PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 166


__ADS_3

"Ckkk,,,,,, mau apa dia?" geram Jevo, saat Claudia menghadang laju motornya ketika dirinya hendak berangkat ke sekolah.


"Jevo..... Tolong papa aku." pinta Claudia langsung ke intinya.


Jevo membuka helm yang menutupi seluruh kepala, bahkan wajahnya. "Membantu papa kamu. Memang papa kamu kenapa?" tanya Jevo seakan dirinya tak tahu apa yang terjadi.


"Jevo... Jangan bercanda. Pasti kamu sudah tahu apa yang terjadi. Kamu bukan lelaki bodoh, yang bisa berpura-pura tidak tahu berita apa yang sedang heboh pagi ini." ujar Claudia gemas.


Jevo tersenyum. Tentu saja dia tahu apa yang terjadi. "Lalu elo mau apa?" tanya Jevo.


"Bantu papa aku Jevo...." pinta Claudia dengan nada sedih.


"Iya,,, bantu apa? Bantu bagaimana? Katakan." ujar Jevo. Seakan dirinya bermaksud membantu Claudia. Kenyatannya, dirinya sama sekali tidak ada niat membantu Claudia.


Untuk apa Jevo membantunya, dimana dirinya dan yang lain sudah bersusah payah mengungkap kasus ini. "Cepat katakan. Gue tidak punya waktu." lanjut Jevo.


"Jika om David turun tangan, aku yakin. Papa tidak akan bisa disentuh oleh siapapun. Termasuk hukum."


"Ya,,,, dari dulu elo sudah tahu betapa hebat dan berkuasanya papa gue." tukas Jevo dengan nada angkuh membanggakan sang papa.


"Ya,,, aku tahu. Tolong kamu katakan pada om David. Supaya beliau mau menolong papa. Aku mohon." pinta Claudia menangkupkan kedua telapak tangannya menjadi satu di depan dada. Berharap Jevo melakukan apa yang dia inginkan.


"Lalu, apa yang gue dapatkan. Jika gue mau berbicara sama papa untuk membantu bokap elo?" tanya Jevo, seakan dirinya sedang menawarkan sesuatu sebagai imbal balik dari apa yang akan dia lakukan.


"Apapun yang kamu inginkan akan aku lakukan."


Jevo tertawa lepas mendengar apa yang dikatakan Claudia. Sontak tawa Jevo membuat Claudia kebingungan. "Ada yang lucu?" tanya Claudia.


"Oke Clau,,,, sekarang gue tahu. Apa yang harus gue lakukan."


Claudia tersenyum. Merasa mendapat angin segar dari apa yang dikatakan Jevo. "Gue nggak akan bantu elo. Karena nggak ada yang bisa gue ambil dari elo, ataupun keluarga elo." cibir Jevo.


Claudia terdiam. Mencerna apa yang dikatakan Jevo. "Elo nggak punya apapun yang bisa membuat gue mau membantu elo. Jadi,,,, minggir. Jangan halangi jalan gue. Dan jangan pernah muncul di hadapan gue." tukas Jevo tak main-main.


Jevo memakai kembali helm, bersiap menjalankan kembali mesin motor dan melajukannya. Claudia menggeleng. "Nggak...!! Kami harus baru aku. Bahkan aku rela kamu nikahi. Aku rela membuang masa mudaku Jevo...!!" seru Claudia.


"Mimpi.....!!" seru Jevo meninggalkan Claudia yang masih histeris karena tolakan Jevo untuk membantu masalah yang menimpa sang papa.


Di sekolah, Bulan tak segera masuk ke ruangannya. Melainkan pergi ke ruangan kepala sekolah. "Pagi pak.... Bagaimana kabar bapak?" tanya Bulan dengan ramah pada kepala sekolah yang baru saja hendak keluar dari ruangannya.


"Loh... Kenapa mereka ada di sini?" tanya Bulan lagi dengan tampang sok polosnya. Melihat tiga lelaki yang diketahui sebagai satpam juga hendak keluar dari ruang kepala sekolah.


Tentu saja Bulan mengetahui semuanya dari Jeno. Jika semalam dirinya mengurung tiga lelaki tersebut di dalam ruang kepala sekolah.


"Jangan banyak bicara. Kami tahu siapa kamu sebenarnya..!" bentak salah satu dari lelaki tersebut dengan nada tertahan. Karena mereka sudah mendapat informasi dari pak Darto untuk berhati-hati dengan Bulan.


"Begitukah,,,,,, Baguslah jika kalian tahu. Sepertinya, saya tidak perlu berpura-pura memasang senyum di bibir saya saat berbicara dengan kalian." sahut Bulan dengan entengnya.


"Lihat saja. Kami tidak akan semudah itu kamu jebloskan dalam penjara." ujar salah satu dari mereka dengan yakin.


Bulan mencebik. "Saya suka semangat kalian."


Sementara kepala sekolah hanya diam, memandang ke arah Bulan dengan raut wajah terlihat pucat pasi. Tentu saja beliau sudah mengetahui jika kejahatan yang selama ini dia lakukan terkuak ke media.


Dan kemungkinan besar dirinya akan ikut masuk ke dalam jeruji besi. Mengikuti para rekannya yang sekarang sudah di ciduk pihak kepolisian.


"Lihatlah pak kepala sekolah. Bagaimana sombongnya bawahan anda. Upss,,, maaf. Seharusnya saya bisa tahu, kalian semalam tidur di tempat yang sangat nyaman. Pasti itu membuat kalian bangun kesiangan." tukas Bulan mengejek.


Sebenarnya Bulan sengaja mencegat mereka di sini. Tujuannya membuat mereka tidak pergi meninggalkan area sekolah. Sebab sebentar lagi pihak berwajib akan datang dan menangkap mereka.


Hanya berselang beberapa menit. Pihak berwajib datang. Menggegerkan semua penghuni sekolah. Tak hanya para murid, juga para guru dan staff lainnya.

__ADS_1


Semuanya dibuat tercengang saat pihak berwajib menggelandang beberapa petugas keamanan beserta kepala sekolah yang mereka kenal sebagai pribadi yang ramah dan baik.


Tentu saja semua yang tidak mengetahui dan tidak menyimak berita pagi ini, bertanya tentang apa yang terjadi. Sementara yang sudah tahu hanya bisa diam dan menyaksikannya.


Sedangkan Bulan hanya diam berdiri dengan kedua tangan memegang besi pembatas yang berada di lantai dua. Menyaksikan rekan-rekannya membawa para penjahat tersebut.


"Gue harus tetap waspada. Pasti masih banyak sekutu mereka yang berkeliaran di luar." batin Bulan.


"Jeno...." lirih Bulan manakala sebuah tangan melingkar di perut ratanya.


"Lepas. Jangan macam-macam. Ini di sekolah." tegur Bulan berusaha melepaskan tangan Jeno.


Bulan segera membalikkan badannya begitu tangan Jeno terlepas. Memandang ke arah Jeno dengan kesal. "Kamu itu. Sudah sana masuk. Sebentar lagi ujian di mulai." pinta Bulan dengan lembut.


"Jeno..." panggil Bulan dengan gemas, karena Jeno masih betah menatapnya dengan intens seraya tersenyum sempurna.


"Aku perlu daya tambahan untuk mengikuti ujian." pinta Jeno dengan manja.


Mulut Bulan terbuka dengan mata menyipit. "Pergi. Masuk kelas. Jangan minta yang aneh-aneh." tukas Bulan.


Jeno menggeleng. "Please sayang. Aku butuh daya tambahan."


Bulan hanya bisa menghela nafas panjang seraya memutar kedua bola matanya dengan malas. "Sekali saja." ujar Bulan mendapat anggukan antusias dari Jeno.


Bulan menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada orang disekitar mereka. Cup.... Bulan mengecup singkat pipi Jeno. "Sudah... Sekarang kembali ke kelas. Ingat...! Jangan kecewakan aku." tukas Bulan mengingatkan Jeno.


Jeno mengangkat telapak tangannya seperti sedang memberi hormat pada sang saka bendera merah putih. "Siap...!" seru Jeno yang langsung ditutup mulutnya oleh telapak tangan Bulan.


Pastinya Bulan takut jika sampai ada yang mendengar suara dari Jeno. Yang akan membuat orang tersebut tahu hubungan keduanya. "Sana,,,, balik ke kelas." tegur Bulan merasa gemas sendiri dengan tingkah laku Jeno.


Cup.... Jeno mengecup singkat pipi Bulan lalu berlari kecil meninggalkan sang kekasih. Lagi, Jeno menghentikan melangkahkan. Membalikkan badan sembari mengerlingkan sebelah matanya dengan genit pada Bulan yang masih setia menatapnya dengan penuh cinta.


Bulan menggerakkan tangannya, layaknya sedang mengusir pergi ayam peliharaan. "Dasar." gumam Bulan disertai tawa kecil.


Seorang siswa keluar dari tempatnya bersembunyi. Dia menundukkan kepalanya sembari berjalan mendekat ke arah Bulan. "Maaf bu,,,, Sungguh, saya tidak bermaksud mengintip. Saya sedadi tadi memang berada di sana untuk melihat pihak berwajib menangkap kepala sekolah dan yang lainnya. Benar, saya tidak berbohong." jelasnya panjang lebar.


Bulan tersenyum samar. Bulan mengira siswa tersebut akan mengeluarkan kalimat sarkas atau lebih ke ancaman untuk Bulan setelah melihat apa yang terjadi diantara Bulan dan Jeno.


Bulan memandang intens ke arah siswa yang menunduk di depannya tersebut. Dilihat dari caranya berbicara dan juga tingkahnya, Bulan menebak jika dia telah melihat kejadian seperti ini sebelumnya.


Bulan mengerutkan keningnya. "Kami memang menjalin hubungan. Bagaimana menurut kamu?" tanya Bulan, padahal Bulan ingin mengetahui apakah tebakannya benar atau salah.


Mita menghela nafas panjang. Dengan kedua mata masih setia menunduk, memandang kedua kakinya. "Tidak ada yang salah. Jeno dan bu Bulan sama-sama single. Kalian belum mempunyai pasangan. Jadi sah dan wajah saja jika Jeno dan bu Bulan menjalin hubungan."


"Tapi Jeno seorang murid. Dan saya, seorang guru."


Mita memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap dengan ramah dan sopan kepada Bulan. "Bukankah sekarang sudah banyak yang seperti itu. Lagi pula, selisih umur Jeno dan bu Bulan juga tidak terlalu jauh. Bahkan, yang selisih umur perempuan jauh lebih tua dari lelaki juga banyak. Mereka tidak mempermasalahkannya."


Bulan mengangguk pelan. "Oke. Sekarang kamu tahu. Jika saya dan Jeno mempunyai hubungan. Silahkan dan terserah kamu, jika mau menyebarkan gosip yang ya,,,, adalah sebuah fakta ini pada yang lain." tukas Bulan.


Mita tersenyum manis. "Maaf bu, saya bukan tipikal siswa penebar gosip. Lagi pula, saya tidak punya wewenang untuk mengatakan serta membeberkan hubungan kalian pada murid yang lain."


Bulan mendekat. Memandang Mita dengan lekat. "Saya suka dengan cara bicara kamu. Dan saya harap, apa yang kamu katakan saka dengan apa yang ada di dalam kati kamu."


Bulan memegang kedua pundak Mita. "Tetap jadilah seperti ini. Jangan pernah berubah, untuk alasan apapun. Jangan gadaikan prinsip kamu, untuk apapun itu." tekan Bulan.


Mita awalnya sempat merasa khawatir akan mendapat tekanan dari Bulan. Tapi sekarang dirinya merasa lega. Dibalik sifat Bulan yang tegas, ternyata Bulan adalah sosok perempuan yang bisa membuat orang lain nyaman atau bisa dikatakan, Bulan bisa mengayomi anak didiknya.


"Terimakasih bu. Jangan khawatir. Saya akan selalu mengingat apa yang bu Bulan katakan."


"Bagus. Kembalilah ke kelas. Sebentar lagi ujian akan dimulai."

__ADS_1


"Baik." Mita segera meninggalkan tempatnya dengan senyum di bibir. Meninggalkan Bulan hang masih berdiri di tempatnya.


"Pantas Jeno menyukai bu Bulan. Cantik, baik, seksi, dan juga cerdas. Paket komplit." batin Mita memuji Bulan.


Seketika Mita teringat akan temannya, Sella yang juga menyukai Jeno. "Jangan sampai Sella tahu, jika mereka menjalin hubungan." batin Mita merawa khawatir jika Sella akan mencelakai Bulan.


Mita juga tahu jika hari ini Sella tidak masuk ke sekolah karena kasus papanya. "Semoga Sella busa berubah setelah kejadian ini." batin Mita berharap.


Hanya saja, harapan Mita hanyalah harapan semata. Seorang Sella tidak akan pernah berubah. Apalagi dirinya masih mempunyai sang mama. Yang artinya dia akan tetap hidup dengan bergelimang harta.


Semua murid kelas satu dan dua berada di dalam kelas. Mengerjakan soal ujian mereka dengan tenang. Berbeda dengan Claudia yang langsung menemui sang papa setelah penolakan dari Jevo.


Plak.... Suara tamparan terdengar nyaring di dalam ruangan. Dimana hanya ada tiga orang di sana.


"Tuan... Jaga perilaku anda. Ingat, anda sedang berada di mana." ujar sang pengacara mengingatkan supaya Tuan Zain tidak melakukan tindak kekerasan.


Tuan Zain menatap tajam ke arah Claudia. "Anak tidak berguna. Gunakan otak kamu. Jangan hanya bisanya menghabiskan uang saja." geram Tuan Zain dengan nada tertahan.


Claudia terdiam dengan rahang mengeras, menahan rasa sakit di pipinya karena tamparan sang papa. "Seharusnya kamu bisa sedikit lebih cerdas. Jika Jevo tidak bisa membantu kamu, setelah kamu memintanya baik-baik. Setidaknya gunakan otak licik kamu. Ancam dia." lirih Tuan Zain dengan nada pelan tapi terdengar menahan amarah.


Claudia masih terdiam. Sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. "Lebih dari setahun kalian berhubungan. Seharusnya kamu mempunyai sesuatu untuk menekan dan mengancam Jevo. Sehingga dia ada di bawah telapak kaki kamu. Jangan menjadi perempuan tolol."


Sang pengacara hanya diam. Tak berani ikut campur dengan percakapan mereka. Apalagi dirinya tahu, dan bisa dipastikan Tuan Zain tidak akan bisa menang melawan kasus ini. Dalam artian, Tuan Zain pasti akan masuk ke dalam jeruji besi.


Tuan Zain menekan kening Claudia menggunakan saru jarinya. "Gunakan otak kamu. Lakukan sesuatu. Papa tidak mau mendekam di dalam penjara. Paham..." tekan Tuan Zain.


Tuan Zain beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Claudia dan sang pengacara. Barulah Claudia bisa bernafas lega setelah sang papa tidak berada di depannya lagi.


"Meski ada saya yang membela Tuan Zain. Tapi kemungkinan besar papa Nona akan kalah dan tetap masuk ke dalam jeruji besi." tukas sang pengacara memberitahu.


"Tapi,,,, jika Tuan David ikut campur dan turun tangan. Saya jamin, papa Nona akan terbebas dari hukum. Seharusnya Nona Claudia tahu betul, siapa Tuan David dan seperti apa kekuasaannya." lanjut sang pengacara.


Claudia menatap tajam kepada sang pengacara. "Lalu saya harus melakukan apa? Menjebak Jevo untuk tidur bersama saya, atau apa?" tanya Claudia lebih kepada sebuah penekanan jika dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bukankah kalian sudah menjalin hubungan selama setahun. Maaf Nona, tapi,,, bukan maksud saya merendahkan harga diri Nona Claudia. Tapi, biasanya anak jaman sekarang pasti akan melakukan sesuatu di luar batas saat mereka berhubungan." lirih sang pengacara.


"Saya tekankan sekali lagi. Saya tidak mempunyai sesuatu, untuk mengancam Jevo. Kamu pikir, Jevo adalah seseorang yang mudah disentuh." sahut Claudia dengan kesal.


Sekarang sang pengacara tahu, jika mereka tidak melakukan hubungan intim. Tapi, sang pengacara bukan lelaki bodoh. Dia bisa melihat jika Claudia bukan perempuan polos. Dan Claudia bukan seorang perempuan yang masih perawan.


"Pantas saja keluarga Tuan David tidak menerima kamu. Mereka pastinya mencari perempuan yang masih suci dan berasal dari keluarga baik-baik." ucap sang pengacara yang hanya berani diucapkan dalam hati.


"Apa semua harta papa akan disita oleh negara?" tanya Claudia yang membuat sang pengacara tersenyum samar.


Sang pengacara tidak terkejut dengan apa yang ditanyakan Claudia. Beliau juga bisa menebak apa yang ada di dalam otak kecil Claudia.


"Apa yang anda inginkan, Nona?"


"Harta papa. Saya tidak mau hidup sengsara." tukas Claudia berkata jujur.


Sebelah sudut bibir sang pengacara terangkat ke atas. "Jika kita bergerak cepat, kita bisa menyelamatkan sepertinya dari harta Tuan Zain."


Claudia tersenyum senang. "Lakukan." pinta Claudia


"Tapi maaf Nona, saya tidak bisa. Saya sedang disibukkan dengan kasus Tuan. Pasti waktu dan pikiran saya akan banyak tersita pada kasus tersebut." tolak sang pengacara.


Claudia tersenyum remeh. "Kita bagi dua. Adil bukan." ujar Claudia merayu sang pengacara.


Siapa yang tidak tertarik dengan imbalan yang diberikan Claudia. Apalagi, harta Tuan Zain yang akan didapat Claudia lebih besar berkali-kali lipat dari upahnya sebagai pengacara.


"Jangan banyak berpikir. Bukankah anda mengatakan, lebih cepat lebih baik." Claudia tersenyum penuh makan.

__ADS_1


Claudia mengulurkan telapak tangannya. Memandang sang pengacara dengan penuh harap. "Baiklah. Saya setuju." sang pengacara menyambut uluran tangan Claudia. Yang mengartikan keduanya setuju untuk bekerja sama.


"Maaf pa. Dari pada Claudia mengurusi papa yang pasti akan masuk ke dalam penjara. Lebih baik Claudia memikirkan kehidupan Claudia sendiri. Apalagi masih ada mama yang juga memerlukan uang papa." batin Claudia tersenyum licik.


__ADS_2