
"Euughh.... Kenapa kepalaku terasa sakit?" cicit Moza, masih memejamkan kedua matanya sembari memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
Bukannya bangun dari tidur dengan membuka kedua mata, Moza malah meringkuk dan menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya, selain kepala.
Udara dingin di pagi hari, memang sangat nyaman untuk tetap berada di balik selimut. Membuat badan menghangat. Sehingga tak ingin beranjak dari tempat tidur.
Tiba-tiba kedua mata Moza terbuka sempurna. Mengedipkan kedua kelopak matanya secara teratur. "Semalam,,,, semalam,,,, gue...." batin Moza. Mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya semalam.
Dengan gamblang, Moza mengingat semuanya. Semua, malam dimana dirinya yang hendak tidur tapi gagal. Dikarenakan mendapat pesan tertulis dari seseorang yang tidak dikenal.
Moza juga mengingat dengan jelas, bagaimana dirinya keluar dari rumah tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya. Pergi ke sebuah tempat hiburan malam. Dimana sang pengirim pesan mengatakan jika Jevo berada di sana, dalam keadaan bahaya.
Yang dimana Moza tanpa berpikir panjang langsung menuju ke tempat tersebut. Tapi dirinya malah tak menemukan sosok Jevo.
Moza yang polos. Sama sekali belum pernah ke tempat seperti itu, dengan mudah masuk ke dalam jebakan Claudia.
Begitu Moza datang, beberapa lelaki menghampirinya. Menggiringnya untuk turun ke lantai dansa.
Teriakan minta tolong Moza sama sekali tidar terdengar. Sebab suara musik yang lebih keras dari pada teriakan gadis mungil tersebut.
Di lantai dansa tersebutlah Moza dicekoki minuman keras. Beberapa lelaki tersebut memaksa Moza minum air yang Moza sendiri tidak tahu apa itu
Moza mencoba berontak. Hanya saja tak berguna. Badan mungilnya tentu saja kalah dengan mereka semua. Yang akhirnya dengan mudah memberikan minum laknat tersebut pada Moza.
"Gue,,, gue ada di mana?" Moza langsung duduk, pandangannya mengitari seluruh ruangan.
Moza menyibak pakaiannya. Ekspresi wajahnya begitu terkejut mendapati dirinya tak lagi memakai pakaian yang semalam dia pakai.
Kedua kelopak mata Moza sudah terkumpul air, yang sebentar lagi akan meluncur ke kedua pipinya. "Tunggu." Moza mengusap kedua matanya yang sudah buram.
"Tidak sakit." cicit Moza. Mencoba menggerakkan pantatnya. Meski Moza belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis, setidaknya Moza tahu hubungan antara lelaki dan wanita dewasa.
Apalagi Moza sudah duduk di bangku kelas dua SMA. Yang tentunya ada pelajaran yang menjelaskan hal yang berkaitan dengan alat reproduksi.
Moza terdiam. "Gue masih prawan." cicitnya.
Kembali pandangan Moza mengitari seluruh ruangan. "Tapi,, ini bukan kamar gue. Ini bukan di rumah gue." cicit Moza.
Ada rasa lega bercampur takut, serta penasaran dalam hati Moza. Lega, karena tak terjadi apa-apa dengan dirinya. Yang artinya dia masih dalam keadaan prawan.
Takut, sebab dirinya tak tahu berada di mana. Juga penasaran, siapa yang membawanya ke sini. Siapa yang membawanya pergi dari tempat terkutuk itu.
Lamunan Moza tentang semuanya buyar manakala pintu terbuka pelan dari luar. Segera mata Moza fokus pada sosok perempuan dengan seragam yang sopan masuk ke dalam kamar yang sekarang dia tempati.
"Nona sudah bangun." tutur sang pembantu, dimana dia membawa beberapa paper bag di tangannya.
Diletakkannya paper bag tersebut di tepi ranjang. "Silahkan Nona bersihkan badan. Ini pakaian serta sepatu Nona. Tuan besar dan Nyonya besar, serta Tuan Muda sebentar lagi akan turun, dan duduk di meja makan." jelasnya dengan sopan.
Moza masih terdiam sembari mengedipkan kedua bola matanya dengan pelan. "Tuan besar. Nyonya besar. Tuan muda. Siapa mereka?" tanya Moza dalam hati.
"Setelah selesai, Nona bisa turun dan bergabung bersama yang lain." tutur sang pembantu dengan ramah.
Sang pembantu tersenyum ke arah Moza. "Apa ada yang bisa saya bantu? Jika tidak ada, saya undur diri dulu." pamitnya.
"Tunggu." segera Moza menghentikannya, sebelum sang pembantu keluar dari kamar.
"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu. Katakan saja, jangan sungkan." paparnya.
Moza tersenyum lega. Jika dilihat dari pembantu yang ada di depannya, dia menyimpulkan jika dirinya dalam keadaan aman dan berada di tangan yang tepat.
"Maaf, jika saya boleh tahu. Sekarang saya sedang berada di mana? Lebih tepatnya, di rumah siapa?" tanya Moza dengan sopan.
Sang pembantu tersenyum. Dirinya tak terkejut akan pertanyaan yang Moza lontarkan padanya. Sebab semalam dirinya juga yang mengganti pakaian yang Moza pakai. Dan itu adalah perintah dari Nyonya Rindi.
"Maaf, semalam saya yang sudah mengganti pakaian anda, Nona. Dan itu atas perintah Nyonya. Pakaian yang Nona pakai sekarang adalah pakaian Nyonya besar." jelasnya.
Moza tersenyum sembari mengangguk. "Terimakasih." tuturnya merasa lega.
"Sekarang, Nona berada di kediaman Tuan David. Semalam, Tuan mudalah yang membawa Nona ke rumah ini. Dalam keadaan tak sadarkan diri." jelas sang pembantu.
Semalam, Tuan David berpesan pada sang pembantu. Jika Moza bertanya, maka dia bisa menjelaskan semuanya yang terjadi. Sehingga dirinya tak perlu lagi merasa takut menjelaskan pada Moza.
__ADS_1
Moza tersenyum tak enak hati. Meski sang pembantu mengatakan dengan bahasa lembut, tak sadarkan diri. Padahal dirinya pasti semalam mabuk berat.
"Apa kepala Nona masih pusing?"
Moza menggeleng. "Tidak." sahut Moza tak ingin lagi merepotkan. Padahal kenyataannya, kepalanya terasa mau pecah.
"Maaf, jika saya boleh tahu. Siapa Tuan muda yang membawa saya ke sini?"
"Tuan muda Jevo."
Nafas Moza seakan tercekat di tenggorokan mendengar nama yang disebutkan oleh perempuan di depannya. "Jev,,,, Jev,,, Jevo. Jevo kembaran Jeno." ujar Moza memastikan.
Sang pembantu mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Moza. "Astaga." Moza menutup mulutnya menggunakan sebelah telapak tangannya.
Dengan susah, Moza menelan ludahnya. "Jevo. Berarti, gue,,, gue,,, ada di rumah Jevo. Mama sama papanya pasti melihat keadaan gue. Bagaimana ini." batin Moza merasa cemas.
Ekspresi Moza berubah seketika. Tentunya Moza meras khawatir akan pandangan kedua orang tua Jevo pada dirinya. "Maaf Nona, ada lagi?" tanya sang pembantu.
Moza menggeleng pelan. "Baiklah kalau begitu. Di dalam paper bag ini ada seragam sekolah. Nona bisa memakainya."
Moza mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Badan Moza terasa lemas. "Tuhan,,, bagaimana bisa terjadi. Astaga..." Moza meraup wajahnya dengan gusar.
"Tapi,,, bagaimana bisa Jevo yang menolong gue." ujar Moza penasaran.
Moza mengacak rambutnya karena merasa pusingnya bertambah saat memikirkan kejadian semalam. "Aaaa...!! Sudahlah. Masa bodo. Yang penting gue selamat." tutur Moza.
Moza terdiam. "Dua kali. Dua kali Jevo menolong gue." lirihnya teringat kejadian pertama. Dimana Jevo jugalah yang menolong dirinya.
Moza tersenyum malu. Segera ditamparnya pipinya dengan pelan. "Sadar Moza... sadar.... Jangan berpikiran gila."
Moza menatap kedepan. "Ehh..." segera Moza melihat apa isi dari paper bag di depannya.
"Sebaiknya gue segera mandi. Jangan sampai mereka menunggu gue di meja makan." Moza tak ingin pemilik rumah menunggu kedatangannya di ruang makan. Bukankah sangat tidak sopan.
Moza mandi dengan kilat. Pikirannya tak lepas dari perasaan khawatir, akan pandangan kedua orang tua Jevo pada dirinya.
"Kenapa Jevo mengantar gue pulang. Malah membawa gue pulang ke rumahnya." gerutu Moza merasa hatinya tidak tenang.
Moza berdiri di depan cermin. Memastikan penampilannya. "Huh,,,, tenang Moza,, tenang. Kamu bisa jelaskan pada mereka. Iya,,, benar. Jika ini pertama kalinya kamu pergi ke tempat laknat itu." cicit Moza.
"Tuhan,,, kenapa gue sama sekali nggak kepikiran mama dan papa. Apalagi gue semalam berada di sini." tukas Moza, semakin cemas.
Moza hanya takut kedua orang tuanya mencari keberadaannya. Apalagi dirinya keluar tanpa pamit. Dan tidak menemukan keberadaannya pagi ini. "Mampus. Sial...!!" umpat Moza.
Moza menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali, berharap bisa mengurangi rasa kesal bercampur khawatir. "Rasanya gue pengen nangis dan teriak kencang." sungut Moza tak tahu harus melakukan apa dalam situasi seperti ini.
Moza memukul pelan kepalanya. "Moza bodoh... Kenapa elo dengan mudah percaya dengan pesan tersebut. Lihat,,,!! yang ada elo sendiri gang repot." gerutunya.
Tak ingin terlalu lama di kamar, Moza segera mencari jalan untuk menuju ke ruang makan. "Nona,,, ruang makan ada di sebelah sana. Silahkan." jelas seorang pembantu melihat Moza celingukan.
Tanpa bertanya, sang pembantu tahu jika Moza sedang mencari ruang makan. Sebab dirinya mendengar saat Nyonya Rindi menyuruh rekannya mengantar paper bag untuk Moza, dan mengatakan untuk Moza supaya sarapan bersama mereka.
"Terimakasih banyak." cicit Moza tersenyum ramah.
Sang pembantu menatap punggung Moza yang menjauh. "Nona Bulan dan Nona Moza. Semoga mereka berdua bisa menjadi menantu Tuan dan Nyonya. Perempuan-perempuan baik dan sopan. Sangat serasi dengan dua Tuan muda." ujarnya berharap.
Moza melihat jika telah duduk tiga orang di meja makan. "Duduk sini. Sarapan dulu." ajak Nyonya Rindi mempersilahkan Moza.
Moza tidak segera melakukan apa yang dikatakan Nyonya Rindi. Ditatapnya satu-persatu orang yang ada di meja tersebut.
Moza sedikit menundukkan badannya. "Maaf,,, saya telah merepotkan. Sungguh,,, ini pertama kalinya saya datang ke tempat itu. Saya tidak berbohong. Semalam saya juga tidak meminum minuman itu atas kemauan saya sendiri. Sumpah. Saya dipaksa." cicit Moza tetap menunduk, menatap ke lantai hang ada di bawah, berbicara tanpa menatap ke arah mereka.
Moza terjingkat kaget, saat pundaknya disentuh seseorang. "Sarapan dulu. Kamu tidak perlu berpikir aneh-aneh. Bukankah pagi ini, hari pertama kalian akan melakukan ujian kenaikan kelas." tutur Nyonya Rindi tersenyum tulus.
"Terimakasih." sahut Moza merasa khawatirnya lenyap. Apalagi mama dari Jevo terlihat baik padanya.
"Kenapa?" tanya Nyonya Rindi melihat Moza meremas ujung baju seragamnya. Dan tidak segera duduk.
"Emm,,, maaf, tapi saya harus pulang. Semalam,,,, semalam saya tidak minta izin pada orang tua saya." tukas Moza lirih dengan ekspresi sendu bercampur cemas.
"Tenang saja. Jevo sudah mengirimkan pesan pada orang tua kamu." ungkap Nyonya Rindi.
__ADS_1
Moza segera menatap ke arah Jevo yang terlihat cuek. "Terimakasih."
"Ckk,,, kapan kita sarapan." ketus Jevo, dengan tangan menaruh ponsel Moza di atas meja.
"Ayo duduk." ajak Nyonya Rindi.
Moza duduk di kursi sebelah Jevo. "Jeno mana?" tanyanya yang hanya berani diucapkan di dalam hati.
"Minum dulu air hangat itu. Supaya kepala kamu tidak terlalu pusing." ujar Tuan David, yang sedari tadi hanya diam.
"Terimakasih." Moza mengambil segelas air hangat di depannya lalu meminumnya. Baru seteguk, Moza menampilkan ekspresi lucu sembari menatap ke arah air minum yang dia pegang.
"Minum saja. Itu bukan air putih biasa. Kami mencampur dengan ramuan tradisional, supaya kepala kamu tidak pusing. Biar konsentrasi saat ujian nanti." jelas Nyonya Rindi.
Moza mengangguk, meneguk air tersebut hingga tandas. Jevo yang melihat Moza menghabiskan air tersebut memasang ekspresi jijik bercampur geli.
Sebab Jevo juga sudah pernah meminumnya, dan rasanya dangat tidak enak. Bahkan Jevo hanya meminum sedikit, dengan sisanya dia buang.
"Jevo,,, nanti kami berangkat bersama dengan Moza." pinta Nyonya Rindi.
"Jevo naik motor." tolak Jevo.
"Ya jangan naik motor. Ada banyak mobil di garasi." sahut Nyonya Rindi.
Semua terdiam, bahkan tak terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Ketiganya menikmati makanan di depan mereka dengan nikmat.
Beberapa kali Moza mencuri pandang ke arah Jevo yang duduk di sampingnya. "Ternyata Jevo sangat berbeda jika di rumah." batin Moza.
Moza juga terkejut saat Jevo bersalaman serta mencium punggung telapak tangan kedua orang tuanya saat ingin berangkat.
Apalagi yang Moza tahu, jika Jevo sangat terkenal dengan kebadungannya saat berada di sekolah.
Seperti permintaan sang mama, Jevo berangkat menggunakan mobil dengan Moza duduk di sebelahnya. "Turun." pinta Jevo, padahal mereka belum sampai di area sekolah.
Moza menatap Jevo dengan cengo. "Maksud kamu?"
"Elo turun dari mobil gue. Dengar...!" seru Jevo tanpa menatap ke arah Moza.
"Tapi sekolah kita masih di depan sana. Masa aku harus jalan kaki." cicit Moza dengan memelas.
Jevo menyandarkan badannya ke kursi. "Ccckkk,,, elo bodoh, apa goblok sih." ejek Jevo.
Moza menatap bingung ke arah Jevo. "Ehh..." cicit Moza, saat Jevo mendekatkan wajahnya ke wajah Moza.
Moza bahkan sampai menahan nafas. Kedua tangannya memegang erat sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya bagian depan.
"Elo tahu, siapa yang menjebak elo semalam?"
Moza menggeleng. Tanda dia tidak tahu akan jawaban dari pertanyaan Jevo. "Coba elo tebak." tukas Jevo, menunjuk ke arah dahi Moza.
"Claudia." lirih Moza, menatap wajah Jevo yang berada tepat di depannya.
Jevo memegang dagu Moza. "Pintar. Elo tahu kenapa?"
Moza kembali menggeleng. Jevo melepaskan tangannya di dagu Moza. "Karena gue. Paham...!!" seru Jevo dengan nada tertahan.
Moza mengedipkan kedua kelopak matanya dengan lucu. "Claudia cemburu sama aku." tebak Moza.
"Ya,,, dia mengira elo suka sama gue. Jadi,,, menjauh dari gue. Atau elo akan mendapat masalah karena itu." jelas Jevo. Tak mau pusing dengan masalah perempuan.
"Kenapa. Keluar sana." usir Jevo, manakala Moza malah menatap ke arahnya dengan intens.
"Keluar...." usir Jevo kesal.
Moza mengangguk. Melepas sabuk pengamannya. "Terimakasih. Kamu dua kali menyelamatkan aku. Terimakasih." tukas Moza sebelum turun dari mobil.
"Cukup dua kali. Jangan sampai ada yang ketiga dan selanjutnya. Merepotkan saja." ketus Jevo.
Begitu Moza turun, Jevo segera melajukan kembali mobilnya. Moza menggigit bibir bawahnya, seraya tersenyum. "Jevo,,, elo ganteng banget sih. Sumpah, semobil sama elo membuat jantung gue nggak aman." lirih Moza.
Moza memutuskan untuk berjalan kaki hingga sekolah. Apalagi jarak ke sekolah hanya tinggal lima puluh meter saja. "Jadi,,, Jevo khawatir sama gue. Makanya menurunkan gue di tepi jalan." cicit Moza sembari berjalan.
__ADS_1
"Gue harus memastikan sesuatu. Apa benar, gue menyukai Jevo, atau tidak. Gue nggak bisa begini terus." ujar Moza memutuskan hendak melakukan sesuatu.
Dan entah apa rencana yang ada di dalam benak Moza, untuk mengetahui perasaannya pada Jevo.