
"Apa ada masalah?" tanya Jevo, saat Arya terlihat fokus pada layar ponselnya setelah benda pipih tersebut berbunyi sekali.
"Jeno memintaku untuk mencari identitas detail seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di kursi mereka." ujar Arya menjelaskan.
"Lantas apa yang elo tunggu. Pasti Jeno membutuhkan dengan segera informasi tersebut." tukas Jevo.
"Itu dia masalahnya, elo tahu sendiri. Gue membutuhkan waktu. Nggak bisa secepat yang Jeno inginkan." jujur Arya, sebab dirinya memang belum begitu mahir.
Meski Arya bisa mencari tahu informasinya, tapi Arya tak bisa dengan cepat melakukannya. Dan masalahnya, Jeno meminta segera.
Arya hanya takut mengecewakan rekannya yang pasti saat ini sedang menunggu apa yang dimintanya.
"Biar aku saja. Sisihkan kursinya." pinta Gara.
Tanpa banyak berkata, Arya melakukan apa yang dikatakan oleh Gara. Sebab, Gara meminta ruang untuk kursi rodanya agar bisa mendekat ke keyboard.
Jevo dan Arya percaya pada kemampuan Gara. Apalagi mereka pernah mendengar celetukan dari Bulan yang mengatakan jika Gara akan membimbing Arya untuk bisa lebih memahami perangkat lunak tersebut.
Tanpa membuang banyak waktu, Gara memainkan jari jemarinya dengan lincah di keyboard. Arya dan Jevo sejenak saling pandang.
Kurang dari tiga puluh detik, Gara menyelesaikan semuanya. "Nomor ponsel Jeno." Gara menengadahkan tangannya ke samping tanpa melihat ke arah Arya ataupun Jevo.
Sebenarnya Gara mempunyai nomor ponsel Jeno. Tapi ponsel miliknya hancur saat dirinya di serang di markas yang sebelumnya.
"Ini." Arya memberikan ponselnya yang sudah menyala.
Gara memasukkan nomor ponsel Jeno ke dalam laptop. Dan ting.... terkirim dengan sempurna.
Arya dan Jevo kembali saling pandang. Lalu mengalihkan pandangan mereka ke Gara. "Apa sudah selesai?" tanya Arya, setengah tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Gara mengangguk. "Sudah."
"Gila, hebat banget dia." batin Jevo dan Arya.
"Bagaimana caranya. Gue saja sampai detik ini belum bisa secepat itu. Meski gue bisa melakukannya." jelas Arya dengan jujur.
Gara mendorong kursi rodanya ke belakang. Dengan sigap, Jevo membantu Gara. "Jika elo sudah tahu dasarnya, pasti elo akan mudah melakukannya."
"Tapi gue nggak. Gue tetap membutuhkan waktu."
"Mungkin, karena elo selalu ragu saat melangkah." tebak Gara.
Arya terdiam. Apa yang dikatakan Gara benar adanya. Saat mengoperasikan perangkat lunak tersebut, Arya memang selalu ragu untuk memencet tombol selanjutnya.
Ada perasaan takut salah pada diri Arya. "Benar bukan?" tanya Gara memastikan.
Gara tersenyum. "Gue dulu juga begitu. Tenang saja, gue yakin elo akan segera melakukannya dengan baik. Elo tahu kenapa?"
Arya menggeleng. "Karena Bulan. Bulan sudah memilih elo. Dan insting Bulan dari dulu tidak pernah meleset. Dan Bulan percaya sama elo. Itulah yang membuat gue juga merasa tidak ragu sama elo." jelas Gara.
"Gue akan berusaha." sahut Arya.
"Harus." timpal Gara.
"Sebaiknya elo belajar sana. Biar gue yang berada di sini." pinta Gara.
Arya dan Jevo saling pandang. "Jangan." tolak Jevo.
"Benar kata Jevo. Elo harus beristirahat. Pulihkan kesehatan elo." sahut Arya yang juga sepemikiran dengan Jevo.
Keduanya tahu, jika Gara baru saja sadar dari pingsannya. Raut wajahnya saja masih nampak pucat. Keduanya tidak ingin jika Gara sampai kelelahan, dan sakit kembali.
Pastinya, mereka akan mendapat omelan dari Bulan. Jika itu sampai terjadi pada Gara. Apalagi Bulan memang menitipkan Gara pada mereka berdua.
Gara tersenyum. "Tenang saja. Gue nggak selemah itu. Dan Bulan. Dia jadi urusan gue. Santai saja. Jangan khawatir." ujar Gara menyakinkan keduanya.
Jevo sedikit menggeser kursi yang dia duduki. "Oke. Biar Arya belajar. Gue akan tetap di sini." saran Jevo.
Arya mengangguk. "Bisa."
Arya duduk di sebelah Jevo. Dimana di sana juga terdapat sebuah laptop. Sementara Gara kembali mengotak-atik apa yang ada di depannya.
Sesekali, Arya memanggil Gara di saat dirinya kebingungan atau merasa ragu dalam mengambil keputusan.
Dan Gara, dengan santai memberi pemahaman pada Arya. Menyemangatinya untuk tidak mudah putus asa dan mudah menyerah.
Jika di markas ketiga lelaki tersebut sedang fokus pada layar laptop. Dan Jeno yang berada di restoran harus pandai-pandai menahan Rio agar tidak beranjak dari duduknya.
Pasalnya, Rio terlihat tidak nyaman setelah kehadiran perempuan yang ternyata adalah mantan kekasih dari sang dokter.
Tapi, Jeno merasa bersyukur dengan datangnya perempuan tersebut. Rio akan semakin mempercayainya. Dan juga, Jeno selalu membuka topik pembicaraan baru.
__ADS_1
Sehingga perempuan tersebut selalu menyahuti apa yang Jeno lontarkan. Dan Rio merasa sungkan jika harus meninggalkan meja.
Di tempat lain, Bulan sudah mulai beraksi. Dirinya dengan sangat mudah masuk ke ruang tersembunyi yang di temukan secara tak sengaja dalam misi sebelumnya oleh Jevo.
Bulan menjaga setiap langkah kakinya. Tentu saja, meski tak ada Rio di dalam rumah tersebut, Bulan harus tetap waspada.
Bulan tak ingin ceroboh. Dan semua malah akan berantakan. Karena dirinya masih belum mengetahui apa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Bulan berada di dalam ruangan dengan luas yang tak seberapa, dan tak ada apapun di dalamnya. Alias kosong.
Kosong. Sama sekali tak ada apapun. Bahkan meja kursi sekalipun. Temboknya juga sangat bersih. Tak ada satu gambar yang terpasang di sana.
Bulan berdiri di tengah. Tatapan matanya memindai apa setiap sudut serta setiap jengkal ruangan tersebut.
"Apa yang elo dapat?" Bulan mendengar suara Gara dari alat yang dia pasang pada lubang telinganya.
"Kenapa elo? Mana Arya?" tanya Bulan, balik bertanya pada sahabatnya tersebut.
"Dia sedang belajar." jelas Gara melirik ke arah Arya yang terlihat serius menghadap layar laptop.
"Gue sekarang berada di sebuah ruangan kosong dengan hanya satu warna. Tidak ada apapun di sini. Sama sekali. Dan gue merasa ada sesuatu di sini." jelas Bulan mendeskripsikan tempat yang sekarang dipijaknya.
"Elo harus tetap waspada. Siapa tahu ada jebakan di sana." tukas Gara.
"Tidak. Gue tidak merasakan bahaya sama sekali. Hanya saja...." Bulan menghentikan kalimatnya.
Bulan merasa ada hembusan angin dari arah lain. Dan itu mustahil. Sebab, ruangan tersebut tertutup. Bahkan ventilasi udara pun tak ada. "Bulan... Ada apa?" tanya Gara khawatir, karena Bulan terdiam.
"Tidak ada." Bulan menekan alat kecil di telinganya. Sehingga komunikasi antara dirinya dan Gara tak tersambung lagi.
Bagaimana Gara di tempatnya. Tentu saja uring-uringan seperti biasanya. "Sialan.... Bulan...!!!" seru Gara tertahan.
"Ada apa?" tanya Jevo, merasa khawatir. Juga dengan Arya yang kehilangan fokusnya karena suara dari Gara.
"Bulan, seenak udelnya mematikan komunikasi kita. Dia memang seperti itu. Kebiasaan." omel Gara dengan raut wajah kesal.
Arya hanya tersenyum samar. Kembali fokus dengan apa yang dikerjakannya. "Jevo..." panggil Gara.
Jevo hanya memandang Gara tanpa menyahuti panggilan Gara. "Apa suara gue begitu cempreng. Kenapa Bulan selalu merasa terganggu dengan suara gue, saat melakukan misi." ucap Gara seperti anak kecil yang sedang mengadu.
Jevo tersenyum. "Ternyata dia care juga. Tidak seperti yang gue bayangkan." batin Jevo.
Sekarang, Jevo merasa jika ternyata Gara sosok yang mudah beradaptasi. Padahal, Jevo mengira jika Gara sosok yang sulit untuk didekati. Dan terkesan kaku.
"Haaahh..... Terganggu. Apa dia tidak berpikir. Gue yang berada di sini, memantau dia juga malah bertambah khawatir. Jika tidak mendengar suaranya." dengus Gara, tetap tak ingin disalahkan.
Arya menyenggol punggung Jevo dari belakang. Jevo mengerti, apapun yang diucapkannya akan salah di mata Gara.
Karena Gara berada di posisi khawatir dengan keadaan orang yang dia sayangi. Dan itu tidak bisa disalahkan.
Juga dengan Bulan yang dengan tiba-tiba mematikan sambungan komunikasinya. Karena kemungkinan besar, Bulan sedang berkonsentrasi dengan apa yang ada di depannya. Dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.
"Dua-duanya benar. Dua-duanya salah." batin Jevo, memilih jalan tengah. Diam. Tak lagi membahas hal tersebut.
Bulan berjalan mengendap ke arah dimana dia merasakan angin berhembus. Di rabanya dengan perlahan tembok yang ada di depannya.
"Ini." gumam Bulan, merasa ada sebuah celah di tembok. Dimana ada hembusan angin dari balik tembok.
Bulan berjalan ke samping. Dirinya merasakan hembusan angin bukan hanya dalam satu titik. Tapi ada titik lainnya. Dan Bulan sedang mencarinya lagi.
"Siapa yang membangun tempat ini." gumam Bulan sembari mencari celah lainnya, yang dapat dipastikan itu adalah pintu.
"Ini dia." Bulan berhenti di depan tembok yang Bulan tebak ada sesuatu di baliknya. "Dua ruangan. Kenapa ada dua. Bukan satu." lirih Bulan.
Bulan memandang silih berganti kedua tempat tersebut. Bulan mengambil nafas panjang. Menempelkan daun telinganya di tembok yang ada di depannya.
Bulan memejamkan kedua matanya perlahan. Mencoba merasakan dengan hati, apa yang ada di dalamnya. Bulan kembali membuka kedua matanya dengan memicingkan sebelah matanya.
Beralih ke tempat pertama, melakukan hal yang sama dengan menempelkan daun telinganya di tembok.
Tidak seperti sebelumnya, dimana Bulan memejamkan kedua matanya lumayan lama. Tapi di tempat ini, Bulan hanya sebentar memejamkan kedua matanya. Tidak lebih dari tiga detik.
Segera Bulan mencari sesuatu yang bisa membuka pintu rahasia tersebut. Bulan merasakan ada kehidupan di balik tembok tersebut.
"Bau ini. Wangi manusia, dia masih hidup." ujar Bulan menebaknya.
Dengan insting serta kecerdasannya, Bulan mencari apapun itu untuk membuka pintu. Dan Bulan yakin, alat itu ada di sini. Alat yang bisa membuka pintu rahasia tanpa harus merusak pintu tersebut.
"Ini dia." Bulan menemukan ada perbedaan di bagian tembok paling bawah sendiri. Sebuah tombol kecil. Dan itu tidak terlihat, karena tersamarkan dengan warna yang menjadi satu dengan tembok.
Bulan menekan tombol tersebut. Dan segera memundurkan kakinya, seraya mengambil senjata untuk berjaga-jaga. Jika saja ada yang menyerangnya dari dalam saat pintu terbuka.
__ADS_1
Bulan tak lantas masuk begitu saja. Dia memastikan jika sang pembantu yang biasanya masuk ke tempat ini tidak merecoki pekerjaannya.
Sehingga Bulan memasang alat pada pintu. Dan itu berimbas pada pintu tak akan bisa dibuka dari luar. "Selesai. Dan gue akan aman." ujar Bulan.
Bulan menekan sebuah kancing yang berada di jaketnya. Dan itu bukanlah sembarang kancing. Melainkan alat perekam yang memang sudah Bulan siapkan sebelumnya.
Bulan melangkah masuk dengan pelan. Kedua matanya mengawasi setiap sudut yang dia lewati dengan jeli. Tak ada yang bisa luput dari pandangannya.
"Tempat apa ini." cicit Bulan, merasa jika tempat yang sedang dia pijak sangat menyeramkan. Ada berbagai senjata tajam terpasang di tembok.
Bulan memandang seluruh ruangan dengan seksama. Hanya ada berbagai macam jenis senjata tajam. Tanpa ada bau lainnya. "Bukankah tadi gue mencium wangi manusia. Indra penciuman gue nggak mungkin salah." batin Bulan.
Bulan mengeluarkan senjata, menggenggamnya di kedua tangan dengan posisi waspada. Memutar tubuhnya dengan perlahan.
Ruangan tampak tak berpenghuni. Padahal dengan jelas Bulan mencium aroma keringat manusia dari ruangan ini.
Bulan memasukkan pistolnya lagi ke balik jaket. Mengambil senjata yang lebih mirip bolpoin dari saku celananya.
Bulan berdiri mematung. Dengan jelas, dia merasakan pergerakan. Bulan dengan cepat mendongak ke atas.
Tidak salah lagi. Ada ruangan di atas. "Sebenarnya tempat apa ini?" batin Bulan menebak.
Ruang rahasia yang sangat unik dan terstruktur dengan begitu apik. Membuat Bulan terkesima. "Brengsek." umpat Bulan lirih.
Lagi-lagi dirinya harus mencari jalan agar bisa naik ke atas tanpa merusak apapun. Bulan memasukkan salah satu senjata di tangannya, dengan sebelah tangan masih memegang senjata. Sembari mencari jalan untuk bisa naik ke atas.
Tidak seperti tadi, yang memerlukan waktu lumayan lama. Untuk sekarang Bulan dengan mudah bisa menemukannya, dalam hitungan detik.
Bulan melangkah maju. mendorong sebuah senjata yang berasal dari besi, biasanya di gunakan untuk memukul musuh.
Digunakan untuk berkelahi dengan jarak dekat. Dengan memasukkan empat jari ke dalamnya, selain jempol. Atau biasanya disebut keling.
Bulan memundurkan langkahnya. Perlahan, tembok di depan Bulan bergerak. Dan pergerakannya berhenti saat beberapa batu bata muncul dari dalam. Jika dilihat menyerupai sebuah tangga untuk naik turun ke ruangan lain.
Bulan dengan tenang menaiki anak tangga yang hanya bisa dilewati oleh satu orang tersebut. Sampai di atas, Bulan mendorong perlahan plapon di atasnya.
Sedikit. Hanya sedikit. Bulan hanya ingin memastikan, apa yang tersimpan di dalam dengan mengintipnya.
Kedua mata Bulan melotot sempurna melihat apa yang ada di depan matanya. "Astaga..." batin Bulan. Tak lupa, Bulan mereka lewat celah kecil apa yang dia lihat.
Dengan perlahan, Bulan kembali menutupnya. Turun ke bawah. Mengembalikan keadaan seperti semula, dengan cara kembali menekan benda yang dia tekan sebelumnya.
Segera Bulan keluar dari ruangan tersebut. Tujuannya sekarang, masuk ke ruangan yang satunya lagi. Melihat apa yang tersembunyi di balik tembok tersebut.
Sebelum itu, Bulan kembali menyalakan alat komunikasinya dengan Gara. "Apa Rio masih bersama Jeno?" tanya Bulan.
"Masih. Apa elo menemukan sesuatu?" sahut Gara dan langsung mengajukan pertanyaan.
"Tenang saja. Gue sudah merekamnya. Katakan pada Jeno untuk menahan Rio. Ternyata di sini tidak hanya ada satu ruang rahasia. Tapi dua. Dan gue salut pada orang yang membuatnya." jelas Bulan.
"Oke. Elo hati-hati."
Bulan kembali mematikan alat komunikasinya dengan Gara. Tak ingin membuang waktu, Bulan segera masuk ke dalam ruangan kedua.
Bukan sebuah ruangan yang Bulan temukan saat pintu terbuka. Tapi sebuah terowongan. Bulan menaikkan sebelah alisnya.
Bulan teringat akan terowongan di salah satu markasnya yang menjadi tempat habitat para serigala liar.
Bulan mengeluarkan kedua pistolnya. Melangkah masuk dengan meningkatkan kewaspadaannya.
Pengap dengan bau menyengat.
Langkah kaki Bulan tidak menimbulkan suara, meski dia berjalan di terowongan. Kedua mata Bulan juga selalu waspada. selain fokus ke depan, dia juga memandang ke kanan kiri.
Juga dengan pendengarannya. Siapa tahu ada sesuatu yang mengintainya dari belakang. Langkah kaki Bulan terhenti, melihat apa yang ada di depan matanya.
"Dia..." cicit Bulan. Melihat seseorang dengan kondisi memprihatinkan. Kedua tangan di rantai ke atas. Dan kedua kaki di rantai di bawah. Tanpa sehelai baju di tubuhnya.
Bukan hanya itu, tempat yang dia tempati sangatlah tidak bersih. Lebih dari kata jorok. Bau kotoran manusia juga tercium di indera penciuman Bulan.
Tikus-tikus besar berseliweran, tak takut pada kedatangan Bulan. Bulan mengamati ruangan tersebut. Gelap, hanya ada satu lampu yang berwarna kuning redup.
Ruangan tertutup yang tidak ada ventilasi udaranya. Bulan mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya. Menaruhnya di tempat yang Bulan rasa aman dan tidak terlihat. Dan yang pasti tidak tersentuh oleh tikus-tikus.
"Siapa di sana?" tanyanya dengan suara lirih.
Bulan tak perlu khawatir. Sebab orang tersebut tidak bisa melihat. Terlihat di penglihatan Bulan, jika kedua mata orang yang berada di depannya sengaja di buat buta oleh seseorang.
Bulan memandang sayu ke arahnya. "Tenang saja. Gue akan menolong elo." ucap Bulan dalam hati.
Bulan segera kembali dan bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut. Semudah Bulan masuk ke dalam rumah mewah milik Rio. Semudah itu pula Bulan keluar dari dalam.
__ADS_1
Tak ada penjagaan pada rumah itu. Bahkan, di depan tak ada satpam yang menjaga. Semua yang bekerja di sana adalah pembantu perempuan.