
Jeno dan Bulan langsung menuju kediaman Gara begitu pulang dari rumah Bulan yang ada di desa. "Bagaimana kabar keluarga elo di sana?" tanya Gara.
"Baik." Bulan mengeluarkan beberapa makanan yang dia bawa dari rumahnya.
"Ibu yang masak?" tanya Gara.
"Masa gue. Mana bisa." tukas Bulan. Menaruhnya di atas meja. Dan beberapa di bawa ke markas anak-anak didiknya.
"Mau elo bawa pulang?"
"Nggak, untuk anak-anak."
Sedangkan Jeno, sejak datang dirinya sudah berbaring di kursi panjang dengan kedua mata terpejam. Tampak deru nafasnya sudah beraturan, menandakan jika dirinya sudah masuk ke alam mimpi entah kapan di mulai.
Gara memandang Jeno sekilas. "Elo apakan dia?" ledek Gara.
"Sok kuat." cicit Bulan.
Pasalnya, Jeno menolak saat Bulan ingin menggantikannya menyetir mobil. Alhasil, Jeno berjam-jam terus menerus menyetir sendiri.
Di saat Bulan mengajaknya beristirahat. Jeno juga menolak. Dia mengatakan jika dirinya tidak capek sama sekali.
Tak ingin menganggu tidur dari Jeno, Gara tertawa pelan mendengar penuturan Bulan. Gara tahu, jika antara Jeno dan Bulan memang memiliki beberapa sifat yang sama.
Sama-sama keras kepala dan sama-sama berkemauan keras. "Bagaimana? Apa elo bisa menemukan mereka?" tanya Gara.
"Elo lihat ini." Gara memutar sebuah video. Dimana beberapa orang dengan penutup wajah memindahkan barang di dalam sebuah kotak yang terbuat dari kayu ke sebuah kapal.
"Bagaimana mereka bisa memperoleh barang lagi. Bukankah gue sudah membakarnya." cicit Bulan, tak menanyakan dari mana Gara mendapatkan video tersebut.
"Kemungkinan, mereka mempunyai tempat lain untuk menyimpan semua barang-barang mereka." tebak Gara.
"Tempat lain." batin Bulan sembari melihat ke arah video dengan seksama. Sepertinya Bulan bisa menebak tempat lain yang dimaksud oleh Gara.
Hanya saja, Bulan belum bisa mengatakan pada Gara. Karena dirinya juga belum tahu pasti tempat yang dia tebak benar apa tidak. "Apa elo akan menemui Narendra?" tanya Gara.
Bulan menggeleng. "Tidak sekarang. Gue harus menemukan anak serta istri atasan gue terlebih dahulu."
Gara mengangguk paham. "Tenang saja. Gue akan membantu elo." ujar Gara.
"Apa elo sudah mengumpulkan semua nama yang terlibat masalah ini?"
Gara mengambil sebuah map. Memberikannya pada Bulan. Segera Bulan membukanya. Bulan tersenyum sinis. "Seperti dugaan gue. Mereka bertiga yang menjadi otak utamanya." tukas Bulan.
"Setelah gue menemukan anak serta istri atasan gue. Secepatnya gue akan menyerahkan semuanya ke pihak terkait untuk di proses."
Gara tersenyum miring. "Elo yakin. Gue hanya khawatir, semua malah akan lenyap. Dana malah tidak diproses sesuai hukum."
Bulan tertawa. "Elo pikir gue hanya menyerahkan semua bukti pada pihak berwajib. Tentu saja tidak. Elo seharusnya tahu, siapa saja yang terlibat."
Bulan menutup map di tangannya. "Mereka yang terlibat mempunyai kekuasaan. Hanya menyerahkan dan mengandalkan pihak berwajib, sama artinya kita membuang barang bukti yang kita peroleh dengan darah."
Sebab, masalah yang sedang Bulan selidiki menyeret beberapa nama besar di kota ini. Bukan hanya nama pengusaha, tapi juga beberapa pejabat negara.
Gara dan Bulan saling berpandangan. "Lalu Narendra?" tanya Gara.
"Tentu saja gue akan mengambil barang buktinya." seringai Bulan.
"Dan tugas elo menyelidiki Narendra secara detail." lanjut Bulan.
Tersirat dalam ucapannya. Jika Bulan tidak akan mendatangi Narendra dengan cara baik-baik dalam meminta barang bukti yang di simpan anak dari almarhum salah satu petinggi di jajaran keamanan negara tersebut.
Yang artinya, Bulan akan mengambilnya dengan cara diam-diam, alias mencuri.
Dari sini, Gara menyimpulkan jika Bulan akan mengeluarkan semua bukti ke publik, tanpa mengungkapkan jati dirinya. Yang artinya, tidak akan ada yang tahu siapa penggerak sebenarnya.
"Apa elo membutuhkan tumbal untuk mengungkap ini?" tanya Gara, yang belum tahu rencana Bulan selanjutnya.
Bulan menggeleng. "Tidak. Elo lihat saja nanti. Apa yang akan gue lakukan."
Bulan tersenyum penuh makna. Sementara Gara hanya mencebik. Percaya dengan apa yang Bulan akan rencanakan.
Tak ingin membuang waktu, dirasa istirahat Jeno sudah cukup, Bulan membangunkannya. Tentu saja mengajaknya untuk ke markas mereka.
"Kenapa Gara tidak bergabung dengan kita?" tanya Jeno sembari menyetir.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Bulan malah fokus ke kaca pantau yang ada di depan Jeno. Merasa diacuhkan, Jeno melirik ke arah Bulan. "Ada apa?" tanya Bulan.
"Gunakan penutup wajah."
Jeno mengikuti Bulan, melihat ke arah belakang dari kaca pantau. "Siapa mereka?" cicit Jeno.
"Gara." entah kenapa, tiba-tiba Bulan teringat akan Gara yang baru dia tinggalkan beberapa menit yang lalu.
"Minggir, gue ambil alih kemudi..!!" seru Bulan.
Tanpa menghentikan mobil, keduanya bertukar posisi dari dalam mobil. Jeno segera menggunakan penutup wajah.
Sedangkan Bulan, duduk di kursi kemudi, membanting stir untuk kembali ke markas yang baru saja mereka tinggalkan.
"Elo punya nomor Gara?"
"Ada." seolah tahu apa yang diinginkan Bulan. Jeno segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Gara.
Jeno memandang ke arah Bulan. "Tidak diangkat." kembali Jeno menghubungi Gara. Dua kali, tiga kali, bahkan Jeno terus menghubungi Gara.
Hasilnya tetap sama. Gara tidak mengangkat panggilan telepon dari Jeno, meski panggilannya terhubung.
Bulan melirik ke arah Jeno, Jeno yang sedang menatap Bulan, menampilkan ekspresi gelisah dan menggeleng.
Sementara Bulan, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali Jeno menengok ke belakang. Memastikan beberapa mobil yang sempat mengekor di belakang mereka.
Tidak terlihat.
Bulan tampak tegang. Wajahnya cemas. Dan Jeno bisa menebak apa yang sekarang berkutat di dalam benak Bulan. Sebab, Jeno juga memikirkan hal yang sama. Gara.
Terlihat beberapa motor serta dua mobil berada di sekitar markas. Bulan keluar tanpa berbicara. Entah kapan Bulan mengambil senjatanya.
Tapi yang pasti, di tangan kanan dan kirinya sudah memegang senjata. Jeno menghela nafas panjang, tentu saja dia harus menetralkan degup jantung yang tak berirama dalam dadanya.
"Kamu pasti bisa Jeno. Pasti bisa." ucap Jeno menyemangati dirinya sendiri.
Dor.... dor... dor...
Jeno menelan ludah dengan kasar, belum genap satu menit Bulan masuk ke dalam, suara tembakan sudah bersahutan.
Jeno mengambil senjata miliknya yang berada di bawah kursi mobil. Senjata api tersebut baru dia dapatkan beberapa hari yang lalu. Dan belum pernah dia pakai sekalipun.
Segera Jeno keluar dari dalam mobil. Entah apa yang akan terjadi, dirinya harus berada di samping Bulan. "Gue lelaki." cicitnya sembari meningkatkan kewaspadaan.
Tentu saja Jeno tak ingin dicap sebagai lelaki pengecut dengan berdiam diri di dalam mobil. Menunggu Bulan menyelamatkan Gara.
Sedangkan di dalam, Bulan melihat Gara tergeletak di bawah tak berdaya. Tanpa berpikir panjang, Bulan menembakkan senjatanya pada beberapa orang yang duduk mengoperasikan komputer.
"Gara." seru Bulan menghampiri Gara.
Gara menatap Bulan. "Mereka ada di dalam." ujar Gara terlihat mengenaskan, dengan suara lirih.
"Sudah, tinggalkan aku sendiri. Selamatkan barang-barang yang penting." tutur Gara, saat Bulan hendak membantunya pindah tempat.
Mendengar suara tembakan, beberapa rekan keluar dari ruangan. Segera Bulan mengambil meja dan digulingkan.
Dor... dor... suara tembakan menghujami meja yang digunakan sebagai tameng oleh Bulan, untuk melindungi dirinya serta Gara. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Bulan menyeret tubuh Gara untuk dia bawa ke tempat yang dirasa aman.
Bulan mendengar ada suara tembakan yang berbeda. "Jeno." gumamnya.
Bulan keluar dengan perlahan. Kedua tangannya siaga menyerang lawan. Dengan cekatan, Bulan melesatkan pisau di tangan kirinya ke arah lain. Disaat ada seseorang yang ingin menembak ke arahnya.
"Bunuh semua. Jangan biarkan mereka keluar...!!" seru Bulan, tanpa menyebutkan nama Jeno.
Bulan berjalan sembari melesatkan tembakan. Tujuan utamanya adalah pintu keamanan ganda. Yang artinya, musuh tak akan bisa keluar dari ruangan.
"Kamu tidak ada apa-apa?" tanya Jeno, memegang pistol di tangannya.
"Gara ada di sana. Lindungi dia. Tetap di sini." pinta Bulan.
"Hancurkan semua komputer. Jangan sampai mereka menemukan sesuatu."
"Kamu mau ke mana?" tanya Jeno, tapi Bulan dengan gesit naik ke atas melewati tiang di dekatnya.
Tanpa mengatakan apapun, Bulan menekan sebuah tombol. Segera, ruangan di mana Jeno dan Gara berada seketika tertutup layaknya sangkar yang terbuat dari kaca.
__ADS_1
Jeno hanya bisa melihat Bulan menjauh darinya. Jeno yakin, kaca yang mengelilingi mereka adalah kaca yang tak akan pecah meski dihujami tembakan dari luar.
Segera Jeno mencari tempat dimana Gara disembunyikan oleh Bulan. Dirinya yakin, suara tembakan yang dia lesatkan pasti akan mengundang musuh yang lainnya yang masih hidup.
Meski dirinya dan Gara berada di ruangan yang aman, tapi Jeno tetap memasang sikap waspada. Dia tidak boleh ceroboh. Apalagi dirinya tidak tahu, ada berapa orang yang masih berkeliaran di luar sana.
Jeno menelan ludah kasar. Melihat beberapa mayat bergelempangan di depannya. Mereka semua tertembak tepat di dahi. Sehingga hanya membutuhkan satu peluru untuk menghentikan nafas mereka.
Berbeda dengan dirinya yang harus melesatkan senjata api lebih dari dua kali untuk membuat musuh tumbang. "Penembak handal." gumam Jeno memuji Bulan.
Bulan berjalan bagai udara. Langkah kakinya seringan kapas. Dengan menajamkan indera pendengarannya, dia mencari keberadaan musuh yang telah menyebar ke seluruh ruangan.
Kamera CCTV. Bulan tidak menggunakannya. Sebab, mereka langsung merusak aliran kamera CCTV begitu masuk ke dalam. Mengobrak-abrik semuanya.
"Bagaimana bisa mereka menemukan keberadaan Gara." batin Bulan. Sebab, yang menyerang markas adalah mantan kelompok organisasi ilegal yang dulu pernah Gara ikuti.
Tiga orang. Bulan melihat ada tiga orang di dalam ruangan. Mereka sedang mencari sesuatu. Bulan memasukkan senjata apinya ke dalam saku. Mengeluarkan dua pisau untuk dipegang masing-masing satu di tangannya.
Bulan berdiri, dan hap. Turun dari atas, tepat di tengah ruangan. Tentu saja Bulan terjun bebas tanpa menggunakan apapun.
Dan langsung menyabetkan pisaunya leher musuh. Ketika mereka bertiga menoleh ke arah Bulan.
Sret..... sret.... sret...
Sangat mudah bagi Bulan membuat nyawa ketiganya melayang entah kemana. Bulan membersihkan pisau yang penuh darah ke jaket yang dia kenakan.
Bulan kembali menyisir setiap ruangan. Mencari keberadaan musuh. Mata dan telinga bekerja penuh mencari target.
Langkah Bulan terhenti. Dia merasakan pergerakan di belakangnya. Cukup dekat, dan semakin mendekat.
Bulan menyeringai, berdiri tegap tanpa bergerak. "Bulan. Salam kenal." tutur seorang lelaki, meletakkan tangannya di depan leher Bulan, dengan sebuah pisau siap menyayat leher milik Bulan.
"Bergerak sedikit saja. Nyawa elo sudah berpindah tempat." ucapnya meremehkan Bulan.
Bulan tetap tenang. Berdiri mematung. "Ternyata, elo tidak seperti yang terdengar." ejeknya pada Bulan.
"Memang apa yang elo dengar?" tanya Bulan dengan tenang.
"Elo..." ucapnya tertahan, ada rasa aneh pada dirinya.
Bulan dengan pelan dan tenang memindahkan tangan yang berada di lehernya. "Hay..,,, salam kenal. Gue. Bulan." seringai Bulan, setelah membalikkan badan.
"Sejak kapan." cicitnya dengan ekspresi kesakitan dengan tangan memegang perutnya yang mengalir darah dari dalamnya.
Bulan mengambil pisau di tangan musuh lagaknya sedang memukul nyamuk di lngannya. Sangat mudah. "Sejak elo masuk. Berarti elo sudah siap." ujar Bulan.
Bulan memegang kepala lelaki tersebut, dengan menjambak rambutnya. "Jika elo memutuskan untuk masuk, tidak ada jalan untuk keluar."
Jlebb....
Darah muncrat, mengenai wajah Bulan. Dengan santai, Bulan mengusap wajahnya. Mencabut pisau yang tertancap di leher musuh. Mendorong tubuhnya, hingga tersungkur di bawah kaki Bulan.
Bulan menendang badannya sembari mengumpat, saat lelaki tersebut meregang nyawa. Kakinya melangkah beberapa langkah, Bulan merasa ada bahaya. Segera dia meloncat ke samping.
Dor... Bersamaan dengan itu, sebuah tembakan melesat ke arahnya berdiri tadi. Seseorang berdiri di atas dengan senjata laras panjang siap di tangannya.
Dor... Brak... Suara tembakan untuk kedua kalinya terdengar bersamaan dengan suara benda yang terbentur dengan benda lain.
Tubuh bulan mengenai sebuah lemari di sisi ruangan. Bulan mengambil senjata api, dan menyimpan senjata tajamnya.
"Keluar...!! Atau gue musnahkan markas ini beserta isinya....!!" ancamnya, mengarahkan laras panjangnya di mana Bulan bersembunyi.
Bulan memandang ke samping, dimana ada bayangan tubuh lelaki tersebut karena terkena sinar matahari yang menerobos masuk ke dalam melalui celah.
"Tuhan memang penyayang." cicit Bulan lirih.
Dengan hanya melihat bayangannya, Bulan busa menebak dengan tepat di mana lelaki tersebut berdiri.
Bulan berdiri dan langsung dor.... menarik pelatuknya. Hanya sekali, tepat di bagian dada. "Elo mau memusnahkan markas. Dalam mimpipun tidak akan pernah bisa." gumam Bulan.
Bulan meneruskan langkah kakinya. Mencari keberadaan musuh. Sedangkan Jeno, dia memastikan jika Gara masih dalam keadaan bernafas. Meski dengan badan yang lemah.
Membawa Gara keluar, bukanlah rencana yang tepat. Yang ada dirinya beserta Gara akan tertangkap sebelum sampai di mobil.
"Bulan." lirih Gara.
__ADS_1
"Gue sendiri juga nggak tahu. Tapi yang pasti, Bulan menyuruh gue untuk menjaga elo dan merusak komputer." tukas Jeno.
Jeno berdiri, mengambil kayu balok yang berada di belakang Gara. Memukulkan kayu tersebut ke komputer. Menghancurkan komputer sesuai apa yang di katakan oleh Bulan pada dirinya.