
"Gue diancam." ungkap Sapna pada Bulan.
Sepulang dari rumah Jeno, keduanya bersikap baik-baik saja di hadapan Nyonya Irawan. Dan bertingkah sewajarnya. Kedua mata Sapna tak lagi sembab seperti saat di rumah Tuan David.
Sehingga Nyonya Irawan tidak menaruh curiga pada sang putri. Karena melihat semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Sapna juga mengatakan pada sang mama jika dirinya tidak lulus wawancara kerja.
Nyonya Irawan tidak marah, beliau tetap memberi semangat pada sang putri untuk tidak menyerah. Dan terus mencari pekerjaan di tempat lain.
Seperti malam sebelumnya, Sapna dan Bulan memang tidur sekamar. Sedangkan Nyonya Irawan tidur sendiri di kamar berbeda.
Sebenarnya ada satu kamar lagi di rumah yang Bulan tempati. Yang dulu biasanya di tempati oleh pembantu.
Tapi sekarang kamar tersebut Bulan gunakan sebagai gudang. Sehingga tidak layak huni. Dan lagi, Bulan masih lajang. Jadi tidak masalah jika Sapna tidur sekamar dengannya.
Semenjak kehadiran Sapna yang tidur sekamar dengannya. Mau tak mau Bulan menyisihkan tempat tidur yang dulu. Dan menggantinya dengan yang baru, supaya lebih nyaman ditempati oleh dua orang.
Semua Bulan lakukan karena kasurnya yang dulu hanya kecil. Dan sedikit sempit jika di tempati oleh dua orang.
"Siapa?" tanya Bulan penasaran, dengan orang yang telah mengancam Sapna.
"Pemilik perusahaan kecil itu."
"Bisa elo ceritakan dengan detail." pinta Bulan yang diangguki oleh Sapna.
kilas balik...........
Begitu Bulan meninggalkan depan perusahaan di mana Sapna akan menerima wawancara kerja, Sapna masuk ke dalam perusahaan dengan perasaan bahagia. Setidaknya ada kemungkinan dirinya diterima untuk bekerja.
Sapna menunggu hampir satu jam, untuk masuk ke sebuah ruangan. Yang Sapna tebak adalah ruang wawancara kerja.
Tapi anehnya, hanya dia sendiri yang ada di ruang tunggu. Saat Sapna bertanya pada seorang karyawan perempuan, dia mengatakan jika peserta wawancara kerja sudah diatur, sehingga tidak terlalu antri.
Namun tetap saja Sapna merasa janggal. Meski tidak antri. Dan hanya dia seorang, tetap saja dia harus menunggu hampir satu jam lamanya.
Semua berjalan tampak seperti biasa saat Sapna berada di dalam ruangan. Tidak ada yang mencurigakan. Kejanggalan yang sempat ada di dalam benak Sapna tidak terbukti.
Sapna di berikan beberapa pertanyaan oleh seorang perempuan, yang Sapna tebak adalah karyawan di perusahaan tersebut.
Hampir setengah jam lebih, Sapna berada di dalam ruangan untuk menjawab semua pertanyaaan. Setelah itu, perempuan tersebut menyuruh Sapna keluar, untuk menunggu hasilnya.
Sapna sempat merasa heran. Sebab biasanya pengumuman diterima kerja atau tidaknya, tidak akan langsung diberitahu. Dan biasanya pihak perusahaan akan memberitahu lewat email atau lewat ponsel.
Tapi Sapna berpikir positif saja. Sapna berpikir jika perusahaan tersebut berjalan dengan baik dan para karyawannya sangat kompeten, sehingga tak perlu menunggu hari esok untuk memberitahu Sapna, apakah dia diterima kerja atau tidak.
Kembali, Sapna menunggu di luar. Untuk mengusir rasa bosan, Sapna mengeluarkan ponsel dan memainkannya. Apalagi Sapna menunggu lebih dari dua jam lamanya.
Sapna kembali di panggil, hanya saja dia dibawa ke ruangan yang berbeda. Dan Sapna bisa melihat siapa yang ada di ruangan tersebut. Pemilik perusahaan.
Sapna sempat tertegun. Pemilik perusahaan masih sangat muda. Bahkan mempunyai wajah tampan. "Sepertinya umurnya masih di bawah gue." tebak Sapna.
Satu lagi, hal pertama yang Sapna nilai adalah lelaki yang duduk di kursi kebesarannya tersebut tampak ramah dan baik. "Apa mungkin ini perusahaan bokapnya?" tanya Sapna dalam hati.
Kedua mata Sapna mencari papan nama hang biasanya diletakkan di atas meja. Tapi hasilnya nihil. Tak ada papan nama di atas meja tersebut.
Sapna hanya berdua di ruangan tersebut, dengan lelaki yang Sapna tebak adalah pemilik perusahaan. Tapi siapa yang menyangka. Setelah beberapa menit, ekspresi wajah lelaki tersebut berubah tiga ratus enam puluh drajat.
Sapna tetap berusaha tersenyum ramah. Meski di dalam benaknya merasakan hal yang agak janggal. Apalagi setelah lelaki tersebut berjalan mendekat ke arah Sapna, dan berdiri dengan wajah angkuh di depan Sapna.
"Siang pak." sapa Sapna pada lelaki tersebut.
"Saya mempunyai video, saat mama kamu melayani beberapa lelaki, ketika kalian di sekap." ucapnya tanpa basa-basi.
Kini, ekspresi wajah Sapna yang berubah total mendengar apa yang lelaki tersebut katakan. "Mak-maksud anda?" tanya Sapna berusaha untuk tenang.
Meski pada kenyataannya kedua kakinya sudah bergetar. "Jangan berpura-pura lugu dan bodoh. Saya tahu apa yang terjadi di sana." ujarnya, dengan tangan memainkan ujung rambut Sapna yang terurai di depan dada
Lelaki tersebut memandang Sapna penuh makna. "Apa yang anda inginkan?" tanya Sapna, menahan rasa takut yang ada di dalam dirinya.
Sapna teringat dengan apa yang selalu Bulan katakan. Untuk tetap tenang dan menguasai keadaan dalam situasi apapun. Terlebih saat musuh ada di depan mata.
__ADS_1
"Gue tidak boleh terlihat lemah. Gue tidak mau diinjak-injak. Mama,,, Sapna akan melakukan apapun untuk melindungi mama." batin Sapna menguatkan hati dan pendiriannya.
Lelaki tersebut menarik tangannya dari rambut Sapna, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, tersenyum remeh memandang Sapna.
"Pertanyaan yang tepat. Aku suka perempuan cerdas. Memang benar. Putri Bimo, selain cantik, dia juga pandai. Aku suka itu." tuturnya, antara memuji dan menghina.
"Katakan. Apa yang anda inginkan?" tanya Sapna lagi, tak tahan berada dalam satu ruangan dengan lelaki hang terang-terangan ingin mengambil sesuatu dari dirinya.
"Tentunya bukan uang." ejeknya, sebab semua orang sudah mengetahui bagaimana kondisi keuangan Nyonya Irawan dan Sapna setelah pak Bimo masuk ke dalam jeruji besi.
"Itu anda sudah tahu. Jika saat ini kami tidak mempunyai apapun." tekan Sapna.
"Apa kamu datang ke sini karena uang?" tanyanya pada Sapna, tersenyum remeh. Padahal dia tahu untuk apa Sapna datang ke perusahaan ini.
"Benar. Saya datang karena ingin bekerja. Sehingga saya bisa menghasilkan uang."
"Baiklah. Kamu saya terima bekerja di perusahaan saya. Kapanpun kamu siap, kamu bisa masuk bekerja." papar lelaki tersebut.
Seketika rasa cemas Sapna menghilang, mendengar jika dia diterima bekerja. "Benarkah, saya diterima bekerja?" tanya Sapna tidak percaya.
Lelaki tersebut mengangguk. "Benar." ujarnya.
Sapna tersenyum senang. Bahkan dirinya lupa jika lelaki dihadapannya baru saja mengatakan jika dia mempunyai video dimana sang mama sedang pernah menjadi pemuas nafsu beberapa lelaki saat ditawan di sebuah rumah mewah.
"Terima kasih banyak." tutur Sapna merasa senang, yang diangguki oleh lelaki tersebut.
"Tapi masih ada satu syarat yang harus kamu penuhi." tuturnya memandang Sapna dengan senyum misterius.
Senyum di bibir Sapna menghilang seketika. Dirinya teringat perkataan lelaki di depannya saat pertama kali. "Apa?"
Sapna bertanya dengan was-was. Perasaan tidak enak di dalam hatinya menyebar ke seluruh aliran darah.
"Kita bertemu nanti malam. Di hotel." ucapnya tersenyum miring.
Sapna menahan nafas sejenak. "Maaf, tapi nanti malam saya tidak bisa. Saya ada janji dengan teman saya." tolak Sapna dengan cara berbohong.
"Seperti yang anda tahu. Dia memang kekasih saya." tukas Sapna, mencium bau-bau yang akan membuat dirinya dalam masalah. Dan tetap menggunakan nama Mikel. Berharap lelaki di depannya mengurungkan niat jahatnya, saat mendengar nama Mikel.
Dan benar saja. Sesuai apa yang ada di dalam benak Sapna. Lelaki tersebut langsung berbicara ke intinya. "Ada dua pilihan. Dan keduanya tidak berhubungan dengan Mikel. Saya sama sekali tidak peduli dengan dia." ujarnya.
Pupus sudah apa yang ada di benak Sapna. Dimana dia berharap dengan menyebut nama Mikel, dia akan terbebas dari masalah.
"Pertama, kamu akan bekerja di sini. Dengan jabatan yang banyak diinginkan oleh semua pegawai. Dan pastinya dengan gaji yang kamu inginkan. Bahkan, kamu bisa membeli rumah sendiri dalam beberapa bulan ke depan. Dengan syarat, nanti malam kita bertemu di hotel."
Sapna bukan perempuan bodoh. Dirinya bisa menebak apa yang diinginkan lelaki di hadapannya ini. "Bukankah kamu sangat membutuhkan uang. Jangan munafik. Papa kamu sekarang tidak bisa melakukan apapun, Nona." lanjutnya.
"Satu dayung, dia pulai terlampaui. Tenang, dengan kamu datang ke hotel, saya akan memberikan gaji secara pribadi. Bagaimana, kurang baik apa saya sama kamu."
Terdengar membantu, tapi sejujurnya lelaki tersenut sedang merendahkan harga diri serta kehormatan Sapna.
Sapna masih terdiam dengan mendengarkan apa yang dikatakan oleh lelaki di depannya. "Atau yang kedua, jika kamu menolak bertemu di hotel nanti malam. Kamu tidak diterima untuk bekerja di sini. Dan,,,,, video mama kamu akan menjadi konsumsi publik." ancamnya tersenyum sempurna.
Langkah kaki Sapna bergerak mundur beberapa langkah. Rahang Sapna mengeras dengan kedua tangan mencengkeram erat rok bagian bawah yang dia pakai.
Lelaki di depannya membalikkan badan. Kembali duduk di kursi dengan ekspresi angkuh. Menunjukkan pada Sapna, siapa saat ini yang berkuasa. Dan Sapna hanya bisa mengikuti apa yang dia inginkan tanpa bisa menolak.
"Tidak ada satupun orang yang tahu kapan video itu diambil. Pasti mereka akan mengira, jika itulah pekerjaan mama kamu sekarang untuk menyambung hidup. Di saat papa kamu mendekam di balik jeruji besi. Ha.... Ha...." ujarnya dengan tawa menggelegar memenuhi ruangan.
Sapna menggeleng tak percaya. Kebahagiaan sejak pagi tadi hancur hanya karena keinginan lelaki yang sama sekali tidak dia ketahui siapa dia, bahkan namanya sekalipun.
"Kenapa? Kenapa anda melakukan ini pada kami?!" tanya Sapna dengan suara bergetar menahan amarah bercampur rasa takut.
"Tidak ada alasan untuk saya. Karena saya melakukannya hanya karena ingin saja." jelasnya sama sekali tidak masuk akal.
Sapna menyipitkan sebelah matanya. "Apa mau kamu?!" tanya Sapna, masih tidak percaya dengan alasan hang dikatakan lelaki tersebut.
"Mau saya." ucapnya menirukan apa yang Sapna katakan dengan menunjuk ke wajahnya sendiri. "Nanti malam kamu akan tahu, jika kamu bersedia datang ke hotel yang sudah saya tentukan." lanjutnya.
"Baiklah.... Anda boleh keluar. Pikirkan lagi apa yang akan kamu lakukan." usirnya dengan menatap ke arah pergelangan tangan. Dimana ada sebuah jam tangan mewah dan mahal melingkar di sana.
__ADS_1
"Jadi.... Nanti sekitar pukul delapan malam saya akan menghubungi kamu. Memberitahu hotel tempat kita akan bertemu. Itulah saatnya kamu memberi jawaban. Dan jika kamu bersedia, saya menunggu kamu di hotel tepat pukul setengah sepuluh malam. Dan jika kamu tidak datang, kamu tahu apa yang akan terjadi." jelasnya.
Lelaki tersebut menggerakkan tangannya. "Silahkan keluar. Dan pikirkan, apa yang akan kamu lakukan." usirnya.
"Oooo... Tunggu... Tunggu... Kamu tenang saja. Saya tidak akan melibatkan Mikel. Dan saya akan menjamin, Mikel tidak akan tahu apapun. Jadi jangan khawatir."
kilas balik selesai......
Bulan dengan seksama mendengarkan semua cerita Sapna tanpa memotong perkataan Sapna. Sekarang Bulan mengerti dan paham, kenapa Sapna seperti orang yang frustasi.
Tentu saja Sapna tidak ingin sang mama terlibat masalah yang dimana dirinya terpaksa melakukannya demi menyelematkan dirinya.
Dan lagi, Sapna khawatir sang papa yang ada di dalam jeruji besi akan berpikir negatif tentang sang mama. Sapna tidak ingin hubungan kedua orang tuanya hancur.
"Ini semua karena mama ingin menyelamatkan gue." cicit Sapna merasa bersalah. Hanya dirinya dan Bulan yang tahu masalah ini. Sehingga Sapna lebih tenang saat bercerita dengan Bulan.
"Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita. Juga tante Irawan. Beliau tahu, apa hal yang paling di jaga oleh seorang perempuan. Keperawanan mereka. Sapna,,, mama kamu hanya tidak ingin, kamu akan mengalami kesulitan di masa depan. Jadi jangan menyalahkan diri kamu. Jika kita sudah mempunyai anak, kita mungkin juga akan melakukan hal yang sama seperti mama kamu." papar Bulan tidak ingin Sapna mengalahkan dirinya sendiri.
"Apa yang harus gue lakukan, Bulan. Gue bingung. Apa gue malam ini menemui dia saja. Sungguh hidup gue akan hancur, jika terjadi apa-apa sama mama." tutur Sapna tak rela melihat sang mama menderita untuk kesekian kalinya.
"Tenang. Ada gue. Mana mungkin gue membiarkan kalian menderita."
Sapna memeluk Bulan. "Elo tahu, gue berasa punya kakak."
Bulan mengurai pelukan Sapna. "Jangan ngaco. Gue nggak mau punya adik kayak elo. Saingan cantiknya nanti. Cukup Bintang, adik gue. Jadi gue aman. Soalnya dia lelaki." canda Bulan, disambut tawa ringan oleh Sapna.
Bulan berdiri, membuka laptop di atas meja. Sapna yang penasaran juga mengikuti ke mana Bulan berjalan. Tentu saja Sapna ingin tahu apa yang akan dilakukan Bulan setelah mendengar ceritanya.
Dengan lincah, jari jemari Bulan bermain di atas keyboard. Meski Sapna sudah pernah melihat Bulan melakukan hal seperti ini sebelumnya. Tapi tetap saja Sapna merasa kagum dengan keahlian yang Bulan miliki.
Bulan mencari tahu siapa lelaki yang dimaksud oleh Sapna. "Apa dia orangnya?" Bulan memperlihatkan sosok lelaki di layar laptop pada Sapna.
Sapna melihatnya dengan seksama. Dirinya tidak ingin salah mengenali orang. "Benar. Dia lelaki yang tadi." ujar Sapna dengan yakin.
Bulan tersenyum remeh. "Revan. Dari mana dia mendapatkan rekaman video tersebut." lirih Bulan, mengenal sosok tersebut.
"Elo kenal?" tanya Sapna yang mendapat anggukan dari Bulan.
"Revan. Putra Tuan Tene. Rekan papa kamu, yang saat ini juga berada di dalam penjara. Dia kakak kelas Jeno. Mungkin sekarang dia mempersiapkan diri untuk masuk kuliah." jelas Bulan.
Sapna membulatkan kedua matanya dengan mulut terbuka. "Astaga..." gumamnya menutup mulutnya menggunakan satu telapak tangan, tidal mengira jika lelaki tersenut putra Tuan Tene. Terlebih dia masih muda.
"Apa mungkin dia mengambil alih perusahaan papanya? Tapi bukankah perusahaan Tuan Tene juga disita. Sama seperti semua harta milik papa." tanya Sapna.
"Beberapa perusahaan Tuan Tene memang disita. Revan melakukan hal yang sama seperti Claudia. Mengamankan beberapa kekayaan papa mereka. Meski hanya sebagian kecil. Tapi itu sangat beresiko." jelas Bulan.
"Tapi kenapa dia langsung membidik gue. Padahal gue sama sekali tidak mengenal dia." ujar Sapna bingung.
"Mikel adalah sahabat dekat Jevo. Dan Jevo,,, dia musuh besar Revan." tebak Bulan, jika semua karena ingin menghancurkan Jevo lewat Mikel. Dan Sapna yang menjadi sasaran Revan.
"Dan gue yang menjadi targetnya. Karena gue kekasih Mikel." tebak Sapna. Tidak mengira sandiwara mereka akan berujung seperti ini. Badan Sapna langsung lemas seketika.
Bulan mengangguk. "Sepertinya begitu. Tapi, gue akan mencari tahu lebih lanjut." jelas Bulan, sebab video yang dikatakan Revan sangatlah berbahaya jika sampai tersebar.
"Bulan. Tapi waktunya hanya tinggal satu jam lagi." ujar Sapna resah.
"Tenang saja. Gue akan melakukan yang terbaik." tutur Bulan.
Bulan berdiri. Tak ingin membuang waktu yang sangat berharga, Bulan mengambil jaket dan dia kenakan. "Elo mau kemana?" tanya Sapna.
"Ingat. Selama gue tidak ada di rumah, tekan pengaman ganda pada setiap pintu dan jendela. Jangan sembarangan membuka pintu. Dan lebih baik elo tidur sama tante Irawan. Katakan pada beliau jika gue ada tugas malam." jelas Bulan tidak mengatakan kemana dia akan pergi.
"Satu lagi. Gue akan menghubungi elo jika gue mau masuk ke rumah. Jangan membuka pintu, meski yang datang orang yang elo kenal."
"Termasuk Mikel." tanya Sapna.
Bulan mengangguk. "Siapapun. Bahkan Jeno sekalipun." tekan Bulan memperingatkan.
"Baik." tukas Sapna mengingat apa yang Bulan katakan. Dirinya tidak ingin semakin menyusahkan Bulan.
__ADS_1