
Sama seperti Sella, Claudia menggeleng tak percaya dengan apa yang dia lihat. "Bagaimana perempuan sialan itu bisa masuk ke dalam keluarga Jeno dengan mudah. Apa yang dia berikan pada Jeno?!" geram Claudia.
Claudia duduk di kursi ruang tamu. Menggigit jarinya tak percaya dengan apa yang dia saksikan di layar ponselnya. "Dia tidak pantas masuk ke dalam keluarga Jevo. Tidak. Gue tidak akan membiarkannya." geram Claudia, tersenyum sinis. Yang pastinya otak kecilnya sudah merencanakan hal busuk dan jahat untuk Bulan.
Claudia mematikan ponselnya. Menatap ke depan, dimana hanya ada tembok di depannya. "Jangan bermimpi menjadi angsa. Karena itik buruk rupa, selamanya akan menjadi itik buruk rupa." ejek Claudia pada Bulan.
Baru saja Claudia beranjak dari duduknya. Suara bel berbunyi. Menandakan ada orang yang berdiri di depan pintu. "Apa mungkin Revan?" cicit Claudia menebak.
Claudia tak segera membukanya. Padahal bel terus berbunyi. "Jika Revan, dia tidak mungkin membunyikan bel. Tapi siapa?" tanya Claudia pada dirinya sendiri.
Jika yang datang Revan, pasti dia akan langsung masuk ke dalam rumah. Sebab dia tahu nomor sandi pintu apartemennya.
"Cckk,,,, siapa coba." Dengan malas, Claudia melangkahkan kaki untuk membuka pintu.
Saat pintu sudah terbuka, seorang lelaki dengan pakaian rapi berdiri di depan pintu apartemen Revan sembari membawa sebuah tas hitam di tangannya.
"Selamat malam. Apa Tuan Revan ada di dalam?" tanya lelaki tersebut dengan ramah.
Claudia menggeleng. "Dia keluar untuk beberapa hari. Ada urusan di luar. Ada apa?" tanya Claudia dengan nada angkuh, berbohong pada lelaki di depannya.
"Boleh saya masuk terlebih dahulu. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Dan saya berharap, anda bisa menyampaikannya pada Tuan Revan. Karena pihak kami menghubunginya beberapa kali. Namun nomor ponselnya tidak aktif." jelasnya.
"Kami." batin Claudia.
"Memang kamu siapa?!" tanya Claudia dengan pandangan menyelidik.
"Saya karyawan yang bekerja di kantor pegadaian. Bisa kita bicara di dalam." ajak lelaki tersebut untuk kedua kalinya.
"Pegadaian." lirih Claudia mengernyitkan keningnya. Perasaan Claudia langsung merasa tidak enak.
Claudia hanya membalikkan badan, dan berjalan menuju kursi ruang tamu. Sedangkan tamu tak diundang tersebut mengekor di belakangnya. "Katakan ada apa?!" pinta Claudia, tanpa sopan. Membiarkan lelaki tersebut tetap berdiri.
Sang lelaki tanpa disuruh duduk oleh Claudia, dia mendaratkan pantatnya di kursi. Mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tas yang dia bawa.
"Silahkan di baca." lelaki tersebut memberikan selembar kertas pada Claudia
"Langsung saja jelaskan. Tidak perlu bertele-tele." pinta Claudia dengan jutek. Dirinya terlalu malas meladeni urusan yang memang bukan masalahnya. Terlebih, dirinya saat ini memang sedang dalam mode galak karena video yang baru saja dia lihat di ponsel.
Lelaki tersebut menghela nafas, mencoba bersabar menghadapi perempuan seperti Claudia. "Baik." sahutnya.
"Tuan Revan meminjam uang ditempat kami dengan jumlah yang besar. Sebagai jaminannya, Tuan Revan memberikan bukti kepemilikan apartemen ini pada kami. Dan...."
Claudia melongo. "Tunggu... Jadi, apartemen ini bukan milik Revan?" tanya Claudia memotong kalimat lelaki tersebut.
"Apartemen ini masih menjadi milik Tuan Revan. Tapi, apabila beliau membayar setiap bulan uang yang beliau pinjam. Hingga utang Tuan Revan lunas."
"Memangnya, berapa biaya yang harus dibayar Revan setiap bulan?"
Lelaki tersebut menyodorkan kertas di meja untuk dilihat oleh Claudia. "Semua tertera di kertas ini. Termasuk bunga, serta perjanjian jika Tuan Revan tidak bisa membayar hutangnya."
Claudia langsung menyerobot dengan kasar lembar kertas di atas meja. Mulutnya melongo dengan kedua mata terbuka lebar melihat jumlah hutang Revan, serta uang uang harus dikeluarkan perbulan untuk mencicil hutang tersebut.
"Gila. Untuk apa Revan berhutang sebanyak ini. Apa jangan-jangan uang di dalam laci tersebut sebagian uang yang di hutang Revan." batin Claudia menebak.
Claudia menatap ke arah lelaki di depannya. "Bisa jadi elo berbohong." tuduh Claudia tidak percaya.
"Anda bisa lihat di kertas tersebut Nona. Kertas yang anda pegang berkekuatan hukum. Selain itu, surat kepemilikan apartemen ini ada pada kami." jelasnya mematahkan tuduhan Claudia.
"Gue nggak tahu soal ini. Dan gue,,, nggak ada hubungannya dengan hutang Revan." tukas Claudia dengan tenang. Berharap masih bisa tidur nyenyak di apartemen Revan.
"Saya hanya ingin memberitahu. Kami akan menunggu hingga besok. Jika Tuan Revan tidak membayar cicilan hutangnya bulan ini, kami akan mengambil alih apartemen ini."
"What...!! Apa maksud elo?! Nggak bisa...!! Revan belum ada. Dan gue hanya numpang di sini. Jadi, lebih baik kalian nunggu Revan datang saja." ujar Claudia mencoba bernegosiasi untuk dia tetap tinggal di apartemen Revan.
"Masa iya gue keluar dari sini. Mau kemana gue. Gila saja. Gue ogah kembali ke rumah mama." batin Claudia.
__ADS_1
"Maaf. Kami tidak peduli, keberadaan Nona di sini sebagai apa. Kami akan menunggu uang dari Tuan Revan hingga besok pagi. Jika sampai besok Tuan Revan tidak membayar hutangnya bulan ini, kami akan mengambil alih apartemen ini." tegas lelaki tersebut.
"Jangan seenaknya mengambil apartemen ini...!!" seru Claudia tidak mau keluar dari apartemen.
"Kami mempunyai surat perjanjian. Dan kami akan mambawa pihak keamanan untuk mengosongkan apartemen ini besok. Permisi." tutur lelaki tersebut.
Lalu pergi meninggalkan apartemen Revan. Membiarkan Claudia sendirian dengan pikirannya yang semakin runyam.
Claudia menjambak rambutnya dengan kasar. "Lalu bagaimana dengan gue?!" teriak Claudia meluapkan emosinya.
Claudia kembali menghubungi nomor ponsel Revan. Tapi tetap saja seperti hari sebelumnya. Nomor ponsel Revan tidak aktif. "Revan... Sialan..!!! Apa jangan-jangan dia sengaja pergi. Meninggalkan gue di sini sendiri. Bajingan..!!" teriak Claudia.
"Astaga...!! Apa yang harus gue lakukan..?!" geram Claudia.
Claudia berdiri, masuk ke dalam kamar Revan dengan mulut yang terus mengomel. Sumpah serapah terus keluar dari mulutnya untuk Revan.
Claudia mengambil semua barang Revan yang berharga. Termasuk uang yang dia pakai beberapa hari terakhir. Dia memasukkannya ke dalam tas miliknya.
"Lebih baik gue kembali ke rumah. Dari pada gue jadi gembel." tukas Claudia, meninggalkan kamar Revan.
Tak ada baju atau apapun yang dibawa Claudia pergi dari apartemen Revan. Sebab, dirinya memang tidak membawa apapun saat datang. Selain pakaian serta sepatu yang dia pakai. Karena semua barangnya ada di dalam mobil yang dibawa pencuri.
Bahkan, selama di apartemen Revan, Claudia hanya membeli beberapa potong pakaian dalam. Untuk pakaian sehari-harinya, dia memakai pakaian milik Revan. Kaos dan celana, serta jaket.
"Mana Revan nggak ninggalin mobil. Dasar lelaki brengsek....!! Awas saja jika gue bertemu dia. Gua akan membuat dia menyesal, karena telah meninggalkan gue seperti ini." omel Claudia sembari berjalan di lorong apartemen.
Claudia menaiki taksi online yang sebelumnya dia pesan melalui aplikasi. Menyebutkan alamat rumah sang mama pada sang sopir, dimana dirinya juga sedari kecil tinggal di sana.
Setelah sampai di alamat yang dia tuju, Claudia turun dari taksi setelah membayar ongkosnya. "Tumben sepi. Gelap lagi." cicit Claudia melihat ke rumah dari jalan.
"Di kunci. Tumben." gumam Claudia, mendapati pagar yang biasanya tidak pernah terkunci kini terkunci.
"Pak...!!! Heloo...!! Pak....!! Buka...!!" teriak Claudia sembari menggoyangkan pagar besi di depannya. Berharap pak satpam di dalam mendengar suara teriakannya.
"Apa kalian itu tuli...!!" geram Claudia.
Claudia mengeluarkan ponselnya. Apalagi yang bisa dia lakukan, selain menghubungi sang mama. "Halo ma,,, suruh pembantu buka pagarnya. Claudia sekarang ada di depan." cerocos Claudia begitu panggilan teleponnya di terima oleh sang mama.
Claudia terhenyak mendengar suara lelaki yang menjawab perkataannya. Claudia menjauhkan ponselnya dari telinga, melihat ke arah layar. Memastikan jika dia tidak salah menelpon orang. "Benar. Ini nomor mama. Tapi kenapa suara lelaki yang menerimanya." cicit Claudia.
"Halo...." segera Claudia mendekatkan lagi ponselnya ke telinganya.
Dan kali ini, suara sang mama yang menyahuti perkataannya. "Ma,,,, tasi siapa? Astaga...!! Nggak penting juga gue tanya itu. Ma,,,,, buka gerbangnya. Claudia ada di depan." pinta Claudia.
Claudia terdiam mendengar apa yang sang mama katakan dari balik ponsel. "Mak-maksud mama apa?!" tanya Claudia tak percaya dengan yang dia dengar.
"Ma..... Ma....!!" panggil Claudia, karena panggilannya diputus oleh sang mama secara sepihak.
Claudia memandang ponselnya. Kembali menghubungi sang mama. Sialnya, nomor telepon sang mama tidak aktif lagi. Sehingga Claudia tidak bisa menghubunginya.
"Mama...!!" geram Claudia menahan amarahnya.
Claudia melihat ke depan. Bagaimana mewah dan megahnya rumah yang ada di dalam pagar besi di depannya. "Di jual. Maka mengatakan jika mama sudah menjual rumah ini. Astaga mama....!! Lalu mama sekarang tinggal dimana?!"
Claudia benar-benar merasa syok mendengar apa yang dikatakan sang mama. Tubuhnya luruh ke bawah. Duduk berselonjor dengan menyenderkan punggungnya ke pagar.
"Lalu, siapa suara lelaki tadi?" tanya Claudia pada dirinya sendiri.
Claudia menggeleng tak percaya. "Tidak. Tidak mungkin. Mama menjual rumah. Dan ada suara lelaki saat gue menghubungi mama. Lalu mama langsung menonaktifkan ponselnya." lirih Claudia merasakan sekujur tubuhnya lemas bagai jeli.
"Terus sekarang gue mesti tinggal di mana?" cicit Claudia merasa frustasi.
Terlebih uangnya yang berada di dalam rekening pribadinya tinggal sedikit. Jumlah tersebut hanya bisa Claudia belikan makanan selama seminggu.
Uang serta barang berharga yang dia ambil dari apartemen Revan, tentu saja dia harus mengirit. Jika tidak, maka dia akan menjadi gelandangan.
__ADS_1
Claudia tidak tahu harus mencari bantuan kemana lagi. Semua teman yang pernah dekat dengannya, semua menjauh manakala sang papa terjerat hukum dan mendekam di balik jeruji besi.
"Gue nggak mungkin pergi ke rumah Tasya yang ada di desa." lirihnya. Sebab keluarga Tasya memutuskan untuk kembali ke desa. Setelah bapak Tasya tidak lagi bekerja di rumah Claudia.
Claudia meraup wajahnya dengan kasar. "Gue butuh udara segar. Otak gue berasa mau pecah." gumam Claudia.
Video Jeno dan Bulan yang tersebar di media sosial. Terusir dari apartemen Revan. Dan sekarang, Claudia mendapati rumahnya telah dijual sang mama. Dan Claudia menebak, jika sang mama sedang bersama seorang lelaki untuk bersenang-senang.
Dan bodohnya Claudia, dia memilih club malam untuk menenangkan pikiran. Duduk di meja dengan sebotol minuman beralkohol. "Maka kira, Claudia tidak bisa seperti mama. Menikmati hidup yang indah ini."
Claudia meminum minuman beralkohol tersebut langsung dari botol, tanpa menuangkan dulu ke dalam gelas. Meneguknya seperti sedang meneguk air putih.
"Teganya mama membuang Claudia. Mama sialan." oceh Claudia, kembali meneguk air dalam botol yang dia pegang.
Claudia menatap ke depan dengan tajam. Tampak pandangannya mulai kabur. "Kalian,,, kalian semua yang membuat gue seperti ini, gue.... Gue akan membalasnya. Lihat saja." oceh Claudia mulai ngelantur tak karuan.
Claudia menenggak habis air di dalam botol. Meletakkan botol kosong di atas meja. Dan kembali meminta sebotol minuman beralkohol pada sang pelayan club malam.
"Bulan gue akan membuat elo ditendang dari keluarga om David." lirih Claudia, sebab kesadarannya mulai berkurang.
Claudia terus meminum air tersebut tanpa henti. Claudia berdiri. Tapi dia tidak mampu, yang akhirnya dia malah terjatuh kembali ke sofa. "Kenapa tubuh gue terasa enteng. Rasanya sangat nyaman." oceh Claudia.
Dari meja lain, sekelompok pemuda menatap Claudia dengan intens. "Bukankah dia Claudia. Perempuan sombong. Dan sekarang, papanya mendekam di dalam penjara." ujar salah satu dari tiga lelaki tersebut.
"Benar. Perempuan angkuh dan sombong. Dan sekarang, dia terjatuh. Sungguh senang melihatnya seperi itu." ujar salah satu temannya sembari tertawa lepas.
"Apa dia masih menjalin hubungan dengan Jevo?" tanya salah satu dari mereka.
"Apa elo nggak tahu. Video Claudia beradegan intim tersebar luas. Dan lelaki itu bukan Jevo. Elo pikir, keluarga Tuan David mau menerima perempuan seperti dia." sahut lelaki lainnya.
"Tentu saja tidak. Menerima dia, berarti menerima aib. Dan malah akan membawa masalah." tukas yang lainnya.
"Berarti, sekarang dia benar-benar sendiri. Tidak ada yang akan melindunginya."
Ketiga lelaki tersebut saling pandang dengan tatapan penuh makna. Ketiganya pernah diperlakukan oleh Claudia di depan umum. Dan hal tersebut masih membekas dalam hati mereka. Yang kini berubah menjadi dendam.
Dengan serempak, ketiganya menuju ke kursi di mana Claudia terlihat tidak berdaya. Kedua lelaki memapah tubuh Claudia untuk dibawa keluar. Sedangkan seorang lagi membawa tas Claudia.
Ketiganya memasukkan Claudia ke dalam mobil. "Apa elo pada mau mencicipinya terlebih dahulu?" tanya salah satu lelaki yang duduk di kursi belakang. Bersama dengan Claudia.
"Ciihh... Najis. Gue nggak sudi. Menjijikkan. Pasti dia sudah longgar." celetuk lelaki yang duduk di belakang kursi kemudi di sambut tawa dua lelaki lainnya.
Mesin mobil mulai menyala, dan mereka perlahan meninggalkan tempat yang menjadi surga dunia para anak muda yang tersesat. "Pasti mami akan suka dengan hadiah kita malam ini."
"Dan tentunya kita juga akan mendapatkan uang yang lumayan." sahut yang lain.
Mereka terus berbincang selama di dalam mobil. Hingga mereka sampai di tempat yang mereka tuju. "Tunggu. Elo ambil barang berharga di dalam tas. Juga ponselnya sekalian. Pasti nanti akan dibuang mama." ujar salah satu lelaki mengingatkan rekannya.
"Oke. Dengan senang hati." sahut temannya yang duduk di kursi belakang.
Ketiganya membawa Claudia masuk ke dalam bangunan yang terlihat tak berpenghuni. Sangat sepi dan terbengkalai. Tapi jangan salah dulu. Di dalamnya terdapat sesuatu yang besar.
Jual beli perempuan untuk budak **** ada di dalamnya. "Mam,,,,, lihatlah hadiah untuk anda. Kami membawa sesuatu yang membaut anda senang." seru salah satu lelaki yang membawa Claudia.
Beberapa perempuan yang tinggal di sana, memandang intens ke arah Claudia. Mereka awalnya juga sama seperti Claudia. Diculik oleh seseorang dan di jual di tempat terkutuk ini.
Tapi ada juga yang datang secara suka rela. Bekerja tanpa paksaan. Sebab mereka membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
Perempuan yang dipanggil mama oleh semua orang di sana, dia adalah perempuan yang masih muda. Berpenampilan sedikit tomboy. Dengan banyak tato di tubuhnya.
Perempuan tersebut memandang Claudia dengan lekat. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kalian...!! Tunjukkan kamarnya." perintah sang mami, pada anak buahnya.
Entah apa yang terjadi pada Claudia saat dia tersadar nanti. Dan mengetahui jika dia sudah berada di tempat terkutuk ini.
Tempat yang dulu selalu dia hina. Dan tempat yang akan dia tinggali ke depannya. Sebab, jika seseorang perempuan sudah masuk ke dalam tempat ini, dia tidak akan pernah keluar. Karena pengamanannya yang memang ketat.
__ADS_1