PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 209


__ADS_3

Jevo dan Mikel, serta Arya terus mengendarai mobil mereka sesuai arahan dari Bulan yang berada di markas. Ketiganya menggunakan satu mobil. Dengan Arya duduk di kursi kemudi. Memegang kendali atas stir mobil.


Sedangkan Mikel duduk di kursi yang berada di samping Arya. Dia sedang menghubungi seseorang, setelah keluar dari markas dengan segera. Entah siapa yang dia hubungi.


Sama dengan Jevo, yang duduk di belakang. Dia juga tengah berbincang dengan seseorang melalui ponselnya. Terdengar keduanya menyebut nama Bulan dalam percakapan mereka.


Baik Mikel dan Jevo, keduanya terlihat berbicara dengan serius. Entah apa rencana keduanya. Hanya mereka yang tahu. Tapi yang jelas, mereka merencanakan sesuatu untuk menolong Gara.


"Apa elo lihat mobil yang dikendarai Gara?" tanya Mikel, setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan seseorang di seberang ponselnya.


Arya menggeleng. "Tidak. Gue belum menemukan mobil Gara." jelas Arya, meski ada beberapa mobil yang sama persis dengan yang ditebak oleh Bulan adalah mobil yang dikendarai Gara, tapi semua mobil itu berbeda nomor.


"Tapi elo hapalkan, nomor mobilnya?" tanya Jevo memastikan, setelah dia juga menyelesaikan perbincangannya dengan seseorang di seberang ponsel.


"Hapal. Gue hapal di luar kepala." sahut Arya, lalu menyebutkan nomor mobil yang diberitahukan oleh Bulan melalui pesan tertulis.


Arya masih menyetir sembari melihat ke setiap mobol di depannya, siapa tahu itu adalah mobil yang dikendarai Gara. Juga dengan Mikel dan Jevo.


Ketiganya berharap bisa menemukan Gara di jalan. Sehingga mereka bertiga bisa mencegah Gara untuk pergi ke tempat para musuh berkumpul.


"Semoga Gara belum sampai di sana." batin Jevo. Sama dengan harapan yang lain.


Beberapa kali Arya menekan bel. Dirinya merasa kesal bercampur gemas, karena sedari tadi hanya bisa melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Berhenti membunyikan klakson Arya. Mereka sama seperti kita." tegur Jevo. Yang tahu jika percuma membunyikan klakson mobil.


"Semoga Gara sama seperti kita. Terjebak di antara kendaraan ini." tutur Mikel.


Padahal, Gara sudah sampai di markas. Dan sekarang, dirinya sedang berhadapan dengan mantan majikannya.


Sementara di markas, Bulan kehilangan jejak mobil Gara beberapa detik yang lalu. Tapi Bulan terus berusaha mencarinya. Bulan kehilangan mobil Gara, saat dijalan raya tersebut sudah tidak ada kamera CCTV nya.


"Sayang,,, lihat ini." panggil Jeno, ingin menunjukkan sesuatu pada sang kekasih. Membuat Bulan menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard.


Bulan sedikit menggeser kursinya ke tempat Jeno. "Bukankah tadi Gara menghilang di jalan ini. Kemungkinan Gara berbelok ke sini. Jika benar. Tempat ini mungkin yang sedang dituju oleh Gara." jelas Jeno.


"Itu. Sekitar lima belas menit dari hilangnya jejak Gara." sahut Bulan melihat ke arah layar.


"Ya. Hanya tempat ini yang terlihat mencurigakan.


Bulan segera menghubungi Arya. "Tunggu. Tapi aku tidak yakin." ujar Jeno menghentikan Bulan, saat Bulan memegang ponselnya.


"Tapi aku yakin. Kita akan ke sana." tukas Bulan.


Tak ingin membuang waktu, segera Bulan menghubungi Arya dan mengatakan tempat yang kira-kira akan dituju oleh Gara.


Bulan dan Jeno segera pergi ke ruang penyimpanan senjata. Sebab tak mungkin mereka ke tempat berkumpulnya para musuh tanpa membawa senjata.


"Kita menggunakan motor saja. Biar aku yang di depan." saran Bulan, menarik resleting jaketnya.


Bulan merasa tak ada pergerakan dari Jeno, dia juga hanya diam tak bersuara. "Tenang saja. Pegang yang erat. Aku mengizinkannya." Bulan berbicara sembari mengerlingkan sebelah matanya dengan nakal.


"Kamu itu. Jangan seperti itu. Nanti yang ada kita malah tidak jadi pergi." sahut Jeno, malah menanggapi godaan sang kekasih.


Bulan tersenyum manis. "Ayo." ajak Bulan, setelah persiapan keduanya selesai.


Seperti yang dikatakan Bulan. Mereka pergi ke tempat yang dituju Gara menggunakan motor dengan Bulan berada di depan.


Bukan Bulan tidak memikirkan trauma yang masih dialami Jeno dengan motor. Tapi lebih kepada waktu. Keduanya akan cepat sampai ke tempat tujuan jika menggunakan motor.


Juga dengan Jeno. Dirinya tidak lantas marah dengan keputusan sang kekasih yang menginginkan untuk mengendarai motor.


Jeno tahu kenapa Bulan lebih memilih motor dari pada mobil. Dan satu lagi, Jeno pernah sekali dibonceng menggunakan motor oleh Bulan. Dan dia baik-baik saja. Sama sekali tidak merasa ketakutan.


Kali ini, Jeno berharap semua berjalan seperti saat itu. Dimana dirinya merasakan perasaan aman dan nyaman berada di belakang Bulan, dibonceng menggunakan motor oleh Bulan.


"Apa kita memakai kendaraan sendiri-sendiri?" tanya Bulan, sebelum mereka berangkat.


"Tidak perlu. Bukankah aku dulu pernah kamu bonceng. Aku percaya, kita akan baik-baik saja." ujar Jeno memutuskan percaya pada sang kekasih.


Cup...

__ADS_1


Bulan mengecup singkat pipi Jeno. Memberikan helm pada sang kekasih. "Ayo berangkat." ajak Bulan yang sudah selesai memakai helm.


Jeno menghela nafas panjang. "Kamu sedari tadi terus memancingku." cicit Jeno berpura-pura kesal.


Jeno yang sudah memakai helm mulai duduk di belakang Bulan. "Pegangan." cicit Bulan.


Bulan mengambil kedua tangan Jeno, untuk dia lingkarkan di perutnya. Sementara tas ransel yang berisi beberapa senjata berada di punggung Jeno.


"Rasanya hangat dan nyaman." papar Jeno menaruh dagunya di pundak Bulan.


"Duduk yang benar Jeno." tegur Bulan.


"Iya." sahut Jeno duduk dengan benar. Memegang erat perut rata sang kekasih.


Jeno memandang wajah sang kekasih dari kaca spion depan. Tapi sayangnya, Jeno tidak bisa menatap langsung wajah Bulan. Sebab Bulan sudah menutup kaca helmnya.


"Jika saja gue tidak mengalami kecelakaan itu. Gue tidak mungkin mengalami trauma." batin Jeno merasa kecewa pada dirinya sendiri.


Jeno berjanji, akan menghilangkan trauma tersebut. Bagaimana caranya. Dirinya tidak ingin traumanya terhadap sepeda motor akan membuat jarak antara dirinya dan Bulan.


Meski Jeno yakin, jika Bulan sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tapi tetap saja Jeno merasa jika dirinya sebagai lelaki harus mampu mengalahkan perasaan tersebut. Perasaan takut yang seharusnya tidak dia miliki.


"Kamu sudah siap?" tanya Bulan.


"Oke. Jalan." sahut Jeno.


Perlahan, Bulan mulai menjalankan motornya. Dan secara pelan, Bulan mulai menambah kecepatan. Sebab Bulan tahu, jika dia sedang membonceng Jeno. Sehingga dia juga harus memikirkan sang kekasih.


"Aman...!!" seru Bulan.


Jeno memegang erat perut Bulan. "Aman...!! Kamu ngebut juga tak apa. Aku baik-baik saja....!!" sahut Jeno dengan berteriak.


Jeno tahu jika Bulan sengaja melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena Bulan sedang membonceng dirinya.


Tapi Jeno merasa baik-baik saja dan tidak merasakan ketakutan. Sehingga dia meminta Bulan menambah kecepatan.


"Jika kamu merasakan hal yang tidak enak, bilang saja....!!" teriak Bulan kembali.


Keduanya tidak mungkin berbicara pelan seperti biasa. Karena Bulan mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan kencang.


Sesuai permintaan Jeno, Bulan menambah kecepatan. Dirinya mengendarai motor bagaikan seorang pembalap yang sedang melintas di area balapan. Sangat mahir.


Bahkan Bulan berkali-kali mendahului atau menyalip kendaraan yang berada di depannya dengan lihai. "Calon istriku memang serba bisa." batin Jeno, tidak merasa ketakutan sama sekali.


Jeno tersenyum. Perasaan takut seketika lenyap saat berada dekat dengan Bulan. "Aneh. Jika dengan Jevo dan yang lain, gue pasti takut. Tapi dengan Bulan, gue nggak merasakan hal tersebut." batin Jeno.


''Bukankah itu Jeno?" tanya Arya, melihat ke arah sebelah. Karena mereka sedang melewati jalan yang terdapat rambu-rambu lampu lalu lintas. Dan kebetulan, lampu rambu-rambu yang menyala berwarna merah. Sehingga semua mobil dari beberapa arah berhenti. Dan hanya dari satu arah hang terus berjalan.


"Benar. Gila. Mereka sudah sampai di sini." tukas Jevo.


"Pasti itu bu Bulan." tebak Mikel.


Wus.....


Begitu lampu hijau menyala, Bulan melesatkan motornya bak pembalap. "Benar-benar." gumam Arya juga ikut melajukan mobilnya. Begitu juga dengan kendaraan lain.


Hanya saja, Arya tidak bisa segera menyusul Bulan. Di depannya ada banyak mobil yang berjejer. Sehingga dia harus mengemudi dengan pelan.


"Apa Jeno baik-baik saja?" tanya Jevo, yang tahu jika saudara kembarnya mengalami trauma terhadap motor, setelah mereka mengalami kecelakaan waktu itu.


"Jangan khawatir. Kelihatannya Jeno baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan. Ada bu Bulan di sampingnya." sahut Mikel, yakin jika Jeno akan baik-baik saja selama bersama dengan Bulan.


Begitu juga dengan Arya, yang percaya jika Bulan akan menjaga Jeno dengan baik. "Elo percaya dengan bu Bulan. Dia perempuan hebat dan tangguh." timpal Arya.


Jevo mengangguk pelan. Dia membenarkan perkataan kedua sahabatnya. Seharusnya dia tidak perlu merasa khawatir. Terbukti hingga detik ini, Bulan lah yang selalu menjaga mereka saat ada misi. Dan Bulan selalu mengutamakan keselamatan mereka terlebih dulu.


"Lebih baik kalian turun. Akan sangat lama jika kalian naik mobil. Suruh anak buah kalian menjemput pakai motor. Biar gue mengemudi sendiri." saran Arya.


Mikel dan Jevo setuju dengan saran Arya. Sebab dengan begitu, mereka akan segera bisa menyusul Bulan dan Jeno. Tak perlu terjebak kemacetan diantara mobil di tengah jalan raya.


Arya segera menepikan mobilnya. Mikel dan Jevo segera turun. Menunggu orang yang sudah mereka hubungi untuk menjemput mereka. Tentunya menggunakan motor, seperti yang mereka inginkan.

__ADS_1


Sementara Arya kembali melajukan mobilnya di tengah mobil lain yang berada di jalan raya setelah Mikel dan Jevo turun dari mobil.


"Semoga Jeno dan bu Bulan tidak terlambat datang." tukas Arya tak bisa menyembunyikan raut wajah tegangnya.


Arya sangat khawatir dengan keadaan Gara. Setelah kenal dan dekat dengan Gara, Arya merasa nyaman dengan kehadiran Gara di sekitar mereka.


Arya merasa, Gara seperti kakak atau saudara baginya. Dan dia tidak ingin kehilangan sosok seperti Gara.


"Gara....!! Kenapa elo bodoh sekali. Apa yang ada di dalam otak elo? Apa yang elo pikirkan? Bisa-bisanya elo mengambil keputusan seperti ini. Tuhan. Lindungi teman, sahabat, serta keluarga kami. Gara." lanjut Arya berharap Gara dalam keadaan baik-baik saja.


Sungguh, dirinya akan mengutuk siapapun yang berani menyentuh sahabatnya tersebut. "Gue bersumpah akan menghabisi nyawa siapapun yang berani menyakiti elo, Gara." batin Arya.


Gara yang masih sendirian di dalam markas, di bawa kesebuah ruangan. Dimana kedua kakinya diikat dan digantung di atas. Sehingga membuat kepala Gara berada di bawah.


"Gara...!! Gara....!! Elo masih saja seperti dulu. Sombong. Cuih..." ujar salah satu mantan rekan Gara, sembari meludah ke arah tubuh Gara yang bergelayut di atas.


Gara tak bereaksi sedikitpun. Kakinya yang benar-benar tidak bisa digerakkan membuatnya hanya bisa pasrah.


Dan semua ini terjadi karena dia menolak dengan tegas ajakan mantan majikannya untuk bekerja sama. Meski Gara diancam akan dibunuh serta di siksa. Tapi Gara sama sekali tidak berubah pikiran.


Dia tetap pada pendiriannya. Bahkan kedua matanya tak memperlihatkan rasa takut sama sekali. Seolah maut datang padanya bagai sahabat.


Dan karena penolakan tersebut, sang boss memerintahkan bawahannya untuk membawa Gara ke ruang penyiksaan.


Dia berencana menyiksa Gara. Serta berharap Gara tidak kuat dengan penyiksaan, yang akan membuat Gara berubah pikiran. Sehingga dirinya dan Gara akan kembali bekerja sama.


"Elo bukan siapa-siapa sekarang. Lumpuh. Cacat. Tidak berguna...." ejek yang lain.


Seseorang memainkan tubuh Gara dengan menggoyang-goyangkan. Sehingga tubuh Gara selalu bergerak. Membuat kepala Gara yang berada di bawah terasa pusing.


"Haa...... Nikmati sisa hidup elo yang indah ini." ujar salah satu dari mereka, menggerakkan tangannya. Meminta yang lain untuk menurunkan tali yang menggantung kaki serta tubuh Gara.


"Buka saja. Toh dia tidak akan bisa lari. Cacat." ejek yang lain, disambut tawa lepas dari lainnya.


Gara menggelengkan kepalanya perlahan. Rasanya sungguh pusing. Sebab dirinya berada di posisi tadi tidak hanya sebentar. Apalagi mereka terus menggoyang serta memutar tubuhnya tanpa henti.


"Hey....!! Ayo....!! Tunjukkan keangkuhan elo yang tadi...?!" seru lelaki dengan tato di tangan kanan.


Gara hanya bisa duduk, dengan kaki berselonjor. Sungguh sangat memilukan. Dirinya tidak bisa berbuat apapun untuk membalas penghinaan mereka.


Lelaki tersebut mengangkat tangannya. Menggerakkan dengan pelan. "Pukuli dia. Sampai dia sadar. Siapa dia sekarang...!" perintahnya tanpa rasa belas kasih.


Beberapa lelaki dengan membawa kayu maju ke depan. Mengayunkan kayu mereka dengan ringan ke arah tubuh Gara. "Jangan sampai memukul kakinya. Nanti dia tambah cacat. Ha.... Ha.....!!" perintahnya lagi sembari tertawa mengejek keadaan Gara.


Dengan sekuat tenaga, mereka melayangkan kayu yang ada di tangan mereka untuk memukul Gara. Tapi Gara hanya mengeratkan gigi-giginya. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara kesakitan.


Lelaki bertato yang menyuruh rekan-rekannya memukuli Gara, menatap Gara dengan lekat. "Gue nggak akan melepaskan elo. Terserah jika bandit tua itu menginginkan elo. Tapi yang pasti, elo sekarang berada di tangan gue. Dan gue ingin elo mati di hadapan gue." batinnya tersenyum bagai iblis.


Darah mengucur dari pelipis Gara, hingga beberapa anggota tubuh Gara yang lain. Tapi Gara sama sekali tidak mengeluarkan sedikit suara kesakitan. Dia tetap diam.


Hingga akhirnya, tubuh Gara terkulai lemas di lantai. Karena tidak kuat menahan siksaan yang mereka berikan. "Cukup...!! Jangan sampai dia mati. Boss akan marah....!!" teriak salah satu lelaki yang memukuli Gara dengan kayu.


"Heyy...!! Siapa yang menyuruh kalian berhenti....!! Pukul terus. Bila perlu, kalian gunakan besi untuk memukulnya...!!" seru lelaki bertato, tak ingin mereka berhenti memukul Gara.


"Jangan gila. Boss hanya menyuruh kita menyiksanya. Bukan membunuhnya." timpal yang lain.


Mereka berhenti memukul Gara karena Gara terlihat tak berdaya. Hidung serta telinganya bahkan sudah mengeluarkan darah. Tak hanya itu, mulut Gara juga sudah mengeluarkan darah. Karena pukulan bertubi-tubi yang di dapat Gara.


"Gue nggak peduli. Gue ingin dia mati...!!" teriaknya, tidak terima jika Gara belum menghembuskan nafas terakhir.


Lelaki bertato tersebut mengeluarkan senjata api dari balik pakaiannya. Menodongkan ke arah dimana Gara terkulai tak berdaya. Meski Gara masih sadar, dan bisa melihat apa yang terjadi di sekitarnya.


"Hentikan...!! Jika elo membunuh dia. Itu artinya elo akan membunuh kita semua. Jangan gilaaa.....!!" teriak rekannya ketakutan.


Sebab, jika sampai nyawa Gara menghilang, itu artinya mereka harus bersiap-siap mendapatkan hukuman dari sang boss. Dan hukuman terburuknya adalah nyawa mereka.


Karena sang boss memerintahkan mereka untuk menyiksa Gara, hingga Gara mau dan setuju untuk bekerja sama dengan sang boss. Bukan membunuh Gara.


"Gue nggak peduli." ujar lelaki bertato yang memang sedari dulu menginginkan kematian Gara.


Dor....

__ADS_1


Terdengar sebuah letusan tembakan dari senjata api. Membuat semua terdiam dan terperangah tak percaya.


__ADS_2