
Jevo dan Mikel, keduanya dengan kompak memimpin bawahan mereka untuk meluluh lantahkan gedung besar di mana Gara di aniaya.
Biasanya akan ada yang tak mau mengalah atau sok merasa jiwa kepemimpinannya lebih unggul, sehingga dirinya ingin sendirian memimpin banyak orang dalam suatu kegiatan.
Namun berbeda dengan Mikel dan Jevo. Keduanya malah saling mendukung dan berbagi peran. Keduanya bekerja dengan baik, tanpa rasa ingin menang sendiri.
Selain itu, mungkin mereka berdua sudah bersahabat lama. Sehingga bisa mengerti satu sama lain. Ditambah keduanya mempunyai tujuan yang sama. Jadi tidak mungkin mereka malah memilih bertengkar untuk urusan seperti ini.
"Bagaimana? Kalian menemukannya?" tanya Mikel pada bawahannya, yang baru saja kembali padanya.
''Tidak ada boss." jelas bawahan Mikel.
Beberapa menit yang lalu, Mikel menyuruh beberapa bawahannya mencari pemilik gadung atau mantan boss Gara. "Pasti dia masih berada di dalam. Tapi dimana dia bersembunyi." tutur Jevo.
Semua gedung telah di kepung oleh semua anak buah dan bawahan Mikel serta Jevo. Jika ada yang melarikan diri dari dalam, mereka pasti akan ketahuan.
Semua musuh sudah bisa dilumpuhkan. Dan kebanyakan dari mereka adalah kehilangan nyawa saat baku tembak terjadi.
"Boss,,,," panggil salah satu anak buah Mikel, datang bersama yang lainnya dari dalam gedung.
Jevo dan Mikel memutuskan atau memerintahkan mereka semua untuk berada di luar gedung. Sementara para mayat musuh dan mereka yang masih hidup, diikat dan di masukkan ke dalam gedung.
"Ada apa?" bukan Mikel yang bertanya, melainkan Jevo.
"Mereka memberi tawaran pada kita." jelasnya.
"Mereka. Mereka siapa?" tanya Mikel, sebab sampai detik ini sang pemilik gedung yang sesungguhnya belum ditemukan keberadaannya.
"Tawanan yang masih hidup."
"Apa yang mereka katakan?" tanya Jevo, duduk di bawah pohon yang rindang.
"Kebebasan. Mereka berjanji akan mengikuti kalian berdua sebagai pemimpin. Dan akan tunduk di bawah kaki kalian berdua. Jika mereka dibebaskan." jelasnya.
Mikel dan Jevo saling pandang, lalu tertawa lepas. Membuat semua bawahan mereka penasaran karena merek malah tertawa.
"Sekarang gue tanya sama elo. Memang elo mau, bekerja sama dengan mereka?" tanya Mikel, bukannya menjawab tawaran yang disampaikan bawahannya tersebut.
"Kalau gue nggak mau." celetuk bawahan Mikel lainnya yang juga duduk di kursi, hanya saja berada di depan pos jaga.
Semua menatap ke arah dimana suara tersebut baru saja terdengar. "Alasan elo menolak?" tanya rekannya.
"Cckk,,, dia memakai bego. Dan elo lihat, seberapa parah dia. Yang ada, kita akan terkena imbasnya." jelasnya secara singkat.
Semua mengangguk paham. Mikel dan Jevo tersenyum mendengar perkataan salah satu bawahan Mikel. "Lagi pula, di tempat Tuan Jevo ada salah satu pemakai. Sekarang dia juga dipecat. Bahaya, jika kita bekerja dengan orang seperti itu. Dia tidak akan bisa dipercaya." ujar bawahan Jevo.
"Untuk kalian semua...! Dengarkan...!! Gue dan Mikel punya prinsip yang sama. Siapapun yang tidak bisa mematuhi aturan organisasi, maka wajib kita singkirkan. Dan seharusnya kalian tahu, apa aturan di organisasi kita." tegas Jevo.
"Baik...!! Paham...!!" sahut semua yang ada di area halaman gedung.
"Dan itulah alasan kita memilih berada di luar. Membiarkan mereka di dalam. Semakin lama kita menghirup udara yang ada di dalam, tidak mustahil jika kita juga akan terkena efek samping obat terlarang itu." jelas Mikel.
Jevo memainkan batu kerikil di tangannya. Memandang gedung besar di depannya. "Tapi kita tidak bisa meninggalkan tempat ini, sebelum kita menemukan kepala lelaki itu." tukas Jevo.
"Dan gue yakin, jika dia masih berada di dalam." lanjut Jevo dengan yakin.
"Maaf boss, kita sudah menggeledah dan mencari di setiap ruangan yang ada di dalam. Tapi kita tidak bisa menemukan dia." lapor bawahan Mikel.
"Pasti ada tempat yang tidak kita ketahui keberadaannya." tebak Mikel, mengingat markas yang selama ini ditinggali Gara saja juga mempunyai beberapa ruang rahasia.
Mikel dan Jevo saling pandang, dan kemungkinan pikiran mereka kali ini juga sama. "Tapi terlalu berbahaya, jika kita berada di dalam terlalu lama." ujar Jevo, seakan tahu apa yang ada di dalam benak Mikel.
"Benar juga." sahut Mikel. Keduanya berpikir akan mencari tahu dengan jeli dari ruangan satu ke ruangan lain. Tapi hal tersebut membutuhkan waktu yang lama. Dan mereka tidak mungkin melakukannya.
"Apa elo nggak ingat, mungkin ada ruangan atau tempat yang menurut elo mencurigakan?" tanya Mikel, sebab Jevo berada di dalam lebih lama dari pada dirinya.
Jevo terdiam. Dia berusaha mengingat setiap tempat yang dia singgahi. "Bagaimana?" tanya Mikel.
"Gue masih mengingatnya bego. Elo diam dulu."seru Jevo.
__ADS_1
Mikel hanya menarik nafas panjang. Memutar kedua matanya dengan malas. "Jangan lama-lama." tukas Mikel.
Mikel dan Jevo saling pandang. "Benar. Bulan. Kita tanya saja pada dia. Pasti dia tahu sesuatu." ujar Jevo mendapat anggukan dari Mikel.
Jevo dan Mikel keduanya menghubungi Bulan. Tapi tidak ada satupun panggilan telepon yang diterima oleh Bulan. "Semoga Gara baik-baik saja." cicit Jevo.
Langsung terpikirkan pada kondisi Gara. "Kita menulis pesan saja. Mungkin nanti akan dibaca oleh bu Bulan." saran Mikel, yang sebenarnya merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya, karena Bulan tidak mengangkat panggilan telepon darinya, maupun Jevo.
"Biasanya, sesibuk apapun bu Bulan, dia pasti akan menerima panggilan telepon dari kita. Apalagi sekarang kita sedang ada di sini." batin Mikel, langsung kepikiran dengan kondisi Gara.
Sejenak, Mikel dan Jevo saling berpandangan dengan ekspresi khawatir. Pastinya keduanya ingin sekali segera pergi meninggalkan tempat ini, dan bergabung bersama yang lain, untuk mengetahui kondisi Gara.
"Boss. Jika anda berdua ingin pergi, pergilah. Kami akan menjaga tempat ini. Tidak akan kami biarkan siapapun masuk atau keluar dari tempat terkutuk ini." saran bawahan Jevo.
"Benar bos. Serahkan pada kami." sahut bawahan Mikel.
Mikel dan Jevo mengangguk pelan. Apa yang mereka katakan memang benar. "Ingat satu hal. Nyawa kalian lebih berharga. Jika terjadi apapun, dan kalian terdesak. Segera pergi dari sini. Ingat,,, nyawa kalian lebih berharga." tekan Mikel memberi perintah.
"Baik boss." sahut mereka serempak.
"Satu lagi. Jika ada yang mencurigakan, langsung eksekusi di tempat. Jangan berpikir jika mereka akan mau diajak berdamai. Paham..!!" timpal Jevo mengingatkan.
"Baik bos." sahut mereka bersamaan.
"Jika kalian haus atau lapar, carilah di luar. Jangan pernah memakan atau meminum apa yang tersedia di sini. Termasuk itu." tunjuk Mikel pada buah mangga yang sedang berbuah lebat.
"Baik boss."
Mikel dan Jevo memutuskan untuk pergi meninggalkan gedung besar tersebut. Mempercayakan penjagaan gedung pada mereka, para bawahannya yang berada di sana.
"Semoga Tuan Gara baik-baik saja." cicit mereka setelah kedua pimpinan mereka pergi.
"Semoga." sahut yang lain.
"Kita harus cari minum dan makan. Sebaiknya beberapa orang pergi keluar, bawalah mobil untuk mencari makan dan minum." saran yang lain.
Biasanya, Mikel selalu memberikan mereka uang untuk sekedar makan dan minum. Tapi karena tergesa-gesa, kemungkinan Mikel lupa.
"Tidak perlu." bawahan Jevo memberikan segepok uang pada bawahan Mikel yang hendak pergi mencari makan dan minum.
"Gunakan uang ini saja. Ini uang Boss Jevo. Bisa kita gunakan bersama." lanjutnya.
"Bagaimana kalau boss Jevo mencarinya atau menanyakannya?"
"Santai saja. Dia itu sama seperti boss kalian. Makanya kita betah bekerja dengan dia." jelas bawahan Jevo.
"Oke."
Sedangkan Mikel dan Jevo mengendarai sebuah motor, berboncengan untuk segera sampai ke rumah sakit tempat Gara dirawat.
Itupun, Jevo mengetahui nama rumah sakit tempat Gara dirawat dengan menebak, dan bertanya pada pihak rumah sakit. Sebab baik Bulan dan Jeno serta Arya tidak mengangkat panggilan telepon darinya.
Rumah sakit yang terpikirkan dalam benak Jevo adalah rumah sakit milik sang papa. Dan sesuai tebakan Jevo, ternyata Gara memang di rawat di sana.
Sementara Jevo dan Mikel masih dalam perjalanan, pintu ruang operasi Gara terbuka. Dengan beberapa dokter keluar dari dalam.
"Bagaimana dok?" tanya Arya dengan tidak sabaran.
Bulan berdiri dengan dirangkul oleh Jeno. Sedangkan Nyonya Rindi berdiri di belakang Bulan dan Jeno. Untuk Tuan David, beliau berdiri di samping Arya.
Kepala dokter menggelengkan kepala perlahan. "Maaf." lirih beliau dengan ekspresi sedih.
Tubuh Bulan menegang. Dirinya tak bereaksi apapun. Tangan Jeno memegang pundak Bulan dengan kencang.
"Apa maksud kamu...?!!" seru Arya tidak terima dengan apa yang dia dengar. Memandang para dokter dengan tatapan tajam.
"Arya..." lirih Tuan David, menenangkan emosi sahabat sang putra. Arya menangis dengan histeris. Dengan segera, Tuan David membawa Arya ke dalam pelukannya.
"Maaf Tuan, Nyonya, kami sudah berusaha semampu kami." tutur seorang dokter, ada rasa khawatir akan nasibnya dan rekan-rekannya, melihat sang pemilik rumah sakit berhubungan dekat dengan pasien yang baru saja gagal mereka lakukan pertolongan lewat operasi.
__ADS_1
Nyonya Rindi mengangguk paham. Sama sekali tidak menyalahkan para dokter. "Terimakasih sudah berusaha." tukas Nyonya Rindi, menyeka air mata yang hendak jatuh ke pipi.
Bulan menatap ke depan. Dimana pintu ruang operasi masih terbuka. Dan dari sanalah, sebuah ranjang rumah sakit di dorong keluar. Seseorang berbaring di atasnya dengan ditutupi oleh sehelai kain. Sehingga anggota tubuhnya tidak terlihat sedikitpun.
"Berhenti." pinta Bulan.
"Sayang..." lirih Jeno.
Nyonya Rindi memegang pundak sang putra. Tersenyum pahit sembari mengangguk. Jeno segera mengusap kelopak matanya yang sudah mengumpulkan air.
Bulan berdiri tepat di samping tubuh Gara yang sudah tidak bernafas. Membuka bagian atas, melihat wajah teduh Gara yang memejamkan kedua matanya.
"Gara....!!" Arya melepaskan pelukan Tuan David, dan langsung berhambur memeluk tubuh Gara dengan suara tangisan yang masih terdengar begitu pilu.
"Gara.....!" seru dua orang dari arah lain, berlari dengan kencang ke arah dimana Arya menangis memeluk tubuh Gara yang sudah tak bernyawa.
Mikel dan Jevo. Keduanya diam terpaku. Hanya air mata yang mewakili perasan mereka. "Aaa.....!!" seru Jevo memukul berkali-kali tembok di sampingnya.
"Jevo." Tuan David segera menghentikan tingkah sang putra dan memeluknya untuk menenangkannya.
Sedangkan tubuh Mikel luruh ke bawah. "Maaf. Kami terlambat." lirih Mikel merasa bersalah.
"Mikel,,, sayang." Nyonya Rindi ikut berjongkok, mencoba menenangkan Mikel.
Bulan menengadahkan wajahnya ke atas. Mengusap wajahnya yang penuh air mata dengan menggunakan satu telapak tangan.
Sama seperti yang lain, air mata Jeno juga terus menetas keluar dari kedua matanya. Tapi segera dia menyekanya. "Gara. Kenapa singkat sekali kebersamaan kita." batin Jeno.
"Beritahu Sapna." pinta Bulan lirih.
Tangisan Arya mereda setelah mendengar Bulan mengucapkan nama Sapna. "Bu... Apa yang harus kita katakan?" tanya Arya dengan sendu, tanpa memandang ke arah Bulan. Tapi memandang ke wajah Gara yang terlihat tenang.
"Siapa yang ada di sana? Mikel,,, Jevo,,,,?" bukannya menjawab apa yang ditanyakan Arya, Bulan malah bertanya pada Jevo dan Mikel.
Perlahan, Mikel berdiri. "Bawahan saya dan bawahan Jevo masih mengamankan tempat itu." lirih Mikel, menatap wajah Gara sejenak dan segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Dirinya seakan tak sanggup memandang wajah rekan sekaligus orang yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Kalian boleh pergi. Terimakasih." pinta Tuan David pada para dokter yang menangani Gara. Menyisakan dua perawat di samping Gara.
Tuan David merasa kepergian Gara tidak sesederhana yang terlihat. "Bawahan. Bawahan Jevo dan Mikel. Apa maksudnya." batin Tuan David.
Tuan David menyisih dari mereka. Mengeluarkan ponsel. Tentu saja menyuruh seseorang untuk menyelidiki semua ini. Beliau menginginkan rasa penasarannya terjawab.
Bulan berjalan ke arah lain. "Bulan..." panggil Jeno segera berlari mengejar sang kekasih.
"Bu Bulan. Jangan sekarang." pinta Mikel menghentikan langkah Bulan, dengan berhenti di depan Bulan.
Mikel tahu apa yang akan dilakukan Bulan. Juga dengan Jevo dan Arya, serta Jeno.
"Jangan sekarang bu, kita kebumikan Gara terlebih dahulu. Kita urus Gara dengan baik." pinta Mikel, menyeka air mata di pipinya.
Bulan tersenyum sinis. Kedua tangannya mengepal sempurna. "Mereka. Mereka harus membayar mahal atas apa yang terjadi." geram Bulan dengan kedua mata penuh dendam.
"Pasti. Tapi sekarang, kita lebih baik fokus pada Gara." timpal Jevo.
"Biar gue yang menjemput Sapna." tukas Arya mengajukan diri.
Jeno memeluk sang kekasih. Memberi rasa tenang pada Bulan. "Ada kita semua. Kita juga akan membalas apa yang mereka lakukan pada Gara. Tenang saja." lirih Jeno, membelai rambut palsu sang kekasih.
Ketiganya saling berpandangan, Jeno, Jevo, serta Mikel. Seakan pemikiran ketiganya sama. Sedangkan Arya segera bergegas untuk menjemput Sapna. Rasanya tidak adil jika mereka tidak memberitahu Sapna.
"Semoga Sapna bisa menerima semua dengan lapang dada." batin Mikel.
Dia tahu, jika hubungan Sapna dan Gara baru saja dimulai. Tentunya bunga masih bermekaran di hati keduanya.
Semua duduk di kursi tunggu. Menunggu pihak rumah sakit selesai memandikan jenazah. Berkali-kali, mereka melihat ke arah Bulan yang terlihat tenang dan tak lagi mengeluarkan air mata. Dengan pandangan tajam menuju ke depan.
Tapi, mereka yakin, jika itu bukan pertanda baik untuk mereka yang sudah berani mengusik ketenangan Bulan. Hingga menyebabkan Gara meninggalkan dunia untuk selamanya. Meninggalkan mereka, dam tidak akan pernah kembali.
"Gara. Gue akan pastikan. Tidak ada satupun yang akan bisa lari dari tangan gue." batin Bulan.
__ADS_1