PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 176


__ADS_3

"Ada apa sayang?" tanya Jeno sembari menyetir, setelah Bulan mematikan ponselnya karena baru saja menerima panggilan telepon dari Sapna.


"Tante Irawan meminta kita menghentikan penyelidikan ini." sahut Bulan.


"Jika aku boleh tahu, sebenarnya apa isi rekaman itu? Kenapa sampai tante Irawan ikut campur?" tanya Jeno, dimana sebelumnya Nyonya Irawan sama sekali tidak pernah memberi saran atau ikut campur ketika mereka membereskan masalahnya. Dan beliau hanya mengikuti saja apa yang dikatakan oleh Bulan.


"Nyonya Irawan menerima pelecehan saat di sekap. Dan itu dilakukan oleh beberapa lelaki yang menjaga mereka." Bulan terpaksa berbicara jujur. Lambat laun, dengan mereka terus menggali masalah ini, pasti Jeno akan tahu apa isi dari rekaman tersebut.


"Sial....! Banci...! Beraninya mereka melakukan itu...!! Biadab..!!" geram Jeno tidak mengira jika rekaman tersebut berisi hal seperti itu.


"Pantas saja, Sapna rela melakukan apapun." batin Jeno, setelah paham kondisi mereka saat ini. Jangankan Sapna, dirinya saja juga akan rela melakukan apapun demi sang mama.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jeno, mengetahui keinginan Nyonya Irawan yang disampaikan oleh Sapna.


"Apalagi yang bisa kita lakukan. Kita sudah berjalan sejauh ini. Tanggung juga jika kita mundur." ucap Bulan tersenyum manis memandang Jeno.


"Benar. Tenang saja. Calon suamimu ini akan selalu ada di samping kamu."


"Calon suami. Belum di ACC sama bapak." ledek Bulan.


"Jangan begitu sayang. Do'akan jalan kita lancar."


"Idiiihhh,,, jalan apaan. Jalan tolll..." sahut Bulan tertawa ringan menanggapi celotehan Jeno.


Tangan kiri Jeno terulur gemas mencubit pipi Bulan. "Sakit..." rajuk Bulan mesra mengelus pipinya yang baru saja di cubit Jeno.


"Salah sendiri. Kenapa menggemaskan." timpal Jeno.


"Mau bagaimana lagi,,, sejak dari kandungan aku memang menggemaskan." tutur Bulan dengan nada serta ekspresi yang dibuat-buat. Sehingga membuat Jeno tertawa.


Sekarang Jeno merasakan jika rasa cintanya untuk Bulan tidak bertepuk sebelah tangan. Sebelum ini, Jeno bertekad akan meluluhkan hati Bulan, seandainya cintanya pada Bulan tidak berbalas.


Jeno tidak tahu saja. Jika sebenarnya Bulan merasa insecure, dia minder. Merasa tidak pantas bersanding dengan dirinya.


Namun seiring berjalannya waktu, ditambah keluarga Jeno yang menerimanya dengan sangat baik, membuat Bulan merasa nyaman, serta berani mengeluarkan rasa sukanya pada Jeno.


Sehingga tidak membuat Jeno merasakan cinta tak terbalas. Meski begitu, Bulan sebenarnya sedikit merasa risau. Bukan karena pandangan masyarakat karena perbedaan usia mereka.


Melainkan dirinya belum berbicara pada kedua orang tuanya. Ketakutan terbesar Bulan, hanyalah pada restu kedua orang tuanya. Tidak lebih dari itu.


Seperti yang Jevo janjikan, setelah tugasnya selesai, Jevo memberikan uang pada perempuan suruhannya tersebut sebagai upah atas apa yang dia lakukan.


"Jika ada pekerjaan lagi, hubungi gue saja bos." ujar sang perempuan sembari mencium segepok uang di dalam amplop berwarna coklat yang baru saja diberikan Jevo padanya.


"Asal elo profesional dan dapat diandalkan, elo pasti akan terus gue pake. Jika mengecewakan, gue akan cari orang lain." sahut Jevo, lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan hotel. Menaiki mobilnya untuk menuju ke markas. Bergabung bersama yang lain.


Sedangkan sang perempuan juga meninggalkan hotel, dengan senyum sempurna di bibirnya. "Sudah dapat uang banyak. Menikmati tubuh hot, tampan, gila,,,, huhhh..... Kuat banget tuh bocah." cicitnya memuji permainan Revan di atas ranjang.


"Jevo... Seandainya saja gue perempuan baik-baik, gue pasti akan mengejar dia. Sayang sekali, gue nggak pantes masuk ke dalam keluarganya." cicitnya seakan tahu dimana dia menempatkan diri.


Perempuan mana yang tidak akan terpesona dengan apa yang dimiliki Jevo. Wajah tampan. Badan atletis. Satu lagi, dia pasti akan mewarisi setengah dari kekayaan keluarganya. Paket lengkap.


Jangan tanyakan dimana Revan. Dia masih tertidur lelap karena baru saja berolah raga malam di atas ranjang. Pasti setelah bangun, Revan akan tersenyum puas. Mengira jika perempuan tersebut adalah Sapna.


Sedangkan di sebuah ruangan, beberapa orang tertawa lepas menyaksikan permainan ranjang Revan dengan seorang perempuan yang mereka kira adalah Sapna. "Dengan begini, kita akan terus mendapatkan cuan boss,,, tanpa mengeluarkan uang karena harus menyewa perempuan." tukas seorang lelaki bertubuh pendek dan gemuk.


"Beruntung sekali kita mendapatkan rekaman itu. Terimakasih kawan, meski elo telah tiada, setidaknya kita bisa menghasilkan uang karena kau." sahut yang lain dengan logat medok tempat asalnya.


"Beri uang pada Revan. Dan katakan, dia akan kita panggil lagi, jika kita membutuhkannya. Pastikan dengan perempuan gang sama. Putri Bimo." perintah seorang lelaki tua, dengan rambut serta kumis yang sudah berwarna putih.


"Oke boss." sahut anak buahnya.


Lelaki tua tersebut tersenyum remeh. "Bimo,,, Bimo,,, itu balasan karena kamu sudah mengkhianati kita. Jangan salahkan aku, jika aku mencari jalan lain untuk menghasilkan uang. Karena jalan yang dulu telah kami tutup. Tidak sabar melihat ekspresi Bimo, saat dia tahu. Dua perempuan yang dia sayangi telah hancur." tukasnya tertawa lepas.


Dia sengaja melakukannya. Dendam pada Bimo karena merasa Bimo telah berkhianat, sehingga dia melakukan semua itu.

__ADS_1


Lelaki tersebut beranggapan, jika dirinya mempunyai dua keuntungan sekaligus. Menghancurkan Bimo, serta mendapatkan uang dari menjual video dimana Sapna pemerannya.


"Tapi boss,,,, banyak yang mengatakan jika putri Bimo masih perawan dan sangat lugu. Tapi,,,, jika dilihat di video itu, dia terlihat sudah pro. Dia sepertinya sangat mahir di atas ranjang." celetuk bawahannya yang lain dengan tatapan curiga.


"Cckk,,, jangan banyak omong. Dia seperti itu karena rasa takutnya. Dia takut jika dia sampai mengecewakan Revan, video itu akan tersebar. Booommm....." timpal yang lain, mematahkan spekulasi rekannya.


Lelaki tersebut mengangguk. "Ya,,, bisa jadi. Benar juga." ujarnya setuju dengan rekannya.


"Kalian jaga rekaman itu dengan baik." perintah sang bos, yang menandakan rekaman itu tidak ada di tangannya.


"Tenang saja bos. Rekaman itu ada pada saya. Dan akan saya simpan dengan sangat baik." tukasnya, memperlihatkan sebuah ponsel pada sang bos.


"Bagus." sahut sang bos merasa senang.


Di markas, Gara dan Mikel serta Arya bisa bersantai sejenak, sembari menunggu kedatangan Bulan dan Jeno, serta Jevo. "Elo dapat salam dari Sapna." ujar Mikel pada Gara.


Gara mengangkat kepalanya, memandang ke arah Mikel. "Elo bicara sama siapa?" tanya Gara, tidak percaya jika Mikel sedang berbicara padanya.


"Elolah... Masa angin." ketus Mikel.


Gara tersenyum samar. Tapi dia tak memperlihatkan rasa bahagianya. Meski sejujurnya dia ingin berteriak bahagia, hanya karena Sapna menitipkan salam padanya lewat Mikel.


"Kenapa? Elo nggak suka?" tanya Mikel memprotes, sebab melihat ekspresi Gara yang biasa.


Kenyataannya, Gara mati-matian menahan rasa harunya karena perkataan Mikel. "Lalu gue harus apa? Lagi pula, Sapna hanya titip salam. Terus mau elo,,, gue harus ngapain?" ujar Gara sok tidak peduli. Berbanding terbalik dengan apa yang ada di hatinya.


"Salam balik Gara...." seru Arya yang masih sempat-sempatnya menyela obrolan Mikel dan Gara. Padahal dirinya sedang memainkan game di ponsel.


"Gue sadar diri Arrrr..... Salam balik apaan. Kalau salam persahabatan gue okelah. Tapi jika salam yang lainnya,,, seharusnya elo tahu, keadaan gue." ucap Gara miris.


Kali ini, Gara tidak berpura-pura. Rasa senangnya seakan ditampar oleh keadaan. Dirinya yang sempat terbang, kini kembali sadar. Jika semua hanyalah angan semu. Sapna terlalu sempurna. Dan terlalu jauh untuk dia jangkau.


Keadaan hening. Baik Mikel maupun Arya terdiam karena ucapan Gara yang merendahkan dirinya sendiri.


Mikel dan Arya, keduanya melirik ke arah Gara yang sedang kembali sibuk dengan keyboardnya, dengan ekspresi yang sulit ditebak. Entah apa yang ada dalam benak keduanya.


Gara tersenyum kecut. "Perempuan mana yang mau sama gue. Lelaki cacat yang tidak berpenghasilan. Sekali gue keluar dari sini, nyawa gue akan melayang. Bahkan juga perempuan yang bersama gue." sahut Gara, mampu membuat Arya terdiam.


Keadaan kembali hening. Maksud Arya untuk membuat Gara kembali semangat malah seakan menambah buruk perasaan Gara.


Keadaan kembali lebih tenang, saat Bulan dan Jeno datang. Dimana tak berselang lama, Jevo juga datang untuk bergabung dengan mereka.


"Selidiki dua orang ini." Bulan menyerahkan dua lembar kertas pada Gara.


Sementara dirinya juga melakukan hal yang sama. Lewat dunia maya, Bulan jiga menyelidiki dua orang lelaki. Dengan begitu jumlah lelaki yang melecehkan Nyonya Irawan berjumlah empat orang.


Tidak membutuhkan waktu lama, Bulan dan Gara menemukan semua informasi terkait empat lelaki tersebut.


"Satu tempat kerja, dengan satu pimpinan." ujar Bulan. Gara yang berasa di sampingnya, menatap Bulan dengan pandangan khawatir.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Gara, benar-benar menampakkan raut cemasnya.


Semua yang ada di ruangan juga bisa menebak apa yang ada di depan mereka, hanya dengan melihat raut wajah Gara yang terlihat cemas.


"Apa ini sangat serius?" tanya Arya dalam hati.


Bulan tidak mengalihkan pandangannya dari layar di depannya. "Kita harus menemukan rekaman itu. Hanya itu yang kita lakukan sekarang. Tidka lebih." tekan Bulan.


Ekspresi wajah Gara yang terlihat cemas seketika berubah menjadi datar tak terbaca. "Bagaimana caranya?" tanya Gara.


"Ckk... Sejak kapan elo menjadi bodoh Gara.'' geram Bulan mendengar pertanyaan Gara.


"Sorry... Gue... Elo seharusnya tahu, siapa mereka bagi gue." cicit Gara.


"Ya... Kawan sekaligus lawan. Tepatnya mantan kawan yang menjadi lawan. Dan seharusnya elo tahu semua tentang mereka. Jadi tidak sulit bagi kita memperoleh apa yang kita inginkan." jelas Bulan.

__ADS_1


"Gunakan otak elo. Jangan hanya karena akan berhadapan dengan mereka, elo lupa bagaimana rasanya sekarat." imbuh Bulan sarkas.


Semua yang ada di dalam ruangan hanya diam, mendengarkan obrolan Bulan dan Gara. Keempatnya bisa menebak siapa yang dibicarakan Gara dan Bulan. Sehingga mereka tidak perlu bertanya lebih lanjut.


"Elo bisa menyabotase kamera CCTV yang ada di sana. Itupun jika markas mereka berkumpul masih sama." celetuk Jeno memberi saran.


"Benar kata Jeno. Pasti elo yang lebih paham bagaimana keadaan di sana. Dan bagaimana keamanan yang ada di sana." sahut Jevo.


Gara tidak mengeluarkan suara, dia langsung menggerakkan jari jemarinya. Mengakses perangkat lunak yang ada di markas yang pernah menjadi tempatnya berjuang hidup.


Tiiiittt......


Terdengar bunyi dari layar, bersamaan dengan berubahnya gambar di semua layar di depan mereka.


"Secepat itu." tutur Arya melongo takjub dengan kinerja Gara yang sangat ahli.


"Langsung ke tempat di mana tua bangka itu biasanya bersantai." pinta Bulan, yang langsung dilakukan oleh Gara.


"Maaf, gue tidak bisa melakukan lebih jauh. Atau kita akan ketahuan." cicit Gara, dimana dirinya tidak berani mengakses suara mereka, sehingga terdengar oleh Bulan dan yang lainnya.


"Tidak masalah. Perbesar layarnya. Kita lihat, siapa yang ada di sekitar tua bangka itu." pinta Bulan dengan kedua mata bagai elang yang menatap mangsanya.


Juga dengan keempat lelaki yang tadinya hanya duduk di belakang Bulan dan Gara. Mereka berdiri mendekat. Keempatnya juga mengarahkan pandangan mereka ke layar. Menatap gambar di layar dengan teliti.


"Apa yang sedang mereka lihat? Bisa elo perjelas." pinta Mikel.


Gara menggerakkan jarinya, sehingga terlihat apa yang ditonton oleh beberapa orang di layar tersebut. Meski gambar di layar yang mereka lihat sedikit kabur dalam tangkapan layar Gara, tapi Jevo bisa menebak apa itu.


"Itu rekaman Revan dengan perempuan tadi, di hotel." tukas Jevo.


"Elo yakin?" tanya Gara yang mendapat anggukan dari Jevo.


"Fokus ke semua lelaki di layar. Kita hanya bisa melihat gerakan mereka untuk menebak sesuatu." pinta Bulan pada semuanya.


Mereka semua diam. Dengan mata menatap fokus ke layar. Memperhatikan setiap gerakan mereka. "Tunggu,,, lihat lelaki itu. Sepertinya dia sedang menunjukkan sesuatu?" ujar Jeno menunjuk ke salah satu lelaki yang mengangkat ponsel.


"Ponsel." ucap Arya.


"Benar. Bisa jadi, bajingan itu merekam hanya menggunakan ponsel. Dan sekarang ponselnya ada di tangan lelaki itu." tebak Jeno menyimpulkan.


Bulan dan Gara saling pandang. "Kita harus memastikan sebelum bertindak. Jangan sampai kita bertindak tanpa tahu apapun." ujar Gara mendapat anggukan dari Bulan.


Bulan dan Gara kembali menggerakkan jari jemarinya di atas keyboard. Seketika layar berubah, memperlihatkan rumah mewah dimana Sapna dan Nyonya Irawan disekap. Yang juga tempat mereka menghabisi lebih dari lima puluh orang di sana.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Arya, sebab Bulan dan Gara kembali melihat rekaman CCTV beberapa minggu lalu di rumah mewah itu.


"Untuk memastikan. Jika lelaki tadi memang mengambil ponsel dari salah satu lelaki yang diselidiki bu Bulan dan Gara sebelumnya." jelas Mikel.


"Lihat itu." ujar Jevo menunjuk ke sebuah layar. Bulan segera memperbesar tampilan layar.


Dimana, di layar tersebut nampak lelaki yang mengangkat ponsel sedang menunduk, menoleh ke kanan dan kiri. Lalu memasukkan sesuatu ke dalam sakunya.


Bulan memperbesar layar kembali. Sehingga terlihat jelas wajah lelaki yang tergeletak di dekat lelaki tersebut mengambil ponsel. "Dia salah satu lelaki yang melecehkan tante Irawan." batin Bulan.


Dengan begitu, Bulan yakin jika video tersebut di rekam melalui ponsel. Dan sialnya, ponsel tersebut jatuh ke tangan orang yang salah. Sehingga dimanfaatkan untuk kejahatan.


"Dengan begini, kita tahu apa yang harus kita lakukan." ujar Bulan tersenyum miring.


"Mengambil ponsel di tangan lelaki itu." timpal Jeno.


"Sebelum itu, kita harus mengamankannya. Gara,,,! Lakukan sekarang." pinta Bulan.


Gara kembali memainkan jari-jemarinya di atas keyboard. "Dari mana kalian tahu nomor lelaki yang sudah mati itu?" tanya Arya, mendapat toyoran pelan di kepalanya oleh Mikel.


"Stop Gara. Aku yang akan mengambil alih." pinta Bulan tiba-tiba. Tentu saja Bulan tidak ingin Gara memutar video tersebut. Yang akhirnya semua akan tahu apa isi dari video tersebut.

__ADS_1


Tanpa bertanya, Gara berhenti. Dilanjutkan oleh Bulan. Semua hanya diam dan saling pandang. Tentu saja mereka penasaran dengan apa yang ada di dalam video tersebut.


"Sudah cukup. Untuk sementara, video tidak bisa dikirim ke ponsel lain atau benda lain. Tapi dia masih bisa diputar. Dan kita harus segera mengambil ponsel itu. Bagaimana caranya." tekan Bulan, setelah menekan sebuah tombol di atas keyboard.


__ADS_2