajah dari hadapanku.
Karena aku peduli sama dia, Man! Aku tahu saat hatinya terluka. Tahu saat dia merasa tak baik-baik saja. Selalu menyediakan bahu untuknya. Lalu, diam mendengar segala keluh-kesahnya.
Bukan nasihat yang kuberi untuknya. Tapi, lebih ke rasa nyaman. Salahku memang, tetapi jujur, Aku tak bisa melihatnya disakiti. Bukan karena cinta, tetapi lebih kepada rasa iba.
Aku yang sejak semua bersandar pada pagar balkon lantai dua kampus, pindah dan duduk di samping Galih.
"Gue udah nasehatin lu, Lih. Serah lu mau ngikutin atau kagak. Yang jelas, gue nggak ada rasa apa-apa sama Sandra."
"Lu mau ngakuin masih cinta sama adik gue?"
"Terus kenapa lu nggak gangguin dia lagi? Udah sebulan ini dia cemberut terus."
Aku menghela napas, menerka apa itu artinya Dilara rindu denganku? Tanpa sadar, aku tersenyum. Bayangan wajah Dilara hadir menyapa. Sudah sebulan tak kuacuhkan dia. Semua inbox-nya yang masuk ke akun Rizaul Kaffi tak kubalas, pun komentar di tiap postinganku.
"Lu ngelamunin apa? Sandra atau Dilara?"
"Noh, Sandra." Alih-alih menjawab, aku malah menunjuk gadis berkemeja marun yang datang ke arah kami.
"Kalau lu cowok, temenin dia," lanjutku. Lalu, bangkit pergi meninggalkan Galih dan Sandra. Meski keduanya memekikkan namaku, aku terus berjalan. Cuek. Memberi kesempatan kepada Galih untuk semakin dekat dengan Sandra. Terkadang bingung dengan sikap sahabatku itu. Sudah tahu cinta, tapi sama sekali tak memberi kode, mengajak ngobrol misalnya. Memangnya Sandra peramal yang bisa tahu semua perasaan Galih tanpa dia nyatakan. Atau memang Galih menunggu Sandra yang mengungkapkan? Ck! Sampai lebaran monyet pun tak akan bisa terwujud karena Sandra menyimpan rasa padaku.
Aku menghela napas kasar, menghampiri motorku dan memacunya sedikit kencang, pulang. Tiba di rumah, Dilara sedang asyik bernyanyi sambil menyiram tanaman ibunya. Wajahnya begitu cantik dengan rambut tergerai. Sesekali angin memainkannya hingga sebagian menutup wajah sebagian lagi terbang. Aku seolah-olah dapat mencium aroma sampo yang dipakai Dilara.
Ah, bodo amat sama gengsi! Aku bergegas menghampiri Dilara.
__ADS_1
"Cieee happy banget kayaknya." Dilara menghentikan aktivitasnya. Menatap tajam ke arahku dengan tatapan tak suka. Aku duduk di pagar tembok yang memisahkan rumah kami.
"Iyelah. Bisa bebas sekarang," sindirnya.
"Beneran seneng, ya bisa bebas? Terus itu inbox ngapain? Kangen?"
Dilara menatap sewot ke arahku. Aku terkekeh melihat wajahnya yang berubah lucu.
"Nggak!"
"Nggak salah."
"Beneran nggak!"
"Kalau kakak yang kangen gimana?"
"Kangen, kok, nggak mau balas inbox. Udah punya yang lain, ya?"
"Cieee cemburu?"
"Diiih! Siapa yang cemburu? Geer."
"Balikan, yuk."
Kami diam. Ada keterkejutan di mata indahnya, kemudian kegamangan. Ah! Dia masih tak percaya kepadaku. Aku turun dan menghampirinya. Perlahan kugetok kepalanya, "Bercanda!"
Dia mengerjap perlahan, lalu aku pergi tanpa menoleh lagi. Mungkin, bukan Dilara yang belum siap, tapi aku. Belum siap jika dia terlalu dekat dengan teman prianya. Belum bisa menerima saat dia masih suka berkumpul dengan teman-temannya. Semua itu karena ingin memilikiku terlalu besar padanya hingga tak mau berbagi meksi itu dengan teman.
Aku nggak salah, dong, jika ingin jadi satu-satunya pria di hati kekasih yang selalu dipikirkan. Dilara bilang posesif. Wajar. Toh, aku pun tak mendua hati dengan wanita lain, kecuali Sandra. Hanya dia teman wanita paling dekat.
Ah, bagaimana kabar Galih dan Sandra? Apa mereka akhirnya berkencan? Atau laki-laki yang memiliki nyali perempuan itu mengkerut dan melepas Sandra?
Aku tetap berharap mereka bisa jadian. Galih pria yang baik. Tak pernah neko-neko. Aku akan tenang menitipkan Sandra padanya. Kebahagiaan yang selama ini tak didapatkan Sandra akan terwujud melalui Galih. Aku yakin itu. Pasti.
__ADS_1
Lalu, aku dan Dilara? Entah!
Next