
Bulan duduk di kursi, menatap ke layar ponselnya. Dia tidak segera meninggalkan kantor kepolisian, karena masih menunggu kedatangan pak kepala kantor. Dimana beliau masih dalam perjalanan.
Di kursinya, Andre menatap intens Bulan. "Apa mata gue yang nggak jeli." batin Andre. Merasa jika jaket yang dipakai Bulan saat ini tidak sama dengan jaket yang Bulan kenakan tadi. Meski warnanya sama, tapi Andre merasa ada perbedaan pada motifnya.
Andre menggeleng. "Ngapain gue malah fokus ke jaketnya." batin Andre, merasa heran pada dirinya sendiri.
"Gue penasaran, bagaimana dia melumpuhkan Timo seorang diri." lanjutnya dalam hati. Tanpa dia tahu, jika ada Jeno yang membuat Timo sampai seperti itu.
Bulan tidak menunggu di dalam ruangan pak kepala. Melainkan di luar. Dimana beberapa anggota polisi sedang bekerja di mejanya masing-masing.
Dan Timo, dia sudah berada di dalam tahanan. Masih dengan keadaan yang sama. Belum tersadar. Entah sampai kapan Timo akan tetap seperti itu.
Hilman mendekati Bulan. "Khem... bisa kita bicara." pinta Hilman.
"Silahkan." sahut Bulan menatap Hilman yang berdiri di depannya.
"Tidak di sini." pinta Hilman. Yang menginginkan dia berbicara hanya berdua dengan Bulan.
Bulan tersenyum samar. "Kita tidak sedekat itu. Hanya sekedar tahu nama saja. Apa ada hal yang penting lainnya. Ingat batasan." tolak Bulan dengan sopan, sembari mengingatkan Hilman di mana mereka berada.
Hilman menghela nafas panjang. Pandangannya menatap ke sekeliling sejenak. Tampak semua menatap ke arahnya.
"Maaf. Maaf, karena saya menggagalkan rencana anda." ucap Hilman dengan tulus.
"Oke. Maaf diterima." sahut Bulan enteng, kembali menatap layar ponselnya.
Hilman memandang Bulan dengan kedipan yang lucu. Juga Andre. "Benarkan?" tanya Hilman tak percaya.
Bulan berdiri. "Iya." sahut Bulan.
Hilman bernafas lega. Dirinya menebak, jika Bulan memberikan dirinya kesempatan lagi. Seandainya dirinya membutuhkan rekan untuk menjalankan misi.
Bulan berdiri karena melihat kepala kepolisian setempat datang. Dan segera menyambutnya. "Kelihatannya kamu cocok dengan kedua anak buahku." tutur sang kepala terlihat senang.
Mengira jika semua berjalan dengan lancar. Sehingga mereka dengan cepat menangkap dan membawa Timo dengan mudah.
"Ya,,, bawahan anda sangat kompeten." sahut Bulan. Hilman dan Andre hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Bagus jika begitu. Kamu bisa menghubungi saya, jika sewaktu-waktu membutuhkan tenaga mereka." tukas pak kepala.
Sebab, jika Bulan kembali menggunakan mereka berdua untuk membantu menjalankan misi lainnya, pasti nama sang kepala juga akan ikut tercantum.
"Baik." ucap Bulan. "Sayangnya, ini pertama dan terakhir gue bekerjasama dengan mereka." batin Bulan dengan malas..
"Bisa kita berbicara di dalam." ajak Bulan.
"Silahkan." tutur sang kepala, membawa Bulan masuk ke dalam ruangan.
Keduanya kini berada di dalam ruangan. "Kasus Timo akan diambil alih oleh pusat. Saya baru saja mendapatkan pemberitahuan lewat pesan tertulis." pak kepala mengambil ponsel, menunjukkan pesan tersebut pada Bulan.
Padahal dirinya baru saja dari tempat tersebut. Tapi entah apa yang terjadi, saat pembicaraan di sana tak ada pemberitahuan tersebut. Dan dirinya malah diberitahu lewat pesan tertulis saat perjalanan kembali ke kantor.
Bulan mengambil ponsel beliau dan membaca pesan tersebut lalu tersenyum miring. Bulan bisa menebak, jika akan ada seseorang yang muncul sebagai pahlawan atas terungkapnya kasusu ini.
Atau malah dia akan muncul dan memainkan drama sehingga bisa mencari kesempatan dalam kasus yang tengah menjadi sorotan saat ini. "Kakek Timo?" tanya Bulan.
"Saya hanya mengatakan, jika dia berada di tangan kamu." sahut pak kepala, mengatakan apa yang dia katakan pada mereka
Bulan mengangguk pelan. "Apa kamu ingin menunjukkan pada media, jika kamu yang berhasil menangkap Timo?" tanyanya penasaran. Lagi, Bulan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sang kepala kantor.
Terdengar suara riuh dari luar. Bulan dan sang kepala kantor berdiri, keluar dari ruangan. "Pasti dia sudah sadar." batin Bulan.
"Pak, Timo sudah sadar. Dan dia sedang mengamuk di dalam sel." lapor seorang anggota kepolisian.
Mereka lantas bergerak menuju ke tempat Timo berada. Melihat sendiri apa yang sedang dilakukan Timo, hingga menimbulkan kegaduhan. Padahal dirinya di tahan masih dalam hitungan jam.
Timo memegang jeruji besi di depannya. Seakan hendak merobohkannya. "Keluarkan gue dari sini...!!" teriak Timo.
"Buka besi sialan ini...!! Kalian belum tahu siapa gue...!! Gue adalah putra pengusaha terkenal di kota ini." teriaknya dengan lantang.
"Ya,,, saya tahu." sahut Bulan dengan santai, setelah dirinya berada dekat dengan Bulan.
Timo menatap Bulan dengan ekspresi terkejut bercampur penasaran. "Bulan." panggil Timo.
"Iya,,, saya, Rio..Upsss.... atau perlu aku panggil Timo." Bulan menyeringai menatap Timo.
Timo tampak sangat syok mendengar apa yang Bulan katakan. "Timo. Dari mana dia tahu nama gue." batinnya.
Timo menggelengkan kepala dengan ekspresi cemas bercampur takut. "Tidak..!! Tidak mungkin. Pergi....!!" teriak Timo menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.
"Apa kita perlu memanggil dokter?" tanya sang kepala.
"Dan Timo akan dinyatakan mempunyai gangguan jiwa. Dia akan dimasukkan kedalam rumah sakit. Mendapatkan perawatan untuk rehabilitasi. Berpura-pura sembuh. Lalu dibebaskan. Dan tak lama, terkadilah kasus yang sama." ucap Bulan menatap Timo yang sedang meringkuk di dalam sel tahanan.
Timo mendengar apa yang Bulan katakan. Dia mengangkat kepalanya. Memandang Bulan dengan tajam. Layaknya seekor serigala yang hendak mengoyak mangsa di depannya.
Timo tiba-tiba berlari dan kembali memegang besi penghalang di depannya. Semua anggota kepolisian hang berada di sana sampai memundurkan langkahnya karena terkejut.
__ADS_1
Kecuali Bulan yang masih tenang di tempatnya berdiri. Timo menatap Bulan dengan penuh dendam. "Dan memang seperti itulah ciri-ciri seorang psikopat seperti dia. Sangat pandai memainkan peran." sinis Bulan.
Timo memajukan wajahnya, hingga kulit wajahnya menyentuh besi di depannya. "Hadapi gue jika berani. Satu lawan satu. Perempuan brengsek...!!" umpatnya.
Bulan berkacak pinggang. "Astaga... Wajah elo nggak pantas untuk berekspresi seperti itu. Rio, dia terlalu tampan." cicit Bulan.
Bulan berjalan perlahan. Mendekat ke arah Timo. Dan entah bagaimana caranya, kedua tangan Timo sudah berada dalam cengkraman Bulan.
"Kapan dia melakukannya?" batin seorang anggota polisi yang tidak melihat pergerakan Bulan.
"Dia begitu gesit. Pantas jika dia dengan mudah menangkap Timo seorang diri." batin Andre.
"Kekuatannya sangat besar." batin yang lainnya. Sebab Timo berontak untuk lepas, tapi cengkeraman Bulan tetap tak tergoyahkan. Padahal Bulan hanya menggunakan satu tangan.
Sebelah tangan Bulan yang bebas terulur ke atas. Membelai wajah Timo. Sret,,,,, Bulan dengan mudah melepaskan topeng di wajah Timo.
"Aaaa.....Ssshhh...." teriak Timo disertai desisan rasa sakit karena Bulan mendorongnya dengan kuat ke belakang. Hingga punggungnya terbentur tembok.
Semua yang melihat wajah asli Timo tercengang. Sedangkan Timo meraba wajahnya sendiri dengan tangan gemetar. "Sekarang, tunjukkan ekspresi menjijikkan itu. Pasti akan sangat pantas." ujar Bulan, dengan tangan meremas topeng yang tadi Timo gunakan.
Seorang anggota polisi datang. Membawa seragam penjara untuk dipakai Timo. "Pakai sendiri. Atau kami yang akan membantu memakaikan, dengan senang hati." dilemparkannya pakaian tersebut ke dalam sel.
Seorang anggota lainnya datang tergopoh-gopoh. "Maaf pak, didepan sudah banyak masyarakat. Entah dari mana mereka tahu, jika pelaku sekarang berada di sini." ucapnya.
Sang kepala kantor menatap Bulan. "Maaf, saya tidak ikut campur. Ini adalah wewenang anda." tukas Bulan yang mendapat anggukan dari sang kepala.
Sang kepala kantor bersama beberapa bawahannya menuju ke depan. Menyisakan Bulan bersama dua orang anggota lainnya yang memang secara khusus menjaga Timo.
Bulan menyesuaikan diri dengan Timo, dia berjongkok menatap Timo yang terlihat ketakutan. "Takut...?? Memang seharunya kamu merasakan itu." tukas Bulan.
Bulan kembali berdiri. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Neraka baru dimulai kawan. Dan gue yakin, neraka elo akan lebih mengasyikkan. Selamat menikmati. Neraka duni." tekan Bulan.
Timo berdiri. Kembali mendekatkan tubuhnya di jeruji besi. "Keluarkan gue dari sini. Apapun, apapun yang elo minta akan gue penuhi. Katakan." pinta Timo dengan raut wajah mengiba.
Bulan tertawa pelan. "Jaga dengan benar." tukas Bulan, menatap dua anggota polisi yang bertugas menjaga Timo.
"Hoeeyy,,,, jangan pergi...!!" buka pintunya...!!" teriak Timo melihat Bulan pergi menjauh.
Bulan melihat di depan sudah dipenuhi oleh masyarakat. Dengan para anggota kepolisian berjaga mengamankan kantor.
Tentunya mereka tidak akan membiarkan masyarakat masuk dan membuat semuanya tak terkendali. "Bagaimana kita mengatasinya?" tanya seorang anggota polisi hang tiba-tiba berdiri di samping Bulan.
"Itu bukan wewenangku." ujar Bulan. Meninggalkan kantor kepolisian melewati pintu samping. Bulan meninggalkan area parkir dengan penuh perjuangan.
Sebab, halaman telah dipenuhi oleh masyarakat yang ingin melihat wajah Timo. Bahkan Bulan mendengar teriakan jika mereka ingin Timo dihukum mati.
Sesampai di rumah, Bulan menyalakan televisi. Memastikan siaran di televisi telah selesai apa belum. Setelah memastikan jika siaran yang di buat oleh Gara selesai, Bulan mematikan televisi.
Menghubungi Gara. Supaya dia tak lupa menghapus jejaknya. "Oke. Gue mau istirahat. Sumpah ngantuk banget." tukas Bulan pada Gara di seberang telepon.
Saat Bulan hendak melepas jaketnya, ponselnya berdering. "Arya." cicitnya melihat siapa yang menghubungi.
"Ada apa?" tanya Bulan langsung, tanpa basa-basi setelah menggeser layar ponselnya.
"Emmm,,,, lebih baik mereka biarkan di sana dulu. Diluar keadaan masih belum kondusif." ujar Bulan, saat Arya menanyakan apa yang harus mereka lakukan pada Rio beserta mamanya, dan juga pada kakek Timo.
"Agak sore aku akan ke sana." ucap Bulan memberitahu. Lalu mematikan sambungan teleponnya dengan Arya.
Bulan melemparkan jaketnya ke kursi. Lalu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. "Segar sekali." cicit Bulan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk melilit di badan.
Bulan segera mengambil pakaian ganti dan memakainya. Tanpa mengeringkan rambut, dia langsung membaringkan badannya di atas kasur.
Kemungkinan kedua mata Bulan memang tak bisa diajak berkompromi. Nyatanya Bulan langsung memejamkan kedua matanya dan tertidur pulas.
Sedangkan Jeno, dia kembali memasang wajah kusutnya. Mengetahui jika Bulan tak akan segera datang ke villa. "Kemana dia pergi?" tanya Jeno lirih pada dirinya sendiri.
Sayangnya, Arya mendengarnya. "Mungkin bu Bulan pulang. Suaranya seperti malas, karena ngantuk." celetuk Arya.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Mikel bertanya pada mereka semua.
"Bukankah Bulan meminta kami untuk tetap di sini." timpal kakek Timo.
"Benar. Jika kakek keluar, kami takut kakek akan celaka, karena menjadi sasaran kemarahan orang-orang itu." tukas Jevo.
"Benar. Saya juga merasa lebih nyaman berada di sini. Apalagi, Timo memakai wajah Rio." ungkap mama Rio merasa khawatir.
Meski wajah sang putra sekarang tak tampak persis dengan wajahnya yang dulu, tapi jika rambut di dagu serta di atas bibir dibersihkan, pasti akan sama persis dengan wajah yang dipakai Timo.
Beliau hanya takut orang akan salah mengira. Dan malah akan menyerang sang putra. Apalagi keadaan Rio yang saat ini sangat tak memungkinkan untuk diajak keluar dari villa.
"Benar. Lebih baik kita tunggu bu Bulan. Pasti beliau mempunyai rencana untuk kalian semua." ujar Arya dengan yakin.
"Iya, saya setuju." sahut Rio yang sebenarnya juga merasa takut untuk keluar dan bertemu dengan orang, apalagi keterbatasan yang dia alami saat ini.
"Maaf, maafkan saya." cicit kakek Timo tiba-tiba, menatap Rio dan maka Rio bergantian.
Mama Rio menepuk pelan pundak kakek Timo. "Astaga kek,,, kenapa mesti meminta maaf. Kakek tidak bersalah. Cucu kakek yang bersalah. Sudahlah. Jangan bicara seperti itu lagi." tutur mama Rio merasa iba.
__ADS_1
"Kita berdo'a saja, semoga bu Bulan mempunyai cara, supaya kakek tidak dipenjara." tukas Mikel.
Disaat yang lain berbincang, Jeno malah sama sekali tidak fokus pada mereka semua. Pikirannya tertuju pada Bulan. "Tahu begini, gue nggak akan kembali ke villa." batin Jeno menyesal.
"Apa elo bisa membantu gue." bisik Jeno pada Arya.
Arya hanya menengok ke samping. Menatap Jeno dengan tatapan curiga. Apalagi, Jeno tersenyum penuh makna saat memandang dirinya.
"Cari tahu keberadaan Bulan." pinta Jeno, berbisik kembali di samping telinga Arya.
"Tidak...!" seru Arya, membuat semuanya spontan memandang ke arahnya.
"Arya...!!" dengus Jeno, karena Arya malah berteriak.
"Ada apa?" tanya Mikel penasaran dengan tingkah keduanya yang terlihat mencurigakan.
Arya langsung memamerkan deretan giginya. "Tidak,,,, tidak ada apa-apa." ucap Arya cengengesan.
Jevo tersenyum samar menatap Jeno, saudara kembarnya tersebut. "Pasti Jeno mencari keberadaan Bulan. Dasar." batin Jevo.
"Aaawww....!!" seru Arya, mendapatkan toyoran dari Jeno yang berdiri dan berjalan keluar dari villa dengan wajah masam.
"Gila." ujar Arya mengusap kepalanya bagian belakang.
Mama Rio dan kakek Timo hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil. "Sepertinya, umur mereka masih muda. Bisa jadi di bawah umur Rio." batin mama Rio menebak.
"Mau kemana dia?" tanya Mikel.
"Sudah. Biarkan saja. Nanti juga kembali lagi." sahut Jevo yang sepertinya bisa menebak kemana tujuan Jeno.
"Maaf, tante mengantuk. Apa tante bisa meminjam kamar." tutur mama Rio yang memang terbiasa tidur siang.
"Silahkan tante. Silahkan gunakan kamar mana saja yang tante suka." cicit Mikel.
Jeno kembali meninggalkan villa Mikel. Dan kemana dia pergi, tentu saja dia sedang mencari Bulan. "Pasti Bulan ada di rumahnya." batin Jeno mengendarai mobilnya ke kediaman Bulan. Teringat Arya mengatakan jika suara Bulan terdengar malas seperti orang mengantuk.
"Seandainya gue berani naik motor, pasti akan lebih cepat sampainya." cicit Jeno masih berada di jalan raya. Dan tak bisa melajukan mobil dengan cepat, karena didepannya ada beberapa mobil lain yang juga tengah melaju.
Akhirnya, Jeno hampir sampai di rumah Bulan. Tapi lagi-lagi dia tak bisa keluar dari mobil. Bukan karena ada Sella, melainkan Jeno melihat ada dua pengendara motor yang berada tak jauh dari rumah Bulan. Mereka berdua nampak mengawasi kediaman Bulan.
"Siapa mereka?" cicit Jeno, menghentikan mobilnya di tepi jalan. Menatap kedua lelaki mencurigakan tersebut dari dalam mobil.
"Apa yang harus gue lakukan?" tanya Jeno pada dirinya sendiri.
Turun dan keluar dari dalam mobil, masuk ke rumah Bulan lewat pintu depan. Pasti mereka akan melihat kedatangannya. Dan Jeno belum tahu siapa mereka. Tentunya Jeno tak bisa bertindak gegabah. Yang nanti malah akan membahayakan dirinya serta Bulan. Bahkan keluarganya.
Jeno mengambil ponsel. Mencoba menghubungi Bulan. "Ayo angkat sayang." cicit Jeno, karena Bulan tak segera mengangkat panggilan teleponnya.
Jeno bernafas lega, saat panggilan teleponnya di angkat oleh Bulan. "Sayang, kamu di dalam rumah?" tanya Jeno langsung.
"Hemmm..." sahut Bulan di seberang ponsel dengan malas.
Jeno tersenyum. Dia bisa menebak jika perempuan yang dia cintai tengah menutup kedua matanya. "Aku ada di depan rumah. Tapi aku tidak bisa masuk. Ada dua orang yang mencurigakan." jelas Jeno.
Di dalam kamar, Bulan langsung membuka kedua matanya mendengar apa yang dikatakan Jeno. "Ya sudah, jangan masuk." ujar Bulan dengan santai.
Bulan bangun dari ranjang. Memastikan apa yang dikatakan Jeno dengan mengintip dari balik gorden jendela rumah.
"Astaga... Kok kamu begitu sih, sayang." keluh Jeno, padahal Jeno mengharapkan jawaban yang lain dari Bulan.
"Padahal aku ingin bertemu kamu." lanjut Jeno merengek layaknya anak kecil.
Bulan menatap ke arah luar, mencari keberadaan orang yang dimaksud Jeno. "Tadi kita baru saja bertemu Jeno."
"Tapi masih kangen." cicit Jeno di dalam mobil.
Bulan melihat dua orang memakai jaket yang sama. Dengan kepala tertutup helm full face. Sehingga Bulan tak bisa melihat wajah di balik helm tersebut.
Jeno tersenyum jahil di dalam mobil. "Baiklah. Aku akan masuk. Biarkan saja mereka melihat kedatanganku." ancam Jeno.
"Jeno... jangan macam-macam." tegur Bulan, dan Bulan tahu bagaimana nekatnya Jeno.
Bulan mencoba mencari keberadaan mobil Jeno, sayangnya dia tak menemukannya. Kemungkinan besar terhalang tembok pagar di samping rumah.
"Memang kamu di mana?" tanya Bulan.
"Kamu tidak bisa melihatnya, pandangan kamu terhalang tembok pagar samping rumah." jelas Jeno, sesuai tebakan Bulan.
"Sebentar, aku akan ke sana." cicit Jeno tersenyum puas. Sayangnya, Bulan tak bisa melihat senyum jahil dari lelaki tersebut.
"Jeno... Jangan bertindak ceroboh. Kita belum tahu siapa mereka...!!" tegas Bulan khawatir.
"Tapi aku pengen ketemu kamu." kekeh Jeno.
Untuk membuktikannya, Jeno menyalakan kembali mobilnya. Melajukan kuda besi tersebut di depan rumah Bulan. Jeno yakin, jika Bulan sedang memantau jalanan dari dalam rumah.
Dan benar, Bulan hanya bisa melongo sembari kesal dengan tindakan Jeno. "Jeno,,, terus...!! jangan berhenti...!!" geram Bulan melihat mobil Jeno melaju dengan lambat di depan rumahnya.
__ADS_1
Padahal Jeno juga tak akan menghentikan mobil atau bahkan masuk ke rumah Bulan dari depan. Jeno tidak segila itu. Membahayakan dirinya dan Bulan.