
"Jevo,,,!!" panggil Sella, membuat langkah Jevo terhenti.
Jevo hanya memandang lekat ke arah Sella, tanpa menyahuti atau membalas panggilan Sella. "Apa Jeno sakit?" tanyanya.
Jevo memutar kedua matanya dengan malas. "Tidak." Jevo melangkahkan kakinya lagi, menghindari dari Sella.
Sungguh, Jevo merasa muak berhadapan dengan perempuan seperti Sella. Penuh kepura-puraan. Dan pandai bersandiwara.
"Tunggu...!!" teriak Sella, berlari mengejar Jevo.
Claudia yang melihat dari kejauhan, langsung bergegas menyusul keduanya. "Tadi Moza. Sekarang Sella. Perempuan-perempuan murahan." desis Claudia.
Mengira jika Sella sedang mencari perhatian pada Jevo. Padahal, Sella ingin mencari informasi mengenai Jeno yang tidak masuk sekolah.
Claudia tentu saja tidak akan tinggal diam. Melihat kedua perempuan itu mendekati Jevo. Apalagi hubungannya dengan Jevo akhir-akhir ini renggang.
"Gue nggak akan membiarkan siapapun merebut kursi gue." gumamnya, tetap ingin menjadi bagian dari kelurga Jevo.
Jevo terpaksa menghentikan langkahnya, karena Sella menarik lengannya. Belum sempat Jevo memprotes, dan Sella mengeluarkan suaranya, Claudia terlebih dahulu menarik tubuh Sella untuk menjauh dari Jevo.
"Apa-apaan sih elo...?!" tukas Sella kesal dengan Claudia yang asal main tarik saja.
"Apa mau elo,,, hah...!! Bukankah gue sudah peringatkan. Menjauh dari kekasih gue..!" teriak Claudia dengan amarah.
Sella merasa cukup sabar menghadapi Claudia untuk tadi pagi. Tapi tidak sekarang. "Gue nggak ada urusan sama elo. Paham..!!" balas Sella tak mau kalah dengan Claudia.
Claudia merangsek maju. Mencengkeram kerah baju Sella. "Jangan pernah melewati batas." geram Claudia.
Sella menepis kasar tangan Claudia. Merapikan kerah bajunya serta membersihkannya. Seolah dirinya baru saja terkena kotoran. "Batasan yang mana?!" Sella seakan malah menantang Claudia.
Jevo memundurkan kakinya perlahan. Hanya melihat kedua perempuan di depannya bersitegang tanpa ingin melerai.
"Gue nggak mau terkena imbasnya." batin Jevo. Teringat kejadian siang tadi. Dimana dirinya beserta Claudia dan Moza dihukum. Meski dirinya tidak bersalah.
"Lebih baik gue segera pergi. Terserah mereka mau saling membunuh. Gue nggak peduli."
Melihat kedua perempuan di depannya tak memperhatikannya, Jevo segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju mobilnya. Meninggalkan kedua perempuan tetap bertengkar.
Segera Jevo masuk ke dalam. Dan secara bersamaan, pintu mobilnya yang samping juga terbuka.
"Elo...!!" seru Jevo, melihat Moza masuk ke dalam mobilnya, bersama dirinya yang juga masuk ke dalam mobil. Moza hanya tersenyum manis.
Moza melihat Claudia dan Sella sedang bertengkar. Dirinya dapat menebak, jika Jevolah alasan pertengkaran mereka.
Moza hanya mengamati. Dilihatnya Jevo yang dengan pelan memundurkan langkah. Dan langsung berlari menuju ke mobil.
Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Moza. Dia juga segera berlari ke mobil Jevo. Dan ikut masuk ke dalam.
"Keluar..!" usir Jevo.
Jevo ingin segera pergi ke markas. Sebab, dia menebak jika rekan-rekannya sudah berkumpul di sana. Dan tinggal menunggu dirinya.
Moza menggeleng. "Moza,,,!! keluar...!!" usir Jevo.
Cukup sudah sekali Moza membuat dirinya terlambat datang ke markas. Tidak untuk saat ini. "Astaga,,,, apa perlu, elo gue seret..." geram Jevo.
"Seret saja. Itu artinya kamu bakal keluar dari mobil. Dan mereka berdua akan melihat kamu." ucap Moza, malah memakai sabuk pengamannya.
Jevo hanya bisa memejamkan matanya sejenak. Manahan rasa kesal karena tingkah Moza. Mau tak mau, Jevo menjalankan mobilnya keluar dari area sekolah. "Sial..." umpat Jevo. Tapi Moza tidak peduli.
__ADS_1
Entah kenapa, setelah Jevo menolongnya saat kejadian siang itu, Moza jadi mendadak ingin selalu bersama Jevo. Mencari perhatian Jevo, entah bagaimana caranya.
Moza tersenyum senang. Senyumnya, perlahan memudar, saat dia tahu kemana arah mobil Jevo akan membawanya. Bukan ini yang Moza inginkan.
Moza menoleh, melihat ke arah Jevo dengan tatapan kesal. Moza berpikir dia akan diajak Jevo kemanapun Jevo pergi, lantaran matahari masih lama menyembunyikan sinarnya.
"Aku tidak ingin pulang." cicit Moza dengan cemberut.
Jevo sama sekali tidak mengindahkan perkataan Moza. Jevo malah dengan cepat melajukan mobilnya menuju ke rumah Moza.
Citzz.... Mobil berhenti tepat di depan rumah Moza. "Keluar. Sekarang." usir Jevo.
"Tapi..."
"Keluar....!!" seru Jevo tertahan.
Dengan menahan jengkel, Moza melepas sabuk pengamannya. Lalu keluar dari mobil Jevo. Menutup pintu mobil dengan kencang.
Moza menghentakkan kakinya dengan kesal. Kedua matanya memandang ke arah mobil Jevo yang semakin menjauh dari pandangannya. "Jevo......!!!" teriak Moza dengan kesal.
Para pembantu yang ada di rumah merasa heran. Pasalnya, ini pertama kalinya mereka melihat Nona merela pulang dengan wajah ditekuk.
Bahkan, Moza hang biasanya ramah. Selalu menyapa mereka. Kali ini, Moza diam seribu kata. Terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Masuk ke dalam kamar.
Do dalam mobil, Jevo hanya bisa menghela nafas kasar berkali-kali. "Hari yang sangat menjengkelkan." geram Jevo, dengan tangan fokus menyetir mobil. Melajukannya dengan cepat ke markas.
Moza, Claudia, dan Sella. Benar-benar, ketiga perempuan itu menguras emosi Jevo sejak pagi. "Jika saja mereka lelaki. Pasti sudah gue berikan bogem mentah." kesal Jevo.
Sedangkan di dekat parkiran sekolah. Claudia dan Sella masih berdebat. Keduanya tersadar, saat ada seorang murid yang menegur mereka.
"Jevo. Kemana dia." cicit Claudia, mencari keberadaan Jevo.
"Aaa...!! Bagaimana bisa gue nggak memperhatikan Jevo." geram Claudia.
Claudia menatap Sella yang masuk ke dalam mobil. "Semua gara-gara elo...!" serunya menahan amarah.
Di markas, Bulan bersama ketiga muridnya memulai rencana mereka. "Sore nanti, wanita yang dipanggil mama oleh Z akan pulang dari luar negeri." ujar Bulan.
Z. Mereka akan menyebutnya seperti itu. Lantaran belum mengetahui namanya. "Tunggu bu, apa kita tidak menunggu Jevo datang. Dari pada nanti menjelaskan lagi pada Jevo." saran Mikel.
"Sebenarnya iya, tapi kapan Jevo akan datang?" Bulan menatap ke arah Mikel.
"Kita tunggu sepuluh menit lagi. Jika Jevo belum datang. Kita mulai tanpa dia." sela Jeno.
"Ok." Bulan duduk di kursi. Mengeluarkan ponsel, dan memainkannya.
Jeno berdiri, menuju ke dapur. Entah apa yang dilakukan Jeno. Beberapa saat, Jeno kembali dengan segelas teh hangat di tangannya.
"Ini, minumlah." Jeno memberikan segelas teh hangat pada Bulan.
Mikel dan Arya saling pandang. Keduanya seolah tak melihat apa yang dilakukan Jeno pada Bulan. Keduanya baru sadar, jika wajah Bulan tidak seperti biasa.
"Apa bu Bulan sakit." batin Mikel, lantaran wajah Bulan sedikit pucat.
"Kenapa Jeno sangat perhatian pada bu Bulan?" batin Arya, melihat ada yang tak biasa dengan Jeno.
"Bu, sebaiknya ibu istirahat saja dulu di dalam kamar. Jika Jevo datang, kami akan membangunkan ibu." saran Jeno.
Mikel dan Arya saling pandang. Keduanya baru tersadar, jika tadi dia mendengar ada seorang guru yang mengatakan jika Bulan sedang sakit, makanya beliau tidak mengajar. "Benar bu, kelihatannya ibu tidak enak badan."
__ADS_1
Bulan hanya mengangguk. Masuk ke dalam kamar. Dan beristirahat di dalam. "Memang bu Bulan sakit apa?" tanya Mikel pada Jeno.
"Tidak tahu."
Jeno mengambil ponselnya di atas meja. Lalu pergi ke lantai atas. Jeno menelpon Gara. Jeno menebak, jika Bulan seperti itu karena efek dari cakaran dan gigitan serigala.
Arya mendekat ke tempat Mikel. "Jeno tadi juga tidak masuk sekolah." bisiknya.
Mikel memandang Arya dengan lekat. Begitu juga Arya. "Tidak mungkin. Jangan berpikiran yang aneh-aneh." celetuk Mikel.
"Benar juga. Mana mungkin Jeno dengan bu Bulan. Guru dan murid. Tidak masuk akal." cicit Arya.
"Tapi tidak apa-apa sih, bu Bulan saja masih terlihat cantik dan seksi. Jika bersanding dengan Jeno, masih pantas. Bahkan tidak terlihat, jika usia bu Bulan di atas Jeno." batin Arya.
Tak berselang lama, Jevo tiba. Namun Jeno masih berada di lantai atas. Sementara Bulan masih tertidur di dalam kamar.
"Jeno sama Bulan kemana?" tanya Jevo.
"Jeno di atas. Bu Bulan istirahat di dalam kamar. Beliau sedang tidak enak badan." tutur Mikel.
Jevo terdiam. Berarti apa yang didengar dari beberapa guru saat di sekolah benar adanya. "Elo kenapa sih, terlambat terus." dengus Mikel.
"Ckk,,,, perempuan-perempuan itu, selalu merecoki langkah gue." geram Jevo.
Arya berdiri. "Bentar, gue kebelet." segera Arya berlari ke toilet.
"Iiisshhh,,,, elo nularin aja." celetuk Mikel, juga ikut berdiri, dan masuk ke dalam kamar mandi.
Jevo pergi ke dapur, dirinya merasa kerongkongannya kering karena ulah para perempuan tersebut.
Jeno turun dari tangga dengan berlari. Langsung masuk ke dalam kamar Bulan. Jevo melihat Jeno sekilas. Dirinya segera meneguk minuman dan bergegas ke depan lagi.
Jeno membuka selimut Bulan. "Kamu sedang apa?" tanya Bulan, dengan wajah semakin pucat.
"Mana obat kamu?! Kenapa tidak kamu minum?!" cecar Jeno melotot ke arah Bulan.
Bulan bisa menebak, pasti Gara yang memberitahu Jeno. "Lupa." cicit Bulan sekenanya.
Jeno merogoh saku jaket Bulan. Membuka sebuah botol kecil. Mengeluarkan sebuah pil dari dalamnya. Diambilkannya air minum yang berada di samping Bulan.
"Minum." suruh Jeno.
Bulan hanya diam, menatap kesal ke arah Jeno. Dirinya baru saja diberitahu oleh Gara. Jika Bulan paling sulit untuk meminum obat. Apalagi jika tidak ada yang mengingatkannya.
"Ayo..." pinta Jeno memaksa. "Buka mulut kamu. Atau perlu aku gunakan cara lain." gertak Jeno.
Bulan menggeleng. Bulan membuka mulutnya, meminum obat setelah dipaksa oleh Jeno. "Berbaring lagi." desak Jeno.
"Jevo sudah datang?" tanya Bulan.
"Tidak penting. Sekarang yang terpenting kesehatan kamu. Tidur dulu." paksa Jeno.
"Tapi..." bantah Bulan.
"Bulan....!! Apa perlu aku melakukan sesuatu...!" ancam Jeno.
Bulan segera berbaring. Menarik selimut, dan memejamkan kedua matanya.
Di balik pintu kamar Bulan. Jevo mendengar semuanya. Ekspresi Jevo hanya datar dan biasa. Tapi entah apa yang dirasakan oleh hatinya.
__ADS_1