
"Ma,,,, mama mau ke mana?" tanya Jeno, saat sang mama menenteng tas dengan pakaian rapi bersiap hendak pergi.
Bukan tanpa alasan Jeno bertanya seperti itu. Penampilan sang mama dan sang papa sangatlah berbeda.
Tuan David memakai pakaian santai. Dimana pakaian tersebut biasanya beliau gunakan untuk melakukan olah raga badminton bersama rekan-rekan kerjanya.
Yang artinya, Tuan David akan bermain badminton terlebih dahulu, sebelum beliau pergi ke perusahaan. Sementara sang mama. Tidak mungkin beliau akan pergi arisan. Sebab waktu masih terlalu pagi.
Jevo dan Tuan David hanya diam, duduk di kursi makan. Nyonya Rindi menaruh tasnya di kursi kosong sebelahnya.
"Kamu itu, berisik sekali. Cepat,, ayo kita makan. Nanti kalian terlambat." tegur Nyonya Rindi.
Padahal, mereka belum memulai sarapannya karena menunggu dirinya yang masih sibuk di dalam kamar, yang ternyata sedang berdandan.
Jevo juga memandang penasaran pada sang mama. Karena biasanya, sang mama akan selalu berada di meja makan pertama kali. Dan akan meladeni sang papa dengan penuh cinta.
Tuan David hanya tersenyum samar. Sudah dapat ditebak, jika Tuan David tahu akan ke mana sang istri pergi. "Dasar,,, mama." ucapnya dalam hati.
Mereka semua bersamaan berjalan ke depan saat sudah selesai sarapan. "Hati-hati pa." tukas Nyonya Rindi, setelah mencium punggung telapak tangan sang suami.
Jevo dan Jeno juga pergi ke sekolah dengan menaiki kendaraan mereka. Seperti biasa, Jevo naik motor kesayangannya. Dan Jeno menaiki mobil.
Jevo langsung tancap gas, setelah berpamitan pada sang mama, tanpa menunggu Jeno. "Loh ma... kenapa mama malah masuk ke mobil Jeno?" tanya Jeno, mengira jika Nyonya Rindi salah masuk.
Bukannya keluar, Nyonya Rindi malah memasang sabuk pengaman di badannya. "Ayo, kamu nanti terlambat low." ajak Nyonya Rindi.
Jeno berkedip tak percaya. "Ma, jangan aneh-aneh. Jeno mau sekolah. Mama lebih baik diantar sopir saja." tolak Jeno.
Jeno mengira jika sang mama meminta dirinya untuk mengantarkan sang mama dahulu ke suatu tempat sebelum pergi ke sekolah.
"Nanti saja, saat pulang." ujar Nyonya Rindi.
Jeno memandang sang mama dengan bingung. "Ma, memang mama mau ke mana sih?" tanya Jeno dengan kesal.
"Ya ke sekolah kamulah."
Jeno membulatkan kedua matanya. "Mau ngapain?!" tanya Jeno dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
Nyonya Rindi memasang raut wajah tak suka, mendengar sang putra seperti sedang membentaknya.
Jeno seketika langsung paham arti dari ekspresi sang mama. "Maaf,,, Jeno hanya kelepasan." cicit Jeno pelan.
"Ya sudah,,, ayo...." ajak Nyonya Rindi.
Jeno hanya menghela nafas panjang. Mulai menyalakan mesin mobilnya, dan melajukannya menuju ke sekolah.
"Ma, mama mau ngapain sih ke sekolahan Jeno?" tanya Jeno sembari menyetir.
"Ingat...!! Kami, mama dan papa kamu itu penyokong dana terbesar di sekolah kamu." tekan Nyonya Rindi dengan angkuh.
"Iya..." sahut Jeno dengan malas. Lagi-lagi Jeno terbungkam karena sang mama mengunggulkan kekayaan sang papa.
Padahal, Nyonya Rindi ingin menemui Bulan. Setelah mengetahui dari sang suami jika putra mereka Jeno menyukai Bulan, Nyonya Rindi segera ingin menemui perempuan cantik itu.
Semalam, Nyonya Rindi merengek. Meminta izin pada sang suami untuk menemui Bulan. Tuan David melarangnya. Tapi dengan kekeh, Nyonya Rindi ngeyel, hingga berpura-pura ngambek.
Alhasil, Tuan David memberi izin. Tapi dengan berbagai syarat. Salah satunya, beliau tidak boleh terlalu mencolok mendekati Bulan.
Tentu saja Nyonya Rindi menyetujui syarat dari sang suami. Tapi entahlah, saat beliau bertemu langsung dengan Bulan. Apakah Nyonya Rindi ingat akan syarat dari sang suami.
Jeno beberapa kali melirik ke samping. Dimana sang mama duduk di kursi tersebut sembari tersenyum senang. Dan anehnya lagi, Nyonya Rindi mengambil bedak dari dalam tas. Selalu melihat serta membenahi riasan di wajahnya, dari pantulan kaca bedak.
Jeno mengerutkan dahinya. "Mama seperti mau ketemu cowok saja." ucap Jeno yang hanya berani dia ucapkan dalam hati.
Tentu saja Jeno tak berani secara langsung mengatakannya. Bisa-bisa sang mama langsung mengamuk dan menceramahi dia.
Jeno memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Dilihatnya, Jevo beserta Mikel dan Arya masih berbincang di sekitaran area parkir.
Jeno melongo melihat sang mama yang lebih dulu turun dari mobil dengan semangat. "Ada apa sih sebenarnya?" tanya Jeno pada dirinya sendiri.
Tanpa Jeno ketahui, jika hati sang mama sedang berbunga-bunga karena akan mempunyai menantu seperti Bulan. Yang menurut kedua orang tua Jeno adalah menantu idaman.
Jevo dan kedua sahabatnya langsung menatap ke arah Nyonya Rindi. "Jev... itu tante Rindi. Kok bisa?" tanya Arya, karena Nyonya Rindi datang ke sekolah bersama dengan Jeno.
Jevo menggeleng, tanda tak tahu. "Brow,,, memang ada apa, mama elo datang ke sekolahan?" tanya Mikel yang juga merasa heran.
__ADS_1
Lagi-lagi Jevo hanya bisa menggeleng. Karena memang Jevo tidak tahu. "Gue juga nggak tahu. Jeno tidak memberitahu apapun sama gue." tukas Jevo.
Bukan hanya ketiga siswa tersebut yang menyorot kedatangan Nyonya Rindi ke sekolahan. Tapi semua siswa yang melihat kedatangan beliau. Juga beberapa guru yang berada di sana.
Beberapa guru tersebut langsung mendekat dan menyapa Nyonya Rindi dengan sopan. Mengingat siapa beliau.
"Ngapain mama ke sini?" tanya Jevo pada Jeno.
Jeno menggeleng. "Aku juga nggak tahu. Tiba-tiba mama masuk ke dalam mobil begitu saja." jelas Jeno.
Dari arah lain, Claudia tersenyum sempurna. Tentu saja karena dia melihat kedatangan Nyonya Rindi. Tanpa dia tahu, jika kedatangan beliau hanya untuk melihat Bulan.
"Tante..." panggil Claudia mendekat ke arah Nyonya Rindi, dan langsung bersalaman dengan beliau.
"Widih... gerak cepat tuh, calon menantu." lirih Arya, terdengar oleh semuanya.
Jevo melirik tajam ke arah Arya. "Santai brow, kita ke sana." ajak Mikel merangkul Jevo, mengajaknya menemui Nyonya Rindi.
Mikel dan Arya juga segera bersalaman dengan Nyonya Rindi. "Kalian tambah ganteng saja." Nyonya Rindi mencubit pipi Mikel dengan gemas.
Claudia segera tersisihkan, dengan datangnya keempat lelaki tersebut. Claudia merasa bete. Apalagi Jevo juga seakan tidak memandang keberadaannya.
Claudia ingin membuka mulutnya, tapi kedatangan perempuan lain membuat suara Claudia tercekat di tenggorokan. "Tante." sapa Sella dengan senyum di sempurna bibir.
"Aaaiiiisshhhh,,,, anak iblis datang." lirih Mikel, yang terdengar jelas di telinga Nyonya Rindi, pasalnya Mikel berdiri tepat di samping Nyonya Rindi.
Nyonya Rindi langsung menatap seksama siswi yang baru datang tersebut. Segera Nyonya Rindi mengubah ekspresinya.
Nyonya Rindi tersenyum dan segera menerima uluran tangan Sella. "Sella tante." ujar Sella memperkenalkan diri.
Nyonya Rindi hanya tersenyum, membalas ucapan Sella. "Tante, tumben tante ke sini, ada apa?" tanya Arya mengalihkan perhatian semua orang.
"Tante jenuh di rumah. Hanya iseng." jelasnya.
Claudia dan Sella berebut mencari perhatian dari mama Jevo dan Jeno. Sayangnya, Nyonya Rindi hanya menanggapinya yang biasa dengan senyum manisnya.
"Bu Bulan." ujar Nyonya Rindi menampilkan ekspresi senang, membuat semuanya menatap ke arah di mana Nyonya Rindi menatap.
__ADS_1