PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 70


__ADS_3

Claudia masuk ke kelas Jevo dan langsung duduk di dekat Jevo. Mengusir seorang siswa yang duduk di sebelah Jevo. "Minggir lo." usir Claudia.


Tak ingin bermasalah dengan Claudia. Dia lebih memilih untuk mengalah. Bukan karena takut. Tapi malas saja. Sebab dirinya pergi ke solah untuk belajar, bukan mencari perkara.


Claudia melihat sebuah kotak makan di atas meja Jevo. "Sayang, ini milik kamu?" tanya Claudia dengan manja.


Jevo hanya diam. Tak menjawab atau memandang ke arah Claudia. Seakan Claudia tak ada di sampingnya.


Merasa diabaikan, Claudia mendekatkan kursinya. "Sayang, kenapa sih." Claudia bergelayut manja di lengan Jevo.


"Sekarang kamu sulit sekali dihubungi. Kenapa sih sayang? Aku kangen kamu." tukas Claudia dengan manja, menaruh dagunya di pundak Jevo.


Arya dan Mikel memutar kedua matanya dengan jengah. Keduanya saling pandang, lalu mencebik. "Aku kangen kamu sayang, peluk aku." cicit Arya, dengan nada serta suara yang dibuat-buat.


Tak hanya ucapannya yang dibuat-buat, Arya juga bergelayut manja pada lengan Mikel. Menirukan tingkah Claudia pada Jevo.


Claudia memandang sinis kearah kedua sahabat Jevo tersebut. "Sayang, apa mereka berdua punya kelainan." sindir Claudia tersenyum sinis.


Mikel langsung menepis tangan Arya, seraya mendorong tubuh Arya untuk menjauh darinya. "Sialan." umpat Arya memandang Claudia.


Sementara Moza yang duduk di belakang mereka, hanya bisa memandang tanpa bisa berbuat apa-apa. Cukup kemarin dia dihukum. Tidak hari ini, dan selanjutnya.


"Hufffttttt." Moza menghembuskan nafas kasar. "Kenapa dengan gue."


Moza meletakkan kepalanya di atas meja, dengan kedua tangan dia jadikan bantalan kepala. "Rasa apa ini." batin Moza.


Lagi-lagi, Moza kembali menghembuskan nafas kasar. "Tidak mungkin gue jatuh cinta sama Jevo. Dia play boy. Dia pemain. Astaga Moza." keluh Moza dalam hati.


Moza selalu menepis dan mengelak setiap kali dirinya mengatakan jika dia jatuh cinta pada Jevo. "Oke Moza, calm. Tenang. Jangan sampai wajah Jevo membuat hari elo berantakan." batin Moza.


Sedangkan Claudia masih menempel seperti lintah pada Jevo. Padahal Jevo tetap acuh dan malah fokus pada permainan di layar ponselnya.


Tiba-tiba Moza berdiri dari kursi tempat duduknya. Berjalan ke meja Jevo. Mengambil kembali wadah yang berisi makanan yang dia berikan pada Jevo. Lalu kembali duduk lagi di kursinya.


"Loh....!!" seru Claudia bingung. Pasalnya dia tidak tahu, jika makanan tersebut pemberian dari Moza.


Tak hanya Claudia yang merasa bingung. Juga dengan Mikel dan Arya yang memang tahu jika makanan tersebut diberikan oleh Moza.


Moza membuka tutup wadahnya, lalu memakannya dengan lahap. "Dari pada mubadzir nggak ada yang makan. Mending gue makan sendiri." tukasnya sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Claudia menatap Moza yang makan dengan lahap, sembari memasang ekspresi wajah kesal. "Tunggu, jangan bilang itu tadi Moza yang menaruhnya di sini." tebak Claudia.


"Ohhh,,,, My,,,,,,, Demi apa....!?" geram Claudia, menahan rasa kesalnya.


"Beruntung gue tadi nggak makan. Bisa alergi gue kalau sampai makan." lanjutnya dengan nada sinis.


Moza sama sekali tidak menggubrisnya. Dinikmatinya makanan yang dia berikan pada Jevo, tapi dihiraukan oleh Jevo.


"Gue rela bangun pagi, ternyata. Sialan." umpat Moza, dengan dada terasa sesak.


Padahal, Moza dengan semangat penuh bangun pagi. Memasak dengan tangannya sendiri. Hanya untuk diberikan pada Jevo.


Entah kenapa, dada Moza seperti dihimpit sebuah batu. Nafasnya terasa berat. Hingga, kedua matanya terasa panas.


"Jangan menangis Moza." ucap Moza dalam hati. Tak ingin ada yang melihatnya, Moza meninggalkan makanannya di atas meja begitu saja.


Moza bergegas pergi ke kamar mandi. Tentu saja dia bersembunyi dari pandangan banyak mata. Membasuh wajah adalah pilihan Moza untuk menghilangkan air matanya.


Sedangkan Jevo, masih fokus pada layar ponselnya. "Jevo..." panggil Claudia.


"Pergilah. Atau aku yang akan menyeret kamu." tekan Jevo dengan nada lirih, tanpa memandang Claudia.


"Jevo..." rengek Claudia.

__ADS_1


"Pergi...!!" tegas Jevo, melepaskan tangan Claudia di lengannya dengan kasar.


Dengan wajah masam, seraya menghentakkan kakinya ke lantai, Claudia meninggalkan kelas Jevo. Mikel dan Arya hanya tersenyum miring melihat apa yang dilakukan Claudia.


Tak berselang lama, Moza kembali dan masuk ke dalam kelas. Lagi, Moza sempat mencuri pandang ke arah Jevo. Tapi lagi-lagi Jevo sama sekali tidak menganggapnya.


Mikel dan Arya saling memandang. Mikel memainkan kedua alisnya sambil mengangguk, seolah sedang mengatakan sesuatu pada Arya lewat bahasa isyarat.


"Bagaimana jika apa yang kita pikirkan benar?!" bisik Arya.


"Terserah mereka. Hati manusia, siapa yang bisa mengendalikan." balas Mikel.


Keduanya seolah dengan mudah bisa tahu, jika Moza menaruh perasaan suka terhadap Jevo. Namun sayangnya, Jevo saka sekali tidak menyukai Moza.


Sedangkan Jevo, moodnya tiba-tiba menjadi kacau manakala teringat akan saudara kembarnya yang pergi berdua bersama Bulan.


Jevo berdiri, menyambar tasnya meninggalkan kelas. "Jevo...!!" teriak Mikel dan Arya bersamaan.


"Jevo.... Mau ke mana kamu?!" seru sang guru, yang sudah berada di depan kelas. Melihat Jevo pergi meninggalkan kelas begitu saja.


"Sial..." geram Mikel. Karena gagal mengejar Jevo.


"Kenapa tuh anak." cicit Arya. Mikel hanya memandang Arya sekilas. Lalu beralih ke arah lain.


Moza juga terkejut dengan tingkah Jevo. "Kenapa dengan Jevo?" tanyanya dalam hati.


Sang guru masuk ke kelas dan langsung bertanya pada Mikel dan Arya. "Jeno sedang tidak enak badan bu. Dan saya dengar, Jevo naru saja menerima telepon dari Jeno. Tapi saya sendiri juga tidak tahu pastinya." jelas Mikel, tentu saja berbohong.


Beberapa murid yang mengetahui kebohongan Mikel hanya diam. Mereka tentu saja tidak ingin ikut campur masalah mereka. Atau memberitahu yang sebenarnya pada sang guru, jika Mikel berbohong.


Jevo melajukan motornya dengan kencang tanpa tujuan. Dirasa sudah jauh dan berada di tempat sepi, Jevo menghentikan laju motornya.


Dibukanya helm dengan kasar. "Aaaaaaa.....!!!" teriak Jevo sekuat tenaga.


Jevo turun dari motor. Duduk di pinggir jalan. Memandang dalamnya jurang yang ada di bawahnya. "Kenapa perasaan gue jadi seperti ini." sesal Jevo.


Padahal, sebelumnya Jevo dengan mudah bisa mengendalikan perasaannya. Tapi kali ini, semua begitu sulit, seperti mustahil.


"Jangan jadi pecundang dan perusak. Masih banyak perempuan di luar." gumamnya pada diri sendiri. Jevo menjambak kasar rambutnya sendiri.


Ya,,,, Jevo harus bisa menekan rasa yang sebelumnya tak pernah dia rasakan pada deretan mantan pacarnya dahulu.


Jevo bukan lelaki bodoh. Yang tidak tahu rasa apa yang sedang dia alami saat ini. Tapi, dia juga tidak akan dengan mudah mengungkapkannya.


Semua karena Jeno. Saudara kembar yang sangat disayangnya, juga memiliki rasa yang sama pada perempuan yang sama.


"Sial....!" lagi-lagi Jevo hanya bisa mengumpat, untuk melampiaskan rasa kesal pada dirinya sendiri.


Padahal, rasa yang dia rasakan bukanlah kesalahan. Hanya saja, rasa itu yang seharusnya tidak muncul. Dan Jevo yakin, jika Jeno tahu jika dirinya juga mencintai Bulan, maka pasti Jeno akan mundur, dia akan lebih memilih mengalah.


Jevo tak akan membiarkan semua itu terjadi. Biarlah dirinya yang mengubur perasaan tersebut. Rasa sayangnya terhadap saudara kembarnya, melebihi apapun.


"Meski sulit. Gue harus bisa." tutur Jevo dengan yakin.


Sementara di kediaman Pak Cipto, Jeno dan yang lainnya sedang berada di meja makan untuk sarapan bersama.


"Nak Jeno, jangan sungkan. Ayo, ambil lagi." tukas bu Asri.


Jeno tersenyum sembari mengangguk. "Iya bu, terimakasih."


"Bagaimana, masakan ibu enak?" tanya bu Asri.


Jeno kembali mengangguk. "Enak bu."

__ADS_1


Beberapa kali Jeno mencuri pandang ke arah Bulan yang tampak tenang menikmati makanan yang ada di piringnya.


"Nanti siang, ibu akan memasak sayur bening kesukaan kamu." ujar bu Asri.


Tangan Bulan yang sedang memegang sendok terhenti. "Bu, maaf.... Bulan harus segera kembali ke kota." tutur Bulan dengan ekspresi wajah tak enak.


Bu Asri tersenyum kaku. "Ya sudah nggak apa-apa. Kamu mau bawa apa dari rumah?" tanya bu Asri.


Bulan berdiri dari duduknya. Berjalan sedikit memutar, berhenti tepat di belakang bu Asri dan memeluknya dari belakang. "Maaf, tapi Bulan janji. Suatu saat, Bulan akan tinggal bersama kalian lebih lama."


Bulan mencium pipi sang ibu. Bu Asri mengelus lengan sang putri. Pak Cipto meneruskan makannya, meski sebenarnya dirinya juga merasa belum rela jika Bulan meninggalkan rumah lagi.


Bintang, dia menunduk. Terlihat acuh, tapi siapa yang menyangka. Jika kedua kelopak matanya sudah terisi dengan air.


Bulan melepaskan pelukannya pada sang ibu. Dan beralih memeluk sang adik dari belakang. Sama seperti yang dia lakukan pada sang ibu.


"Jangan cengeng. Laki-laki kok menangis. Katanya mau jadi dokter." goda Bulan.


Bintang membalikkan badan dan memeluk sang kakak dengan kedua pundak bergetar. Bu Asri yang melihatnya juga tak sanggup menahan air mata. Langsung di usapnya air mata yang menetes di kedua pipinya.


"Mbak, kenapa mbak tidak keluar saja. Cari pekerjaan lain." pinta Bintang ditengah isak tangisnya.


"Astaga. Calon dokter kok nangis sih." Bulan mengelus punggung Bintang dengan lembut.


Tanpa Bulan tahu, jika semua anggota keluarganya sudah mengetahui jika sekarang dirinya sedang dalam misi yang sangat berbahaya.


Makanya, mereka tidak seperti sebelum-sebelumnya. Yang melepas kepergian Bulan dengan senyum dan ikhlas.


Saat ini, di hati mereka hanya ada rasa khawatir dan rasa takut yang teramat. "Bintang,,,, jangan bebani mbak mu. Dia memilih jalannya. Sama seperti kamu kelak." tutur pak Cipto.


Pada kenyataannya, beliau juga sama seperti sang istri dan juga sang putra. Hanya saja, pak Cipto dangat pandai menyembunyikan apa yang sedang dia rasakan.


Sama seperti Bulan. Dirinya menahan diri untuk tidak menjatuhkan air mata. Tentu saja dia tidak ingin keluarganya semakin berat melepaskannya.


Jeno sampai ikut meneteskan air mata melihat apa yang ada di depannya. Kasih sayang keluarga Bulan pada Bulan, sungguh sangat besar.


Bulan mengurai pelukannya pada sang adik. Mengusap air mata di kedua pipi Bintang. "Belajar yang rajin. Jadilah dokter hang hebat."


Bintang mengangguk. Semuanya kembali duduk dan menghabiskan makanan mereka yang ada di piring. "Jam berapa kamu akan berangkat? Biar ibu bisa siapkan bekal untuk kalian berdua?" tanya bu Asri.


"Sekita jam sepuluh bu." tukas Bulan.


Sedangkan orang suruhan Bulan sedang berada di ladang. Dirinya juga sempat terkejut, saat pak Cipto memberitahu jika Bulan datang.


"Untung, gue nggak pulang ke rumah pak Cipto." gumamnya.


Sebab, dirinya tidak memberitahu Bulan, jika dia membocorkan tugas yang Bulan berikan padanya kepada kelurga Bulan.


Bukan hanya itu saja. Dia juga mengajari Bintang cara memakai senjata api, dan juga mengajari Bintang beberapa ilmu bela diri.


Semua karena kemauan Bintang sendiri. Dan Bintang, bukan tanpa alasan meminta diajari hal tersebut.


Apalagi, sang kakak sampai mengutus orang untuk melindungi mereka. Yang artinya, keluarga mereka juga sedang terancam bahaya.


Meski tidak sehebat kakaknya, setidaknya Bintang menguasai sedikit saja ilmu bela diri. Tentunya untuk berjaga-jaga.


Sedangkan di depan rumah, beberapa tetangga sedang bergosip sembari membeli sayuran pada pedagang sayur keliling.


Pandangan mereka tertuju pada mobil mewah yang pernah mereka lihat di layar televisi, terparkir di pekarangan rumah pak Cipto.


"Siapa ya tamunya bu Asri?" tanya salah satu dari mereka.


"Mana saya tahu, orang saya juga ada di sini." tukas yang lain.

__ADS_1


Mereka terus menerka siapa tamu yang datang dengan membawa mobil yang hanya bisa mereka lihat dari layar televisi tersebut.


__ADS_2