PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 24


__ADS_3

"Apa kamu masih berhubungan dengan Claudia?" tanya Tuan David pada sang putra, Jevo.


Melihat Jevo yang hanya diam tak menanggapi pertanyaannya, membuat sang papa seolah bisa menebak jawabannya. "Tinggalkan dia. Papa nggak suka dengan perempuan macam dia." tegas Tuan David.


Bukannya marah atau merasa sang papa seperti sedang mengekangnya, Jevo malah mengeluarkan ucapan yang aneh di telinga Tuan David.


"Menurut papa, bagaimana dengan guru baru itu?" Jevo memainkan kedua alisnya naik turun.


"Hukk,,,, huk,,,,"


"Jeno." tegur sang mama, memberikan sebuah gelas berisi air minum untuk Jeno yang tiba-tiba terbatuk setelah Jevo bertanya mengenai Bulan pada sang papa.


Semua lantas memandang ke arah Jeno. "Kamu juga Jevo. Ngapain menanyakan bu Bulan. Ingat, dia guru kamu. Jangan macam-macam. Kamu juga Jeno." tekan Nyonya Rindi pada kedua putranya.


Tuan David mengambil secangkir kopi di atas meja. Menyeruputnya sedikit, kemudian meletakkannya kembali di atas meja.


"Jangan sampai kalian berdua menyukai satu perempuan." ucap Tuan David.


Nyonya Rindi menatap aneh pada sang suami. "Ini lagi. Papa juga aneh banget sih. Mana mungkin Jevo dan Jeno menyukai perempuan yang sama. Ada-ada saja." timpal Nyonya Rindi.


Jevo dan Jeno saling pandang. Seolah keduanya sedang berbincang melalui pandangan mata mereka.


"Elo suka sama bu Bulan?" batin Jevo.


Jeno mencebik, lalu menggeleng.


Jevo menatap tajam ke arah Jeno. "Awas elo sampai suka sama bu Bulan. Dia target gue selanjutnya." batin Jevo.


Jeno menipiskan bibirnya. Memutar kedua matanya dengan malas. "Dalam mimpi." ucap Jeno hanya menggerakkan bibirnya saja tanpa mengeluarkan suara.


"Kalian apa-apaan sih...!!" teriak Nyonya Rindi.


Jevo tiba-tiba melempar bantal kursi ke arah Jeno. Dan Jeno tak mau kalah. Dia melempar balik bantal kursi tersebut ke arah Jevo.


"Pa.... lihat kelakuan anakmu ini." kesal Nyonya Rindi.


Jeno berdiri. "Jeno ke kamar dulu ma, pa." pamit Jeno. Dan langsung berlari menaiki anak tangga.


"Jevo juga." ucap Jevo mengikuti Jeno dan mengejarnya.


Nyonya Rindi membuang nafas kasar. Memijit pelipisnya. "Ada apa ma?" tanya Tuan David, saat sang istri menatapnya intens.


"Papa nggak ada pikiran, jika mereka menyukai guru cantik itukan?" tanya Nyonya Rindi, seperti sedang mengintrogasi sang suami.


"Kenapa mama tanya papa. Tanpa tanya, papa yakin mama sudah tahu jawabannya." ujar Tuan David santai.


Nyonya Rindi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Jika Jevo, okelah. Mungkin dia hanya bermain-main. Tapi Jeno. Jangan sampai."


"Memang kenapa dengan bu Bulan. Papa rasa dia perempuan baik." ujar Tuan David terlihat tenang.


"Bukan masalah baik dan cantik. Tapi umur mereka. Mama takut." cicit Nyonya Rindi berpikir jauh.


Tuan David tertawa renyah. "Kenapa papa malah ketawa. Memang ada yang lucu dari ucapan mama?!" ketus Nyonya Rindi.


"Sudahlah ma, biarkan mereka menikmati masa remaja mereka. Santai saja. Papa yakin, mereka akan bertanggung jawab dengan pilihan dan tindakan mereka. Sebab mereka laki-laki." tutur Tuan David percaya dengan kedua jagoan mereka.


"Meski mereka laki-laki, kita harus tetap mengawasi mereka." sahut Nyonya Rindi.


Berbeda dengan sang istri, yang selalu ingin kedua putranya mengikuti setiap perkataannya. Sebagai seorang ibu, sampai kapanpun akan tetap memperlakukan anak-anaknya layaknya anak kecil. Meski pada kenyataannya mereka sudah tumbuh dewasa.


Jevo segera membuka pintu kamar Jeno. Mengikuti Jeno masuk ke dalam kamar. "Ngapain elo masuk ke kamar gue. Keluar elo, gue ngantuk." usir Jeno pada saudara kembarnya.


Jevo membaringkan badannya ke kasur empuk milik Jeno. Menelentangkan badannya hingga memenuhi seluruh ranjang besar milik Jeno.


"Ckkk,,, apa sih Jev,,, keluar sana." usir Jeno.


"Elo jangan suka sama Bulan ya..." rengek Jevo dengan mata malah menatap ke atas, bukan menatap lawan bicaranya.


"Bulan,,,, Bulan,,, dia guru kita. Panggil yang sopan. Bu Bulan."


"Yaela Jen, Bulan. Bukankah ada Bu nya juga." protes Jevo.


"Namanya Bulan. Jadi kalau manggil yang lengkap. Bu Bulan." geram Jeno.


"Aisshh,,,, kenapa kita malah meributkan nama panggilan untuk Bulan." kesal Jevo.


"Bu Bulan."


"Ckk,,, terserah gue. Mulut-mulut gue." ucap Jevo kekeh.

__ADS_1


Jevo bangun dari tidurnya. "Elo mau ke mana. Katanya tidur?" tanya Jevo, melihat Jeno berganti kaos dan celana.


"Gue ikut." pinta Jevo, tahu jika Jeno pasti akan pergi menyelidiki sesuatu.


"Nggak. Lebih baik elo fokus memecahkan kata yang waktu itu." tolak Jeno.


"Ckk,,, Jennn, elo sudah dengar kabar. Mengenai murid SMA sebelah yang berhasil selamat dari penculikan." Jevo menjeda kalimatnya.


"Kabar tersebut menyebar dengan cepat seperti hembusan angin. Entah dari mana mereka semua mendapatkan kabar tersebut."


Bahkan pihak kepolisian juga heran. Pasalnya mereka menyimpan rapat permasalahan ini. Mereka juga sudah mengatakan pada keluarga Serra untuk tidak mengatakan pada siapapun.


Seolah kabar tersebut entah muncul dari mana. Berhembus tanpa bisa dihentikan. Dan sekarang kabar tersebut malah semakin diwarnai bumbu-bumbu yang membuat masalah semakin pelik.


"Elo mau apa?" tanya Jeno.


Jevo duduk bersila di atas ranjang. "Cukup aneh nggak sih menurut elo?"


"Sudah tahu aneh. Kenapa masih bertanya." ketus Jeno.


"Elo kenapa sih. Sensi banget." timpal Jevo.


Jeno menyeret tubuh Jevo untuk keluar dari kamarnya. "Lepas brow,,, nggak usah main tarik. Elo pikir gue kambing." celetuk Jevo.


"Kerjakan tugas masing-masing."


Blam.... Jeno menutup kencang pintunya. "Astaga......!" seru Jevo memegang dadanya. Dirinya terkejut, sebab masih berdiri tepat di depan pintu.


"Jeno,,, elo gila..!!" teriak Jevo, menendang pintu Jeno dari luar.


"Aaaww..." seru Jevo merasakan sakit di kakinya.


Jevo berjalan dengan pincang, masuk ke dalam kamarnya.


Entah kenapa, perasaan Jeno berubah tidak enak saat Jevo mengatakan jika dia menyukai Bulan. "Hehh,,,, dia pikir Bu Bulan cabe-cabean apa. Target selanjutnya." geram Jeno mendengus sebal.


Jeno menggelengkan kepalanya. Mengenyahkan pikiran yang sangat mengganggunya. "Fokus. Fokus ke rencana kamu." ucap Jeno pada diri sendiri..


Baru saja masuk ke dalam kamar, ponsel Jevo berbunyi. Sebuah pesan tertulis dari Claudia masuk ke dalam ponselnya. Bukannya membalas pesan dari Claudia, Jevo malah kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Sorry Clau,,, gue lagi nggak kepengen ***-***." ujar Jevo dengan santai.


"Bulan... Jika saja gue boleh menikah. Sekarang pasti gua akan lamar dia." ucapnya tidak masuk akal.


Jevo masuk ke sebuah ruangan yang masih berada di dalam kamarnya. Duduk di kursi dengan sebuah laptop di depannya.


Jevo mulai menyalakan laptopnya. Jari jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Mencari tahu sesuatu yang menjadi beban dalam benaknya, juga Jeno selama beberapa bulan terakhir.


"Aaa...!!" seru Jevo frustasi. "Sebenarnya apa ini." mata Jevo melihat dengan jeli tanda yang ada pada setiap korban.


"Tunggu. Korbannya semua murid SMA. Dan baru pertama kalinya, korban berhasil lolos dan selamat. Sangat janggal. Apalagi sekarang semuanya tahu jika ada korban selamat." Jevo berpikir keras.


"Jeno, apa dia sedang menyelidiki tentang ini. Atau ada hal lain." gumam Jevo, dengan mata masih fokus ke layar laptop.


Sedikit demi sedikit, kedua sudut bibir Jevo terangkat ke atas. "Tanggal, waktu, dan tempat kejadian."


Jevo tersenyum penuh makna. Menarik setiap tempat kejadian dimana korban ditemukan. Membentuk sebuah garis yang cukup unik.


Bukan hanya itu saja. Setiap korban memiliki tanda setiap goresan angka di telapak kakinya. Jevo mulai mengumpulkan dari apapun terkait dengan korban.


"Ternyata seperti itu. Lalu korban yang selamat. Kenapa berbeda."


Jevo kembali mengamati satu persatu foto korban. Serta identitas korban. "Seharusnya, jika seperti tanda yang selalu dia tinggalkan. Dia akan beraksi satu hari setelah korban selamat."


Jevo terdiam. Memikirkan kembali beberapa kemungkinan yang terjadi. "Apa dia merubah jejaknya. Tapi kenapa?"


"Gue harus memberitahu Jeno secepatnya." lanjut Jevo.


Saat Jevo tengah berpikir keras mengenai pembunuhan tersebut. Sebuah email masuk ke dalam laptopnya.


"Ckk,,, papa. Mengganggu saja." decak Jevo, saat sang papa mengiriminya berkas pekerjaan untuk Jevo.


Di tempat lain, Claudia berteriak kesal. Pesannya hanya dibaca oleh Jevo, tanpa dibalas. "Jevo brengsek. Seenaknya dia mengacuhkan gue." geram Claudia.


"Tidak. Jangan mengambil keputusan saat sedang emosi Clau..." ucap Claudia pada diri sendiri.


Claudia mengatur nafasnya. Mengatur emosinya yang sempat naik karena ulah Jevo. "Tante Rindi dan Om David, sepertinya mereka masih tetap tidak suka sama gue."


Claudia teringat bagaimana kedua orang tua Jevo memperlakukannya. Mereka bahkan tidak membela Claudia saat di sekolahan.

__ADS_1


"Gue nggak bisa kehilangan Jevo. Dia aset berharga milik gue." ujar Claudia.


Bagaimanapun keadaannya, Claudia akan tetap mempertahankan Jevo. Meski dirinya harus menjadi apapun sesuai keinginan Jevo.


Cinta. Bukan. Claudia bertahan bukan karena kata cinta. Melainkan kekayaan. Terlebih kedua orang tua Claudia juga mendukung sang putri untuk mendekati Jevo.


Siapa yang tidak ingin menjadi anggota keluarga dari Tuan David. Keluarga terkaya dan mempunyai pengaruh besar di negara ini.


Claudia butuh pelepasan. Dirinya tidak mungkin bisa tidur nyenyak malam ini. Jika belum melepaskan sesuatu yang membuat seluruh badannya terasa panas.


Claudia kembali mengambil ponselnya yang dia lemparkan ke atas ranjang tempat tidurnya saat merasa kesal pada Jevo.


Menghubungi seorang lelaki yang biasanya menjadi partnernya di atas ranjang. "Maaf Jevo sayang. Elo selalu menolak gue. Jangan salahkan gue, jika gue cari lelaki lain." ucap Claudia.


Padahal, Jevo sudah tahu semuanya tentang dirinya. Namun Claudia merasa jika Jevo tidak tahu apapun.


"Clau... kamu mau ke mana?" tanya sang mama, melihat sang putri hendak keluar. Padahal waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.


Claudia memaksakan senyumnya. Menghampiri sang mama. "Clau ingin bertemu Jevo." bisik Claudia, bergelayut di lengan sang mama.


Sang mama tersenyum senang. "Apa Jevo menjemput kamu?"


Claudia menggeleng. "Tidak. Bahkan kedua orang tua Jevo juga tidak tahu." ujar Claudia berbohong.


"Kamu. Segera pulang. Jangan pulang larut malam." tukas sang mama.


Cup.... "Makasih ma."


Claudia segera berlari meninggalkan rumah. Pergi ke apartemen, milik lelaki yang baru saja dia hubungi. "Hay...." panggil Claudia begitu masuk ke dalam sebuah apartemen.


Sang lelaki langsung memeluk tubuh Claudia. "Elo enggak takut, ketahuan Jevo."


Claudia mengalungkan tangannya di leher sang lelaki. "Jevo, dia nggak akan tahu. Lagian salah dia. Terlalu sulit diajak bermain." ucap Claudia dengan kedua mata memandangnya menggoda.


"Memangnya Jevo dan kamu belum pernah melakukannya?" tanya ya penasaran. Pasalnya saat dia melakukannya dengan Claudia, Claudia sudah tidak dalam keadaan perawan. Yang artinya Claudia sudah pernah berhubungan badan sebelum bersama dia.


"Kamu tidak perlu tahu sayang." Claudia mencium singkat dengan lembut bibir sang lelaki.


"Jangan bilang Jevo belum pernah menyentuh kamu." dia melepaskan tangan Claudia di lehernya.


"Ckkk,,,,.kenapa kita meski membahas Jevo." kesal Claudia.


Sang lelaki memicingkan sebelah matanya dengan tatapan aneh. Dari sikap Claudia, dirinya dengan mudah bisa menebak. Jika Jevo tidak pernah berbuat lebih pada tubuh Claudia.


"Apa gue salah target." batinnya. Yang sejak awal memang mendekati Claudia karena ingin membuat hancur seorang Jevo.


Claudia memeluk tubuh sang lelaki dari belakang. Tangan Claudia bermain di bagian tubuh sang lelaki. Membuat sang lelaki memejamkan matanya merasakan rasa sensasi nikmat pada tubuhnya.


Sungguh, dirinya tidak bisa menolak Claudia. Bagaimana menggodanya dan bagaimana lihainya Claudia di atas ranjang.


Membuatnya kecanduan dengan tubuh Claudia. "Persetan dengan Jevo. Jika memang Claudia bukan wanitanya Jevo. Setidaknya gue bisa memanfaatkan tubuh Claudia untuk kesenangan gue." batinnya.


Keduanya berakhir di atas ranjang. Saling bertukar saliva dan keringat. Tak ada cinta di hati keduanya untuk lawan main mereka.


Hanya kesenangan semata. Melampiaskan nafsu birahi di dalam tubuh.


Sedangkan Jeno, dia sudah meninggalkan rumah tanpa ada seorangpun yang tahu. Kecuali Jevo. Saudara kembarnya.


Dengan pakaian tertutup, serta wajah tertutup, hanya memperlihatkan kedua matanya. Jeno duduk santai di atas sebuah gedung.


Ditangannya memegang sebuah benda yang dia gunakan untuk melihat sebuah objek jarak jauh, seperti teropong, tapi berukuran lebih kecil.


Beberapa kali, Jeno menggunakan teropongnya. Mengarah ke suatu titik. "Dia belum datang." gumam Jeno.


Dengan sabar, Jeno duduk. Menanti kedatangan seseorang yang selalu dia curigai, selalu masuk ke dalam lingkup sekolah.


Berkeliaran bebas di sekolah, saat keadaan sedang sepi. Jeno pernah melihatnya dari kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut dan beberapa tempat di area sekolah.


Hasilnya nihil. Tidak ada satupun kamera yang menangkap pergerakannya. Padahal Jeno melihat jelas, dia pernah memandang ke arah kamera CCTV.


Mustahil jika dirinya sama sekali tidak terekam oleh alat tersebut. Kecuali ada satu kemungkinan. Ada pihak lain yang mengoperasikan atau dengan kata lain membobol kamera CCTV di mana dirinya mengenyam pendidikan.


Jeno mengamati sekitar. Mengamati seluruh area sekolah yang tertangkap oleh kedua matanya. Dirinya juga harus tetap waspada.


Tidak ada yang tidak mungkin yang bisa terjadi. keadaan tampak sunyi dan sepi. Hanya ada suara beberapa hewan penghuni sekolah.


Ditambah lampu sekolahan yang tidak menyala semuanya. Menambah kesan mistis dan angker sekolah tersebut.


Tapi hal tersebut sama sekali tidak berarti untuk Jeno. Dirinya memang sengaja datang untuk menangkap seseorang yang membuatnya penasaran sekita satu bulan terkahir.

__ADS_1


"Aku harus tahu. Siapa orang tersebut." cicit Jeno sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya.


__ADS_2