
Saat ini, Bulan yang tengah berada di kantor polisi tersenyum puas melihat ke layar televisi. Dan Gara, dia juga selalu menampilkan senyumnya saat jari-jemarinya bermain di atas keyboard.
Juga dengan rekan-rekan mereka yang tengah di villa. Mereka semua menikmati makanan yang dimasak mama Rio sembari melihat apa yang disajikan oleh Gara di depan televisi.
Tapi tidak dengan kakek Timo. Meski di tangannya memegang sepiring nasi, tapi beliau sama sekali tak menyentuhnya. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu.
Biar bagaimanapun, Timo adalah cucunya. Tapi, beliau tahu. Apa yang dilakukan Timo adalah sebuah kesalahan besar. Dan dia juga mengutuk apa yang dilakukan oleh sang cucu. Namun di dalam hatinya tentu saja sedang tidak baik-baik saja.
"Huekk...." semua menghentikan makannya saat layar televisi menampilkan bagaimana Timo mengeksekusi dokter Vinc.
Perut mereka menjadi mual seketika. Sementara Rio yang memang tak bisa melihat, terus mengunyah makanan yang disuapkan oleh sang mama.
Mama Rio juga merasa mual bercampur ngeri melihat apa yang dilakukan lelaki yang selama ini tinggal bersama dirinya. Dan dia perlakukan layaknya sang putra.
Setiap detik, beliau selalu mengucap syukur. Karena Tuhan masih melindungi dirinya serta sang putra dari lelaki bernama Timo.
Meskipun sang putra, Rio mengalami kebutaan karena perbuatan Timo. Tapi beliau masih bersyukur, Rio masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya.
"Astaga...!! Dia bahkan menyajikannya secara langsung." seru Arya, tertuju pada Gara.
Gara sama sekali tidak menyamarkan atau mengeblur adegan kekerasan yang dilakukan Timo pada korbannya. Dia benar-benar melakukan apa yang Bulan perintahkan.
Memperlihatkan pada publik bagaimana kejam dan bengisnya seorang Timo. Sehingga semua orang akan mengetahuinya. Dan mengecam apa yang dilakukan oleh Timo.
Dan inilah yang memang diinginkan Bulan. Dengan disiarkannya secara langsung apa yang Timo lakukan, membuat Timo tak punya tempat untuk berlindung dan bersembunyi.
Meski Timo akan masuk ke dalam penjara karena perbuatannya, Bulan tentunya tak ingin mengambil resiko. Jika suatu saat Timo keluar dari penjara. Dia tetap tak akan di terima di manapun dirinya berada.
Dengan begitu, Timo hanya akan mempunyai dua pilihan. Mengakhiri hidupnya. Atau mengasingkan diri dari keramaian dunia. Sehingga dirinya tak akan pernah melakukan hal keji lagi. Sebab, semua wajah yang dia gunakan sudah dikenali oleh masyarakat.
Mustahil bagi Timo membuat wajah lagi, sebab sang kakek sudah berada di tangan Bulan. Dan mana mungkin, Bulan melepaskan kakek Timo.
Sebab, jika Bulan melepaskan beliau. Sama saja Bulan memberi peluang pada para penjahat di luar sana untuk mengekploitasi keahlian sang kakek.
Yang sama artinya, bagi kakek Timo. Keluar dari kandang macan, masuk ke mulut buaya. Lepas dari jerat sang cucu, kembali dikekang oleh orang lain.
Mikel menyenggol bahu Jevo, mengangkat dagunya ke arah kakek Timo yang menatap layar televisi tanpa berkedip.
Kedua matanya memerah. Menahan air mata. Dan tentunya perasaan yang hanya dirinya yang paham. "Kek,,," panggil Jevo dengan lembut.
Suara Jevo memanggil sang kakek membuat semuanya menatap mereka. Mengabaikan televisi yang masih menyala.
Jevo mengusap punggung kakek Timo dengan penuh kelembutan. "Apa yang sekarang kakek inginkan?" tanya Jevo dengan hati-hati.
Kakek Timo menunduk. Hening sejenak. Mereka semua menunggu apa yang ingin disampaikan kakek Timo. Sebab, tak mudah bagi beliau menjalani kehidupan di dalam masalah seperti ini.
"Jika saja bisa, saya ingin menggantikan Timo. Biarlah kakek yang mendekam di penjara. Bahkan seumur hidup. Kakek rela dibenci semua orang di seluruh dunia." cicit kakek Timo menjeda kalimatnya sejenak.
Beliau mengangkat kepalanya. Tampak air matanya tak kuasa dia tahan di kedua pelupuk mata. "Tapi itu tak mungkin. Jika Timo tetap berada di luar. Yang ada hanya dua kemungkinan. Dia dibunuh keluarga korban, atau dia melakukan pembunuhan lagi." lanjut kakek Timo berpikir logis, sebab semua wajah yang selama ini dipakai sang cucu sudah terpampang jelas.
Mama Rio menaruh piring beserta sendok yang masih berisi makanan. "Kek,,,, jangan pernah menyalahkan diri. Timo bukan anak kecil. Dia sudah dewasa. Dan bisa menentukan apa yang dia lakukan."
"Tapi, secara tak langsung aku juga ikut andil dalam kejahatannya." sela kakek Timo, masih menyalahkan diri.
"Kek,,, kakek tidak bersalah. Bukankah kakek tidak tahu, apa yang Timo lakukan dengan topeng-topeng tersebut." tukas mama Rio, yang sebenarnya ingin mengumpat dan menyumpahi Timo.
Namun beliau tidak melakukan hal tersebut karena menghormati dan merasa kasihan dengan sang kakek. Mama Rio memikirkan perasaan sang kakek.
Apalagi di usianya yang sudah tua. Harus menghadapi cobaan karena ulah sang cucu. Sungguh miris sekali.
Kakek Timo menghela nafas. Memandang semuanya secara bergantian. "Kenapa aku dipertemukan dengan kalian dengan keadaan yang seperti ini. Dan Bulan, dia perempuan baik. Tapi galak dan tegas." ucap kakek Timo, dimana saat mengucapkan kalimat terakhir, beliau tersenyum.
"Dia memang seperti itu kek. Kami saja harus taat dan disiplin jika ingin ikut dengannya." timpal Arya.
"Tapi dia sangat cantik. Astaga,,,, tante bisa membayangkan, betapa senangnya tante jika mempunyai menantu seperti Bulan. Pasti akan tante pamerkan ke rekan kerja serta tekan arisan tante." tutur mama Rio menjadi heboh sendiri.
__ADS_1
Mikel, Arya, dan Jevo melirik ke arah Jeno. Dimana Jeno sedang menatap ke arah mama Rio. "Kenapa kita malah ngobrol. Ccckkk,,,, bisa-bisa kita ketinggalan berita." tukas Jevo mengalihkan pembicaraan.
Arya menepuk pundak Jeno. "Tenang saja, elo jauh lebih tampan dari Rio. Pasti bu Bulan lebih memilih elo." bisik Arya.
Jeno tersenyum miring. "Pastilah." sahut Jeno dengan percaya diri.
Arya mencebik sembari memutar kedua matanya dengan malas. "Dasar." batinnya.
Dan sekarang, bukan hanya orang yang tinggal di negara ini saja yang tahu kejahatan Timo. Tapi seluruh dunia. Semua orang waras mengetahui perilaku seorang Timo yang sangat tak wajar.
Bulan masih duduk dengan tatapan mengarah ke televisi. Belum meninggalkan kantor polisi. Tentunya Bulan juga ingin melihat bagaimana Gara merangkai semua bukti untuk ditampilkan di layar televisi dan media lainnya.
"Maaf, apakah kita pergi sekarang?" tanya Andre, dengan pakaian santai seperti yang Bulan perintahkan. Juga dengan Hilman.
"Sebentar lagi." sahut Bulan tanpa menatap keduanya.
"Gila,,, bagaimana dia bisa melakukan semua itu?" teriak seorang polisi perempuan. Melihat Timo mengeksekusi dokter Vinc.
Bahkan, Gara tidak hanya memperlihatkan video tersebut. Tapi video lainnya. Termasuk tempat di mana tubuh Serra di kubur. Yang hanya menyisakan kepalanya saja. Juga dengan saat Timo menyiksa Rio.
Selain itu, Gara memperkuat jika pelaku selama ini adalah Timo, dengan setiap ucapan-ucapan Timo yang mereka dapat dari rekaman yang mereka taruh di sekitar Timo.
Tak hanya itu, Bulan juga memotret setiap tempat yang menjadi persinggahan Timo. Rumah kontrakannya. Rumah sang kakek, meski kini sudah hangus terbakar. Juga dengan ruangan rahasia Timo di kediaman Rio.
Beberapa polisi juga sudah bergerak ke tempat yang Bulan sebutkan di berkas yang dia serahkan kepada kepala kantor. Sehingga Bulan tak perlu menjelaskan dimana saja tempat Timo singgah.
Sebab dari sanalah, pihak berwajib akan menemukan semua buktinya. "Kenapa kamu tidak menghentikannya dengan segera, setelah tahu pelakunya?" tanya seorang polisi perempuan dengan nada tinggi. Bermaksud menyalahkan Bulan.
Bulan terkekeh pelan. Memandangnya dengan remeh. "Ingat posisi anda di mana? Apa kamu masuk dengan menggunakan uang?" sindir Bulan mampu membungkam mulutnya.
Seorang polisi masuk dengan tergesa. "Maaf ada paket, atas nama Bulan." ujarnya memberitahu.
"Iya, bawa ke sini. Itu untuk kalian." ucap Bulan.
Bulan tersenyum saat berada di pelataran. Masih menggunakan helm, mendengar teriakan dari dalam kantor.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Hilman.
"Abaikan." ujar Bulan.
Tentu Bulan tahu apa yang terjadi. Pasalnya, paket yang datang dan mereka buka sekarang adalah bagian-bagian tubuh dokter Vinc yang telah Bulan awetkan.
Bulan pergi meninggalkan kantor polisi menggunakan motornya. Sementara Hilman dan Andre berboncengan menggunakan satu motor.
"Siapa sebenarnya Bulan itu? Kenapa dia sangat arogan sekali. Bahkan pak kepala juga menghormatinya?" tanya salah satu dari mereka yang tadi dibentak Bulan.
Rekannya memberikan secarik kertas padanya. "Baca. Dan jaga lidah." ucapnya memperingatkan untuk tidak sembarang berucap saat ada Bulan.
Kedua matanya membola dengan mulut melongo membaca biodata Bulan yang tertulis di selembar kertas. "Jadi dia orangnya." cicitnya, menyerahkan lembar kertas tersebut pada rekannya yang lain.
"Aku pikir, yang namanya Bulan itu hitam, jelek, dekil, dan,,,,, yaaaa, pokoknya seperti itu." ujarnya menebak bentuk tubuh Bulan dengan raut wajah meremehkan.
Karena selama ini, Bulan memang terkenal di kalangan mereka sebagai salah satu anggota perempuan yang selalu menjalankan misi di pedalaman. Dan juga tempat yang tak layak huni lainnya. Tapi pulang dengan hasil memuaskan.
Dan ini pertama kalinya bagi Bulan menampakkan wajahnya di kantor polisi tersebut. Pantas jika sebagian besar mengira Bulan seperti itu. "Tapi nyatanya, dia seperti model. Gila, seksi sekali." timpal yang lain, sembari bersiul.
"Alaaaahhh,,,,, paling sudah nggak perawan. Saat menjalankan misikan dia perempuan. Sendirian. Bisa kalian bayangkan." sinisnya.
"Mana kita tahu." tukas yang lain, tak terlalu terpengaruh dengan omongan rekannya yang jelas sejak awal tak menyukai kehadiran Bulan.
Seperti tebakan Bulan, di tiga tempat yang disiarkan dalam berita telah banyak dipenuhi masyarakat. Tentunya mereka ingin mencari dan menangkap Timo.
Apalagi keluarga para korban. Bahkan, pihak berwajib seakan tak bisa menghadang mereka untuk masuk ke area tersebut. Saking banyaknya masa yang datang. Sehingga mereka menghubungi kantor polisi di kota tetangga untuk membantu mereka.
Beruntung, Gara sempat bertanya lewat pesan tertulis pada Bulan. Saat dirinya ingin menyiarkan secara langsung keberadaan Timo, sehingga semua orang dapat melihat apa yang dilakukan Timo. Dan Bulan mencegahnya.
__ADS_1
Bisa jadi, jika Gara menyiarkan secara langsung apa yang Timo lakukan, semua orang akan menuju ke sana. Jika mereka bisa menangkap Timo, tak masalah bagi Bulan.
Namun jika sebaliknya, Timo berhasil lolos dari mereka. Maka Bulan sendiri yang akan kebingungan mencari keberadaannya.
Di tempatnya, Timo tanpa rasa khawatir melakukan apa yang menjadi kesenangannya. Tanpa tahu jika sekarang dirinya menjadi buronan seluruh orang.
Sedangkan Tuan David serta Nyonya Rindi duduk dengan posisi Nyonya Rindi memeluk tubuh sang suami. Menyaksikan apa yang ada di layar televisi.
"Mama pikir, orang seperti mereka hanya ada di film. Ternyata mereka ada di sekitar kita." cicit Nyonya Rindi merinding takut, sesekali melihat ke layar tv, dan lebih sering menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Selesai bertemu dengan Bulan, Nyonya Rindi menunggu sang suami di dalam mobil. Lalu keduanya pergi bersama ke perusahaan.
"Selama papa di samping mama. Papa tak akan membiarkan orang seperti Timo mendekati mama." tutur Tuan David.
Tuan David merasa, sang istri menatapnya dengan intens. "Ada apa?" tanya Tuan David, saat dirinya juga menatap sang istri.
"Apa Bulan sama sekali tidak merasa takut ya pa?" tanya Nyonya Rindi melenceng.
"Sudah pekerjaannya ma."
"Berarti Jeno tidak perlu melindungi Bulan. Lalu bagaimana?" tanyanya dengan raut wajah cemas.
"Bagaimana apanya?" Tuan David balik bertanya karena merasa bingung.
"Biasanya seorang lelaki akan melindungi pasangannya. Jika pasangannya seperti Bulan. Lalu bagaimana?" tanya Nyonya Rindi merasa penasaran.
Tuan David tersenyum. "Pasti ma. Sekuat-kuatnya dan sehebat apapun seorang perempuan, pasti akan tetap membutuhkan seorang lelaki di sampingnya."
"Begitukah?"
Tuan David mengangguk pelan. "Jika Jeno dan Bulan berjodoh. Malah lebih baik. Mereka berdua bisa saling melindungi."
"Benar juga. Pasti berjodoh." kekeh Nyonya Rindi, sama halnya dengan Jeno, sang putra. Tuan David hanya bisa menghela nafas.
Bulan membawa dua anggota polisi tersebut ke tempat di mana Timo berada. "Apa di sini tempat persembunyiannya?" tanya Hilman.
Bulan membuka helmnya. Menaruhnya di atas motor. "Bukan. Dia memang sengaja gue giring ke sini." jelas Bulan.
Andre dan Hilman saling pandang sejenak mendengar gaya bahasa Bulan. "Santai saja. Sekarang kita partner. Anggap saja kita teman." jelas Bulan tahu apa yang mereka pikiran.
"Baik." sahut keduanya.
Bulan tersenyum sembari melihat sekelilingnya. ''Jeno atau Gara yang memilih tempat ini. Pemilihan tempat yang sangat hebat." ujar Bulan.
Bulan mengambil sesuatu di dalam saku celananya. Lalu, sedikit memasukkannya alat tersenut ke dalam lubang telinga. "Dimana dia berada?" tanya Bulan pada Gara yang berada di markas.
Hilman dan Andre lagi-lagi saling pandang sejenak, dan beralih memandang Bulan. "Oke." tukas Bulan, mengambil sesuatu lagi dari dalam saku celananya. Benda berbentuk seperti ponsel.
Bulan menekan tombol di benda tersebut yang terletak di sampingnya. Seketika benda menyala, dimana ada garis-garis serta gambar berbentuk kotak dan ada titik merah di salah satu kotak tersebut.
"Mendekat." pinta Bulan pada dua orang yang diajaknya.
Jari Bulan menunjuk ke titik yang ada di benda tersebut. "Dia ada di sini." jelas Bulan, yang mendapat anggukan dari Hilman dan Andre.
Ketiganya lantas mengalihkan pandangan ke arah rumah yang mereka tebak Timo berada di dalamnya. "Rumah nomor lima dari sini. Kanan jalan." tebak Andre.
"Tepat." sahut Bulan.
"Apa kita akan masuk dan menangkapnya?" tanya Andre.
Bulan tertawa. "Tidak perlu. Dia akan keluar sendiri."
Keduanya menatap Bulan dengan rasa penasaran. "Caranya?"
Bulan memandang ke arah rumah tersebut sembari tersenyum miring. Selama menyelidiki kasus ini, Bulan sudah cukup hapal bagaimana karakter dari Timo. Sehingga dirinya tak memerlukan senjata atau tenaga lebih untuk menangkapnya. Cukup dengan sedikit trik, dan Timo akan tertangkap.
__ADS_1