PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 190


__ADS_3

Pak Cipto dan Bu Asri serta Bintang sudah berdiri di teras, menyambut kedatangan tamu dari kota. "Itu mereka pak." ujar bu Asri melihat beberapa mobil yang perlahan mulai memasuki area pekarangan rumah beliau yang luas.


Ketiganya tersenyum, saat melihat seorang perempuan cantik keluar dari mobil, dan langsung menghampiri ketiganya. "Bapak,,, ibu." sapa Bulan, dengan langsung bersalaman pada kedua orang tuanya. Mencium punggung telapak tangan keduanya.


Selesai bersalaman dengan kedua orang tuanya, Bulan beralih pada sang adik. Bintang. "Adik kakak yang ganteng." cicit Bulan, juga bersalaman dengan sang adik.


Tapi kali ini, punggung telapak tangannya yang dicium oleh sang adik dengan pelan. Kedua adik kakak tersebut berpelukan sembari tertawa kecil.


"Siang pak... Bu...." sapa Tuan David terlebih dahulu.


"Siang. Mari semua masuk. Pasti kalian capek, setelah perjalanan jauh." sahut pak Cipto mempersilahkan para tamunya dengan ramah.


Semuanya saling berjabat tangan dengan sopan, sebelum masuk ke dalam rumah Bulan yang memang sederhana. Namun termasuk salah satu rumah yang besar di desa ini.


"Maaf,,, rumahnya kecil, jadi meja kursinya saya sisihkan." tutur pak Cipto, sebab hanya menggelar karpet. Dan membuat semuanya duduk lesehan di bawah.


"Tidak ada pak. Begini juga enak. Malah santai." sahut Nyonya Rindi.


"Astaga,,, ini apa bu." cicit Bu Asri melihat pak sopir dan Jeno serta teman-temannya menurunkan oleh-oleh yang di bawa Nyonya Rindi, yang juga dibantu oleh Bintang.


"Maaf, hanya bawa sedikit bu." papar Nyonya Rindi.


"Ini bukan sedikit bu, tapi satu toko di bawa semua ke sini." sahut Bu Asri membuat semua tertawa.


"Maaf, jadi merepotkan ibu." lanjut Bu Asri.


"Tidak bu, sama sekali tidak merepotkan. Saya malah senang." sahut Nyonya Rindi.


"Terimakasih banyak bu." tutur bu Asri.


"Sama-sama. Itu tasi bukan punya saya semua low bu. Ada milik jeng Irawan juga." sahut Nyonya Rindi memberitahu, meski apa yang dibawa Nyonya Irawan hanya sedikit.


Nyonya Irawan tersenyum tulus, sembari memandang ke arah bu Asri. "Ya ampun. Terimakasih banyak. Padahal tanpa membawa apapun, kami sudah sangat senang." papar Bu Asri.


Bulan menyuruh mereka untuk langsung meletakkan semua barang tersebut ke belakang lewat pintu samping. Supaya tidak merecoki atau mengganggu mereka yang sudah duduk dengan santai di ruang tamu.


"Kelihatannya gue betah tinggal di sini. Adem." tukas Arya melihat sekitar rumah Bulan yang banyak tanamannya.


"Jika kakak mau, tinggal saja di sini. Bintang malah senang, bertambah satu lagi temannya." sahut Bintang dengan ramah.


"Betah. Gue rasa nggak mungkin." timpal Jevo, sembari merangkul Arya. "Ingat brow, di sini nggak ada club malam. Jadi elo nggak bisa ajib-ajib." lanjut Jevo menggoda Arya.


"Mulut elo. Jangan dengarkan dia. Mulutnya asal nyablak." ketus Arya melotot ke arah Jevo, dengan menyingkirkan tangan Jevo di pundaknya.


Bintang menatap Jevo dan Jeno bergantian. "Dia Jevo, saudara kembar saya." jelas Jeno, yang tahu jika Bintang penasaran.


"Jadi kamu punya saudara kembar?" tanya Bintang, mendapat anggukan dari Jeno.


"Satu lagi. Jangan panggil gue kak. Keliatan tua banget gue." pinta Arya.


"Sadar brow, memang elo sudah tua." kelakar Mikel.


"Sialan." umpat Arya.


"Bintang, ajak mereka masuk. Bapak juga, masuk saja ke dalam." pinta Bulan, juga menyuruh pak sopir untuk ikut bergabung di dalam.


"Bapak di luar saja." tolak pak sopir dengan sopan. Merasa kurang pantas jika dirinya ikut bergabung bersama majikannya dan yang lain. Duduk bersama dalam satu ruangan.


"Sudah masuk saja pak. Yang punya rumah saja nyuruh bapak untuk masuk." ujar Mikel.


"Benar pak. Masuk saja. Ayok semua, silahkan masuk." tutur Bintang.


Setelah memastikan semuanya masuk dan duduk di ruang tamu, Bintang segera pergi ke belakang. Tentu saja membantu sang kakak untuk menyiapkan air minum serta camilan untuk mereka semua.


"Kak, serius kakak pacaran sama Jeno?" tanya Bintang, saat mereka berdua berada di dapur.


"Kenapa? Nggak cocok ya?" bukannya menjawab pertanyaan sang adik, Bulan malah menebak apa yang ada di pikiran Bintang mengenai hubungan mereka.


"Bukan. Cocok saja. Kalian serasi. Hanya saja, Bintang merasa terkejut, saat bapak memberitahu kami." jelas Bintang.


Bulan yang sedang menaruh gula di dalam gelas, menghentikan gerakannya. "Bintang, memangnya dari mana bapak tahu. Padahal kakak belum memberitahu bapak."


"Waktu itu, om David pernah kesini. Beliau datang bersama dua lelaki. Katanya sopir sama asistennya." jelas Bintang membuat tubuh Bulan membeku di tempat.


Tentu saja Bulan terkejut. Pasalnya, dirinya tidak pernah memberitahu alamat rumahnya yang ada di desa pada Tuan David. "Apa Jeno yang memberitahu." batin Bulan menebak.


"Tidak mungkin. Jeno saja kelihatannya juga tidak tahu." lanjut Bulan dalam hati.


"Kak... Kakak kenapa?" tanya Bintang melihat sang kakak terdiam dengan ekspresi datar menatap ke arahnya.


"Kamu tahu, om David ngomong apa sama bapak?" tanya Bulan mengorek informasi dari Bintang.


Bintang menggeleng. "Bintang di suruh bapak pergi ke kebun. Membantu orang di kebun memanen buah apel." jelas Bintang.


"Ckk,,, pasti bapak sengaja." gumam Bulan.

__ADS_1


"Lalu ibu?" lanjut Bulan.


"Kalau tidak salah, ibu juga pergi bersamaan dengan Bintang pergi ke kebun. Tapi ibu katanya mau membeli kopi. Soalnya, kopinya pas habis." jelas Bintang berkata jujur.


Bulan menghela nafas panjang. "Kita-kira apa yang mereka bicarakan?" cicit Bulan merasa penasaran.


Bintang menggedikkan kedua pundaknya ke atas. "Bulan,,, elo lupa siapa Tuan David. Pasti dia akan dengan mudah mencari tahu apa yang dia ingin tahu." batin Bulan menghela nafas pelan.


"Sebaiknya kak Bulan ganti baju deh. Biar ini Bintang lanjutkan. Bau asem." cicit Bintang memencet hidungnya sendiri, mengusir sang kakak.


Bulan malah mengangkat kedua tangannya, mendekatkan pada Bintang. "Iihh... Kakak sana." usir Bintang. Nyatanya Bulan sama sekali tidak bau. Hanya saja, Bintang ingin sang kakak tampil dengan pakaian berbeda saat kembali ke depan.


"Iya. Cerewet." Bulan memukul pelan bahu Bintang, dan bergegas pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


"Ini saja." Bulan mengambil dress rumahan sederhana di dalam almari.


Bulan melepas rambut palsu yang menutupi kepalanya. "Cepatlah tumbuh." cicitnya, kembali mengenakan rambut palsunya.


Bulan memindai penampilannya dari pantulan cermin full body di depannya. "Astaga... Kenapa dengan gue. Hanya pertemuan biasa saja, gue malah pusing memikirkan pakaian gue. Lagi pula, setiap hari gue juga bertemu mereka. Apa sih elo Bulan." cicit Bulan mengomel pada dirinya sendiri.


Bulan kembali ke dapur untuk membantu Bintang menyiapkan air minum serta camilam untuk para tamu setelah selesai mengganti pakaiannya. "Gitukan lebih enak di lihat." tukas Bintang.


"Kakak mu ini memang terlahir cantik. Jadi,,, mau pakai baju seperti apapun, tetap saja cuuuantik." ujar Bulan dengan sombong, mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Menyesal, kenapa mulut ini tadi bicara." sahut Bintang memukul mulutnya sendiri dengan pelan. Yang mana malah membuat Bulan tertawa lirih melihat penyesalan sang adik yang dibuat-buat.


Jika Bulan dan Bintang berada di dapur membuatkan minum para tamu yang baru datang dari kota, di ruang tamu sedang terjadi perbincangan hangat.


Tuan David, dengan ramah mengenalkan keluarganya satu-persatu. Di lanjutkan oleh Jeno yang mengenalkan para sahabatnya.


"Saya Irawan pak. Secara pribadi, saya ingin mengucapkan terima kasih pada pak Cipto dan bu Asri. Telah mengirimkan malaikat seperti Bulan untuk selalu membantu saya dan putri saya." cicit Nyonya Irawan dengan kedua mata berkaca-kaca.


Nyonya Rindi yang duduk di samping Nyonya Irawan mengelus lembut lengan Nyonya Irawan sembari tersenyum tulus. "Syukurlah, jika keberadaan Bulan bermanfaat bagi banyak orang. Kami sebagai orang tuanya juga merasa senang, mendengar Bulan banyak membantu orang." tutur bu Asri dengan ramah.


"Jadi Jeno, apa pekerjaan papa kamu? Apakah beliau atasan Bulan di kantor?" sindir Pak Cipto tersenyum samar.


Jeno tersenyum kaku. "Maaf pak. Jika waktu itu saya berbohong. Sejujurnya, waktu itu saya dan Bulan belum menjalin hubungan sebagai kekasih. Maksud saya, hanya saya yang menyukai Bulan. Tapi, Bulan belum bisa membuka hatinya untuk saya waktu itu. Dan saya, memaksa Bulan untuk ikut. Tanpa berpamitan pada kedua orang tua saya." jelas Jeno, tanpa menyalahkan terkait kebohongannya saat itu.


"Anak muda." lirih Arya menggelengkan kepala.


Meski perkataan Arya lirih, tapi apa yang dia ucapkan di dengar oleh semuanya. Sontak semua tergelak mendengarnya. Dan Arya hanya tersenyum canggung.


Pak Cipto sedari tadi selalu mencuri pandang ke arah Gara. Sementara Gara hanya menundukkan kepala. "Sepertinya aku pernah bertemu dengan dia." batin pak Cipto mengingat kembali. Apakah tebakannya benar atau salah.


"Tidak apa-apa bu." sahut Nyonya Rindi.


Sapna segera berdiri dan membantu Bulan dan Bintang menurunkan camilan dam minumannya. Juga dengan Jeno yang segera berdiri untuk membantu mereka. "Maaf, seadanya." tutur Bulan dengan ramah.


"Kenapa pakai baju seperti itu?" tanya Jeno, berbisik di samping Bulan.


"Kenapa? Jelek?" tanya Bulan balik, berbisik di samping telinga Jeno.


"Benar. Benar-benar menggoda imanku." balas Jeno berbisik.


Blush....


Kedua pipi Bulan langsung memerah. Untuk menyamarkan rasa malunya karena gombalan Jeno yang hanya bisa dia dengar, Bulan menggelembungkan kedua pipinya.


Jeno tersenyum samar melihat Bulan menahan senyum. Lagian, ada-ada saja Jeno. Di saat seperti ini, masih saja menggombal.


"Kalian cepat turunkan minuman itu. Malah bisik-bisik." tegur Jevo dengan santai seraya tersenyum penuh makna.


"Jevo sialan." geram Jeno dalam hati.


Bulan yang salah tingkah hampir saja menumpahkan air di dalam gelas. "Hati-hati Bulan." tegur bu Asri dengan lembut.


"Maaf bu." sahut Bulan.


Jeno segera kembali ke tempat duduknya setelah selesai membantu Bulan. Apalagi Tuan David memberi tatapan tajam pada Jeno.


"Anak ini. Apa dia nggak bisa menjaga tingkahnya." geram Tuan David, yang juga kesal dengan Jevo yang menegur Jeno.


Entah mengapa Tuan David merasa cemas. Dan ini untuk pertama kalinya beliau merasakan hal seperti itu. Kemungkinan beliau sedang berhadapan dengan kedua orang tua Bulan.


Dimana Tuan David menginginkan semua berjalan dengan lancar. Dan bisa menjadikan Bulan sebagai menantunya. Istri dari sang putra, Jeno.


Bulan dan Bintang kembali ke belakang, bersama dengan Sapna. "Sebaiknya kamu di depan saja." pinta Bulan merasa tidak enak, sebab Sapna adalah tamu.


"Tidak apa-apa. Gue di depan hanya melongo. Nggak ngapa-ngapain. Mending di sini. Bantu kalian." sahut Sapna.


"Baiklah. Terimakasih." timpal Bulan.


Ketiganya mempersiapkan makan siang yang sebelumnya sudah dimasak oleh bu Asri. Sehingga mereka bertiga hanya memindahkannya ke wadah lain.


"Ayo,, silahkan diminum." ujar Pak Cipto.

__ADS_1


"Silahkan dicicipi kuenya,, ini semua buatan saya." lanjut bu Asri.


"Pasti enak. Soalnya Jeno pernah makan masakan bu Asri." tutur Jeno, sembari mengambil makanan ringan di depannya dengan semangat.


Bu Asri tersenyum senang menatap Jeno. "Jeno,,, di belakang masih ada. Nanti kamu bawa ke kota ya." cicit Bu Asri, mendapat anggukan dari Jeno.


"Maaf bu,,, jika kami datang membawa rombongan." ujar Nyonya Rindi.


"Tidak apa-apa bu, dengan begini kami tahu jika Bulan di sana banyak yang menyayangi." sahut bu Asri dengan bijak.


"Jeno,,, bisa bapak bicara berdua dengan kamu." pinta pak Cipto.


"Bisa pak. Mari,,, silahkan." tutur Jeno.


"Saya pinjam Jeno sebentar pak." tutur pak Cipto dengan sopan.


"Silahkan." sahut Tuan David.


Sebelum Jeno mengikuti kemana pak Cipto membawanya pergi, dia menatap ke arah sang papa yang mengangguk padanya dengan pandangan yakin. "Tenang saja pa. Bulan akan menjadi menantu keluarga kita." batin Jeno menyakinkan dirinya.


"Pa." panggil Nyonya Rindi lirih.


Tuan David mengangguk pelan sembari tersenyum. Mengisyaratkan pada sang istri jika semua akan baik-baik saja. Serta menyuruh sang istri percaya pada Jeno.


"Tenang saja bu, suami saya tidak akan melukai Jeno." gurau bu Asri mencairkan suasana yang mendadak tegang seusai Jeno dan Pak Cipto meninggalkan ruangan.


"Tentu saja. Mana mungkin Bulan mempunyai bapak zombie." celetuk Arya membuat semua tertawa.


"Duduklah." pinta Pak Cipto saat dirinya dan Jeno berada di teras bagian samping rumah.


Jeno duduk di kursi single yang ada di sebelah pak Cipto. Keduanya hanya terhalang sebuah meja kecil berbentuk bundar.


Jeno menetralkan detak jantungnya yang seketika berdetak tak karuan. "Tenang Jeno. Bukankah kamu sudah siap dengan apa yang akan kamu hadapi." batin Jeno.


"Seharusnya kamu tahu, kenapa saya menginginkan berbicara hanya berdua dengan kamu. Tanpa ada yang menganggu." ujar Pak Cipto.


"Sepertinya saya tahu pak. Hanya saja, Jeno takut salah menerka." sahut Jeno menelan ludahnya dengan sulit.


"Kamu dan Bulan. Kalian berdua berbeda. Dari usia. Keluarga. Bahkan background keluarga kalian. Semua berbeda dengan jelas." ujar pak Cipto, menjeda kalimatnya.


"Apa kamu yakin, jika yang kamu rasakan adalah rasa cinta. Bukan suka sesaat. Sebab, yang saya dengar, kamu belum pernah berhubungan dengan perempuan sebelum ini." lanjut pak Cipto, mengintimidasi Jeno.


Sebagai orang tua Bulan, tentu saja pak Cipto menginginkan kebahagiaan untuk sang putri tercinta. Beliau tak mau jika Bulan menderita, jika salah memilih pendamping hidup.


Jeno menatap jauh ke depan. "Tentu saja ini sebuah cinta. Dan saya yakin atas apa yang saya rasakan." tekan Jeno dengan yakin.


Pak Cipto menatap ke samping, dimana Jeno berada di sana dengan pandangan mengarah ke depan. "Saya tahu apa yang bapak khawatirkan. Memang benar. Usia saya masih di bawah Bulan. Bahkan saat ini saya masih duduk di bangku SMA." ujar Jeno menghela nafas. Menjeda kalimatnya.


Jeno mengalihkan pandangannya ke samping. Membuat dirinya dan pak Cipto saling bersitatap. "Saat ini, saya tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi saya berjanji tidak akan membuat putri bapak dalam kesusahan. Seperti anda yang selama ini menyayangi Bulan. Dan memberikannya apapun yang dia butuhkan. Kelak, saya yang akan menggantikan peran itu." lanjut Jeno dengan kedua mata penuh keyakinan.


"Saat ini, saya masih bersekolah. Tapi saya berjanji akan belajar dengan baik. Saya akan menjadi suami yang bertanggung jawab."


"Apa jaminannya, jika kamu tidak bisa mewujudkan apa yang kamu katakan sekarang pada saya." ujar pak Cipto.


"Jika itu terjadi, bapak bisa mendatangi saya. Lakukan apa yang bapak inginkan. Dan saya,,, Jeno,,,, akan melakukan apapun yang bapak inginkan." tegas Jeno.


"Termasuk mengembalikan Bulan pada saya."


"Tidak. Tidak akan pernah terjadi. Saya tidak akan membiarkan Bulan kembali. Sebab,,,, tempat Bulan memang ada di samping saya." tekan Jeno.


Pak Cipto mengalihkan pandangan ke arah lain. "Lalu, bagaimana dengan orang tua kamu?"


"Mereka sudah datang ke sini. Seharusnya, bapak sudah melihat betapa kedua orang tua saya juga menginginkan Bulan sebagai menantu di keluarga David."


"Apa kamu akan baik-baik saja, saat semua mata menatap ke arah kalian, karena perbedaan yang ada di antara kalian?"


"Bapak tenang saja. Saya bukan lelaki yang mudah memikirkan apa yang orang lain pikirkan. Saya lebih mementingkan apa yang dirasakan pasangan saya. Dan saya juga yakin, jika Bulan akan mampu berdiri di samping saya. Mematahkan semua pandangan itu."


Pak Cipto menghela nafas. "Sebagai orang tua Bulan, saya ingin bertanya. Apa yang kamu rencanakan ke depannya?"


"Seperti yang pernah saya dan Bulan bicarakan. Jika saya akan menyelesaikan pendidikan saya di SMA terlebih dahulu. Lalu kita akan bertunangan." jelas Jeno.


Pak Cipto berdiri dari duduknya. Menatap ke langit yang begitu cerah siang ini. "Sebagai orang tua Bulan, saya hanya menginginkan putri saya tidak salah memilih pasangan hidup."


"Saya juga hanya menginginkan pernikahan sekali seumur hidup, pak." sahut Jeno tersenyum menatap pak Cipto.


Pak Cipto membalikkan badan, membuat Jeno dan dirinya kembali bersitatap. Kalimat terakhir yang Jeno lontarkan adalah sebuah penegasan dari Jeno. Jika dirinya akan menjadi lelaki yang akan mampu membuat bahagia putri pak Cipto, Bulan Maheswari.


"Apa kamu tidak keberatan dengan pekerjaan Bulan?" tanya pak Cipto.


"Saat ini tidak. Entah kedepannya. Jujur, saya sangat pencemburu." ucap Jeno tertawa pelan.


"Kamu ini, jangan terlalu posesif."


"Putri bapak terlalu cantik. Bagaimana saya tidak posesif." sahut Jeno mendapat gelengan kecil dari pak Cipto.

__ADS_1


__ADS_2