
Kedua mata Timo yang sedari tadi terpejam akhirnya terbuka. Timo baru memejamkan kedua matanya sekitar pukul lima pagi hari, setelah dia merasa puas melampiaskan amarahnya pada binatang tak berdosa.
Dia tak kembali ke rumah mewah dan megah milik Rio. Melainkan tidur di rumah reyot milik sang kakek. Timo langsung duduk, merentangkan kedua tangannya ke samping sembari menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Melemaskan otot-ototnya karena baru saja tertidur.
"Sangat nikmat dan nyaman." gumamnya. Dengan darah masih menempel di tangan. Bahkan sudah mengering.
Setelah melakukan kebiadabannya pada hewan, Timo tak lantas membersihkan diri. Padahal darah menempel di beberapa bagian tubuhnya, hingga baju yang dia kenakan.
Seakan tak merasa risih, Timo malah langsung berbaring di atas dipan tua yang sudah reyot. Dan masuk ke dalam mimpi tanpa peduli akan semua itu.
Senyum manis tersungging di bibirnya melihat tangannya yang masih berlumuran darah. Lambat laun, senyum tersebut berubah menjadi senyum yang mengerikan. "Kalian, jangan harap bisa lepas dari genggaman gue." seringainya.
Ponsel miliknya berbunyi sekali. Menandakan sebuah pesan tertulis masuk ke dalam ponselnha. Ralat, bukan miliknya. Namun milik sang dokter tampan, Vinc.
Timo tertawa pelan dengan ekspresi aneh melihat layar ponselnya. Dimana dirinya menerima pesan tertulis dari seorang pasien dokter Vinc. Dimana tertera sebuah nama yang membuatnya merasa senang.
Entah siapa empunya sang pemilik nomor yang memberi pesan tertulis pada Timo, sehingga membuat Timo tersenyum senang.
"Waktunya pulang." cicit Timo.
Tanpa membersihkan badan, atau membersihkan darah yang telah mengering di tangan dan anggota tubuhnya yang lain, Timo pergi meninggalkan rumah sang kakek begitu saja.
Tapi langkahnya terhenti saat dirinya berada di tengah ilalang. "Apa ada seseorang yang datang ke sini?" gumamnya menebak.
Timo merasa jika benang yang dia lumuri racun berubah tempat. Semua benang yang ada di sekitar rumah sang kakek saling terhubung. Sehingga, jika ada satu titik dimana benang tersebut tersentuh, maka semua benang akan berpindah tempat.
Timo berjongkok tepat di depan benang tersebut. Menatapnya dengan seksama. "Benar, ada yang menyentuh benang ini." ucapnya dengan yakin.
Timo berdiri. Pandangan matanya berkeliling menatap kemana saja benang tersebut terarah. Timo seakan ingin menebak dan memperkirakan dimana benang yang tersentuh.
Sehingga dirinya bisa memastikan dengan yakin. Bukan hanya menebak saja. "Tidak mungkin gue memeriksa setiap helai benangnya." ujar Timo sembari berkacak pinggang.
Jika Timo melakukannya, yang ada akan membutuhkan waktu lumayan lama. Sebab Timo memasangnya secara berputar, mengelilingi rumah sang kakek.
Yang ada, waktunya hanya akan habis terbuang sia-sia hanya untuk memastikan benar apa tidaknya jika ada yang menyenggol benang tersebut.
Timo masih berdiri. Seakan memastikan apa yang akan dia lakukan. Meninggalkan rumah sang kakek begitu saja, atau melakukan hal lain lagi terhadap rumah tersebut.
"Jika tebakan gue benar. Ada seseorang selain pak tua itu yang mengetahui tempat ini. Apalagi rumah ini. Berarti kemungkinan dia akan datang ke sini lagi." gumam Timo berpikir.
"Bagus jika dia terkena racun dan nyawanya tak bisa diselamatkan. Tapi, bagaimana jika sebaliknya. Atau, bisa jadi ada hewan nakal yang menyentuh benang tersebut."
Timo tampak menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan. Sejenak, senyum nakal terbit di sudut bibirnya.
Dengan ekspresi wajah yang terlihat menyebalkan, sembari memainkan jari jemarinya yang masih tertempel darah kering, Timo berjalan menuju mobilnya.
Membuka bagasi mobil. Dan mengambil sesuatu dari dalam. Senyum menyebalkan sedari tadi tak hilang dari bibirnya.
Dia kembali berjalan ke arah rumah sang kakek dengan tangan membawa sebuah jurigen. Yang tentu saja, isinya adalah bahan bakar.
Sangat mudah ditebak, apa yang akan dilakukan Timo pada rumah milik sang kakek. "Rumah sejelek ini, sama sekali tidak layak huni." cibirnya.
Seakan dirinya lupa, di mana dirinya dibesarkan dengan kasih sayang sang kakek. Rumah siapa yang selama bertahun-tahun dia tempati. Berteduh dari panas dan hujan, setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.
Dengan santai seraya bersiul, Timo masuk ke dalam rumah. Mencari korek api. Setelah dia menemukan apa yang dia cari, Timo segera keluar dari rumah tersebut.
Dengan bernyanyi riang, Timo mengguyurkan bahan bakar yang terdapat di dalam jurigen ke rumah sang kakek. Seolah dirinya sedang melakukan permainan yang mengasyikkan.
"Lihatlah, gue sangat berbaik hati membantu elo, kakek tua." cicitnya.
Timo melemparkan jurigen tersebut ke rumah sang kakek setelah jurigen tersebut kosong. Diambilnya korek api dari dalam sakunya, yang juga dia ambil dari rumah sang kakek.
"Uuuhhh.... Siapa yang mau tinggal di rumah reyot seperti ini." hinanya.
Timo berjalan mundur beberapa langkah. Dirasa jaraknya berdiri sudah aman, dan tak akan terkena sambaran api, Timo menyalakan korek api tersebut.
Dan.... wuzzzzzz...... Dengan secepat kilat jago merah melahap habis rumah tua milik kakek Timo. Bahkan, tanaman liar yang berada di sekitarnya juga ikut terbakar.
"Uuhhh,,, panas.....!" seru Timo mengibaskan telapak tangannya di depan wajah dan bergerak menuju ke mobilnya.
Timo tidak segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun berdiri di kap mobil. Melihat api yang berkobar dari tempatnya.
"Siapa yang menolong Rio?"
"Siapa dua lelaki yang mengambil mama Rio?"
__ADS_1
"Siapa yang membawa kakek tua ini?"
Pandangan Timo mengarah ke kobaran api di depannya, tapi dia berpikir pasti semua kejadian ini sudah direncanakan oleh seseorang dengan baik.
"Siapa dia? Kenapa gue sama sekali tidak tahu?"
Timo berpikir. Jika tidak akan ada satu orangpun yang bisa menghentikan apa yang dia perbuat. Tak ada yang bisa mengenalinya. Dan dengan percaya diri, Timo merasa jika dirinya tak akan bisa tersentuh hukum.
Tapi, untuk pertama kalinya dia merasa gusar. Pertama kalinya dia merasakan kecemasan. Dan pertama kalinya Timo merasa ada seseorang yang sedang mengintainya.
"Aaaahhh...!! Tenang Timo....!! Tenang,,,,!! Elo tak akan bisa mereka tangkap. Elo cerdas. Elo licik. Elo pintar. Elo tak terkalahkan. Dan elo akan bisa beraksi seperti sebelum-sebelumnya." ujarnya memuji diri sendiri, serta memberi semangat pada dirinya sendiri.
Timo kembali merasa jika dia tak akan bisa tertangkap. Buktinya, lebih dari setahun dirinya beraksi. Dan tak ada yang bisa menangkapnya. Bahkan pihak berwajib sekalipun.
Dengan percaya diri, Timo masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya ke kediaman Rio. Dirinya akan berubah menjadi sosok Dokter Vinc. Dan melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.
Tanpa beban, Timo menyetir dengan hati berbunga. Dirinya seolah lupa dengan cepat apa yang baru saja terjadi. Kehilangan tiga orang yang menjadi pion dalam permainannya.
Timo mengurangi kecepatan mobilnya. Kedua matanya melihat salah satu pembantu yang kabur dari rumahnya. Dengan cepat, Timo memutar balik mobilnya. Tentunya dia ingin kembali membawa sang pembantu untuk tinggal di rumah mewah Rio.
Entah dengan alasan apa. Sebagai pembantunya lagi. Atau dirinya ingin menjadikannya sebagai pelampiasan kekesalannya.
Beruntung, saat Timo turun dari mobil, sang pembantu melihatnya. Segera dia meninggalkan barang belanjaannya, dan bergegas menghindar dari Timo.
Niatnya untuk berbelanja langsung lenyap, menjadi rasa takut yang luar biasa saat melihat sosok yang hampir saja menyiksa rekan kerjanya.
Beberapa kali dia menoleh ke belakang. Memastikan majikannya yang gila tersebut tak lagi mengejarnya. "Aku harus memberitahu yang lain." ujarnya sembari berlari.
Dirinya tak ingin, jika salah satu pembantu yang pernah bekerja di kediaman Rio kembali tertangkap oleh lelaki yang dia anggap sebagai Rio. Padahal dia bukanlah Rio, melainkan Timo.
Timo memandang sekitar. Mencari keberadaan sang pembantu yang beberapa detik lalu dia lihat. "Kemana dia pergi?!" geramnya, saat pencariannya tak membuahkan hasil.
"Sial...!! Cepat sekali dia perginya." ujarnya lirih.
Perasaannya yang semula merasa bahagia, kembali memburuk hanya karena kehilangan sang pembantu. Dengan mudah, perasaan Timo berubah. Hanya dalam hitungan detik.
Timo kembali melajukan mobilnya ke kediaman Rio dengan mulut yang terus mengumpat. "Gue harus mencari pembantu binal itu." ujarnya, teringat sosok pembantu yang menjadi pemuas nafsunya.
Sementara di villa Mikel, mereka semua menunggu mama Rio sadar dari obat bius. "Sekarang, katakan...!! Bagaimana kamu bisa yakin, jika Timo yang melakukan pembunuhan berantai tersebut." pinta kakek Timo.
Tak ada yang berani menyanggah apa yang Bulan ucapkan. Menurut mereka, Bulan mengatakan hal yang benar.
Bulan mengambil ponselnya. Menghubungi Gara. "Kirimkan video saat Timo mengeksekusi dokter Vinc. Dan juga saat dia mengubur Sella." tukas Bulan pada Gara.
"Juga, foto semua korban Timo. Semuanya. Tanpa terkecuali." pinta Bulan.
Mikel berdiri, tentunya dia ingin melihat mama Rio. Dirinya berharap mama Rio segera sadar. Tentunya Mikel juga penasaran, apa yang akan dikatakan Bulan pada beliau.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan cucuku?" tanya kakek Timo dengan kedua kelopak mata menahan air mata.
Bulan terkekeh pelan. Sungguh, sebenarnya Bulan juga muak dengan kakek Timo. Yang selalu terlihat jika dia akan melindungi Timo.
Hanya saja, Bulan mencoba mengerti. Bulan melihat dari sisi kakek Timo, dimana dirinya berperan sebagai seorang kakek yang dengan kasih sayang sepenuh hatinya merawat dan membesarkan Timo.
Tentunya berat bagi sang kakek melepaskan dan merelakan sang cucu, meski pada hakikatnya sang cucu bersalah.
"Setelah mama Rio sadar, kita bisa bertanya. Apa yang akan beliau lakukan pada cucu kakek." ujar Bulan membalikkan pertanyaan kakek Timo.
Jeno tersenyum samar mendengar perkataan cerdas dari Bulan. Karena memang Timo sengaja memalsukan identitasnya. Menipu mama Rio. Dan menikmati seluruh kekayaan mereka tanpa rasa bersalah.
Dan yang lebih parah, Timo mengurung Rio di rumahnya sendiri tanpa bisa diketahui oleh mama Rio. Bukan hanya sekedar mengurung. Tapi menyiksa. Dan yang sangat fatal, Timo sengaja membuat kedua mata Rio tal lagi berfungsi seperti sebelumnya.
"Jika mereka memaafkan Timo, apa kamu akan tetap menahan Timo?" tanya sang kakek.
"Kita akan bicara dengan keluarga dokter Vinc. Tentunya anda tahu, siapa itu dokter Vinc. Dan bagaimana wajahnya." jelas Bulan dengan tenang.
Jevo dan Arya tersenyum mendengar setiap jawaban yang terlontar dari mulut perempuan hang sangat dicintai Jeno tersebut.
"Apa ada buktinya, jika Timo yang menghabisi dokter Vinc?" kekeh sang kakek berusaha mencari celah.
Semua yang ada di sana hanya bisa menggelengkan kepala seraya menghela nafas panjang karena sifat kakek Timo yang ternyata sangat sulit dijinakkan.
Bulan tertawa pelan. ''Anda yakin, mau melihatnya?" tanya Bulan sembari menatap sang kakek dengan tatapan ragu.
Sebelum kakek Timo menjawab apa yang ditanyakan Bulan, semua mata tertuju pada mama Rio sudah berdiri di ambang pintu. Menatap intens ke arah sang putra.
__ADS_1
"Biarkan." cegah Bulan tetap tenang dalam duduknya, saat Arya berdiri hendak menghampiri mama Rio.
Arya beranjak dari duduknya. Juga dengan Jevo dan Mikel. Mereka bertiga berdiri di sebelah Rio. Memberi ruang pada mama Rio.
Tak ada yang berbicara sepatah katapun. Mereka semua hanya melihat dan menyaksikan apa yang akan terjadi pada Rio dan mamanya.
Rio merasakan jika ada yang mendekat ke arahnya. Wangi yang berbeda dari sebelumnya. Dan Rio sudah tahu siapa dia. "Mama." panggil Rio dengan raut wajah khawatir.
Tentunya ada sedikit rasa cemas di hati Rio, manakala tadi sang mama seperti menolak kehadirannya.
"Jika mama malu dengan keadaan Rio saat ini, Rio tidak akan menyalahkan mama. Mama juga tidak perlu mengakui Rio sebagai anak mama. Rio mengerti ma." tukas Rio mencoba tersenyum tulus.
Meski kenyatannya, Rio merasa ketakutan jika dirinya tak lagi dianggap anak oleh sang mama. Padahal, Rio selama ini bertahan hidup dalam penyiksaan Timo hanya karena keinginan untuk bertemu sang mama yang sangat besar.
Mengingat sang mama yang masih hidup. Membuat tekad Rio bertambah kuat setiap harinya. Sesadis apapun siksaan yang dia terima, Rio menahannya. Hanya demi bertemu dengan sang mama.
Mama Rio hanya diam, memandang dengan sayu ke arah sang putra. "Ma,,, tapi Rio punya permintaan. Tinggalkan lelaki yang selama ini berada di samping mama. Lelaki yang mempunyai wajah seperti mama. Dia bukan lelaki baik-baik ma. Dia lelaki jahat. Baginya, nyawa manusia hanyalah mainan." pinta Rio dengan sungguh.
Bulan berdiri. "Nyonya, lihatlah ini." pinta Bulan menyerahkan ponselnya yang sudah menyala pada mama Rio.
Bulan mengangguk, saat mama Rio menatapnya. Seakan ada rasa ragu bercampur takut dalam bola matanya. "Duduklah." Bulan menuntut mama Rio untuk duduk di samping Rio, seraya memegang ponsel milik Bulan.
Mama Rio mulai memfokuskan pandangannya ke arah layar ponsel milik Bulan. Beliau mengernyitkan keningnya melihat video di ponsel Bulan.
Mama Rio menatap Bulan dengan tatapan penuh tanya. "Benar, dalam video tersebut adalah rumah Nyonya. Perhatikanlah baik-baik." pinta Bulan.
Video tersebut memperlihatkan video dari gerbang rumah menuju pintu utama, lalu tangga menuju ke lantai dua. Lalu menuju ke ruang rahasia yang selama ini Rio di sekap di sana.
Video tersebut di buat dan di edit oleh Gara. Dengan keahliannya, Gara membuat video, yang seolah ada seseorang yang sedang berjalan di rumah mama Rio, dan orang tersebut menuju ke ruang rahasia yang temboknya diledakkan oleh Bulan.
Tak hanya itu, ada dua versi dalam video tersebut. Yakni saat Rio masih berada di dalam tahanan terkutuk tersebut. Dan versi satunya lagi, dimana Rio sudah Bulan bebaskan. Yang artinya memperlihatkan tembok yang sudah hancur oleh bahan peledak yang Bulan pasang.
"Tem-tem-temmmmmpat ini....." mama Rio langsung menatap Bulan seakan dirinya tak percaya dengan apa yang ada di dalam video tersebut.
Pasalnya, selama berpuluh-puluh tahun beliau sama sekali tak tahu menahu jika ada tempat seperti itu di dalam rumahnya.
"Itu asli. Dan saya tidak merekayasanya." tukas Bulan.
Jantung mama Rio berdetak kencang melihat video, dimana Rio menyiksa seseorang lelaki dengan kedua kaki dan tangan dirantai, dan lelaki tersebut adalah lelaki yang saat ini duduk di sampingnya.
Mama Rio menggelengkan kepalanya tak percaya. Ponsel Bulan terjun bebas ke lantai. Dengan sigap Mikel segera mengambilnya. Lalu menyerahkan pada Bulan.
Mama Rio terlihat kebingungan bercampur khawatir, dan juga merasa tak percaya. "Apa sebenarnya yang terjadi? Ada apa ini? Putraku,,, dia,,, dia,,, tal mungkin sekejam itu? Lali dia,,, dia,,, Tuhan,,, ada apa ini...!!?" ujar mama Rio tak tahan dengan apa yang dia hadapi.
Bulan mengeluarkan sebuah kertas kecil dari saku jaketnya. "Tes DNA. Jika anda mau, kita bisa melakukannya." tawar Bulan, seraya memberikan kertas kecil tersebut pada mama Rio.
Yang ternyata kertas tersebut adalah kartu nama Bulan. Dimana di sana tertera jelas pekerjaan Bulan, beserta jabatan Bulan di kepolisian.
"Kamu?" mama Rio tak percaya saat membaca kertas berukuran kecil di tangannya.
"Silahkan tanya pada kepala kepolisian di daerah sini. Mereka pasti mengenal saya." tukas Bulan. Bukan maksud Bulan memamerkan pekerjaan serta jabatannya pada mama Rio. Sebah semua itu tak ada faedahnya.
Maksud Bulan memberitahu siapa dirinya pada mama Rio, adalah untuk menyakinkan beliau. Jika beliau saat ini sedang berada di tangan orang yang tak akak mungkin membohonginya.
Sedangkan kakek Timo mengangkat sebelah alisnya, mendengar kata kepolisian. "Apa dia seorang abdi negara." tebak kakek Timo dalam hati.
"Pantas, ketrampilannya di atas rata-rata." lanjutnya yang hanya berani dia ucapkan dalam hati.
Mama Rio menggelengkan kepalanya. "Tidak. Saya tidak membutuhkan tes DNA. Rio mempunyai...."
"Tanda lahir di pantat. Sebuah luka yang tidak sengaja, karena sebuah kejadian. Sehingga meninggalkan bekas luka. Di pantat bagian kiri. Seperti luka bakar." jelas Rio memotong perkataan sang mama.
Mama Rio membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Kedua tangannya terukur pelan menangkup kedua pipi Rio. "Putra mama. Putra papa. Rio,,, Rio sayang."
Maka Rio mencium seluruh wajah bertubi-tubi dengan air mata yang langsung meluncur bebas di pipi mama Rio.
Bukan hanya sang mama yang menangis. Rio juga ikut menangis tersedu. Perasaannya terasa lega seketika, manakala sang mama mencium wajahnya. Yang artinya dirinya sudah tak perlu takut, jika sang maka tak mengakuinya sebagai putranya lagi.
Keduanya saling berpelukan. Hanya air mata yang bisa mengungkapkan rasa bahagia diantara keduanya.
Arya saja juga meneteskan air matanya, melihat Rio berpelukan dengan mamanya. Bukan hanya Arya, kakek Timo juga ikut menangis. Antara senang bercampur rasa cemas dengan apa yang akan terjadi dengan sang cucu kedepannya.
Mikel memegang sebelah pundak Jevo. Tampak raut wajah Mikel dan Jevo yang terlihat sendu karena ikut bahagia melihat pemandangan di depannya.
Jeno juga tersenyum tulus melihat apa yang tersaji di depan mereka. Bulan yang duduk di sebelah mama Rio, hanya bisa mengelus punggung mama Rio seraya bersyukur.
__ADS_1
"Timo,,, hanya tinggal menghitung jam. Dan elo akan merasakan neraka yang sebenarnya. Sebelum elo benar-benar memasuki neraka yang abadi di alam baka." batin Bulan.