
Di sekolah, Moza tiba-tiba duduk di kursi samping Jevo. "Terimakasih." cicitnya.
Jevo hanya melihat Moza sekilas, lalu kembali fokus pada ponselnya. "Jevo, ada yang ingin aku katakan." ucap Moza.
Jevo masih diam, seolah tidak menganggap keberadaan Moza di sampingnya. "Jauhi Claudia. Dia bukan perempuan baik-baik. Aku bisa memberikan kamu bukti, jika kamu tidak percaya."
Jevo meletakkan ponselnya. "Elo pikir gue lelaki lemah, yang tidak tahu apa-apa."
Moza terdiam sesaat. Memandang Jevo dengan tatapan penuh tanya. Jika Jevo tahu mengenai kelakuan Claudia. Lantas kenapa Jevo hanya diam. Serta tetap menerima Claudia sebagai kekasihnya. Bukankah sangat aneh.
"Lebih baik elo pergi. Mengganggu saja." ketus Jevo, yang memang terasa terganggu dengan Moza.
Bukannya menuruti perkataan Jevo. Moza malah menggeser kursinya, mendekat ke tempat Jevo.
"Serius, kamu sudah tahu?" tanya Moza dengan lirih.
Jevo menatap lekat ke arah Moza. "Kenapa sih elo kepo banget." geram Jevo.
Jevo mendorong pelan tubuh Moza, agar menjauh darinya. Duduk Moza jadi tidak stabil, membuat dirinya sedikit oleng.
Refleks, Moza menarik lengan seragam Jevo. Sontak saja Jevo segera menarik balik tangan Moza. Alhasil Moza tak jadi terjatuh ke belakang, malah maju ke depan. Memeluk tubuh Jevo yang berotot.
"Gila. Badan apa balok. Kokoh banget." ucap Moza dalam hati, di saat tangan kanannya berada di dada Jevo. Sementara tangan kiri berada di lengan Jevo.
"Heyy,,, apa yang elo lakukan...??!" seru Claudia yang baru saja masuk, dan melihat apa yang terjadi di antara Moza dan Jevo.
Claudia menarik Moza untuk menjauh dari Jevo. Dan plak.... telapak tangan Claudia mendarat sempurna di pipi Moza. "Murahan." olok Claudia pada Moza
Jevo segera menarik Claudia menjauh dari Moza. Moza memegang pipinya yang terasa panas. Tersenyum miring menatap Claudia.
"Murahan. Elo bilang gue murahan. Ngaca... mbak..!!" seru Moza, berjalan mendekat ke arah Claudia yang tangannya di tahan oleh Jevo.
"Moza sudah, sebaiknya elo pergi." usir Jevo. Sungguh, Jevo tidak ingin terlibat di antara pertengkaran dua perempuan di sampingnya. Pasti dia yang akan pusing dan terkena imbasnya.
Moza menatap kesal kepada Jevo. Apalagi dilihatnya, Jevo memegang lengan Claudia. Ada perasaan kesal bercampur tidak rela. "Pergi. Kamu ngusir aku??!" bentak Moza.
Plak... Tentu saja Moza tidak terima. Dia juga melayangkan sebuah tamparan ke pipi Claudia.
"Elo...!!" seru Claudia meradang. Ada siswi yang berani menamparnya.
"Stop... Claudia sebaiknya elo kembali ke kelas." usir Jevo.
Jevo mengangkat tubuh Claudia dari belakang. Hendak memindahkannya. Tapi, Moza tak terima. Di belakang tubuh Jevo, tangan Moza berusaha menarik apapun dari bagian tubuh Claudia.
"Astaga..." geram Jevo yang terpaksa melepaskan tangannya pada tubuh Claudia karena lengannya terkena cakaran dari kuku Moza.
Alhasil, Claudia langsung berbalik. Berusaha menyerang balik kepada Moza yang berada di belakang Jevo.
Jevo yang berada di tengah-tengah Moza dan Claudia hanya bisa berteriak serta mencoba menghentikan perkelahian ala dua perempuan tersebut.
Yang hasilnya, bukannya berhenti. Keduanya saling mencakar serta menjambak. Dan Jevo tak luput dari kedua tangan perempuan tersebut.
"Ada apa ini....?! Berhenti...!!" teriak seorang guru, yang tak sengaja melintas di depan kelas.
Mendengar suara sang guru, Moza dan Claudia langsung menghentikan aksi mereka. Jevo melirik kesal pada keduanya.
Bukan hanya mereka bertiga yang terkejut dengan kedatangan sang guru. Para murid yang mendengar teriakan sang guru, juga langsung mendekat. Melihat apa yang terjadi.
"Astaga..." Arya menahan senyum di bibirnya.
"Apa baru saja terjadi perang bini tua dan istri muda." celetuk Mikel.
Terlihat, penampilan Moza dan Claudia begitu berantakan. Bukan hanya mereka berdua, bahkan, penampilan Jevo tak kalah memprihatinkan.
__ADS_1
"Kalian bertiga, ikut saya ke kantor." tegas sang guru.
"Loh, pak.... Saya juga." ujar Jevo, yang memang merasa tidak bersalah.
"Semuanya. Kamu tidak dengar." ucap sang guru bertambah kesal.
"Pak, saya tidak bersalah. Saya hanya melerai mereka berdua." Jevo tetap berusaha membela diri. Dia malas berurusan dengan pihak sekolah. Yang akhirnya, pasti akan dipanggil orang tuanya untuk menghadap.
"Jevo. Di kantor ada kaca. Berkacalah di sana." geram sang guru.
"Ccckk,,, gara-gara kalian berdua. Gue kena getahnya."
Ketiganya melangkahkan kaki ke kantor. Mengekor di belakang sang guru. Dangan Claudia dan Moza memperbaiki rambut mereka yang seperti rambut singa.
Claudia dan Moza saling mencuri pandang dengan tatapan sinis mereka. Seakan mereka tak mau jika di ajak berdamai.
Ketiganya berdiri di depan guru dan kepala sekolah, dengan penampilan acak-acakan. Kepala sekolah hanya bisa menggeleng. "Sekarang pilih. Hukuman, atau orang tua klain dipanggil ke sekolah."
"Hukuman." ucap ketiganya serempak.
"Kalian memang kompak. Dan kamu Moza, bapak harap kamu menjaga kelakuan kamu." tukas kepala sekolah.
Moza mengerti, kenapa kepala sekolah berkata demikian. Moza belum genap satu bulan masuk ke solah ini. Dan dirinya sudah menimbulkan masalah. "Baik pak. Maaf untuk hari ini, saya tidak akan mengulanginya lagi." papar Moza menyesal.
"Ikut dengan saya." tukas sang guru, membawa mereka keluar dari ruangan kepala sekolah.
Seperti anak ayam yang mengikuti induknya, mereka mengekor di belakang sang guru. "Bersihkan tempat ini."
Sang guru menghentikan langkahnya di lapangan yang biasanya dipakai olah raga outdoor. "Dari sana sampai sana." sembari menunjukkan bagian yang perlu mereka bersihkan.
"Pak, bukankah sudah ada petugas kebersihan di sekolah ini." cicit Claudia.
Yang benar saja. Make-upnya akan luntur seketika. Dengan kukut menghitam karena terbakar terik matahari siang.
Claudia tersenyum. "Terimakasih pak."
Claudia membalikkan badan, baru dua langkah kakinya melangkah, tapi sang guru kembali mengeluarkan suara yang membuat Claudia membalikkan badannya kembali.
"Ajak kedua orang tua kamu ke sekolah. Paling lambat besok. Jika tidak kamu akan mendapat skorsing. Minimal seminggu." tekan sang guru.
Claudia dengan wajah cemberut kembali ke tempatnya. Sedangkan Moza hanya menahan tawa. "Ingat, lakukan dengan benar."
Sang guru menunjuk ke sebuah bangku di lorong. "Saya akan berada di dana selama kalian berada di sini. Mengerti." jelasnya tersenyum.
Yang artinya, mereka akan berada di bawah pengawasan selama melakukan hukuman tersebut. "Silahkan, mulai dari sekarang."
Sang guru berjalan menuju ke arah bangku hang dia tunjuk tadi. "Astaga kenapa panas sekali." ujarnya dengan nada keras, bermaksud menggoda ketiga muridnya yang sedang dihukum.
Di tempat lain, Timo benar-benar sedang melepaskan penatnya. Dia berada di sebuah gubuk kecil di tengah tanaman ilalang. Tanpa topeng melekat di wajahnya.
Timo benar-benar menjadi dirinya sendiri.
Tawa kecil selalu terdengar mengerikan dari mulutnya. "Bagaimana? Apakah sakit?"
Lagi-lagi dia tertawa bahagia, saat hewan di depannya mengeluarkan suara kesakitan karena ulahnya.
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini pada kamu. Tapi mainanku masih berada di luar negeri. Dan hang satu, masih berada di kantor polisi. Benar-benar membuatku kesal." cicitnya, dengan tangan menganiaya hewan tak bersalah di depannya.
Mainan yang dimaksud masih berada di laur negeri adalah wanita yang selama ini dia panggil dengan sebutan mama.
Tentu saja Timo menginginkan nyawanya. Apalagi jika bukan karena ingin menguasai hartanya.
Dan mainan yang berada di kantor polisi adalah Serra. Sebah Serra sudah dinyatakan sehat. Dan dia diminta oleh pihak berwajib menggambarkan wajah pelaku yang menculiknya. Sehingga petugas keamanan dapat segera menangkapnya.
__ADS_1
"Dan lagi. Ada dua orang lagi yang sedang aku ingin lenyapkan. Si cupu, dan Jevo." ucapnya terkikik, dengan tangan kembali menyiksa hewan tak berdosa di depannya.
"Serra. Memang polisi akan menangkap orang yang sudah meninggal." Timo tertawa lepas.
Saat beraksi dengan korbannya Serra, Timo memakai topeng seorang lelaki muda. Yang telah meninggal dalam kecelakaan tiga tahun yang lalu.
Bahkan, jenazahnya telah dimakamkan oleh keluarganya di desa tempat kelahirannya. Timo mengambil topeng lelaki tersebut dari dalam saku jaketnya.
"Elo sudah tidak berguna. Waktunya membuat topeng yang baru. Jevo." seringainya.
Saat ini, dipikirannya hanya ada Jevo. Tentu saja dia begitu tertarik dengan Jevo, yang notabennya masih duduk di bangku SMA. Dan yang terpenting, dia berasal dari keluarga kaya raya.
"Kenapa kamu mudah sekali lemas." tuturnya, melihat hewan tersebut sudah tak berdaya. Nafasnyapun tersengal, buda dihitung menggunakan jari.
Timo berdiri, menendang hewan di depannya tanpa perasaan. "Seharusnya kamu melawan. Kenapa hanya pasrah."
"Tidak menantang." keluhnya.
Berjalan meninggalkan hewan yang terikat tersebut. Mengambil sesuatu dari bagasi mobilnya. Sebuah jurigen dengan korek api berada di tangannya.
Mudah di tebak, apa yang ingin dia lakukan. Dengan bersenandung kecil, disiramkannya bensin tersebut kepada hewan yang telah dia aniaya hingga tak berdaya.
Lalu diambilnya topeng yang dia buang sebelumnya. Ditaruh di atas tubuh hewan tersebut. "Kalian berdua, lenyaplah bersama."
Dinyalakan korek api, dilemparkan ke hewan tersebut. Suara tawa bahagia terdengar menyakitkan bagi hewan tersebut yang sedang terbakar.
Merasa belum puas, dia kembali mencari objek lain yang bisa dia jadikan pelampiasannya. Yang dia mengatakan sebagai pelepas penat dan stres.
Entah kelainan apa yang dia derita. Hingga Timo senang sekali menyiksa makhluk hidup. Bukan hanya binatang. Tapi juga manusia.
Seperti yang diperkirakan Timo. Saat ini Serra berada di kantor kepolisian. Dia duduk dengan tenang, ditemani sang papa di sebuah ruangan yang nyaman.
Menggambarkan wajah pelaku dengan suaranya. Mengingat bagaimana rupa lelaki yang memperlakukannya seperti hewan. Sementara seorang lelaki di depannya, mengerakkan tangannya membuat sketsa wajah yang di katakan oleh Serra.
Selesai. "Terimakasih atas kerja samanya."
Segera sketsa wajah pelaku di perjelas. "Dia, sepertinya aku pernah melihat wajahnya." cicit seorang polisi. Memandang jeli sketsa tersebut.
"Tidak mungkin. Dia,,, dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu." ujar seorang polisi tak percaya, saat identitas pelaku tertera dalam layar komputernya.
Para polisi saling memandang. Pandangan mereka berpindah ke arah Serra yang sedang duduk bersama sang papa sembari minum sebotol air mineral.
"Tidak mungkin dia berbohong. Lagi pula, untuk apa dia berbohong." papar seorang polisi menatap ke arah Serra.
Seorang polisi kembali menghampiri Serra. Ditunjukkanya sketsa yang sudah diperjelas. "Kamu yakin, jika dia pelakunya?"
Serra mengangguk. Membenarkan pertanyaaan dari polisi tersebut. Sebab, memang lelaki tersebut yang dia lihat saat itu.
Sang polisi duduk di depan Serra. "Dia. Lelaki ini. Sudah dinyatakan meninggal sekitar tiga tahun yang lalu. Dalam kecelakaan mobil, bersama temannya. Tapi dia tidak selamat. Sementara temannya selamat."
Serra menggeleng sembari tersenyum hambar. "Benar, lelaki itu yang saya lihat." ucap Serra dengan wajah serius.
Serra beserta sang papa pergi meninggalkan kantor kepolisian. Sementara di kantor polisi, beberapa anggota yang terkait mengadakan rapat dadakan.
Apalagi jika bukan membahas wajah pelaku yang dinyatakan sudah meninggal tiga tahun yang lalu. "Mustahil. Apa jangan-jangan mereka kembar."
"Tidak. Sudah tercatat dengan jelas jika dia tidak mempunyai kembaran."
"Lalu bagiamana bisa. Ada dua orang dengan wajah yang sama. Padahal dia sudah dinyatakan meninggal."
Kini, pihak kepolisian dibuat semakin bingung dengan kasus ini. Awalnya mereka merasa senang. Dengan selamatnya salah satu dari korban.
Namun sekarang, kesenangan itu berubah kembali menjadi rasa bingung yang bertambah besar dari sebelumnya. Dan kini, pekerjaan mereka bertambah lagi.
__ADS_1
Mereka harus menyelidiki keluarga dari gambar sketsa lelaki yang berada di atas kertas putih tersebut.