PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 165


__ADS_3

Pagi yang menggemparkan. Bulan meminta Gara menyalin semua bukti yang sudah terkumpul. Sedangkan bukti yang asli Bulan kirimkan langsung ke kantor kepolisian pusat semalam.


Catat. Bulan mengirimkan tanpa sepengetahuan siapapun. Dirinya menyuruh orang kepercayaannya yang berada di sana untuk langsung menaruhnya di atas meja kepala kantor.


Selanjutnya, menyebarkan seluruh bukti di semua media. Terutama media elektronik yang sekarang bisa menyebarkan berita dengan cepat. Hingga semua saluran televisi menyiarkan apa yang selama ini dikerjakan oleh para penjahat berkelas tersebut.


Bulan bergerak cepat. Setelah semalam dirinya selesai mengambil rekaman dari tangan Narendra, Bulan segera mengganti dua orang yang mengawasi kakek Timo.


Tujuan Bulan sudah tercapai. Dirinya takut jika kedua orang yang mengawasi kakek Timo akan membuat masalah dengan mencelakai kakek Timo, karena Bulan membongkar semuanya. Atau malah menggunakan kakek Timo sebagai alat untuk menekan Bulan.


Dimana, kedua lelaki yang menjaga kakek Timo juga akan terseret dalam masalah ini. Sebab mereka ikut andil dalam beberapa jual beli barang ilegal yang membuat negara rugi besar. Serta melakukan apapun hang pal Darto perintahkan.


Tak mau kecolongan, itulah kenapa Bulan segera mengganti keduanya dengan cepat. Sehingga Bulan akan lebih tenang bergerak jika kakek Timo dijaga serta berada di bawah lindungan orang yang tepat.


Tidak hanya sampai di sana. Bulan menghubungi orang suruhannya yang berada di desa untuk bersiaga. Dirinya juga mengatakan menambah bala bantuan, yang sekarang sedang dalam perjalanan.


Karena dapat dipastikan, nama Bulan pasti akan terseret masuk ke dalam pengungkapan kejahatan besar ini. Yang Bulan pikirkan tentu saja keluarganya yang berada jauh dengannya.


Bulan tidak ingin terjadi sesuatu dengan mereka karena apa yang Bulan lakukan sekarang. Apalagi mereka sama sekali tidak mengerti dan tidak terlibat dengan apa yang Bulan lakukan.


Bulan sendiri yang mengambil salah satu bukti rekaman dari tangan Narendra. Sehingga bisa ditebak, jika kemungkinan besar Narendra akan mengatakannya pada Tuan Zain atau pada yang lain terkait rekaman di tangannya yang sampai tersebar ke media.


Di ruang tamu, Pak Bimo memeluk kedua orang yang sangat dia sayang. Sang istri dan putrinya. Semalam, Bulan langsung menghubungi Mikel di saat dirinya dalam perjalanan menuju markas.


Menyuruh Mikel mengantarkan keduanya untuk pulang ke rumah mereka. Meski hanya semalam, setidaknya mereka bisa bertemu untuk meluapkan rasa rindu yang mereka pendam selama ini.


Bulan juga menghubungi pak Bimo, jika dirinya akan mengungkapkan kasus ini pagi-pagi buta. Sehingga para musuh tidak akan bisa berpikir untuk lari menyelamatkan diri.


Pastinya pak Bimo setuju dengan apa yang Bulan lakukan. Ditambah, beliau juga sudah menyiapkan semua. Serta keteguhan hati beliau untuk menyerahkan diri.


Begitu sang istri dan anaknya sampai di rumah, pak Bimo mengumpulkan semua pekerja di rumah. Dihadapan semuanya, pak Bino mengatakan apa yang terjadi.


Sebab kemungkinan besar rumah mewah ini akan di ambil alih oleh negara. Meski pada kenyatannya, rumah mewah tersebut didapat bukan uang dari hasil pekerjaan haramnya yang dia lakoni beberapa tahun terakhir.


"Maaf, papa menyusahkan kalian." cicit pak Bimo dengan wajah sedih. Beliau bersiap menyerahkan diri ke kantor polisi serta membawa beberapa bukti yang ada di tangannya.


Di depan rumahnya, sudah ada beberapa petugas yang berasal dari kepolisian yang hendak menjemput beliau.


Semalam, setelah Bulan menghubunginya, pak Bimo juga langsung menghubungi atasannya. Mengatakan apa yang terjadi dan berniat menyerahkan diri pagi ini. Itulah alasannya, kenapa di depan rumah pak Bimo sudah dijaga ketat beberapa anggota polisi.


Tentunya mereka ingin mengamankan pak Bimo serta keluarga pak Bimo. Dan juga memastikan keamanan pak Bimo selama beliau dalam perjalanan menuju ke kantor pusat untuk menyerahkan diri.


Sapna dan Nyonya Irawan tersenyum sempurna. Meski pada kenyataanya, ada sebuah rasa sedih yang teramat di balik senyum indah mereka.


"Sapna bangga sama papa. Sapna bangga, papa berani mengambil tindakan ini. Papa hebat." tutur Sapna.


"Mama juga. Papa jangan khawatir. Kami akan selalu ada di samping papa. Kami akan mendukung papa."


Ketiganya kembali berpelukan. "Terimakasih." pak Bimo merasa senang bercampur rasa penyesalan yang teramat.


"Apa papa memerlukan pengacara?" tanya Nyonya Irawan berusaha untuk tidak menitikkan air mata.


Pak Bimo menggeleng. "Tidak. Papa akan menyerahkan semua pada pihak kantor. Papa akan berbicara sejujurnya. Biarkan semua berjalan sesuai prosesnya. Papa akan mengikuti alurnya."


"Baiklah."

__ADS_1


"Maaf sayang, papa membuat kalian dalam kesulitan." sesal beliau.


Pak Bimo sadar, dirinya memang akan mendekam di balik jeruji besi atas apa yang dia lakukan. Tapi keluarganya yang berada di sini pasti akan terkena imbasnya. Beliau khawatir jika anak serta istrinya akan kesulitan karena apa yang telah dia perbuat.


"Papa bodoh. Silau dengan uang. Yang pada akhirnya malah membuat kita terpisah. Dan membuat kalian berdua sengsara." sesalnya teramat dalam.


"Pa... Sudahlah. Mama dan Sapna akan baik-baik saja. Dengan papa berani mengaku, berani berkata jujur, itu sudah suatu hal yang sangat mulia. Setiap orang pasti mempunyai salah. Dan papa, sudah mengakuinya. Serta mau berubah. Papa hebat." tukas Nyonya Irawan tidak ingin sang suami tertekan.


"Papa jangan khawatir. Sapna dan mama tidak hanya berdua. Papa lupa, ada Bulan." cicit Sapna tak ingin terlihat menyedihkan di hadapan sang papa.


"Bulan. Anak itu. Banyaklah belajar dari dia. Papa berutang banyak dengan Bulan." papar pak Bimo.


Nyonya Irawan dan Sapna mengantar pak Bimo hingga teras rumah. Meski beliau sudah menyerahkan diri. Dan akan menjadi tersangka serta masuk ke dalam jeruji besi, namun semua anggota masih memperlakukan beliau dengan begitu hormat dan sopan.


"Maaf pak,,, Saya dan beberapa anggota di suruh Bulan untuk mengantar istri dan putri bapak ke rumahnya." lapor seorang anggota dengan ramah.


"Baik. Dan terimakasih. Tolong, jaga keselamatan mereka." tutur pak Bimo menatap keduanya yang tengah tersenyum menatapnya juga.


Nyonya Irawan dan Sapna melambaikan tangan saat Pak Bimo masuk ke dalam mobil. Mereka seolah tampak baik-baik saja dengan senyum di bibir mereka.


"Mama....." Sapna tak kuat, dirinya langsung memeluk sang mama sembari menangis tersedu. Begitu juga Nyonya Irawan. Manakala mobil yang membawa pak Bimo tak lagi terlihat.


Beberapa anggota polisi yang berada di sekitar mereka mengalihkan pandangannya. Mereka tidak tega melihat keduanya. Terlebih selama ini keluarga pak Bimo terkenal baik dan ramah terhadap siapa saja.


Mereka juga tidak menyangka, pak Bimo yang mereka kenal baik dan tegas masuk dalam lingkar kejahatan yang tidak main-main.


Di belakang mereka, para pekerja yang bekerja di rumah pak Bimo sudah rapi dengan tas besar di tangan mereka. "Nyonya,,, Nona,,, kami pamit." tutur salah satu pembantu dengan berat mengatakannya.


Jujur, mereka sudah betah bekerja di kediaman Nyonya Irawan. Tapi karena masalah yang menimpa keluarga majikan mereka, mereka tak mungkin bertahan bersama Nyonya Irawan dan Sapna. Karena mereka berdua juga akan meninggalkan rumah mewah ini.


Nyonya Irawan dan Sapna mengurai pelukan mereka. "Terimakasih, selama ini sudah bekerja dengan kami. Dan membantu kami." papar Nyonya Irawan dengan tulus.


Seperti yang diinginkan Bulan. Nyonya Irawan dan Sapna kembali ke rumah Bulan. Sebab setelah ini, keduanya akan tinggal bersama dengan Bulan. Entah seterusnya, atau hanya sementara.


Di kediaman Pak Darto, tengah terjadi perdebatan hebat antara pak Darto dengan sang istri. Sebab di saat yang bersamaan dengan kasus ini terungkap ke publik, sang istri juga meminta perceraian.


"Hanya itu yang bisa menyelematkan semua asetku pa..." seru sang istri yang tidak ingin kehilangan semua hartanya karena tingkah sang suami.


"Jadi kamu lebih mementingkan harta...! Bukan menolong suamimu ini...?!!" pak Darto tak mau kalah. Beliau berteriak dengan kencang. Merasa sang istri mengkhianati dirinya.


"Apa yang bisa mama lakukan..?! Apa...?! Menolong bagaimana...?! Coba papa katakan...?! Yang ada, semua kekayaanku akan disita oleh negara jika kita tidak berpisah sekarang. Dan yang akan menjadi korban aku dan Sella. Pikirkan kami...!!" bentak sang istri.


"Aaaaa.....!!!" teriak Pak Darto. Tidak menyangka semua akan terungkap dengan cara seperti ini. Padahal semalam dirinya masih tertidur dengan nyenyak. Tak terpikirkan jika masalah ini bisa meledak seperti sekarang.


Hingga dering ponsel membangunkan mimpi indahnya. Dimana rekannya mengatakan apa yang sedang terjadi sekarang. Membuat pak Darto bagai singa kehilangan mangsa.


Sella hanya diam mematung. Sungguh, semua tak bisa dia cerna sekarang. Sang papa tiba-tiba masuk ke dalam berita terkait kejahatan yang tidak main-main. Dan dipastikan akan dimasukkan ke dalam jeruji besi.


"Tanda tangani sekarang...!!" pinta sang istri menyodorkan sebuah kertas dan pena pada pak Darto.


Sella tersadar. Dirinya sekarang tahu apa yang diinginkan sang mama. "Pa.... Benar kata mama. Sella tidak mau hidup susah. Papa yang melakukan kesalahan, kenapa kami yang terkena imbasnya. Sella tidak mau menjadi miskin. Dan hidup susah." ucap Sella ikut menyudutkan pak Darto.


"Kalian...!!" geram pak Darto, mengambil kertas tersebut dan menandatanganinya dengan perasaan kacau.


Segera sang istri mengambil kertas tersebut. Dirinya takut jika pak Darto berubah pikiran, bahkan sampai merobek kertas penting tersebut.

__ADS_1


Segera Sella mendekat dan memeluk sang mama. "Ma... Bagaimana ini. Sella malu pergi ke sekolah. Pasti semua mata akan memandang Sella. Mereka akan menggunjing Sella." cicit Sella ketakutan, meski sang papa sudah menandatangi surat cerai tersebut.


"Kenapa kalian malah memikirkan hal yang tidak penting...!! Pikirkan bagaimana caranya agar saya tidak masuk ke dalam sel tahanan. Bukan malah memikirkan hal remeh seperti itu...!" teriak pak Darto mulai kehilangan kendali.


"Jangan lupa. Papa yang melakukannya. Kenapa kita yang harus menanggungnya. Semua salah papa. Jadi papa yang harus menanggung akibatnya." tukas sang istri sedikit membawa Sella menjauh dari pak Darto.


"Kalian....!!!" geram pak Darto.


"Semua salah papa. Coba papa mau mengelola perusahaan. Melenyapkan ego serta rasa gengsi papa yang besar. Pasti semua ini tidak akan terjadi. Sekarang.... Papa mau menyalahkan siapa...??!" seru sang istri tak ingin disalahkan.


Tak ingin berdebat dengan istri dan anaknya yang di rasa tidak bisa membantunya, Pak Darto berjalan keluar rumah. Berniat meminta bantuan pada seseorang.


Tapi siapa yang menyangka, jika di luar dirinya sudah di tunggu oleh beberapa anggota dari kepolisian yang ingin membawanya ke kantor.


"Kami hanya menjalankan tugas. Dan ini surat perintah atas penjemputan serta penangkapan anda." ujar salah seorang anggota.


Dengan menahan rasa malu, pak Darto masuk ke dalam mobil. Apalagi di luar pintu pagar ternyata sudah banyak orang yang membawa perlengkapan media untuk meliput apa yang terjadi.


"Ma..." rengek Sella melihat dari jendela saat banyak wartawan di depan rumahnya.


"Mama akan menghubungi pihak sekolah. Untuk hari ini, kamu tidak perlu datang ke sekolah. Biar kamu mengikuti ujian susulan saja." jelas sang mama yang diangguki oleh Sella.


"Papa. Kenapa papa berbuat seperti itu. Hancur sudah harapan Sella mendekati Jeno. Mana mau keluarga Tuan David mempunyai menantu dari keluarga seperti kita." keluh Sella merasa sangat kesal dengan tindakan sang papa.


"Sella...." panggil sang mama, saat Sella berlari menaiki anak tangga. Tak mau memikirkan sang putri yang sedang merasa kesal dengan papanya, istri dari pak Darto memilih segera menghubungi sang pengacara dan membicarakan semuanya lebih lanjut. Apalagi surat cerai sudah berada di tangan.


Keadaan di rumah Tuan Zain hampir sama dengan keadaan di rumah pak Darto. Mereka kelimpungan saat melihat berita yang menyiarkan semua kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Zain dan rekan-rekannya.


"Pa.... Bagaimana bisa terungkap. Papa mengatakan jika semua baik-baik saja...!" seru sang istri yang memang sudah tahu sejak dulu apa yang Tuan Zain lakukan.


Tuan Zain memandang Claudia dengan tajam. "Claudia. Pada siapa kamu memberikan file yang papa titipkan di laptop kamu?!"


Claudia segera menggeleng. "Tidak ada pa. Sumpah...! Claudia tidak pernah memberikannya atau memperlihatkannya pada siapapun." ujar Claudia membela diri, merasa mengatakan yang sebenarnya.


"Lalu bagaimana sekarang semuanya berada di sana...!?" tanya Tuan Zain menunjuk ke arah televisi.


"Mana Claudia tahu pa. Mungkin saja mereka punya hacker handal." ujar Claudia.


Tuan Zain duduk di sofa dengan wajah kusut. "Apa sekarang yang akan papa lakukan?!" tanya sang istri.


"Diam...!! Jangan banyak berbicara jika tidak bisa memberi jalan keluar...!!" hardik Tuan Zain.


Tuan Zain melihat pak Bimo dan pak Darto terlihat di layar televisi. Yang artinya mereka berdua sudah dijemput oleh pihak keamanan. Bahkan juga dengan Tuan Tene yang juga terlihat di bawa petugas kepolisian ke kantor pusat.


"Secepat ini. Bagaimana bisa. Bahkan aku tidak mencium pergerakan apapun." batinnya memikirkan siapa dalam dibalik terbongkarnya semua kejahatannya di publik.


"Narendra." gumamnya, dimana ada sebuah rekaman yang hanya ada di tangan Narendra.


Segera Tuan Zain menghubungi Narendra. Sayangnya nomor ponsel Narendra tak lagi aktif. "Narendra sialan...!! Kenapa disaat genting seperti ini malah menghilang." geram Tuan Zain.


Pintu diketuk dari luar. "Pasti mereka mau menjemput papa." cicit Claudia merasa khawatir.


"Hubungi pengacara. Suruh dia menyusul papa di kantor polisi." pinta Tuan Zain.


"Papa jangan khawatir. Claudia akan mencoba meminta bantuan pada Jevo. Papa tahu sendirikan bagaimana Tuan David. Pasti jika Tuan David bertindak, papa tidak akan tersentuh oleh hukum." tukas Claudia dengan yakin jika Jevo akan membantu dirinya.

__ADS_1


"Cepat lakukan. Papa tidal ingin tinggal dalam penjara meski hanya sehari." pinta Tuan Zain yang mendapat anggukan dari Claudia.


Akhirnya Tuan Zain mengikuti rekan-rekannya untuk dibawa ke kantor pusat. Bahkan bukan hanya mereka berempat. Melainkan semua orang yang terlibat dalam kejahatan tersebut segera diciduk. Tak ketinggalan dengan Narendra juga.


__ADS_2