
"Apa itu markas mereka?" tanya Jeno, saat Bulan menghentikan motornya dengan jarak aman dari sebuah gerbang yang tinggi menjulang.
"Apa kamu baik-baik saja?" bukannya menjawab apa yang Jeno tanyakan, Bulan malah balik bertanya.
Bukan tanpa sebab Bulan mengajukan pertanyaan tersebut. Dirinya mengendarai dengan kecepatan di atas rata-rata. Bulan bermaksud ingin segera sampai di tempat yang mereka tebak adalah tempat di mana Gara berada.
Jeno turun dari motor, melepas helm di kepalanya. Berdiri di samping Bulan dengan senyum menawannya. "Lihatlah, apa calon suamimu terlihat mengkhawatirkan?"
Jeno menjawab pertanyaan sang kekasih dengan sebuah pertanyaan pula. Bulan tersenyum senang sekaligus lega. "Aku bangga sama kamu." Bulan membelai pipi sang kekasih.
Jeno memegang telapak tangan Bulan yang berada di pipinya. Menciumnya dengan lembut. "Aku akan berusaha menghilangkan trauma itu."
"Jangan dipaksakan." cicit Bulan khawatir.
"Tidak. Memang sudah seharusnya aku menghilangkan trauma itu. Aku juga ingin membonceng kamu. Aku lelaki. Rasanya sungguh lucu berada di belakang kamu." jelas Jeno merasa gengsi.
Bulan tertawa pelan. "Padahal aku tidak keberatan."
"Dan aku yang keberatan."
"Terserah kamu. Tapi ingat, jangan terlalu dipaksakan."
"Iya sayang." sahut Jeno.
"Kita masuk sekarang?" tanya Jeno mendapat gelengan dari Bulan.
"Kita tunggu yang lain. Aku takut, kita malah miss komunikasi. Dan membuat serangan kita berantakan. Nyawa kita taruhannya. Dan ini bukan tempat bermain-main." jelas Bulan.
"Oke." jawab Jeno.
Jeno percaya dengan sang kekasih. Sebab pengalaman Bulan di tempat seperti ini memang jauh lebih dari dirinya. Bahkan dirinya tak bisa disandingkan dengan keahlian sang kekasih.
Meski begitu, Jeno sama sekali tidak berkecil hati atau minder berada di samping Bulan. Dirinya yakin, jika semua orang mempunyai kelebihan masing-masing.
Juga dengan dirinya. Yang juga mempunyai kelebihan. Yakni terlalu mencintai Bulan dengan segenap jiwanya.
Bulan menatap lurus ke depan. "Mungkin ini salah satu markas mereka." ujar Bulan menebak.
Tebakan Bulan bukan tanpa pemikiran yang matang. Bulan menebak dari tempat hilangnya keberadaan Gara dari pantauannya. Yang dimana, hanya tempat ini yang menjadi markas terdekat yang bisa dituju oleh Gara.
Bulan tahu, dan memang masih dalam penyelidikan. Jika mereka mempunyai banyak markas di setiap kota. Dan dikelola dengan baik.
Meski mereka melakukan perdagangan kotor dan ilegal, namun bisnis mereka berjalan dengan lancar, dan melakukan semuanya dengan cukup baik.
Dan lagi, Bulan curiga, masih ada orang dalam di pihak berwajib yang membantu mereka. Meski Pak Darto dan pak Bimo sudah tertangkap.
Tapi tidak menutup kemungkinan mereka masih mempunyai orang dalam. Terbukti, hingga detik ini mereka belum bisa disentuh oleh hukum.
Bulan tersenyum miring. "Jika hukum negara tidak bisa menyentuh kalian. Biarkan hukum rimba yang berbicara." batin Bulan, melihat sebuah cincin di jari jempolnya.
"Jeno,,, kamu tunggu di sini. Bawa motor ini ke sana." Bulan menunjuk sebuah tempat yang terbilang sedikit terhalang beberapa pohon besar. Sehingga tidak akan terlihat di jalan.
"Lalu kamu mau kemana? Bukankah tadi kamu mengatakan untuk menunggu yang lain terlebih dahulu." tanya Jeno, khawatir sang kekasih berubah pikiran.
"Aku hanya ingin melihat situasi dulu." jelas Bulan.
"Bukankah itu sangat berbahaya?" tanya Jeno merasa cemas.
"Aku akan menemani kamu." lanjut Jeno menawarkan diri.
"Jangan. Kamu tetap di sini. Tugas kamu menunggu mereka. Dan menunggu aku kembali ke sini. Tenang saja, tidak akan terjadi apapun. Aku hanya ingin melihat kondisi di sana. Bukan untuk menyerang." tukas Bulan menjelaskan.
Tetap saja, penjelasan dari Bulan tidak membuat Jeno berhenti mencemaskan sang kekasih. Dan Bulan bisa melihat dengan jelas jika sang kekasih tetap mencemaskan dirinya.
"Jeno... Jika kamu ikut aku, lalu mereka datang. Pasti mereka akan langsung masuk. Padahal aku hanya ingin melihat situasi di dalam. Bila kamu masih di sini, kamu bisa menghentikan mereka. Menyuruh mereka untuk menunggu aku disini, bersama kamu." tutur Bulan, memberi pengertian pada sang kekasih.
Jeno menghela nafas panjang. Mau tak mau, meski terpaksa dirinya harus mengatakan iya. Menyetujui rencana sang kekasih. "Berhati-hatilah." tutur Jeno, tak ikhlas membiarkan Bulan pergi seorang diri.
Meski Jeno sendiri tahu, bagaimana sang kekasih memang ahli di bidang ini. Tapi tetap saja, dirinya merasa cemas. "Pasti. Jangan khawatir sayang."
__ADS_1
Bulan memakai masker sebagai penutup wajah. Mengambil beberapa peralatan yang akan dia gunakan di dalam tas ransel yang tadi mereka bawa.
Bulan pergi meninggalkan sang kekasih seorang diri dengan rasa cemasnya. "Aku akan segera kembali." tukas Bulan sebelum pergi, mendapat anggukan dari Jeno.
Jeno hanya bisa memandang kepergian sang kekasih. "Jika kita sudah memiliki anak. Aku tidak akan mengizinkan kamu bekerja seperti ini lagi." batin Jeno.
Sesuai yang dikatakan Bulan, Jeno memindahkan sepeda motor yang mereka naiki ke tempat yang sudah ditunjukkan oleh Bulan.
Tentu saja Jeno tidak mengendarainya. Melainkan menuntutnya. "Di sini saja." lirih Jeno, merasa dia sudah berada di tempat yang aman.
Kedua mata Jeno juga tetap waspada. Meski dia sudah berada di tempat yang aman. Dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi. Dan bersikap waspada adalah pilihan yang tepat.
"Ckk,,, mana matahari masih terang benderang." batin Bulan berdecak. Sebab hari masih sore.
Bulan mengelilingi tembok tinggi yang menutupi bagaimana bentuk bangunan di dalamnya. Dia tidak melewati pagar depan. Karena jika itu terjadi, sama saja Bulan menyerahkan diri.
Bulan menatap ke sisi tembok. "Mungkin di sini." tebak Bulan menggunakan insting. Bulan melihat ada sebuah bayangan di sana. Bayangan yang dihasilkan dari sebuah pohon besar.
Bulan melemparkan tali yang dia bawa. Lalu menariknya. Memastikan jika ujung tali yang dia beri pengait sudah tersangkut. Sehingga dia bisa memanjat menggunakan tali tersebut.
Dan Bulan melakukannya. Tapi Bulan tak lantas berduri di atas tembok. Tangannya tetap berpegangan dengan tali. Dengan kepala sedikit menjulur, mengintip ke bagian dalam.
Cukup lama Bulan berada dengan posisi seperti itu. Dirinya harus benar-benat memperhatikan setiap detail yang ada di halaman bangunan yang ternyata sangatlah luas tersebut.
Bulan melihat ke setiap sisi tembok yang dapat di jangkau dengan kedua matanya. Pohon. Bulan ingin memastikan dimana saja letak pohon-pohon besar yang dapat dia dan yang lainnya gunakan untuk masuk ke dalam.
Pandangan Bulan juga melihat ke setiap orang yang ada di halaman gedung tersebut. "Cukup besar juga. Pasti tempat ini digunakan untuk hal lain juga. Selain tempat mereka berkumpul." lirih Bulan menebak.
Bulan mengamati setiap gerakan orang yang ada di halaman tersebut. Juga terdapat beberapa tempat yang mereka gunakan untuk bersantai. Seperti pos kecil.
"Satu,,,, dua,,, tiga,,, empat,,,," Bulan menghitung jumlah pos penjagaan yang ada di halaman. Bulan memperkirakan jarak antara pohon dengan pos tersebut.
Tangan kiri Bulan berpegangan erat pada tali. Sedangkan tangan kanannya merogoh ke dalam saku celana. Mengambil sebuah teropong berukuran kecil.
Bulan segera menggunakan benda yang baru saja dia ambil dari dalam saku celananya. Mengamati dengan jeli setiap sudut. Kamera CCTV adalah fokus pencarian Bulan.
Bulan mengernyitkan keningnya. Nihil. Tak ada kamera CCTV yang dia temukan. "Mustahil. Tidak mungkin di tempat sebesar ini tidak terdapat kamera CCTV."
Bulan kembali menggunakan teropong mininya. Kedua matanya mengamati dengan jeli pada atap-atap bangunan yang terlihat biasan saja.
"Sialan." geram Bulan, menemukan kilau yang berasal dari atap. Dimana terdapat beberapa lubang kecil. Dan Bulan yakin, jika lubang tersebut berbentuk melingkar di bagian atap.
Bukan kamera CCTV yang Bulan temukan. Tapi lebih menakutkan dari kamera, yakni beberapa penembak jitu diletakkan di atas. Lebih tepatnya mereka diletakkan tepat berada di bawah atap.
Bulan mencoba memperkirakan jumlah mereka serta letak mereka dengan jeli. Dirinya tidak ingin ada kekeliruan meski sedikit.
Bulan mencebik. Lalu tersenyum miring. Segera turun dari tali yang dia gunakan untuk bergelantung. Tapi Bulan sengaja tidak menurunkan tali tersebut. Entah apa tujuan Bulan melakukan hal itu.
Bulan belum kembali ke tempat Jeno. Tapi dia mencari sesuatu di sekitar bangunan besar tersebut. "Gue harus memastikan tak ada korban dalam kubu gue." lirih Bulan sembari berjalan.
Di tempatnya, Jeno segera berlari ke jalan saat melihat iring-iringan motor. Segera Jeno melambaikan tangan. Mengisyaratkan untuk mereka berbelok ke arah dimana dirinya bersembunyi.
Jeno langsung tahu jika mereka adalah kawan, sebab dia melihat sosok Mikel di urutan paling depan.
"Yang lain menyusul." ujar Mikel, memberitahu Jeno. Padahal Jeno tidak bertanya apapun pada dirinya.
"Mana Bulan?" tanya Jevo yang berada di antara mereka juga.
Bukannya menjawab pertanyaan saudara kembarnya, Jeno malah fokus menatap satu-persatu para lelaki yang datang bersama Jevo dan Mikel.
"Mereka semua anak buah gue." jelas Mikel, yang sama sekali tidak menghilangkan rasa penasaran dari Jeno.
"Sebagian bawahan gue. Tapi milik gue tidak sebanyak bawahan Mikel." timpal Jevo.
Jeno menggeleng. "Oke. Aku sama sekali tidak tahu apa artinya. Tapi kata kamu, masih ada yang lain." cicit Jeno ingin Mikel menjelaskan perkataannya tadi.
"Iya. Bukankah kita membutuhkan banyak orang." jelas Mikel.
"Jangan. Tahan dulu mereka. Jangan sampai datang ke sini. Bisa-bisa kita akan ketahuan." ujar Jeno, sebab dirinya belum tahu apa yang Bulan rencanakan.
__ADS_1
"Bulan pergi ke sana. Aku diminta tetap di sini. Bulan hanya ingin melihat situasinya." lanjut Jeno menjelaskan.
"Baiklah." sahut Mikel.
Mikel menatap ke samping. "Kalian dengar apa yang dikatakan Jeno, segera kalian beri kabar mereka yang masih di jalan. Untuk menunggu kabar selanjutnya." perintah Mikel.
"Baik boss." sahut salah satu lelaki.
"Boss." batin Jeno, mulai menebak siapa mereka.
"Itu Bulan." ujar Jevo, melihat sosok perempuan yang berjalan ke arah mereka dengan membuka masker di wajahnya.
"Jadi dia yang bernama Bulan?" bisik bawahan Mikel, pada rekannya.
"Diam. Bukannya boss sudah mengatakan untuk kita jaga mata dan mulut." sahut rekannya dengan berbisik juga.
Mereka semua menatap ke arah Bulan dengan pandangan yang sulit diartikan. Tapi yang pasti, mereka terpesona dengan semua yang ada dalam diri Bulan.
Jeno menghela nafas panjang. Dirinya tak mungkin marah di saat seperti ini. "Jangan cemburu Jeno. Mereka hanya debu di mata Bulan." batin Jeno, percaya jika sang kekasih tak akan berpaling darinya pada bawahan Mikel.
Bulan menatap ke arah mereka semua. "Mereka bawahan saya bu. Masih ada beberapa di perjalanan. Tapi Jeno mengatakan untuk mereka berhenti dulu. Jangan menyusul ke sini." jelas Mikel.
"Beberapa orang ku juga dalam perjalanan. Tapi aku juga sudah mengatakan pada mereka untuk berhenti dulu. Menunggu kabar selanjutnya." timpal Jevo.
"Arya." tanya Bulan menanyakan keberadaan Arya.
"Dia masih diperjalanan. Dia terjebak macet." sahut Mikel.
"Oke. Kalian semua dengarkan." Bulan menatap semuanya dengan tajam.
"Gue hanya membutuhkan sikap setia dan patuh. Jika kalian tidak bisa mematuhi setiap perkataan gue, menyingkirkan. Gue tidak mau ada beban di kubu gue." tutur Bulan.
"Siap. Kami akan mematuhi setiap perkataan bu Bulan." sahut salah satu dari mereka.
Bulan menatap ke arah Mikel. Dimana Mikel mengangguk pelan. Memastikan jika anak buahnya akan bekerja sama dengan baik.
"Apa yang kamu temukan sayang?" tanya Jeno dengan lembut.
Semua anak buah Mikel melirik ke arah Jeno, lantaran panggilan yang diberikan Jeno pada Bulan. Tapi mereka tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.
"Di dalam, tidak ada kamera CCTV sama sekali." ujar Bulan.
"Bagus kalau begitu. Kita akan masuk dengan mudah." sahut salah satu bawahan Mikel. Yang langsung ditatap tajam oleh Mikel.
"Maaf." lirihnya, menyadari kesalahan yang dia perbuat.
"Di atas, tepatnya di bawah atap. Ada penembak jitu." jelas Bulan membuat semua membulatkan kedua matanya.
"Berapa?" tanya Jeno.
Bulan memejamkan kedua matanya. "Perkiraan, setiap sisi ada tiga penembak. Jadi, jumlah mereka semua ada dua belas." ujar Bulan.
Hening. Tak ada yang bersuara sedikitpun. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Tapi yang jelas, Bulan sama sekali tidak melihat raut wajah ketakutan dari semua lelaki yang berada di depannya. Dan itu yang Bulan inginkan.
"Kita tidak memerlukan banyak orang untuk masuk. Fokus utama. Masuk dan melumpuhkan penembak jitu yang berada di atas. Setelah itu, kita bisa masuk dengan tenang." tutur Bulan.
"Bagaimana caranya?" tanya salah satu bawahan Mikel. Apalagi mereka dengar jika para penembak itu ada di atas. Tepatnya di bawah atap.
Bulan membalikkan badan. Menatap ke arah depan. Dimana ada tembok tinggi yang menghalangi dirinya melihat gedung besar di dalamnya.
Bulan tersenyum samar. "Tidak membutuhkan apapun. Hanya membutuhkan nyali yang besar." tutur Bulan.
"Dia. Pantas dia dijuluki perempuan anggun bertangan dingin. Ternyata benar. Bukan hanya cantik. Tapi gue yakin, otaknya memang di atas rata-rata." batin salah satu bawahan Mikel memuji Bulan.
"Dengan kata lain. Kita hanya membutuhkan dua belas orang untuk masuk. Sebagai langkah awal." tutur Jeno, menebak apa yang Bulan rencanakan.
"Tepat." sahut Bulan kembali membalikkan badannya, menatap mereka semua.
"Dan Mikel, elo tetap berada di sini." pinta Bulan tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Siap bu." sahut Mikel. Meski dirinya tidak tahu apa yang direncana Bulan selanjutnya. Tapi Mikel percaya jika Bulan sudah memiliki dan memikirkan rencananya dengan matang.
Bulan menatap ke arah mereka semua. "Dua belas orang. Gue, Jevo, dan Jeno. Kurang delapan orang." ujar Bulan, menunggu bawahan Mikel mengajukan dirinya sendiri tanpa ditunjuk oleh dirinya ataupun Mikel.