PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 98


__ADS_3

Bulan mengendarai motornya, melajukannya dengan kecepatan tinggi. Dirinya berkejaran dengan kesempatan serta waktu. Tujuannya adalah kakek Timo.


Bulan tentunya tidak ingin kehilangan sang kakek. Sebab, beliau juga saksi utama dan termasuk tersangka dalam kejadian yang diperbuat oleh Timo.


Selain itu, yang Bulan cemaskan, Timo mengetahui jika Rio tak lagi di rumah. Demikian juga dengan mama Rio yang ternyata tidak diantarkan pulang ke rumah.


Mustahil jika Rio tidak curiga. Dan langsung pergi ke kediaman sang kakek. Dan mengamankan beliau. Atau malah membuat sang kakek tidak bisa bicara selamanya, atau melenyapkannya sekalian.


Orang seperti Timo, tidak akan pernah berpikir siapa dia, jika akan menghabisi nyawa seseorang. Meskipun dia yang akan dilenyapkannya adalah keluarga sendiri.


Seperti biasa, Bulan menyembunyikan motornya di rerimbunan ilalang. Seakan sudah mengenali tempat tersebut, Bulan berjalan dengan santai tanpa merasa takut terkena perangkap yang Timo pasang di sekitar rumah sang kakek.


Tok,,,, tok,,,, tok,,,, Bulan mengetuk pintu rumah sang kakek dengan pelan. "Kek.... Kakek....!!" panggil Bulan berulang kali. Tapi hasilnya nihil.


Bulan tak sesabar sebelumnya, saat pertama datang ke rumah ini. Tanpa menunggu si pemilik rumah membukakan pintu, Bulan masuk begitu saja. Yang ternyata pintu rumah tersebut tidak dikunci.


"Jangan sampai kakek pergi." lirih Bulan, mencari sang kakek di setiap ruangan.


Jantung Bulan berdetak kencang, melihat foto usang yang pernah dia lihat di atas meja saat ini sudah tidak ada lagi.


Seketika firasat Bulan menjadi tak tenang. Seakan dirinya bisa menebak jika sang kakek tidak berada di dalam rumah. ''Sial,,!! Gue terlambat." gumamnya.


Dengan tergesa, Bulan melangkahkan kaki ke ruangan yang dia perkirakan digunakan sang kakek sebagai tempat pembuatan topeng.


"Hebat. Dari mana dia mempunyai keahlian sehebat ini." puji Bulan, melihat setiap detail dari ruangan tersebut, beserta bahan yang kakek gunakan untuk membuat topeng.


"Ccckkk,,,, jika bukan karena Gara, gue nggak bakal melakukannya." decak Bulan merasa seperti pencuri.


Bulan teringat akan permintaan Gara, jika Gara ingin menyelidiki tentang pembuatan topeng yang sang kakek buat dengan cara manual. Tanpa melibatkan orang lain di dalamnya.


Bulan mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Benda kecil yang Bulan gunakan untuk merekam gambar di ruangan tersebut dengan cepat, namun semua terekam dengan jelas.


Hingga bahan-bahan untuk membuatnyapun, Bulan rekam secara detail. Sebab ada beberepa botol yang masih bertuliskan merk bahan yang dibelikan Timo untuk sang kakek dalam membuat topeng.


Dirasa semua masuk ke dalam video yang dia ambil, Bulan mencari sang kakek ke sekeliling rumah. "Kakek...!!" panggil Bulan dengan nada tinggi.


Bulan berdiam diri. Dilihatnya sekitar, dimana ada tempat yang dirasanya bisa dia gunakan sebagai pijakan untuk melihat sekeliling lebih jelas. Yakni tempat yang tinggi.


Bulan melihat sebuah pohon rimbun, besar dan tinggi. "Itu dia." Bulan dengan perlahan menuju ke pohon yang dilihatnya.


Bulan berjalan dengan waspada, tidak seperti saat menuju ke rumah sang kakek. Sebab ini pertama kalinya Bulan berjalan di tempat tersebut.


Semakin dekat dengan pohon, indera penciuman Bulan mencium bau yang sangat tidak sedap. Lebih tepatnya seperti bangkai makhluk hidup. "Gila, bau apa ini." gumam Bulan memasang ekspresi jijik.


Bukannya kembali, dan menjauh, atau meninggalkan tempat berbau tersebut, Bulan malah semakin mencari tahu asal dari bau tersebut, serta apa yang menyebabkan hidungnya mencium bau busuk yang sangat amat menyengat.


Kedua mata Bulan melotot tak percaya sembari menutup hidupnya dengan telapak tangan. "Astaga...!!" geram Bulan sembari menggelengkan kepala dengan pelan.


Didepannya, lebih tepatnya di bawah pohon tersebut terdapat sebuah gubuk kecil yang reot, namun tampak bersih.


Hanya saja, di samping gubuk tersebut ada berbagai macam hewan yang sudah tak bernyawa dengan keadaan yang mengenaskan. Dan semua telah di kerubuti lalat serta belatung.


Tak hanya itu, Bulan juga melihat berbagai benda yang digunakan untuk menyiksa hewan tak bersalah tersebut. "Ternyata bukan hanya manusia yang menjadi korban dari Timo. Bahkan hewan pun tak luput dari tangan kejamnya." batin Bulan.


Bulan teringat, jika sang kakek pernah syok saat Bulan mengatakan jika Timo menyasar manusia sebagai pelampiasan kekejamannya.

__ADS_1


Dan sang kakek tak percaya. Dan ternyata ini alasan dari ketidak percayaan sang kakek. "Pantas, beliau mengira jika cucunya hanya melampiaskan pada hewan." tutur Bulan.


"Tapi tetap saja. Dia sangat sadis. Hewan juga makhluk hidup. Pasti mereka juga merasakan kesakitan saat diperlakukan seperti ini."


Bulan tak lantas pergi, setelah menemukan tempat yang menyebabkan bau tersebut. Dia memandang sekeliling. Seolah sedang mencari sesuatu.


"Itu dia." Bulan melihat sebuah kantong kresek hitam yang berada di atas tanaman ilalang. Bulan segera mengambil kresek tersebut.


Dimasukkannya semua alat yang dipakai Timo untuk menyiksa serta melenyapkan semua hewan tak berdosa tersebut ke dalam kresek.


Bulan memasukkannya dengan tangan kosong. Sebab Bulan selalu memakai sarung tangan saat menjalankan misinya. Sehingga dirinya tak perlu cemas jika sidik jarinya tertinggal di benda tersebut.


Semua Bulan masukkan tanpa meninggalkan satu benda pun. Lalu Bulan menyimpannya di tempat yang dia rasa aman dari siapapun. Termasuk Timo.


Kini, Bulan kembali fokus mencari keberadaan sang kakek. Bulan memanjat pohon tersebut dengan baik. Berada di tempat paling tinggi di antara yang lain. Untuk melihat sekeliling rumah sang kakek.


Bulan berdiam sedikit lama, menajamkan penglihatannya. Ditambah keadaan gelap malam hari, yang hanya mendapatkan cahaya dari terang bulan. Membuat Bulan harus lebih menajamkan penglihatannya.


Tak semudah tadi, saat dia menemukan pohon, sekarang Bulan kesulitan menemukan apa yang dia sedang cari kali ini. "****..." umpat Bulan tak mendapatkan sesuatu yang mencurigakan.


Bulan memanjat pohon sedikit ke atas. Siapa tahu dia mendapatkan apa yang dia cari. "Kenapa gue nggak bawa teropong tadi." gumam Bulan sedikit menyesal.


Hampir sepuluh menit Bulan berada di dahan pohon. Melihat sekelilingnya dengan jeli, meski dalam gelap malam. Berharap mata elangnya menemukan sesuatu yang bisa membawanya ke tempat sang kakek berada.


Kedua mata Bulan menangkap sesuatu yang menurutnya sangat aneh dan janggal. "Jangan sampai apa yang gue pikirkan terjadi." gumam Bulan, turun dari pohon seperti seekor tupai. Sangat cepat dan mudah, serta lincah.


Tak terpikirkan lagi dalam benak Bulan, jika di sekitar rumah kakek Timo banyak terpasang jebakan yang sengaja di pasang oleh Timo. Dan semua mengandung racun. Meski hanya sedikit saja mengenai kulit.


Dalam otaknya hanya ada kakek. Menemukan sang kakek dengan keadaan selamat. "Aaaiiiss...." ringis Bulan, saat tangannya terkena sesuatu. Namun Bulan terus berlari ke arah di mana dirinya menebak sang kakek ada di sana.


"Kakek....!!!" seru Bulan, melihat sang kakek gantung diri di sebuah dahan pohon. Bermaksud mengakhiri hidupnya malam ini.


Karena tangan Bulan tidak mampu meraihnya, Bulan melemparkan senjata tersebut ke atas. Dan,,, srettt.... tali terpotong.


Dengan sigap Bulan menangkap tubuh sang kakek. "Kek,,, bangun." ujar Bulan.


Bulan memastikan jika sang kakek masih bernafas atau tidak. Sebab, badan beliau masih lemas. Bulan menduga jika kejadian ini baru saja terjadi. Kemungkinan saat Bulan sampai di rumah sang kakek.


Bulan mencoba memberi pertolongan dengan menekan dada sang kakek berulang kali. Sebab, Bulan masih merasakan denyut nadi beliau.


"Bangun kek... Semua orang membutuhkan kakek." pinta Bulan dengan cemas.


Bukan cemas karena dirinya tak mempunyai saksi atas kejahatan yang Timo lakukan. Tapi lebih kepada, Bulan tak tega melihat sang kakek yang tidak bersalah mengakhiri nyawanya dengan cara yang tidak baik.


"Bangun kek..." Bulan tanpa lelah berusaha membuat sang kakek sadar.


Tak berselang lama, mulut sang kakek terbuka dan langsung bernafas dengan kasar. Bulan langsung menghembuskan nafas lega.


Meski begitu, sang kakek tak membuka kedua matanya. Tapi sang kakek kembali bernafas dengan normal.


"Sial." gumam Bulan, merasa ada yang aneh di dalam tubuhnya.


Bulan memejamkan matanya sembari menggelengkan kepalanya berkali-kali. Bulan merogoh sakunya, mengambil ponsel. Lalu menghubungi seseorang.


"Jemput aku sekarang. Aku nyalakan GPS di ponselku. Sekarang." ucap Bulan, ketika panggilan teleponnya di angkat oleh seseorang di tempat lain.

__ADS_1


Tanpa menunggu balasan apa yang akan dikatakan orang yang dia hubungi, Bulan mematikan ponselnya. Selanjutnya menyalakan GPSnya di ponsel. Mengembalikan ponsel ke dalam saku celana.


Bulan mulai mengambil posisi untuk membawa sang kakek meninggalkan tempat tersebut. Digendongnya tubuh sang kakek di belakang punggungnya.


Nafas Bulan seperti tercekat. "Sial... racunnya mulai beraksi." gumam Bulan, melihat jaketnya di bagian lengan sobek. Bulan yakin, jika benang yang telah dilumuri racun tersebut merobek jaketnya, hingga mengenai dan menggores kulitnya.


Bulan tak menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Segera di bawanya tubuh sang kakek menuju ke jalan raya.


Agar orang yang dia hubungi mudah menemukan dirinya, juga sang kakek. Bulan segera menurunkan tubuh sang kakek saat dirinya berada di tepi jalan raya.


Beruntung, jalan di sekitar kediaman sang kakek memang terkenal sepi dan gelap. Sehingga Bulan tidak terlalu khawatir jika ada pengendara yang melihat mereka.


Ditambah waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam. Dimana kebanyakan orang sudah berada di dalam rumah untuk tidur atau beristirahat.


Bulan tetap menjaga kesadarannya. Dibukanya penutup wajah serta jaket yang dia kenakan. Bulan segera berdiri. Menggerakkan tangannya yang terkena racun, seperti sedang senam.


Bulan menghentikan gerakannya. Tangannya merogoh setiap kantong di jaket maupun celana. Berharap ada sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menghambat proses racun yang menyebar di tubuhnya.


"Beruntung, hanya tergores di kulit." tutur Bulan, sebab jika sampai masuk lebih dalam dan sampai masuk ke aliran darah. Dapat dipastikan saat ini Bulan pasti sudah tak bernyawa.


"Bagaimana dia bisa meracik racun sehebat itu?" tanya Bulan, menatap sang kakek yang masih tak sadarkan diri, berbaring di atas aspal.


Antara Timo dan sang kakek. Salah satu diantara mereka yang telah membuat racun racikan tersebut.


Tangan Bulan menemukan sesuatu di kantong jaketnya. Segera dia mengambilnya. Sebuah alat suntik yang masih baru, terbungkus plastik.


Tangan Bulan mengambil sebuah botol kecil, berisi cairan, namun tidak penuh. Dan hanya tinggal separuh. Bulan membuka botol tersebut. Lalu mengendusnya.


Bulan berpikir sejenak. "Apa obat ini bisa membantu, meski hanya sedikit." cicit Bulan, pasalnya cairan tersebut adalah cairan yang bisanya digunakan untuk meredakan nyeri pada luka.


Tanpa berpikir panjang, Bulan memasukkan cairan tersebut ke alat suntik. Dan menyuntikkannya di lengannya. "Semoga bisa membantu." cicit Bulan, dengan wajah yang sudah pucat.


Sedangkan Timo sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Dimana dia sedang menaiki taksi online. "Bisa lebih cepat?!" tanya Timo dengan ekspresi marah.


Tanpa bertanya, sang sopir taksi menambah laju taksinya. Jujur, sang sopir juga merasa takut. Pasalnya, Timo memasang wajah garangnya. Dengan mimik muka yang memperlihatkan amarah yang ingin meletup.


Sementara para pembantu di rumah Timo, semua masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Karena memang waktunya mereka untuk tidur malam.


Meski mereka sadar, jika salah satu diantara mereka tidak ada. Yakni pembantu yang menjadi budak Timo. Tapi mereka mengira jika rekan mereka tidur di kamar yang mereka tak boleh masuki.


Karena memang biasanya seperti itu. Sehingga mereka tak menaruh curiga. Atau mencarinya. Tanpa mereka tahu, jika akan ada sebuah kejadian besar di rumah ini. Dan mereka pasti akan terkena imbasnya.


Sampai di depan rumahnya, Timo melemparkan beberapa lembar uang ratusan ribu pada sang sopir. Dan keluar dari taksi begitu saja. Tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Tampan-tampan menakutkan." cicit sang sopir bergidik ngeri, sembari mengambil uang yang dilemparkan oleh Timo.


"Untung nggak kurang. Malah lebih." lanjut sang sopir, menyimpan uang tersebut. Dan segera bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut.


Tanpa mengetuk pintu, Timo masuk begitu saja. Dan langsung menuju ke ruangan di mana Rio dia sekap dan dia perlakukan dengan tak layak.


Kedua mata Timo memerah, karena amarah yang sebentar lagi akan meletup. Melihat tawanannya tak berada di tempat yang seharusnya.


Dia juga melihat, tembok di sampingnya jebol. Memperlihatkan kamar yang selalu dia tempati setiap malam.


"Aaaaa......!!!!" teriak Timo terdengar ke seluruh rumah.

__ADS_1


"Siapa yang berani bermain-main dengan Timo..!!" serunya, memandang ke penjuru arah.


Timo masih belum tahu, jika mama dari Rio tidak berada di dalam rumah. Entah apa yang akan terjadi. Dan apa yang akan Timo lakukan, jika menyadari mama Rio juga tidak berada di rumah.


__ADS_2