PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 28


__ADS_3

Bulan masih berada di atas dengan tubuh tengkurap dan tetap waspada, meskipun ketiga orang tersebut sudah pergi. Hanya menyisakan seseorang yang Bulan tidak bisa tebak, bagaimana wajah orang di balik cadar tersebut.


Tanpa Bulan sangka, Jeno langsung menatap ke atas. Tepat di mana dirinya berada. "Dia." Bulan bisa mengenalinya dari kedua bola mata Jeno.


"Sebaiknya ibu guru segera turun. Takutnya, anda akan terjatuh jika tetap berada di sana." tukas Jeno.


Terkejut. Tentu saja. Dengan mudah dia bisa mengenali Bulan. "Sejak kapan dia tahu gue ada di sini. ****...!!" umpat Bulan dalam hati.


Bulan menjatuhkan badannya tepat di atas keramik yang hancur. "Sejak kapan?" tanya Bulan dengan tegas.


Jeno hendak melepas penutup di wajahnya, namun segera Bulan menghalanginya. Keduanya lantas menghadap ke arah pintu. Terdengar bunyi suara sepatu mendekat ke ruangan tersebut.


Jeno menarik tangan Bulan. Masuk ke dalam sebuah ruangan yang Bulan sendiri belum tahu. Sementara Jeno, dia baru saja tahu dari orang yang bertarung dengannya tadi.


Sebab, saat Jeno masuk ke ruangan. Ruangan dalam keadaan kosong. Dan saat Jeno hendak keluar, terdengar suara gesekan. Ternyata ada sebuah ruangan rahasia di dalam ruang tersebut.


"Ini. Dari mana kamu tahu?!" tanya Bulan dengan nada sedikit tinggi.


"Tahu saja." jawab Jeno sekenanya.


Tak ingin terlalu meladeni Jeno, yang terkenal sebagai murid culun di sekolah, Bulan memilih untuk melihat isi dari ruangan tersebut. Begitu juga Jeno, dia melakukan yang sama dengan Bulan.


"Ternyata." batin Bulan.


Bulan mulai berpikir, jika selama ini Jeno memang sengaja berpakaian cupu atau kuper. Berbeda dengan saudara kembarnya yang gaul dan bad boy.


"Pasti ada alasan dibalik itu semua." batin Bulan mengomentari penampilan Jeno di sekolah.


"Aaiisshhh,,, bodo amat. Bukan urusan gue juga." ucap Bulan dalam hati.


Bulan mengambil sesuatu dari kantong ajaibnya. Sebuah saring tangan yang terbuat dari karet elastis. "Ini." Bulan mengambil sebuah tabung kecil berisi cairan.


Jeno yang tidak tahu benda apa yang dipegang Bulan, hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Bulan. "Apa dia tadi membawa seperti ini. Lalu jatuh, dan terjadi ledakan."


Jeno mengangguk. Bulan kembali fokus pada apa yang ada di depannya. Bulan membuka penutupnya. Mencium bau cairan yang ada di dalamnya. "Seperti dugaan gue."


Bulan mengetahui, apa guna dari cairan tersebut. Dan meletakkan kembali cairan itu ditempatnya. Bulan yakin, bukan hanya ini yang ada di dalam ruangan tersebut. Masih ada hal lain yang tersembunyi.


"Untuk apa mereka menggunakan cairan berbahaya tersebut." batin Bulan menebak.


Dan dia harus mengetahuinya apa lagi yang ada di dalam ruangan ini, selagi orang di luar belum menyadari jika ada orang di dalam ruangan rahasia ini. "Apa yang kamu temukan?" tanya Bulan, saat tangan kanan Jeno meraba sebuah tembok.


"Tembok ini berbeda dari tembok yang lain." cicit Jeno, merasakan tekstur tembok yang sedang dia raba berbeda.


"Mundur." perintah Bulan, dengan segera Jeno melakukan apa yang ibu guru perintahkan padanya.


Bulan menolah ke kanan dan kiri. Mencari sesuatu yang entah apa itu, Jeno sendiri jiga tidak tahu. "Ketemu." tukas Bulan.


Melihat sebuah benda kecil yang menempel di kaki meja. Bulan menekan benda tersebut. Tembok dia depan Jeno seketika berubah menjadi sebuah layar yang lebar.


Dimana, di layar tersebut terdapat tulisan acak seperti perpaduan antara huruf dan angka, juga simbol lainnya.


"A-apa itu bu?" tanya Jeno gagap. Dia tahu, jika itu adalah sebuah simbol rahasia. Tapi dia tidak tahu apa kegunaan simbol tersebut.


Bulan meletakkan jari jemarinya di tembok. Seperti sebuah layar sentuh, begitupun dengan layar yang ada di tembok.


Bulan dengan berani melakukan apa yang dia inginkan. Pasalnya tangannya sudah terbungkus, dan tidak akan meninggalkan sidik jari.


"Selesai." ucap Bulan, kembali mematikan layar di depannya.


"Rumus pembuatan apa itu?" gumam Jeno.


Bulan tersenyum. Tidak menyangka jika anak didiknya bisa mengerti hal semacam ini. Bahkan sekarang, dia berada di dalam ruangan bersama dengannya.


"Astaga." Bulan menatap ke arah Jeno.


"Kamu tadi menyentuh tembok itu dengan tangan kosong?" tanya Bulan menyiratkan rasa khawatir.

__ADS_1


Jeno mengangkat tangannya. Memperlihatkan telapak tangannya pada Bulan. "Saya bukan orang bodoh ibu guru." kesal Jeno, terlihat seperti orang tolol saja.


"Bagus deh." Bulan sama sekali tidak peduli dengan Jeno yang kesal dengan perkataannya.


Jeno meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Bulan. "Kelihatannya lebih dari dua orang." papar Jeno.


Bulan menganguk. Keduanya menempelkan telinga di masing-masing di tembok, yang ternyata adalah sebuah pintu penghubung, yang sempat mereka lewati.


Terdengar kasak kusuk orang sedang berbicara. Bulan mengubah posisinya. Dia duduk di lantai. Dengan tetap menempelkan telinganya di tembok, seraya memejamkan kedua matanya.


Bukannya konsentrasi. Jeno malah fokus ke wajah Bulan yang masih tertutup dengan cadar. "Betapa cantiknya, wajah dibalik cadar itu." batin Jeno tersenyum.


"Apa yang mereka lakukan." gumam Bulan. Tampak jelas di telinga Bulan, jika mereka sedang membersihkan ruangan tersebut.


"Tunggu, apa yang ibu lakukan?" tanya Jeno, saat Bulan menyentuh tembok di depannya.


"Keluar." kata Bulan singkat.


"Jangan bu, bahaya." cegah Jeno.


Bulan menyeringai, sayangnya Jeno tidak bisa melihat, bagaimana menakutkannya seringai dari bibir Bulan. "Itu nama lain dari saya. Ba-ha-ya." tekan Bulan.


Bulan menekan benda kecil yang dia letakkan di lubang telinganya. Sialnya benda tersebut mati. "Sial, di sini tidak ada sinyal sama sekali." lirih Bulan.


"Kamu tetap di sini. Jangan kelaur." perintah Bulan. Dirinya tidak ingin Jeno melihat aksi brutalnya. Yang pastinya akan membuat beberapa orang pergi meninggalkan dunia yang indah ini untuk selamanya.


Dengan menghiraukan perkataan Jeno, Bulan akhirnya keluar dari ruang rahasia tersebut. "Tetap di sini, mana bisa." gumam Jeno, yang pada dasarnya mengkhawatirkan Bulan.


Bulan, seorang perempuan. Menghadapi bahaya seorang diri. Sedangkan dia yang lelaki malah bersembunyi.


Tanpa Jeno ketahui. Jika keahlian dan kemampuan Bulan jauh di atasnya. Bahkan keahlian yang dimiliki Jeno, tidak ada seujung kuku dengan keahlian yang dimiliki Bulan.


Sama dengan Bulan, Jeno juga menghiraukan ucapan dari Bulan. Dengan perlahan, dia mengikuti Bulan kelaur dari ruangan tersebut.


Tok,,,, tok,,, Bulan tidak mengeluarkan suara separah katapun. Dia memukulkan tungkainya di atas lantai yang masih utuh. Sehingga menimbulkan bunyi, untuk mengundang perhatian mereka, agar tertuju pada dirinya.


"Ternyata dugaan gue terbukti." batin Bulan, tersenyum penuh makna.


"Siapa mereka. Katanya tidak ada orang. Brengsek." umpat salah satu diantar mereka.


Mereka berempat di tugaskan oleh seseorang untuk membersihkan tempat tersebut. Tanpa mengetahui apa yang sebelumnya terjadi.


"Mereka." batin Bulan, yang artinya dia tidak sendiri. "Jeno..." batin Bulan. "Semoga dia tidak malah menjadi beban buat gue." lanjut Bulan dalam hati.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu dari mereka.


"Habisi." ucap salah satu dari mereka, merogoh kantong celananya.


Bulan menebak jika dia akan mengambil senjata api, segera Bulan bergerak menyerang terlebih dahulu, sebelum dia mengeluarkan senjata apinya.


Apalagi ada Jeno, Bulan tidak bisa bermain-main. Bulan takut malah Jeno yang akan terluka.


Seperti seorang pesulap. Dengan hitungan detik, senjata api tersebut berpindah tangan kepada Bulan. Dengan dia melangkah mundur karena tendangan yang Bulan berikan.


"Ba-ba-bagaimana bisa." ucap salah satu dari mereka. Terkesima dengan gerakan Bulan yang seperti angin. Sama sekali tidak terlihat oleh mata telanjang.


Tubuh Jeno pun bergetar melihat pertama kali Bulan beraksi. Padahal itu pun bukan aksi yang berbahaya. Sebab Bulan segera ingin pergi dari tempat tersebut.


Bulan mengangkat senjata ke depan wajah mereka. Dari raut wajah mereka, Bulan bisa menebak jika ini adalah satu-satunya senjata api yang mereka miliki.


Dor... dor... Jeno memejamkan kedua matanya. Dengan santai, Bulan menembak dua diantara empat orang di depannya. Tepat di dahi mereka.


Tentu saja keduanya langsung meregang nyawa di tempat tersebut. Bulan meniup ujung senjata api yang baru saja mengeluarkan bubuk mesiu dari dalamnya.


Jeno menelan salivanya dengan kasar. Dia memang sering berkelahi dengan banyak penjahat. Tapi tidak sebagai pembunuh.


Jeno selalu menghindari perkelahian yang kelihatannya akan menumbalkan nyawa. Jeno lebih senang membuat lawan pingsan.

__ADS_1


"Ampun... ampuni kami. Jangan bunuh kami." kedua langsung berlutut di depan Bulan, memohon pengampunan.


Mereka berdua adalah orang yang bekerja di sekolah ini, mereka masih hidup. Dan Bulan memang sengaja tidak membunuh mereka.


Jeno hanya diam. Lidahnya kelu. Juga kakinya terasa tak bisa digerakkan, melihat Bulan, yang notabennya seorang perempuan dam seorang pengajar, dengan mudah menarik pelatuk dan menghabisi nyawa orang lain.


Bulan menggerakkan tangannya. Dan lagi-lagi, Bulan tak mengeluarkan suara. Keduanya segera berdiri dengan kaki gemetar karena rasa takut.


dor... dor....


"Aaaa...!!!" seru mereka. Saat timah panas bersarang di salah satu kaki mereka. Keduanya memegang kaki masing-masing yang berlumur darah, dengan manahan rasa sakit.


Bulan membuang senjata api itu di depan mereka dengan santai. Bulan membalikkan badan. Salah satu dari mereka mengambilnya, berniat menembak Bulan. Tapi zonkk,,,, senjata api tersebut sama sekali tidak ada isinya.


Bulan menempelkan permen karet yang baru dia ambil ke tembok di belakang Jeno. Memegang lengan Jeno, dan segera membawanya pergi dari area sekolah.


Sebelum pergi, Bulan sempat menendang kedua kaki yang telah dia beri hadiah sebelumnya. Sehingga mereka berdua kembali berteriak kesakitan.


"Seberapa cepat mereka akan bertindak." batin Bulan, dengan kegaduhan yang dia ciptakan dengan sengaja.


......................


Serra merasa ada yang selalu mengawasinya dari jendela. Bahkan, semenjak kejadian di mana dia di culik, dirinya belum pernah sekalipun keluar kamar.


Makan pun, dia lakukan di dalam kamar. Kedua orang tua Serra juga mendatangi sekolah tempat putrinya mengenyam pendidikan.


Mereka meminta izin libur khusus untuk Serra, sampai waktu yang tidak ditentukan. Bahkan, orang tua Serra juga tidak keberatan, seandainya Serra akan tetap tinggal kelas, dan tidak naik ke kelas selanjutnya. Asal sang putri tidak dikeluarkan dari sekolah.


Beruntung pihak sekolah mengerti dengan keadaan yang Serra alami saat ini. Mereka masih menerima Serra sebagai murid didik, dan memberikan izin libur pada Serra hingga Serra kembali seperti semula.


Mau tak mau, kedua orang tuanya mendatangkan seorang psikiater untuk mengobati trauma dan rasa takut yang masih di rasakan sang anak. Meskipun dia sudah berada di rumah.


Tentu saja kedua orang tua Serra khawatir dengan sikap dan sifat sang anak setelah kejadian tersebut. Serra yang terkenal sebagai pribadi yang ceria dan juga suka keramaian.


Kini berubah drastis. Menjadi pribadi yang cenderung menutup diri. Bahkan, saat teman-temannya datang berkunjung untuk menjenguknya, Sella juga tetap berada di dalam kamar. Alhasil, mereka masuk ke dalam kamar Serra.


"Kamu mau ya...." bujuk sang mama. Saat Serra lagi-lagi menolak diperiksa oleh psikiater yang sudah di didatangkan oleh kedua orang tuanya, tanpa meminta persetujuan Serra sebelumnya.


Sang mama menatap Serra dengan sendu. "Sayang, apa kamu akan selamanya ingin terus berada di dalam kamar. Terus begini. Apa kamu tidak mau sembuh?" sang mama bertanya dengan nada lembut.


Berada di dalam kamar. Itupun dengan jendela tertutup. Begitu juga dengan tirainya. Serra tidak memperbolehkan saat sang pembantu ataupun sang mama membuka tirai jendela di kamarnya.


Serra menatap iba pada sang mama, yang setiap hari selalu membujuknya tanpa kenal lelah. Dia bukannya tidak mau. Hanya saja, untuk bertemu dengan orang yang sama sekali belum pernah dia temui ada rasa takut menjalar di hatinya.


"Tapi Serra takut ma." cicitnya, mengatakan apa yang dia rasakan.


Sementara sang psikiater berada di balik pintu dengan sang papa. Mencuri dengar apa yang dibicarakan Serra dengan sang mama.


"Apa yang kamu takutkan sayang. Jika kamu mau, mama akan berada di samping kami, selama pengobatan kamu berlangsung." tawar sang mama. Supaya Serra mau menjalani terapi.


Beberapa saat Serra terdiam. Mencerna setiap perkataan yang diucapkan oleh sang mama. Dirinya ingin sekali mempu melawan rasa takut yang menguasai hati.


Namun sayang, semua tak semudah yang dia ucapkan dalam hati. Seolah apa yang dipikirkan bertolak belakang dengan apa yang dia rasakan dalam hati.


"Bisa kita bicara sebentar." ajak sang psikiater pada papa Serra.


Papa Serra menggerakkan tangannya. Mempersilahkan beliau untuk berjalan. "Mari, silahkan."


Di ruang kerja. Papa Serra memilih tempat tersebut. "Tuan, sebenarnya, ketakutan yang di rasakan putri anda bersumber pada perasannya sendiri. Dan kesembuhan tergantung pada putri anda. Jika dia mau berusaha, saya yakin jika dia akan sembuh. Tapi sebaliknya. Dia akan tetap berada di dalam ketakutan, bahkan selamanya. Jika hatinya menolak untuk sembuh." jelas sang psikiater panjang lebar.


"Apa yang harus kami lakukan. Sedangkan dia terus menolaknya." terlihat jelas raut wajah frustasi dari papa Serra.


"Bujuk dia secara perlahan. Saya akan menggunakan metode hipnotis sebagai awalnya. Untuk mengetahui seberapa jauh rasa takut yang dia rasakan." pinta sang psikiater.


"Baik. Kami akan mencobanya."


"Tenang saja, selama terapi berlangsung, Tuan dan Nyonya bisa berada di samping Nona Serra untuk mendampinginya."

__ADS_1


__ADS_2