
"Gara... Kirimkan semua bukti kejahatan Tuan Darto pada sang istri." pinta Bulan.
"Kenapa?" tanya Arya ingin mengetahui alasan Bulan melakukannya.
Bulan menyenderkan punggungnya ke senderan kursi di belakangnya. Menatap jauh ke depan. "Karena kita membidik Darto. Bukan anak dan istrinya yang,,,, mungkin saja tidak mengetahui apapun." jelas Bulan secara logika.
"Jika tebakan ibu salah. Dan ternyata mereka berdua mengetahuinya bagaimana?" tanya Arya, dan semua yang ada di sana menunggu apa yang akan Bulan katakan.
"Bagaimana Sapna?" bukannya menjawab apa yang Arya tanyakan, Bulan malah bertanya pada Sapna.
Sapna tersenyum pahit. Menundukkan kepalanya ke bawah. Sapna tahu, kenapa Bulan menanyakan hal tersebut pada dirinya.
Mikel yang duduk tepat di samping Sapna menepuk pelan pundak Sapna. Padahal keduanya baru bertemu dan mengakrabkan diri tadi. Tapi entah kenapa, baik Sapna atau Mikel memang terlihat sudah akrab. Seakan keduanya sudah saling kenal dan bertemu.
Sapna menoleh ke arah Mikel, tersenyum menahan rasa sesak di dadanya. Pertanyaan dari Bulan seolah mengingatkan apa yang akan dia hadapi ke depannya bersama sang mama. Sebab sang papa terlibat dalam lingkar kejahatan yang sekarang sedang mereka kuak.
Sapna menghela nafas dalam, menghembuskannya dengan kasar. Menatap semua orang di ruangan secara bergantian. "Jangan memandang gue kayak gitu." celetuk Sapna. Sebab mereka terlihat mengasihani Sapna.
Sapna tertawa pelan. Menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. "Dulu, mama dan aku benar-benar tidak tahu apa yang di lakukan papa di belakang kita. Hingga mama menaruh rasa curiga pada papa. Insting seorang istri ternyata benar. Mama mendesak papa. Yang dimana papa menceritakan semua yang telah dia lakukan. Dan,,,, ya.... Awalnya mama syok. Tapi demi gue, mama berusaha kuat. Dan mama bilang, mama akan meninggalkan papa. Jika papa tetap berada di kelompok tersebut. Mama mengatakan pada papa. Lebih baik hidup seadanya. Tidak bergelimang harta. Tapi dari uang halal, yang tidak menyulitkan atau menyakiti orang lain."
Sapna terdiam sesaat. Menjeda cerita panjangnya. Sebelum kembali menceritakan apa yang terjadi. "Papa memilih keluarga. Dia memilih meninggalkan kelompoknya yang memberikan papa banyak uang. Dan papa mengatakan konsekuensinya. Mendekam dalam penjara. Nama baik keluarga tercemar. Tapi mama bilang, semua terserah papa. Karena mama akan mendukung keputusan papa. Keputusan yang terbaik."
Mikel mengambil tisu, menyerahkannya pada Sapna. "Makasih." lirih Sapna, menghapus air mata di pipinya dengan tisu.
"Gue sangat bodoh. Bahkan, saat diculikpun, gue nggak mengerti. Gue nggak tahu alasan dari penyekapan itu. Mama berbohong sama gue. Bahkan di sana, mama banyak berkorban buat gue." ujar Sapna, dimana nadanya berubah pada kalimat terakhir.
"Khemmm... Seharusnya kamu tahu apa jawaban saya." segera Bulan mengeluarkan suara, mengalihkan fokus mereka dari Sapna.
Tentu saja, Bulan tak ingin ada satu orangpun yang mengetahui. Apa arti dari perkataan Sapna. Yang mengatakan jika Nyonya Irawan banyak berkorban demi Sapna saat mereka berdua disekap.
"Gue sudah melakukannya." sahut Gara. Mengirimkan semua bukti kejahatan Pak Darto pada sang istri.
"Bulan,,, tapi bagaimana dengan mama?" tanya Sapna khawatir, sebab sang mama masih berada di kediaman Pak Darto.
Bulan tersenyum. "Jangan khawatir. Begitu kamu meninggalkan rumah pak Darto, tak berselang lama tante Irawan juga meninggalkan rumah itu."
"Mama kemana?" tanya Sapna cemas.
"Beliau sekarang ada di rumah aku." jelas Bulan.
Semua yang ada di ruangan memandang Bulan dengan heran. Pasalnya sedari tadi Bulan di apartemen Mikel. Tanpa bergerak.
"Kapan?" tanya Gara yang juga merasa heran.
"Sebaiknya elo buka kamera CCTV di rumah gue. Cari tante Irawan. Apakah beliau di sana apa tidak?" pinta Bulan.
Bulan tidak menjelaskan bagaimana bisa Nyonya Irawan tiba-tiba berada di rumahnya. Dan Gara, segera mencari tahu keberadaan Nyonya Irawan di kediaman Bulan.
Gara menggeser laptopnya. Sehingga semua mata bisa melihat ke arah layar laptop. Nampak di layar laptop, Nyonya Irawan sedang memasak di dapur tempat tinggal Bulan.
"Mama sendirian di sana?" tanya Sapan masih terlihat cemas.
Bulan mengangguk. "Siapa yang akan berani masuk ke rumah itu." ujar Bulan tersenyum samar.
Meski masih merasakan khawatir, tapi Sapna mencoba untuk meredamnya. Dirinya percaya dengan apa yang Bulan katakan. Toh dirinya dan sang mama bisa sampai di sini karena Bulan juga.
"Email telah terbuka." lapor Gara tersenyum senang memandang Bulan.
"Bagaimana jika istri pak Darto malah membela suaminya. Meski dia tahu jika suaminya bersalah. Kamu tahukan, nama baik keluarga adalah hal utama bagi orang seperti mereka." tukas Jeno benar adanya.
"Istri pak Darto bukan perempuan sembarangan. Dan aku bisa menjamin. Dia akan mengambil keputusan yang tidak akan merugikannya. Apalagi ada Sella diantara mereka." sahut Bulan.
Sebab istri pak Darto berasal dari keluarga pebisnis terkenal. Dan beliau mewarisi semua kekayaan keluarga, dimana dirinyalah sekarang yang menjalankannya.
"Aneh. Padahal istrinya kaya. Kenapa dia malah seperti orang yang kekurangan uang." celetuk Arya ada benarnya.
"Dia lelaki. Elo tahu sendiri, biasanya lelaki tak mau direndahkan. Dia ingin terlihat wah di hadapan perempuannya. Bagaimanapun caranya." sahut Mikel.
"Dan sayangnya, cara yang diambil Darto salah." timpal Jevo.
"Oke,,, satu sudah selesai. Sekarang, kirim foto keberadaan Sapna dan Nyonya Irawan pada Tuan Zain dan Tuan Tene. Se-ka-rang." perintah Bulan.
Bukan hanya satu atau dua foto. Melainkan banyak foto. Dan semua itu Sapna ambil sejak hari pertama mereka tinggal di rumah Tuan Darto.
"Dengan senang hati." ucap Gara melakukan apa yang Bulan katakan dengan senyum sempurna.
__ADS_1
Jevo mengangkat flash disk di tangannya. "Lalu ini?" tanya Jevo.
"Sabar. Semua ada waktunya." sahut Bulan, yang sudah melihat kekalahan lawan ada di depan mata.
"Bagaimana dengan bukti yang masih tersimpan di sekolah?" tanya Jeno.
"Nanti malam saja akan aku ambil." sahut Bulan.
"Tidak...!! Jangan...!! Biar aku saja." sergah Jeno.
"Ckk.... Kamu harus belajar. Jangan sampai nilai kamu jelek." protes Bulan.
"Tenang saja sayang. Pasti aku akan mendapatkan nilai terbaik. Seperti yang kamu inginkan." sahut Jeno.
"Makanya kamu fokus pada ujian kamu. Jika nilai kamu jelek, yang malu aku." ketus Bulan.
"Kok bisa, yang malu kamu?" Jeno membelai rambut palsu Bulan dengan lembut.
"Ya iyalah Jeno. Aku malu sama om dan tante. Nanti dikiranya aku membawa pengaruh buruk." jelas Bulan.
Keduanya seolah dengan santai berbincang di antara yang lainnya. Tanpa memikirkan mereka yang ada di sekitar. Dimana semuanya memandang ke arah mereka. Seperti sedang menyaksikan acara drama di layar televisi.
Jeno mencubit gemas hidung mancung sang kekasih. "Tenang saja. Mama sama papa pasti tidak akan berpikiran seperti itu."
Jeno menangkup kedua pipi Bulan. "Asal kamu tahu. Bahkan sekarang saja, mereka sangat menyayangi kamu, melebihi aku dan Jevo. Tanya saja sama Jevo, kalau kamu tidak percaya."
Kedua telapak tangan Jeno masih berada di kedua pipi Bulan. Membuat mulut Bulan sedikit maju dan terlihat menggemaskan di mata Jeno. Ditambah ekspresi Bulan yang sangat imut.
"Woeeeyy.... Kalian berdua mau ngapain. Kalian kura di ruangan ini hanya ada elo dan elo...!!" seru Gara geleng-geleng kepala, saat Jeno perlahan memajukan wajahnya hendak mencium Bulan.
Jeno dan Bulan langsung tersadar. Segera Jeno melepaskan tangannya di pipi Bulan. Sementara Bulan menipiskan bibirnya. Menahan rasa malu yang sangat amat.
Bahkan Bulan tak berani memandang salah satu dari mereka. "Kenapa gue selalu kelepasan saat bersama Jeno. Astaga Bulan.... Sadar, ada banyak pasang mata." batin Bulan menenangkan dirinya.
"Rasanya gue ingin pergi dari tempat ini sekarang juga." batin Bulan merasa menyesal karena selalu terhipnotis dengan apa yang Jeno lakukan padanya.
Arya menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Mama,,,, putra mama sepertinya juga membutuhkan kekasih." cicitnya.
Mikel dan Jevo menggeleng mendengar celetukan Arya. "Memang benar kata orang. Jatuh cinta akan melupakan segalanya." tukas Jevo menggoda Jeno dan Bulan.
"Berkali-kali. Bahkan Jevo sampai lupa dengan siapa saja dia jatuh cinta." kelakar Arya yang disambut tawa semua orang di ruangan.
Celetukan Arya seketika merubah suasana canggung yang Bulan rasakan karena ulah sang kekasih yang selalu ingin dekat dan bermanja dengannya.
Dan bukan salah Bulan juga, jika dirinya memang tak bisa lepas begitu saja dari setiap jerat pesona yang selalu Jeno berikan padanya.
"Tapi mereka serasi. Tampan dan cantik." puji Sapna untuk kesekian kali, memandang Bulan dan Jeno bergantian.
Jeno langsung merangkul pundak sang kekasih dengan erat. "Pasti. Pangeran itu cocoknya dengan sang putri."
Cup.... Sekali lagi, Jeno mencium singkat pipi Bulan dan memandang sang kekasih dengan penuh cinta.
Bulan memindahkan tangan Jeno di pundaknya. "Bisa kita serius lagi? Fokus pada apa yang akan kita kerjakan?" pinta Bulan.
"Sedari tadi kita fokus. Kapal elo saja yang gampang oleng." tukas Gara menyindir Bulan. Yang hanya dibalas cebikan dari Bulan.
"Kelihatannya email yang gue kirim sudah mereka buka." tutur Gara menatap ke layar laptopnya.
"Jangan sampai mereka melacak keberadaan kita." ucap Bulan mengingatkan. Dirinya tak ingin Mikel mendapatkan masalah karena kecerobohan mereka.
"Tenang. Gue sudah memastikan. Jangankan mengetahui alamat apartemen Mikel, mengetahui siapa pemilik akun yang mengirimkan email pada mereka saja, mereka tak akan pernah tahu." jelas Gara dengan yakin.
"Gue suka cara kerja elo." sahut Bulan.
"No...!! Kamu hanya boleh mengatakan suka sama aku sayang...." rengek Jeno.
"Aaawww..." seru Jeno mendapat jitakan pelan di dahinya dari Bulan. "Jangan mulai." tegur Bulan serius.
"Istri dari pak Darto sudah mengetahui kejahatan suaminya. Tuan Zain dan Tuan Tene juga pasti sedang meradang. Karena ternyata sandera mereka bersembunyi di rumah pak Darto. Rekan mereka sendiri." Bulan tersenyum penuh makna.
"Dan sekarang. Elo sebarkan foto Mikel dan Sapna di media. Beritahu semua orang tentang hubungan mereka yang sengaja di sembunyikan dari publik. Jangan cantumkan alasannya. Biarkan semua orang penasaran. Dan mencari tahu." pinta Bulan.
"Dengan begitu, tante Irawan dan Sapna akan aman. Karema dua hal. Sapna kekasih Mikel. Dan media. Karena media akan selalu meliput keseharian Sapna. Dengan begitu, mereka akan berpikir ulang untuk melakukan sesuatu pada Sapna, maupun tante Irawan."
Cup.... Lagi-lagi Jeno mengecup singkat pipi Bulan. "Sumpah sayang....!! Otak kamu di racik pakai apa sih. Encer banget." puji Jeno tak mengalihkan pandangannya dari wajah cantik sang kekasih.
__ADS_1
Bulan hanya memutar kedua matanya dengan malas. "Jangan main cium saja. Nanti jadi kebiasaan." tegur Bulan.
Bulan hanya takut jika Jeno kelepasan selama berada di luar karena terbiasa mencium Bulan. Tentu saja Bulan khawatir. Sebab masih mereka saja yang mengetahui hubungan keduanya.
Bukan hanya Jeno yang takjub dengan setiap ide dan pikiran Bulan. Semua merasa apa yang dikatakan Jeno bukanlah bualan semata. Sebab memang itulah yang mereka lihat.
"Gara,,, lakukan sekarang." perintah Bulan.
"Kalian siap?" tanya Gara menatap Mikel dan Sapna bergantian. Saat Gara menekan satu tombol di dalam keyboard maka berita mengenai kedekatan Mikel dan Sapna akan di lihat semua orang.
"Siap." jawab Sapna dan Mikel bersama.
"Selesai. Sebentar lagi, kalian akan jadi selebritis dadakan." gurau Gara.
Bulan menatap ke arah flash disk yang Jevo taruh di atas meja dengan seksama. "Ada apa?" tanya Jeno, merasa Bulan sedang memikirkan sesuatu.
"Berapa banyak elo copy semua bukti kejahatan mereka?" bukannya menjawab apa yang ditanyakan oleh Jeno, Bulan malah bertanya pada Gara.
"Seperti yang elo minta. Tiga buah untuk masing-masing bukti." jelas Gara.
"Kita harus menyelesaikannya malam ini juga." Bulan tersenyum miring penuh makna.
"Apa yang akan elo lakukan?" tanya Gara.
"Tidak banyak. Hanya menyelesaikan gang belum selesai. Mudah bukan?"
"Narendra."
"Dia bagian gue." Bulan tersenyum penuh arti pada Gara.
"Sayang,,, biar aku yang melakukannya. Kamu tinggal menyuruhku saja." pinta Jeno merasa was-was.
"Bukankah nanti malam kamu harus pergi ke sekolah. Biar aku yang menyelesaikan masalah Narendra." jelas Bulan.
"Baiklah." jawab Jeno terpaksa.
"Kamu sendiri?" tanya Jeno.
"Menurut kamu? Kenapa harus bertanya?" Bulan merasa kesal bercampur gemas dengan sikap Jeno.
"Kamu tahukan, nanti malam lewat jalan mana?" tanya Bulan memastikan. Tidak ingin Jeno sampai celaka atau ketahuan.
Jeno mengangguk. "Rute pertama kita bertemu. Aku masih ingat dengan jelas. Bahkan cara kamu membawa aku berlari di aras atap." jelas Jeno tersenyum sempurna.
"Jadi kamu pernah bertemu bu Bulan, saat bu Bulan sedang menjalankan misi?" tanya Arya yang mendapat anggukan dari Jeno.
"Oh iya,,, bagaimana dengan teman kalian yang pernah membantu kalian mendapatkan laporan dari rumah sakit?" tanya Bulan teringat akan hal tersebut. Saat mereka menyelidiki masalah Timo, sebelum mereka bergabung dengan Bulan.
"Jangan bertanya tentang dia." sahut Jevo.
"Kenapa?" tanya Bulan.
"Ada uang abang sayang..... Tak ada uang abang aku tendang...." sahut Arya dengan mengatakannya menggunakan nada seperti seorang penyanyi.
Bulan mengangguk paham. "Jangan salahkan dia. Berarti dia normal. Masih membutuhkan uang." tukas Bulan.
"Jadi,,, gue nanti pulang ke rumah kamu?" tanya Sapna pada Bulan.
"Iya,,, tapi tetap. Mikel yang akan mengantar kamu."
"Baik."
"Nanti malam, papa kamu akan datang menjemput kalian." ujar Bulan memberitahu.
Sapna mengedipkan kedua matanya dengan lucu. Kaget dengan apa yang dia dengar. "Benarkah. Kita akan pulang ke rumah?"
Bulan mengangguk. "Iya."
"Biar nanti aku yang mengantar kalian. Jadi kalian akan aman sampai rumah." saran Mikel.
"Tidak merepotkan."
Mikel menggeleng. "Tidak."
Gara menatap dengan ekspresi datar interaksi Mikel dan Sapna. Lali beralih menatap kedua lututnya. Dan tersenyum pahit. "Cacat." batinnya menghina fisiknya sendiri.
__ADS_1
Gara mengalihkan pandangan ke arah lain. Dan semua itu tak luput dari mata jeli Bulan, yang memang merasakan hal berbeda dari sahabatnya tersebut.