
Seorang lelaki menghadap ke cermin full body. Memastikan penampilannya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh dirinya.
Senyum iblis tersungging di kedua sudutnya. "Siapa yang tidak terpikat dengan wajah setampan ini." cicitnya, memuji wajahnya yang palsu sembari tersenyum sinis.
"Pantas, orang seperti mereka dengan mudah bisa mendapatkan perempuan yang mereka inginkan." cicitnya, dengan tangan berada di rahang.
Dengan santai, dia menuruni anak tangga. "Mau ke mana sayang?" tanya seorang perempuan paruh baya pada lelaki tersebut.
"Rio ingin ke rumah teman ma." jelasnya.
"Ini sudah terlalu malam. Apalagi keadaan di luar sedang tidak baik-baik saja. Tetaplah di rumah." pinta wanita tersebut.
Rio menggenggam telapak tangan sang mama. "Ayolah ma, mama tidak lihat,,,, penampilan Rio sudah seperti ini." bujuknya, supaya sang mama memperbolehkannya untuk pergi.
"Memang kamu mau kemana... Hemm.." tanyanya dengan lembut.
"Rio ada janji dengan teman. Kan nggak enak jika dibatalkan mendadak. Dia adalah sahabat terbaik Rio ma." jelasnya. Tentu saja sebuah kebohongan.
Sang mama mengelus penuh kasih sayang pada pipi sang anak. "Baiklah. Berhati-hatilah. Dan selalu hubungi mama untuk berkabar keadaan kamu. Dimanapun." ujar sang mama penuh penekanan.
Beliau hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan sang putra. Cup..... Dikecupnya dengan singkat pipi wanita yang dia panggil mama tersebut.
"Pasti." kata Rio, berjalan meninggalkan sang mama yang menatap punggungnya dengan senyum tulus.
Berbeda dengan Rio, seketika senyumnya menghilang saat dia telah membalikkan badan, berjalan memunggungi wanita yang dipanggilnya dengan sebutan mama tersebut.
Wanita paruh baya tersebut memandang ke sebuah foto berukuran besar yang berada di dalam bingkai, terpasang di dinding.
Beliau tersenyum, namun ada kepahitan dalam senyum tersebut. Teringat, setahun yang lalu sang suami dan putra satu-satunya mengalami kecelakaan mobil.
Kecelakaan yang merenggut nyawa sang suami saat itu juga. Dan juga hampir saja merenggut nyawa sang putra. Tapi dirinya begitu bersyukur, sang putra ternyata masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melanjutkan hidupnya.
"Kita sekarang hanya hidup berdua. Semua milik mama, akan menjadi milik kamu, Rio. Kamu adalah dunia mama sayang." ucapnya tulus.
Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sang putra dan juga pada dirinya.
Sementara lelaki yang dipanggil dengan nama Rio, masuk ke dalam kuda besi yang selama ini dia tunggangi. "Ckkk,,,, kehidupan yang membosankan." keluhnya, mendaratkan pantatnya dengan kasar di atas kursi.
"Rio,,, Duduk manis di rumah. Menjadi anak rumahan. Laki-laki macam apa, yang mengikuti semua keinginan perempuan tua itu." cicitnya, menyebut namanya sendiri. Meraba wajahnya, lalu tertawa lepas.
Dia melepas topeng wajah yang selama ini dia pakai, dan menjadikan dirinya sebagai seorang lelaki muda bernama Rio.
Lelaki berwajah tampan. Yang pastinya digilai oleh banyak kaum hawa. "Dengan wajah palsu ini, kalian semua tidak merasa takut. Tapi kenapa,,, kalian merasa takut dengan wajah asliku." ujarnya, berkata seorang diri dengan nada memendam amarah.
Tampak wajah mengerikan di balik topeng tersebut. "Kalian semua, akan mati di tanganku." geramnya. Memegang pipinya yang penuh luka sayat.
Dia menutup satu matanya yang terluka. "Serra. Dua hari lagi, kita akan bertemu sayang. Dan sebelum itu terjadi, aku akan bermain dulu dengan dokter yang menangani kamu." cicitnya tersenyum menakutkan.
"Dokter, kita akan bertemu. Tunggu sebentar lagi." ucapnya. Melajukan mobilnya ke tempat biasa, dimana dirinya memesan topeng seperti kulit manusia, yang terbiasa dia gunakan setiap hari.
Di tempat lain, Bulan sedang berbincang dengan Jeno. "Cari pemilik mata ini." pinta Bulan pada Jeno, saat mereka hanya berdua di ruangan tersebut.
"Bagaimana dengan kejadian di sekolah?" tanya Jeno, keluar dari topik obrolan.
Bulan memandang intens ke arah Jeno. Segera Jeno mengalihkan perhatiannya, entah apa yang terjadi. Jeno merasa salah tingkah saat ditatap dengan intens oleh Bulan.
"Sudah ada orang yang menyelidikinya. Tugas kamu dan yang lain mengungkap kasus pembunuhan ini." jelas Bulan, tidak menjelaskan secara terperinci.
Jeno tersenyum samar. "Bukan itu maksudku."
"Sudahlah, lakukan apa yang aku inginkan. Apa kamu mau, dia memakan korban lagi. Jika kita bertindak seperti siput." tekan Bulan.
"Baiklah." cicit Jeno.
"Apa lagi?" tanya Bulan, merasa Jeno sedang memikirkan sesuatu di dalam benaknya.
"Kenapa ibu percaya pada kami?"
Bulan hanya terdiam. Sembari memainkan pisau lipat yang ada di tangannya. Jeno tersenyum. Sepertinya Jeno tahu apa jawaban dari diamnya Bulan.
"Karena saya mengetahui penyamaran ibu. Lantas ibu ingin mengikat saya dengan kerja sama ini." tebak Jeno tepat sasaran.
Bulan bersikap tenang. Dia sama sekali tidak terkejut jika Jeno dengan mudah bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. "Begitulah."
Bulan berdiri dari duduknya. Berdiri dan sedikit menundukkan badannya ke arah Jeno yang sedang duduk di depannya. "Dari mana kamu tahu, siapa saya?" tanya Bulan, dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.
Jeno kembali menatap intens ke arah Bulan. Sebagai seorang lelaki, tentu saja dia tidak ingin kalah dari seorang perempuan. Dia juga tidak ingin dianggap remeh dan lemah oleh Bulan.
"Aaa...!!" seru Bulan tertahan, saat Jeno dengan berani menarik dirinya dengan melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya.
Membuatnya tepat berada di atas Jeno. Tapi Bulan menggunakan tangannya sebagai penyangga tubuhnya. Sehingga dia tidak benar-benar menimpa tubuh Jeno.
"Ada seseorang yang memberitahu saya." bisik Jeno.
__ADS_1
Wangi nafas mint Jeno, membuat Bulan menahan nafasnya. Jeno membelai pipi mulus Bulan dengan satu jari. "Ada banyak yang menginginkan nyawa bu guru." bisik Jeno.
Bulan tersadar dengan posisi mereka. Segera Bulan mendorong tubuh Jeno, dan berdiri dengan posisi yang benar. "Dari dulu, musuh saya lebih banyak dari pada teman saya."
Jeno tersenyum melihat ketidaktakutan yang Bulan perlihatkan. "Apa ibu tidak ingin mengetahui, siapa dia?"
Bulan tersenyum miring. "Bukankah sudah saya bilang. Musuh saya lebih banyak, dari pada teman saya. Jadi bisa dipastikan, jika ada orang yang mengatakan dia teman saya. Bisa jadi, dia adalah musuh saya." papar Bulan dengan tenang.
Jeno berdiri. Dengan pandangan mata sedari tadi tidak lepas dari wajah cantik sang guru. "Saya bekerja sebagai hacker. Tapi dengan nama samaran. Dan saya, dipekerjakan oleh seseorang yang mempunyai jabatan di instansi pemerintah." jelas Jeno, tanpa Bulan memintanya.
Bulan menyenderkan pantatnya di meja yang berada di belakangnya. Dengan tangan bersedekap di depan dada. "Dia menyuruh saya untuk memantau setiap pergerakan dari anda. Dan melaporkannya." lanjut Jeno.
Bulan tersenyum mendengar penuturan dari Jeno. "Dia langsung memberikan semua informasi mengenai anda. Keluarga anda, pekerjaan anda, hingga misi yang anda lakukan saat ini." jelas Jeno.
"Apa yang kamu temukan?" Bulan tersenyum. Dia yakin, jika Jeno bukan hanya sekedar murid SMA yang tidak berotak.
"Sepertinya, tanpa saya jawab. Ibu sudah menemukan jawabannya." jelas Jeno.
"Tapi tenang saja, saya sama sekali tidak memberikan informasi mengenai kejadian malam itu. Sebab, itulah yang sebenarnya dia cari. Bukan masalah yang terkait dengan misi yang ibu terima." papar Jeno.
"Bisa, saya minta tolong?" tanya Bulan.
Jeno tersenyum penuh arti. "Katakan."
"Berapa saya harus membayar upah anda?"
"Tergantung pekerjaan apa yang akan anda bebankan pada saya. Sebab, pekerjaan itu bukan perjanjian awal kita terkait pembunuhan berantai ini."
Bulan mengangguk pelan. Memainkan bibirnya, membuat Jeno menelan ludah dengan kasar, dan segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Siapa orang yang mengendalikan Diki?"
Jeno kembali memandang Bulan. Jeno tersenyum samar. Ternyata dengan mudah Bulan bisa mengetahui siapa yang menyuruh Jeno untuk mengawasi Bulan. "Akan saya lakukan."
"Berikan nomor rekening kamu." pinta Bulan, menyerahkan ponselnya pada Jeno.
Jeno mengambilnya. Mengetikan beberapa angka di layar ponsel Bulan, mengembalikannya pada Bulan. "Ini." lirih Bulan, saat mengetahui jika Jeno tidak menulis nomor rekeningnya. Melainkan nomor ponselnya.
"Saya tidak terima upah berupa uang."
"Lalu?"
"Jika waktunya, saya akan meminta sesuatu pada anda."
Jeno terkekeh pelan. "Tidak. Mungkin hanya keinginan seorang murid SMA pada seorang guru."
Bulan mengangguk. Menerka, jika kemungkinan besar, Jeno menginginkan nilai bagus. Atau menginginkan les tambahan. Itulah yang ada dalam otak Bulan.
"Bisa antarkan saya pulang. Ini terlalu larut untuk murid SMA berkeliaran di luar rumah." pinta Jeno.
Bulan tertawa pelan. Bahkan malam itu lebih larut dari malam ini, saat Bulan mendapati Jeno di sekolah.
"Sebentar." Bulan masuk ke dalam sebuah ruangan. Jeno memiringkan sedikit kepalanya. Mencoba mengintip apa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Hanya tampak sebuah ranjang dengan kasur di atasnya. Selebihnya, Jeno tidak bisa melihat apapun. Sebab Bulan memang hanya membuka sedikit daun pintunya.
Jeno menduga, ruangan tersebut adalah sebuah kamar. Tempat di mana Bulan beristirahat jika berada di sini.
Bulan keluar tanpa membawa apapun di tangannya. "Itu adalah kamar saya. Di sini, ada beberapa kamar lagi. Kalian bisa membaginya. Namun belum di bersihkan. Kalian bisa kesini kapanpun kalian mau." papar Bulan, dengan kembali memakai jaket yang sempat dia lepas.
"Ayo." ajak Bulan, mengambil kunci mobil yang dia taruh di atas meja. Sementara Jeno mengekor di belakangnya.
Bulan berada di balik kemudi, dengan Jeno duduk di kursi samping Bulan. "Jika ingin ke sini, pergunakan jalan ini. Meski sedikit curam, tapi akan lebih cepat sampainya." jelas Bulan.
Jeno melihat, Bulan dengan santai mengemudi di jalan yang terjal dengan naik turun. "Ada apa?" tanya Jeno, saat Bulan menghentikan mobilnya, dan malah memundurkan laju mobilnya. Lalu mematikan sorot lampu di mobil.
Jeno berusaha untuk memandang ke depan. Menembus kegelapan malam. Tapi hasilnya nihil. Dia sama sekali tidak melihat apapun di bawah remang cahaya bulan.
Bulan membelokkan mobil di semak-semak. Membiarkan semak-semak menutupi mobilnya. Jeno penasaran. Dirinya sama sekali tidak melihat dan merasakan apapun.
Tapi Bulan, dia bersikap siaga dan waspada. Bulan mengeluarkan senjata api dari pinggangnya. Melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya.
"Apapun yang terjadi. Jangan pernah keluar dari dalam mobil." pinta Bulan.
"Jangan ulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." lanjut Bulan, mengingat kejadian di sekolah. Dimana Jeno malah keluar dari ruangan, padahal Bulan sudah mengatakan untuk tetap berada di dalam.
Jeno paham kemana arah pembicaraan Bulan. "Baik." tutur Jeno, tidak ingin lagi membuat langkah dan gerak Bulan menjadi terkendala karena adanya dia.
Jeno sadar, dia belum cukup mampu untuk di sandingkan dengan Bulan. Meski dirinya ahli dalam bela diri. Tapi tetap saja, kemampuannya masih berada jauh di bawah Bulan.
Bulan membuka pintu mobil. Perlahan, tanpa menimbulkan suara. Jenopun terkagum melihatnya. "Gila, dia bertindak seperti udara." ucap Jeno dalam hati.
Sama seperti saat membuka pintu mobil yang tanpa mengeluarkan suara, bahkan Bulan juga berjalan seringan kapas. Dan Jeno lagi-lagi di buat terkagum oleh keahlian yang dimiliki Bulan.
__ADS_1
Jeno memandang dengan intens kemana Bulan melangkah. Sayangnya, tubuh Bulan menghilang di telan gelapnya malam.
Dada Jeno berdebar dengan kencang. Dia sangat khawatir bercampur rasa cemas. "Sepertinya gue harus berlatih dengan keras." gumam Jeno, merasa tidak berguna sama sekali.
Padahal, dirinya adalah seorang lelaki. Yang tidak seharusnya berdiam diri. Dan malah berlindung di bawah ketiak seorang perempuan.
Dorrr... dor.... Jeno menelan ludahnya dengan kasar, mendengar beberapa kali suara tembakan yang bersahutan.
"Pasti lebih dari satu orang." dada Arya semakin bergemuruh hebat. "Lindungi bu Bulan, Tuhan." ucap Jeno berharap.
Jeno merasa penasaran. Bagaimana bisa Bulan bisa merasakan atau melihat keberadaan mereka. Padahal, Jeno sudah berusaha untuk melihatnya dengan seksama. Tapi dia tetap tidak mendapatkan apapun dalam pandangannya.
Dua menit lamanya tembakan terus bersahutan. Jeno hanya bisa merasakan keadaan hang mencekam. Berkali-kali Jeno saling menggosokkan telapak tangannya.
Berhenti. Jeno tak lagi mendengarkan suara tembakan lagi di telinganya. Dan itu malah membuatnya semakin cemas. "Semoga bu Bulan dalam lindungan Mu." lirih Jeno.
Ceklek... Jeno terjingkat kaget, pintu mobil secara tiba-tiba terbuka dari luar. "Keluar." pinta Bulan yang sudah berada di samping mobil.
Jeno mengikuti apa yang dikatakan oleh Bulan. Dalam remang malam, Jeno dapat melihat jika jaket serta wajah Bulan terdapat cipratan darah.
Bau anyir menusuk indera penciuman Jeno. "Bantu gue." pinta Bulan dengan kata yang tak biasa. Jeno mengekor kemana Bulan berjalan.
Sampai di tempat yang tak jauh dai mobil, terdapat empat tubuh manusia tergeletak. Dan Jeno bisa pastikan, mereka sudah tak bernyawa.
"Empat lawan satu." batin Jeno, terkesima dengan kekuatan serta keahlian Bulan.
Bulan menyeret salah satu dari mereka. Jeno mengikuti apa yang Bulan lakukan. Bulan berhenti, saat mereka ada di tepi jurang.
Jeno menelan ludahnya dengan sulit, Bulan begitu tenang membuang mayat tersebut ke dasar jurang. Bulan kembali lagi ke tempat tersebut. Jeno menebak, Bulan akan kembali mengambil salah satu dari mereka.
Jeno mengikuti apa yang Bulan lakukan. Meski ada perasaan tak biasa saat dirinya menggelindingkan mayat tersebut ke jurang. Tapi Jeno tetap melakukannya.
Jeno bergidik ngeri. Lalu segera menyusul Bulan. Bulan hanya tersenyum samar melihat tingkah Jeno. "Gue akan membuat elo terbiasa melihatnya. Bahkan melakukannya." ucap Bulan dalam hati.
Jeno bernafas lega, setelah empat lelaki tadi mereka buang ke dalam jurang. Bulan melepaskan jaket. Lalu menyenderkan badannya ke pohon.
"Bu, bu Bulan baik-baik saja?" tanya Jeno, melihat Bulan berkeringat dengan kedua mata terpejam.
"Ambilkan kotak obat di mobil." pinta Bulan.
Merasa ada yang tidak beres, Jeno segera berdiri. Mengambil apa yang dikatakan oleh Bulan. Jeno menaruh kotak obat tersebut di samping Bulan.
Kedua mata Jeno melotot sempurna melihat lengan Bulan terluka. "Sebaiknya kita ke rumah sakit." ajak Jeno, dirinya yakin jika Bulan tertembak di bagian lengan.
"Dan gue akan dipenjara, bocah." sinis Bulan.
Mulai mengikat dengan kuat tepat di bawah lengannya yang tertembak. "Tapi, ibu tertembak." cicit Jeno dengan raut wajah khawatir."
Bulan mengeluarkan sebuah pisau kecil, tapi sangat lancip dan panjang. "Pasti mereka akan bertanya, siapa yang menembak. Elo mau bicara apa lagi." ketus Bulan.
Jeno mengedipkan kedua kelopak matanya. Benar juga yang dikatakan Bulan. Tidak mungkin Jeno mengatakan jika mereka berempat sudah meninggal. Dan tubuhnya mereka buang di dasar jurang.
Bulan menyumpal mulutnya dengan jaket. Mengguyur bagian yang tertembak dengan air yang berada di dalam botol.
Tapi Jeno yakin, jika itu bukan sekedar air bisa. Jeno bisa mencium bau menyengat saat tutup botol dibuka.
Selanjutnya, kedua mata Jeno tertutup sempurna. Melihat apa yang dilakukan oleh Bulan. Hati Jeno terasa nyeri, padahal dia tidak melihat Bulan mengeluarkan peluru dari dalam dagingnya sendiri.
Bulan bernafas lega, saat peluru tersebut keluar dari dalam bagian tubuhnya. Bulan tersenyum samar melihat Jeno menutup kedua matanya dengan erat.
"Hey..." panggil Bulan pada Jeno. "Balut luka gue." perintah Bulan dengan senyum mengejek.
"Baik." lirih Jeno.
Sementara Bulan menyenderkan badannya ke pohon dengan kedua mata terpejam. Jeno membungkus lengan Bulan yang terluka.
"Elo akan sering lihat dan mengalami hal seperti ini. Jika elo mengikuti gue." papar Bulan.
Jeno terdiam. Dirinya masih syok saat Bulan dengan begitu santai mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya sendiri tanpa rasa takut.
"Biar saya yang mengemudi bu." tawa Jeno.
Bulan mengangguk. Membiarkan Jeno melakukannya. "Rumah bu Bulan di mana?" tanya Jeno.
Bulan menyebutkan alamat rumahnya. Dan mengantar Bulan untuk pulang. "Bawa saja mobil gue." cicit Bulan, saat mereka sampai di depan rumah Bulan.
Bulan mengambil jaket yang masih bersih di kursi belakang. "Biarkan ini di belakang saja. Biar besok gue ambil sekalian sama mobilnya." cicit Bulan.
Bulan sadar, di dalam ada mbok Yem. Tidak mungkin dirinya pulang memakai jaket dengan bau anyir.
Sebelum keluar dari mobil, Bulan mengambil parfum. Menyemprotkannya di badannya. "Sudah nggak bau anyirkan?" tanya Bulan, mengendus sendiri tubuhnya.
Jeno menggeleng. "Elo hati-hati di jalan." cicit Bulan.
__ADS_1
Jeno tersenyum, melihat cara Bulan berbicara dengannya setelah kejadian tadi. "Elo, gue. Terdengar semakin akrab." gumam Jeno.