PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 33


__ADS_3

Seorang lelaki berumur tiga belas tahun, menyibak sedikit gorden yang menutupi kaca jendela di rumahnya. Sedikit mengintip ke arah luar.


Sang ayah menggeleng pelan, melihat tingkah anak keduanya tersebut. "Bintang..." tegur Cipto, sang ayah.


Bintang duduk di samping sang ayah. "Bintang yakin yah, ada yang mengawasi rumah kita." ucap Bintang dengan yakin.


Seorang perempuan menghampiri mereka. "Kopi kalian ibu taruh di depan televisi. Ada camilannya juga. Cepat, keburu dingin lo...." sela beliau.


"Ayo," Cipto menggandeng tangan sang putra, membawanya ke tempat di mana sang istri menaruh kopi beserta makanan ringan untuk mereka berdua.


Pak Cipto beserta anak istrinya duduk lesehan di depan televisi. "Bu, Bulan sudah menghubungi ibu?" tanya Tuan Cipto.


Pak Cipto, beliau adalah ayah dari Bulan. Sementara ibu Bulan bernama Asri. Bulan juga mempunyai seorang adik laki-laki yang saat ini tengah mengenyam pendidikan di bangku SMA kelas satu, dia bernama Bintang.


"Sudah. Dia belum bisa pulang. Katanya ada pekerjaan dari pusat." jelas Bu Asri.


Pak Cipto mengangguk paham. Beliau di kenal sebagai juragan tanah di tempatnya tinggal. Karena memang, Pak Cipto memiliki beberapa tanah dengan jumlah yang sangat luas di tempat tersebut.


Selain di bangun sebagai rumah kos yang di kontrakkan. Sebagian tanah pak Cipto juga diolah menjadi kebun dan juga sawah.


Kebun tersebut pak Cipto tanami berbagai buah yang sebagian beliau kelola sendiri. Tapi ada beberapa lahan yang beliau sewakan juga. Sementara untuk sawah, beliau memilik untuk menyewakan semuanya pada penduduk sekitar.


Bu Asri merasa kedua lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya sedang memikirkan sesuatu. Terlihat jelas, keduanya makan camilan sembari memandang jauh ke depan. "Ada apa?" tanya bu Asri.


"Bu, apa ibu tidak merasa, jika beberapa hari ini ada yang mengawasi rumah kita." ujar Bintang, dengan raut wajah khawatir.


Bu Asri terdiam. Beliau memandang sang suami yang ternyata juga tengah memandang ke arahnya. "Bintang, lebih baik kamu bersikap bisa saja." pinta sang ayah.


"Berarti ayah juga merasakan. Kenapa ayah malah diam saja." kesal Bintang.


"Bintang." tegur bu Asri, melihat sikap Bintang pada sang ayah.


"Maaf." cicit Bintang.


"Benar kata ayah kamu. Kita tidak tahu, kenapa dan mengapa dia mengawasi rumah kita. Apa berniat baik, atau berniat buruk." jelas Bu Asri.


"Kita tangkap saja bu, atau kita lapor pada polisi." saran Bintang, yang memang merasa ketakutan.


"Jangan dengan mudah bertindak tanpa berpikir dengan matang. Ingat itu." tekan sang ayah.


"Apa kamu lupa, siapa kakak kamu?" tegas sang ayah selanjutnya.


Bintang terdiam. Dia sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang di maksud sang ayah. "Kenapa kak Bulan dulu ingin menjadi aparat keamanan. Apalagi dia perempuan." lirih Bintang.


"Sayang, ibu dan ayah akan mendukung apapun keinginan kalian. Asal kalian melakukannya dengan sepenuh hati dan benar-benar saat melakukannya. Bukan hanya untuk bermain gaya-gayaan. Atau hanya sekedar mengejar kata gengsi." jeda bu Asri.


"Termasuk kamu, yang berkeinginan menjadi dokter. Ibu dan ayah akan selalu berusaha mewujudkan keinginan kamu. Seperti kami mewujudkan keinginan kakak kamu." jelas bu Asri.


Bintang membaringkan badannya. Dengan menjadikan paha sang ibu sebagai bantalnya. "Bintang kangen kakak." cicit Bintang.


Pak Cipto dan bu Asri saling pandang. Tersirat di kedua mata pandangan tersebut, sebuah rasa khawatir dan kecemasan mendalam pada anak pertamanya tersebut.


Apalagi, pak Cipto dan sang istri sempat bertemu dengan kawan lama pak Cipto, yang tidak sengaja mereka jumpai saat di perjalanan ke kota. Di mana saat itu keduanya hendak membeli bibit tanaman serta obat-obat untuk tanaman.


Sekitar sebulan yang lalu. Beliau juga seorang petugas keamanan, seorang abdi negara, sama seperti Bulan. Tapi beliau sudah pensiun setahun terakhir.


Dimana dia memuji ketangkasan Bulan. Dia juga sedikit menceritakan jika dia pernah bertemu dengan Bulan. Bahkan, dia menceritakan jika Bulan pernah mendapatkan misi yang berbahaya karena keahliannya.


Sementara Bulan sendiri, mengatakan pada kedua orang tuanya. Jika dirinya bekerja di kesatuan hanya sebagai staf biasa, yang selalu berada di kantor.


Pak Cipto mengelus punggung sang istri. Bu Asri mengangguk pelan, sembari tersenyum.


Sebenarnya, pak Cipto sudah merasakan jika keluarga kecilnya di awasi oleh beberapa orang semenjak seminggu ini.


Pikiran pak Cipto dan sang istri sempat khawatir saat mengetahuinya. Tapi, pak Cipto merasa mereka sama sekali tidak melakukan sesuatu. Hanya mengawasi mereka dari jarak jauh.


Pak Cipto juga tahu, jika saat malam tiba. Ada beberapa orang yang menjaga rumahnya. Awalnya beliau juga takut. Namun, beliau kembali berpikir. Mungkin saja mereka adalah orang yang dikirim oleh sang putri tersayang mereka.


"Lindungi putri hamba Tuhan. Jauhkan dia dari bahaya." batin Tuan Cipto, menebak jika Bulan sedang melakukan sebuah tugas yang berbahaya.


Oleh karena itu, dirinya juga menyuruh orang untuk menjaga mereka. Karena Bulan takut jika keluarganya juga akan di serang oleh musuh.


Pak Cipto menyeruput pelan kopi yang masih panas dengan pelan. "Kami saja yang berada di sini merasa takut. Bagaimana dengan kamu di sana nak." batin Bu Asri.


Sebagai orang tua, tentu saja batin mereka juga merasakan jika sang anak dalam kesulitan, atau saat sang anak memghadapi bahaya.

__ADS_1


Di tempat lain, Bulan menyalakan sebuah rekaman suara. Tanpa ada gambar. "Ini adalah suara Serra beserta kedua orang tuanya." jelas Bulan.


"Jangan bertanya bagaimana saya bisa melakukan atau bisa mendapatkannya." tekan Bulan, sebab pasti akan ada yang bertanya.


Dan Bulan, sangat malas menjelaskan hal yang menurutnya tidak perlu dia jelaskan. Sebab, bukan itu yang perlu dibahas.


Bulan membual jaket yang dia kenakan. Di mana tampak sebuah pistol berukuran kecil tergantung di pinggang rampingnya. Sebab, Bulan masukkan kaos yang dia pakai ke dalam celana panjangnya.


Keempat lelaki tersebut mendengarkan dengan seksama apa yang Serra bicarakan dengan kedua orang tuanya. "Mereka mendatangkan psikiater." cicit Mikel.


"Bukankah itu sangat berbahaya." timpal Jevo.


"Benar. Pembunuh itu bisa masuk ke dalam rumah lewat psikiater tersebut. Hal yang sangat mudah untuk dilakukan." tukas Jeno, bisa menebak apa yang ada di dalam otak saudara kembarnya tersebut.


"Apa yang bisa kami lakukan?" tanya Arya langsung.


"Saya yakin, di rumah atau di jalan sekitar rumah Serra ada kamera CCTV nya. Ada yang bisa meretas?" tanya Bulan, padahal dirinya juga bisa melakukannya.


Bulan hanya ingin mengetahui, sejauh mana kemampuan mereka. Sehingga di waktu mendatang, dirinya akan mudah membagi tugas keempatnya. "Jevo." kata Mikel dan Arya bersama.


"Lakukan. Dan buktikan." pinta Bulan.


Jevo berdiri dengan memandang ke arah Bulan. Jevo menggeleng pelan, lalu segera duduk di kursi yang sudah berhadapan dengan keyboard dan layar.


"Apa yang ada di benak Jevo?" bisik Arya pada Mikel, melihat Jevo menggelengkan kepala.


"Elo kayak nggak tahu saja. Pasti nggak jauh-jauh dari hal mesum." bisik Mikel.


Bulan menatap ke arah pergelangan tangannya. Dimana ada sebuah jam tangan yang melingkar di sana. "Lumayan." Bulan menilai apa yang dilakukan Jevo.


Mikel dan Arya melongo mendengar ucapan Bulan. Menurut mereka, waktu yang di pergunakan Jevo meretas kamera CCTV di sekitar rumah Serra adalah yang tercepat.


Jeno hanya tersenyum. Dia yakin, jika Bulan bisa melakukan lebih cepat dari pada saudara kembarnya. Jevo menampilkan ekspresi datar mendengar ucapan dari Bulan.


Bulan mengambil kursi, duduk di sebelah Jevo. Jari jemarinya dengan lincah bermain di atas keyboard.


Tatapan Jevo malah fokus pada jemari lentik Bulan, bukan pada keahlian Bulan.


Jevo menggeleng samar. "Dasar otak mesum." umpatnya pada diri sendiri. Bisa-bisanya Jevo membayangkan jemari lentik Bulan berada di ************ miliknya. Memanjakan tongkat keramat miliknya.


"Mereka menjaganya dengan baik." cicit Jeno, sedikit menggeser kursi Jevo. Menjadikan kepala Jeno berada di antara Jevo dan Bulan, karena Jeno sedikit membungkukkan badannya.


"Tunggu." Jevo tanpa sengaja memegang tangan Bulan yang ingin memindahkan tampilan layar. "Maaf,,," cicit Jevo segera mengangkat tangannya.


Jantung Jevo berdetak tak karuan, hanya dengan memegang tangan Bulan. Sungguh hal yang tidak pernah Jevo alami sebelumnya.


Tapi, jangan menyebut namanya, jika Jevo tidak bisa segera mengendalikan emosinya. Jevo memang sangat handal, jika mengenai pengendalian diri.


"Siapa dia?" Jevo menunjuk ke bawah pohon, dimana ada seseorang duduk di sana dengan santai.


Bulan memperbesar tampilan gambar. "Dia salah satu anggota yang bertugas di sana." jelas Bulan.


"Apa kita akan masuk menyelinap ke dalam?" tanya Arya.


Bulan hanya menghela nafas pelan. Dan Jeno menyadari semua itu. Ternyata bekerja sama dengan mereka membutuhkan kesabaran yang ekstra.


"Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Bulan. Sebab tak mungkin, jika selama mereka menyelidiki, mereka sama sekali tidak mendapatkan petunjuk.


Jevo merogoh saku jaketnya. Memberikan pada Bulan. "Itu yang kami dapatkan."


Bulan segera memasukkan sebuah chip kecil pemberian Jevo ke dalam berangkat komputer. "Semua korban memiliki semua itu. Meski dengan huruf dan angka yang berbeda."


"Saya mempunyai kenalan orang dalam. Sehingga bisa mendapatkannya." papar Jevo.


"Siapa?" tanya Bulan.


Jevo memandang ke arah Bulan. Ada sedikit keraguan saat dia ingin menyebutkan namnya. Tapi tidak dengan Jeno. "Rendi." ucap Jeno.


Jevo melirik ke arah Jeno. "Pernah dengar?" tanya Jeno dnegan santai pada Bulan.


Benak Jevo sekarang penuh dengan sikap yang ditunjukkan Jeno pada Bulan. Interaksi keduanya terlihat biasa. Membuat jiwa kepo Jevo mencuat ke permukaan.


Bulan mengangguk, seraya menguncir rambutnya menjadi satu. "Apa kalian bertukar informasi dengannya?"


"Tidak." ucap Jeno segera.

__ADS_1


"Memang sebaiknya jangan. Sebelum kita mendapat sesuatu atau informasi yang pasti." timpal Bulan.


"Lalu, apa gang harus kita lakukan?" tanya Mikel.


"Cari tahu psikiater yang jasanya di sewa keluarga Serra." pinta Bulan.


"Gampang. Gue akan cari tahu. Besok bu Bulan sudah mendapatkan semua informasinya." papar Arya dengan yakin.


"Selidiki siapa saja yang berjaga di sekitar rumah Serra, beserta posisi mereka."


"Biar itu menjadi tugasku." sahut Mikel.


"Jika dilihat dari angka serta huruf yang kalian kumpulkan, dia akan bertindak sekitar tiga hari lagi." jelas Bulan.


Jevo dan ketiganya tercengang. Dengan mudah Bulan memecahkan teka-teki yang bahkan mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengetahuinya.


Sementara Bulan, tahu semuanya tak lebih dari satu menit. "Bisa dipastikan, dua hari selanjutnya, dia akan melakukan sesuatu." tebak Bulan.


"Lakukan tugas kalian dengan segera dan teliti. Aku tidak mau ada sedikitpun kesalahan." lanjut Bulan.


"Lalu aku?" tanya Jeno, yang namanya belum di sebutkan.


"Setelah Arya mengetahui semua informasi tentang psikiater tersebut. Pantau selalu pergerakannya." pinta Bulan.


"Tidak perlu. Saya bisa melakukannya." tawar Arya.


"Jangan..!!" seru Jevo, Jeno, dan Mikel bersamaan. "Tugas elo hanya mencari informasi. Biar Jeno yang memantaunya." tekan Mikel.


Bulan tersenyum samar. Dia dengan cepat bisa tahu karakter dari masing-masing anak didiknya. Tentu saja mereka mencegah Arya melakukan hal tersebut.


Jika Arya yang melakukannya, dia akan tertangkap oleh orang yang diawasi dalam hitungan menit.


"Kalian sudah boleh kembali. Jangan pergunakan jalan yang tadi. Lewati saja jalan di depan sana. Memang sedikit menanjak. Tapi lebih cepat sampainya." jelas Bulan.


"Kalian duluan saja. Ada yang masih ingin aku bicarakan dengan bu Bulan." ujar Jeno.


Bulan terdiam. Dia dapat menebak apa yang ingin Jeno katakan atau tanyakan pada dirinya.


Mikel dan Arya memandang ke arah Jevo yang menampilkan ekspresi datar. "Baiklah. Kami pulang lebih dulu."


Ketiganya keluar dari ruangan tersebut. "Gue nggak menyangka, ternyata guru kita adalah seorang yang hebat, tapi menakutkan." cicit Mikel dengan tangan berada di stir.


Arya mengangguk. Membenarkan perkataan Mikel. Keduanya berbincang di kursi depan, membicarakan tentang Bulan.


Berbeda dengan Jevo yang sendirian berada di kursi belakang. Tatapan matanya memandang ke samping. Seakan dirinya melihat semua yang ada di keluar mobil yang mereka lewati.


Namun bukan itu yang sebenarnya. Benak Jevo penuh dengan nama saudara kembarnya, Jeno dan guru cantik mereka, Bulan.


"Mengapa dia mengatakan pada Jeno terlebih dahulu. Kebenaran mengenai dirinya. Dan juga, mengapa Jeno sama sekali tidak menceritakan apapun sama gue." ucap Jevo dalam hati.


"Apa sebenarnya mereka sudah lama kenal. Tapi tidak mungkin. Gue tahu, setiap hari Jeno berada di rumah. Tapi, bagaimana bisa..?" dalam benaknya, Jevo tetap memikirkan hal tersebut.


Padahal, dirinya yang sejak awal merasa tertarik dengan guru baru tersebut. Tapi kenapa malah Jeno yang terlihat akrab dengan dia.


"Gue harus tanya pada Jeno. Apa hubungan mereka berdua." batin Jevo.


"Jevo,,, Jevo!! Jevo,,,!!" panggil Arya berulang kali. Tapi tak ada sahutan apapun dari kursi belakang. Bahkan Arya sudah menaikkan nada suaranya. Tetap saja, Jevo memandang ke samping.


Arya sampai menoleh ke belakang. "Jevo..!!" panggil Arya.


"Ckk,,, jangan teriak-teriak. Gue nggak budek...!" kesal Jevo.


"Eeeettdahh,,,,, malah situ yang marah. Gue udah panggil nama elo beribu kali. Tapi elo tetap diam." ketus Arya.


"Malah bertengkar." sela Mikel.


"Jevo saja yang mulai." Arya membela diri. "Elo kita antar pulang. Mobil elo kita bawa." jelas Arya.


Jevo hanya diam. Tapi dia mendengar apa yang diucapkan Arya. Mikel tahu, apa yang saat ini ada di benak sahabatnya tersebut.


Mobil berhenti, saat mereka berada di depan rumah Jevo. "Eehh... elo ngapain ikut turun." seru Arya, melihat Mikel juga ikut keluar dari mobil. Dan menghentikan langkah Jevo.


"Gue cuma mau bilang. Jangan sampai, kalian bertengkar hanya karena seorang perempuan. Ingat, darah lebih kental dari pada air." ujar Mikel mengingatkan. Menepuk pundak Jevo dan kembali masuk ke dalam mobil.


Jevo tersenyum memandang mobilnya yang di bawa kedua sahabatnya. "Tenang saja Mikel, gue juga nggak segila itu. Lagian, gue juga nggak cinta sama Bulan. Hanya tertarik, karena penasaran." cicit Jevo.

__ADS_1


Jevo menajamkan indera penglihatannya. Dia merasa ada seseorang yang berada di balik pohon besar di seberang jalan.


Jevo lebih memilih acuh, dan segera masuk saat pagar dibuka dari dalam oleh satpam rumah.


__ADS_2