
"Kamu benar-benar tidak mengenal lelaki muda yang pulang bersama putri saya?" tanya Pak Cipto pada lelaki suruhan Bulan yang ditugaskan menjaga keluarganya yang ada di desa.
Lelaki tersebut menggeleng. "Tidak pak, sungguh. Saya tidak berbohong. Saya benar-benar tidak mengenal pemuda tersebut." ungkapnya dengan jujur.
Sebab, Bulan saja tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya. Bulan juga sama sekali tidak menceritakan misi yang sedang dia lakukan.
Keduanya tak sengaja bertemu saat lelaki tersebut masih berseragam loreng. Mereka tetap menjalin komunikasi yang baik.
Hingga Bulan mendengar, lelaki tersebut bersama beberapa rekannya yang lain diberhentikan paksa dari anggota aparat negara dengan tidak hormat karena sebuah kejadian, saat dirinya melakukan tugas di lapangan bersama yang lain.
Tapi, Bulan dan beberapa pihak tahu, jika mereka sebenarnya sama sekali tidak bersalah. Dan hanya dijadikan tumbal oleh orang yang duduk di kursi dengan jabatan lebih tinggi dari mereka.
Pak Cipto menghela nafas, sembari mengibaskan topi miliknya di depan wajah. Mengurangi rasa panas yang menjalar di wajah beliau.
Meski hari masih pagi, tapi pak Cipto sudah merasa lelah. Karena beliau memang selepas sholat subuh sudah mulai memulai pekerjannya. Sehingga beliau bisa beristirahat saat matahari mulai terik.
Saat ini, pak Cipto bersama lelaki tersebut baru saja selesai sarapan. Keduanya masih berada di rumah kecil yang biasanya disebut gubuk oleh orang sekitar tempat mereka tinggal.
"Saya permisi dulu pak, mau melanjutkan pekerjaan saya." pamitnya pada pak Cipto. Merasa jika waktu istirahatnya sudah cukup. Pak Cipto hanya mengangguk, mempersilahkan lelaki tersebut.
Meski dia tinggal di rumah pak Cipto. Dan juga makan disediakan oleh keluarga pak Cipto. Namun pak Cipto tetap memberi upah pada lelaki tersebut. Karena pekerjaan yang dia lakukan untuk membantunya mengolah kebun.
"Jeno." gumam pak Cipto, sembari memasukkan singkong rebus ke dalam mulutnya.
Pak Cipto bisa melihat dengan jelas, bagaimana cara Jeno memandang Bulan. Tampak jelas jika Jeno menatapnya penuh cinta.
"Anak atasannya. Dan dia rela menemani Bulan. Menjadi sopir Bulan." pak Cipto tersenyum.
"Semoga Bulan bisa mengambil keputusan terbaik dalam setiap hidupnya." cicit pak Cipto. Mengingat, Jeno masih berseragam SMA.
Pak Cipto tentu saja bisa menebak, jika sang putri dan pemuda yang masih bisa dikatakan remaja tersebut memiliki hubungan.
Apalagi, usia Jeno dan Bintang hanya selisih satu tahun. Yang bisa dikatakan seumuran. Meski lebih tua Jeno dari pada sang putra, Bintang. Yang artinya, Jeno sama dengan Bintang.
Pak Cipto hanya tidak ingin, Bulan sampai salah mengambil keputusan, apalagi masalah pemimpin dalam rumah tangga. Umur Jenolah yang membuat pak Cipto merasa ragu.
Sementara di tempat lain, Nyonya Rindi terus menempel pada sang suami. Tentu saja Nyonya Rindi ingin mengetahui keluarga Bulan.
"Ma, papa baru pulang kerja. Bukannya di sambut, malah di cerca pertanyaan tentang orang lain." tukas Tuan David, sembari berdiri di depan Nyonya Rindi.
Nyonya Rindi cemberut. "Bukan orang lain pa, calon menantu kita."
"Masih calon ma. Belum tentu jadi. Jeno masih muda, pikirannya juga masih plin plan."
"Tapi mama, terlanjur suka sama Bulan."
"Yang mau menjalani Jeno, bukan mama."
"Papa,,,,,!! ya sudah, jika begitu maka akan merestui Claudia saja. Kelihatannya Jevo memang menyukai Claudia. Kan yang menjalani Jevo." sengit Nyonya Rindi merasa kesal.
"Jangan ma. Itu sudah beda. Papa tidak setuju jika Jevo dengan perempuan seperti Claudia." tegas Tuan David.
"Terserah Jevo, kan yang mau menjalani Jevo. Bukan papa." Nyonya Rindi mengembalikan perkataan sang suami.
"Bisanya cuma meniru saja." goda Tuan David.
Nyonya Rindi memukul pelan dada bidang sang suami. "Mama penasaran pa,,,, siapa orang tua Bulan. Aduhh,,,, pa. Coba papa ikut makan siang tadi. Pasti papa akan langsung menyukai dia." ujar beliau dengan tangan melepaskan dasi yang melingkar di leher sang suami.
"Maa,, papa tidak tahu kedua orang tua Bulan." ucap Tuan David.
"Bohong."
"Papa belum menyelidiki sejauh itu."
__ADS_1
Nyonya Rindi memandang lekat ke wajah sang suami, dengan tangan melepaskan kancing pakaian sang suami yang masih melekat di tubuh kekar Tuan David.
Tuan David mencubit gemas hidung sang istri. "Papa masih sibuk, jika sudah tidak sibuk, papa akan menyuruh orang untuk menyelidikinya."
Cup... Tuan David mencium lembut kening sang istri, bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Menghindari Nyonya Rindi yang pasti akan bertanya hal lain.
"Pa...!!" panggil Nyonya Rindi dengan wajah masam. Menatap tubuh sang suami menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Kenapa nunggu papa nggak sibuk. Memang papa yang menyelidikinya. Papakan tinggal nyuruh orang. Aneh." dengus Nyonya Rindi. Pasalnya sang suami selalu sibuk setiap hari.
Tuan David tidak tahu mengenai keluarga Bulan. Tentu saja bohong. Tuan David langsung bergerak cepat, saat mengetahui salah satu putranya menyukai guru cantik tersebut. Yang notabennya adalah aparat keamanan negara.
Tentu saja Tuan David bergerak cepat. Dirinya tidak ingin sang putra sampai memilih perempuan sembarangan. Tuan David dan Nyonya Rindi, keduanya sama.
Mereka tidak menilai perempuan yang akan menjadi pasangan kedua putra mereka dari kekayaan serta kekuasaan keluarga mereka. Tapi perempuan yang berasal dari keluarga baik-baik.
Di dalam kamar mandi, Tuan David memulai ritualnya membersihkan badan. Dirinya hanya tersenyum gemas mendengar sang istri yang berada di luar terus mengomel.
Tentunya, Nyonya Rindi terus mengucapkan kata Bulan berulang-ulang. Hingga tak terhitung jumlahnya.
"Mama... mama..." Tuan David geleng-geleng kepala.
Tuan David tahu betul bagaimana sifat sang istri. Pastinya Nyonya Rindi akan meminta untuk bertemu kedua orang tua Bulan. Begitu Tuan David memberitahukannya.
Dan belum saatnya, untuk Tuan David serta Nyonya Rindi menemui kedua orang tua Bulan. Apalagi, Tuan David menebak jika cinta sang putra masih belum terlalu dianggap oleh Bulan. Karena umur Jeno.
Tuan Davidpun tidak menyalahkan Bulan. Beliau malah merasa jika Bulan tipikal perempuan yang tidak gampang tergoda dengan lelaki.
Meski tampang Jeno yang rupawan. Ditambah keluarga Jeno. Pastinya, jika perempuan tersebut bukanlah Bulan, pasti akan dengan senang hati menerima Jeno sebagai kekasih. Meski mereka berbeda umur.
Untuk Jeno dan Jevo, keduanya tidak langsung pergi ke markas setelah keduanya pulang dari sekolah. Keduanya tidak sebebas sebelumnya. Pulang dan pergi meninggalkan rumah seenak jidatnya.
Semua disebabkan karena kedua orang tua mereka berada di rumah. Membuat gerak keduanya terbatas.
"Gue juga penasaran. Bagaimana wajah Timo yang sebenarnya." sahut Jevo.
"Mungkin Arya bisa mencari tahu."
"Jen,, saat Arya mencari tahu, ada banyak nama Timo yang muncul dalam pencarian."
"Benar juga, apalagi kita tidak tahu spesifiknya seperti apa." papar Jeno.
"Elo dah lama kenal sama Gara?" tanya Jevo.
"Belum. Beberapa hari sebelum dia ke tempat kita." tukas Jeno.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Tempat tinggalnya di serang teman lamanya, yang sekarang menjadi musuhnya."
Jevo mengangguk. Dirinya sebenarnya pernah mendengarkan cerita dari Gara sendiri, meski sedikit. "Apa dia tidak punya keluarga?"
Jeno langsung menatap ke arah Jevo yang juga sedang menatapnya. Jeno mengangkat kedua pundaknya. Menandakan dirinya juga tidak tahu.
"Bulan, mungkin pernah cerita ke elo?"
Jeno menggeleng. "Tidak sama sekali."
"Elo nggak penasaran." tukas Jevo.
Jeno memandang intens ke arah Jevo. "Maksud elo?"
Jevo mengubah posisi duduknya. Menjadikan dirinya dan Jeno saling berhadapan. "Jika dia hidup sendiri. Sorry, bukan maksud gue menghina fisik orang lain. Tapi, apa iya dia bisa hidup sendiri. Apalagi, dia menjadi incaran banyak orang."
__ADS_1
Jeno mendengus sebal sembari memutar kedua matanya dengan kesal. "Elo mau buat gue cemburu sama Gara?" tanya Jeno memastikan.
Jevo segera menggeleng. "Bukan. Elo sensitif sekali." ketus Jevo.
"Cckk...." decak Jeno.
"Pasti dia punya keluarga, kenapa dia tidak kembali ke keluarganya saja."
"Jevo... Lama-lama elo ketularan Arya. Ngurusin hidup orang. Nggak penting." kesal Jeno.
"Heyy,,, mau ke mana elo..!!?" seru Jevo, saat Jeno malah meninggalkannya seorang diri.
Jeno tak mengindahkan panggilan dari saudara kembarnya. Dirinya malah menaiki anak tangga. Jevo bisa menebak kemana tujuan Jeno. Ke kamar Jeno.
"Hah.... terus gue ngobrol ma siapa." dengus Jevo sebal.
"Ckk,,, kapan mama sama papa ke luar kota atau pergi ke luar negeri lagi." batin Jevo berharap.
Kaki Jevo sungguh gatal ingin pergi menuju ke markas. "Pasti mereka sedang membahas langkah selanjutnya." tukas Jevo lirih.
"Bisa-bisa gue dan Jeno dicoret dari daftar KK." omelnya, merasa jenuh.
Sebab biasanya dirinya berada di markas bersama yang lain. Dan membicarakan langkah yang akan mereka ambil selanjutnya.
Seperti tebakan Jevo, Jeno masuk ke dalam kamar. Membanting tubuhnya dengan kasar di atas ranjang empuk dan besar.
"Gila, padahal batu tadi pagi gue ketemu Bulan. Tapi sekarang gue sudah kangen." ujar Jeno memandang ke atas sambil tersenyum membayangkan wajah Bulan.
Jeno mengambil ponselnya di saku celana yang dia pakai. "Mama upload apaan nih. Rame bener." cicit Jeno, hang baru tahu.
"Makan siang. Bersama orang spesial. Siapa?" ujar Jeno penasaran.
Jeno memperbesar fotonya. Sayangnya, hanya terlihat makanan serta minuman dia atas meja. "Masa papa." ucap Jeno.
Jeno mencoba mencari tahu orang spesial yang dimaksud sang mama, lewat foto tersebut. Siapa tahu Jeno bisa menemukannya, meski dengan sedikit petunjuk.
"Eh...." Jeno memperbesar foto gelas yang ada di meja. Dari gelas tersebut nampak pantulan wajah seseorang.
Jeno mencoba memperjelas. Tapi gagal. Gambar tersebut tetap buram. "Siapa sih. Kayak perempuan." tukas Jeno.
Jeno menaruh ponselnya di sampingnya. "Ckk,,,, buat orang penasaran saja." omel Jeno.
Padahal, sebelumnya Jeno sama sekali tidak pernah kepo dengan urusan orang lain. Meski itu kedua orang tuanya, atau saudara kembarnya.
Mungkin karena efek kangen dan juga efek jenuh di rumah. "Bulan..." gumam Jeno, memejamkan kedua matanya. Membayangkan wajah cantik perempuan yang dia cintai.
Sama seperti Jevo dan Jeno yang tidak bisa pergi ke markas, begitu juga dengan Arya. Dia juga berada di rumah. Dan baru saja pulang dari bandara. Menjemput sang mama yang baru datang. Sementara papanya masih berada di luar negeri.
"Kenapa juga sih mama pulang." omel Arya yang hanya berani dia utarakan dalam hati.
Sebab, tentu saja Arya harus mempunyai alasan jika ingin keluar rumah. Dan Arya tahu, bagaimana sifat sang mama. Pasti mama Arya akan langsung menelpon sang suami.
Dan menyuruh seseorang untuk mengawasi Arya. Terlihat sangat mengekang putranya. Tapi, Arya tidak protes sama sekali.
Arya melihatnya dari sisi positifnya. Kemungkinan saking sayangnya kedua orang tuanya, makanya melakukan hal tersebut.
Tapi, saat mereka tidak berada di rumah. Arya sama seperti Jevo dan Jeno. Licin bagai belut. Dirinya keluar dari rumah tanpa diketahui oleh para pembantu yang bekerja di rumah.
Arya juga sama seperti Jevo dan Jeno. Meski badannya berada di rumah. Tapi pikiran mereka tertuju ke markas.
Arya berada di dalam kamar. Berbaring di atas ranjang. Bermalas-malasan. Dirinya tidak membuka laptop yang ada di rumah.
Percuma. Tentu saja karena Arya tahu, jika benda tersebut telah disabotase oleh sang papa. Sehingga beliau tahu, apa saja yang dilakukan Arya dengan benda tersebut.
__ADS_1
"Membosankan." dengus Arya.