
Sepulang sekolah, Jeno menuju ke jalan yang dilaluinya semalam bersama dengan Bulan. Pandangan matanya menelisik setiap jalan.
Jeno turun dari dalam mobil. Tak lupa, Jeno tetap memakai penutup wajah. Sekedar untuk berjaga-jaga. Sebab, Bulan diserang di tempat ini. Tidak mustahil, dirinya akan mengalami hal yang sama.
"Disini." Jeno berdiri di mana Bulan mengumpulkan keempat orang lelaki yang sudah tidak bernyawa.
Jeno memandang sekitar. Jika dilihat sekilas, memang tak ada yang mencurigakan. Tapi Jeno merasakan ada yang berbeda dengan tempat ini. "Tempat ini, seperti dirancang khusus oleh seseorang dengan keahliannya." gumam Jeno.
Memang, pohon-pohon yang berjejer terlihat acak. Tapi Jeno melihat ada beberapa bekas pohon yang ditebang hingga sama tingginya dengan tanah.
Jeno mengamati sekitarnya. Sebab jalan ini akan menjadi jalan utama untuknya dan yang lain keluar masuk ke dalam markas. Dirinya harus hapal bagaimana kondisi sekitar markas.
"Kenapa bu Bulan harus melenyapkan mereka. Itu artinya, mereka adalah orang yang berbahaya."
Jeno melihat ke arah di mana markas barunya berada. Memang tidak kelihatan jika dari tempatnya berada sekarang. "Siapa mereka."
Jeno berjalan ke arah jurang. Dimana dirinya membantu Bulan membuang mayat mereka. Jeno tercengang melihat ke bawah. "Air." gumam Jeno.
Semalam, dia mengira jurang tersebut di penuhi tanaman liar. "Tapi, kenapa semalam tak ada suara apapun saat gue buang ke sana." cicit Jeno, merasa aneh.
Jeno kembali menajamkan penglihatannya. Tapi dia sama sekali tidak menemukan apapun selama beberapa menit berada di sana. "Lebih baik gue ke markas saja." tukas Jeno memutuskan.
Segera Jeno mengendarai mobilnya untuk masuk ke markas barunya. Dirinya ingin melihat keadaan markas secara mendetail. Karena semalam dirinya hanya berada di depan layar bersama dengan Bulan dan yang lain.
Jeno masuk ke dalam setiap ruangan. Termasuk ruangan yang katanya itu, adalah kamarnya Bulan. Hanya ada sebuah ranjang dan sebuah lemari kecil serta meja kecil di dalam ruangan tersebut.
Ternyata semua kamar memiliki perabot yang sama seperti kamar milik Bulan. Tidak ada yang berbeda. Jeno melangkahkan kakinya ke tempat lain.
Sebuah ruangan yang digunakan untuk kamar mandi. Tampak sederhana. Hanya ada bak tanggung berisi air dan sebuah gayung, dengan toilet jongkok di sampingnya.
Jeno berjalan ke arah lain. Terlihat seperti dapur. Tapi hanya ada sebuah teko listrik dan beberapa peralatan makan berasal dari plastik.
Jeno menyusuri setiap jengkal di dalam markas. Hingga dia menemukan sebuah tangga. Anehnya, tangga tersebut mengarah ke dalam. Bukan ke atas.
Ada rasa ragu saat dirinya ingin melangkahkan kakinya ke dalam. Apalagi di sampingnya tidak ada Bulan. "Lebih baik gue ke sana bersama bu Bulan." ucap Jeno, membalikkan badan.
"Ckkk,,,, kenapa gue harus nunggu bu Bulan. Pengecut sekali." ucap Jeno memaki dirinya sendiri.
Jeno menghembuskan nafas panjang. Melangkahkan kakinya menuruni tangga di dalam lorong gelap di depannya.
Tampak lembab. Jeno hanya mengandalkan insting saat melangkahkan kakinya. Tanpa menggunakan penerang. Di sisi jalan hanya ada tembok.
Setelah beberapa menit berjalan, Jeno melihat semburat cahaya. Segera Jeno mempercepat langkahnya.
Sebuah lapangan rumput yang luas terhampar di depan matanya. Lalu ada hutan yang mengelilingi lapangan rumput tersebut.
Jeno mendengar ada suara-suara aneh. "Suara apa itu."
Jeno segera membalikkan badan dan berlari secepatnya untuk kembali ke atas. Segera dia menutup pintu dan menguncinya, setelah berada di atas.
"Gila." umpatnya, dengan nafas tersengal karena baru saja berlari.
"Elo kenapa?" tanya Mikel yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Sontak saja Jeno terkejut. "Astaga...!! Elo bikin kaget gue...!! Brengsek...!!" seru Jeno.
Mikel tertawa melihat ekspresi Jeno. "Lagian elo kenapa. Kayak dikejar hantu saja."
"Ehh,,, suara apa tuh..??" tanya Mikel, telinganya mendengar suara aneh di balik pintu.
"Serigala." ucap Jeno.
Mikel terdiam sejenak. Lalu tertawa lepas. "Jangan bercanda. Mana ada serigala di sini."
"Ckk,,, terserah. Kalau nggak percaya masuk saja. Tapi jangan salahkan gue, jika ada apa-apa." ucap Jeno, dengan nafas masih tersengal.
Mikel berjongkok, menyamakan diri dengan Jeno yang duduk di depan pintu dengan tubuh menyender ke pintu. "Elo dari dalam?"
Jeno mengangguk. "Beruntung gue segera tanggap. Jika tidak, mungkin gue tinggal nama saat kalian temukan."
Mikel melihat wajah serius dari Jeno. "Kenapa bu Bulan tidak memberitahu kita jika ada hewan berbahaya di sini."
Jeno menggeleng. "Kemungkinan belum sempat. Elo tahu sendiri, semalam kita hanya sebentar."
"Benar juga." jeda Mikel. "Ada lagi tempat menyeramkan selain ini." Mikel menunjuk ke arah pintu yang disenderi Jeno.
Jeno menggeleng. "Gue belum tahu. Tapi kelihatannya masih ada." Jeno memandang ke arah lain. Yakni sebuah tangga yang menuju ke lantai atas.
Jeno menatap Mikel. Segera Mikel menggerakkan telapak tangannya. "Jangan ajak gue. Elo saja. Gue akan tanya sendiri sama bu Bulan." tolak Mikel, sebelum Jeno mengatakan apapun.
Jeno tersenyum remeh ke arah Mikel. "Terserah, elo mau ngatain gue apa. Gue nggak peduli." tukas Mikel.
Jeno bangun dari duduknya. "Mana yang lain?"
"Arya sedang membeli makanan. Katanya dia tidak bisa bekerja jika dalam keadaan lapar."
"Jevo?"
Mikel mengangkat kedua bahunya. "Dia nyuruh gue duluan."
__ADS_1
Sementara Bulan, masih di kediaman Gara. Ada beberapa hal yang harus dia selesaikan. Gara menajamkan kedua matanya, saat Bulan melepas jaket yang membungkus badannya. "Tangan elo?"
"Tidak terlalu parah." sahut Bulan, tak ingin membuat Gara khawatir.
Gara menatap dengan rasa penasaran yang besar. "Bagaimana bisa?"
Bulan merogoh ke saku celananya. "Semalam gue diserang. Empat orang lelaki." Bulan memberikan benda tersebut pada Bulan.
Gara mengambil benda tersebut. Menggenggamnya dengan erat. "Mereka. Ternyata mereka masih ada."
Tampak raut wajah Gara menahan amarah dendam yang begitu dalam. "Tenang. Gue akan jadi tangan dan kaki elo." Bulan menepuk pundak Gara.
Gara mendongakkan kepalanya. "Jangan. Masalah elo sekarang terlalu banyak."
Gara tidak ingin konsentrasi Bulan pecah. Dan lagi, Gara tidak mau jika Bulan sampai tumbang karena kelelahan. "Elo meremehkan tenaga gue." ketus Bulan.
"Bukan begitu, tapi elo memang harus fokus dulu untuk masalah ini." ucap Gara mencari alasan.
"Mereka terlalu berbahaya. Gue nggak mau elo kenapa-napa." ucap Gara dalam hati mengkhawatirkan Bulan.
Bulan sedikit menundukkan badannya. Kedua tangannya berada di kedua pundak Gara. "Bagaimana jika mereka berhubungan." ucap Bulan tersenyum aneh.
Gara sedikit ragu. Pasalnya, pimpinannya dulu selalu menolak untuk diajak kerjasama oleh siapapun. Dia senang menjalankan bisnisnya sendiri, memimpin sendiri, tanpa ada campur tangan pihak lain. Yang artinya, dirinya tidak ingin diperintah oleh orang lain.
"Tidak mungkin." ucap Gara ragu.
Bulan menyenderkan tubuhnya di tembok di depan Gara. "Waktu terus berjalan. Tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan semua orang juga telah berubah. Sekarang, kita tidak bisa menilai orang hanya dengan sekali pertemuan." jelas Bulan.
Gara terdiam sesaat, mencoba merenungkan apa yang dikatakan oleh Bulan. "Berapa jumlah mereka? Dan bagaimana keadaan mereka sekarang? Elo sudah mengamankannyakan?" cecar Gara.
"Empat orang. Dan sekarang mereka sudah berpindah alam." tutur Bulan dengan santai.
"Syukurlah." Gara terdiam kembali. Bulan tahu apa yang Gara sedang rasakan. Dikhianati, dibuang, bahkan hendak di bunuh.
"Khemmm... Berapa markas yang telah kita temukan?" tanya Bulan memecah keheningan.
"Tiga."
"Gue akan menyerang markas di saat dan waktu yang sama." tukas Bulan.
"Elo yakin, akan melakukan secara bersama?" tanya Gara, saat Bulan menginginkan untuk membuat huru hara di ketiga markas musuh secara bersamaan.
"Harus." sahut Bulan dengan pasti.
Apalagi, dirinya mendapat kabar jika ada musuh yang tengah menuju ke rumah keluarga Bulan. "Tapi siapa tahu kabar itu hanya bualan semata." tukas Gara.
"Baiklah. Gue ikuti apa yang akan elo lakukan."
"Gara, elo cari tahu. Siapa saja petinggi yang terlibat. Gue akan mencoba mencari sesuatu untuk membantu elo."
Bulan merogoh saku jaketnya. "Gue sampai lupa."
"Apa ini?" tanya Gara, saat Bulan memberikannya sebuah flash disk.
"Itu identitas keempat teman gue yang meninggal saat misi. Di situ ada beberapa video juga. Siapa tahu, elo menemukan sesuatu."
"Lalu, rekaman yang mereka cari?"
"Itu dia, gue masih mencoba berpikir."
Gara sibuk dengan jari jemarinya di atas keyboard. Sedangkan Bulan masuk ke dalam sebuah ruangan. Entah apa yang dilakukannya didalam.
Yang pasti, Bulan sedang membuat sesuatu yang akan dia gunakan nanti malam. "Bulan,, tata rapi kembali semuanya setelah elo ambil....!" teriak Gara dari luar.
Tak ada sahutan dari Bulan. Hanya terdengar suara benturan beberapa benda keras. Bulan tersenyum penuh arti. "Nanti malam, kalian pasti akan sibuk." gumam Bulan dengan tangan sibuk merakit sesuatu.
Seperti yang sudah di rencanakan. Moza pulang dengan dijemput oleh Rani. Keduanya sekarang berada di sebuah tempat makan.
Mengisi perut, seraya berbincang ringan. Berkali-kali Rani meminta maaf pada Moza, atas kejadian di club malam.
Polosnya Moza, dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Bahkan Moza juga tidak bertanya untuk apa Rani saat itu berada di sana.
Moza terlalu percaya dengan Rani. Sosok perempuan seumuran dengannya, yang sejak kecil berteman dengannya. Sebab rumah mereka memang hanya berjarak dua rumah dan juga mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama.
"Loh,,, kita mau ke mana?" tanya Moza pada Rani yang sedang menyetir mobilnya.
Moza memandangi jalan yang mereka lewati. Tampak asing dan sepi. "Gue mau ke rumah reman gue dulu. Nggak apa-apakan elo ikut?"
Moza mengangguk. "Oke. Nggak masalah. Lagian gue juga nggak ada kegiatan di rumah." tukas Moza tanpa curiga sama sekali.
Rani tersenyum samar, dengan santai terus melajukan mobilnya ke arah yang Moza sama sekali tidak pernah lewati. "Rumah teman elo di mana sih?"
"Sebentar lagi juga sampai. Dia anak orang yang nggak punya. Makanya rumahnya berada di tempat seperti ini." ucap Rani beralasan.
Moza melihat jauh di depan ada segerombolan lelaki sedang duduk santai di tepi jalan. "Ran,,, aman gak sih?"
Moza merasa jika sekumpulan lelaki tersebut menatap ke arah dirinya dan Rani. "Aman, gue juga sering datang ke sini."
Rani memang tidak berbohong. Dirinya memang sering datang ke sini jika memutuskan tenaga mereka.
__ADS_1
Rani tersenyum miring. "Gue yakin, kali ini elo nggak akan selamat. Lagi pula, siapa yang akan menolong elo di tempat seperti ini." ucap Rani dalam hati.
Jevo menghentikan motornya. Dia mengambil jarak dari mobil hang dinaiki Moza dam Rani. "Ngapain juga gue ngikutin mereka." gumam Jevo merasa aneh pada dirinya.
Jevo hendak pergi ke markas. Tapi dia melihat Moza pergi bersama seorang perempuan yang tak sengaja dia lihat di area parkir club malam saat dia menolong Moza.
Jevo menebak, jika perempuan tersebut hendak mempunyai niat jahat terhadap Moza. Itulah kenapa akhirnya Jevo mengikuti kemana mereka pergi. "Lagian, apa urusan gue sama anak baru itu. Cuma kenal doang. Akrab juga nggak."
Jevo memutar balik motornya dan pergi meninggalkan tempat tersebut. "Terserah dia mau apa. Bukan urusan gue." gumam Jevo saat mengendarai motornya.
Sedangkan Moza bertambah takut, saat sekumpulan lelaki tersebut menghadang mobilnya. "Ran.. Gimana nih?" tanya Moza dengan raut khawatir.
Rani tersenyum sinis. Tapi, sedetik kemudian dia merubah ekspresi wajahnya. "Elo di dalam saja. Apapun yang terjadi, elo jangan keluar. Jika terjadi sesuatu, elo tancap gas saja. Jangan pedulikan gue. Oke." ucap Rani panjang lebar.
Dirinya yakin, Moza tidak akan meninggalkannya. Dan dia akan keluar dari dalam mobil untuk menolongnya. "Tapi Ran,,, sebaiknya kita tabrak mereka saja." saran Moza.
"Sudah elo tenang saja. Nggak akan terjadi apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja."
Tentu saja Rani menolak ide dari Moza. Yang sama saja semua rencananya akan berantakan dan gagal lagi.
Dengan tenang, Rani keluar dari dalam mobil. Dia berjalan mendekat ke arah sekelompok lelaki berbadan kekar tersebut.
Moza hanya bisa melihat dari dalam mobil. Tanpa bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. "Tuhan, lindungi kami. Semoga tidak terjadi apapun dengan Rani." ucap Moza berharap dengan sungguh-sungguh.
Sementara Rani sedang berbincang santai dengan para lelaki bayarannya. "Gimana, elo udah bawa orangnya?" tanya salah satu lelaki dengan wajah mesumnya.
"Tenang. Dia ada di dalam mobil." ucap Rani.
"Kenapa nggak elo ajak keluar."
"Bodoh, sama saja Rani membuka permainannya. Tolol." bentak lelaki yang lain, mengejek rekannya.
"Kita mulai sekarang?" tanya lelaki yang lain pada Rani.
Jumlah mereka ada lima orang. Tampak badan besar dan tinggi. Rani menoleh ke belakang. Dilihatnya Moza yang menatap ke arahnya dengan ekspresi ketakutan.
"Tapi tunggu, elo yakin. Dia bakal turun dari dalam mobil?"
"Yakin, dia tidak ada pilihan lain." tukas Rani, seolah dia tahu jika Moza akan turun. Dan tidak melakukan hal lain.
"Dia bisa mencari bantuan?" timpal yang lain.
"Semua sudah gue atur. Kalian tenang saja. Lakukan bagian kalian dengan benar. Kalian akan mendapat banyak uang, plus kenikmatan dunia." jelas Rani.
"Baiklah kalau elo yakin. Kita mulai permainan kita dengan segera. Gue sudah nggak tahan ingin mencicipi tubuhnya yang seksi itu."
Rani dan kelima lelaki itu mulai melakukan peran mereka dengan apik. Berakting, terlihat begitu nyata. Seperti pada adegan film.
Moza ketar-ketir melihat Rani yang diperlakukan seperti itu. "Ponsel gue." Moza mencari ponselnya yang tiba-tiba menghilang dari tasnya.
"Astaga... kemana ponsel gue." ucap Moza histeris.
Dilihatnya Rani yang mencoba berontak saat kelima lelaki tersebut hendak melecehkannya. "Lebih baik gue tabrak saja mereka." ucap Moza.
Moza mengangguk. Tapi lagi-lagi, kunci mobil tidak ada di tempatnya. "Rani, elo taruh di mana kunci mobilnya."
Moza mencari ke setiap tempat yang mungkin Rani akan menaruh kunci mobilnya. "Aaa... kenapa seperti ini!!" seru Moza kebingungan.
Ponsel tiba-tiba tidak ada di dalam tasnya. Kunci mobil jiga tidak dia temukan. "Gue nggak mungkin ninggalin Rani dalam keadaan seperi itu."
Seperti apa yang dikatakan oleh Rani. Moza turun dari mobil dan berlari ke arahnya. "Benarkan, gue bilang." ucap Rani disertai kekehan kecil.
Moza melemparkan tasnya ke arah mereka. "Kalian...!! minggir...!!" seru Moza, dengan menarik tangan Rani.
"Elo nggak apa-apa kan Ran?" tanya Moza.
Penampilan Rani tampak berantakan. Dengan ekspresi wajah ketakutan. Rani langsung duduk di atas aspal, seolah badannya lemas.
"Lepas...!!!" teriak Moza, saat dirinya tiba-tiba di peluk dari belakang oleh seorang lelaki.
"Rani... tolong...!!!" teriak Moza meronta dengan menggerakkan kedua kakinya.
Rani masih duduk di aspal dengan bercucuran air mata. Dia seakan ingin menolong Moza yang dibawa pergi oleh mereka. Tapi seakan-akan Rani tidak punya tenaga.
Rani berdiri, mengusap air mata di kedua pipinya dan tertawa lepas, saat kelima orang suruhannya membawa Moza ke dalam bangunan yang tak jauh dari tempat Rani berdiri.
"Maaf Moza. Seharusnya kamu berterimakasih. Setelah ini, kamu pasti ketagihan." ucap Rani disertai tawa kerasnya.
Rani mengambil kunci mobil dari dalam saku celananya. Memainkannya dan berjalan ke arah mobil. Masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut dengan senyum terus tersungging di bibir.
"Berhasil." seru Rani dengan bangga. Seolah apa yang diinginkannya benar-benar tercapai.
"Jangan salahkan gue. Jika gue melakukan itu semua. Salahkan elo sendiri. Sok baik, sok alim. Suka cari perhatian. Dasar, penjilat." ucap Rani tersenyum sinis.
Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas dan kotor, Moza berusaha melawan kelima lelaki di depannya. "Minggir... !! Atau gue akan laporin kalian ke polisi...!" seru Moza mengancam.
Kelimanya tertawa lepas. "Laporkan saja, setelah kamu keluar dari tempat ini sayang." ucap salah satu dari mereka, menatap Moza bagai seorang mangsa.
"Lepasss....!" seru Moza, saat salah satu dari mereka mencekalnya
__ADS_1