
"Bukankah kita sudah makan, kamu beli untuk siapa?" tanya Jeno saat Bulan meminta pelayan rumah makan membungkuskan tiga porsi makanan.
Pasalnya, Bulan tak mungkin membeli untuk makan siangnya nanti. Karena makan siang masih terlalu lama untuk dilakukan. Atau membelikan seseorang di rumahnya. Sebab dia tinggal seorang diri.
Jeno bertanya dengan raut wajah datar. Menahan perasaan yang tak enak di dalam hatinya. Yakni perasaan cemburu jika sampai Bulan membelikan makanan untuk Gara.
Sebab, setahu Jeno, di markas masih banyak bahan makanan yang tersedia. Dimana, Arya lah yang membelinya. Jika hanya untuk Gara saja, kemungkinan masih bisa digunakan selama satu bulan ke depan.
Jeno juga lelaki normal pada umumnya. Tentu saja ada rasa cemburu jika perempuan yang dia cintai memperhatikan lelaki lain, selain dirinya. Tak peduli siapa lelaki itu.
"Kakek Timo." sahut Bulan, seketika melegakan hati Jeno. Jeno mengangguk kecil dan tersenyum. "Setelah dari sini, kita berdua akan menjenguk kakek Timo?"
"Ke toko pakaian dulu." ujar Bulan menatap wajah tampan brondong manisnya tersebut.
"Oke, aku akan mengantar kamu." tutur Jeno dengan antusias.
Bulan mengangguk. "Lalu, setelah itu, kemana lagi?" tanya Jeno dengan semangat, sangat senang menjadi sopir pribadi dari Bulan.
Ditambah, hari ini mereka tak pergi ke sekolah. Membuat Jeno mempunyai alasan untuk berduaan dengan Bulan sesuka hati.
"Sudah. Ke tempat kakek Timo."
"Baiklah. Kita akan bersama menjenguk kakek Timo."
"Hanya aku."
Raut wajah Jeno yang tampak senang, langsung berubah mendengar ucapan Bulan. "Kenapa?" tanya Jeno dengan tatapan penasaran.
"Dan semua anggota polisi yang berada di sana akan bertanya-tanya. Apa hubungan seorang Bulan dan kakek Timo dengan Jeno. Salah satu putra kembar dari Tuan David dan Nyonya Rindi.'' ungkap Bulan.
"Katakan saja, jika aku kekasih kamu." ujar Jeno dengan enteng.
"Tidak semudah itu Jeno." tutur Bulan ingin Jeno mengerti keadaan serta posisinya.
"Kenapa? Timo sudah tertangkap. Lalu apa lagi?" tanya Jeno kekeh ingin diperkenalkan oleh Bulan sebagai kekasihnya pada semua orang.
Bulan menghela nafas panjang. Dirinya tak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya akan dia lakukan pada Jeno. Tepatnya misi yang akan dia laksanakan selanjutnya.
Dan salah satu alasan Bulan belum mengungkap hubungannya dengan Jeno adalah keamanan keluarga Jeno sendiri.
Bulan sadar, dia akan berhadapan dengan siapa. Meski Bulan juga tahu, siapa Tuan David. Tak sembarang orang bisa menyentuhnya.
Tetap saja, Bulan tak ingin hal tersebut malah menjadi titik kelemahannya. Cukup satu kelemahannya saat ini yang diketahui musuh. Keluarganya di desa. Jangan sampai musuh mengetahui jika hati Bulan sudah tertambat pada lelaki muda, putra keluarga ternama di kota ini.
"Lakukan apa yang aku inginkan. Atau, jangan pernah menemui aku lagi." ancam Bulan.
Bulan tahu bagaimana sifat Jeno, hanya dengan memberi ancaman seperti itu, Bulan yakin jika Jeno akan menjadi kelinci manis yang penurut.
Jeno memoyongkan bibirnya. "Iya." ketusnya dengan perasaan tak ikhlas.
Jeno mencuri pandang ke arah Bulan yang fokus pada layar ponselnya. "Apa sebenarnya alasan Bulan? Kenapa dia tidak ingin semua orang tahu? Padahal, papa dan mama sudah merestuinya. Lalu, kenapa Bulan tidak mengatakan alasannya dengan jelas." batin Jeno menerka-nerka.
Membuat Jeno semakin penasaran, kenapa Bulan enggan mengenalkan dirinya sebagai lelaki yang saat ini menempati hatinya.
"Guru. Mungkin karena itu. Ya, bisa jadi." batin Jeno menebak.
Jeno mengira jika Bulan melakukan atau menutupi hubungan mereka dari orang luar karena profesi Bulan saat ini.
Jeno berpikir, pastinya Bulan akan mendapatkan tekanan dari pihak sekolah. Jika sampai semua tahu jika mereka berdua berhubungan layaknya pasangan kekasih.
Terlepas dari kedua orang tua Jeno yang sudah memberi lampu hijau untuk keduanya. "Pasti kerena itu. Bulan tidak kuat menerima tekanan itu." batin Jeno lagi.
Padahal, Bulan sama sekali tidak memikirkan pihak sekolah atau para murid dan mereka yang berada di lingkungan sekolah, jika Bulan dan Jeno mempublikasikan hubungan keduanya.
__ADS_1
Bagi Bulan, tekanan mental atau sejenis serangan yang membuat dirinya meras minder, tidak akan pernah mengenainya.
Selesai pelayan tersebut membungkus makanan yang dipesan Bulan, dia memberikan pada Bulan yang masih duduk di meja bersama Jeno, menunggu makanan tersebut.
"Ini Nona." tukas sang pelayan, sembari mencuri pandang ke arah Jeno. Padahal dia sedang berbicara dengan Bulan.
Hal tersebut tak luput dari perhatian Bulan yang memang selalu peka. Bulan memberikan uangnya pada pelayan tersebut, lalu berdiri.
Niatnya untuk melangkahkan kaki terhenti saat sang pelayan mengeluarkan suaranya. "Kalian berdua pasti adik kakak. Sangat mirip." celetuknya.
Jeno dan Bulan menatap sang pelayan dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Bulan lalu mengalihkan pandangannya dan tersenyum sinis.
"Trik mendapatkan perhatian dari Jeno. Lumayan juga." batin Bulan merasa sebal dengan sang pelayan yang sok akrab.
Jeno tersenyum sempurna. "Benarkan. Kami mirip?" tanya Jeno, membuat Bulan semakin muak dan ingin segera meninggalkan rumah makan tersebut.
Sang pelayan yang merasa triknya berhasil membalas senyum Jeno dan mengangguk yakin. "Benar." sahutnya.
Jeno segera meraih lengan Bulan, saat Bulan hendak melangkahkan kakinya. "Sayang,,, dengar. Pelayan bilang wajah kita mirip." tukas Jeno dengan nada lembut. Memandang Bulan dengan penuh cinta.
Bulan menatap Jeno yang juga sedang menatapnya dengan hangat. Lalu Bulan tersenyum manis. Sedangkan sang pelayan terkejut mendengar panggilan yang dilontarkan Jeno pada Bulan.
Cup.... Jeno mengecup penuh cinta sebelah pipi Bulan. "Kata orang dulu, jika mirip itu jodoh." cicit Jeno, mengusap pipi Bulan yang baru saja dia cium dengan lembut.
Bulan tersenyum malu, membuang wajahnya ke sembarang arah. Tentunya tak ingin Jeno melihat wajahnya yang memerah seperti tomat matang.
Tanpa melepaskan tangannya di lengan Bulan, Jeno merogoh saku jaketnya. "Ini untuk mbaknya." Jeno memberikan tiga lembar uang berwarna merah pada sang pelayan.
Sang pelayan dengan ekspresi cengo menerima uang tersebut. "Terimakasih telah memuji kami. Mengatakan jika kami mirip. Kami pasti akan datang lagi ke sini." tukas Jeno.
"Benarkan sayang?" tanya Jeno pada Bulan, yang hanya diangguki oleh Bulan seraya tersenyum.
"Lihat, hanya tersenyum saja, kamu bisa secantik ini." gombal Jeno pada Bulan.
Di dalam, masih ada beberapa pengunjung lainnya yang masih menikmati makanan mereka. Tentu saja mereka mendengar dan melihat semua yang terjadi.
Sang pelayan rumah makan tersebut meremas uang kertas pemberian Jeno, dan langsung melangkahkan kaki ke belakang. "Pasti dia sangat malu." ujar pengunjung lainnya, menatap sang pelayan.
"Makanya, punya mulut di jaga. Sok kenal, sok dekat, sok cantik. Padahal cantikan mbak yang tadi. Jauuuuh." celetuk pengunjung lainnya.
Brak.... Bulan masuk ke dalam mobil. Menutup pintu mobil dengan keras dan kasar. Hingga Jeno saka terkejut. "Bisa bahaya jika dia marah. Lebih baik gue diam saja." batin Jeno sembari memakai sabuk pengaman.
Jeno cari jalan aman. Tak ingin mengungkit perkataan pelayan tadi di rumah makan. "Pelayan sialan,,, sumpah, gue nggak akan lagi makan di sana." batin Jeno, mulai menjalankan mobilnya.
Selama di perjalanan, Jeno dan Bulan hanya saling diam. Bulan menampilkan ekspresi datarnya, dan menatap lurus ke depan.
Sedangkan Jeno, berkali-kali mencuri pandang ke arah Bulan. Meski Bulan tampak tak marah, tapi Jeno yakin. Jika Bulan sedang marah.
"Khemm... Sayang,,, kita pergi ke toko yang mana?" tanya Jeno memecah keheningan.
"Jalan saja. Nanti aku akan katakan jika berhenti." ketus Bulan.
"Baik sayang." sahut Jeno menghela nafas pelan, takut jika Bulan semakin marah jika mendengar helaan nafasnya.
Jeno tersenyum samar. "Bulan cemburu. Artinya dia juga mencintai gue. Tapi,,, menakutkan juga jika begini." batin Jeno merasa senang bercampur khawatir.
"Berhenti di toko itu." Bulan menunjuk ke arah toko yang ada di seberang jalan.
"Baik sayang." sahut Jeno.
Segera Bulan turun dari mobil, setelah Jeno menghentikannya di area parkir. Jeno dengan cepat keluar dari mobil dan mengejar Bulan.
Jeno melihat Bulan sedang berbicara dengan seorang pegawai toko yang berjenis kelamin laki-laki. "Sayang,,, mau beli apa?" tanya Jeno, langsung mendaratkan satu tangannya di pundak Bulan.
__ADS_1
"Pakaian lelaki." sahut Bulan.
"Silahkan." ujar sang pegawai memberitahu tempat pakaian tersebut di taruh.
Bulan dan Jeno memilih beberapa pakaian untuk kakek Timo. "Jangan itu Jeno. Sebaiknya pakaian hangat saja." ucap Bulan memberitahu, sebab kakek Timo pasti menggunakan pakaian yang disiapkan oleh pihak kantor polisi.
"Benar juga." sahut Jeno tersadar, mengembalikan lagi kemeja yang dia ambil.
"Hanya ini?" tanya Jeno, melihat Bulan hanya mengambil dua helai jaket.
Bulan mengangguk. "Jangan terlalu banyak. Aku juga ingin membeli selimut." tukas Bulan.
"Oke, terserah kamu. Aku ikut saja." sahut Jeno.
Bulan tersenyum lalu menuju ke tempat lain. "Syukurlah, Bulan ku sudah tersenyum." batin Jeno lega.
"Gunakan ini saja." Jeno menyerahkan sebuah kartu pada kasir, saat mereka hendak membayar.
Petugas kasir menerima kartu yang disodorkan Jeno dengan segera. Dama seperti pelayan di rumah makan, dia juga mencuri pandang ke arah Jeno.
Tak ingin membuat Bulan marah, Jeno segera membalikkan badan. Menatap wajah cantik sang kekasih seraya tersenyum.
"Maaf, ini kartunya." ujar sang kasir mengembalikan kartu milik Jeno.
"Biar aku yang bawa, sayang." ujar Jeno, mengambil paper bag berisi barang belanjaan mereka untuk kakek Timo.
Jeno merangkul pundak Bulan, berjalan beriringan menuju ke area parkir.
Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang melihat apa yang mereka lakukan. "Jeno,,, bu-- bu-- bu Bulan." batinnya merasa syok.
"Aduh.... aduh.... sakit...!!" serunya membuat Sella tak jadi keluar dari mobil.
"Elo kenapa?" tanya Sella pada Mita.
"Nggak tahu Sell,, tiba-tiba kakiku kram." cicit Mita beralasan. Dan tentu saja semua itu adalah kebohongan.
"Sell,,,, tolong, kamu tekan yang bagian sini, sakit sekali Sell,,, aku mohon." pinta Mita mengiba, menampilkan wajah kesakitan.
"Elo,,,,, hah.... Sini...!! Yang mana...!!" bentak Sella meminta Mita menunjukkan kepadanya bagian tubuhnya yang sakit.
"Ini." Mita menunjuk ke betis, sehingga Sella sedikit menunduk. Meski Sella melakukannya karena terpaksa.
Mita bernafas lega. Setidaknya dia sekarang bisa mencegah Sella untuk tidak keluar dari mobil. Sehingga tidak melihat kebersamaan Bulan dan Jeno yang sangat terlihat mesra.
Mita merasa sepenuhnya lega, saat melihat Bulan dan Jeno masuk ke dalam mobil, meninggalkan area parkir toko.
"Sudah...!! Enakan elo." ketus Sella.
Bukan karena Sella berbaik hati ingin menolong Mita. Sella melakukannya bukan tanpa alasan. Sebab, Sella mengajak Mita berbelanja, tentu saja Sella ingin menjadikan Sella pelayannya. Yang akan membawa barang belanjaannya.
"Keluar...!! Elo mau tetap di dalam...!!" bentak Sella, saat Mita tak segera keluar dari mobil.
"Iya." sahut Mita.
Dua kali. Dua kali Mita melihat kebersamaan Jeno dan Bulan. "Apa mereka menjalin hubungan." batin Mita penasaran.
"Penampilan Jeno, juga tidak seperti di sekolah." batin Mita. Sebab Jeno terlihat mempesona dan tampan. Seperti Jevo.
Meski Jevo dan Jeno kembar, tapi semua yang berada di sekolah bisa membedakan mana Jevo dan mana Jeno. Meski keduanya memakai pakaian serta gaya yang sama.
Tapi Mita tak mengatakan pada siapapun. Termasuk pada Sella. Mita tahu siapa Jeno. Dan siapa keluarga Jeno. Tentunya dia tak ingin kehidupannya yang dia rasa tentram akan memburuk jika mulutnya tak dia jaga.
Meski selama ini, Sella selalu menyuruh serta memerintah dirinya seperti seorang pembantu, tapi Mita merasa tak apa. Sebab keluarga Sella yang sudah banyak membantu keluarganya.
__ADS_1