PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 188


__ADS_3

"Tante,,, apa itu?" tanya Bulan, setelah dirinya dan Sapna selesai berkemas.


Bulan melihat sebuah kardus berukuran tanggung yang ditandatangani rapi dan kuat. "Sedikit kue untuk kedua orang tua kamu." jelas Nyonya Irawan.


Semalam, saat Sapna dan Bulan masuk ke kamar tidur untuk beristirahat, Nyonya Irawan segera pergi ke dapur. Membuat sedikit kue kering. Menggunakan bahan yang masih ada. Sebab dirinya tak mungkin berbelanja larut malam.


Nyonya Irawan memang pernah beberapa kali belajar membuat kue kering. Yang hanya untuk dimakan Bulan dan Sapna saja. Sehingga dirinya masih mempunyai sisa bahan yang dia simpan.


"Kenapa harus repot-repot tante." Bulan merasa tidak enak hati. Pasalnya dia tahu jika Nyonya Irawan tidak mempunyai pemasukan. Dan hanya mempunyai sedikit tabungan di rekeningnya.


Sedangkan untuk biaya hidup sehari-hari, seperti makan. Bulan yang menanggungnya. Bulan sengaja melarang Nyonya Irawan untuk berbelanja. Oleh karena itu, Sapna getol mencari pekerjaan. Dirinya tak ingin terlalu menjadi beban untuk Bulan.


"Tidak apa. Ini tidak menghabiskan semua uang tante. Lagi pula, tante menggunakan bahan yang ada di almari saja." kilah Nyonya Irawan.


Rasanya tak pantas jika Nyonya Irawan berkunjung ke rumah kedua orang tua Bulan tanpa membawa buah tangan.


Apalagi, selama ini dirinya dan Sapna selalu menyusahkan Bulan. "Makasih tante." ujar Bulan, tidak ingin Nyonya Irawan malah merasa sungkan pada dirinya.


"Iya."


"Bulan,,, kita dijemput, atau bagaimana?" tanya Sapna, menyela obrolan keduanya.


"Kata Jeno, mereka akan mampir ke sini. Jadi kita bersiap saja." jelas Bulan.


"Oh iya,,, bagaimana lamaran kerja kamu? Sudah dipanggil?" tanya Bulan.


Sapna menggeleng. "Sepertinya akan sulit jika aku mencari pekerjaan di perusahaan. Kebanyakan dari mereka tahu siapa aku."


"Sabar. Pasti kamu akan memperoleh pekerjaan." hibur Bulan.


Sebenarnya Sapna ditawari oleh Mikel dan Jevo untuk bekerja di perusahaan orang tua mereka. Tapi Sapna menolak. Dirinya tidak ingin terlalu bergantung pada merekam Cukup Bulan saja.


"Rencananya sih, setelah dari desa kamu, aku akan mencari pekerjaan di toko saja. Dari pada nganggur. Siapa tahu malah diterima." jelas Sapna.


"Terserah kamu. Yang terpenting kamu harus selalu berhati-hati." ujar Bulan yang mendapat anggukan dari Sapna.


Sementara Nyonya Irawan masih sibuk sendiri di di dalam kamar. Sebab dirinya belum bersiap. Karena sedari tadi sibuk mengemas kue keringnya.


Tidak seperti di rumah Bulan yang sepi dan tenang, terjadi kehebohan di kediaman Tuan David. Apalagi jika bukan Nyonya Rindi yang bersemangat memandori beberapa pembantunya untuk memasukkan barang yang dia beli untuk di bawa ke kediaman kedua orang tua Bulan.


"Lihatlah,,, astaga mama..." keluh Jeno dengan suara lirih, melihat sang mama yang heboh sendiri. Ditambah melihat banyaknya barang yang akan mereka bawa.


"Jeno,,, ini sih namanya lamaran." ujar Jevo terkekeh pelan, takut jika sang mama mendengarnya.


"Sebaiknya kalian berdua segera bersiap. Jangan sampai ketahuan mama jika kalian sedang mengomentarinya." tegur Tuan Davi yang berada di belakang Jevo dan Jeno.


"Lihat pa,,, apa mama serius. Mau membawa semua itu. Gila,,, kalau begini caranya, satu mobil penuh pa." ucap Jevo menggeleng tak percaya.


"Jika kamu berani, tegur saja mama mu. Kenapa protes ke papa." sahut Tuan David melenggang pergi masuk ke dalam rumah.


Jevo menatap ke arah Jeno. "Bulan tahu?" tanya Jevo, terkait barang bawaan sang mama.


Jeno menggelengkan kepalanya. "Pasti Bulan bisa paham. Aku yakin, Bulan tahu sifat mama. Oh iya,,, bagaimana dengan Gara?"


"Mikel dan Arya akan menjemput Gara terlebih dahulu. Baru ke sini. Jadi kita tunggu mereka bertiga datang, lalu pergi ke rumah Bulan." jelas Jevo yang diangguki oleh Jeno.


Jeno tersenyum melihat sang mama yang terlihat sangat antusias. "Semoga semua berjalan dengan baik dan lancar." batin Jeno.


Sebab Jeno sendiri belum bisa memastikan apa yang akan dia hadapi di desa. Dirinya belum tahu, akan mendapatkan restu dari kedua orang tua Bulan, atau malah di tolak oleh mereka.


"Jika mereka menolak gua, gue akan membuat mereka merestui hubungan gue dan Bulan. Bagaimanapun caranya." batin Jeno.


"Apa yang elo pikirkan?" tanya Jevo, melihat saudara kembarnya seakan sedang memikirkan sesuatu, meski pandangannya terarah pada sang mama.


"Apa Arya dan Mikel sudah menjemput Gara?" tanya Jeno tak ingin Jevo tahu apa yang sedang dia pikirkan.


"Tadi Mikel sempat menghubungi gue, sekitar setengah jam yang lalu. Kemungkinan mereka berdua sudah berada di markas. Dan...." perkataan Jevo terhenti, melihat sebuah mobil berhenti tepat di samping sang mama.


"Dan mereka sudah ada di sini." lanjut Jevo, membuat Jeno tertawa ringan.

__ADS_1


"Sepertinya mereka tak mau ketinggalan."


"Benar. Dan sepertinya ini bukan kunjungan biasa ke rumah calon besan. Tapi kunjungan akbar." sahut Jevo.


Jevo dan Jeno saling pandang sejenak, sebelum kedua ya tergelak. "Mereka memang menyebalkan." lirih Jeno. Meski begitu dirinya merasa senang.


"Tante...." terdengar suara nyaring menyapa Nyonya Rindi. Siapa lagi jika bukan suara Arya.


"Kalian sudah datang. Masuk dulu. Kalian sarapan dulu. Tadi tante sama yang lain sudah sarapan." ujar Nyonya Rindi, bersamaan dengan Arya dan Gara serta Gara yang bersalaman dengannya.


"Dia Gara, tante. Sahabat bu Bulan." jelas Arya, manakala kedua mata Nyonya Rindi menatap Gara.


"Gara. Saya Rindi. Panggil saja tante Rindi. Mamanya Jeno." tukas Nyonya Rindi dengan ramah.


Meski beliau belum pernah bertemu dengan Gara, tapi beberapa kali kedua telinganya pernah mendengar Jeno menyebutkan nama tersebut.


"Gara,,, tante. Salam kenal."


Nyonya Rindi tersenyum tulus. "Ajak masuk dulu. Tante mau menyelesaikan ini. Nanggung, tinggal sedikit."


Arya dan yang lain melihat isi mobil dengan berkedip lucu. "Tante..... Tante yak...." ujar Arya, tapi terhenti karena kedatangan Jevo dan Jeno yang sepertinya disengaja.


"Kalian sudah datang...!! Ayo masuk...!!" seru Jevo, langsung merangkul Arya. "Sebaiknya mulut elo diam. Jangan mengomentari mama. Atau elo nggak bakal diajak." bisik Jevo.


Arya langsung membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya, berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah.


"Ma... Kita masuk dulu." pamit Jevo, mendorong kursi roda yang diduduki Gara.


Mikel pun paham apa yang terjadi, dan langsung berjalan menyusul mereka. "Serius tante membawa barang sebanyak itu?"


Mikel baru berani bertanya saat mereka sudah berada di ruang tamu. "Ckk,, itu sudah sedikit. Tadinya mama mau membeli lagi. Untuk gue bisa membujuknya untuk stop. Jika tidak,,,, entahlah." jelas Jeno menggeleng.


Sontak semua tertawa mendengar keluh kesah Jeno. "Malah baik jika banyak. Jadi ibunya Bulan bisa membaginya pada para tetangga." tukas Gara.


"Dibagi ke tetangga?" sahut Mikel dengan bingung.


"Iya,, Bulan pernah bilang, jika mereka panen banyak. Selain dijual, mereka juga membagi hasil penen mereka ke tetangga." jelas Gara yang hanya mendengarkan perkataan Bulan.


Selesai Nyonya Rindi memasukkan semua oleh-olehnya ke dalam mobil. Tak berselang lama mereka semua berangkat ke rumah Bulan. Menjemput Bulan beserta Nyonya Irawan dan Sapna.


Tuan David satu mobil bersama sang istri dan Nyonya Irawan beserta Jevo yang berada di belakang kemudi.


Beliau sengaja hanya membawa sopir satu orang saja. Yang beliau letakkan di mobil satunya. Dimana di dalam mobil itu ada semua oleh-oleh yang akan mereka bawa ke rumah kedua orang tua Bulan.


Tuan David berpendapat, jika yang ikut saja sudah terlalu banyak. Makanya Tuan David memilih bergantian menyetir mobilnya dengan Jevo.


Di mobil satunya ada Arya, Mikel, Gara, dan Sapna. Keempatnya menggunakan mobil Mikel. Dengan Gara dan Sapna duduk di kursi belakang. Arya dan Mikel berencana untuk bergantian menyetir.


Sementara Bulan dan Jeno menggunakan mobil sport kesukaan Jeno, dan berada di barisan paling depan.


"Ada apa?" tanya Jeno, saat Bulan menoleh ke belakang.


Bulan tertawa pelan. "Kita seperti iring-iringan mobil saja. Empat mobil." cicit Bulan menghitungnya.


"Mau bagaimana lagi. Mereka pasti akan tetap ikut, walau tidak kita perbolehkan." ujar Jeno mendapat anggukan dari Bulan.


"Siapa?" tanya Jeno, mendengar ponsel Bulan berbunyi. Dan segera Bulan memeriksanya.


"Bintang. Dia bertanya, kita sudah berangkat apa belum." jelas Bulan, sembari membalas pesan sang adik.


"Kamu grogi?" tanya Bulan, melihat sikap sang kekasih tidak seperti biasanya.


"Sedikit."


"Bukankah kamu sudah pernah bertemu bapak dan ibu."


"Beda sayang. Apalagi saat itu kita berbohong pada mereka. Jadi rasanya sekarang sedikit tidak enak." cicit Jeno, merasa khawatir.


Bulan mengelus lengan Jeno dengan pelan. "Restu kedua orang tua kamu sudah kita dapat. Dan sekarang, tinggal restu bapak dan ibu. Kita akan berjuang bersama." tutur Bulan.

__ADS_1


Perkataan Bulan mampu membuat rasa khawatir di hati Jeno sedikit mereda. "Benar. Asal kamu selalu di sampingku, aku yakin, Akan bisa mendapatkan restu bapak dan ibu."


"Begitu dong, semangat." sahut Bulan.


Di mobil yang ditumpangi Tuan David, tampak suasana terlihat begitu bersahabat. Sedari tadi, Nyonya Rindi dan Nyonya Irawan yang duduk di kursi belakang selalu saja ada bahan pembicaraan. Sehingga mobil tak pernah sepi.


Sedangkan Tuan David dan Jevo hanya diam, mendengarkan apa yang dibicarakan oleh dua perempuan di kursi belakang, tanpa ikut menimpali.


Berbeda dengan mobil yang dikemudikan oleh Mikel. Jika di kursi depan, Arya dan Mikel beberapa kali berbincang, meski tidak sering.


Lain dengan Gara dan Sapna yang ada di kursi belakang. Keduanya hanya diam. Seolah-olah takut untuk membuka suara.


"Kalian berdua sakit gigi apa sariawan? Diem bae." celetuk Arya menyindir Gara dan Sapna.


Mikel tersenyum samar melihat mereka berdua dari kaca pantai di depannya. "Mereka kan belum berkenalan. Makanya pada diam" sahut Mikel.


"Sebaiknya elo fokus menyetir." ketus Gara..


Sungguh, ini pertama kalinya Gara merasakan jantungnya berdetak dengan tidak normal. Dangat cepat. Dan Gara takut jika Sapna sampai mendengarkannya.


Gara juga merasa lidahnya kelu. Sehingga dia memilih untuk diam, dari pada salah bicara. "Kalian berdua aneh." tukas Arya, memakai handset di kedua telinganya untuk mendengarkan musik.


"Kata Bulan, kamu sedang mencari pekerjaan. Apa sudah dapat?" tanya Gara gugup.


Di depan, Mikel menahan tawanya melihat ekspresi Gara dan juga cara bicara Gara. Sama sekali bukan Gara yang dia kenal.


"Bulan bercerita ke kamu?" bukannya menjawab pertanyaan Gara, Sapna malah balik bertanya.


"Iya."


"Belum dapat. Sepertinya akan sulit untuk aku mendapatkan pekerjaan."


"Tetap semangat. Jangan menyerah. Aku yakin kamu akan mendapatkan pekerjaan."


"Iya, terima kasih. Aku berpikir akan melamar di toko saja. Siapa tahu malah diterima."


Semakin lama, suasana antara Sapna dan Gara mulai mencair. Meski yang mereka perbincangkan hanyalah masalah sepele yang sama sekali tidal berarti.


Tapi meski begitu, Gara tak lagi segugup tadi. Detak jantungnya perlahan juga mulai berdetak normal. Meski dirinya masih merasakan sedikit khawatir, jika salah berbicara.


Mikel beberapa kali melihat keduanya dari kaca pantau yang ada di depannya. "Gila. Gue kira gua suka sama Sapna. Ternyata tidak." batin Mikel menyimpulkan perasannya sendiri.


Mikel mengira jika dia menyukai Sapna. Karena selalu mengkhawatirkan kondisi Sapna dan Nyonya Irawan. Nyatanya, sekarang dirinya malah senang melihat Sapna dan Gara berdekatan dan terlihat akrab.


"Lalu, kenapa gue selalu merasa khawatir dengan mereka." batin Mikel merasakan hal yang aneh.


Kemungkinan, Mikel merasakan hubungan Sapna dan Nyonya Irawan begitu dekat. Keduanya selalu memperlihatkan dukungan mereka pada sang papa yang terkena kasus. Dan mereka tidak mudah menyerah akan takdir yang mereka hadapi saat ini.


Sementara dirinya belum pernah merasakan kedekatan seperti itu dengan kedua orang tuanya. Bahkan Mikel saja lebih dekat dengan kedua orang tua Jevo dan Jeno ketimbang kedua orang tuanya sendiri.


"Kasihan. Mungkin karena gue merasa iba dengan nasib mereka." batin Mikel menerka sendiri.


Tapi Mikel merasa lega. Sebab dirinya ataupun Gara tak perlu memperebutkan seorang perempuan. "Kalau kita berdua menyukai seorang perempuan, apa yang terjadi?" batin Mikel tersenyum samar. Merasa lucu, jika apa yang dipikirkan terjadi.


Mobil yang dikendarai Jeno semakin melambat. Membuat mobil di belakangnya juga ikut melambat. "Ada apa Jevo?" tanya Nyonya Rindi.


"Kelihatannya jalan di depan sedang diperbaiki ma. Dan kita dialihkan ke jalan lain." jelas Jevo menebak. Sebab dia melihat beberapa pekerja jalan yang sedang berjalan ke sana kemari.


Terpaksa Jeno membelokkan mobilnya ke arah lain. Sebab dirinya tak mungkin menunggu selesainya jalan diperbaiki. Juga ada beberapa kendaraan di depan mereka yang juga dialihkan oleh petugas yang bekerja memperbaiki jalan.


"Kenapa?" tanya Jeno melihat Bulan sepertinya merasa tidak tenang.


"Tidak ada. Kita jalan saja." sahut Bulan.


Jeno mengeluarkan ponselnya. Mengaktifkan sebuah aplikasi di ponselnya untuk memudahkan mereka menuju ke rumah Bulan. Sebab Bulan juga tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya.


"Apa ada sesuatu?" tanya Jeno merasa Bulan menyembunyikan sesuatu.


"Jika kita lewat jalan yang ditunjukkan ponsel itu, kita akan melewati jalan sepi. Ckk... Sudahlah. Semoga kita segera sampai di tujuan dengan selamat." ujar Bulan.

__ADS_1


Beberapa mobil di depan mereka berjalan lurus, dan Jeno membelokkan mobilnya ke kanan, sesuai dengan instruksi yang ada di ponsel. "Kamu pernah lewat jalan ini?" tanya Jeno.


Bulan menggeleng. Menandakan jika dirinya tak pernah melewati jalan ini sebelumnya.


__ADS_2