PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 106


__ADS_3

Selesai sarapan, Tuan David serta Nyonya Rindi mengajak Bulan dan Jeno berbincang di ruang tengah. Tuan David sengaja berangkat ke kantor setelah Bulan meninggalkan rumah. Tentu saja karena beliau penasaran dengan apa yang terjadi.


"Maaf, saya merepotkan tante dan om." tukas Bulan berbicara dahulu. Merasa tak enak hati pada kedua orang tua Jeno.


Padahal Bulan dengan kedua orang tua Jeno tak sedekat itu. Namun Bulan merasa dirinya menyusahkan mereka dengan kedatangannya di malam hari. Hingga Jeno yang memanggil dokter pribadi mereka.


Nyonya Rindi tersenyum. "Tidak apa-apa. Lagi pula keputusan Jeno sudah tepat, dengan membawa kamu ke sini." tutur Nyonya Rindi.


"Coba kalau Jeno tidak membawa kamu ke sini, pasti tante akan memarahi Jeno. Lagi pula, keselamatan kamu adalah yang utama." lanjut Nyonya Rindi.


Seandainya Jeno tidak membawa Bulan pulang ke rumah, mana mungkin kedua orang tua Jeno tahu. Dan jika memang Bulan tidak dibawa ke rumah Jeno, Bulan malah berterimakasih. Karena tidak akan berada dalam situasi seperti ini.


Tapi mau dikata apa. Bulan juga tidak mungkin memarahi atau menyalahkan Jeno karena tindakan Jeno yang memilih membawa dirinya ke rumahnya.


Nasi sudah menjadi bubur. Dan memang, mungkin sudah seharusnya Bulan meminta kepada kedua orang tua Jeno dan Jevo, supaya keduanya mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk membantu Bulan dalam menjalankan misinya.


"Tante memang pantas menjadi istri Tuan David." batin Bulan memuji Nyonya Rindi yang pandai menyiratkan sesuatu lewat perkataannya yang terdengar lembut.


Padahal Bulan tahu dan sangat mengerti, jika Nyonya Rindi berkata seperti itu tentu saja untuk bertanya pada Bulan mengenai kejadian semalam, yang menyebabkan keadaan Bulan sampai seperti itu.


Meski Nyonya Rindi mengatakannya dengan kalimat yang tidak langsung. Namun Bulan bukan perempuan bodoh yang tidak mengerti makna dari perkataan Nyonya Rindi.


Bulan tersenyum memandang Tuan David dan Nyonya Rindi secara bergantian. "Sebelumnya, saya meminta maaf. Karena telah melihatkan kedua putra tante dan om dalam bahaya." jelas Bulan lebih dulu, sebelum dirinya menceritakan apa yang terjadi.


Jeno tercengang mendengar perkataan Bulan yang terdengar langsung ke inti. Yang pada akhirnya Jeno bisa menebak jika Bulan akan mengatakan rencana mereka.


"Kamu tidak perlu meminta maaf. Kedua putra kami sudah masuk usia dewasa. Dan mereka pasti memutuskan apa yang akan mereka lakukan, tanpa paksaan dari kamu. Jevo dan Jeno, bukanlah anak balita yang mesti di bimbing ke mana mereka akan berjalan. Mereka mempunyai keputusan, yang saya sebagai papanyapun, tak bisa melarangnya." sahut Tuan David, menjelaskan jika Bulan tak perlu meminta maaf.


Dari perkataan Tuan David yang panjang lebar, Bulan bisa menebak, jika kedua orang Jeno mengetahui sesuatu. Entah identitasnya, atau keterlibatan kedua putranya dengan apa yang Bulan lakukan sekarang.


Bulan tidak bisa menebak salah satunya. Dan karena itulah, Bulan memutuskan untuk mengatakan keduanya pada Tuan David sera Nyonya Rindi. Supaya dirinya juga tak merasa bersalah.


"Gue berhadapan dengan orang yang berkuasa. Dan memang gue harus bersikap layaknya seorang petarung sejati." batin Bulan, tidak bisa terlihat klemar-klemer di depan kedua orang tua Jeno.


"Saya. Bukan. Tapi kami, sedang menangkap seorang penjahat yang selama ini menjadi buronan polisi." jelas Bulan langsung ke pokok permasalahan.


Tuan David tersenyum senang. Beliau sudah menebak, Bulan bukan tipikal orang yang suka berbelit-belit. Dia sosok yang tegas akan sesuatu. Dan bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Dan itulah yang beliau suka dari Bulan.


"Tunggu. Kamu tadi bilang,,, kami?" tanya Nyonya Rindi menatap Bulan dengan rasa heran bercampur penasaran.


"Lalu kamu bilang penjahat." lanjut Nyonya Rindi yang merasa kebingungan.

__ADS_1


"Ma,,, biarkan Bulan menjelaskan dulu. Setelah itu, mama bisa bertanya." tutur Tuan David dengan nada lembut. Beliau tentunya tidak mau sang istri merasa direndahkan olehnya dihadapan orang lain. Apalagi Bulan.


Nyonya Rindi mengangguk paham. Beliau paham dan tidak marah pada sang suami. Karena Nyonya Rindi tahu kenapa sang suaminya menegur dirinya seperti itu.


Jeno, dia menatap Bulan dengan lamat. Dirinya benar-benar tak menyangka, jika Bulan akan menjelaskan kepada kedua orang tuanya tanpa rasa takut. Apalagi misi ini termasuk misi rahasia.


"Padahal, jika Bulan tidak mau menceritakan, pasti papa dan mama juga tidak akan memaksa Bulan untuk menjelaskan apa yang terjadi." batin Jeno, yang memang bingung dengan pemikiran Bulan yang memilih menceritakan apa yang sedang mereka kerjakan.


"Apa itu tidak berbahaya." batin Jeno.


Jeno bukannya tidak percaya pada kedua orang tuanya. Hanya saja, Jeno mengenal sifat sang mama yang biasanya akan keceplosan saat berbicara dengan orang lain. "Semoga mulut mama benar-benar terkunci kali ini." batin Jeno merasa khawatir.


Jika sang papa, Jeno sama sekali tidak khawatir. Sebab Tuan David memang tipikal orang yang sangat pandai menyimpan rahasia. Dan pastinya Tuan David tak mungkin keceplosan saat berbicara.


"Saya Bulan. Saya adalah polwan. Bukan tenaga pengajar. Dan saya rasa, om David dan tante Rindi tahu semua itu." ujar Bulan dengan tenang memperkenalkan dirinya.


Jeno mengerutkan keningnya mendengar apa yang Bulan katakan. Dan tebakannya benar. Jika Bulan akan memberitakan semuanya pada kedua orang tuanya. "Apa tujuan Bulan menceritakan pada mama dan papa." batin Jeno.


Jeno tahu, jika Bulan tidak mungkin begitu saja mengatakan pada kedua orang tuanya tentang apa yang terjadi. Jeno menebak, jika Bulan juga mempunyai rencana lain karena terpaksa melibatkan kedua orang tuanya.


Sedari tadi, Jeno sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Dirinya tahu, bagaimana cara menempatkan diri. Dan kapan dia harus speak up. Mengeluarkan suaranya.


Dan dalam keadaan seperti ini, Jeno hanya akan menjadi pendengar yang baik. Sambil menyelami semua yang diperbincangkan oleh ketiganya. Tanpa menganggu apa yang akan mereka bicarakan.


Jeno menatap ke arah kedua orang tuanya. Dimana keduanya tampak santai dan sama sekali tidak terkejut mendengar pernyataan Bulan, jika dirinya bukan seorang tenaga pengajar. "Mama sama papa tahu, jika Bulan bukan guru." batin Jeno terkejut.


Tuan David hanya tersenyum. Dirinya tak terkejut jika Bulan mengetahui, jika dirinya telah menyelidiki siapa Bulan. Dilihat dari pekerjaan, hingga kepribadian Bulan, Tuan David yakin jika tingkat kewaspadaan Bulan di atas rata-rata manusia normal.


Dan Nyonya Ratna tersenyum canggung. Seolah dirinya baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang seharusnya tak dia lakukan.


"Dan mengenai penjahat. Pasti tante dan om sudah mendengar kasus, bahkan mungkin mengetahui tetang pembunuhan, yang dimana korbannya kebanyakan adalah murid yang berseragam putih abu-abu." jelas Bulan.


"Maksud kamu, kalian sedang menyelidiki kasus tersebut?" tanya Nyonya Rindi memastikan.


"Benar tante. Bukan hanya saya. Tapi kami. Saya sendiri bersama sahabat saya. Jeno, Jevo, Arya, dan juga Mikel." papar Bulan menyebutkan siapa saja yang ikut terlihat di dalamnya.


Tampak wajah Nyonya Rindi berubah khawatir. "Dimana Jevo?" tanya Nyonya Rindi.


"Dia sedang menjaga tiga orang yang akan menjadi saksi, dan juga akan menjadi korban sang pembunuh. Bersama Arya dan Mikel." jelas Bulan mengatakan uang sebenarnya.


"Kalian sudah menemukan orangnya?" tanya Nyonya Rindi dengan raut wajah cemas.

__ADS_1


Bulan mengangguk. "Sudah." sahut Bulan.


"Pa..." Nyonya Rindi menatap sang suami.


"Tenang ma. Bulan pasti sudah merencanakan semuanya dengan baik. Mama percaya pada Bulan."


"Tetap saja mama khawatir pada mereka. Bukan hanya Jevo dan Jeno. Tapi semuanya. Apalagi, pembunuh tersebut seperti belut. Licin sekali. Pihak berwajib saja tak bisa menangkapnya." jelas Nyonya Rindi yang merasa ketakutan.


"Dan yang saya dengar, ada satu korban yang selamat." lanjut Nyonya Rindi.


Nyonya Rindi menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. "Apakah kamu?" tanya Nyonya Rindi menebak, jika Bulan yang menyelamatkannya.


Bulan mengangguk pelan. "Iya tante."


"Jika kalian sudah mengetahui pelakunya, kenapa kalian tidak segera menangkapnya. Menyerahkannya pada pihak berwajib."


"Ma,,, semua tidak sesederhana yang mama pikirkan." ujar Jeno mengeluarkan suaranya. Sedangkan Tuan David kini hanya diam. Beliau menyimak dengan teliti apa yang Bulan jelaskan.


"Tante tenang saja. Sebentar lagi semua akan Bulan ungkap. Tapi setelah semua bukti terkumpul semua. Pelaku bukan orang bodoh tante. Dia sangat cerdas memainkan peran." jelas Bulan.


"Kalian harus berhati-hati. Jika kalian membutuhkan bantuan, katakan saja. Mungkin tenaga tambahan. Saya punya banyak orang yang handal dalam bidangnya." jelas Tuan David.


"Boleh, Bulan meminta sesuatu?" tanya Bulan dengan sopan.


"Katakan. Pasti saya akan membantu sebisa mungkin." sahut Tuan David.


Bulan tersenyum. "Untuk saat ini, kami tidak memerlukan apapun om. Hanya saja, Bulan meminta untuk om dan tante, supaya tidak menceritakan apa yang Bulan katakan pada orang lain." pinta Bulan dengan sopan.


"Pasti. Kamu tenang saja. Tanpa menggunakan kunci, mulut om sudah terkunci." ujar Tuan David, lalu melirik ke samping. Dimana ada sang istri yang duduk di sampingnya. "Tapi maaf, om tidak bisa menjamin kalau istri om juga bisa mengunci mulutnya." lanjut Tuan David menggoda sang istri.


Nyonya Rindi langsung menatap horor ke arah sang suami. "Papa pikir mulut mama ember." sinis Nyonya Rindi tak terima.


Plak... Tangan Nyonya Rindi mendarat di lengan sang suami. "Enak saja. Maka itu juga bisa menjaga rahasia." ketus Nyonya Rindi merasa kesal pada sang suami yang menuduhnya tak bisa menjaga rahasia.


Kenyataannya, Tuan David sengaja menggoda sang istri untuk mencairkan suasana. Apalagi beliau melihat jika sang istri merasakan kecemasan akan keselamatan Bulan serta yang lainnya. Sebab mereka berhadapan dengan seseorang yang sangat kejam.


"Titip kedua putra tante. Juga Arya dan Mikel." tutur Nyonya Rindi.


Belum sempat Bulan menjawabnya, Jeno terlebih dahulu mengeluarkan suaranya. "Ma,,, Jeno ini lelaki. Jeno yang seharusnya melindungi Bulan. Mama ini..." sungut Jeno, merasa direndahkan sang mama di depan Bulan.


Bulan hanya tersenyum mendengar ucapan tak sukanya Jeno akan kalimat yang dilontarkan Nyonya Rindi. "Ya,,, mama cuma bicara apa adanya. Memang kamu sudah bisa melindungi Bulan." ejek sang mama yang malah menyudutkannya.

__ADS_1


Jeno melengos sembari mengumpat dalam hati. Dimana seharusnya sang mama mengatakan hal yang membuat Jeno terlihat keren di mata Bulan, malah Nyonya Rindi menjatuhkan Jeno.


"Mama,,, padahal Jeno ini anak mama. Bukannya dipuji-puji di depan Bulan. Malah di jatuhkan. Sakit ma,,, sakit....!!" seru Jeno yang hanya berani dia ungkapkan dalam hati.


__ADS_2