
Ketiganya terdiam, dengan pikiran masing-masing, setelah Bulan melampiaskan emosinya. Seketika, Gara teringat akan sesuatu. "Bulan, apa ada ruangan lain di sini. Yang elo belum beritahu pada kita?"
Mikel yang memang tidak mengerti maksud perkataan Gara, dia hanya diam. Menyimak obrolan keduanya. Sebab, dirinya memang hanya mengetahui ruangan yang memang terlihat oleh kedua matanya.
Sejenak, Bulan menatap Gara dengan ekspresi datarnya. "Ada." jawab Bulan singkat.
Percuma juga tidak memberitahu atau merahasiakan pada Gara. Bulan yakin jika Gara telah mengetahuinya. Tapi Gara tidak ingin berbuat ceroboh, karena tidak tahu ada apa di dalam sana.
"Apa berbahaya?" tanya Gara, karena Bulan tidak memberitahu pada mereka semua.
Bulan terdiam. Lalu menggeleng dengan malas. "Lantas." Gara semakin penasaran di buatnya.
Jika ruangan tersebut tidak berbahaya, mengapa Bulan tidak memberitahukannya pada mereka. "Apa ruangan itu menyimpan benda yang berharga?" tanya Gara lagi, sebab Bulan tak segera menjelaskannya.
Bulan berdiri. Dan berjalan ke arah dimana ruangan itu berada. Gara segera menyusulnya. Juga dengan Mikel. Keduanya mengekor di belakang Bulan.
Bulan berhenti di depan tembok. Lalu menengadahkan kepalanya ke atas. Tangannya terjulur ke atas. Bulan hanya membuka telapak tangannya selebar mungkin.
Dan tembok di depannya bergerak perlahan. "Sensor motorik." gumam Gara, melirik ke arah Bulan.
Jika cara membukanya seperti ini, Gara bisa menebak. Jika hanya Bulan yang bisa membukanya. Yang artinya, ruangan tersebut adalah ruangan yang khusus di buat untuk Bulan.
Tapi pertanyaannya, bukankah markas ini adalah markas hasil rampasan dari musuh mereka. Kenapa ada ruangan yang menurut Gara tidak masuk akal sama sekali.
Gara juga masih mengingat, jika dulu, Bulan seperti enggan untuk menempati markas ini. "Pasti ada sesuatu yang Bulan sembunyikan dari kita." batin Gara.
Dan yang pasti, semua itu menyangkut masalah pribadi Bulan. Karena selama ini, meski dirinya dan Bulan terbilang sangat dekat.
Tapi Bulan bukan tipikal perempuan yang dengan mudah berbagi dengan orang lain. Termasuk dengannya, untuk masalah tertentu.
"Waooow..." seru Mikel melihat apa yang tersaji di depan matanya.
Sebuah ruangan dengan ukuran besar, yang di desain seperti kamar dengan perabot yang sangat bagus serta mewah.
"Bahkan luasnya sama dengan luas kamar gue." tukas Mikel. Membandingkan ukuran ruangan ini, dengan kamar yang selama ini dia tempati.
"Jangan sampai ada yang tahu. Cukup kalian berdua." tukas Bulan, membuat Gara dan Mikel hanya bisa mengangguk patuh.
Bulan berjalan keluar dari ruangan. Mikel dan Gara saling memandang sejenak, lalu segera Mikel membantu Gara. Mendorong kursi roda yang Gara duduki untuk keluar dari ruangan, dan segera mengikuti ke mana Bulan berjalan.
Padahal, keduanya masih belum puas melihat ruangan tersebut. Apalagi, terlihat ada dia pintu di dalam ruangan tersebut.
Tapi mau bagaimana lagi, Bulan sudah keluar. Membuat keduanya juga harus keluar. Pintu kembali tertutup saat keduanya baru saja melangkahkan kaki keluar dari pintu.
"Pasti ada yang bu Bulan sembunyikan dari kita." bisik Mikel, menundukkan tubuhnya, agar mulutnya bisa menjangkau telinga Gara.
"Apa elo ingin menyelidikinya?" tanya Gara.
Mikel berdecak. "Elo pikir gue nggak punya kesibukan." ketus Mikel, yang tahu jika Gara pasti sedang menjebaknya.
Gara terkekeh pelan. Dirinya juga sama seperti Mikel yang juga penasaran. Tapi, dirinya juga sama seperti Mikel, yang tidak akan pernah lagi membahas perihal ruangan tersebut ke depannya.
Entah dengan Bulan. Atau dengan Mikel. Biarkan Bulan menyimpan rahasianya sendiri, tanpa ada orang yang mengusiknya.
Bulan kembali menghentikan langkahnya di depan sebuah tembok. Membuat Mikel juga menghentikan kursi roda serta langkahnya di belakang Bulan.
Bulan meraba tembok di depannya. Setelah menemukan sesuatu, Bulan menekannya perlahan ke dalam.
Sama seperti yang pertama, tembok di depan mereka terbuka perlahan. Tapi, pintu di depan mereka lebih luas dari pada pintu di ruangan pertama.
"Gelap sekali." cicit Mikel, mengomentari ruangan di depannya yang tidak sama dengan ruangan sebelumnya. Dimana, saat pintu terbuka, lampu di ruangan menyala secara otomatis.
Bulan melangkahkan kakinya ke dalam dengan santai. Menyalakan lampu untuk menerangi ruangan tersebut.
"Ini...." Mikel terkejut, melihat begitu banyaknya senjata yang biasanya digunakan untuk menghukum atau menyiksa orang berada di ruangan ini. Tertata dengan rapi.
"Ruang penyiksaan." lanjut Gara.
Bulan kembali menekan sebuah tombol di tembok. Membuat tembok di depan Bulan terangkat naik ke atas. "Gila...!!" seru Mikel.
Bulan bersedekap dada. Memandang beberapa ruangan yang hanya bersekat jeruji besi satu dengan yang lain. Dan ruangan tersebut terlihat menyeramkan. Karena di tembok tersebut penuh dengan bekas cipratan darah.
"Mereka selalu memasukkan musuh ke dalam sini. Lalu menyiksanya." jelas Bulan.
"Lalu, kemana mereka membuang mayatnya?" tanya Mikel, tiba-tiba berpikir ke arah sana.
Bulan kembali menekan sebuah tombol, lalu Bulan segera melangkahkan kakinya ke belakang. Terlihat, beberapa kotak keramik yang sempat Bulan injak terbuka perlahan.
Memperlihatkan anak tangga menuju ke lantai bawah. Bulan berjongkok. Hanya melihat tanpa melangkahkan kakinya ke anak tangga tersebut.
"Pasti di dalam sana ada serigala liar." tebak Mikel, teringat sebuah ruangan yang tidak boleh di buka oleh siapapun.
"Bukan." Bulan kembali berdiri.
"Lalu?" tanya Mikel.
__ADS_1
"Apa elo nggak bis mendengar suara yang muncul dari sana?" tanya Bulan, seperti sedang memainkan tebakan dengan Mikel.
Merasa penasaran, Mikel mengikuti apa yang Bulan lakukan. Mikel merasakan hembusan angin yang kuat dari dalam. Dan terdengar suara deburan air.
"Air." tukas Mikel, terdiam lagi. Dan mencoba menebak apa yang ada di dalam.
Mikel memandang Bulan dengan tatapan tak percaya, dan segera menyingkir dari tempatnya berada. "Perasaan di sekitar sini tidak ada pantai atau laut. Atau mungkin sungai. Tapi, kenapa hembusan anginnya sangat kencang." cicit Mikel.
Gara sekarang mengerti. Apa yang ada di bawah sana. "Jika tebakan gue nggak salah. Bawah markas ini, terhubung dengan aliran air pantai yang ada di kota sebelah." jelas Gara.
Mikel memandang Gara dan Bulan secara bergantian. "Tepat." Bulan menekan kembali tombol tersebut, sehingga lantai di bawah kembali tertutup.
"Hebat, kira-kira, siapa yang membangun tempat ini?" tanya Mikel yang hanya berani dia ucapkan dalam hati. Apalagi ada aliran air dari pantai yang ada di kota sebelah.
"Jika elo mau, gunakan saja ruangan ini untuk sesuatu." ujar Bulan.
"Akan gue pikirkan." sahut Gara.
Beberapa saat, matahari telah tenggelam sempurna. Bulan bersiap untuk pergi ke rumah kakek Timo. "Sebaiknya kamu pulang saja." suruh Bulan pada Mikel. Sebab malam mulai larut.
Apalagi, dapat dipastikan jika ketiga sahabatnya yang sekaligus menjadi rekannya, malam ini tidak akan datang.
"Saya bermalam di sini saja bu." sahut Mikel yang memang malang untuk pulang ke apartemen.
"Baiklah. Temani Gara. Kamu bisa memantau layar laptopnya. Siapa tahu kamu menemukan sesuatu."
Mikel mengangguk. Di depan Gara, ada beberapa layar laptop yang menyala. Menampilkan ruang rahasia yang berada di rumah Rio. Dan satunya lagi, menampilkan ruangan di mana Rio asli di sekap dengan tidak manusiawi.
Sedangkan, Gara sendiri sibuk dengan sesuatu yang Mikel sendiri tidak tahu apa itu. Ada banyak angka serta huruf di layar laptop. Seperti sebuah kode.
Bulan masuk ke dalam kamarnya. Ponsel Bulan kembali bergetar untuk yang kesekian kalinya. Tanpa melihat, Bulan bisa menebak siapa yang menghubunginya.
Jeno. Sejak sore, Bulan terus diteror pesan tertulis dari Jeno. Pasalnya, Bulan sama sekali tidak menjawab panggilan telepon darinya yang menumpuk banyak.
"Anak ini. Maunya apa sih." gerutu Bulan dalam hati. Ditengah mempersiapkan senjatanya, Bulan memeriksa ponselnya.
Bulan hanya bisa menghela nafas. Lagi-lagi pesan tertulis dari Jeno, yang sedang mengomel karena Bulan tidak mengangkat panggilan telepon darinya. Satupun tak ada yang Bulan angkat.
Bulan sengaja melakukannya. Dirinya ingin perlahan menjauh dari Jeno. Bulan bukan perempuan dewasa yang polos dan bodoh perihal perasaan. Meski dirinya sama sekali belum pernah merasakan jatuh cinta.
Dengan yakin, Bulan bisa menebak jika Jeno tertarik pada dirinya, sebagai seorang lelaki dewasa terhadap perempuan. Tapi Bulan sendiri tak mau terlalu menganggapnya serius.
Menimbang dari umur Jeno yang masih remaja. Di mana, lelaki seusia Jeno biasanya hanya akan bermain-main dengan para perempuan tanpa berniat untuk menjalin komitmen yang serius.
Di tambah lagi, keluarga Jeno. Bulan tahu, siapa kedua orang tua Jeno. Saat makan siang tadi, Bulan memang bisa akrab dengan mudah dengan mama Jeno.
Apalagi, untuk saat ini Bulan tidak ingin diganggu dengan hal-hal yang malah akan menambah pusing pikirannya. Yakni hal percintaan. Yang akan membuatnya pusing.
Dirinya ingin fokus menyelesaikan misi yang dia dapat dari atasan. Dan juga menyelesaikan masalah yang sudah dia pegang beberapa buktinya.
Bulan hanya membacanya, tanpa berniat membalas pesan tertulis dari Jeno. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Biarkan semua berjalan semestinya. Seperti air yang mengalir." gumam Bulan.
"Astaga." geram Bulan, saat ponselnya kembali bergetar untuk yang kesekian kalinya.
Jika seperti ini, dapat dipastikan jika Bulan akan terganggu saat melaksanakan misinya. Dengan perasaan dongkol, Bulan menggambil kembali ponselnya. Menggeser gambar hijau di layar ponselnya.
Bulan langsung menyipitkan sebelah matanya, sembari menjauhkan ponselnya dari telinga dan tersenyum samar mendengar suara Jeno yang langsung ngegas, tanpa permisi dan basa basi.
"Iya, aku dengar." sahut Bulan dengan kalem.
"Hemmmm. Iya." Bulan kembali mematikan sambungan teleponnya.
"Dasar anak kecil." gumam Bulan, memakai jaket yang sudah terpasang alat perekam dan beberapa senjata yang tersimpan di kantong bagian dalam.
Jeno hanya mengatakan untuk Bulan berhati-hati saat menjalankan misi. Dia meminta maaf, karena dirinya dan Jevo tidak bisa datang ke markas.
Jeno maupun Jevo tidak ingin kedua orang tuanya curiga. Terlebih sang papa yang memang selalu mempunyai mata yang jeli.
Jika mereka berdua selalu pergi setiap malam dari rumah. Yang ada, Tuan David akan tahu semuanya. Jika kedua putranya telah menjadi tangan kanan dari Bulan.
Bulan tersenyum sempurna. Sebelum keluar dari kamarnya, Bulan menyempatkan diri lagi membaca setiap pesan yang dikirim oleh Jeno.
Baru kali ini, Bulan mendapatkan pesan seperti ini sebelum mendapatkan misi. Meski Gara biasanya juga melakukan hal yang sama.
Hanya saja, rasanya begitu berbeda. Antara pesan dari Gara, dan pesan tertulis dari Jeno. "Beginilah jadinya, jika nggak pernah pacaran." cicit Bulan lirih, merasa dirinya melakukan hal yang lucu.
Sedari dulu, Bulan memang tidak pernah menjalin hubungan semacam pacaran dengan lawan jenis, atau lelaki manapun.
Dirinya hanya fokus belajar, dan belajar. Meski banyak lelaki yang mendekati dan menggoda Bulan. Sayangnya, tak ada satupun yang bisa membuat pandangan Bulan teralih dari buku ke mereka.
Bulan mengetik beberapa kata di layar ponselnya. Mengirimkannya kepada Jeno.
AKU SEDANG MENJALANKAN MISI.
__ADS_1
JANGAN MENGANGGU.
Bulan lalu mengirimkan pesan tersebut ke nomor ponsel Jeno.
Bulan keluar dari kamar dengan pakaian lengkap. Gara menghentikan jarinya yang bergerak di keyboard. Lalu fokus kepada Bulan. "Elo harus berhati-hati." ujar Gara mengingatkan.
Bulan hanya mengangguk, merapikan tali sepatu agat tidak menganggu perjalanannya. "Kalian, jangan lupa mengaktifkan kunci pengaman ganda di markas ini." ujar Bulan mengingatkan.
"Iya bu."sahut Mikel.
Mikel dan Gara melihat kepergian Bulan dari kamera CCTV yang terpasang di luar. Segera Mikel melakukan apa yang Bulan pinta setelah Bulan pergi.
Setelah memastikan semua pintu telah aktif pengaman gandanya, Mikel kembali menemani Gara. "Sudah?" tanya Gara.
Mikel mengangguk, lalu duduk di samping Gara. "Mau gue buatkan sesuatu?" tanya Mikel.
"Di lemari dapur ada makanan yang dibawa Bulan dari desa. Buatan ibu Bulan. Panaskan dulu sebelum makan." jelas Gara, dia tahu jika Mikel pasti sedang lapar.
"Elo mau?" tawar Mikel.
"Nggak, gue nanti. Elo makan duluan saja." ujar Gara.
Segera Mikel bergegas ke dapur. Gara tersenyum melihat tingkah dari Mikel yang menurutnya lucu. "Dasar anak kecil. Pasti dia tadi menahan lapar." tukas Gara menggelengkan kepala.
Mikel mengangguk saat menikmati makanan yang baru dia panaskan. "Enak sekali." puji Mikel, memakan nasi beserta lauk pauk yang di masak oleh ibu dari Bulan.
"Padahal hanya seperti ini. Tapi enaknya melebihi makan di restoran bintang sepuluh." cicit Mikel.
Sedangkan di rumahnya, Jeno berbaring tak tenang di atas ranjang kamar tidurnya. "Bulan...!! Lama-lama gue bisa gila." dengus Jeno, sangat ingin melihat wajah dari bu guru cantiknya.
Jeno bangun, berjalan ke arah balkon. Mengambil kursi, dan duduk di dekat besi pembatas yang ada di balkon. Memandang ke arah langit yang penuh dengan bintang.
Jeno tersenyum, memandang ke arah bulan yang menampakkan dirinya bersama banyaknya bintang. "Bulan." cicit Jeno, terus memandangi bulan di langit yang bersinar.
Sedangkan Bulan, dia menghentikan motornya jauh dari tempat dirinya menolong dua gadis yang hampir saja menjadi korban Timo.
Bulan tidak berjalan melewati jalan beraspal, tapi melewati ilalang yang tumbuh di sekitar jalan. Bulan tidak berjalan dengan cepat. Dia sepertinya sudah merasakan sesuatu.
Bulan meningkatkan kewaspadaannya. Entah apa yang sedang Bulan cari, atau Bulan rasakan. Tapi yang pasti, Bulan pasti tahu akan sesuatu.
Bibir Bulan terangkat sebelah. Kedua matanya melihat sesuatu yang dari tadi dia coba cari. Sebuah benang yang terhubung dengan sesuatu. Tertata dengan begitu rapi, sehingga tidak akan ada orang yang mengetahuinya.
"Gue yakin, sebenarnya kakek tua itu tahu, jika ada jebakan di sekitar tempat ini. Tapi dia sudah hapal tempat dimana jebakan tersebut terletak." gumam Bulan, duduk jongkok di depan benang yang memiliki warna sama dengan tumbuhan ilalang.
Ada dua tebakan dalam benak Bulan. Kakek Timo membantu Timo dengan suka rela. Atau dengan terpaksa. Dan saat ini, itulah yang sedang Bulan selidiki.
Bulan berjalan mengikuti ke mana arah benang tersebut bermuara. "Timo. Selain psikopat, ternyata dia sangat cerdas." ujar Bulan lirih.
Bulan berhenti di tempat dimana ada banyak benang di tempat tersebut. Jika saja Bulan tidak berhati-hati. Maka dapat dipastikan, jika dirinya pasti akan terluka karena benang ini.
Bulan mengamati benang tersebut dengan seksama. "Racun." cicit Bulan, mencium ada bau aneh dari benang tersebut.
Bulan teringat dengan kedua gadis yang dia selamatkan. Dimana dirinya dan mereka tidak terluka. "Berarti, di sana tidak ada benang ini." tebak Bulan.
Bulan berdiam diri. Mencoba mengingat kembali kejadian tersebut dengan teliti, tanpa terlewat sedikitpun.
Bulan tersenyum sempurna. Dia mengeluarkan kertas dan pena. Mencoba menggambar denah jalan yang ada di sekitar sini.
"Benar. Jalan di sini bercabang dengan sangat banyak." tukas Bulan, menatap coretannya di atas kertas.
Bulan sering melewati jalan di sini. Karenanya dia hapal dengan semua jalan di sini. "Ternyata ada gunanya juga gue lewat jalan ini." gumam Bulan.
Bulan menandai beberapa tempat yang dia tebak adalah tempat yang memiliki jebakan, yang sengaja di buat oleh Timo.
Bulan tersenyum samar. "Jika semua yang gue tandai ini ada jebakannya, berarti gue harus lebih berhati-hati. Dia punya pemikiran yang gila. Dan tidak takut apapun." lirih Bulan.
Bulan segera menuju ke titik-titik dimana dia menebak jika jebakan itu ada di tempat tersebut. Bulan sengaja menyelidikinya terlebih dahulu, dirinya ingin semua berjalan dengan lancar.
Dengan dia tahu medan yang akan dia datangi, dirinya akan dengan mudah bergerak. Karena tahu akan kemana kakinya melangkah.
Dan benar sesuai dengan pemikiran Bulan. Semua tempat yang Bulan tandai penuh dengan jebakan. Hanya sebuah jebakan yang berasal dari benang, tapi sangat mematikan jika sampai menggores kulit.
Sebab, benang tersebut telah dilumuri dengan racun yang mematikan. Timo memang tidak memasang jebakan di jalan, sebab dirinya tahu.
Jika ada penyusup atau orang yang hendak berkunjung ke rumah sang kakek, pasti orang tersebut tidak akan melewati jalan raya. Tapi melewati ilalang.
Sebab, tidak akan ada yang mengetahui di mana rumah sang kakek. Dan jika ada yang tahu, berarti dia juga mengetahui kejahatan yang dia lakukan.
Bulan berdiri, menengadahkan kepalanya. Memandang ke atas. Bulan berdiri lumayan lama. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.
Tiba-tiba, Bulan tersenyum sembari menatap ke arah kanan dan kiri. "Dia membuang jasad dokter di rumput ilalang sebelah barat. Lalu saat menumpang mobil Mikel, dia berhenti di sebelah utara."
Bulan terkekeh. "Semuanya berada di sekitar sini. Dan bodohnya gue, baru tahu sekarang." tukas Bulan baru menyadarinya sekarang.
Bulan kembali ke tempat di mana dia menaruh motornya. Menghubungi Gara dan Mikel, menanyakan keberadaan Timo, yang ternyata berada di rumah Rio.
__ADS_1
Dengan tenang, Bulan mengendarai motornya ke rumah sang kakek. Tanpa Bulan cari tahu, Bulan dengan mudah bisa menebak di mana tempat tinggal sang kakek, dilihat dari jebakan yang dirancang oleh Timo.