
"Nyonya." sapa Bulan dengan ramah pada mama dari Jevo dan Jeno, saat beliau menghampirinya.
Nyonya Rindi membalas senyum Bulan dengan senyumnya yang sempurna. "Tuhan, dia memang sangat cantik. Pandai juga putraku mencari perempuan." batin Nyonya Rindi memuji Bulan sekalian sang putra.
"Jangan panggil Nyonya. Panggil saja tante." pinta Nyonya Rindi.
Keduanya masih tetap berbincang ringan di area parkir, selepas Jeno dan yang lainnya masuk ke dalam kelas.
Bulan tersenyum kaku. "Baiklah. Maaf, tante." tutur Bulan merasa lidahnya belum terbiasa untuk mengucapkan kata tante.
Apalagi Bulan tahu siapa perempuan yang berdiri di hadapannya tersebut. Selain Nyonya Rindi adalah orang tua, atau ibu kandung dari Jevo dan Jeno, beliau juga penyokong dana terbesar di sekolah tempatnya mengajar.
Meski sebetulnya, Bulan juga bukan bekerja murni sebagai tenaga pengajar. Tapi tetap saja, Bulan merasa kurang nyaman berinteraksi terlalu dekat dengan Nyonya Rindi.
Bulan juga sadar, jika para murid serta beberapa guru yang melihat mereka berdua dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Padahal, Bulan sama sekali tidak terlalu memikirkannya. Hanya saja, Bulan terlalu malas untuk berurusan dengan mereka yang tidak menyukai sikap yang ditunjukkan Nyonya Rindi pada Bulan.
"Baru datang?" tanya Nyonya Rindi sekedar berbasa-basi. Kenyataannya beliau sudah melihat kedatangan Bulan. Dan memang itulah yang beliau tunggu.
Bulan tersenyum dan mengangguk. "Wah... kamu bisa naik motor ya. Keren." lagi-lagi kalimat pujian terlontar dari mulut Nyonya Rindi.
__ADS_1
"Hanya sekedar bisa tante." sahut Bulan merendahkan diri.
Nyonya Rindi tahu jika Bulan bukan hanya sekedar bisa menaiki motor, tapi memang jago. Semua dia ketahui dari sang suami.
Tanpa Bulan ketahui, jika perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik di depannya ini mengetahui identitas aslinya.
"Kamu sama seperti Jevo. Suka naik motor. Kalau Jeno, dia tidak terlalu menyukai motor. Dia punya trauma." jelasnya.
Bulan mengingat jika dirinya pernah membonceng Jeno. Dan itu menggunakan motor. Tapi Jeno terlihat biasa. "Trauma." batin Bulan.
"Kamu ada kelas pertama?"
"Iya tante."
Bulan tersenyum canggung. Bagaimanapun juga, Bulan belum akrab dengan mama dari Jeno. Dan Bulan bukan tipikal perempuan yang dengan mudah bisa mengakrabkan diri dengan orang lain.
Semua karena, selama ini Bulan selalu melakukan misi yang hanya melibatkan sedikit orang. Sehingga, dirinya selalu merasa waspada jika ada orang baru yang mendekatinya.
"Mamanya Jeno ngapain sih." batin Bulan. Sama seperti Jeno dan yang lainnya. Bulan merasa sikap yang ditunjukkan Nyonya Rindi sangatlah aneh.
Tiba-tiba mengajak sarapan bersama. Dan Bulan menebak, jika sebenarnya beliau sudah sarapan di rumah bersama keluarganya.
__ADS_1
"Jeno." batin Bulan tersenyum samar. "Tak apalah gue coba." lanjut Bulan dalam hati. Entah apa yang ada dalam benaknya.
"Maaf tante, jika untuk sarapan, sepertinya Bulan tidak bisa. Bulan harus segera masuk ke kelas. Bagaimana jika saat makan siang saja." tawar Bulan.
Raut wajah Nyonya Rindi langsung berubah. "Baiklah,,, saat makan siang." ujarnya merasa senang.
"Kamu maunya di restoran mana? Nanti biar saya pesankan meja." tanya Nyonya Rindi dengan antusias.
"Bagaimana jika kita makan tidak di restoran tante. Tempat biasa juga tidak apa-apa. Yang terpenting nyaman untuk berbincang. Dan makanannya juga bersih." saran Bulan, yang memang tidak terlalu suka makan di restoran.
Nyonya Rindi segera mengangguk. "Tapi di mana ya." cicit Nyonya Rindi, berpikir tempat makan yang dikatakan oleh Bulan.
"Bulan tahu sebuah tempat makan tang menurut Bulan nyaman. Tapi jika tante setuju." tawar Bulan.
"Dimana?" tanya Nyonya Rindi.
Bulan menyebutkan alamat sebuah rumah makan. Dan Nyonya Rindi langsung menyetujuinya. "Baiklah. Nanti kita bertemu di sana saat makan siang."
Bulan bisa menebak, jika Nyonya Rindi mengetahui tempat yang baru saja dia sebutkan. "Baik tante."
Bulan segera berpamitan pada Nyonya Rindi. Dirinya ada kelas mengajar, dan itu di jam pertama. "Bulan,,,,, semoga perasaan Jeno tidak bertepuk sebelah tangan." batin Nyonya Rindi, memandang punggung Bulan yang semakin menjauh.
__ADS_1
Sepeninggal Bulan, Nyonya Rindi juga meninggalkan sekolah di mana kedua putranya mengenyam ilmu. Beliau tidak pulang ke rumah. Melainkan langsung pergi ke perusahaan sang suami.
Tentu saja untuk menceritakan jika dirinya sudah bertemu dengan Bulan. Dan bermaksud akan makan siang berdua.