PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 148


__ADS_3

Bulan yang masih berada di bawah guyuran air shower langsung menatap ke arah suara yang memanggil namanya, terlebih dirinya juga mendengar suara pintu terbuka.


Jeno dan Bulan, keduanya saling bertatapan. Nafas Jeno seakan tercekat di tenggorokan. Melihat pemandangan yang tersaji di depannya.


Satu sudut bibir Jeno terangkat ke atas. "Indah sekali." cicitnya. Entah bagian mana yang dia lihat.


Bulan tersadar, jika dirinya saat ini tanpa sehelai benang menempel di badan mulusnya. "Jeno...!!!" teriak Bulan sekuat tenaga. Dengan tangan menyerobot tirai di sampingnya untuk menutupi tubuhnya dari pandangan Jeno.


Sebab tak mungkin Bulan mengambil handuk, karena letaknya sedikit jauh dari tempatnya berdiri. Sementara tirai tersebut terletak tepat di sebelahnya.


Seharusnya Bulan membuka tirai tersebut, sehingga sedikit menutupi tubuhnya di bawah guyuran shower, meski masih terlihat transparan. Tapi Bulan tak melakukannya. Kembali lagi, Bulan berpikir hanya dia seorang diri di dalam apartemen.


Suara melengking Bulan mengejutkan Jeno. ''Astag,,, apa yang gue lakukan." gumamnya, menatap wajah Bulan yang horor.


Jeno menelan ludahnya dengan kasar, segera membalikkan badan untuk keluar dari kamar mandi. Brak..... Ditutupnya pintu kamar mandi dengan kencang.


Jeno menyandarkan badannya di pintu kamar mandi. "Huuuuffftt.... Sial...!! kenapa gue nggak kepikiran jika Bulan sedang mandi. Tolol..!!" umpat Jeno pada dirinya sendiri.


Jeno menyugar rambut di kepalanya dengan kasar. "Ckk,,,, joni,,, sabar,,,, Bulan pasti akan jadi milik kita. Tapi tidak sekarang." tukasnya menatap ke arah ************. Dimana juniornya sudah menegang ingin ditidurkan.


Jeno meletakkan dengan asal paper bag berisi pakaian untuk Bulan juga wignya. Bergegas keluar dari kamar, menuju kamar lain. Dimana dia bisa memanjakan juniornya. "Padahal gue dulu pernah melihat Bulan tanpa sehelai baju. Tapi nggak kayak gini banget. Bahkan saat itu gue memeluknya."


Juga di apartemen ini, di kamar yang sama, dimana semalam keduanya tidur di ranjang yang sama. Pernah di mana Bulan mengalami panas tinggi, Jeno memutuskan untuk menghangatkan tubuh Bulan dengan cara memeluk Bulan. Melepaskan pakaian mereka. Dan tidur di bawah selimut yang sama.


Anehnya, junior Jeno sama sekali tidak bereaksi apapun. Jeno juga tidak memiliki hasrat untuk memuaskan nafsunya. Atau kemungkinan keadaan yang berbeda. Serta apa yang Jeno pikirkan juga berbeda.


Jeno melepas semua pakaiannya dengan grusa grusu, meletakkan dengan asal. "Padahal tadi pagi gue sudah melakukannya." tutur Jeno berada di bawah guyuran shower, dengan senyum di kedua bibirnya sembari menggeleng heran.


"Hanya melihat saja sudah membuat junior gue selalu ingin dimanjakan. Bagaimana jika dia sudah masuk ke dalam sarangnya." cicit Jeno absurd, tentunya membayangkan bagaimana seksinya badan sang kekasih.


Bisa-bisa Jeno tidak akan pernah melepaskan Bulan. Selalu mengurungnya di dalam rumah. "Bulan,,, gue pastikan kamu akan menjadi milik Jeno seorang." batin Jeno, menengadahkan wajahnya ke atas denhan ekspresi puas.


Bulan masih berada di dalam kamar mandi. Menahan rasa kesal bercampur malu karena kelakuan Jeno. "Bisa-bisanya masuk ke dalam kamar mandi seenak jidatnya." gerutunya.


Bulan menatap ke badannya sendiri. "Aaa... Jeno....!!" seru Bulan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Kedua pipi Bulan bersemu merah. "Eeehhhggg.... Jeno,,,, ini kedua kalinya Jeno melihat gue kayak gini. Sialan. Nggak adil banget. Eh..." Bulan membungkam mulutnya.


"Apa yang elo katakan Bulan. Apa sih yang ada di otak elo. Nggak adil... nggak adil apanya coba. Elo mau lihat apa." tukas Bulan menceramahi dirinya sendiri.


Bulan mengembalikan tirai yang dia gunakan menutupi tubuhnya ke tempat semula. Membasuh kembali tubuhnya.


Dan kesialan menimpa Bulan untuk kedua kalinya. Karena terus mengomel, Bulan yang tak fokus malah menjatuhkan pakaian serta dalaman yang semalam dia pakai. Padahal pakaian tersebut masih ingin dipakainya lagi.


"Aaaa....!! Ceroboh sekali sih elo...!!" geramnya dengan sebal.


Hanya ada handuk yang tersisa di gantungan kamar mandi. Sehingga mau tak mau Bulan memakainya, untuk bisa keluar dari kamar mandi. "Semoga Jeno nggak ada di kamar." tukas Bulan.


Bulan sedikit membuka pintu kamar. Menyembulkan kepalanya keluar dari pintu, melihat keberadaan Jeno. "Aman." ujarnya, berani keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk menutupi dada hingga paha.


Bulan melihat tiga buah paper bag tergeletak di atas lantai. Dengan sebelah tangan memegang lilitan handuk di depan dada, dan satunya lagi mengambil paper bag tersebut.


Ditaruhnya di atas ranjang dengan melihat isi di dalamnya. Bulan tersenyum senang begitu mengetahui isi dari paper bag tersebut.

__ADS_1


Pertama yang Bulan ambil adalah rambut palsu dengan warna hitam pekat. "Persis rambut asli." lirih Bulan memegang betapa lembutnya rambut palsu di tangannya.


"Pasti mahal." tebak Bulan, pasalnya rambut palsu tersebut persis dengan rambut asli. Bahkan sama.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Bulan untuk mengeringkan rambutnya. Pasalnya rambutnya yang memang dipotong pendek menyerupai lelaki.


Setelahnya Bulan mencoba rambut palsu tersebut, memakainya di atas kepala. Menutupi rambut asli miliknya. "Lumayanlah." puji Bulan pada Jeno, yang memilihkan rambut tersebut. Nampak pas di wajahnya.


Jeno masih berada di kamar sebelah Bulan. Sama seperti Bulan, dia juga hanya menggunakan sehelai handuk yang hanya menutupi perut hingga paha. "Cckk,,, baju gue semua ada di kamar." tukas Jeno.


Jeno merasa sedikit enggan untuk kembali ke kamar. Antara rasa takut bercampur rasa cemas. Takut jika Bulan marah padanya karena masuk begitu saja ke kamar mandi di saat Bulan sedang mandi.


"Lagian kenapa gue nggak ketuk pintu dulu. Tapi,,, salah Bulan juga. Kenapa nggak mengunci pintu. Ceroboh sekali. Bagaimana jika yang masuk bukan gue. Astaga.... gue nggak membayangkan." cicit Jeno.


Jeno keluar dari kamar, dan hendak kembali ke kamar untuk mengambil pakaian ganti. "Gue keluar dah lama. Pasti Bulan juha sudah memakai pakaian." tukas Jeno sembari berjalan.


Saat tangan Jeno menyentuh handle pintu, terdengar suara bel apartemen berbunyi. Menjadikan Jeno mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.


"Siapa yang datang. Jangan sampai tiga cecunguk itu. Mengganggu saja." ketus Jeno, berharap buka Jevo maupun Arya dan Mikel yang datang.


Masih dengan handuk melilit di pinggang, tanpa atasan, Jeno membuka pintu apartemen. "Gue akan mengusir siapa saja yang datang." tukas Jeno dengan nafa kesal.


Klek.... Dengan rasa kesalnya, Jeno membuka pintu. Lidahnya kelu saat dia melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


"Kamu itu, lama sekali membuka pintunya." tukas Nyonya Rindi masuk ke dalam apartemen, melewati Jeno yang berdiri di ambang pintu. Juga dengan Tuan David.


Jeno masih mematung, tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan datang ke apartemennya tanpa memberitahu dirinya terlebih dulu.


"Mama ikut papa kamu menemui klien. Kebetulan lewat sini, mampir saja. Sekalian lihat kamu, apa betul semalam tidur di sini?" papar sang mama.


Jeno hendak duduk, tapi suara Nyonya Rindi menginterupsi sang putra. "Pakai baju dulu. Tidak sopan. Lagian bukannya baru pulang sekolah?" tanya Nyonya Rindi memastikan. Sebab Jeno terlihat segar karena baru saja mandi.


"Iya. Jeno ke kamar dulu, mau pakai baju." ujar Jeno menutupi rasa gugupnya. Apalagi Bulan ada si dalam kamarnya.


Jika Nyonya Rindi tidak menyadari ekspresi Jeno yang terlihat menutupi sesuatu, berbeda dengan Tuan David yang bisa menebak ada gang tidak beres dengan sang putra. "Apa yang disembunyikan anak ini?" batin Tuan David.


Klontak..... baru saja Jeno membalikkan badan, terdengar suara barang jatuh dari kamar Jeno. "Mampus. Jangan sampai mama dan papa tahu ada Bulan di kamar." batin Jeno merasa cemas.


Jeno hanya takut kedua orang tuanya salah menduga. Jeno juga tak ingin kedua orang tuanya menilai Bulan sebagai perempuan tidak baik. Karena bermalam bersamanya. Meski mereka berdua tak melakukan apapun.


Jeno memejamkan kedua matanya sejenak, tanpa membalikkan badannya. "Jeno,,, suara apa itu?" tanya sang mama yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


Jeno menormalkan ekspresi wajahnya. "Tidak tahu ma, Jeno kan ada di sini. Mungkin terbawa angin, soalnya jendelanya tadi Jeno buka." tutur Jeno beralasan.


Berbeda dengan sang mama yang mudah di bohongi, tidak dengan sang papa. Tuan David menangkap kegugupan dari raut wajah sang putra.


Tapi Tuan David memilih membiarkannya. Menunggu sang putra mengatakan sendiri apa yang dia sembunyikan di dalam kamar.


Ting.... Lagi, indera pendengaran Nyonya Rindi menangkap ada bunyi di dalam kamar Jeno. "Astaga,, apa lagi yang Bulan lakukan?" batin Bulan was-was.


Pastinya Bulan tidka mengetahui jika di luar ada kedua orang tua Jeno. Sehingga dia bersikap biasa, dan apa adanya.


"Ma.... mama mau kemana?" tanya Jeno, mengejar sang mama yang berjalan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Jeno mencekal tangan Nyonya Rindi yang sudah memegang handle pintu. "Jeno,, lepaskan. Mama makin curiga. Apa yang kamu sembunyikan di dalam kamar?" tanya Nyonya Rindi menyelidik.


Jeno malah menutup rapat pintu kamarnya yang tadi terbuka sedikit. Sehingga kedua orang tuanya mendengar suara dari dalam kamarnya.


Sementara Tuan David berdiri di belakang Nyonya Rindi dan Jeno. Beliau diam, menyaksikan perdebatan keduanya. Sebenarnya Tuan David juga merasa penasaran. Dan ingin mengetahui apa yang ada di dalam. Ditambah Jeno yang sepertinya menghalangi sang mama untuk membuka pintu kamar.


"Maa.... mama mau apa sih...!! Pake masuk ke kamar Jeno segala...!!" teriak Jeno. Sengaja supaya Bulan mendengar suaranya.


"Awww...!" seru Jeno, saat bahunya dipukul keras oleh sang mama. "Sakit ma...!!" seru Jeno lagi-lagi meninggikan suaranya.


"Kami kenapa berteriak...!! Mama nggak budek..!!" ketus Nyonya Rindi dengan nada kesal.


Suara keras dari Jeno terdengar di telinga Bulan. "Mama... Jangan bilang Nyonya Rindi. Mampus...!!" umpat Bulan.


"Kenapa tante ingin masuk ke sini. Jangan bilang beliau tahu kalau gue ada di sini." tutur Bulan cemas.


"Kok bisa sih...." Bulan menatap vas bunga yang terbuat dari besi yang ada di depannya. Dimana vas tersebut baru saja terjatuh ke lantai kerena Bulan menyenggolnya.


"Apa suaranya sampai keluar kamar. Tidak mungkin, bukankah kamar ini kedap suara." cicit Bulan, yang tidak tahu jika pintunya sedikit terbuka. Sehingga suara dari dalam terdengar lewat celah pintu tersebut.


Karena merasa khawatir akan ketahuan mama dari Jeno, Bulan sampai bingung harus melakukan apa. Mana dirinya belum memakai baju. Dengan handuk masih melilit di tubuhnya. "Bulan,,, makanya pakai baju dulu. Malah main ponsel." gerutunya menyalahkan dirinya sendiri.


"Aduhh.... baju tadi gue taruh mana sih...?!" omel Bulan mencari paper bag yang baru saja dia taruh. Karena rasa cemasnya hingga Bulan lupa menaruh di mana.


"Astaga Bulan....!" Bulan menyibak selimut, membuangnya di lantai dengan tergesa.


"Itu dia..." Bulan merangkak naik ke atas ranjang. Mengambil paper bag di pinggir ranjang.


Krek.... Terdengar suara pintu terbuka. Bulan yang berada di atas ranjang terdiam, menahan nafasnya. Dengan jantung berdebar tak kencang. "Sial....!!" geramnya dalam hati, mana dia belum memakai baju.


"Siapa itu Jeno....?!" seru Nyonya Rindi berdiri di ambang pintu, menatap ke arah ranjang. Dimana Bulan berada di atasnya, memunggungi posisi dari Nyonya Rindi berdiri.


"Tuhan.... Apa yang harus gue lakukan?" ujar Bulan dalam hati.


Di belakangnya ada Jeno dan kedua orang tuanya. Ditambah keadaan Bulan yang hanya memakai handuk. Bulan hanya takut jika kedua orang tua Jeno salah paham pada dirinya.


"Jeno... siapa dia...??!" seru Nyonya Rindi. Tentunya beliau tidak menyangka jika yang berada di atas ranjang adalah Bulan. Sebab Bulan sudah melepas rambut palsu yang beberapa waktu lalu dia pakai. Memperlihatkan rambut pendeknya.


"Turun dari tempatmu. Atau perlu aku menyeret kamu." tegas Tuan David mengancam Bulan.


Jeno memasang wajah muram bercampur bingung. Sang papa bahkan mengeluarkan nada tinggi untuk mengultimatum Bulan.


"Pa... ma... jangan berteriak. Berbicaralah dengan pelan dan lembut." pinta Jeno.


"Apa kamu bilang...!! Lembut,,,!! Jeno,,, kamu mau berselingkuh. Kamu mau mengkhianati Bulan...!! Ingat Jeno,,, mama tidak akan memberi restu jika perempuan itu bukan Bulan. Paham...!!" tegas Nyonya Rindi dengan wajah.


Jeno dan Bulan yang mendengar perkataan Nyonya Rindi langsung terdiam. "Tuhan,,, apa yang terjadi. Jika mereka tahu ini aku." batin Bulan merasa khawatir akan pandangan kedua orang tua Jeno.


Bulan menghela nafa panjang. Merangkak ke samping, mengambil selimut di lantai untuk membungkus tubuhnya. Dengan posisi masih membelakangi mereka yang ada di ambang pintu.


Perlahan, Bulan membalikkan badan. Memperlihatkan wajahnya pada kedua orang tua Jeno.


Tuan David dan Nyonya Rindi menatap dengan ekspresi datar saat mengetahui perempuan yang ada di depan mereka ternyata Bulan.

__ADS_1


__ADS_2