
Timo melihat wajahnya sendiri dari kaca pantau yang ada di depannya. Memastikan semua terlihat seperti biasanya. Dirinya tidak ingin ada kesalahan, meski hanya sedikit.
"Mama, putramu datang menjemput." seringai Timo, terlihat begitu kejam, meraba wajah palsunya yang terlihat tampan dengan bangga.
"Gue harus secepatnya menyingkirkan semua duri di sekitar gue. Segera mungkin." ucap Timo di kursi pengemudi.
Sudah nampak jelas, jika Timo sudah tak sabar menginginkan serta menguasai semua harta milik kedua orang tua Rio. Dan pastinya, hanya ada satu jalan. Pengalihan semua harta atas nama Rio. Kemudian dialihkan atas nama dirinya. Timo.
Yang artinya dirinyalah yang akan berkuasa penuh atas apa yang mereka miliki, tanpa bisa diganggu gugat.
"Tenang saja, sampai di rumah. Putramu ini akan memberikan surprise yang akan membuat kamu tersenyum senang. Haaaa.... haaaa....." ujar Timo sembari tertawa lepas.
Timo bermaksud mempertemukan mama Rio dengan Rio asli. "Kita lihat, apa yang akan terjadi." ujarnya disertai tawa yang masih keluar dari mulutnya.
"Mama bertemu anak kandungnya dalam keadaan yang sangat mengharukan. Betapa suasana akan menjadi haru." cicitnya.
Timo menyalakan musik di dalam mobil. Mulutnya mengikuti alunan musik tersebut dengan ekspresi senang. Seolah apa yang dia rencanakan akan berjalan sesuai dengan angan-angannya.
Tanpa dia tahu. Jika saat ini, rumahnya telah dimasuki dua tamu yang tak diundang. Yang akan membawanya dalam sebuah momen yang tak pernah dia perkirakan.
Timo melihat ke arah pergelangan tangannya. Dimana ada jam tangan mahal yang melingkar di sana. "Santai saja." ungkapnya, yang berarti dirinya tidak perlu tergesa. Sebab pesawat yang membawa mama Rio belum mendarat.
Sedangkan di rumah, Jevo dan Jeno segera mengganti pakaian mereka. Dan bergegas pergi ke markas.
Jevo dan Jeno tidak pergi ke satu arah. Mereka melewati jalan yang berbeda dan berlawanan arah. Sebab keduanya tahu, jika ada seseorang yang sedang mengintai pergerakan mereka. Pastinya itu adalah orang suruhan sang papa. Dan yang mereka perlukan mengecoh orang tersebut.
Jeno menaiki mobil sportnya melaju kencang membelah jalanan yang masih lumayan ramai. Sehingga dirinya bisa menghindar dari orang suruhan sang papa.
Jeno berkali-kali melihat dari kaca pantau, memastikan jika tidak ada yang mengikutinya. "Dia pasti mengikuti Jevo." ujar Jeno, saat dirinya tidak melihat ada yang mencurigakan di belakangnya.
Tidak ingin kehilangan terlalu banyak waktu, Jeno segera mencari jalan terdekat. Meskipun dia melewati jalan curam dan sepi, tapi bagi Jeno tidak masalah. Asal segera sampai ke markas dengan cepat dan selamat.
Dan Jevo, dia mengendarai motornya bagai seorang pembalap. "Sial, dia mengikuti gue." Jevo yakin, jika mobil yang berada tak jauh dibelakangnya adalah mobil yang dikendarai oleh suruhan sang papa.
Tapi Jevo merasa lega. Jika saja dia mengikuti Jeno, pasti Jeno akan kesulitan. Sebab Jeno menggunakan mobil.
Jevo tersenyum miring. Dan..... wuzzzzz.... Jevo membelokkan motornya secara mendadak di gang kecil, yang hanya bisa dilewati oleh motor dan pejalan kaki saja.
Sama seperti Jeno, Jevo juga tidak mempunyai banyak waktu untuk meladeni orang suruhan sang papa, mengajaknya bermain kejar-kejaran. Fokusnya hanya cepat sampai di markas. Bergabung bersama dengan yang lain. Dan ikut menjalankan rencana mereka.
"Sial,,, kemana perginya dia." geram orang suruhan Tuan David kehilangan jejak Jeno.
"Bodoh, seharusnya gue mengikuti yang satunya lagi." sesalnya. Karena tidak mengikuti Jeno.
Tanpa berpikir panjang, dia melajukan mobilnya ke depan. Dimana dirinya melihat salah satu anak dari bossnya juga melajukan motor ke arah tersebut.
Padahal dia juga tahu, jika salah satunya melajukan ke arah yang berlawanan dengannya menggunakan mobil. Sama seperti dirinya.
Karena tidak ingin membuang waktu, harus memutar kendaraannya, dia memutuskan untuk melajukan mobilnya lurus ke depan. Mengikuti Jevo yang mengendarai motor.
Tapi siapa yang mengira, jika keputusannya ternyata salah besar. Dengan mudah dirinya kehilangan Jevo. Yang artinya, pekerjaannya gagal untuk yang kesekian kali.
Sebab Jevo dengan cerdas bisa membuat dirinya tak bisa lagi mengejarnya.
Lelaki tersebut menghela nafas kasar. Tentunya dirinya bingung. Bagaimana melaporkan pada Tuan David. Mengenai kegagalannya yang kesekian kalinya.
"Aaaa....!!!" serunya, memukul stir mobil. "Lagi-lagi gue gagal." geramnya.
Pastinya rasa malu yang akan dia terima. Meski Tuan David tetap membayar uangnya seperti yang telah beliau janjikan. Tapi, di sini bukan perkara uang. Melainkan harga diri.
Di tempat lain. Tepatnya ruang rahasia, tepatnya di dalam rumah Rio, Bulan dan Mikel sudah berada di ruangan. Dimana Rio ditahan di tempat tersebut.
Mikel mengernyitkan keningnya. Keduanya ingin mengeluarkan Rio dari rumah ini. Memberi kebebasan pada dirinya. Menjauhkan dirinya dari siksaan Timo. Tapi, kenapa Rio malah menolak. Dan tetap ingin bertahan di tempat terkutuk ini.
"Kenapa? Kenapa elo menolak bantuan kita? Kita yang melihat saja merasa kasihan. Untuk itulah kami datang. Menyusup ke rumah ini secara diam-diam." jelas Mikel tak habis pikir, kenapa Rio menolak niat baik mereka.
Kata menyusup mengartikan jika mereka berdua melawan bahaya. Hanya demi menolong Rio supaya terbebas dari penderitaan yang selama ini dia alami.
Sedangkan Bulan, meski Rio menolak untuk dibebaskan, dirinya tetap berusaha membuka rantai yang melingkar di kedua kaki serta kedua tangan Rio. Seolah Bulan yakin, jika Rio akan dibawanya keluar bersama dengan Mikel.
Rio terdiam. Dia bisa merasakan ketulusan dari suara yang Mikel keluarkan. Rio tersenyum tulus. "Terimakasih. Gue kira sudah tidak ada orang baik di dunia ini. Ternyata masih ada." lirih Rio.
Rio terlihat lemas. "Pantas saja bu Bulan mengajak teman." batin Mikel, segera membantu untuk Rio tetap berdiri. Setelah Bulan berhasil melepaskan kedua kaki Rio dari rantai.
"Maaf, gue bau." cicit Rio.
"Makanya elo keluar. Lalu mandi. Biar nggak bau." celetuk Mikel. Yang sempat-sempatnya melontarkan kalimat lucu di tengah suasana tegang seperti ini.
Bulan tersenyum samar mendengar lontaran yang keluar dari mulut anak didiknya tersebut.
"Sebaiknya kalian pergi. Biarkan gue di sini. Terimakasih sudah berniat menolong saya." tukas Rio.
Bulan berdiri, membuka rantai di tangan kanan Rio. "Tenang saja. Setelah elo keluar dari sini, kita juga akan segera menolong mama elo." ujar Bulan.
Mikel sekarang mengerti, kenapa Rio menolak pertolongan dari mereka. "Pasti Timo sudah mengancam dia." batin Mikel merasa geram.
"Apa yang sudah Timo katakan pada elo?" tanya Mikel dengan nada sengit.
"Jangan terlalu keras, ruangan ini tak kedap suara. Bisa di dengar dari ruang sebelahnya." ujar Bulan mengingatkan.
__ADS_1
"Dia akan menghabisi mama." lirih Rio.
"Ckk,,, elo pikir kalian akan tetap hidup. Jangan harap. Kita lebih tahu siapa Timo, dari pada elo." ketus Mikel kesal pada penolakan Rio.
Rio hanya tersenyum mendengar penuturan Mikel yang bernada kesal. Rio tahu, jika pastinya mereka kecewa dengan keputusannya. "Di sebelah adalah kamar lelaki yang kalian panggil dengan nama Timo." timpal Rio.
Mikel menegakkan badannya. Dengan keadaan Rio yang seperti ini, tentu Mikel harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk merangkul tubuh Rio agar tetap berdiri. "Kamar elo jugakan." celetuk Mikel.
Selesai. Bulan telah membuka semua rantai yang berada di kedua tangan dan kaki Rio. Membuat Mikel harus lebih mengeluarkan tenaga ekstra untuk menahan tubuh Rio yang berat.
"Ada apa?" tanya Bulan, mendengar jika Gara menghubungi mereka.
"Elo bisa sedikit santai. Penerbangan mama Rio ternyata di pending. Sehingga beliau akan molor sampai di bandara." ucap Gara memberitahu.
"Oke." sahut Bulan.
"Syukurlah. Lihat, Tuhan saja memberi jalan untuk kita menolong elo." timpal Mikel.
"Tapi gue nggak mau keluar dari sini. Selamatkan saja mama aku." pinta Rio.
Bukannya Rio tidak ingin keluar dari tempat terkutuk ini. Hanya saja, dirinya sadar. Keadaannya sangat tidak memungkinkan berjalan sendiri. Pasti akan sangat sulit membawanya keluar dari rumah sebesar ini secara diam-diam.
"Elo pikir mama elo akan percaya, dengan semua cerita kita. Jika kita mengatakan yang sejujurnya." ujar Bulan. Rio terdiam. Apa yang dikatakan Bulan adalah benar.
"Asal elo tahu, wajah Timo itu mirip sama elo." ucap Mikel memberitahu.
Rio mengangguk. "Gue tahu. Sebelum dia membuat kedua mata gue seperti ini, gue juga sudah melihatnya." cicit Rio.
Mikel menampilkan ekspresi aneh, melihat kondisi wajah Rio. Dimana kedua matanya tak lagi bisa terbuka. "Apa yang sudah orang gila itu lakukan sama mata elo?" tanya Mikel dengan nada terdengar sedih.
Rio hanya tersenyum. Tak mungkin dirinya menceritakan penyiksaan yang dia terima secara terperinci. Sama saja dirinya seperti mengingat semuanya kembali. Seakan rasa sakit itu datang dan terulang lagi.
Di saat Mikel berbincang dengan Rio, Bulan mencari jalan keluar. Sebab tak mungkin mereka keluar dari pintu di mana mereka masuk.
Menjebol tembok adalah cara yang akan di gunakan Bulan. Sebab, di samping adalah kamar Rio. Dimana tak ada seorang pembantupun yang diperbolehkan masuk. Kecuali Rio palsu sendiri yang memanggilnya.
"Bagaimana gue bisa percaya pada kalian. Jika kalian juga akan menyelamatkan mama?" tanya Rio.
Mikel tidak bisa menjawab, sebab memang tak ada dalam rencana perihal penyelematan mama dari Rio. "Ada seseorang yang akan melakukannya." ujar Bulan terlihat tenang, sembari memasang beberapa bahan peledak berkekuatan kecil.
"Siapa? Bukankah kita bertiga ada di sini." batin Mikel menerka. Pasalnya, setahu Mikel, Jevo dan Jeno masih berada di tempat acara keluarganya berlangsung.
Mikel melihat apa yang dilakukan oleh Bulan. Ada rasa takjub melihat bagaimana Bulan menjalankan rencana mereka. "Ternyata semua direncanakan dengan matang." batin Mikel yang tidak menyangka, Bulan membawa benda seperti itu.
Kembali Gara menghubungi mereka. Terutama Bulan. "Bulan, Jevo dan Jeno ada di markas." ucap Gara memberitahu.
Mikel merasa lega dengan apa yang dia dengar.. "Oke. Tugaskan mereka berdua mengambil mama Rio dari tangan Timo. Bagaimanapun caranya." perintah Bulan.
"Tapi ingat. Gunakan cara rapi. Jangan sampai Timo maupun mama Rio curiga. Bawa mama Rio ke tempat yang sudah kita setujui sebelumnya." jelas Bulan, tak ingin semua rencananya hancur.
Bulan berharap, Jevo dan Jeno bisa melakukannya tanpa ada kekerasan. Sehingga Timo tidak akan curiga. Sekarang, Bulan menaruh harapan sepenuhnya pada si kembar.
"Elo dengar. Mama elo sudah ada yang menolong. Dan sekarang, tugas elo menuruti apa yang kita mau." ucap Bulan.
"Apa sebenarnya yang kalian inginkan?" tanya Rio. Tak mungkin mereka tidak menginginkan sesuatu. Menyelamatkan dirinya beserta sang mama.
"Apa elo tidak tahu, siapa Timo sebenarnya?" tanya Bulan, dengan kedua tangan sibuk melakukan sesuatu.
Dari ekspresi Rio, Mikel melihat jika Rio tidak tahu menahu tentang Timo. Oleh karenanya, Mikel segera menjelaskan. "Dia psikopat. Monster yang haus akan darah manusia. Tapi dia bukan zombie seperti di film-film. Tapi dia pembunuh berdarah dingin." jelas Mikel.
"Pem-pem-pembunuh. Pembunuh berdarah dingin." lirih Rio.
"Dan korbannya bukan hanya satu atau dua orang. Tapi puluhan." sambung Mikel.
"Dan jika elo nggak keluar dari sini, gue yakin. Elo dan mama elo adalah target selanjutnya." timpal Bulan yang sudah berdiri sembari menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, karena dirinya selesai memasang bahan peledak di tembok depan mereka.
"Asal elo tahu. Tujuan utama Timo adalah harta kalian. Jika dia sudah mendapatkannya, lantas untuk apa kalian berdua dibiarkan hidup. Toh bagi dia, melenyapkan manusia seperti menepuk nyamuk. Sangat mudah." tukas Mikel.
Rio terdiam. Dia sedang mencerna dan memikirkan semua yang dikatakan dua orang di sekitarnya. Tanpa dia tahu, bagaimana wajah keduanya.
"Mundur." pinta Bulan. Segera Mikel membawa tubuh Rio mundur beberapa langkah.
"Bu Bu..." kalimat Mikel terhenti, saat kedua mata Bulan menatapnya tajam.
Dan Mikel baru ingat, jika tidak boleh menyebut atau memanggil nama selama menjalankan misi. Meskipun orang yang berada di sekitar mereka tidak bisa melihat, atau tidak bisa mendengar, bahkan tidak bisa bicara sekalipun.
"Khemmm....Bukankah itu akan terdengar dari luar. Maksudnya suara ledakannya." beruntung Mikel punya kalimat lain untuk melengkapi kata yang terputus tadi.
"Aman." batin Mikel lega, dirinya tidak keceplosan memanggil nama Bulan seperti biasanya.
Bulan tak menyahuti pertanyaan Mikel, dirinya malah menghubungi Gara. "Bagaimana keadaan di luar?" tanya Bulan.
"Ledakkan sekarang. Mereka dalam jarak lumayan jauh. Gue yakin, mereka tidak akan mendengar." ujar Gara dengan yakin.
"Elo yakin?" tanya Bulan, sebab biasanya Gara salah memprediksi sesuatu.
"Yakin." sahut Gara.
"Baiklah." tanpa menunggu lama, Bulan menekan benda yang ada di tangannya. Dan,,,,,,, bommm. Tembok di depan mereka jebol baru bata dan beberepa bahan lainnya berserakan di kedua ruangan .
__ADS_1
"Bulan, ternyata mereka mendengar. Meski tak jelas." ujar Gara memberitahu.
"Sialan. Sudah gue duga. Gara...!! awas elo." umpat Bulan.
Mikel yang mendengar ucapan Gara, tentu saja merasa panik. Apalagi, diantara mereka ada yang menjadi orangnya Timo.
Tanpa mencari tahu apa yang terjadi di luar, Bulan dan Mikel bersama-sama merangkul Rio, membawanya masuk ke dalam kamar Rio.
Nampak binar senang di raut wajah Rio. Dia juga menghirup udara dengan panjang. "Tenggorokanku terasa sejuk." cicitnya.
"Ya iyalah. Ini ruangan bersih. Sedangkan elo bertahun-tahun berada di ruangan yang penuh dengan kotoran dan pengap." batin Mikel.
"Bulan, mereka mencari asal suara tadi." ujar Gara memberitahu.
"Ckkk... merepotkan." keluh Bulan, merasa kesal pada Gara dan pada para pembantu tersebut.
Sebab tak mungkin Bulan melenyapkan mereka. Para pembantu tersebut adalah orang yang tidak tahu apapun. Mereka hanyalah pekerja di rumah Rio.
"Berapa orang semuanya?" tanya Bulan, sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.
"Jika tidak salah, semua pembantu di rumah ini ada dua puluh tiga orang." sahut Rio, yang masih hapal berupa jumlah orang yang bekerja di kediamannya tersebut.
Bulan mengatakan kembali apa yang dia baru dengar dari Gara. "Tujuh orang." ucap Bulan menekankan jumlah pekerja di rumah Rio saat ini.
Rio tercengang. Dari dua puluh tiga menjadi tujuh. Kemana yang lainnya. "Yang lainnya dipecat. Terutama laki-laki. Timo hanya membutuhkan mereka yang menulikan telinga dan membutakan mata untuk bekerja di sini." jelas Bulan.
Bulan menghubungi Arya. "Perubahan rencana. Bawa mobil kamu ke depan rumah Rio. Lima menit lagi." perintah Bulan pada Arya.
Awalnya, Bulan ingin keluar lewat balkon kamar Rio. Dan melompati tembok pembatas sebelah rumah Rio. Tapi Bulan sadar, jika hal tersebut membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Mengingat keadaan Rio. Dan pastinya, mereka pasti akan ketahuan. Dan tentunya malah akan semakin repot.
"Gara, putus semua komunikasi di rumah ini. Sekarang." pinta Bulan pada Gara. Memutus komunikasi, sama saja Gara harus mematikan kamera CCTV sementara waktu.
"Berapa lama?" tanya Gara.
"Nanti gue hubungi lagi. Jangan banyak tanya." geram Bulan.
"Baik." ucap Gara hanya bisa mematuhi apa yang Bulan katakan. Sebab Gara sudah memberikan informasi yang salah.
Mikel hanya diam. Dirinya juga tidak tahu apa yang akan Bulan lakukan. "Untuk apa bu Bulan mengeluarkan pistol itu." ucap Mikel terlihat khawatir, dengan dua pistol di masing-masing tangan Bulan.
"Tunggu." ujar Mikel menghentikan langkah Bulan.
Bulan menoleh ke arah Mikel. "Di dalamnya obat bius. Bukan bubuk mesiu." jelas Bulan, mengerti kenapa Mikel menghentikan langkahnya.
Mikel mengangguk paham. "Bersiaplah." pinta Bulan.
Mikel mengangguk. Dirinya kembali menahan berat badan Rio dengan mengalungkan lengan Rio di lehernya. Sedangkan tangan Mikel berada di pinggang Rio.
Rio memang tidak lumpuh. Hanya saja, karena kedua kakinya terlalu lama di rantai. Dan juga penyiksaan yang Rio terima dari Timo, membuat kaki Rio sedikit lemas. Sehingga kesulitan berjalan.
"Semoga kita berhasil." cicit Rio bersemangat. Apalagi dirinya akan dipertemukan dengan sang mama.
Mikel tersenyum samar. Dilihatnya Rio berusaha untuk tidak terlalu membebankan tubuhnya pada Mikel. "Tenang saja. Percaya dengan pimpinan gue." bisik Bulan.
"Perempuan itu pimpinan kamu?" tanya Rio tidak percaya.
"Benar. Dia sangat pandai. Tapi juga galak." bisik Mikel, membuat rasa gugup yang Rio rasakan sedikit berkurang dengan semua celotehannya.
Bulan perlahan membuka pintu kamar Rio. "Gunakan saja lift di sebelah kiri kita." tutur Rio.
"Tidak. Kita gunakan tangga saja." ucap Bulan.
Bulan berlari dengan langkah ringannya menuruni anak tangga. Bulan melihat ada tiga pembantu yang masih membersihkan serpihan lampu gang pecah karena ulahnya tadi.
Bulan mencari keberadaan para pembantu, sedangkan Mikel membantu Rio turun dari tangga. "Pelan-pelan. Tidak perlu tergesa." cicit Mikel.
Bulan melepaskan tiga tembakan secara bersamaan. Dan berhasil. Ketiganya memegang anggota badan yang terasa disengat listrik. Dan,,,,, ketiganya tertidur.
Bulan berlari mencari ke empat pembantu lainnya. "Kemana mereka?" gumam Bulan.
Bulan merasakan ada pergerakan dari arah lain. "Siapa itu...?!" teriaknya, melihat Mikel dengan wajah tertutup kain, menuntun Rio turun dari tangga.
Tapi sayangnya, mereka tidak mengenali sosok Rio. Pasalnya penampilan Rio sangat berbeda. Teriakan dari salah satu pembantu, membuat ketiga pembantu lainnya segera berlari ke sumber suara.
Bulan dengan segera melesatkan tembakan ke arah keempatnya. "Aaa...!!" jerit mereka, memegang anggota badannya yang terkena suntik bius dari tembakan Bulan.
"Arya, elo masuk ke dalam. Sekarang...!!" pinta Bulan.
Obat bius hanya akan bekerja sebentar. Karena Bulan menggunakan dosis rendah. Sehingga pastinya mereka akan segera terbangun.
"Bantu Mikel. Gendong saja Rio. Kita tidak punya waktu banyak." ucap Bulan memberitahu.
Segera Arya dan Mikel menggendong Rio bersamaan. Mikel bagian atas, dan Arya bagian bawah. Bulan hanya menggeleng tak percaya dengan apa yang dilakukan keduanya.
"Bukankah salah satu dari mereka bisa menggendong Rio di belakang." batin Bulan.
"Bawa Rio ke tempat yang kita sepakati. Aku masih ada pekerjaan lain." tutur Bulan.
__ADS_1
"Baik."
Arya dan Mikel membawa Rio menuju villa milik Mikel. Dengan Bulan mengendarai motor entah kemana.