
Pagi hari, Jeno terlebih dulu bangun dari tidur lelapnya. "Jika saja hari ini aku tidak ada ujian, pasti aku memilih tetap berada di atas ranjang ini. Tidur berdua dengan kamu,, sayang." lirih Jeno, tanpa berani menggerakkan badannya.
Bermaksud akan membolos sekolah. Bermalas-malasan, menemani Bulan di atas ranjang empuk nan hangat.
Ditatapnya wajah perempuan cantik didepannya dengan penuh damba. Ingin sekali Jeno mencium wajah damai Bulan yang masih terlelap dalam tidur indahnya.
Namun Jeno menahan keinginannya tersebut. Dirinya tak ingin membangunkan tidur nyenyak sang kekasih. "Cantik sekali calon istriku." lirihnya menatap wajah Bulan tanpa rasa bosan.
"Siall...!!" gerutu Jeno menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dengan pelan. Hanya karena menatap bibir seksi milik Bulan, junior Jeno semakin menegang ingin dimanjakan.
Pagi hari memang hal lumrah bagi semua lelaki mengalami hal tersebut. Yakni junior miliknya menegang (ereksi).
Hanya saja, hasratnya semakin bertambah manakala Jeno melihat bibir seksi milik Bulan. Bagai buah ceri, yang seakan meminta untuk dilumat dengan rakus.
Jeno menghentikan gerakannya, saat Bulan bergerak. Sejenak, ditatapnya sang kekasih. Merasa Bulan kembali tertidur lagi, Jeno segera meninggalkan ranjang empuk tersebut dengan pelan.
"Huffftttt...." Jeno menghela nafas lega. Seakan dirinya berhasil kabur dari bahaya besar yang mengintainya. Padahal,,, Jeno hanya tak ingin Bulan terbangun karena merasa terganggu akan dirinya yang bergerak.
Jeno segera masuk ke dalam kamar, tak sanggup lagi menahan rasa karena ingin dipuaskan. Bisa saja Jeno meminta Bulan memuaskan nafsunya tanpa mereka berdua berhubungan badan.
Tapi pertanyaannya, apakah Bulan bersedia. Dengan suka rela melakukan apa yang diinginkan sang kekasih. Atau malah akan marah dan meninggalkan Jeno jika Jeno meminta hal tersebut. Lantaran keduanya belum terikat pernikahan.
Beruntung, dia adalah Jeno. Bukan Jevo. Lelaki yang belum pernah berhubungan dengan perempuan. Jeno juga bertekad sedari awal. Jika tidak akan pernah melakukan hal tersebut sebelum hubungan mereka sah di mata hukum dan agama.
Meski tanpa berhubungan badan secara langsung, mereka bisa melakukannya. Tapi Jeno tak akan pernah melakukannya atau meminta pada Bulan. Jeno akan tetap berjalan di garisnya. Menjaga Bulan sebagai calon istrinya. Menantu kebanggan dari keluarganya.
Tak lupa Jeno mengunci pintu kamar mandi. Bermain solo dengan sabun, memuaskan juniornya menggunakan tangannya yang memang selalu dia gunakan di saat pentingBulanBulan seperti itu.
Jeno tanpa sehelai benang di badan kekarnya. Berdiri di bawah guyuran air shower. Dengan kedua mata terpejam, dan sedikit mendongakkan kepalanya ke atas. "Bulan..." lirih Jeno membayangkan wajah sang kekasih.
Tak berselang lama, setelah mendapatkan pelepasan, Jeno segera membersihkan seluruh badannya. Keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di perutnya. Menutupi bawah pusar hingga atas lutut.
Badan yang masih tersisa sedikit air, dengan rambut basah. Membuat Jeno tampak lebih segar dan sangat mempesona. Sayangnya, Bulan belum membuka kedua matanya.
Jika saja Bulan melihat keindahan yang tersaji di depannya. Pasti mulut Bulan akan terbuka dengan air liur keluar dari dalam. Jeno,,,, sungguh seksi.
Ditatapnya sang kekasih yang masih enggan membuka kedua matanya di atas kasur. Bukannya segera memakai seragam sekolahnya, Jeno berjalan mendekati pintu serta yang terhubung dengan balkon.
Menekan tombol yang berada di sebelah pintu. Secara otomatis, benda keluar dari atas, mirip seperti tirai. Diantara pintu dan tirai. Hanya saja berwarna gelap, dan tidak terbuat dari kain.
Benda tersebut menutupi pintu kaca yang terhubung dengan balkon. Membuat suasana nampak seperti malam. "Selesai. Tetaplah nyaman dalam mimpi kamu sayang." lirih Jeno tersenyum penuh makna.
Jeno berharap Bulan akan tetap berada di dalam dunia mimpi. Sehingga saat dirinya kembali, Bulan masih berada di atas ranjang.
Jeno sengaja tidak membangunkan Bulan. Dirinya tahu dengan pasti jadwal Bulan di sekolah. Dan hari ini, Bulan tidak mempunyai jam untuk menunggu anak didiknya melaksanakan ujian. Sehingga Jeno membiarkan Bulan tetap berada di alam mimpi.
Lagi pula, Jeno menebak jika sang kekasih sangat kekurangan jam istirahat. Dengan apa yang terjadi selama ini. Ditambah sekarang Bulan sedang menyelidiki masalah serius yang melibatkan nama-nama besar dan berkuasa.
Terlebih Jeno hanya akan menghabiskan waktu sebentar berada di sekolah. Tidak seperti biasanya, sebab hari ini dirinya bersama semua siswa kelas satu dan dua SMA akan melaksanakan ujian kenaikan kelas.
Tanpa membuang waktu, Jeno segera bergegas meninggalkan apartemen untuk pergi ke sekolah. Meski hati kecilnya sangat enggan untuk pergi ke sekolah, hanya saja Jeno tak ingin jika sampai mendapatkan nilai jelek.
Terlebih ada hadiah yang akan dia dapat jika mendapat nilai terbaik. Siapa yang tidak tergoda. "Sayang, aku akan mendapatkan nilai terbaik. Persiapkan dirimu untuk membawaku menemui keluarga kamu, sayang." lirih Jeno di dalam mobil, melaju menuju ke sekolah.
Di kediaman Pak Darto, Nyonya Irawan dan Sapna duduk santai di belakang rumah bersama istri dari pak Darto, ketiganya berbincang santai.
Sedangkan putri dari pak Darto, Sella, sudah pergi ke sekolah. Juga dengan pak Darto yang juga sudah tidak berada di rumah. Sebab beliau juga sudah berangkat untuk bekerja.
Momen tersebut dimanfaatkan oleh Nyonya Irawan menceritakan kejadian yang menimpanya. Hanya saja, Nyonya Irawan melakukannya sesuai dengan apa yang Bulan katakan. Tidak menyebut nama siapapun, entah dari pihak Bulan, atau mereka yang menyekapnya.
Sementara pak Darto merasa cemas. Sejak semalam, sejak kedatangan istri dan anak dari rekannya, pak Bimo, dia tidak bisa tenang. Bahkan pak Darto tidak bisa memejamkan kedua matanya sama sekali.
Dirinya sekarang dalam kebingungan. Apalagi Nyonya Irawan dan Sapna berada di rumahnya. Mengatakan pada yang lain atau tidak tentang keberadaan mereka di rumahnya, itulah yang mengganjal dalam benaknya.
__ADS_1
Pak Darto menyenderkan punggungnya di kursi. Benaknya penuh dengan istri dan anak pak Bimo yang sekarang berada di rumahnya. ''Sial...!! Apa yang harus gue lakukan?!" geramnya ketar-ketir.
"Apa mereka sudah tahu, jika anak istri dari Bimo lepas dari rumah mewah itu." ujar pak Darto.
Tak berselang lama, ponsel milik pak Darto berdering. Nampak panggilan telepon dari Tuan Tene. "Pasti mereka sudah tahu." batinnya, tak berniat mengangkat panggilan telepon dari rekannya tersebut.
Sebab pak Darto belum menemukan kalimat yang tepat untuk mengatakannya. Dirinya takut serta khawatir dipersalahkan. Dan akan menjadi tertuduh, dengan keberadaan mereka berdua di rumahnya.
"Siapa yang menyerang rumah itu. Menghabisi semua orang yang ada di sana. Hingga mereka berdua dengan mudah meloloskan diri." gumam pak Darto penasaran.
Ponsel yang telah mati, kembali berbunyi kembali. Dan kini sebuah pesan tertulis masuk ke dalam ponselnya. "Aaa...!! Apa yang harus aku lakukan?!" ujarnya cemas setelah membaca pesan dari Tuan Tene.
Dan disinilah mereka bertiga berkumpul. Tanpa pak Bimo. Hanya ada Tuan Tene, Tuan Zain, dan pak Darto. Mereka bertiga juga tidak mengajak bawahan atau orang kepercayaan mereka.
Ketiganya memasang raut wajah marah serta khawatir yang bercampur menjadi satu. "Bagaimana dengan Bimo?" tanya Tuan Zain membuka percakapan.
"Dia bekerja seperti biasa. Bahkan orang suruhan mengatakan jika anak dan istrinya tidak berada di rumahnya." sahut Tuan Tene.
"Tidakkah dia bersikap mencurigakan?" tanya Tuan Zain.
"Tidak. Dia seperti biasa." tukas Tuan Tene. Dimana dia memang mengirim seseorang untuk memantau setiap pergerakan dan apa saja yang dilakukan pak Bimo.
Sedangkan Pak Darto masih terdiam. Pikirannya bercabang. Tentunya dirinya berada dalam dilema. Mengatakan yang sejujurnya atau tidak.
Baru saja Pak Darto ingin mengeluarkan suaranya, tapi tercekat saat Tuan Tene mengatakan sesuatu. "Aku tidak akan melepaskan siapapun yang mengobrak-abrik rumah itu." geramnya.
"Sekarang lebih baik kita mencari keberadaan mereka. Pasti keduanya disembunyikan oleh orang yang menolongnya." lanjut Tuan Tene.
Yang secara tidak langsung menuduh orang yang menolong mereka berdua juga menyembunyikan keduanya.
"Darto... Apa kamu sudah melakukan tugasmu?" tanya Tuan Zain.
Pak Darto mengangguk. "Tentu. Sampai sekarang Bulan masih mengajar di SMA. Dia belum melakukan pergerakan apapun." tukas Pak Darto.
"Tidak bisa. Kelihatannya penyerangan ini sudah direncanakan dengan baik oleh seseorang. Bukan hanya kamera CCTV yang rusak. Bahkan, alat komunikasi di sana juga tidak berfungsi seperti biasanya." jelas Tuan Zain.
"Bisa dipastikan. Mereka yang menyerang adalah sekelompok orang yang sudah terlatih. Buktinya saja semua orang kita dihabisi dengan mudah." timpal Tuan Tene.
"Kita harus segera mencari keberadaan mereka berdua. Jangan sampai mereka akan menjadi batu sandungan kita. Dan membuat kita berada di dalam masalah." tukas Tuan Zain yang mendapat anggukan dari Tuan Tene.
Berbeda dengan Pak Darto yang merasa cemas karena keluarga Pak Bimo yang berada di rumahnya. Dan juga Tuan Tene dan Tuan Zain yang hanya bisa menahan amarah, pak Bimo kini tersenyum sempurna mendengar kabar menyenangkan tersebut.
"Terimakasih Bulan. Kamu sudah membuktikan dan melakukan apa yang kamu katakan dengan baik. Terimakasih." batin pak Bimo salut dengan apa yang dilakukan Bulan.
Meski dirinya hanya bisa mendengar suara mereka berdua lewat sambungan telepon, dan tak bisa bertemu langsung dengan anak dan istrinya, tapi hal tersebut lebih dari kata cukup.
"Sekarang aku akan bertindak sesuai dengan keinginanku." ujar pak Bimo tersenyum. Ditangannya menggenggam sebuah flash disk. Entah apa isi dari flash disk tersebut.
Pak Bimo mengetahui jika selama ini dirinya selalu di awasi dari kejauhan oleh seseorang. Bahkan beliau menebak, jika ada orang dalam yang selalu melaporkan setiap gerakannya saat dia berada di rumah. Yakni salah satu pembantu di rumahnya.
Seolah mata beliau membuta, serta menulikan kedua telinganya. Bersikap bodoh, seakan tidak tahu apapun. Sebab pak Bimo sadar, bukan hanya nyawanya saja yang terancam. Melainkan sang istri tercinta dan putri tersayang.
Penyesalan selalu datang di akhir. Itulah yang sekarang pak Bimo alami dan rasakan. Uang yang menurutnya tak seberapa, membuat kehidupannya yang tentram terusik. Bahkan terancam berantakan. Terutama rasa cemas akan kedua orang yang disayangnya, yang selalu berdekatan dengan serangan.
Di sekolah, Jeno dan para siswa lainnya berada di dalam kelas. Suasana sangat sepi. Tak seperti biasanya. Semua murid fokus pada lembar kertas yang ada di hadapan mereka.
Teeeettt........ bel tanda selesai melaksanakan ujian berbunyi.
"Letakkan pensil kalian, segera kumpulkan lembar jawaban ke depan." seru guru pengawasan memberi perintah sembari berdiri di depan para murid.
Dengan cepat para siswa yang belum selesai mengerjakan soal segera memberikan jawaban mereka dengan asal. Yang ada dalam benak mereka asalkan lembar jawaban terisi penuh. Entah itu benar atau tidak.
Sedangkan mereka yang sudah selesai melenggang ke depan. Mengumpulkan lembar jawaban mereka di meja guru.
__ADS_1
Jevo menatap ke arah saudara kembarnya dengan heran. Juga semua murid di kelas mereka. Biasanya Jeno akan menjadi yang paling pertama mengumpulkan tugas.
Namun kali ini mereka melihat pemandangan tak biasa. Jeno masih duduk, melihat dengan seksama ke arah lembar jawaban yang dia pegang.
Arya menyenggol bahu Jevo. "Kenapa?" tanya Arya seraya mengangkat dagunya ke arah tempat Jeno duduk.
Jevo menggedikkan kedua pundaknya. Tanda dirinya juga tak tahu. "Kalian berdua jangan berdiri di tengah jalan. Minggir..." bentak Mikel.
Jevo dan Arya berjalan maju. "Kenapa lembar jawaban elo?" tanya Mikel, berharap Jeno menjawab pertanyannya.
Mikel melongo serta mendengus sebal manakala Jeno mengacuhkannya dan malah berdiri, mengumpulkan lembar jawabannya bersama murid lainnya. "Dasar kanebo kering." celetuk Mikel.
Di depan, Moza melirik ke arah Jevo. Saat keduanya bersamaan mengumpulkan lembar jawaban mereka. "Aaa...!" teriak Moza, tubuhnya di tabrak murid lain dari samping. Sehingga tubuh Moza terhuyung ke samping. Beruntung Jevo yang berada di samping Moza dengan sigap menangkap tubuh mungil tersebut.
"Kenapa elo suka sekali melemparkan diri elo dalam bahaya?!" tanya Jevo menyindir Moza.
Jevo melepaskan tangannya di tubuh Moza. Segera Moza menegakkan badannya. "Terimakasih." cicit Moza dengan kedua pipi bersemu memerah.
"Simpan terimakasih elo." ketus Jevo meninggalkan kelas.
"Jevo memang play boy. Tapi dia tipe pemilih." bisik Arya tersenyum miring.
Mikel merangkul pundak Arya, membawanya keluar dari kelas. Menyusul langkah Jevo yang terlebih dulu meninggalkan kelas.
Moza berjalan pelan meninggalkan kelas. Perkataan dari Arya terngiang dalam benaknya. "Memang gue sejelek itu." gerutu Moza merasa perkataan Arya bertujuan mematahkan semangatnya untuk mengejar Jevo.
Langkah Moza terhenti, saat dirinya melihat sosok Claudia dengan baju bebas berjalan di samping Jevo. "Claudia memang seksi." gumam Moza, menatap sendiri ke arah badannya.
Sebenarnya Claudia sudah tidak perlu masuk ke sekolah. Sebab murid kelas tiga telah selesai melaksanakan ujian kelulusan. Hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan.
Claudia datang tentunya bertujuan untuk menemui Jevo. Sekaligus memastikan apakah Arya dan Mikel semalam mengatakan pada Jevo atau tidak.
Jevo terlihat acuh. Berjalan dengan santai tak menghiraukan Claudia yang bergelendot manja di lengannya.
Memang Claudianya saja yang bermuka badak. Tak tahu malu. Padahal Jevo sudah tidak menganggapnya. Tetap saja Claudia bagai ulat yang menempel pada daun.
Moza hanya bisa menghela nafas panjang melihat mereka berdua. "Jangan minder Moza,,, semangat. Elo tak kalah cantik dari Claudia. Meskipun,,, badan elo tak seseksi Claudia." tutur Moza menyemangati dirinya sendiri.
Moza tersenyum licik. Kelihatannya ucapan dari Jevo beberapa jam yang lalu tidak akan dia anggap. Moza berlari menuju ke area parkir. Melewati jalan lain, supaya lebih cepat sampai ke area parkir. Mobil Jevo adalah tujuan utamanya.
Jevo menaikkan sebelah alisnya, melihat keberadaan Moza yang berdiri di dekat mobil. Menyenderkan badannya di badan mobil.
"Kenapa tuh anak di sana?" tanya Claudia dengan nada kesal bercampur cemburu.
"Jevo...!" panggil Moza terlihat akrab, sambil melambaikan tangannya.
Mikel dan Arya yang melihatnyapun hanya bisa tersenyum samar. "Lebih baik kita tidak ikut campur." bisik Mikel, membawa Arya pergi ke mobil mereka.
Mikel dan Arya berangkat sekolah bersamaan. Semalam Arya menginap di apartemen Mikel. Bahkan bukan hanya Arya, Gara pun juga bermalam di sana. Dan saat ini, Gara masih berada di apartemen milik Mikel.
Claudia dan Jevo memandang tajam ke arah Moza. "Menjauh dari mobil pacar gue." tegas Claudia mengusir Moza.
"Jevo,,, kamu masih ingatkan pesan tante Rindi." tukas Moza, dengan pandangan mengejek ke arah Claudia.
Jevo menghela nafas panjang. Melepaskan tangan Claudia dari lengannya. "Baiklah, jika itu yang kamu inginkan." batin Jevo, karena Moza tidak mengindahkan ucapannya tadi pagi.
Jevo membuka pintu mobil. "Masuk." pinta Jevo tanpa menatap ke arah Moza.
Moza tersenyum penuh kemenangan. "Claudia,,, kami duluan. Da...." ejek Moza.
Claudia hanya bisa menahan rasa kesalnya. Kedua tangannya terkepal kuat. Menatap kepergian keduanya dengan amarah membuncah.
"Moza....!!!" serunya tak terima dengan apa yang dia terima. Claudia tak peduli, semua murid di area parkir menatap aneh ke arahnya.
__ADS_1
"Moza,,,, gue akan membuat hidup elo penuh penderitaan. Lihat saja apa yang akan gue lakukan." batin Claudia ingin membalas apa yang dilakukan Moza pada dirinya.