
Keempat lelaki berumur tujuh belas tahun, tampak mencari kesibukan masing-masing. Sembari menunggu Bulan terbangun dari tidurnya.
Mikel mengotak-atik sebuah benda kecil di tangannya. Entah apa itu. Tapi, jika dilihat secara teliti, benda tersebut seperti sebuah senter tapi dengan ukuran kecil.
Dan Arya, dia berada di depan layar. Jari-jarinya berada di atas keyboard. Dirinya mencari sesuatu melewati dunia maya.
Seraya memperdalam pengetahuannya terkait komputer. Arya ingin lebih mendekatkan diri dan fokus tentang perangkat lunak tersebut. Setidaknya, dia dapat diandalkan jika Bulan sedang tidak ikut dalam aksi mereka.
Sementara Jevo, dia beberapa kali mencuri pandang ke arah Jeno yang sering menatap ke arah pintu.
Dari apa yang dia dengar, Jevo bisa menebak dengan mudah jika terjadi sesuatu antara Jeno dan Bulan. Jevo tersenyum samar. "Elo ternyata lebih hebat dari gue." ucap Jevo dalam hati.
Jeno mendekati perempuan, seperti seekor hewan liar yang mengintai mangsa. Sekali sergap, dia akan mendapatkannya. Dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Jika elo benar-benar menyukai Bulan, gue juga akan mundur. Gue rela dan malah senang, jika elo sekarang membuka hati elo untuk perempuan." lanjut Jevo dalam hati.
Sebab, ini pertama kalinya dalam hidup Jevo, mengetahui jika saudara kembarnya tertarik dengan lawan jenis.
Jevo juga merasa lega, Jeno tidak tertarik dengan siswi kelas satu yang bernama Sella. "Dia sama dengan Claudia." batin Jevo.
"Tenang saja, jika mama dan papa tidak merestui hubungan elo dan Bulan. Gue akan membantu elo, sebisa gue." batin Jevo tersenyum senang, mendukung jika Jeno benar-benar serius dengan Bulan.
Mengingat perbedaan umur antara Jeno dan Bulan. Juga pekerjaan Bulan, yang ternyata adalah anggota aparat negara di bidang keamanan. "Semoga jalan cinta elo lancar." ucap Jevo mendoakan Jeno.
Krek... pintu kamar Bulan terbuka dari dalam. Empat pasang mata langsung menatap ke arahnya. "Maaf, saya malah membuat kalian menunggu." cicit Bulan merasa tidak enak.
"Seharusnya kami yang minta maaf bu, bu Bulan sedang tidak enak badan. Kami malah merepotkan." ujar Mikel.
"Saya kira ibu itu wonder women. Ternyata bisa sakit juga." celetuk Arya yang mengundang tawa semuanya.
Jeno berdiri. Memberi tempat duduk untuk Bulan. Tanpa berkata apapun, atau menolak, Bulan duduk di kursi tersebut.
Jevo membulatkan kedua matanya, tanpa sengaja dia melihat sesuatu di leher Bulan. Pandangannya beralih ke arah Jeno. "Gila, apa sudah sejauh itu mereka berhubungan." batin Jevo menebak.
"Ganas juga Jeno." Jevo melihat tanda berwarna merah di leher Bulan. Dan Jevo, sebagai lelaki play boy tahu betul, tanda apa yang terdapat di leher Bulan.
"Gue harus bertanya pada Jeno." batin Jevo, ingin memastikan. Jevo hanya tidak ingin, saudaranya terjerumus semakin dalam. Padahal, Jevo sendiri adalah pemain yang handal.
"Kita akan mulai." ujar Bulan.
Semua terdiam. Fokus pada apa yang akan Bulan sampaikan. "Besok, mama dari pelaku akan datang. Mama dari pemuda bernama Rio. Yang wajahnya dipakai oleh pelaku."
"Dan tugas kalian, menyelinap masuk ke dalam rumah. Untuk memasang beberapa CCTV di tempat yang belum ada CCTV nya."
"Untuk apa bu?"
"Tebakan saya ada dua. Dia akan meninggalkan wanita itu begitu saja. Atau malah melenyapkannya. Sama seperti korban yang lain."
"Bukankah dia sudah masuk ke dalam jebakan kita. Kita hanya perlu mengikutinya, dan mencari dari mana dia mendapatkan topeng tersebut." ujar Arya.
"Tapi benar kata bu Bulan. Bagaimana jika dia lebih memilih untuk membunuh wanita itu?" cicit Mikel.
Mengingat bagaimana sadisnya pelaku menghabisi nyawa sang dokter dengan tenang. Seolah dirinya sedang mengeksekusi seekor ayam.
"Untuk apa?" tanya Arya. "Harta." Arya menjawabnya sendiri.
"Tepat." sahut Bulan.
"Gila, benar-benar serakah. Bukankah dia sudah mendapatkan semua harta milik pak dokter. Bahkan, sekarang dia menjadi seorang dokter." ucap Mikel.
Bulan teringat sesuatu, saat Mikel mengatakan kata dokter. "Oh iya Jeno, apa kamu sudah melakukannya?" tanya Bulan.
Jeno mengangguk. "Tapi saya terpaksa menceritakan, meski tidak semuanya." jelas Jeno.
"Tidak masalah. Saya sudah menyelidiki siapa teman kamu itu. Jika dia berani macam-macam, dia akan menanggung akibatnya." ucap Bulan.
"Apa ada yang belum kita ketahui?" tanya Jevo, merasa Bulan memerintahkan Jeno untuk melakukan sesuatu, tapi yang lain belum mengetahuinya.
"Jeno, dia mengambil semua bagian tubuh pak dokter yang telah dibuang. Untuk di bawa ke suatu tempat. Dan diawetkan di sana." jelas Bulan.
"Memang benar, kita memerlukan bukti."
"Lalu, bagaimana dengan rekamannya?" tanya Mikel, bertanya rekaman pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku terhadap sang dokter.
"Arya." panggil Bulan.
"Aman. Saya sudah menyimpannya dengan sangat aman." ucap Arya dengan yakin.
"Bu, Serra sudah mendatangi kantor polisi. Dia memberitahu bagaimana wajah pelaku. Dan sekarang, polisi dibuat kebingungan." jelas Jevo yang mendapatkan informasi.
__ADS_1
"Bagaimana tidak bingung, yang menculiknya adalah pemuda yang tiga tahun lalu sudah dinyatakan tewas dalam kecelakaan. Bahkan mayatnya sudah dikubur." timpal Mikel.
"Dan sekarang pasti sudah menyatu dengan tanah." timpal Arya.
"Biarkan saja. Biarkan mereka menyelidiki dengan caranya." ujar Bulan.
"Apa perlu kita memberi tahu mereka?"
"Tidak, biarkan saja. Kita fokus pada rencana kita. Jangan sampai rencana kita malah hancur gagal, karena terlalu mengurusi yang lain."
Semua. mengangguk setuju dengan pendapat Bulan. Lagi pula, mereka belum cukup bukti untuk menyeret pelaku ke kantor polisi.
Ditambah lagi, wajah pelaku hang selalu berganti di setiap dia menginginkannya.
"Bu, lalu bagaimana dengan mama dari Rio?" tanya Jeno.
"Seperti yang saya katakan. Masuk ke dalam rumah. Dan memasang kamera pengintai." ucap Bulan.
"Siapa yang akan melakukannya?" tanya Mikel.
"Jeno." sahut Bulan dnegan cepat.
"Bu..." sanggah Jeno, ingin menolak.
Jeno tahu, kenapa dirinya yang mendapat tugas tersebut. Pasti karena Bulan tidak ingin Jeno mengikutinya untuk pulang ke kampung halaman.
Bulan menatap tajam ke arah Jeno. "Apa kamu keberatan?" tanya Bulan dengan nada sinis.
Jeno hanya bisa menghela nafa. "Baik. Akan saya lakukan." pungkas Jeno, tidak berdaya melawan perkataan Bulan.
"Arya, bagaimana? Kamu sudah menemukan jejak mobilnya?"
"Beres bu. Dia kembali ke tempat di mana dia menitipkan mobilnya sebelum pergi ke tempat,,,," Arya menjeda kalimatnya. "Yang saya tidak tahu." lanjut Arya, menggaruk kepalanya.
"Nanti malam, Jeno akan masuk ke dalam rumah dari Rio. Dan Arya akan tetap berada di markas. Jika lelaki itu bergerak, segera kalian bersiap mengikutinya, setelah Arya menghubungi kalian." perintah Bulan, menatap Jevo dan Mikel bergantian.
"Baik."
"Jangan menjauhkan diri kalian dari ponsel. Paham." tekan Bulan.
"Paham bu."
"Untuk nanti malam. Saya ada urusan. Maaf, tidak bisa membantu." ujar Bulan.
Bulan beserta yang lain pergi meninggalkan markas. Hanya tersisa Arya di dalam markas. "Jangan lupa, kunci markas dari dalam. Segera setelah kita pergi." ucap Bulan mengingatkan.
"Baik bu."
Keempatnya berada di area, tempat mereka menaruh kendaraan mereka. "Bu Bulan, biar saya antar." tawar Jeno.
Jeno sengaja melakukannya, sebab dirinya datang bersama Bulan. Satu mobil dengan Bulan. Keduanya berangkat dari markas yang didiami oleh Gara.
Bulan memandang Mikel dan Jevo. Tentu saja Bulan merasa tidak enak. "Jeno sialan." umpat Bulan dalam hati.
"Benar kata Jeno. Lagian, bu Bulan juga sedang tidak enak badan." tukas Jevo.
Bulan mengangguk dengan ragu. "Ayo,,, masuk." ajak Jeno, setengah memaksa. Membuka pintu mobil untuk Bulan.
Bulan masuk ke dalam. Duduk dan diam. Diikuti oleh Jeno yang berada di kursi kemudi. "Kita duluan." ujar Jeno, Jevo dan Mikel mengangguk seraya memandang mobil Jeno yang semakin menjauh.
Mikel mengalihkan pandangannya pada Jevo yang berdiri di sebelahnya. "Jeno semakin memperlihatkan rasa sukanya pada bu Bulan."
Jevo hanya diam, melangkahkan kakinya ke mobil. Tapi cekalan tangan Mikel menghentikan langkahnya. "Apa elo juga menyukai bu Bulan?" tanya Mikel dengan ekspresi khawatir.
Jevo melepaskan cekalan tangan Mikel. Menepuk pelan pundak Mikel. "Jangan khawatir. Bulan bukan tipe gue." ucapnya.
Mikel tersenyum lega. "Baiklah. Bagus jika seperti itu. Gue hanya nggak mau kalian berdua bertengkar hanya karena seorang perempuan. Ingat, darah lebih kental dari air."
Jevo mengangguk. "Elo tenang saja. Gue nggak segila itu." cicit Jevo.
Mikel percaya dengan ucapan Jevo. Dirinya sudah lama kenal dengan Jevo. Setiap apa yang keluar dari mulutnya, memang selalu bisa di percaya.
"Tapi elo nggak suka benerankan, sama Claudia?" Mikel malah merasa cemas, jika Jevo benar-benar menyukai perempuan jadi-jadian itu.
Jevo tertawa lepas. "Nggak mungkinlah. Gue masih waras. Apa elo pikir gue mau, sama barang bekas. Apalagi barang bekasnya seperti Claudia. Mending sama janda sekalian. Jelas statusnya."
"Ngawur. Masih banyak yang perawan. Kayak elo nggak laku saja." bentak Mikel.
"Siapa yang akan tahu jodoh kita." tukas Jevo.
__ADS_1
Keduanya lantas menaiki kendaraan masing-masing, meninggalkan Arya seorang diri di dalam markas. Dan Arya, seperti yang dikatakan Bulan, dirinya segera mengunci dan mengaktifkan keamanan ganda di markas.
Arya sekarang betah tinggal di markas. Bagaimana tidak. Arya sendiri yang telah mengubah markas layaknya rumah yang nyaman untuk ditinggali.
Dia dalam mobil, Bulan terdiam dengan raut wajah datar. Pandangannya lurus ke depan. Jeno hanya menghela nafas panjang. Dirinya tahu, kenapa Bulan bersikap demikian.
"Tenang saja. Mereka tidak akan mengetahui identitas ku. Kamu tidak perlu khawatir." cicit Jeno.
Bulan melirik sekilas ke arah Jeno. Lalu kembali fokus ke depan. "Untuk Jevo dan Mikel. Mungkin mereka tahu, jika aku menyukai kamu." jelas Jeno dengan gamblang.
Jeno yakin, Bulan juga merasakan jika Jeno menyukainya. Hanya saja Bulan bersikap acuh dan masa bodo.
"Bicara, jangan cemberut." pinta Jeno.
Bulan mencebik, melengos ke samping. Jeno hanya tersenyum samar. Baru kali ini, Jeno melihat tingkah Bulan yang sangat menggemaskan menurutnya.
"Bulan..." panggil Jeno dengan nada mendayu.
"Bu. Panggil bu Bulan. Jangan nglunjak. Kamu itu murid aku. Ingat, aku guru kamu." tekan Bulan.
"Iya, hubungan kita murid dan guru. Jika di sekolah. Saat ini, hubungan kita bisa...." Jeno menggantung kalimatnya.
"Kita tidak boleh menjalin hubungan. Apalagi pacaran." sanggah Bulan.
Jeno tersenyum. "Iiihhh,,,, siapa yang mengatakan kita pacaran. Saya hanya mau bilang, di luar sekolah kita partner kerja."
Bulan mendengus sebal. "Tadi bilang cinta, sekarang partner kerja. Dasar, bocah plin plan." ucap Bulan dalam hati.
Jeno melirik ke arah Bulan. Sungguh, ingin sekali Jeno tertawa lepas. Tapi dia menahannya. Jeno tidak ingin, Bulan malah akan marah padanya.
Jeno mengurangi kecepatan. Menghentikan mobil di pinggir jalan. "Kenapa berhenti?" tanya Bulan, padahal rumahnya sudah terlihat.
Jeno tidak menjawab pertanyaan Bulan, dia mengambil sesuatu dari paper bag yang ada di kursi belakang.
Memakai topi, masker untuk menutupi wajah, serta kaca mata hitam. Bulan terdiam. Dia mengerti, kenapa Jeno melakukan hal tersebut. "Oke juga." batin Bulan.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Bulan. "Ada apa?" tanya Bulan, saat tangannya hendak membuka pintu mobil, dicekal Jeno.
Jeno mendekatkan wajahnya. Membuka kacamatanya, dan menurunkan masker yang menutupi hidung serta mulutnya.
"Diam. Dia sedang mengawasi mobil ini." bisik Jeno, ketika Bulan hendak berontak.
Bulan menatap lurus ke depan. Dimana ada mobil berwarna putih dengan kaca hitam. Sehingga mereka tidak akan bisa melihat siapa orang yang berada di dalamnya.
Cup.... Jeno tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dikecupnya bibir Bulan dengan singkat.
Deg.... jantung Bulan berdetak cepat. Bulan menelan salivanya dengan sulit. Jeno tersenyum samar. Ingin kembali mendekatkan bibirnya. Tapi Bulan segera menutup mulut Jeno menggunakan telapak tangannya.
"Pencuri." desis Bulan.
Jeno memperbaiki letak masker di wajahnya, dan kembali memakai kaca matanya. "Sayangnya, orang yang aku curi malah bersenang hati." Jeno menjawil dagu Bulan.
Bulan memutar kedua matanya dengan jengah. "Aaawww.... Jeno!!" geram Bulan, memukul pelan dada Jeno. Saat Jeno menggigit dagunya yang lancip.
Jeno tertawa kecil. "Kamu sih, menggemaskan." Kembali duduk di kursinya. Tanpa berpamitan, Bulan langsung keluar dari mobil Jeno.
Jeno belum melajukan mobilnya. Menatap Bulan hingga menghilang, masuk ke dalam rumah. Barulah dia memacu gasnya kembali.
Jeno menyetir dengan kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. "Gue yakin, Bulan juga menyukai gue. Yesss......!!" teriak Jeno sembari menyetir.
Bak gayung bersambut. Ternyata perasaan Jeno tidak bertepuk sebelah tangan. "Gara. Gue harus secepatnya belajar bersama Gara." ucap Jeno bertekad.
Jeno tidak pulang ke rumahnya. Tapi ke apartemennya. Dirinya tahu, jika ada sebuah mobil yang sedari tadi membuntutinya. "Gila, segitunya mereka mengawasi Bulan." gumam Jeno.
Bukannya takut, Jeno malah semakin tertantang. "Dia seorang perempuan. Sudah seharusnya mendapatkan perlindungan. Dan gue akan melakukan itu."
"Gara. Hanya dia yang bisa gue andalkan." cicit Jeno.
Jeno yakin, meski keadaan tubuh Gara tidak seperti orang pada umumnya, tapi Gara juga mempunyai kemampuan. Hanya saja, dia terhambat karena ketidakberdayaan yang dia miliki.
Jeno menghentikan mobilnya di area parkir apartemen. Mengganti sepatu yang dia kenakan. "Gila, tinggi gue bertambah." ujarnya disertai kekehan.
Sebab Jeno memakai sepatu dengan alas yang ditambah. Yang berguna untuk menambah ketinggian badan si pemakai sepatu.
Tak hanya mengganti sepatu, Jeno juga mengambil jaket yang tebal di kursi belakang. Memakainya lagi. Sehingga badannya terlihat jauh lebih berisi. Sebab dia memakai dua jaket.
Jeno tertawa melihat penampilannya. "Astaga, apa Bulan akan mau, jika gue segendut ini." ujarnya, menggeleng sendiri menilai penampilannya.
Jeno keluar setelah memastikan penampilannya oke. Dengan santai, dia melangkahkan kakinya memasuki apartemen.
__ADS_1
Jeno sadar, jika ada bidikan kamera mengarah padanya. Terlihat jelas dari pantulan kaca yang berada di depan apartemen.
Jeno masuk ke dalam apartemennya. "Astaga...!!!" seru Jeno, melihat sesuatu di dalam apartemennya. Yang mampu membuat dirinya terkejut.