
"Bulan,,,, apa ada masalah?" tanya Nyonya Irawan, melihat Bulan termenung.
Sejujurnya, Sapna yang tahu terlebih dahulu perubahan sikap Bulan. Setelah meninggalkan markas dan pulang ke rumah pagi-pagi buta, Bulan langsung bersiap berangkat kerja.
Seperti biasa, Bulan berangkat kerja setelah selesai sarapan. Dan Sapna merasakan perubahan sikap Bulan sejak di meja makan.
Karena Sapna merasa canggung dan takut salah menebak, dirinya memutuskan untuk mengatakannya pada sang mama, setelah Bulan tidak lagi di rumah.
Keduanya memutuskan menunggu kedatangan Bulan. Melihat terlebih dahulu sikap Bulan. Apakah masih seperti yang Sapna katakan, atau sudah berubah seperti biasa.
Dan ternyata, Bulan masih menampilkan ekspresi datar dengan banyak melamun, dan sesekali menghela nafas panjang.
"Tante. Sapna mana?" tanya Bulan tidak menjawab apa yang ditanyakan Nyonya Irawan, sat dia tak melihat sosok Sapna.
"Ada di kamar tante. Katanya mau membuat lamaran pekerjaan lagi. Semoga kali ini dia beruntung." jelas Nyonya Irawan.
"Semoga." sahut Bulan juga mempunyai harapan seperti Nyonya Irawan.
Nyonya Irawan mendaratkan pantatnya di kursi kosong yang berada di sebelah Bulan. "Tante lihat sejak pagi kamu banyak melamun. Ada apa? Jangan sungkan untuk cerita ke tante. Jika kamu memendam sendiri, tante malah merasa tak berguna. Sudah numpang, selalu menyusahkan kamu. Giliran kamu ada masalah, tante nggak bantu." ujar Nyonya Irawan panjang lebar.
Bulan tersenyum sempurna. "Jangan berpikiran begitu tante. Bulan hanya ada sedikit masalah pribadi. Tidak terlalu penting."
"Tetap saja penting, buktinya kamu sampai melamun seperti itu."
Bulan menundukkan kepalanya. Menatap kedua ujung telapak kakinya, seakan sedang berpikir. "Jika terlalu pribadi, ya sudah. Tante tidak memaksa kamu untuk bercerita."
Nyonya Irawan takut Bulan malah merasa tertekan karena dirinya yang kekeh ingin tahu. Dan dirinya pasti akan tidak enak hati juga. Dan yang Nyonya Irawan khawatirkan, hubungan keduanya malah akan renggang.
"Rencananya, besok Bulan dan keluarga Jeno akan berkunjung ke desa. Ke rumah kedua orang tua Bulan."
"Wah... Bagus dong. Memang seharusnya seperti itu. Tapi kenapa kamu malah terlihat murung?"
"Ckk,,,, anak-anak memang menyebalkan. Mereka tahu dan akan ikut semua. Jika mereka ikut, pasti Sapna dan tante akan ikut juga. Karena tidak ada yang menjaga kalian. Masalahnya, rumah Bulan di desa kecil tante." keluh Bulan perlahan mulai terbuka.
"Astaga,,,, mereka ada-ada saja. Memang mereka pikir kalian mau berlibur." tukas Nyonya Irawan menggeleng heran.
"Makanya itu. Tante tahu sendiri, mereka nggak bisa diberitahu. Banyak sekali alasannya, supaya tetap bisa ikut."
"Dasar anak-anak. Lalu bagaimana dengan Tuan David dan Nyonya Rindi?"
"Belum tahu tante. Bulan belum mengatakan apapun pada mereka."
"Tapi Jeno tahu, jika mereka akan ikut?"
Bulan mengangguk. "Anak-anak itu. Padahal sudah dewasa. Apa yang mereka pikirkan." tukas Nyonya Irawan.
Bulan memasang wajah sedih sekaligus kesal. "Kamu bicara dulu sama kedua orang tua Jeno. Mintalah saran pada mereka. Siapa tahu, jika mereka yang memberitahu, anak-anak itu akan mengurungkan niatnya."
"Tadi aku sempat menyuruh Jeno untuk mengatakan pada mama dan papanya. Perihal masalah ini." jelas Bulan.
"Baguslah kalau begitu. Kamu tenang saja. Jika mereka tetap ikut, tante dan Sapna akan tetap di rumah. Jangan mengkhawatirkan kami."
"Tidak bisa tante. Yang ada Bulan malah kepikiran. Jika mereka semua ikut, kalian juga harus ikut."
"Apa kamu sudah memberitahu kedua orang tua kamu?"
Bulan menggeleng. "Belum tante."
"Astaga Bulan,,,, kamu ini bagaimana. Hubungi dan beritahu mereka. Jangan sampai mereka gelagapan menerima tamu sebanyak itu."
"Begitu ya tante?"
"Iya. Memang kenapa kamu belum menghubungi mereka. Apa mereka belum tahu hubungan kamu dan Jeno?" tanya Nyonya Irawan menebak.
Bulan mengerucutkan bibirnya sembari mengangguk pelan. "Ya ampun. Kamu hubungi mereka sekarang. Apalagi ini sudah sore. Tante takut mereka malah kecewa sama kamu." tutur Nyonya Irawan.
"Iya tante."
"Ya sudah. Kamu hubungi mereka dulu. Tante ke kamar, mau melihat Sapna." tukas Nyonya Irawan mendapat anggukan dari Bulan.
Selepas Nyonya Irawan pergi, Bulan mengambil ponsel untuk menghubungi sang bapak yang ada di desa.
__ADS_1
Jika biasanya Bulan akan melakukan panggilan video, tidak untuk kali ini. Bulan merasa tidak sanggup menatap wajah sang bapak. Atau lebih tepatnya merasa takut akan sesuatu yang ada di dalam benaknya.
Padahal, apa yang dia pikirkan belum tentu terjadi. Tapi tetap saja Bulan merasa takut.
Bulan mendial nomor sang bapak. Mengatur nafasnya perlahan supaya tidak terdengar gugup. "Sore pak." sapa Bulan begitu panggilan teleponnya di angkat oleh sang bapak.
"Sore." sahut Pak Cipto di rumahnya.
"Bapak sedang apa? Apa Bulan menganggu?" tanya Bulan dengan sopan.
"Tidak. Bapak sedang duduk di teras. Bersantai di temani secangkir kopi dan singkong rebus."
"Emm... Ibu sama Bintang di mana?"
"Ibu kamu di dalam. Sepertinya sedang mandi. Bintang, dia pasti sedang berada di lapangan. Bermain sepak bola."
"Apa semuanya sehat?"
"Sehat."
Keadaan hening beberapa saat. Hanya untuk mengatakan jika dirinya besok akan pulang dengan membawa keluarga Jeno saja sangat sulit. Seolah kalimat tersebut tersangkut di tenggorokan.
"Bulan,,,, kamu masih di sana? Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya pak Cipto tidak mendengarkan suara sang putri.
"Iya pak,,,, Bulan masih di sini. Bulan sehat." jelas Bulan segera.
Pak Cipto mengangguk pelan meski keduanya tak saling bisa melihat. "Pak..." panggil Bulan menggigit bibirnya bagian bawah.
Tampak sekali raut cemas di wajahnya. "Bulan mau berbicara sesuatu."
"Tentang keluarga Jeno." sahut Pak Cipto di seberang telepon mampu membuat tubuh Bulan membeku.
Bulan langsung diam. Hanya mengedipkan kedua matanya dengan lucu. Dirinya tidak menyangka sang bapak akan langsung mengatakan hal tersebut.
Bulan mengernyitkan keningnya. "Bapak....." ujar Bulan, belum selesai tapi sudah disela oleh pak Cipto.
"Bapak tahu. Besok kamu akan pulang bersama mereka." ujar pak Cipto memotong kalimat Bulan.
"Kita bicarakan besok saja di rumah. Jaga kesehatan kamu. Dan jangan lupa selalu berhati-hati."
"Iya."
Sambungan telepon mereka terputus. Dengan pak Cipto yang mengakhirinya terlebih dahulu. Bulan menatap ke layar ponselnya dengan pikiran kosong.
Bulan mengalihkan pandangannya. Menepuk jidatnya sendiri dengan pelan. "Aaaa...!!!" seru Bulan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Suara Bulan membuat Nyonya Irawan dan Sapna sampai berlari menuju ke tempat Bulan berada. "Ada apa Bulan...?!" tanya keduanya serempak. Keduanya takut terjadi sesuatu dengan Bulan.
"Hah... Tidak. Tidak ada apa-apa." sahut Bulan tersenyum kaku.
Bulan beranjak dari duduknya dan segera masuk ke kamar. Membuat Nyonya Irawan dan Sapna semakin bingung. "Kamu tahu?" tanya Nyonya Irawan yang hanya mendapatkan gelengan kepala dari sang putri.
"Aneh." cicit keduanya serempak. Lalu kembali ke belakang. Menyelesaikan apa yang mereka kerjakan sebelumnya.
Di dalam kamar, Bulan berjalan bagai seterika. Mondar-mandir ke sana dan kemari dengan sesekali menghentakkan kedua kakinya ke lantai. "Bagaimana bapak bisa tahu tentang Jeno." cicitnya.
Terdengar dari suara pak Cipto, Bulan seakan menebak jika beliau sudah mengetahui semuanya. "Apa yang terjadi. Kenapa gue malah nggak bisa berpikir." Bulan menepuk pelan kepalanya.
Bulan melihat sebotol minuman mineral. Dia langsung mengambilnya, membuka penutup yang masih tersegel dan meminumnya hingga tandas. "Hah.... Huh.... Oke,,, Bulan.... Tenang. Tenang. Cobalah berpikir dengan jernih dan tenang. Jangan grusa-grusu. Oke..... Calm..."
Bulan berusaha mengatur hembusan nafasnya. Berusaha berpikir tenang. Beberapa kali memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan raca cemas yang menguasai pikirannya.
"Jeno. Apa mungkin dia tahu, jika bapak sudah tahu jika besok kita akan ke sana." tebak Bulan.
"Atau... Om David dan tante Rindi. Aduh... Apa ini. Lalu gue harus bagaimana?" tanyanya pada diri sendiri.
"Bulan... Bulan... Kenapa masalah percintaan ternyata lebih rumit dari pada menjalankan misi, melesatkan peluru. Menghabisi nyawa lawan. Ckk." decak Bulan merasa sebal.
"Gara-gara pikiran gue yang blong, gue malah nggak mengatakan jika ada tambahan amunisi yang akan datang ke sana." lirih Bulan, menghitung berapa orang yang akan pergi ke desa.
"Gue dan keluarga Jeno saja sudah empat orang. Ditambah mereka, lima orang. Belum lagi jika om David membawa sopir atau pengawalnya. Macam orang lamaran saja." ketus Bulan merasa lemas sendiri.
__ADS_1
"Sebaiknya gue ke rumah Jeno. Bertanya langsung pada om David atau tante Rindi. Dari pada gue di sini malah penasaran, dan menebak dari mana bapak tahu. Sekalian mengatakan jika ada yang mau ikut." ujar Bulan memutuskan pergi ke rumah Tuan David.
Karena rasa penasaran bercampur bingung, Bulan bahkan tidak menghubungi Jeno ataupun Nyonya Rindi jika akan datang ke sana.
Bulan bahkan tidak berpikir, bagaimana jika mereka tidak ada di rumah. Karena pikirannya sudah merasa kacau terlebih dahulu.
Di sebuah rumah mewah dan besar, satu keluarga duduk santai di belakang rumah sembari menikmati suasana sore hari. "Bagaimana pa?" tanya Jeno, setelah dirinya mengatakan jika Arya dan Mikel serta ada tiga orang lainnya akan ikut mereka berkunjung ke rumah orang tua Bulan.
"Mau bagaimana lagi. Dilarang pun mereka akan tetap ikut." sahut Tuan David menebak apa yang akan terjadi.
"Tapi rumah Bulan kecil pa. Apa tidak masalah kita membawa mereka ke sana?" tanya Jeno.
"Kitakan tidak menginap di sana. Kenapa kamu repot sekali." tukas Tuan David.
"Loh... Kita tidak menginap pa?" tanya Jeno dan Nyonya Rindi bersamaan.
"Tidak pantas kita menginap di sana. Ingat,,, itu di desa. Bukan di kota. Kalian seharusnya sudah tahu, jika adat istiadat serta kebiasaan kita berbeda. Jangan sampai nama baik kedua orang tua Bulan menjadi jelek." jelas Tuan David.
Nyonya Rindi mengangguk. "Benar juga. Di desa biasanya para tetangga sangat ingin tahu apa yang terjadi. Berbeda dengan di sini. Semua cuek dan masa bodo."
"Tapi jika di desa meski bukan keluarga sedarah, tapi kerukunan sangat luar biasa. Mereka suka bergotong royong tanpa di berikan upah. Berbeda dengan di kota." jelas Tuan David.
"Makanya,,, mama jangan terlalu banyak membawa oleh-oleh." celetuk Jevo yang sedari tadi diam.
"Iya,,, mama tahu. Mama hanya membawa satu mobil saja."
"Apa...!!" sahut ketiga lelaki di samping Nyonya Rindi, terkejut dengan perkataan Nyonya Rindi.
"Iya. Tadinya mama mau beli lagi. Beruntung Jeno tidak terlambat mengatakan jika rumah Bulan di desa sederhana. Jadi mama berhenti berbelanja. Hanya satu mobil saja." jelas Nyonya Rindi sama sekali tidak merasa bersalah.
"Terserah mama." ujar ketiga lelaki tersebut bersama.
Melarang Nyonya Rindi atau menyuruh Nyonya Rindi mengurangi barang bawaannya, sama saja tak berfaedah. Pasti Nyonya Rindi akan menolak. Jadi mereka bertiga hanya bisa membiarkan Nyonya Rindi membawa apa yang sudah terlanjur beliau beli.
"Sore semua." sapa seorang perempuan cantik tersenyum ke arah mereka.
Melihat siapa yang datang, Nyonya Rindi dan Jeno segera beranjak dari duduknya. "Bulan,,, sayang. Kapan kamu datang? Kenapa nggak telepon dulu. Biar Jeno yang jemput." ujar Nyonya Rindi, segera memeluk calon menantunya.
"Iya sayang. Jika tahu kamu akan ke sini, aku akan jemput kamu." timpal Jeno.
Bulan tersenyum mendengar perkataan keduanya. "Tidak apa-apa tante. Bulan sudah terbiasa menyetir sendiri. Lagi pula, Bulan naik motor tadi. Biar cepet sampai." jelas Bulan.
Bulan segera bersalaman dengan Tuan David, lalu duduk bergabung bersama mereka. Baru saja Nyonya Rindi ingin memanggil seorang pembantu, sosok perempuan paruh baya datang dengan nampan di tangan.
"Tenang saja Nyonya. Kami selalu siap jika calon Nyonya Muda datang." ujarnya tersenyum senang, meletakkan segelas teh hangat di atas meja.
"Terimakasih bik." tukas Bulan.
"Sama-sama Nona." sahut sang pembantu, sekalian undur diri.
"Pasti kamu datang mau bertanya perihal mereka yang mau ikut kita pergi ke desa?" tebak Jeno, diangguki oleh Bulan.
"Papa dan mama mengizinkannya." timpal Jevo.
Bulan memandang Tuan David dan Nyonya Rindi bergantian. "Kita tidak menginap. Jadi tidak masalah jika mereka ikut." jelas Tuan David singkat.
Bulan tersenyum. "Iya om. Bulan paham."
"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" tanya Tuan David tersenyum penuh makna. Seakan tahu jika Bulan datang bukan hanya sekedar bertanya tentang mereka yang akan ikut. Melainkan ada hal lain.
Dari raut wajah Tuan David, Bulan bisa menebak apa yang terjadi. "Pasti om David sudah berkunjung ke rumah untuk bertemu bapak dan ibu." batin Bulan menebak.
"Tidak ada om." sahut Bulan sembari mengangguk, membalas senyum Tuan David dengan sopan.
"Baiklah." ujar Tian David.
Jeno merasa ada yang disembunyikan oleh sang papa maupun Bulan. Tapi dirinya tak mungkin bertanya. Dirinya malah takut tidak akan mendapatkan jawaban.
"Bulan,,, bagaimana jika nanti malam kamu ikut kami pergi ke pesta. Jevo dan Jeno juga ikut." ajak Nyonya Rindi dengan tiba-tiba.
"Hah...." seketika Bulan melongo karena terkejut.
__ADS_1