PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 213


__ADS_3

Bulan dan Jeno serta Arya menunggu di depan ruang operasi. Dimana di dalamnya ada Gara yang sedang mempertaruhkan nyawanya di atas meja operasi.


Ketiganya menunggu dengan perasan cemas dan khawatir. Tantu saja ketiganya tahu bagaimana kondisi Gara yang tidak bisa dibilang baik-baik saja.


Sebab, darah terus keluar dan tak berhenti dari beberapa bagian anggota tubuhnya selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


Juga dengan darah yang keluar dari bagian kepalanya, seperti hidung dan telinga. Di jalan, Gara bahkan beberapa kali mengeluarkan darah dari mulutnya.


Bisa dilihat dari pakaian yang Arya kenakan saat ini. Penuh dengan darah dan berbau amis. Tapi Arya seakan tidak peduli dengan kondisinya.


Ditambah, Gara sudah tidak sadarkan diri saat di bawa ke rumah sakit. Terakhir Gara tersenyum, saat dirinya melihat sahabat terbaiknya. Yakni Bulan.


Beberapa kali pihak rumah sakit, terutama perawat menyarankan Arya untuk berganti pakaian. Tapi Arya diam tak menyahuti perkataan mereka. Arya menganggap mereka semua hanyalah angin lalu. Yang tidak penting.


Tentu saja pihak rumah sakit tidak bisa memaksa Arya. Sebab mereka tahu siapa Arya. Putra salah satu pebisnis terkenal yang sukses di kota ini.


Juga, dia adalah sahabat Jeno. Putra dari pemilik rumah sakit. Siapa yang akan berani mengatur mereka.


Bahkan saat masih dalam perjalanan, Jeno dengan khusus meminta seluruh dokter terbaik di rumah sakit untuk berkumpul, menunggu kedatangannya.


Jeno ingin Gara ditangani oleh para dokter hebat yang ada di rumah sakit sang papa. Beberapa dokter yang kebetulan izin, bahkan harus masuk kembali untuk bekerja karena permintaan dari Jeno.


Jeno duduk di kursi tunggu sembari memeluk sang kekasih. "Semua akan baik-baik saja. Gara lelaki yang hebat dan kuat. Dia akan kembali seperti semula." tutur Jeno menenangkan sang kekasih.


Bulan hanya bisa diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Air mata terus mengalir dari kedua kelopak matanya tanpa bisa dibendung. Tenggorokannya seakan tak mampu untuk mengeluarkan suara.


Beberapa kali, Jeno juga mengusap air mata di pipinya. Dirinya harus tetap kuat. Dia tidak boleh lemah. Terlebih, ini pertama kalinya bagi Jeno melihat sang kekasih seperti ini.


Hanya terdengar suara isak tangis dari mulut Bulan. Kedua pundaknya juga terus bergetar karena tangisannya yang yak kunjung reda.


Jeno juga melihat Arya, dia sama seperti Bulan. Hancur. Arya menyenderkan punggungnya di tiang besar. Berkali-kalo dia menyeka air mata yang jatuh di kedua pipinya.


"Gara." lirih Bulan merasakan ketakutan yang luar biasa.


Tubuh Arya luruh ke bawah. Telapak tangannya yang menggenggam erat beberapa kali memukul-mukul lantai dengan kencang. Seakan melampiaskan amarahnya. Hingga punggung telapak tangannya terluka.


Jeno yang sedang menenangkan sang kekasih, tak mungkin menghampiri Arya dan menenangkan dia. Jeno menghela nafas lega, saat kedua matanya melihat dua sosok penting dalam hidupnya. Tuan David dan Nyonya Rindi.


"Apa yang terjadi?" tanya Tuan David.


"Pa.... Bukan waktunya bertanya." lirih Nyonya Rindi mengingatkan. Meski dirinya juga penasaran dan ingin tahu.


Tuan David menghela nafas panjang. Dirinya hanya merasa penasaran serta terkejut saat menerima laporan dari pihak rumah sakit.


Jika salah satu putranya, Jeno membawa seorang lelaki yang sedang dalam keadaan kritis ke rumah sakit. Hal tersebutlah yang membuat kedua orang tua Jeno segera pergi ke rumah sakit.


Ditambah lagi, Tuan David mencoba menghubungi Jeno dan Jevo, bahkan Mikel dan juga Arya. Tapi satupun tidak ada yang menerima panggilan teleponnya.


"Arya,,, ganti pakaian kamu." pinta Nyonya Rindi membawa sebuah paper bag berisi satu stel pakaian untuk Arya.


Jangan tanya dari mana Nyonya Rindi tahu jika Arya membutuhkannya. Sebab yang pasti bukan dari Jeno maupun Arya.


Pihak rumah sakit menceritakan secara detail keadaan Bulan, Jeno, dan Arya di rumah sakit. Juga keadaan Gara sebelum masuk ke ruang operasi. Itulah kenapa Nyonya Rindi membawa pakaian ganti untuk diberikan pada Arya.

__ADS_1


Tuan David dan Nyonya Rindi hanya bisa menghela nafas panjang melihat kondisi ketiganya. "Sepertinya mereka benar-benar hancur." batin Tuan David melihat ke arah pintu operasi.


Nyonya Rindi berjongkok. Menepuk pelan pundak Arya. "Arya,,, ganti baju kamu sayang." bujuk Nyonya Rindi, menahan air mata.


Hanya melihat ketiganya dalam keadaan sedih, mampu menggugah hati Nyonya Rindi untuk ikut menangis. Bagaimana jika beliau tahu kondisi Gara di dalam.


Meski Tuan David dan Nyonya Rindi tidak terlalu akrab dan kenal dengan Gara. Tapi beberapa kali bertemu dengan Gara, sudah membuat keduanya tahu. Jika Gara sosok yang baik untuk kedua putra mereka dan kedua sahabatnya, juga Bulan.


"Gara,,,, tante...." cicit Arya lirih dengan suara seraknya.


Nyonya Rindi mengelus lengan Arya. "Iya,,, tante tahu. Makanya kamu harus ganti pakaian kamu. Jika Gara tersadar, apa kamu akan menemuinya dengan keadaan seperti ini." bujuk Nyonya Rindi.


Arya mengangkat kepalanya. Terlihat kedua mata Arya yang sembab dengan wajah sedihnya. "Astaga...." batin Nyonya Rindi melihat keadaan Arya yang menyedihkan.


Tuan David membantu Arya untuk berdiri. "Bersihkan diri kamu, lalu ganti pakaian kamu. Dan segera kembali ke sini." pinta Tuan David.


Arya mengambil paper bag hang disodorkan oleh Nyonya Rindi. Bukan berjalan, tapi Arya berlari ke tempat dirinya akan membersihkan diri.


Seakan Arya tidak ingin membuang waktu. Dan segera kembali lagi ke tempat ini. Dirinya ingin Gara melihatnya begitu membuka kedua matanya. "Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Rindi lirih.


Nyonya Rindi duduk di samping Bulan. Mengambil alih tubuh Bulan dari pelukan sang putra untuk dibawa ke dalam pelukannya. "Hussttt..... Semua akan baik-baik saja." tukas Nyonya Rindi menenangkan calon menantunya tersebut.


"Gara...." lirih Bulan terlihat lemas.


Dengan penuh kasih sayang, Nyonya Rindi mengelus rambut palsu yang ada di kepala Bulan. "Tuhan,,, apakah begitu parah." batin Nyonya Rindi menatap ke arah pintu ruang operasi. Sampai-sampai Bulan seperti ini.


Tuan David memberi isyarat pada Jeno untuk mengikuti dirinya. "Katakan." pinta Tuan Davis menatap sang putra dengan lekat, penuh rasa penasaran.


Jeno meraup wajahnya dengan kasar. Menyenderkan punggungnya di tembok, menatap lurus ke arah tembok yang ada di depannya.


Tuan David tahu, jika sang putra tidak menceritakan semuanya. Entah karena apa. Tapi Tuan David tidak bisa memaksa sang putra untuk bercerita. Mengingat keadaan Jeno yang juga seperti sedang tertekan.


"Dimana Jevo dan Mikel?" tanya Tuan David mengubah pertanyaannya. Terlebih dirinya hanya melihat Arya dan Jeno.


"Mereka masih berada di tempat itu. Menyelesaikan pekerjaan." jelas Jeno, juga tidak secara detail.


"Menyelesaikan pekerjaan. Sebenarnya apa yang kalian lakukan?" tanya Tuan David dalam hati.


"Belilah air minum. Papa dan mama terburu-buru datang, tidak membawa orang." pinta Tuan David menatap ke arah sang istri yang sedang memeluk Bulan.


Jeno juga melakukan hal yang sama dengan sang papa. "Hufftt.... Semoga operasi Gara lancar." tukas Jeno menghela nafas kasar.


Jeno kembali meraup wajahnya dengan kasar. "Astaga... Jeno takut pa,,, apa yang akan terjadi dengan Bulan, jika sampai Gara tidak selamat." tutur Jeno mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.


Rasa khawatir Jeno yang paling besar. Seandainya Gara tidak selamat. "Pasti Bulan akan sangat terpukul. Gara...!! Kenapa elo mengambil keputusan yang salah."


Kedua mata Jeno memerah menahan tangis sembari melihat ke arah sang kekasih. Tuan David langsung memeluk sang putra. "Jangan lemah. Jaga Bulan dengan baik." ujar sang papa sembari menepuk pelan punggung Jeno.


"Pa... Gara berpikir dangkal. Entah apa yang dia pikirkan. Datang ke markas musuh seorang diri. Padahal keadaannya seperti itu. Dia punya kita. Ada Bulan yang selalu di sampingnya sejak dulu. Kenapa dia sama sekali tidak memikirkan perasaan kita." oceh Jeno dalam pelukan sang papa.


Tuan David sadar, jika Jeno saat ini memang memikirkan keadaan Gara yang sedang berada di dalam ruangan operasi. Tapi Jeno juga memikirkan perasaan sang kekasih, jika kemungkinan terjadi buruk terhadap Gara.


"Mungkin Gara mempunyai pemikiran lain. Kita tidak tahu apa yang terjadi. Hingga Gara memilih untuk mengambil keputusan sebesar itu." timpal Tuan David.

__ADS_1


Tuan David mengurai pelukannya pada samg putra. "Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Ada Bulan yang harus kamu jaga." ujar Tuan David mengingatkan.


Jeno mengangguk pelan. "Jeno titip Bulan sebentar." ujar Jeno yang ingin membeli air minum untuk mereka semua.


"Jangan khawatir. Ada papa dan mama di sini." sahut Tuan David. Membuat Jeno pergi dengan tenang.


Beberapa saat kemudian, Jeno dan Arya datang bersamaan. "Ma..." Jeno menyodorkan sebotol air mineral pada sang mama.


Arya terlihat sedikit membaik. Penampilannya tidak sekacau tadi. Dia duduk di kursi sebelah Tuan David. Juga memandang Bulan yang terlihat sangat lemas. "Minum dulu sayang." pinta Nyonya Rindi mengurai pelukannya pada Bulan.


Jeno juga memberikan sebotol air mineral pada Arya. "Thank's." sahut Arya sembari mengambilnya dari tangan Jeno.


Jeno duduk di samping Bulan, membantu sang kekasih untuk minum air mineral yang baru saja sia beli. Wajah Bulan begitu kusut. Dengan kedua mata yang sipit dan bengkak karena menangis sedari tadi.


"Kenapa lama sekali?" tanya Bulan menyeka air matanya yang lagi-lagi keluar dari dalam kedua kelopak matanya.


"Serahkan pada dokter. Pasti mereka akan menyelematkan nyawa Gara." sahut Nyonya Rindi.


Bulan mengeluarkan ponsel yang sedari tadi bergetar. Dilihatnya ada banyak pesan masuk ke dalam ponselnya. "Sapna." cicit Bulan, melihat salah satu pesan berasal dari Sapna.


"Sapna." lirih Jeno dan Arya bersama.


Kini, ponsel Bulan kembali bergetar. Tertera nama Sapna di atas layar ponsel Bulan. Sang pemilik ponsel hanya diam memandangi ponselnya, tanpa berani menggeser tombol di layarnya untuk menjawabnya.


"Sayang, kenapa tidak kamu angkat?" tanya Nyonya Rindi yang memang tidak tahu jika Sapna dan Gara, mereka kedua saling menyukai.


"Menjawabnya. Lalu apa yang harus aku katakan, jika dia bertanya tentang Gara?" tanya Bulan dengan perasaan kacau.


Ekspresi Nyonya Rindi dan Tuan David berubah. Kini keduanya seakan tahu apa arti pertanyaan Bulan. Ponsel Bulan meredup sendiri, saat panggilan dari Sapna berakhir.


"Aku akan menghubungi kamu, jika Gara selesai melakukan operasi." cicit Bulan.


Bulan juga melihat ada bekas beberapa kali panggilan Mikel dan Jevo menghubunginya. Serta keduanya mengirimi pesan tertulis pada Bulan.


Isi pesan tertulis keduanya sama. Yakni menyuruh Bulan untuk tidak mengkhawatirkan kepada mereka berdua. Sebab keduanya dalam keadaan baik-baik saja.


Serta, keduanya saat ini sedang menghancurkan gedung berukuran besar tersebut. Mereka berdua tidak menemukan pemiliknya, meski sudah mencari ke seluruh ruangan yang ada di gedung.


Tak lupa, keduanya juga menanyakan keadaan Gara. Bulan hanya membacanya, tanpa berniat membalas semua pesan tersebut.


"Kemana lelaki tua itu bersembunyi." batin Bulan.


Ting....


Terdengar suara yang berasal dari lampu yang ada di atas pintu ruang operasi berubah. Yang menandakan, penanganan untuk operasi Gara berada di dalam ruangan telah berakhir.


Semua yang duduk di luar ruang operasi berdiri dengan perasaan cemas. Menunggu sang dokter keluar dari dalam. Mengatakan hasil operasi Gara yang berjalan lebih dari satu setengah jam tersebut.


Pandangan mereka terarah ke pintu ruang operasi yang masih tertutup dan belum terbuka. Meski tanda operasi sudah selesai. "Kenapa mereka belum keluar?" tanya Bulan merasa cemas.


"Tenang. Pasti Gara baik-baik saja. Operasinya pasti berjalan denhan lancar." tukas Jeno, merangkul sang kekasih, untuk menenangkannya.


Kenyataannya, dirinyapun juga merasakan jantungnya berdetak tak biasa, menunggu para dokter keluar dari ruang operasi di depannya untuk mengabarkan sesuatu.

__ADS_1


Pintu ruang operasi terbuka, beberapa dokter terbaik yang dimiliki rumah sakit ini keluar. Bulan menahan suaranya, yang ingin bertanya tentang kondisi sang sahabat yang selama ini sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.


"Bagaimana dok?" tanya Arya dengan tidak sabaran.


__ADS_2