PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 197


__ADS_3

Gisha memandang datar tanpa ekspresi ke arah Jeno dan Bulan. Lalu membuang wajahnya ke sembarang arah saat melihat perlakukan manis Jeno pada Bulan, saat Jeno memberikan kecupan singkat di pipi Bulan.


"Gue baru sadar, jika Jeno juga sama tampannya dengan Jevo." batin Gisha.


Sebab, dari dulu yang selalu terkenal di kalangan perempuan adalah Jevo. Bukan Jeno si culun yang pendiam. Nyatanya, sekarang Jeno bahkan sama persis seperti Jevo saat dia berpenampilan sama seperti Jevo.


"Gisha..." panggil Jeno.


Gisha segera menoleh ke arah suara dengan senyum sempurna tercetak di bibirnya. "Sorry, gue harus pergi." pamit Jeno.


Meski Gisha sangat tidak rela melihat Jeno pergi, tapi Gisha tetap memperlihatkan senyum manisnya. "Kenapa? Apa Bulan yang mengajak elo pergi?" tanyanya dengan ramah


"Tidak juga. Gue juga tidak terlalu suka dengan kembang api." sahut Jeno beralasan. Dirinya tak mungkin membuat nama sang kekasih jelek di mata orang lain. Meski kenyataannya, Bulan lah yang kekeh ingin meninggalkan tempat ini.


"Padahal gue sudah seneng banget ada kalian. Gue nggak merasa sendiri. Tapi ya mau bagaimana lagi." cicit Gisha berjalan mendekat ke tempat Jeno dengan ekspresi kecewa.


Gisha ingin memeluk tubuh Jeno, tapi Jeno segera menghindar. "Sorry, gue harus pergi." ujar Jeno. Tentu saja Jeno tidak ingin Bulan semakin salah paham. Mengira dirinya benar-benar menyukai keberadaan Gisha di sampingnya.


"Sial...!!" umpat Gisha dalam hati, merasa dipermalukan oleh penolakan yang diberikan Jeno.


"Oke. Take care." ujar Gisha tetap menampilkan senyumnya, seolah semua baik-baik saja.


Gisha melambaikan tangan dan tersenyum pada Bulan yang menanti Jeno tak jauh dari tempat Jeno dan Gisha. Bulan hanya tersenyum menanggapi lambaian tangan Gisha. Tanpa berniat membalas lambaian tangan Gisha.


"Sampai bertemu di lain waktu." tukas Jeno yang akhirnya pergi meninggalkan Gisha. Jeno langsung merangkul pundak Bulan. "Ayo sayang." ajak Jeno.


Gisha masih menatap kepergian keduanya dengan senyum di bibir. Padahal di dalam hatinya di sedang mengumpat. "Cckk,,, perempuan sialan. Padahal lebih cantikan gue dari pada dia." gerutunya membandingkan dirinya dan Bulan.


Sebenarnya Gisha tidak datang dengan sepupu atau pacar sang sepupu. Ketidak sengajaanya bertemu Jeno di SPBU, membuat Gisha tahu kemana Jeno akan pergi.


Sehingga membuat Gisha merencanakan semuanya untuk bisa bertemu lagi dengan Jeno. Tapi siapa yang akan menyangka jika ternyata kekasih Jeno, Bulan membuat rencananya berantakan.


"Padahal gue sudah berhasil membuat dia cemburu. Ckk,,, seharusnya Jeno membiarkan dia pergi. Iihh... Brengsek." geram Gisha menendang angin di depannya.


Dengan keadaan hati yang dongkol, Gisha juga meninggalkan pantai tersebut. Menuju ke rumah saudaranya yang ada di kota ini.


"Mana gue besok harus kembali ke kota gue." gerutunya seakan sangat berat untuk kembali pulang ke rumah setelah bertemu dengan Jeno.


"Lagi pula kenapa papa meski mengajak kita pindah rumah segala." sesalnya menyalahkan keputusan sang papa.


Jeno dan Bulan masuk ke dalam mobil. Keduanya tampak diam dan tak saling bicara. Setelah akhirnya Jeno memutuskan untuk bertanya pada sang kekasih. "Serius, kita mau pulang?" tanya Jeno sembari memakai sabuk pengaman di tubuhnya.


Bulan menyenderkan badannya ke kursi. "Iya. Memang mau kemana lagi." sahut Bulan terlihat sama sekali tidak bersemangat.


Jeno tak lantas segera melajukan mobilnya melihat sang kekasih terlihat malas dan masih dalam mode cemburu.


"Sayang ku,,,, my moon. Aku dan Gisha hanya berteman. Tidak lebih. Kami lama tidak bertemu, makanya kami banyak ngobrol. Maaf,,, sumpah aku sama sekali tidak bermaksud mengabaikan kamu, my moon." jelas Jeno dengan pelan.


"Iya. Bukankah kamu tadi sudah menjelaskannya." sahut Bulan tanpa menatap ke arah Jeno.


"Serius kita pulang? Kamu nggak kasihan sama aku. Sedari tadi aku menyetir low. Sama sekali nggak istirahat." rayu Jeno, berharap Bulan membatalkan keputusannya untuk pulang, sehingga mereka akan tetap menghabiskan waktu untuk berduaan.


Bulan menghembuskan nafas kasar sembari memejamkan kedua matanya sejenak. "Ya sudah, biar aku yang menyetir. Kamu bisa beristirahat." saran Bulan.


"Bukan seperti itu sayang."


Bulan duduk tegap sedikit menyamping. Menatap tajam ke arah Jeno. "Atau jangan-jangan kamu memang nggak mau pulang. Kamu mau di sini. Iya...?!" tanya Bulan.


"Astaga,,,, tidak sayang. Sungguh,,,, baiklah. Kita pulang." ujar Jeno mulai menyalakan mesin mobilnya.


Jeno tak mau berdebat lagi dengan Bulan. Yang ada urusan malah akan semakin panjang. "Tuhan,,,, perempuan yang sedang cemburu memang sangat menakutkan. Semua yang gue katakan dan lakukan serba salah." batin Jeno.


Jeno melajukan mobilnya dengan pelan, karena jalan yang mereka lalui memang sedikit bergelombang dan rusak.


Beberapa kali Jeno melirik ke samping, tepatnya ke arah Bulan. "Apa dia tidur?" tanya Jeno pada dirinya sendiri di dalam hati.

__ADS_1


Nampak Bulan memejamkan kedua matanya sembari menyenderkan kepalanya di kursi. "Lebih baik jika Bulan beneran tidur." batin Jeno tersenyum penuh makna. Entah rencana apa yang ada di dalam benak Jeno.


Jeno menghentikan mobilnya di tepi jalan. Memastikan apakah Bulan benar-benat terlelap dalam tidurnya atau hanya sekedar memejamkan kedua matanya.


Terdengar dengkuran nafas dari hidung Bulan. Ritme nafasnya juga seirama dan terdengar begitu halus. Sehingga Jeno bisa memastikan jika sang kekasih benar-benar terlelap.


Mengetahui sang kekasih tertidur lelap, Jeno mengubah jalur jalan yang dia lalui. Dia tidak membawa Bulan pulang. Melainkan pergi ke suatu tempat.


Untuk membuat sang kekasih nyaman dalam tidurnya, Jeno sedikit menurunkan kursi yang di duduki oleh Bulan. Sehingga badan Bulan tidak terlalu duduk sempurna.


Jeno menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam untuk sampai ke tempat yang dia inginkan. Mobilnya berhenti tepat di depan pintu masuk sebuah hotel mewah dan besar.


Beberapa orang datang berdiri di teras, menyambut kedatangan Jeno. Bahkan ada seorang lelaki yang berdiri di samping pintu mobil Jeno untuk membuka pintunya dari luar.


Jeno bergerak perlahan keluar dari mobil. Dirinya tidak ingin membangunkan sang kekasih. "Biarkan saja dulu di sini." pinta Jeno, saat lelaki di sampingnya hendak mengambil alih mobil Jeno untuk dia bawa ke area parkir khusus.


Sebab lelaki tersebut tidak tahu jika ada seorang perempuan yang tertidur lelap di dalam mobil. "Baik Tuan. Maaf, saya tidak tahu jika ada teman anda di dalam." tukas sang pegawai dengan sopan.


"Dia bukan teman saya. Dia calon istri saya." tekan Jeno dengan suara sedikit keras. Sehingga semua yang berada di sekitar Jeno bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Jeno.


Semua terdiam. Tak ada yang berani bertanya atau mengatakan sepatah katapun. "Apa kamar saya sudah kalian persiapkan?" tanya Jeno, berjalan sedikit memutari mobil untuk sampai di samping pintu mobil, dimana Bulan duduk di sana.


"Sudah Tuan. Semua sudah kamu persiapkan begitu Tuan memberitahu kami." sahut kepala pegawai.


Jeno menggerakkan tangannya, menyuruh kepala pegawai untuk mendekat. Jeno membisikkan sesuatu pada sang kepala pegawai dengan waktu sedikit lama.


"Kamu mengerti apa yang saya inginkan?" tanya Jeno setelah selesai membisikkan sesuatu pada sang kepala pegawai di hotel tersebut.


Beliau tersenyum dan sedikit mengangguk. "Paham Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik." sahutnya mendapat anggukan dari Jeno.


Jeno membuka pintu mobil secara perlahan. "Biar saya yang menggendong calon istri anda, Tuan." tawar seorang pegawai. Mempunyai maksud baik supaya Jeno tidak lelah atau kecapekan.


Pegawai di sampingnya menyikut tangan pegawai yang dengan berani mengatakan hal tersebut. "Maaf Tuan, silahkan masuk. Kasihan calon Nyonya kita, jika dibiarkan terlalu lama tidur di dalam mobil." sela sang kepala pegawai, menyelamatkan anak buahnya dari Jeno.


Jeno menatap pegawai yang sempat menawarkan niat baiknya dengan tatapan tajam. Tapi Jeno lebih memilih untuk segera membawa Bulan masuk ke dalam kamar.


"Jeno..." cicit Bulan setengah sadar, dengan kedua mata sedikit terbuka.


"Kamu tidur saja sayang. Biar aku gendong ke dalam." bisik Jeno.


Bulan yang memang belum sepenuhnya tersadar, tersenyum mendengar apa yang Jeno bisikkan di telinganya.


Dengan hati-hati, Jeno mengangkat tubuh Bulan untuk dia keluarkan dari mobil. Bulan yang masih memejamkan mata, secara reflek mengalungkan tangannya di leher Jeno dan meletakkan wajahnya di dada bidang sang kekasih.


Hanya dengan sekali gerakan, Jeno menggendong tubuh Bulan di depan layaknya seorang pengantin baru, ala bridal style. "Silahkan Tuan." ujar kepala pegawai. Hanya dia dan dua orang pegawai yang mengikuti Jeno sampai ke kamarnya.


"Cantik sekali." lirih seorang karyawan yang tadi sempat melihat sekilas wajah Bulan, sebelum Bulan menyembunyikannya di dada sang kekasih.


"Memang elo lihat?" tanya rekannya.


"Lihat. Dia sangat cantik. Seperti rembulan."


"Pantas kalau dia cantik. Lihat Tuan Jeno. Apa iya,,, dia memilih perempuan biasa seperti kita." celetuk karyawan yang lain, disambut tawa oleh pegawai lainnya.


Sampai di kamar, Jeno meletakkan Bulan di atas ranjang secara perlahan. Cup... Mencium sekilas dahi sang kekasih sebelum dia meninggalkannya untuk bertemu para pegawai yang menunggunya di depan kamar.


"Saya membutuhkan dua orang untuk berada di depan kamar saya." pinta Jeno.


"Mereka akan segera datang, Tuan." sahut kepala pegawai.


"Kalian boleh pergi. Dan ingat. Lakukan apa yang saya perintahkan dengan baik." ujar Jeno mengingatkan kembali sembari menatap kepala pegawai.


"Baik Tuan." jawab mereka serempak.


Jeno mengerakkan tangannya, menyuruh semuanya untuk pergi dari depan kamarnya. Sedangkan dia sendiri masuk kembali ke kamar, setelah menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

__ADS_1


Jeno tersenyum saat menatap ke arah ranjang. "Kenapa kita ada di sini?" tanya Bulan yang sudah duduk bersila, dengan menatap lekat sang kekasih.


Jeno tersenyum sempurna. Duduk tepat di depan Bulan denhan posisi yang sama. Bersila. Jeno menjawil hidung sang kekasih. "Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan kamu, my moon." papar Jeno dengan lembut.


Bulan memutar kedua matanya dengan malas. "Mau kemana?" Jeno menarik pinggang Bulan, saat Bulan hendak beranjak dari ranjang tempat tidur. Membuat Bulan duduk di atas pangkuan Jeno.


"Mau cuci muka." jelas Bulan.


"Tidak perlu cuci muka. Temani aku saja. Aku sangat lelah." cicit Jeno membaringkan badannya serta badan Bulan.


Jeno memeluk tubuh Bulan seperti memeluk sebuah guling dari belakang. Sebab posisi Bulan berbaring menyamping. Membelakangi tubuh Jeno.


Bulan melonggarkan pelukan tangan Jeno. "Ini dimana?" tanya Bulan.


Jeno menggerakkan kepalanya. Mencari tempat ternyaman di bawah ketiak Bulan. "Aku capek. Ngantuk. Pengen tidur." cicit Jeno dengan kedua mata sudah terpejam.


Bulan hanya bisa menghela nafas. Membiarkan Jeno memeluknya denhan erat. "Tidurlah." pinta Bulan mengelus rambut Jeno.


Tidak membutuhkan waktu yang lama. Jeno sudah masuk ke dalam mimpi. Dan Bulan menyadarinya. Bulan memandangi sekelilingnya sembari terbaring di atas ranjang.


"Dimana ini sebenarnya?" tanya Bulan dalam hati. Bulan bisa menebak, jika dirinya berada di tempat yang belum pernah dia datangi.


Bulan menoleh ke samping. Melihat wajah damai Jeno dari atas. Bulan mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Berhadapan dengan Jeno dan saling memeluk.


"Kenapa gue malah merasa mengantuk lagi." batin Bulan kembali memejamkan kedua matanya. Meletakkan salah satu tangan Jeno di bawah lehernya.


Dua insan berbeda jenis kelamin, tidur dalam satu ranjang dengan saling berpelukan. Keduanya tampak begitu damai dan terlihat sangat nyaman.


Jeno tersenyum samar. Membawa tubuh Bulan untuk semakin dekat dengannya. Memeluknya dengan hangat. "I love you." lirih Jeno, yang pastinya masih terdengar dengan jelas di kedua telinga Bulan.


"I love you to." batin Bulan merasakan kenyamanan berada dekat dengan Jeno.


Amarah yang sempat berkobar karena rasa cemburu yang dirasakan oleh Bulan langsung menghilang. Lenyap seketika, entah hilang kemana.


Yang ada sekarang tinggallah kebahagian karena perasaan hangat karena perhatian yang diberikan oleh sang kekasih.


Sementara di tempat lain, keluarga Tuan David baru saja sampai di rumah. Arya dan Mikel, serta Gara tidak mampir ke rumah Tuan David. Mereka hanya mengantarkan Sapna, lalu langsung pergi tanpa turun dari mobil.


"Kita ke apartemen gue saja. Bagaimana?" tanya Mikel, memandang Gara dari kaca pantai di depannya.


"Kalau gue sih terserah elo. Gara,,, elo bagaimana?" tanya Arya meminta persetujuan dari Gara.


"Boleh." sahut Gara. Di markas pun dia akan sendirian. Dan lagi, dia sedang malas untuk melakukan apapun. Lebih baik pergi ke apartemen Mikel saja.


Sebab di sana dirinya akan menemukan suasana baru. Dan juga, ada Mikel serta Arya. Yang pastinya dia tidak akan kesepian.


"Di tempat elo ada makanan?" tanya Arya.


"Ada, tapi mentah." sahut Mikel tertawa pelan.


"Cckk,,,, elo pikir gue koki." gerutu Arya, mengeluarkan ponselnya untuk memesan makanan siap makan untuk mereka bertiga.


Gara hanya tersenyum mendengarkan pembicaraan mereka berdua. "Gara,,, elo mau makan apa?" tanya Arya.


Sebelum Gara menjawab, Mikel terlebih dahulu mengeluarkan suaranya. "Nggak perlu dijawab Gara. Ujung-ujungnya dia sendiri yang akan menentukan makanan apa yang akan dia pesan." cicit Mikel, hapal di luar kepala dengan kebiasaan Arya.


"Heh... Pasti Gara akan mengatakan terserah. Terus salah gue dimana. Sialan elo...!!" dengus Arya.


"Elo nggak tanya gue?" tanya Mikel, sebab Arya hanya bertanya pada Gara.


"Terserah gue. Wlekkk...." ledek Arya menjulurkan lidahnya ke arah Mikel.


"Dasar. Bocah durhaka." timpal Mikel, yang disambut tawa oleh Gara mendengar perdebatan lucu mereka.


Ini mereka hanya berdua. Coba ada Jevo dan Jeno. Pasti akan lebih absurd lagi. Yang ujung-ujungnya, Arya akan menjadi tumbal di setiap perdebatan mereka.

__ADS_1


"Kehidupan gue berubah setelah Bulan datang. Dan kini, kehidupan gue lebih berwarna setelah kalian datang. Terimakasih." batin Gara merasakan kehidupan yang lebih baik, meski keadaan tubuhnya yang tidak normal seperti dulu.


Tapi sekarang Gara bisa merasakan artinya bersyukur atas apa yang Tuhan berikan pada dirinya. "Rasanya sungguh nyaman, berada di antara kalian." batin Gara.


__ADS_2