PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 189


__ADS_3

Jeno terpaksa menghentikan mobilnya, karena sebuah pohon tergeletak memalang, menutupi seluruh jalan. Sehingga mobil tak akan bisa melewatinya. Jangankan mobil, sepeda motor saja tak bisa lewat.


"Kalian jangan ada yang keluar. Sampaikan pada yang lain. Dan jangan lupa, kunci pintu mobil." pinta Bulan dengan segera, lewat alat komunikasi yang selalu dia pakai saat menjalankan misi.


Sebelum berangkat, Bulan memang memerintahkan Jeno dan yang lain untuk menggunakan alat itu untuk berjaga-jaga.


Sama seperti saat mereka menjalankan misi. Bulan melakukannya untuk memudahkan mereka berkomunikasi. Sebab mereka tidak berada di dalam mobil yang sama.


"Ada apa pa?" tanya Nyonya Rindi, saat Jevo menghentikan mobilnya.


"Sepertinya ada pohon tumbang di depan." sahut Tuan David, hanya melihat sedikit pohon di pinggir jalan. Karena di depannya terhalang oleh mobil yang dinaiki Jeno dan Bulan.


Sementara Jevo langsung menghubungi sang sopir yang berada di urutan paling belakang untuk tetap berada di dalam mobil, jika tidak ada perintah untuk dia keluar. Apapun yang terjadi. Seperti apa yang Bulan perintahkan.


"Coba kamu lihat Jevo, nanti perjalanan kita makin lama." saran Nyonya Rindi.


"Jangan ma. Bulan menyuruh kita untuk tetap di dalam mobil. Ma, tante. Jangan pernah membuka pintu mobil, apapun yang terjadi." jelas Jevo.


"Loh,,,, kenapa?" tanya Nyonya Rindi terheran. Sedangkan Nyonya Irawan memilih diam, mendengarkan setiap ucapan mereka.


"Ma,,, turuti saja apa yang Jevo katakan." tegur Tuan David. Yang tahu bagaimana sifat sang istri yang memang terlalu besar rasa penasarannya.


Di dalam mobil, Arya dan Mikel juga bersikap waspada. "Apa terjadi sesuatu di depan?" tanya Sapna khawatir.


"Kurang tahu. Bulan hanya menyuruh kita untuk tetap berada di dalam mobil apapun yang terjadi. Jika Bulan tidak memberi perintah kita untuk keluar, maka kita tidak boleh keluar." jelas Gara yang memang tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Di urutan paling depan, Bulan dan Jeno juga belum keluar dari mobil. Keduanya sedang mengamati situasi yang terjadi. Dan tidak ingin bertindak ceroboh.


"Sepertinya pohon itu sengaja di letakkan di depan." tebak Jeno, yang di dengar oleh mereka yang menggunakan alat komunikasi di telinga mereka.


"Benar. Di sampingnya bahkan tidak terlihat bekas pohon tumbang atau bekas pohon yang di tebang." sahut Bulan.


"Apa perlu gue periksa?" tanya Jevo di mobil yang lain.


"Jangan. Tetap di dalam mobil. Biar aku saja." pinta Bulan.


Nyonya Rindi dan Nyonya Irawan merasa aneh, mendengar Jevo berbicara sendirian. "Kamu sedang berbicara dengan siapa?" tanya Nyonya Irawan.


"Bu Bulan tante." sahut Jevo.


Kedua perempuan tersebut merasa penasaran. Pasalnya Jevo tidak memegang ponsel. Lalu bagaimana cara berkomunikasi dengan Bulan. Rasa penasaran keduanya, membuat mereka berdua sedikit mencondongkan badannya ke depan, mencari sesuatu yang digunakan Jevo untuk berbicara dengan Bulan.


"Ma,,, mama duduk saja dengan tenang." tegur Tuan David.


"Iya." sahut Nyonya Rindi dengan bibir cemberut. Apalagi rasa penasarannya belum terjawab. Nyonya Irawan hanya tersenyum canggung. Sebab dirinya juga mengikuti apa yang dilakukan Nyonya Rindi. Segera Nyonya Irawan duduk kembali dengan tenang.


Bulan hendak membuka pintu mobil. ''Biar aku saja. Kamu tetap di dalam mobil.'' ujar Jeno menghentikan gerakan Bulan.


"Jangan bercanda. Lakukan saja sesuai dengan yang aku katakan. Kita tidak tahu, apa yang ada di luar." tolak Bulan.


Bulan tentu saja menolak niat baik Jeno. Bukannya Bulan tidak percaya dengan Jeno. Tapi, dirinya merasa ada yang tidak beres. Ditambah pengalaman Jeno yang memang belum seberapa. Bisa-bisa, Jeno yang akan berada di dalam bahaya.


''Tapi...."


"Tidak ada tapi. Sudahlah, kita malah akan memperlambat perjalanan kita." tukas Bulan, yang membuat Jeno dengan berat hati melakukan apa yang Bulan inginkan.


Bulan mempersiapkan senjata di kedua tangannya yang dia simpan dengan rapi. "Tetaplah di dalam. Jangan menurunkan kewaspadaan kalian." pinta Bulan.


Bulan keluar dari mobil dengan kewaspadaan penuh. Indera pendengaran dan penglihatannya, serta penciumannya bekerja semua dengan baik.


"Pa... Lihat, calon menantu kita, kenapa dia turun sendiri. Aduh Jeno.... Bagaimana dia ini. Membiarkan perempuan turun sendirian." oceh Nyonya Rindi merasa cemas.


"Ma...!! Diam...!!" bentak Tuan David dengan suara rendah.

__ADS_1


Nyonya Rindi langsung terdiam. Dirinya bisa menebak, jika terjadi sesuatu. Terlihat jelas ekspresi sang suami yang tampak serius.


"Jeng,,,,, sebaiknya kita diam saja. Jangan merecoki mereka." bisik Nyonya Irawan, mendapat anggukan dari Nyonya Rindi.


Tuan David melirik ke samping, dimana beliau merasakan pergerakan sang putra. "Pistol." batin Tuan David sedikit terkejut. Tidak menyangka akan melihat hal tersebut.


"Sejak kapan." batin Tuan David, menebak kepemilikan pistol yang dipegang Jevo.


Tuan David merasa kecolongan. Pasalnya, dia selalu menyuruh beberapa orang untuk selalu memantau dan mengawasi apa yang dilakukan kedua putranya. Yang kemudian akan mereka laporkan pada dirinya.


Jevo menekan telinganya. "Suruh Gara untuk tetap di dalam bersama Sapna dan Arya, jika terjadi sesuatu di luar. Biar kita saja yang membantu Bulan. Kalian mengerti?" tanya Jevo, yang segera di jawab oleh Mikel dan Jeno.


Arya, Jevo tahu jika Arya tidak begitu lihai bermain senjata api. Jevo malah takut, jika Arya akan membahayakan dirinya sendiri dan juga orang lain.


Pandangan semua mata tertuju ke arah Bulan yang berjalan ke samping. Sehingga semua mata bisa melihatnya. "Apa yang terjadi?" tanya sang sopir yang berada di dalam mobil sendirian.


Sang sopir tahu, apa pekerjaan Bulan. Sehingga dirinya tidak terkejut jika Bulan sangat ahli memainkan senjata api atau senjata lainnya.


Bulan mengeluarkan senjata apinya. Mengacungkan ke atas. Dengan satu tangan memegang pisau lipat yang dia mainkan layaknya sedang bermain kayu.


"Jika mereka perampok bayaran, mereka akan keluar. Tapi, jika para buronan itu, mereka akan tetap bersembunyi." batin Bulan, dengan kedua mata bagai burung elang yang sedang mencari mangsa.


Dor.... Dor.... Dor.....


Bulan menembakkan beberapa tembakan ke udara, dengan selang waktu yang di jeda dengan lama penjedaan yang sama.


"Astaga." lirih Nyonya Rindi terkejut. Segera Nyonya Irawan memeluk tubuh Nyonya Rindi dan menenangkannya.


"Tidak apa-apa. Mungkin Bulan hanya ingin memastikan sesuatu." bisik Nyonya Irawan.


"Tetap saja saya kaget." lirih Nyonya Rindi, masih dengan jantung yang berdetak kencang.


Bulan memutar tubuhnya perlahan, mencari di mana musuh bersembunyi. Itupun jika ada. "Bersih." cicit Bulan, memastikan tidak ada pergerakan yang mencurigakan.


"Pa,, tetap di dalam. Jangan keluar dari mobil." pinta Jevo, langsung keluar dari dalam mobil. Bersamaan dengan Jeno dan Mikel, serta Arya.


Tuan David mengeluarkan ponselnya. Entah apa yang ditulis di layar ponselnya, dan dia kirim ke seseorang. "Pa... Apa semua baik-baik saja?" tanya Nyonya Rindi, yang masih berpelukan dengan Nyonya Irawan.


"Mama tenang saja. Semua baik-baik saja."


"Syukurlah." ucap Nyonya Rindi dan Nyonya Irawan bersama.


"Bulan membawa mereka terlalu jauh. Memang baik untuk mereka ke depannya, sebab mereka bisa berlatih dari sekarang. Tapi,,, jika dunia luar tahu, nyawa mereka juga terancam." batin Tuan David.


Tanpa Tuan David tahu, tanpa Bulan membawa mereka terlibat dalam beberapa misinya. Mereka akan tetap seperti sekarang. Tuan David hanya tidak tahu saja, apa pekerjaan yang dilakukan kedua putranya beserta kedua temannya di belakangnya.


"Apa semuanya aman?" tanya Arya.


"Sepertinya jebakan ini bukan ditujukan untuk kita." sahut Bulan dengan pandangan mengarah ke sampingnya.


Dimana ada beberapa ceceran darah yang sudah mengering di atas daun kering. Mikel berlutut, melihatnya untuk jarak yang dekat. "Sepertinya terjadi pembantaian tadi malam." tebak Mikel.


"Benar. Lihatlah." sahut Jevo, menatap ke arah lain. Beberapa pohon juga terkena cipratan darah. Yang sekarang sudah mengering.


"Sebaiknya kita cepat menyingkirkan pohon itu." ajak Arya merasa bulu kuduknya berdiri mendengar kata pembantaian.


"Berhati-hatilah. Lihat dulu sekitar pohon. Siapa tahu ada jebakan di sana." tukas Bulan memperingatkan.


Keempat lelaki muda tersebut segera mendekat ke batang pohong yang mereka tebak dengan sengaja di taruh di jalan untuk menghadang pengguna jalan.


Setelah memastikan sekitar pohon dalam keadaan aman, mereka berempat dengan bergotong royong mengangkatnya. "Papa, kenapa papa keluar. Biar kami saja." tukas Jeno, melihat sang papa tiba-tiba berada di sampingnya.


Bukan hanya Tuan David, sang sopirpun juga keluar dari mobil dan ikut membantu mereka. "Biar lebih ringan." sahut Tuan David.

__ADS_1


"Masa bapak bersantai di dalam Tuan muda. Sementara majikan bapak sedang kesusahan." timpal sang sopir membuat semua tersenyum.


"Apa yang dilakukan Bulan?" tanya Sapna melihat Bulan seakan sedang mencari sesuatu.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu." sahut Gara dengan jujur. Sama dengan Sapna, Gara juga merasa penasaran. Tapi apa boleh buat. Gara tak mungkin keluar dari mobil. Yang ada dirinya malah akan menyusahkan yang lain.


"Boleh aku minta nomor ponsel kamu?" tanya Sapna, menggunakan momen tidak adanya Mikel dan Arya untuk lebih dekat dengan Gara.


"Boleh." sahut Gara dengan senang hati.


Sebenarnya baik Gara maupun Sapna, sejak tadi ingin mengetahui nomor ponsel yang lain. Tapi keduanya sama-sama tidak enak hati dan menahan diri. Karena ada Arya dan Mikel di dalam mobil.


Mereka berdua hanya malu. Di tambah mereka tahu bagaimana watak Arya. Bisa-bisanya Arya akan terus menggodanya hingga nanti.


Maka kesempatan ini digunakan dengan baik oleh Sapna. Bergerak cepat, sebelum Mikel dan Arya kembali ke mobil.


"Terimakasih." cicit Sapna mengembalikan ponsel Gara.


Baru saja ponsel kembali ke tangan Gara, ponselnya sudah berdering. "Itu nomor aku. Kamu simpan ya" ujar Sapna memberitahu, dimana Gara menganggukkan kepalanya.


"Iya. Terimakasih." sahut Gara tersenyum malu. Juga dengan Sapna, yang menahan senyumnya. Dia tidak ingin Gara menyadari jika dirinya merasa gugup sedari tadi karena duduk bersanding dengan Gara.


Begitupun dengan Gara. Yang sebenarnya merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Sapna.


Di saat yang ada di luar sedang berjuang menyisihkan pohon yang berada di jalan. Gara dan Sapna juga berjuang untuk membuat hubungan mereka semakin dekat dengan berbincang.


Di sebuah pohon yang tidak terlalu besar, Bulan berdiri sembari mendongakkan kepalanya ke atas. Ada sebuah mayat tergantung tinggi di atas pohon yang tertutup dedaunan yang rimbun. Sehingga tidak akan ditemukan oleh pengguna jalan.


Bulan menoleh ke arah lain, merasakan jika ada pergerakan. Kembali Bulan mengeluarkan senjata apinya. Bukan untuk dia gunakan, tapi hanya untuk menggertak lawan.


"Gue harus segera pergi dari sini." batin Bulan, melihat rombongannya.


Tidak baik jika sampai terjadi perkelahian di sini. Apalagi ada Nyonya Rindi dan Nyonya Irawan. Jika Nyonya Rindi, Bulan tidak terlalu khawatir, sebab beliau pernah berada salam situasi sulit.


Tetapi Nyonya Rindi, Bulan takut jika Nyonya Rindi terkejut. Dan malah akan membuat beliau ketakutan. Dan lagi, afa satu alasan yang membuat Bulan memilih segera meninggalkan tempat ini.


Yakni Bulan sendiri belum tahu siapa yang akan dia hadapi. Dan berapa jumlah mereka. "Sayang....!! Sudah..!!" seru Jeno memberitahu Bulan.


Sebelah mata Tuan David menyipit. Hidungnya juga mengendus bau yang sangat familiar. "Pembantaian masal." batinnya.


Kedua mata Tuan David melebar sempurna. Tapi beliau sama sekali tidak mengeluarkan suara. "I-itu." tanpa sengaja, pandangannya melihat sebuah mayat berada di atas pohon. Dengan kaki di atas dan kepala di bawah.


"Sebaiknya kita segera bergegas. Jangan sampai kita terlalu siang sampai di sana." ajak Tuan David, segera masuk ke dalam mobil. Diikuti yang lainnya.


Yang sebenarnya Tuan David tidak ingin ada yang menyadari jika banyak mayat tergantung di atas pohon. Tapi Tuan David yakin, jika Bulan sudah mengetahuinya. Mengingat bagaimana tajamnya insting yang dimiliki Bulan.


"Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Jeno, setelah keduanya berada di dalam mobil.


"Tidak ada. Hanya seperti tadi. Beberapa bekas darah yang sudah mengering." jelas Bulan berbohong.


Mobil Jeno perlahan mulai berjalan, diikuti ketiga mobil di belakangnya. Kedua mata Bulan memandang ke arah spion di luar mobil, tepat di sampingnya.


Dengan jelas Bulan melihat seseorang berdiri di samping pohon besar, mengawasi mereka. "Gue tidak mungkin memberi perintah sekarang. Mustahil." batin Bulan.


Pasalnya hari ini hari minggu, dan Bulan sedang mengajukan cuti dua hari, untuk besok dan lusa. Jika Bulan memberi perintah sekarang, itu artinya Bulan juga harus turun ke lapangan sekarang. Dan itu tidak mungkin.


"Petugas macam apa gue ini. Lebih memilih urusan pribadi ketimbang urusan lainnya yang terlihat,,,,,," batin Bulan, menghentikan kalimatnya.


"Tidak sesederhana seperti yang terlihat." lanjut Bulan dalam hati. Sebab akan membutuhkan waktu lama jika Bulan memutuskan untuk menyelidikinya.


Mereka sudah menempuh perjalanan beberapa jam. "Akhirnya,,, sebentar lagi kita sampai." tukas Jeno dengan senyum sempurna di bibirnya. Melihat sebuah gapura besar, dimana dirinya pernah melewatinya dua kali bersama Bulan.


Saat berangkat ke rumah Bulan, dan saat meninggalkan desa Bulan. "Siapa?" tanya Jeno, mendengar ponsel Bulan berbunyi.

__ADS_1


"Bintang. Tanya kita sampai di mana." sahut Bulan sembari membalas pesan tertulis dari sang adik.


__ADS_2